Tampilkan postingan dengan label Singapore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Singapore. Tampilkan semua postingan

Chinese Garden Singapore, Oase di Tengah Riuhnya Metropolitan


Walaupun merupakan kota besar yang sibuk, Singapura mempunyai banyak tempat untuk menyepi dari penatnya kehidupan yang serba cepat ala kota metropolitan. Banyak taman yang selalu penuhi oleh warga di setiap sudut kotanya. 

Ketika mengelilingi negeri tetangga ini dengan bus, saya banyak melihat taman dengan pohon-pohonnya yang rindang. 
Kanopi-kanopi pepohonan tropis tampak dari kejauhan menggelayut tertiup angin.

Menurut situs Dinas Pertamanan Singapura, ada 1626 taman dan hutan kota yang tersebar di seluruh penjuru Singapura, termasuk taman atas gedung dan beberapa pohon lindung.

Ada satu tempat yang mencuri perhatian saya waktu sedang mengelilingi Singapura secara random (baca : tersesat) menggunakan kereta Mono Rail Train (MRT).

Waktu itu kereta yang saya tumpangi keluar dari terowongan bawah tanah dan kemudian naik ke jembatan rel di atas jalan raya. Karena posisi kereta berada di atas jalan, saya bisa melihat kota dengan leluasa dari atas.

Pemandangan dari atas pagoda. Hijaunya pepohonan sangat kontras dengan warna-warna gedung bertingkat
Saat itu saya melihat sebuah area hijau yang cukup luas di tengah gerombolan gedung-gedung bertingkat.

Tentunya pemandangan itu sangatlah mencolok karena area hijau sangat kontras dengan warna abu-abu gedung bertingkat di sekitarnya.

Pemandangan itu nampak sangat damai dan tenang. Dari kejauhan saya melihat ada sebuah pagoda berwarna merah di pinggir sebuah danau. Tertarik, saya langsung turun di pemberhentian Chinese Garden ( Stasiun EW25) tepat di pintu masuk taman tersebut.

Jembatan ala Tiongkok di Chinese Garden.
Taman itu adalah Singapore Chinese Garden. Sebuah area pertamanan khas Tiongkok dengan suasananya yang sangat ‘zen’. Seketika suasana hening yang menenangkan kalbu langsung terasa saat saya melewati sebuah jembatan kecil dan memasuki gapura berwarna merah.

Kolam-kolam kecil dengan gemericik air dari pancurannya menambah suasana menjadi meditasi-able.

Ikan koi berwarna-warni melenggat-lenggot indah di kolam itu.

Kolam ikan koi 'Koi Pond'
Saya berjalan mengikuti jalan setapak utama yang di pinggirannya berjajar rapi pohon-pohon pinus beralaskan rumput hijau yang basah.

Kebetulan waktu itu hujan baru saja reda jadi hawa di taman jadi sangat sejuk.

Jalan setapak yang diteduhi pohon-pohon membuat nyaman pengunjung.
Saya memasuki sebuah bangunan khas Tiongkok berwarna dominan merah yang saya tidak tahu apa sebutannya. Bangunan tersebut berdiri di atas sebuah kolam besar. Dihiasi oleh pot-pot pohon bonsai. Di situ saya merasa seperti berada di film-film laga Tiongkok dimana biasanya para Shaolin berlatih kungfu.

Ini spot terbaik di Chinese Garden Singapore.
Beranjak dari situ, saya menuju pagoda di pinggir danau yang tadi saya lihat dari kereta. Pagoda ganda tersebut tinggi menjulang berwarna putih merah.

Angin sejuk dari danau menyapu wajah saya.

Saya berdiam cukup lama di pagoda ini, menikmati suasana yang hening dan menenangkan.

Hampir semua bangunan yang ada di Chinese Garden Singapore saya kunjungi.

Twin Pagoda di pinggir danau yang menyita oerhatian saya sejak dari kereta.
Chinese garden singapore sore itu sangat sunyi. Mungkin hanya saya saja turis yang datang kesini. Pengunjung lainnya hanya warga lokal yang tampak sedang asik berolahraga.

Sepasang kakek-nenek yang sedang joging wara-wiri memberikan senyumannya kepadaku. Entah sudah berapa putaran mereka mengelilingi taman ini.

Tidak hanya Chinese Garden, disini juga terdapat Japanese Garden dengan rumah tradisional jepang. Hanya saja yang paling dominan tetaplah bangunan bertemakan Tiongkok.

Taman ini wajib di kunjungi bagi kalian yang sudah bosan mengunjungi tempat yang itu-itu saja di Singapore.


Cara menuju ke Chinese Garden Singapore ini tidaklah sulit, tinggal naik MRT jalur hijau atau East West Line  Jurusan Jurong Chinese Garden. Lebih mudahnya kalian bisa langsung cek web resmi MRT disini.

Biaya masuk ke Chinese Garden Singapore juga gratis-tis! Dijamin tidak ada pungli dan tukang retribusi dadakan.

Jangan lupa bawa bekal makanan dan minuman sendiri yah, atau kalian juga bisa membelinya di minimarket ‘Cheers’ tepat di stasiun pemberhentian Chinese Garden.

Chinese Garden Singapore bisa menjadi alternatif obyek wisata murah jika kamu sudah bosan mengunjungi destinasi wisata mainstream di Singapura. 

Selamat Menjelajah!


Merlion Park, Tempat Paling Iconic di Singapore


Apa yang sangat wajib dikunjungi bila pergi ke Singapore? Singapore sangat sangat sangat identik dengan patung singa berbadan ikan yang meumuncratkan air dari mulutnya. Patung tersebut bernama Merlion ( "Mer" berarti Laut, "Lion" berarti Singa). Badannya yang berupa ikan melambangkan asal mula Singapore yang dulu bernama Temasek sebagai sebuah desa nelayan. Sementara kepalanya yang berupa Singa melambangkan nama dari Singapura, yang berarti "Kota Singa".


Waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Merlion adalah pada sore hari. Karena bila kesini siang hari bakalan panas banget karena ngga ada atapnya. Selain itu, saat langit sudah mulai gelap, lampu-lampu ajaib dinyalakan, terutama lampu pada Marina Bay Sands yang menyala warna-warni membuat suasana semakin Gorgeous!. Saya kesini pada sore hari naik bus turun di depan Esplanade, Sebuah gedung yang mirip durian. Disekelilingnya merupakan taman yang asri tempat warga Singapore menghabiskan sore hari dengan berolahraga, senam, yoga, dan ngobrol. 

Esplanade, Gedung Durian.
Merlion Park dan Esplanade dipisahkan oleh sungai yang muaranya berada di Merlion Park itu sendiri. Sungainya jangan dibayangkan seperti sungai-sungai di Jakarta yah. Sungai di Singapore itu luar biasa jernih, lebar dan asik buat ngopi dipinggiran saat sore hari sambil ngeliatin amoy-amoy pada joging. Tempat ngopinya bernama Clarke Quay, cukup jalan kaki 20 menit dari Merlion. Dibelakang Merlion ada sebuah bangunan bergaya Eropa bernama Fullerton Hotel, sebuah hotel legendaris di Singapore tempatnya para birokrat elit mengistirahatkan diri. Tak jauh dari Fullerton, sekitar lima menit jalan kaki ada Museum of Asian Civilization.

Fullerton Hotel
Seperti biasa, di Merlion sudah banyak orang dengan kameranya mulai jeprat-jepret sana-sini, termasuk saya. Hari mulai gelap, lampu-lampu mulai dinyalakan, wisatawan semakin ramai. Seperti gembel, saya duduk di sebuah undakan sambil melihat antusiasme wisatawan. Lampu yang berwarna-warni itu tidak menurutkan kesepian saya sebagai solo traveler. Disebuah negeri asing, sendirian tiada yang menemani. Apalagi disebelah saya ikut duduk pasangan kekasih yang dengan khidmatnya berpelukan satu sama lain, hiks. Setelah puas dengan Merlion Park, dengan langkah gontai kesepian (duh, kesannya kok kasihan banget yah) saya memutuskan untuk ngopi-ngopi manja di Clarke Quay, sendirian! 😂😂😂😂


Bugis Street, Dari Wisata Waria Sampai Wisata Belanja


Bugis Street, pada tahun 1950 - 1980an terkenal sebagai tempat mangkalnya para waria yang centil nan manja. Jaman segitu waria masih bisa dikatakan fenomenal. Keunikan Bugis Street tersebut membuatnya dikenal oleh wisatawan sebagai salah satu destinasi wisata "minat khusus" Singapura.

Namun dalam taham berkembangnya Singapura menjadi negara modern, kawasan Bugis masuk kedalam kawasan yang harus dipermak menjadi sebuah kawasan perdagangan dan perbelanjaan. Adanya perkembangan tersebut tidak lantas mengubah daerah Bugis menjadi wajh hang berbeda. Bugis masih menyisakan sedikit peradaban "sex" yang ditandai dengan berdirinya beberapa toko yang khusus menjual sex toys.

Tips Jalan-Jalan Ke Singapore

Kontes Waria Cantik jaman dulu di Bugis Street.
Orang Indonesia mengenalnya sebagai Bugis Street, kawasan perbelanjaan murah ala ala Malioboro di Yogyakarta. Setiap musim liburan pasti tempat ini rame oleh wasatawan Indonesia, kenapa? mungkin karena nama "Bugis" cukup akrab di telinga orang Indonesia, khususnya merujuk pada Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Orang Bugis terkenal karena ketangguhannya dalam mengarungi laut dan semangat berdagangnya ang membuatnya sebagai salah satu suku perantau ulung di Indonesia. Nah, jaman dulu kala, pedagang-pedagang dari Bugis ini mengarungi Samudera sembari membawa dagangan berupa rempah-rempah ke dataran Melayu, tepatnya ke sebuah pulau kecil yang hingga saat ini menjadi pasar dagang Internasional, yaitu Singapore. Karena perniagaan yang lancar maka beberapa orang menetap di Singapore dan lahirlah kawasan "Bugis", salah satunya adalah Bugis Street itu sendiri.


Nah, dari Orchard Road saya melanjutkan jalan-jalan ke Bugis Street naik Bus keliling kota ~syalala~. Sesampainya di Bugis Street, saya langsung nyamperin sebuah bangunan mirip pasar yang sungguh ramai sekali, karena hari ini adalah hari Minggu. Matahari semakin turun, lampu-lampu mulai dinyalakan, menambah suasana semakin disko. Kebanyakan pedagang ang ada di Bugis Street adalah pedagang pakaian dan street food. Harganya sungguh tidak mahal, pantas saja banyak wisatawan yang mampir kesini untuk sekedar membeli oleh-oleh untuk kerabat mereka tercinta. Saya juga ikut membeli beberapa kaos dengan harga SGD 10 untuk tiga biji kaos dan beberapa kerenceng gantungan kunci. 


Saya beberapa kali menjumpai Sex Shop dan sempat berdecak kagum melihat isi didalamnya. Maklum, toko seperti ini mustahil di jumpai di Indonesia. Ingin rasanya saya masuk dan melihat-lihat apa saja gerangan yang di perdagangkan didalamnya namun hati kecil ini berontak, wkwkwk. Iyalah, gimana coba kesan orang ang melihat seorang dekil dari Indonesia masuk sebuah toko Sex, bisa dideportasi muka saya dari dunia ini, haha. Seteah puas shoping (sebagian besar sih cuman window shoping) saya mampir disebuah kedai kopi dan memesan secangkir Kopi-O sambil menghisap sebatang rokok yang harga sebungkusnya bisa buat beli tiga kaos oleh-oleh. 

Sekedar Cuci Mata di Orchard Road


Wisata belanja? aduh..sepertinya bukan passion saya. Tapi berhubung saya lagi berada di Singapore mau ngga mau saya harus berkunjung kesini karena katanya wajib dikunjungi. Naik bus dari daerah Toa Payoh menggunakan Bus nomer 143 dan berhenti tepat di Orchard Road. Sebenarnya jarak dari tempat saya menginap ke Orchard cukup dekat, hanya sekitar 6 km, tapi jalannya tu loh yang muter-muter membutuhkan waktu sekitar setengah jam.



Sesampainya di Orchard Road saya mendadak seperti anak yang ditinggal emaknya belanja, tidak tau mau kemana dan emmm...nothing interesting sih buat saya. semua-muanya hanya toko-toko branded dengan harga yang nggilani. Tapi saya akui untuk orang yang hobinya shoping, terutama untuk emak-emak sosialita, Orchard ini surga mereka banget. Dimana-mana, di kanan, di kiri, di seberang, di atas, dibawah itu semuanya tempat belanja. 

Saya menyusuri dari ujung ke ujung. Jajan es seharga limapuluh ribu rupiah (matiii). Sesekali berhenti di smoking area untuk sebat (sebatang) dulu bareng pemuda-pemudi dengan style parlente. Disitulah saya sadar bahwa saya nampaknya salah kostum. Celana pendek, kaos hitam kucel, sendal gunung, dan ransel menjadi kostum saya waktu itu. Yang menjadi hiburan saya di Orchard adalah para pengamen yang keren-keren. Mereka malah seperti bukan pengamen karena skill bermusik mereka patut diacungi jempol! oya disini juga ada pengemis lho, tapi ga sembarangan bisa mengemis karena pengemisnya harus mendapatkan sertifikat dulu. 


Karena ini bukan dunia saya jadi saya langsung mencari halte untuk menuju tempat shoping yang agak terjangkau yaitu Bugis Street, yang letaknya juga paling cuman 20 menit naik bus. Di Orchard Road banyak banget wisatawan dari Indonesia, dari embak-embak sampai emak-emak, saya serasa berada di negeri sendiri. Waktu yang paling bagus untuk mengunjung Orchard Road adalah sore - malam hari dimana lampu-lampu ynag indah mulai dinyalakan dan menunjukan kemewahan jalan ini.


Singapore, Destinasi Awal Untuk World Traveler Pemula


Singapore, siapa sih yang tidak tau negara tetangga dengan ukuran yang mini ini? Yup, siluet negara ini sudah terlihat jelas dari tepian Harbour Bay Batam. Singapura merupakan negara dimana biasanya para traveler ataupun backpacker dari Indonesia mencoba melangkahkan kakinya ke luar negeri untuk pertama kali. Bisa disebut juga sebagai negara pertama bagi para newbie world traveler dari Indonesia, termasuk saya. Salah satu faktornya adalah selain jaraknya yang dekat, banyaknya tiket penerbangan promo Indonesia-Singapura yang disediakan oleh beberapa maskapai penerbangan seperti AirAsia, Mandala, dll. Harganya kalau promo tidak sampai Rp. 500.000, bahkan teman saya ada yang pernah mendapatkannya seharga Rp. 99.000 hanya sebagai gantai biaya avtur saja.



Saya terbang dari Yogyakarta menuju Changi pada pukul delapan pagi dan sampai disana pukul setengah sepuluh. Sebelum mendarat, saya disuguhkan pemandangan kapal-kapal kargo yang begitu banyak di perairan Singapura, hal ini menandakan eksistensi Negara ini sebagai Negara perdagangan yang paling strategis di Asia Tenggara. 

Sebelum mendarat, saya melihat bahwa bandara ini dikelilingi oleh hutan-hutan yang luas dengan pohonnya yang besar-besar. Bandingkan dengan bandara Soekarno-Hatta dimana justru bandaranya dikelilingi oleh pemukiman padat penduduk. Bandara Changi cukup luas dan modern sampai toiletnya juga serba otomatis. Imigrasi disini tidak ribet, yang penting tempat tinggal kita selama di Singapura tercatat jelas pada kartu kunjungan, sehabis itu tinggal melanglang buana deh.

Saya tinggal disebuah apartement padat penduduk di pusat kota. Pemukiman disini sebagian besar merupakan apartemen/rumah susun. Dibagi per kawasan, per blok. Setiap kawasan mempunyai pasarnya sendiri dan juga foodcourt yang terletak dibawah. Saya tinggal di distrik Whampoa, dekat dengan Baleister rd. Terdapat community centre tempat berkumpul dan ngopi-ngopi warga sekitar.



Untuk transportasi saya menggunakan semua moda transportasi yang ada, MRT dan Bus. Cara menggunakan bus di singapura sangatlah mudah. Kita cukup membeli kartu di seveneleven atau cheers (mini market), saya memakai kartu NETS Flashpay yang berisi SG$ 16, cukup untuk bolak-balik 16 kali naik bus atau MRT. Untuk menggunakan kartunya cukup men-tap / menempelkan kartu pada mesin yang tersedia di dekat pintu bus. Jika tidak punya kartu, kita dapat membayarnya langsung ke supir bus, namun uang harus pas, jika tidak maka artinya kamu merelakan kembalian uang kamu.

Untuk MRT, jika tidak punya kartu, terdapat mesin tiket otomatis di setiap stasiun, cukup masukan uang sejumlah harga tiket yang tertera, nanti tiketnya akan keluar sendiri. Untuk jarak jauh, gunakanlah MRT, namun untuk jarak dekat cukup gunakan bus saja.



Warga Singapura, sebagaimana layaknya bangsa Asia umumnya ramah-ramah, jika tersesat mereka akan siap membantu kita. Tenang saja, kita tidak akan tersesat di Singapura karena penunjuk jalan terdapat dimana-mana.

Destinasi pertama saya adalah destinasi mainstream yang ada, yaitu Orchard Road, Esplanade, Merlion Park, Asian Civilization Museum (ACM), Clarke Quay, Mustafa, dan Little India. Semua destinasi tersebut dapat dilakukan dalam sehari saja dan cukup jalan kaki! Yang terpenting adalah kita tahu rutenya, pastikan destinasi tersebut sejalur. 

Contohnya, pertama saya awali dengan Orchard Road, dari situ saya naik bus ke Esplanade. Nah dari Esplanade ke Merlion Park cukup menyeberangi jembatan saja dengan jalan kaki. Dari Merlion Park, jalan menuju ACM kemudian lanjut ke Clarke Quay. Dari Clarke Quay bisa ke Chinatown dulu atau langsung ke Mustafa Centre, Bugis, dan Little India nak bus (jaraknya lumayan jauh boo..)



Orchard Road, bagi traveler kere seperti saya tampaknya tempat ini bukanlah tempat yang cocok karena disini semuanya mall-mall dengan brand-brand ternama seperti GUCCI, Louis Vuitton dll. Bisa dibilang ini tempat shopingnya orang-orang menengah keatas. Tidak ada yang menarik disini bagi saya karena saya bukan tukang belanja. Namun bagi mereka kaum hawa dan shopaholic tempat ini ibarat surga. Semua-semuanya adalah mall! mall! dan mall! Disepanjang jalan saya melihat banyak pengamen yang tengah beraksi, dan mereka punya kemampuan bermusik yang sangat hebat! Give applause!



Esplanade, gedung pertunjukan berbentuk durian. Gedung ini merupakan salah satu ikon Singapura. Selain gedung, kita bisa bersantai dipinggir gedung disebelah sungai sambil menikmati pemandangan kota dengan gedung-gedungnya yang menjulang, patung singa Merlion, Hotel Fullerton, dan Marina bay Sands yang terkenal itu ( gedung kembar dengan kapal diatasnya) dibawah pohon sambil menikmati angin yang semilir serta softdrink seharga SG$1,7.


Merlion Park, Nah ini dia ikon Singapura yang paling terkenal yaitu patung singa yang disebut Merlion. Patung ini dibuat sebagai ikon untuk menyambut para pelancong yang datang ke negeri mungil ini. Dari Esplanade, saya cukup menyeberangi sungai lewat jembatan. Disekitar patung merlion banyak turis-turis yang tengah berfoto maupun sekedar bersantai-santai. Jikalau saja saya punya uang lebih, maka saya akan menikmati secangkir kopi di café-café yang bertebaran disekitar patung tersebut. Saya pergi kesini dua kali, kunjungan yang kedua adalah untuk mengambil gambar patung ini dan sekitarnya yang katanya cantik dan indah dikala malam hari.


Asian Civilization Museum, tempat ini berdekatan dengan Merlion Park. Diseberang Merlion Park terdapat Fullerton Hotel, dan dibelakang hotel terdapat jalan Fullerton. Saya menyeberangi jembatan lagi, namun kali ini jembatannya lebih kecil dan lebih klasik dengan arsitektur jembatan masa colonial. Nah setelah jembatan saya melihat ada bangunan dengan arsitektur khas colonial, didepannya terdapat tugu yang dulu dibangun untuk menyambut kedatangan orang penting dari India. Bangunan tersebut merupakan Museum Asian Civilization, yang menampilkan beragam peninggalan-peninggalan bangsa Asia jaman dulu. Bangunan ini ada di pinggir sungai Singapura. Banyak jembatan-jembatan kuno disini yang bagus untuk diambil gambarnya. Disepanjang sungai banyak kapal-kapal wisata yang hilir mudik menambah keelokan tempat ini. Disekitar museum terdapat banyak taman dan ruang hijau sehingga dijadikan sebagai tempat jogging bagi masyarakat sekitar. Olahraga di sini sudah menjadi semacam lifestyle bagi warga Negara ini terutama untuk kaum mudanya.


Clarke Quay, jam sudah menunjukan pukul setengah delapan sore. Disini gelap baru datang jam segini. Dari museum saya berjalan menyusuri pinggiran sungai. Banyak café-café kecil yang berdiri disepanjang pinggiran sungai dengan temboknya yang dicat warna-warni. Pemandangan seperti ini menjadikan daerah pinggiran sungai ini dikenal juga dengan nama Venesianya Singapura. Saya berjalan sampai menemukan tulisan neon warna-warni yang dibaca Clarke Quay. Tempat ini merupakan kumpulan café-café yang menawarkan berbagai macam minuman, dari kopi, the sampai minuman beralkohol (lebih banyak yang menawarkan minuman beralkohol disini). Tempat ini merupakan tempat nongkrongnya para Ang Mo. Ang Mo adalah bahasa china untuk si rambut merah atau dalam bahasa kita sering kita sebut sebagai bule. Harga minuman disini bervarisai namun rata-rata ya mahal. Saya cuma bisa jalan-jalan sambil menikmati malam yang gemerlap ini ditemani traveler lain dari berbagai Negara.


Mustafa Center, Bugis Street, Litle India, ketiga tempat ini jaraknya lumayan dekat. Dari Clarke Quay saya naik bus ke Mustafa Center yang katanya juga surga belanja. Mustafa Center hanyalah gedung swalayan biasa dengan dagangan yang juga biasa, ya seperti swalayan pada umumnya, nothing special. Namun masih tetap banyak saja para wisatawan yang belanja disini. Karena nothing special maka saya lanjutkan ke Bugis Street. Tempat ini merupakan pasar oleh-oleh, banyak ditawarkan kaos-kaos Singapura, gantungan kunci, jajanan, dll. Harga disini murah-murah dan tempatnya lebih khas dan eksentrik. Saya sarankan lebih baik belanja disini daripada di Mustafa. Di Bugis juga terdapat sex shop yang menawarkan berbagai jenis sex toys untuk 21tahun ke atas. Dari Bugis saya berjalan menuju Little India. Daerah Little India merupakan daerah pemukiman orang-orang India yang cukup luas, tidak ada gedung tinggi disini, semuanya gedung standar 2-4 lantai. Banyak toko-toko yang menawarkan dagangan khas negeri India dengan harga yang lumayan miring. Jika jeli maka kita bisa mendapatkan barang berkualitas dengan harga yang cukup miring.



Hari pertama sudah cukup puas dan cukup melelahkan juga. Ada beberapa pengetahuan yang saya dapat selama sehari menjelajah Singapura :

  • Disini tukang bangunan mayoritas dilakukan oleh orang-orang dari India, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina.
  • Disetiap bangunan yang sedang dibangun pasti kita akan melihat orang-orang ini. Disini pembantu rumah tangga masih tetap dikuasai oleh pembantu dari Indonesia. Berkali-kali saya  lihat orang Chinese bersama pembantu mereka (yang mukanya sangat njawani).
  • Terdapat kawasan-kawasan khusus masing-masing etnis seperti orang India di Little India, orang Melayu di Kampung Melayu, orang China di China Town, dan orang bule di Ang Mo Kio, ada juga orang-orang dari timur tengah di Arab Street namun jumlahnya hanya sedikit.
  • Jika kita kurang lancar berbahasa Inggris, gunakan saja bahasa melayu, sebagian besar orang disini tahu bahasa melayu, jadi santai saja.
  • Beli kartu perdana di minimarket seperti cheers dan seveneleven. Harganya lumayan mahal, SG$ 15. Minta aktifkan kartu ke pelayan toko menggunakan data dari passport kita.
  • Beli makanan murah ada di foodcourt yang banyak terdapat dipusat keramaian maupun di daerah pemukiman, namun untuk yang muslim harus hati-hati dengan makanan yang bertuliskan pork, ham, atau bak, karena itu semua adalah daging babi.
  • Jika tidak punya kartu tap untuk bus dan MRT, maka siapkan banyak-banyak uang receh koin, kita akan sangat membutuhkannya.
  • Jangan heran bila melihat orang berpelukan atau berciuman di bus, MRT, maupun dijalanan.
  • Banyak terdapat masjid maupun mushala, sebagian dari mereka berbentuk gedung biasa tanpa kubah diatasnya. Tanyakan saja pada orang melayu atau Bangladesh untuk lokasi keberadaan masjid.
  • Kalau mau beli kopi item, bilangnya jangan I want a coffee, nanti malah diberi kopi susu. Kalau pengen kopi item bilang saja Kopi’o. (berlaku diwarung kecil seperti di foodcourt).

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca