Full width home advertisement

Jurnal Perjalanan

Post Page Advertisement [Top]



Siang itu matahari bersinar sangat terik. Keringat mengucur deras bak air terjun. Saya berteduh di beranda sebuah rumah panggung yang terletak di tengah sabana padang rumput pulau Sumba. Tepatnya di daerah Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya.

Samar-samar di kejauhan, tampak tiga anak kecil sedang menuruni bukit. Anak yang didepan terlihat memanggul setandan pisang di pundaknya. Sementara anak di sebelahnya memanggul sebuah karung. Di belakangnya, seorang gadis kecil berlarian mengejar mereka berdua.

Mereka berkejaran kesana-kemari diiringi tawa yang lepas, seakan-akan ingin mengatakan kepada dunia bahwa hidup mereka sungguh bahagia.


Saya tersenyum tatkala tawa mereka menggema di antara rumput ilalang pulau Sumba. 


Baca juga tulisan saya lainnya tentang Sumba disini

Tamu adalah saudara


Dua ekor babi di kolong rumah tak henti-hentinya menguik sambil menggaruk tanah mencari apapun yang bisa dikunyah. 


“Ah, itu mereka sudah pulang” kata seorang kakek tua di beranda rumah tempat saya duduk bersila. 


Cucunya yang masih balita duduk di pangkuan sambil memainkan jenggotnya yang sudah memutih. Nama kakek itu Yohanis. Dia menyuruh saya memanggilnya Yoha saja, nama panggilannya sejak kecil. 


Sebelumnya, saya yang sedang menyusuri jalan pengerasan (jalan tanah bercampur kerikil dan batu kapur) diantara bukit-bukit padang rumput tiba-tiba melihat sebuah rumah panggung. Di halamannya terhampar biji-biji kopi yang sedang di jemur. 


Kakek Yoha dan cucunya yang paling kecil
Sebagai pecinta kopi, saya langsung tertarik dengan pemandangan itu dan menghampiri rumah satu-satunya yang ada di padang ini. 

Rumahnya ditumbuhi pepohonan dan semak tinggi yang sengaja ditanam untuk melindungi penghuninya dari panas terik matahari timur. 


Dua gelas kopi panas dan sepiring singkong rebus yang sudah dingin tersaji di hadapanku. 


"Maaf ini ala kadarnya saja ya bapak" katanya dengan santun saat menghidangkan suguhan yang menurut saya sudah lebih dari cukup. Bayangkan, seorang asing dengan mata sipit tiba-tiba menghampiri rumahnya lalu di suguhi makan dan minum.


Sikap dihormati sebagai tamu seperti ini selalu saya alami saat singgah di rumah warga, walaupun hanya sekedar untuk bertanya mengenai kehidupan mereka sehari-hari.


Menghormati tamu memang sudah jadi ajaran umum di setiap agama dan kepercayaan yang ada di dunia. Beruntung di negeri padang rumput ini, ajaran itu masih terpelihara dengan baik, belum termakan individualisme kebudayaan nirkabel.


Sebuah asa ditengah keterbatasan


Anak-anak dari padang rumput tadi dengan ceria memasuki pelataran rumah yang di pagari dengan tanaman singkong. 


"Bapatua (kakek), ini kopinya sa (saya) taruh mana?" tanya gadis kecil itu, sedikit malu-malu. Sementara dua anak lainnya beringsut ke kolong rumah dan menjahili dua babi yang sedari tadi menguik-nguik terus.


"Sini saja, ini bapa dari Jawa mau liat kopinya", jawab kakek Yoha. 


Sebungkus besar plastik berisi biji kopi di sodorkan kehadapan saya. Biji kopi yang masih hijau ini masih belum berbau wangi.


Kakek Yoha menjelaskan kalau biji kopi ini diambil dari kebunnya yang berada di bawah bukit, dekat dengan sekolahan cucunya ini. 

Gadis kecil dengan senyuman yang manis ini punya cita-cita jadi dokter.
Saya baru sadar kalau hari ini memang hari aktif sekolah. Bocah-bocah tadi ternyata baru pulang sekolah, padahal jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul tiga sore.

"Sekolahnya di mana adek?" tanyaku.


Bocah perempuan yang manis itu langsung bersembunyi di balik tubuh saudaranya. Dia tampaknya malu ditanya oleh om-om aneh dari negeri antah berantah ini. Sambil tersenyum cengengesan, dia meminta kakeknya saja yang menjawab.




Kakek Yoha menjelaskan kalau tempat cucunya sekolah ada di balik bukit, sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah bukit yang di maksud. Sekolahnya berada di desa tetangga. Jaraknya sekitar satu setengah jam berjalan kaki.

Di tengah perjalanan, anak-anak juga harus menyeberangi sebuah sungai yang cukup dalam untuk ukuran anak kecil, sehingga mereka biasanya meninggalkan seragamnya di sekolah. Seragam baru dipakai kalau mereka sudah sampai di sekolah.

Kakek Yoha juga menjelaskan, pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru kepada cucu-cucunya itu biasa mereka kerjakan di siang hari sepulang sekolah. Karena jika dikerjakan di malam hari, mata mereka akan sakit karena hanya diterangi oleh pelita dari lampu minyak. Penggunaan lampu minyak juga mereka atur sehemat mungkin karena harga minyak mahal. Listrik? Sebuah fasilitas mewah orang kota saja. 


Jalan Pengerasan yang dikelilingi oleh bukit-bukit sabana.

Saya yang hidup di kota besar dengan banyaknya ragam fasilitas yang memudahkan justru termotivasi oleh perjuangan bocah-bocah kecil dari negeri padang rumput yang jauh dari kata modernisasi ini.

Perjuangan bocah-bocah ini mengajarkan saya untuk terus dan terus belajar tanpa menyerah pada keadaan. (Bersambung ke sini)




Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

24 komentar:

  1. Ada senyum malu-malu di wajah mungil itu. Manis sekali
    Selang 5 tahun kemudian, adik kecil itu tentunya sudah jadi remaja ya
    Semoga tercapai cita-citamu, Dek

    BalasHapus
  2. pengen banget ke siniii... Btw, suka deh baca tulisan ini, berasa ada di sana juga...

    BalasHapus
  3. Narasinya bagus banget gan.. Mantap..

    BalasHapus
  4. semoga adik” disana selalu diberi semangat dan dikabulkan semua impiannya amiin.. ceritanya sangat menginspirasi dan menyentuh hati bang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin, semoga mereka bisa mengejar cita-citanya, tengkyu bang

      Hapus
  5. Miris juga dengan fasilitas belum memadai di Sumba

    BalasHapus
  6. Saya punya teman yang bekerja di Sumba, memang masilah serba keterbatasaan7

    BalasHapus
  7. Penasaran sama rasa kopinya Mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. rasanya kayak kopi tubruk kalo beli dipasar tradisional mba, bau bau tanah gitu, cocok di minum pake gula jawa sih harusnya

      Hapus
  8. pengen jumpa bocah-bocah itu. Dlu aku juga pernah ketemu bocah-bocah menggemaskan waktu di kupang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya entah kenapa anak2 dari timur indonesia begitu menggemaskan, mungkin karena kepolosannya ya?

      Hapus
  9. Membaca tulisanmu Kang, aku jadi semakin semangat dan betah mengelola potensi desa. Kepolosan, kesederahanaan, dan ketelanjangan alam Sumba membuatku bermimpi pingin ke sana.

    Kapan bisa ming Sumba yah? hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banyak sekali sebenernya yang bisa digali dari setiap desa, bahkan hal kecil seperti kehidupan masyarakat desa pun sudah bisa digali menjadi atraksi wisata yang potensial. Mbesuk nek cuti ming Sumba pakk, haha.

      Hapus
  10. Selalu senang membaca kisah-kisah seperti ini, apalagi dituliskan dengan cara yang apik. Ini kunjungan perdana saya ke blog ini, dan sepertinya saya akan sering singgah :)

    salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba Eli, doakan terus semoga saya selalu bisa menulis dengan cara yang apik, haha. salam kenal juga yah

      Hapus
    2. indonesia memang sangat indah dan beragam budayanya. jika berkenang mampir juga di blog saya elysetiawan.com

      Hapus
  11. babi yang menguik di kolong rumah.. ah, rindu suasana itu. dulu beberapa kali ke sumba, dan tiap ke pedalaman selalu menjumpai babi2 kecil lucu itu.

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan dibawa pulang babinya mas, haha

      Hapus

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib