Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan

Malam Tahun Baruan di Pantai Mirota, Batam

 
Batam mungkin belum jadi destinasi wisata favorit di Indonesia karena lebih terkenal sebagai kota industri, bukan kota wisata. Tapi sebenarnya untuk pecinta wisata pantai, Batam punya banyak sekali pilihan pantai yang indah, salah satunya adalah Pantai Mirota.

Jogja Sebagai Destinasi Wisata Kopi, Kenapa TIdak


Siapa sih yang belum pernah minum kopi? Saya yakin 100% pembaca artikel ini pasti pernah ngopi walau hanya satu seruputan saja.

Dari Sabang sampai Merauke, dari Gayo sampai Wamena, kopi seperti sudah menjadi nadi-nadi kehidupan masyarakat Indonesia. Sudah mendarah daging dan sulit untuk dipisahkan dari keseharian masyarakat.

Melihat Pertunjukan Wayang Dalang Manteb Dengan Sinden Bule


Menyambut hari jadi Kabupaten Purbalingga ke 182 yang jatuh pada tanggal 18 Desember, Pemerintah menggelar beberapa hiburan untuk masyarakatnya, salah satu diantaranya adalah pementasan wayang kulit yang diadakan dua hari berturut-turut yakni hari selasa dan rabu kemarin. 

Sayangnya hujan turun pada pagelaran wayang yang pertama sehingga jumlah penontonnya hanya sedikit. Baru pada pementasan kedua yang digawangi oleh dalang beken Ki Manteb, jumlah penontonnya lumayan banyak. Padahal, sebelum pentas dimulai, hujan turun sangat deras. 

Ajaibnya saat acara dimulai, hujan perlahan-lahan mereda, seperti yang dikatakan oleh Ki Manteb sendiri " Tenang wae, nek wis mulai wayangane li insyaallah udane mandek, merga Gusti Allah". Ki Manteb merupakan dalang yang beken karena menjadi ikon salah satu obat sakit kepala.

Acara dimulai pukul 21.00 WIB, penonton mulai berkerumun mengelilingi panggung, sementara pejabat-pejabat pemerintahan duduk nyaman di bagian paling depan. Penjual-penjual makanan dan minuman turut serta meramaikan pementasan wayang ini. 

Selain penjual makanan, ada juga penjual obat-obatan alternatif seperti jamu, ramuan herbal tradisional, tukang bekam, dll yang memanfaatkan pentas ini sebagai ajang mencari peruntungan. Aneka penjual suvenir wayang juga tak kalah meramaikan acara ini. 


Sinden Import
Yang menarik adalah, beberapa waranggana wayang kulit atau akrab disapa dengan sebutan sinden ada yang berasal dari mancanegara. Agnes Serfozo atau akrab dipanggil Aggy merupakan sinden yang berasal dari Hungaria, dia telah tertarik dengan kesenian wayang ini sejak Ki Manteb melakukan pentas di negerinya, tepatnya saat pentas di Budapest. Bahasa Jawa yang di ucapkannya benar-benar fasih, tak disangka ternyata yang mengucapkannya adalah bule dari Hungaria. Saat ini Aggy tinggal di Kota Solo.

Sinden bule lainnya yang tak kalah menarik adalah Hiromi Kano, sinden asal negeri sakura, Jepang ini telah malang melintang didunia perwayangan sejak 13 tahun lalu. Awal mula ketertarikannya dengan dunia sinden dan wayang kulit diawali ketika dia kuliah di STSI atau Sekolah Tinggi Seni Indonesia pada tahun 1996. Orang luar saja begitu antusias dengan budaya leluhur kita, kenapa kita tidak?

Foto :




Agnes Serfozo, sinden dari Hungaria


Hiromi Kano (tengah), sinden asal Jepang.

Camping dan Tanam Pohon di Gunung Prau via Patak Banteng


Gunung Prau terletak di Pegunungan Dieng, tepatnya di Desa Patak Banteng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Kalau kita mau ke Dieng dari arah Wonosobo, nanti di kiri jalan sebelum sampai di Dieng akan ada basecamp pendakian Gunung Prau Patak banteng yang terletak tepat di bawah kaki Gunung Prau disebelah masjid yang saya lupa namanya.

Di Gunung Prau ini selain mendaki, saya bersama teman-teman infogunung Jogja juga melakukan kegiatan tanam pohon di sabana Gunung Prau. 

Baca Juga Pendakian Gunung Merapi, Sindoro, dan Lawu

Untuk simaksi / ijin pendakian cukup membayar Rp. 5.000. Mas-mas penjaga basecamp sangat ramah dan asik buat ngobrol. Di basecamp ada warung kelontong, warung makan, dan mas-mas basecampnya juga jualan alat-alat outdoor import loh.

Semacam The North Face, Columbia, Mountain Hardware, Mammuth, dll , tapi kondisi bekas, alias awug-awug. Jangan heran kalau masyarakat disekitar basecamp memakai jaket gunung yang lebih branded dari pada yang kita pakai.


Mulai Pendakian

Pendakian saya diawali dengan menyeberang jalan besar, dan, seperti biasa melewati rumah-rumah penduduk. Setelah rumah penduduk, jalan mulai menanjak melewati ladang-ladang penduduk.

Tiga puluh menit jalanan cukup landai, tapi menit-menit berikutnya tantangannya dimulai. 
Perlahan tapi pasti, saya merangkak pelan menyusuri lereng gunung yang ditumbuhi pepohonan pinus dengan kemiringan minimal lima puluh derajat. Meter demi meter kulalui sampai menemukan undakan berbatu yang amat curam.


Nah, kalau sudah menemukan undakan berbatu yang curam ini, artinya kita hampir sampai. Pendakian normal biasanya memakan waktu 3 - 4 jam perjalanan, kalau kita selow banget bisa sampai 6 jam.

Penanaman pohon oleh infogunung jogja di jalur Gunung Prau
Setelah rintangan terakhir ini, jalan kembali landai dan rata. Semak belukar harus kami sibak satu persatu sampai akhirnya padang rumput yang amat luas terbentang di hadapan kami. 

Puncak Gunung Prau.

Tidak ada pohon di sabana Gunung Prau, kecuali beberapa pohon beringin-beringinan yang terdapat di salah satu sudut sabana.

Bunga-bunga rumput berwarna kuning tersebar merata diseluruh padang. Beberapa nasib bunga-bunga kecil ini tragis terinjak oleh sepatu para pendaki.

Suasana camp di Gunung Prau yang mendadak jadi seperti warung kopi
Kalau di gunung lain biasanya kita akan bingung mau masa tenda dimana, tapi kalau di Gunung Prau hal itu tidak berlaku. Kita bisa pasang tenda sambil jungkir balik!

Ada satu hal yang perlu diwaspadai, usahakan dirikan tenda pada bagian yang rendah, karena jika hujan, petir bisa menyambar sewaktu-waktu. 

Bekas pohon yang tersambar petir di Gunung Prau
Puncak Gunung Perahu ya bukit teletubies itu sendiri. Gunung ini lumayan bagus untuk melihat sunrise. Saat sunrise, gunung ini akan menawarkan pemandangan berupa perbukitan dan gunung-gunung di sekitarnya, juga dataran wonosobo di sekelilingnya yang di balut oleh rangkaian awan-awan tipis dan semburat merah mentari pagi.

Gunung Prau juga bisa di naiki dengan sepeda motor trail lewat jalur Dieng
Tidak ada banyak kayu kering di atas, jadi kalau mau bikin api unggun sebaiknya kumpulkan selama perjalanan dari bawah. Karena padangnya begitu luas, hati-hatilah dengan banyaknya 'ranjau' kotoran manusia dimana-mana, dengan tetap mengikuti jalur tanahnya.

Untuk mengeksplorasi padang rumput ini saya sarankan jangan sendirian dan buatlah jejak penanda, karena luasnya, padang ini sebenarnya cukup menyesatkan.

Masyarakat sekitar juga masih percaya bahwa masih ada harimau jawa yang berkeliaran di gunung ini, so watch out!

Mendaki gunung itu menambah saudara

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca