Full width home advertisement

Jurnal Perjalanan

Opini

Post Page Advertisement [Top]



Debat sana debat sini, siapa pun di debat, sudah macam psikopat. Terus kepada siapa aku harus sambat? Islam dan Nasrani melarang debat karena tidak manfaat serta membuat rusuh umat. Sementara Hindu dan Buddha punya aturan ketat soal debat, juga menganjurkan untuk jangan berdebat dengan orang yang otaknya mampat.

Debat menjadi topik seru di awal tahun 2019 ini dikarenakan dua pasangan calon presiden Indonesia harus unjuk gigi menampilkan kepiawaian mereka dalam memimpin negara. Capres dan cawapres ini harus mampu mengambil hati rakyat supaya rakyat mau memilihnya pada saat pemilu.


Debat capres 2019 ini sebenarnya sudah lebih dulu diawali oleh perdebatan para pendukungnya. Pendukung kedua capres ini sering sekali terlihat sedang debat kusir, saling gontok-gontokan, dan saling hujat satu sama lain, terutama di sosial media. Kalau mau lihat contoh nyata dari debat kusir, coba saja tengok kolom komentar pada postingan-postingan yang berbau politik.

Baca juga: Nurhadi-Aldo, Segelas Es Cendol Ditengah Gerahnya Kampanye Politik Indonesia


Gara-gara debat, yang dulu berteman sekarang jadi musuh. Gara-gara debat pula, berita benar diselewengkan jadi hoax. Demi mendukung capres idaman, apapun dilakukannya sampai lupa pada ajaran agama, bahwa salah satu tanda kiamat adalah semakin banyaknya fitnah di dunia.


Ngomong-ngomong soal agama, saya jadi penasaran bagaimana agama memandang masalah perdebatan ini. Tidak hanya dari agama saya saja yaitu Islam, namun juga dari ajaran agama lainnya.


Setelah cari sana-sini akhirnya saya menemukan bahwa ternyata setiap agama justru menyarankan untuk menghindari perdebatan loh! Berikut yang berhasil saya rangkum.

Aturan debat dalam Islam



Islam sebenarnya melarang adanya perdebatan karena berdebat tidak mendatangkan manfaat. Mayoritas pendebat biasanya tidak ada yang mau mengalah dan akan tetap mempertahankan argumennya masing-masing.

Debat yang tidak disukai dalam islam adalah debat yang keras dengan tidak memakai dasar ilmu, alias tanpa dalil.



“Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling keras debatnya.” (HR. Bukhari, no. 4523; Muslim, no. 2668)

Yang dimaksud orang yang paling dibenci di sini adalah orang yang berdebat dengan cara yang keras, emosi, dan marah-marah. Orang yang suka berdebat akan menghilangkan keberkahan pada ilmunya.



“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.” ( Shahih at-Targib wat Tarhib, jilid 1, no. 138)

Disarankan untuk mengalah jika perdebatan sudah tidak ada ujungnya, walaupun argumen yang kita sampakan merupakan sebuah kebenaran yang dibarengi dengan fakta dan logika. Dengan mengalah kita tidak akan buang-buang waktu untuk meladeni seseorang yang keras kepala. Waktu yang ada bisa kita gunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Oleh karena itu mengalah dan meninggalkan perdebatan pada hadits diatas pahalanya sangat besar.



“Tidaklah aku mendebat seseorang melainkan dalam rangka memberi nasihat.” (Adabu Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu hal. 69)

Jika terpaksa harus berdebat, maka berdebat lah dengan cara yang santun, dan mau menerima kebenaran.



“Demi Allah, tidaklah aku mendebat seseorang melainkan berharap akulah yang keliru.” (Tabyinu Kadzbil Muftari hal. 340)

Niatkanlah debat tersebut untuk memperbaiki diri. Anggaplah sebuah debat sebagai diskusi untuk mengenal kekurangan diri sendiri.


Aturan debat dalam Nasrani




Dalam agama Nasrani juga terdapat beberapa ayat dalam bible yang menyinggung tentang perdebatan atau silat lidah. Intinya adalah untuk tidak melakukan perdebatan yang sia-sia dikarenakan debat hanya akan membuat bingung kedua belah pihak.



"Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya." (Timotius 2:14)


"ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan." (Timotius 6:4-5)

Ayat-ayat tersebut menyarankan umat Nasrani untuk meninggalkan perdebatan karena perdebatan hanya akan menyebabkan dengki, fitnah, curiga, dan pertentangan antara dua kubu. Seperti yang kita lihat sekarang ini, banyak teman yang jadi lawan hanya karena sebuah perdebatan.


Aturan debat dalam Buddha




Dalam ajaran Buddha, debat mungkin sangat erat kaitannya dengan keseharian para biksu di biara. Kebiasan para biksu saat berada di dalam kuil adalah melakukan latihan debat mengenai filosofi ajaran mereka sendiri.


Namun walaupun mereka melakukan debat, para biksu ini punya aturan sendiri soal debat yang tak boleh dilanggar.


Dalam debat para biksu, syarat utamanya adalah argumen harus berdasarkan logika yang jelas dan sesuai dengan filosofi ajaran dari Buddha itu sendiri. Tidak boleh ada perdebatan tanpa dasar alias debat kusir.



Dalam teks kitab Sutta Nipaata, Buddha berkata kepada muridnya bahwa "Seorang biksu yang baik tidak akan mendebat siapapun dan untuk itu harus menjauhi perdebatan publik."

Dijelaskan oleh J.N. Jayatilleke dalam bukunya yang berjudul The Early Buddhist Theory of Knowledge, London, 1963, seorang Buddha tidak boleh melakukan perdebatan kecuali berdebat mengenai ajaran Buddha itu sendiri untuk menjelaskan kepada orang lain jika terjadi kesalahpahaman mengenai ajaran Buddha.


Bisa dibilang, Buddha juga melarang perdebatan khususnya debat yang tanpa didasari dengan ilmu. Buddha memperbolehkan debat hanya jika debat tersebut menyangkut ajaran Buddha itu sendiri.


Aturan debat dalam Hindu




Debat dalam Hindu hampir mirip dengan Buddha. Debat sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Para filsuf Hindu sering melakukan debat untuk mencari kebenaran bersama. Satu aturan perdebatan dalam agama hindu adalah tidak boleh mendebat sembarang orang.


Perdebatan hanya bisa dilakukan jika kedua belah pihak memenuhi syarat berdebat itu sendiri. Menurut sistem Nyaya Darsana, atau filsafat Hindu, syarat perdebatan adalah adanya bahasan soal Pramana (Obyek) dan Prameya (Metode / cara mengetahui). Jika tidak ada kedua syarat itu maka tidak boleh dilakukan perdebatan.



Jika kedua kubu melakukan kesalahan, maka mereka diberikan tiga kesempatan untuk memperbaiki diri. Ini disebut 'satpakshi' atau enam peluang, tiga untuk masing-masing kubu. Dalam tiga kesempatan perbaikan argumen, siapa pun yang lebih dulu melakukan koreksi akan menjadi pemenangnya. Jika keduanya tidak memperbaiki diri dalam tiga peluang, orang yang memimpin harus menunda diskusi. (Swami Vedanta Desika in Tattva Mukta Kalapa chapter 4-66)

Hal ini menyiratkan bahwa setiap diskusi harus benar-benar dibarengi dengan logika dan ilmu yang memadai. Karena diskusi bodoh tanpa ilmu hanya akan berujung sia-sia.


Baca juga: Apakah Tuhan Itu Ada? Sebuah Analisi Dari Buku Cogito Allah Sum!




Sebenarnya tujuan debat itu kan untuk mencari kebenaran dari dua buah pendapat yang berbeda. Jadi kalau kedua kubu pendebat sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah serta tidak mau menerima fakta yang ada maka debat tersebut hanya buang-buang waktu saja.


Perdebatan sudah ada sejak jamannya nabi adam berseteru dengan iblis. Hingga kini, tiap-tiap budaya dan agama mempunyai aturannya sendiri soal perdebatan. Tapi pada intinya, masing-masing agama menyarankan untuk menghindari perdebatan, apalagi perdebatan tanpa didasari oleh ilmu dan hanya mengandalkan emosi.



Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

18 komentar:

  1. Lengkap banget Mas, tentang debat dalam semua agama. Menjadi bahan renungan saya

    BalasHapus
  2. menambah referensi saya perihal debat

    BalasHapus
  3. keren bgt ini, analisa suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang agama. Bila berkenan kunjungi dan baca artikel terbaru saya di www.rizalmalawi.com makasih bang !

    BalasHapus
  4. Setuju banget untuk menghindari debat tanpa didasari dengan ilmu dan fakta. Kalau selama ini, debat yang ada hanya mengandalkan isu aja dan terlihat jadi bodoh sih.

    Dan aku dari dulu ga suka berdebat. Ga penting menurutku. Hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, saya juga kalau lagi ngobrol trus ada yang ngajak debat langsung kualihkan pembicaraan, haha

      Hapus
  5. Wah ini nih, menyoroti perihal hebohnya debat pilpres kemarin hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya apalagi debat kemaren sungguh membosankan, gak seru, hehe

      Hapus
  6. Yap denlbat karena politik, ini riskan banget mas, bisa jadi musuh. Aku jg soalnya lihat d medsos, g hnya debat. Tapi pernyataan yg dibuat status itu seperti lebih ke tipe 'provokatif'.
    Semingguan ini timeline medsosku penuh politik. Semoet cape aku ngliatnya saling jelek2in.. ingin rasanya unfriend tp takut dosa haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, sekarang saya jadi males mantengin sosmed, mending ngeblog aja lah.

      Hapus
  7. Sangat bermanfaat,... thanks infonya...

    BalasHapus
  8. Keren mas, jangan gara2 debat kita jadi terpecah belah.
    Top deh, referensi langsung dari semua agama

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, debat membuat kita terbagi jadi berkubu-kubu. Jauhilah debat, utamakan diskusi. Karena debat itu menang dan kalah. sementara diskusi gotong royong. macam bank vs koperasi,wkwkwk.

      Hapus
  9. Debat kusir juga bahaya mas. Debatnya panjang kayak lomba rally mobil. Hehe .

    BalasHapus

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib