Cara Mendapatkan Air Bersih di Alam Liar


Saat kita berada di alam dimana tidak ada sumber air langsung seperti mata air, sungai, dan danau, mungkin kita dapat mencoba metode ini. Dehidrasi akan membunuh kita jika kita tidak ada persediaan air sama sekali ketika berada di alam liar yang ganas, dimana "hukum yang kuat yang bertahan" berlaku disini.

Secara medis, manusia dapat bertahan tanpa makan paling lama selama satu bulan itu pun jika kita terus konsisten minum air. Namun sayangnya berbeda jika yang kita hadapi adalah kelangkaan air. Manusia hanya bisa bertahan tiga sampai enam hari tanpa air.

Nah, kali ini saya akan berbagi mengenai salah satu cara mendapatkan air di alam liar yang idenya dari saudara Blue-Jazz di Instuctables.com
Untuk membuatnya, kita butuh :
  • Sekop, untuk menggali tanah. Tidak harus sekop sih, apa aja bisa dijadikan alat, termasuk tangan.
  • Wadah, kaleng bekas atau apa saja yang bisa digunakan untuk menampung air.
  • Tumbuhan / Daun, 
  • Plastik / terpal yang agak lebar.
  • Batu atau jika tidak ada bisa memakai tanah bekas galian sebagai penahan.
Langkah 1 : Gali Lubang
Gali tanah dengan ukuran sekiranya hampir sama dengan yang ada di gambar. Tidak perlu terlalu besar. Kedalaman lubangnya sekitar setengah meter. Galilah lubang ini pada malam / pagi hari karena jika siang hari tubuh akan mudah berkeringat sehingga air dalam tubuh kita akan cepat berkurang dan itu sangat berarti jika kita berada di tempat yang tidak ada sumber air sama sekali.Jika lubangnya sudah tergali, taruh wadah kaleng tadi ditengah-tengah lubang. Wadahnya harus cukup dangkal, jangan terlalu dalam. kira kira jaraknya sekitar 5 cm dari ujung lubang.


Langkah 2 : Dedaunan
Cari tumbuhan dengan daun yang berwarna hijau, semakin hijau dan lebar daunnya semakin baik, contohnya daun pisang. Taruh daunnya didalam lubang disektar wadah tadi. Pastikan lubang itu penuh dengan daun, jangan sisakan ruang sedikitpun. Saat matahari terbit sampai matahari tenggelam akan membuat air yang ada didalam tumbuhan ber-evaporasi dan terkumpul di atas penutupnya.


Langkah 3 : Penutup
Pastikan plastik penutupnya meregang menutupi keseluruhan lubang. Taruh pemberat di sisi plastik, dan taruh satu kerikil pemberat di bagian tengah di atas wadah sehingga membentuk kerucut kebawah dengan bagian tengahnya adalah wadah penampung airnya. hal ini supaya air hasil evaporasi tumbuhan akan terpusat dan jatuh di wadah penampung air.


Saat malam tiba, cek apakah air sudah terkumpul. Jika sudah maka nikmatilah kesegarannya dan hilangkanlah dahagamu.

Pantai Nongsa Pelabuhan Pulau Putri, Akan Lebih Indah Jika Tanpa Sampah




Saya kembali lagi ke perempatan yang terdapat Pos Infromasi Pariwisata dan menanyakan arah ke Pantai Nongsa yang disitu terdapat makamnya Nong Isa, salah satu tokoh penting di Pulau Batam dan menjadi asal dari nama 'Nongsa'. Penjaga dengan ramah mengarahkan saya untuk terus ke arah barat nanti di kanan jalan akan ada papan penunjuk arah Pantai Nongsa. 


Foto dari atas jembatan di Jalan Raya Nongsa
Kembali saya pacu motor kali ini agak ngebut karena sudah sore. Jalanannya kali ini lebih lebar dan lebih halus dari sebelumnya. Kanan kiri jalan juga ditumbuhi pohon-pohon lebat dengan akarnya yang besar.

Saya pelankan laju motor ketika melewati sebuah jembatan dengan sungai air payau / sungai yang masih menyambung dengan laut dibawahnya yang lumayan jernih.

Karena terbius dengan pemandangannya saya pun berhenti sebentar di jembatan itu. Banyak orang, muda-mudi berjejer dipinggiran jembatan saling berselfie bersama. Setelah saya perhatikan lagi ternyata ada pelabuhan / dermaga di bawah dengan satu kapal ferri kecil berlabuh.

Tidak mau kalah dengan orang-orang disekitar saya pun ikut mengambil foto pemandangan dari jembatan tersebut karena matahari yang hampir tenggelam terlihat indah dari jembatan ini.


Pelataran Makam Nong Isa, Batam
Melanjutkan perjalanan, saya akhirnya sampai di sebuah papan bertuliskan 'Pantai Nongsa' dan 'Makam Nong Isa' di sebelah kanan jalan sebuah pertigaan. Saya ikuti arah sesuai dengan papan tersebut.

Sekitar 50 meter di kanan jalan terdapat sebuah pelataran parkir makam Nong Isa yang berdekatan dengan masjid. Tidak jauh dari situ, tampak deretan pohon kelapa dan warung-warung pinggir pantai. 


Saung sederhana yang bisa di sewa wisatawan.

Pantai Nongsa ini cukup panjang dan berdiri beberapa saung diatas air yang seakan-akan menyekat pantai ini menjadi terlihat seperti beberapa pantai yang berbeda. Satu hal yang disayangkan adalah sampahnya buanyak banget! walaupun sudah ada tulisan dilarang buang sampah tapi tetap saja ada sampah disepanjang hamparan pasir putihnya. 


Sampah, sebuah momok yang selalu menghantui setiap tempat wisata di Indonesia.

Banyak kapal yang bersandar di peraduannya sambil terombang-ambing ombak yang bergerak pelan. Nampaknya kapal-kapal tersebut merupakan kapal penyeberangan menuju Pulau Putri, 15 menit perjalanan menggunakan kapal tradisional bermesin solar. Sayangnya jam sudah terlalu sore jadi saya tidak bisa menyeberang ke pulau putri.

Pelabuhan menuju Pulau Putri sendiri terletak di paling ujung utara pantai. Saya mampir di salah satu warung dan memesan segelas kopi hitam sebagai pencair suasana dan pelicin kata-kata. Saya mengobrol beberapa hal tentang Pantai Nongsa ini dengan si abang penjaga warung, alih-alih sebenarnya saya ingin menitipkan tas, hehe.



Saya jalan dari ujung ke ujung, mendengarkan deru angin pantai yang syahdu karena sore hari ini Pantai Nongsa benar-benar sepi, hanya ada sedikit pengunjung saja, salah satunya adalah rombongan anak sekolah yang sedang asik bermain voli di depan sebuah penginapan. Setelah puas, saya kembali ke warung tadi.

Abang warung masih asik bermain dengan asap rokoknya sembari menyapa saya. “Udah puas bang?” tanya dia dengan nada seolah kami sudah berkawan lama. “Sebenarnya belum puas aku bang, tapi sudah mulai gelap ini, besok lagi saja kalau ada waktu aku main sini lagi” jawabku.

Setelah ngobrol-ngobrol sedikit, saya beranjak pulang setelah sebelumnya membayar kopi nikmat ini yang cuma seharga Rp. 5000 saja, tidak pakai mahal, parkir disini juga gratis, pokoknya asik lah Pantai Nongsa ini. Apalagi kalau tidak banyak sampahnya pasti lebih asik lagi.


Di Batam ada Pantai dimana kulit kita ga bakal gosong walaupun main pasir seharian. Tempatnya ada di pulau paling ujung Barelang.

Kapal-kapal penyeberangan ke Pulau Putri.

Ngga dapet sunset karena ternyata posisi matahari tertutup tebing

Sampah lagi, luar biasa ya?

Makam Nong Isa.

Pantainya Nongsa bagus kalau bersih.

Kapal penyeberangan antar pulau kecil.

Sebuah resort yang penuh dengan yacht terlihat dari Pantai Nongsa 

Sendiri dalam syahdu ditemani lagu rindu yang tak menentu.

Pantai Kampung Nongsa, Pantai Tanpa Ombak di Batam





So..akhirnya saya sampai di persinggahan tepat pukul setengah sepuluh. Masih terlalu pagi untuk kemana-kemana dan motor baru tersedia jam dua siang. Akhirnya siang itu saya habiskan hanya dengan bermalas-malasan sambil browsing tempat-tempat yang wajib di kunjungi di Batam. Saya juga download offline maps-nya Google Maps siapa tau nanti disana tidak ada sinyal. 

Kenikmatan saya bermalas-malasan terganggu dengan panasnya udara di Batam, sampai anginnya juga ikut panas. Menurut sebuah wangsit yang datang kepadaku, panasnya Batam dikarenakan Batam dikelilingi oleh laut sehingga angin-angin hambar tanpa oksigen menyelimuti pulau Batam. Kebetulan juga di daerah saya tinggal tak nampak pohon-pohon besar sebagai pemasok oksigen, alhasil udaranya panas dan agak lembab.

Motor sudah ditangan, sekarang saatnya ngebolang..sendirian..sedih. Tidak asiknya bepergian sendiri itu karena ga ada temen yang diajak ngobrol, ga ada temen buat bingung-bingung bareng, ga ada temen buat iuran hotel / transport, dan yang paling penting ga ada temen yang ngefotoin kita. Tapi, traveling sendirian bisa lebih fleksibel dan semau kita sendiri. Gimanapun tetap lebih enak pergi bareng sohib-sohib kece kita. 

Kebetulan saya memakai motor punya keluarga, tapi kalau kalian butuh sewa motor atau mobil, di Batam banyak tersedia persewaan kendaraan terutama di pusat kota daerah Batam Center atau Nagoya. Harganya bervariasi, untuk motor sekitar Rp. 70.000 – 100.000, untuk mobil Rp. 200.000 – 400.000. Kalau kalian bingung tinggal search di google, banyak iklannya.

Beneran ga ada ombak lho.
Untuk sore hari ini saya memutuskan pergi ke Pantai Nongsa karena jaraknya cukup dekat, Cuma 15 kilometer dengan waktu tempuh 20 menit. Jalannya ngga ribet dan mudah diikuti. Kalau dari Bandara, kita tinggal keluar dan belok kanan ke Jl. Hang Tuah (arah utara). Lurus terus ikuti jalan sampai pertigaan baru belok kiri lewat Jl.Hang Jebat. Dari sini tinggal lurus terus sampai nemu perempatan dengan pos Informasi Pariwisata ditengahnya. Kondisi jalannya mulus dan lebar, pokoknya nyaman lah berkendara di Batam, jalannya bagus-bagus.

Dari Pos Info Wisata saya ambil jalur kanan. Pohon-pohon di kanan kiri jalan mulai rimbun dan lebat, enak di pandang daripada daerah sekitar Bandara yang isinya bukit tandus dengan debu-debu berterbangan. Saya mengikuti jalan utama sampai di “Nongsa Village”. 

Saya kira waktu liat di peta “Nongsa Village” itu sebuah perkampungan tapi ternyata adalah sebuah Resort / Penginapan dimana kalau kita  mau ke pantainya itu harus bermalam dulu. 

Duuh dek, “terus gimana dong ini pak satpam? saya jauh-jauh dari Jogja lho” tanya saya. “Abang balik lagi aja nanti di kiri jalan ada jalan tanah, nah masuklah, disitu ada pantai juga Cuma lagi dibangun aja. Gak kalah indah kok bang”. "Kalau lurus kemana bang?" tanyaku lagi. "oo, kalau lurus ke resort Turi Beach bang".

Okelah akhirnya saya putar balik menuju jalan yang ditunjukan pak satpam tadi, pantai yang bukan resort, pantai untuk kaum jelata seperti saya, pantai yang masih milik masyarakat umum, bukan hanya untuk masyarakat ekslusif.

Pier milik Turi Beach Resort dari pantai tempat saya berada
Jalan tanah berwarna merah tampak kontras dengan jalan aspal yang saya lewati tadi. Tampaknya daerah pantai ini sedang dibangun karena ada bangunan semacam kolam air mancur yang baru selesai dipondasi.

Hanya sekitar 100 meter dari jalan utama nampaklah sebuah pantai dengan pasir putih dan ombak yang sangat tenang bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada ombaknya sama sekali. 

Beberapa bapak terlihat tengah asyik memancing sementara anak-anak mereka dibiarkan bermain pasir pantai. Anak-anak muda kampung sekitar sedang asik duduk-duduk di sebuah kursi dibawah pohon sambil bergitar dan menyanyikan sebuah lagu melayu yang saya tidak pernah dengar sebelumnya.

Inilah Pantai Kampung Nongsa atau Pantai sebelah “Nongsa Village”. Suasananya sangat tenang dan syahdu apalagi ditambah dengan lagunya Payung Teduh yang sedang saya dengarkan lewat earphone.

Ombaknya bergerak sangat pelan. Diseberang sana terlihat samar gedung-gedung bertingkat kepunyaan negeri tetangga Singaparna. Ada sebuah ayunan sederhana yang hanya diikatkan pada ranting pohon. Ayunan tersebut begitu menggoda untuk diduduki. Sambil ayun perlahan-lahan, kunikmati pantai tenang ini bersama secangkir kopi hangat dan sebatang rokok lintingan sendiri. Berasa jadi anak reggae.

Pantai di Batam semuanya ada ayunannya.
Jam menunjukkan pukul setengah lima. Saya harus segera beranjak pindah ke pantai lainnya yang masih berada di daerah Nongsa dikarenakan pantai ini menghadap agak ke timur jadi tidak ada sunset disini. Tujuan berikutnya adalah daerah “Nongsa Pantai” dimana saya bisa melihat sunset. Di pantai itu terdapat makam dari “Nong Isa”, salah satu leluhur yang menjadikan daerah ini bernama “Nongsa”. Bersambung ke sini

Galeri : 

Bapak mancing, anak masir.

Ombaknya sangat tenang.
Pantai tanpa pengunjung, pantai seperti ini yang enak dinikmati

Laut yang tanpa ombak membuatnya seperti sebuah danau yang membeku.

Pasirnya putih.

Pier milik Turi Beach resort
Nasib jalan-jalan sendiri, fotonya pakai timer.

Selamat Datang di Batam, Negeri 1001 Ruko


Batam. Siapa sih yang tidak tau Batam? Kota industri dan perdagangan yang ada di bagian barat Indonesa, salah satu pulau terdepan Indonesia yang paling maju diantara pulau garis depan lainnya.

Aura dan wangi lembaran rupiah yang cukup kuat di Batam mampu menjadi magnet yang menarik para perantau dari seluruh Indonesia untuk mencari peruntungan di sini.

Konon dari sumber yang tidak begitu bisa dipercaya (saya sendiri) menyebutkan bahwa jumlah perantau di Batam mencapai 75% dari total populasi warga Batam, hampir seperti Jakarta.

Jumlah pulau yang ada di Batam mencapai 329 pulau dengan pulau utamanya yakni Pulau Batam, Rempang, dan Galang atau biasa disingkat Barelang.

Nama Barelang sendiri menjadi salah satu nama Jembatan yang menghubungkan pulau-pulau ini, yakni Jembatan Barelang yang menjadi salah satu ikon Kota Batam. Katanya, belum afdhol ke Batam kalau belum foto di Jembatan Barelang.

Dari hanya sebuah pulau nelayan orang Melayu menjadi sebuah pulau perdagangan yang sukses, itulah Batam.

Dulu, katanya orang Melayu yang disebut sebagai “Orang Selat” sudah menempati pulau ini sejak tahun 231 masehi (sumbernya wikipedia) dengan persebaran kampungnya berada di bibir-bibir pantai.

Pulau inilah yang menjadi medan perjuangan Laksamana Hang Nadim dalam menumpas penjajahan bangsa Portugis di Kerajaan Melaka. Namanya sekarang menjadi nama bandara dengan landasan pacu terpanjang di Asia yang panjangnya mencapai 4km, mengalahkan Changi dan Narita, yaitu Bandara Hang Nadim, Batam dengan kode IATA : BTH.

Gerbang masuk alun-alun Batam
Saya menumpang pesawat Lion Air dari JOG menuju BTH jam 07.00 AM, dengan rasa was-was ketinggalan pesawat karena saya baru check in jam tujuh kurang seperempat, sampai-sampai nama saya berulang kali dipanggil lewat intercomm, hehe.

Saya menuju ke nomor bangku dimana saya sudah check in memilih duduk disamping jendela tapi ternyata oh ternyata sudah ada yang punya. Sebenarnya mau saya tegur karena dia merebut tempat duduk saya tapi ya sudahlah karena dia cewek siapa tau bisa dapet nomer teleponnya. Bla bla bla ternyata cewek ini orang Aceh yang baru lulus kuliah di Jogja, lumayan dapet nomer :P .


Sampai di Batam jam sembilan pas. Saya sudah dijemput keluarga yang ada di Batam. Begini nih asiknya punya banyak saudara dan teman, bisa numpang-numpang.

Dari Bandara menuju rumah keluarga saya sangat dekat, hanya sepuluh menit perjalanan. Namun, ada satu hal yang tidak saya sukai di Batam yaitu mereka menggerus bukit-bukit subur yang asri menjadi rata untuk dibangun perumahan dan ruko-ruko.

Sepanjang jalan, yang saya lihat adalah tanah tandus berdebu dengan traktor dan alat-alat berat lainnya. Pemandangan semacam ini bakal selalu kita lihat jika berkunjung ke Batam terutama di pinggiran kota.

Perluasan pembangunan di Batam dilakukan secara masif, bisa di ibaratkan, Batam ini surganya para kontraktor pembangunan. Seakan-akan kota ini sedang ngebut untuk menyaingi tetangganya, Singapura.

Walaupun agak kecewa dengan pemandangan di Batam untuk pertama kalinya, namun setelah beberapa hari disini saya agak lebih lega karena melihat pusat kota Batam yang asri dan hijau terutama daerah Baloi.

Ditengah-tengah kota terdapat daerah resapan air yang berupa danau yang luas dikelilingi oleh pohon-pohon yang rimbun. Pemandangan elok ini bakal kita jumpai jika hendak menuju daerah Batu Aji melewati jalur Simpang Jam.

Pemandangan di daerah Nongsa yang terkenal dengan resort dan pantainya yang katanya indah juga ditumbuhi pohon-pohon yang hijau dan rimbun. Mungkin sekarang Batam sedang banyak-banyaknya menelan pil pahit demi kesehatan di masa yang akan datang.

Banyak tempat yang akan saya kunjungi di Batam karena saya cukup lama berada disini. Jalan di batam sangat mudah untuk di hapalkan. Tata kota dan jalannya juga bagus.

Beberapa tempat yang saya kunjungi adalah pantai-pantai di Pulau Rempang dan Galang, pantai-pantai di daerah Nongsa, pantai di daerah kota, pulau-pulau di sekitar Batam dan juga wisata belanja. Jadi dengan senang hati, saye mempersilahken anda anda semua untuk menyimak kelanjutan kisah saye di Batam berkiut ni :


Wisata Pantai di Batam, Pantai Nongsa (1)



Pantai Cakang, Pantai di ujung Kepulauan Barelang

Pantai Mandorak - Surga Kecil di Balik Batu Karang

Lanjutan Cerita di Danau Weekuri. 

Setelah kami puas menikmati eksotisnya Danau Weekuri, kami menuju pantai yang sebelumnya kami lewati yaitu Pantai Mandorak.

Tidak ada pos penjagaan, tidak ada portal. Kami tinggal masuk saja. Tidak ada orang selain kami berdelapan. Pantai Mandorak jadi berasa pantai pribadi saja.


Ada sebuah perahu nelayan yang tengah bersandar di atas pasir putih pantai mandorak yang menambah indah pemandangan. Pohon-pohon kelapa di belakang pantai juga seakan menambah dekorasi keindahan pantai ini.

Air laut yang masuk lewat celah diantara dua batu karang membuat ombaknya berhempas agak kuat jadi harus agak hati-hati kalau bermain air karena tarikan ombaknya cukup kuat.


Saatnya bersenang-senang!

Kompak, kami menceburkan diri ke dalam air laut yang berwarna biru kehijauan ini. Kontur pasirnya yang agak landai membuat saya bermain guling-gulingan dari atas sampai jatuh ke air, asik coy! Wes, pokoke terserah sampeyan mau guling-guling mau salto mau kayang, terserah wes, soale mau ngapain aja bakal asik kalau disini.


Paket Pantai Mandorak dan Danau Weekuriini  merupakan paket Combo yang wajib kamu dapatkan kalau berkunjung ke Sumba Barat Daya. Jangan sampai di lewatkan. Pemandangan sepanjang jalan juga bagus, hutan dan sabana, kuda, babi dan anjing. Kita juga bakal melewati kampung-kampung adat dan warganya yang ramah-ramah.


Saran saya, kalau teman-teman mau berkunjung ke Sumba jangan cuma berwisata saja. Coba jelajahi desa dan lingkungan sekitar. berinteraksilah dengan penduduk sekitar. Banyak sekali pelajaran yang saya ambil selama berinteraksi dengan warga sekitar. Jadi, selain berwisata, kita bisa lihat potret kehidupan masyarakat sumba yang sebenarnya.

Jalan-Jalan Malam di Makam Raja Mataram


Hayoo..denger kata jalan-jalan ke makam atau kuburan di malam hari pasti bulu kuduk kalian pada berdiri?? hehe. Tapi makam yang satu ini beda loh dengan makam-makam lainnya yang angker atau dalam bahasa jawa disebut wingit.

Makam Raja Mataram yang terletak di Kota Gede merupakan makam dari Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan, dan orang-orang penting lainnya di Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat.



Sekitar pukul setengah dua belas malam saya memarkirkan motor saya yang ternyata sudah ramai, seperti pasar malam, maklum saja karena malam ini merupakan malam jumat kliwon dimana banyak orang-orang putus asa yang mencari secercah harapan dari sebuah kuburan supaya dapet duit banyak, singkatnya adalah pesugihan.

Di area parkiran terdapat sebuah pohon beringin besar yang kata si tukang parkir usianya sudah ratusan tahun. Saya mendekati pohon beringin itu dan berdiri sekitar lima menit barangkali kejatuhan daun beringin yang gugur.

Menurut mitos, jika ada orang yang kejatuhan daun dari pohon beringin tersebut maka merupakan pertanda baik. Dari situ saya berjalan  menuju pintu masuk yang di apit oleh deretan warung-warung kopi. Yang membuat saya heran, didalam warung-warung kopi itu ada beberapa wanita berpakaian seksi macam yang ada di sarkem.


Begitu melewati gapura pintu masuk saya langsung disambut oleh Masjid Agung Kota Gede dengan bentuk Joglonya. Ada beberapa orang yang tengah tidur di selasar-selasar masjid.

Dari Masjid saya menuju ke kiri, melewati sebuah gerbang Paduraksa yang terbuat dari susunan batu bata merah yang tebal dan terlihat sangat tua. Disitu terdapat sebuah pendopo kecil yang bernama Bangsal Duda yang dibangun sekitar tahun 1644 M oleh Sultan Agung yang diperuntukan bagi para abdi dalem berjaga.

Dari situ saya masih berjalan lagi melewati gapura dan sampailah di tempat para pencari pesugihan tidur. Terdapat satu pondokan dan dua pendopo disitu yang sudah ramai dengan orang-orang yang tidur-tiduran beralaskan tikar.

Diujung terdapat sebuah gapura dengan pintu yang tertutup dan terkunci. Disinilah batas peziarah diperbolehkan untuk berkunjung karena didalam pintu tersebut merupakan makam utama Raja-Raja Mataram dan hanya dibuka pada siang hari dan hari-hari tertentu.

Didepan pintu terdapat segerombolan orang berpakaian serba hitam yang tengah memanjatkan doa. Saya menghampiri salah satu pengunjung disitu dan menyalakan sebatang rokok untuk memperlancar obrolan kami.


Dari obrolan tersebut diketahui bahwa para peziarah sengaja menginap di area makam karena sebuah mitos yang menyatakan jika ada peziarah yang menginap di area makam selama 40 hari berturut-turut maka akan mendapatkan sebuah wangsit atau pencerahaan dari sesuatu yang disebut sebagai arwahnya Panembahan Senopati. Namun kebanyakan peziarah hanya menginap 1-2 malam saja. Ada juga beberapa peziarah yang sudah menginap beberapa minggu di makam tersebut.


Begitulah orang Indonesia, kita masih sangat percaya pada mitos-mitos yang belum tentu benar adanya. Mungkin tujuan utama dari menginap di makam ini pada jaman dulu adalah sebagai sarana berintrospeksi dan meditasi serta mengenang jasa-perjuangan para leluhur yang kemudian karena ketidak tahuan disalah artikan menjadi sebuah perbuatan yang syirik.

Tapi ada sesuatu yang membuat saya heran. Sebelumnya di pelataran parkir ada beberapa mobil mewah, salah satunya sebuah Rubicon. Disini, di area tidur para peziarah, ada beberapa orang tionghoa yang sepertinya adalah pengusaha-pengusaha kaya raya yang mungkin percaya pada mitos tersebut. Hal tersebut membuat akal sehat saya jadi goyah, apakah mitos tersebut benar adanya? wallahualam....


Seramnya Kuntilanak Dibalik Indahnya Bukit Ayu di Kaki Gunung Slamet


Masih di sekitar Purbalingga, jadi mumpung saya lagi mudik maka saya sempatkan untuk menjelajah tempat-tempat yang belum terjamah di daerah Purbalingga untuk menggali potensi-potensi pariwisata di kota Purbalingga ini supaya industri pariwisatanya semakin maju.

Mbolang kali ini,  saya di temani tiga orang ekpslorer Purbalingga yang sudah malang melintang di ranah petualang Purbalingga yaitu Jipeng, Ole, dan Fito. Tujuan kali ini sebenarnya adalah Gunung Kelir yang terletak di kaki Gunung Slamet. Bukan gunung sih, hanya bukit yang terlihat menantang langit dari jalan, membayangi kebun-kebun strawberry disekitarnya.

Malam minggu, sehabis Isya kami berangkat dari Purbalingga menuju Desa Serang, Pratin, Purbalingga. Kalau kalian mau kesini, tempatnya dekat dengan Basecamp Bambangan Gunung Slamet,  tapi Basecamp Gunung Slamet masih keatas lagi.  Jalannya nanjak terus, sesekali ada jalan turunan, sekedar menghibur mesin motor yang sudah meraung-raung. 

Sekitar 45 menit perjalanan dari Purbalingga, terlihatlah deretan pohon pinus dan cemara sepanjang kanan kiri-kanan jalan. Sepi tidak ada orang. 

Didepan terlihat nyala kemerahan dari lentera sebuah warung di antara hutan pinus. Warung itu ternyata lumayan ramai, ada beberapa bapak-bapak yang sedang bersenda gurau sambil sesekali merayu mbak-mbak si penjaga warung, lumayan cantik dan bahenol sih tuh mbak-mbaknya, hehe. Kami hampiri warung itu dan memesan secangkir jahe susu ditemani tempe mendoan untuk mengobati hawa dingin yang menusuk menembus jaket kami..brrr.


Pemandangan dari atas bukit
Sambil menyeruput jahe susu yang kental, kami bertanya kepada bapak-bapak disitu mengenai Arah memulai pendakian Gunung Kelir. Ealah ngga disangka bapak tersebut malah menceritakan cerita-cerita horor mengena Gunung tersebut. “Gunung kelir toli akeh medine mas, yakin, ngono kue sarange kuntilanak” (“Gunung kelir itu banyak setannya mas, yakin, disitu itu sarangnya kuntilanak”), kata bapak itu dengan muka serius dan tangan yang mengacung-ngacung ke arah siluet Gunung Kelir yang tampak dari belakang warung. 

Tapi nek arep munggah ya ora papa ngonoh, ngko ati-ati aja njagongi kayu mati nang dalan ya, karo aja turonan nang ngisor wit, laju bae pokoke, tapi kie kayane arep udan lho mas” (Tapi kalau memang mau naik ya tidak apa-apa, nanti hati-hati, jangan menduduki kayu mati yang sudah roboh dan jangan tiduran atau duduk-duduk di bawah pohon, pokoknya jalan terus, tapi kayaknya mau hujan ini mas”). Walah, bisa mengendorkan semangat kami ini perkataan bapak-bapak ini. 

Kami masih terus ngobrol-ngobrol mengenai arah menuju Gunung ini dan harus dimulai dari mana, sesekali obrolan politik pun diselipkan sebagai penyegar.



Jahe Susu sudah habis sampai tetes terakhir, dan benar juga, ternyata hujan turun, walaupun Cuma gerimis tapi cukup deras. Kami berpamitan dengan gerombolan bapak-bapak genit yang humoris ini untuk segera menuju ke lokasi awal pendakian. 

Motor kembali melaju, mendaki jalanan aspal yang mulus dengan kebun kobis dan strawberry menggantikan hutan pinus di sepanjang sisi jalan. Disebuah pertigaan yang terdapat satu pohon besar, kami jalan lurus sampai mentok tidak ada jalan lagi. Disitu ada sebuah rumah bercat kuning dengan lampu teras yang lumayan terang, niatnya kami akan menitipkan motor di rumah tersebut.

Kami langsung melangkah menuju teras dan mengetok pintu rumah tersebut. Seorang bapak berkumis lebat muncul dari balik pintu ditemani putrinya yang masih kecil dan imut-imut. Kami mengatakan maksud kedatangan kami sambil minta ijin berteduh sampai hujan reda. 

Cerita horor kembali keluar, si Bapak mengatakan kalau gunung itu memang banyak kuntilanaknya, dan katanya juga medannya sulit, jarang sekali ada yang iseng-iseng ingin naik kesana. Aaaaah tidaaak… Suasana horor seperti diamini oleh rintik hujan yang tak kunjung reda. Dengan pertimbangan yang matang dan saran dari bapak  itu, maka kami putuskan untuk menunda pendakian pada esok harinya. 

Untuk menghabiskan malam, kami menginap di basecamp Bambangan, Gunung Slamet yang hanya berjarak 15 menit dari situ. Di basecamp ternyata banyak pendaki yang baru akan naik Gunung Slamet. Karena sudah kenal dengan si mbok Basecamp, kami langsung dibuatkan kopi hitam, dan langsung menggelar matras dan sleeping bag, ngobrol-ngobrol sebentar dengan pendaki-pendaki yang ada disitu kemudian lanjut tidur.


Tingkatan jenis vegetasi Gunung Slamet yang dengan jelas terlihat dari Bukit Ayu
Paginya ketika fajar baru nampak setengah, kami meluncur ketempat kemarin, memarkirkan motor dan pamit dengan si empunya rumah. Cerita berhantu tentang kuntilanak yang semalam kami dengarkanpun sirna seiring dengan bersahabatnya mentari pagi ini. 

Pendakian diawali dengan menaiki bukit melewati ladang-ladang kubis dan strawberry, sayang strawberrynya belum berbuah. Jalurnya benar-benar masih tertutup jadi kami harus selalu menyibak rerumputan dan semak-semak sepanjang perjalanan. Walau belum ada jalurnya, kondisi medannya cukup mudah untuk didaki karena landai dan tidak terlalu curam. 

Sekitar tiga puluh menit mendaki, kami sampai diatas bukit, dan ternyata bukit tujuan kami masih ada dibaliknya dengan kondisi harus menuruni jurang serta tidak terlihat tanda-tanda jalan sama sekali. 

Karena it’s seems impossible untuk menaiki Gunung Kelir dari sisi ini (dan juga karena sudah malas, hehe) maka kami putuskan untuk cukup mendaki bukit tempat kami berpijak sekarang dan ternyata...Wow! pemandangan di arah timur sangat indah! Matahari menyibak Bukit-bukit barisan dan dua gunung besar di arah timur.

Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing telrihat jelas, padahal jaraknya lumayan jauh! Sementara di sebelah barat, Gunung Slamet menjulang tinggi dengan sangat jelas tanpa tertutup kabut sama sekali. Zona-zona hutan Gunung Slamet pun menjadi tampak sangat jelas! Kami gelar tikar, siapkan kompor dan kopi. Sambil menyeruput kopi dan menikmati pemandangan yang cerah pagi ini serasa mengobati kekecewaan karena tidak jadi  naik Gunung Kelir.


Memandang Gunung Kelir yang sangat curam
Saat turun, kami tanyakan nama bukit tadi kepada bapak-bapak yang kami singgahi rumahnya kemarin malam, kebetulan itu bapak lagi mengurus ladang kobisnya, dan katannya bukit itu gak ada namanya “ya sekarepmu arep dijenengi apa ngonoh, haha”, kami namakan bukit itu dengan nama bukit Ayu, karena menyuguhkan pemandangan yang “ayu” dan juga mbak kunti di atas sana katanya juga namanya “Ayu”, hihihihi.

Galeri :







Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca