Legenda Si Pahit Lidah dan Mata Empat

legenda cerita rakyat tentang pertarungan si pahit lidah dan mata empat

Legenda si Pahit Lidah dan Mata Empat ini sangat dikenal oleh masyarakat Sumatera Selatan dan Lampung. Saya tulis di blog sebagai informasi tambahan untuk tulisan saya tentang Danau Ranau di Sumatera Selatan.

Jadi waktu berkunjung ke Sumatera Selatantepatnya saat berada di Danau Ranau, saya diceritakan soal legenda pertarungan antara si Pahit Lidah dan si Mata Empat. Sebuah pertarungan untuk mempertahankan ego masing-masing yang berujung bencana bagi keduanya.

Danau Ranau, Dilema Tempat Wisata di Pedalaman

Anak-anak sedang berada di atas perahu untuk mencari ikan di Danau Ranau

Matahari mulai menghangat, perjalanan saya menuju Danau Ranau di Sumatera Selatan akhirnya dimulai. Danau Ranau merupakan danau terbesar kedua di Indonesia (menurut volume airnya), setelah danau Toba. Tetapi walaupun merupakan danau terbesar ke dua, danau ini tidak begitu dikenal oleh masyarakat, khususnya para wisatawan.

Tukang ojek saya, pak Juki, memacu motor bebeknya seperti seorang pembalap profesional. Tanpa ragu dia melibas jalanan pegunungan yang naik turun dan berliku.

Pak Juki bermanuver dengan sangat lihai, bergerak zig-zag menghindari lubang, yang amat banyak. Selain banyak, lubang-lubang itu juga besarnya tidak tanggung-tanggung. Yang paling besar mungkin sampai selebar bodi truk.

Baca cerita sebelumnya:

Pemandangan sepanjang jalan hanyalah hutan hujan tropis dengan pohon-pohonnya yang tinggi lebat. Pada satu bagian jalan, saya melihat plang yang berbunyi 'Kawasan Hutan Lindung'.

Ternyata hutan di Ogan Komering Ulu Selatan ini termasuk kedalam kawasan hutan lindung Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Sekedar info, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan tempat tinggal bagi tiga jenis mamalia besar yang paling terancam di dunia yaitu gajah Sumatera, badak Sumatera, dan harimau Sumatera.


Jalan terus menanjak, membawa kami sampai di atas sebuah bukit. Dari sini saya dapat dengan lebih jelas melihat betapa luasnya kawasan hutan lindung ini. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah hutan, hutan, dan hutan.

Ada sebuah gunung yang terlihat menyembul di antara rimbunnya pepohonan. Setelah saya tanyakan kepada pak Juki, ternyata gunung itu bernama Gunung Seminung.

"Itu gunung banyak kisahnya lho mas, gunung legendaris." jelas pak Juki kepada saya sambil sedikit menolehkan kepalanya ke belakang.

"Kisah apa pak?" Tanya saya dari belakang, sedikit berteriak.

"Anu, tentang pertarungan Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat, pernah dengar tak mas?" Jawab pak Juki juga sambil berteriak, tak mau kalah oleh bising deru udara yang bertabrakan dengan kencangnya laju motor.

Gunung Seminung tampak anggun di lihat dari kejauhan
Gunung Seminung, gunung antar provinsi.

Kedua pendekar ini, Pahit Lidah dan Mata Empat adalah tokoh legenda yang sangat dikenal oleh penduduk Ogan Komering Ulu Selatan.

Konon pada jaman dulu, entah jaman kapan, keduanya bertarung di Gunung Seminung. Tetapi, bukan pertarungan dahsyat seperti di film laga, melainkan pertarungan adu ketangkasan yang berakhir dengan tewasnya kedua pendekar ini.

Baca selengkapnya Legenda Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat

Gunung Seminung sendiri merupakan 'gunung antar provinsi'. Satu sisi berada di Sumatera Selatan, satunya lagi berada di Lampung. Begitu juga dengan Danau Ranau.

Danau Ranau

Kecamatan Banding Agung yang tepat berada di Danau Ranau
Danau Ranau sudah terlihat dari kejauhan.

Motor bebek pak Juki yang dari tadi terus meraung-raung melawan gravitasi, akhirnya bisa bernafas lega. Curamnya tanjakan berganti menjadi turunan, yang tak berkesudahan.

Motor melaju hampir tanpa suara mesin. Pak Juki hanya memainkan pedal remnya saja. Yang terdengar hanyalah suara 'srak srek srak srek' rantai motor.

Danau Ranau mulai terlihat. Airnya biru berkilauan. Rumah panggung khas Sumatera Selatan mulai berjejeran di sepanjang sisi jalan.

Sayangnya, jejeran rumah panggung itu perlahan-lahan berubah menjadi deretan ruko.

"Sudah sampai Kecamatan Banding Agung ini mas, itu pasarnya, nanti lurus terus sampailah kita di danau. Mau mampir mas?" Tanya pak Juki.

"Tentu saja." Jawab saya, singkat, padat, dan jelas. Dengan mata yang berbinar-binar.

Kami melewati jalan pasar yang banyak terdapat lapak pedagang ikan. Tentunya ikan yang di jual adalah ikan air tawar hasil tangkapan dari Danau Ranau seperti mujair, kepor, kepiat, dan harongan. Semua ikan yang dijual disini terlihat masih sangat segar.

"Pak, cari warung kopi dulu ya, kita istirahat sebentar." 

Setelah berputar-putar mencari warung kopi yang pemandangannya pas, akhirnya kami mendarat juga di sebuah warung kopi kecil di pinggiran Danau Ranau.

Nelayan terluhat sedang menjala ikan di Danau Ranau
Nelayan Danau Ranau sedang mencari ikan.

Kami masing-masing memesan segelas kopi hitam dan sepiring mie goreng telor. Menikmatinya sambil memandang Danau Ranau, seketika makanan yang rasanya biasa saja jadi luar biasa. 

Inilah alasan kenapa banyak restoran dan cafe menggelontorkan banyak modal untuk menata interiornya supaya enak di pandang mata. Karena, selain rasa dari makanan itu sendiri, ada faktor lain yang membuat makanan akan terasa lebih nikmat dan membuat customer kembali lagi, yaitu lingkungannya. Lingkungan yang bersih dan indah.

"Kok sepi ya pak?" Tanya saya kepada pak Juki karena heran kok tempat seindah ini sepi pengunjung. 

"Ya beginilah mas, kan tadi liat sendiri kondisi jalannya bagaimana, terus juga selain danau, tidak ada apa-apa disini mas. Ya, cuman warung-warung beginian lah." Jawab pak Juki sambil menyeruput kopi lalu disusul dengan suara "Puaah...mantap."

Dilema Tempat Wisata di Pedalaman

Silau euy!

Secara geografis, topografi danau Ranau adalah perbukitan yang berlembah. Hal ini menjadikan Danau Ranau memiliki cuaca yang sejuk.

Tepat di tengah danau terdapat pulau yang bernama Pulau Marisa. Di sana terdapat sumber air panas dan juga air terjun.

Sayangnya saya tidak sempat menunjungi Pulau Marisa karena terbatasnya waktu.

Meski dikenal memiliki keindahan yang memanjakan mata. Danau Ranau masih saja sepi pengunjung, salah satunya karena minimnya fasilitas sarana dan prasarana yang ada.

Saya tidak melihat keberadaan hotel. Pak Juki bilang hanya ada beberapa penginapan kecil, itu pun lokasinya berada jauh di ujung sana.

Untuk mendongkrak wisata Danau Ranau, pemerintah setempat sudah menyelenggarakan sebuah event bertajuk 'Festival Danau Ranau' yang diadakan setiap bulan desember, tetapi tetap saja tidak banyak menarik wisatawan.

"Ramainya kalau pas festival mas, bisanya penginapannya penuh, yang tidak kebagian bisa menginap dirumah warga." Katanya.

Selain itu, sarana penunjang lain seperti mesin ATM dan wahana atraksi wisata juga tidak ada. Paling atraksi wisatanya hanya naik kapal ke Pulau Marisa.

Ada juga kegiatan rafting yang bermula dari arah hulu danau Ranau, tetapi tidak aktif karena sepi pengunjung.

Foto pulau marisa dari blognya omnduut. Kalau pembaca penasaran dengan Pulau Marisa. Silahkan kunjungi tulisan omnduut.com tentang Pulau Marisa.

Tetapi menurut saya faktor yang paling membuat Danau Ranau sepi pengunjung adalah aksesibilitasnya.

Jauhnya lokasi danau Ranau yang berada di pedalaman Sumatera Selatan membuat wisatawan enggan datang.

Bayangkan, untuk menuju danau Ranau dari Palembang membutuhkan waktu lebih dari 10 jam. Sementara jika dari Lampung, untuk menuju danau Ranau harus ditempuh selama kurang lebih 7 jam.

Wisatawan mana yang mau menghabiskan waktu liburan berharganya hanya untuk dihabiskan di dalam travel yang sempit?

Fenomena Bentilehan

Warga menjaring ikan yang mabok karena belerang di Danau Ranau
Ilustrasi warga menjaring ikan mabok belerang di Danau Ranau.

Di danau Ranau terdapat sebuah fenomena alam yang oleh penduduk setempat disebut dengan 'Bentilehan'. Yaitu fenomena menguapnya belerang di dasar danau setiap beberapa tahun sekali yang mengakibatkan ikan-ikan didalamnya pada mabok bahkan mati.

"Wah kalau ada bentilehan nelayan pada senang itu mas, ikan gratis, pada ngapung di danau." Kata pak Juki, sambil mengacungkan tangannya ke arah danau.

Fenomena bentilehan ini di awali dengan warna air danau yang sebelumnya biru kehijauan berubah menjadi hitam kecoklatan diiringi dengan aroma Belerang yang menyengat.

Belerang berasal dari Gunung Seminung dan fenomena ini memang sudah sudah sering‎kali terjadi, khususnya saat memasuki musim panas dan terjadi perubahan cuaca. 

Jika terjadi bentilehan, puluhan warga dan nelayan serta anak-anak, setiap harinya pasti berbondong-bondong datang ke tepian Danau Ranau dengan membawa peralatan seperti jaring dan sebagainya untuk menangkap ikan dan udang yang mabok itu.

Melanjutkan Perjalanan

Tak terasa kopi di cangkir kami sudah habis. Ingin rasanya menambah satu cangkir lagi tapi tidak enak sama pak Juki yang masih harus pulang ke Muara Dua setelah mengantarkan saya. 

Saat mau membayar, saya melihat di meja kasir ada beberapa bungkusan kopi dengan cap 'Ranau'. 

Kopi robusta khas Danau Ranau Sumatera Selatan
Kopi asli dari perkebunan kopi sekitar Danau Ranau. Bisa untuk oleh-oleh.

"Ini kopi asli daerah sini pak?" tanya saya kepada bapak warung.

"Iya asli sini, kopi murni tanpa campuran, itu yang tadi diminum kamu. Mantap kan rasanya?" Jawab bapak warung sambil nyengir. 

Daerah Ogan Komering Ulu Selatan memang terkenal sebagai daerah penghasil kopi robusta terbaik. Sehingga tidak heran jika daerah disekitar Danau Ranau juga merupakan daerah perkebunan kopi karena adanya danau membuat tanah disekitarnya subur dan berlimpahan air. 

Setelah membeli dua bungkus kopi ranau, satu bungkus 250 gram harganya Rp. 20.000, saya melanjutkan perjalanan menuju Desa Galang Tinggi.

Sebuah desa di hulu Danau Ranau yang juga merupakan desa penghasil kopi dimana mayoritas penduduknya adalah suku Semendo yang diselingi oleh transmigran dari Jawa. 

Simak terus cerita saya di pedalaman Sumatera Selatan ya. (Bersambung)

Luti Gendang, Makanan Khas Anambas Yang Rasanya Nendang!

Makan luti gendang sambil ditemani kopi hitam

Luti Gendang, selain masyarakat Kepulauan Riau, sepertinya tak banyak yang tahu keberadaan makanan teman ngopi paling nikmat ini. Saya sendiri baru tahu ketika kemarin malam teman saya membawa Luti Gendang saat nongkrong di warung kopi.


Bentuknya bulat lonjong, warnanya coklat, dan ketika digigit, "kresss", renyahnya kulit luti gendang berpadu nikmat dengan lembutnya roti di dalam yang berisi abon ayam atau ikan tongkol. 

Luti gendang makanan khas anambas dengan isian abon ayam
Abon ayamnya enak, apalagi ditambah dengan seruputan kopi hitam, beuh!

Abon ayam dan ikan tongkol adalah isian Luti Gendang yang asli, alias original. Sekarang sudah banyak isian lainnya yang lebih modern seperti Luti Gendang isi keju, coklat, green tea, dll.

Kalau teman-teman ada yang berlibur ke Provinsi Kepulauan Riau, terutama Pulau Batam, bolehlah kalian membawa Luti Gendang khas Anambas ini sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di rumah. Harga satu bijinya murah kok, hanya Rp. 3500 saja.

Asal Usul Luti Gendang - asli Kepulauan Anambas, bukan Batam

Foto kota kecamatan tarempa kabupaten kepulauan anambas
Kecamatan Tarempa, Pusat Kepulauan Anambas

Jadi, beberapa waktu lalu salah satu toko oleh-oleh di Batam mengklaim bahwa Luti Gendang ini adalah oleh-oleh makanan khas Batam. Sontak saja, Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Kepulauan Anambas memprotesnya, karena Luti Gendang itu merupakan makanan asli Kepulauan Anambas.

Batam sendiri sebenarnya tidak punya makanan khas apapun karena Batam adalah kota dengan kebudayaan es cendol, alias campur aduk. Masing-masing suku budaya yang ada di Batam membawa makanan khas dari daerahnya sendiri-sendiri, termasuk pendatang dari Anambas.

'Luti' diambil dari cara khas lidah orang Tionghoa setempat dalam menyebut kata 'roti'. Sedangkan, kata “gendang” digunakan karena bentuknya lonjong seperti alat musik tabuh gendang. Sehingga jadilah Luti Gendang.

Luti Gendang merupakan makanan yang biasa di santap masyarakat Anambas di pagi hari sebagai teman ngopi atau ngeteh. Tidak hanya di Tarempa (pusat Kepulauan Anambas), luti gendang ini juga sudah tersebar diseluruh desa di Anambas.

Luti Gendang sudah menjadi budaya masyarakat Anambas, jadi sangat di sayangkan jika makanan khas Anambas ini di akui oleh daerah lain.

bawah resort anambas yang sungguh cantik dilihat dari atas
Pulau Bawah, salah satu resort paling laris di Kepulauan Anambas.

Kabupaten Kepulauan Anambas sendiri berada di Laut Natuna Utara dan memiliki perbatasan dengan sejumlah negara. Sebagai kabupaten terluar, kabupaten yang terdiri dari 260 pulau ini mempunyai pesona tak kalah dengan Raja Ampat yang telah dikenal seantero dunia.

Untuk mencapai salah satu pulau terluar di Provinsi Kepulauan Riau ini kalian bisa menggunakan kapal ataupun pesawat dari Batam.

...

Saya sendiri belum berkesempatan untuk mengunjungi Kepulauan Anambas, padahal pulau ini pemandangannya sangat cantik. Ingin rasanya menikmati Luti Gendang di tempat asalnya sambil menikmati indahnya pantai yang ada di Anambas.

Semoga suatu saat saya bisa mengunjungi anambas, amiin.

Pembaca, Tolong di amin-kan juga dooong, hahaha

Bagaiamana Kabar Buku Kuning Yellow Pages Sekarang?



Masih ingatkah kalian dengan Yellow Pages? buku kuning besar yang dulu selalu ada di meja wartel (warung telepon). Yellow Pages adalah buku yang berisi kumpulan direktori telepon terlengkap pada masanya.

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca