Jumat, 28 April 2017

Lagoi Bay, Pantai Khusus Orang Kaya Yang Bisa Dinikmati Semua Kalangan


...(Lanjutan Seperti Inilah Acara Nikahan di Pulau Bintan, Pengalaman Kondangan Paling Jauh)

Akhirnya pagi tiba juga! Punggungku rasanya pegal-pegal tak karuan akibat kasur jahat di penginapan ini. Sambil melenguh kesal, kuambil handuk di dalam ransel dan melenggang lemas menuju kamar mandi. Setelah menuntaskan semua urusan kamar mandi, saya langsung berkemas dan buru-buru meninggalkan penginapan wadefak ini. Jam tangan merk "Sekoi" di pergelangan tangan sudah menunjukan pukul delapan lebih sepuluh menit. Ternyata saya ditiduri cukup lama oleh kasur jahat itu.

Saya kembali mampir ke warung makannya mas-mas dari Jawa. "Mas, aku pesen nasi goreng seafood sama kopi item satu yah", pintaku kepada si mas Jawa tersebut. Alhamdulilah Harga disini standar, tidak nutuk seperti kejadian yang sempat menghebohkan jagat internet beberapa waktu lalu, dimana beberapa wisatawan ketiban apes karena harga makanan yang dipesannya diluar kewajaran.

Beberapa bulan lalu netizen sempat heboh, karena ada sebuah postingan di facebook yang mengatakan bahwa beberapa orang mengaku telah di dzolimi oleh warung makan di tempat-tempat wisata seperti di Malioboro Jogja, Anyer dan bahkan di Pulau Bintan! Kasus yang ada di pulau Bintan kejadiaannya adalah saat keluarga korban sedang berlibur di sebuah resort. Di area resort itu ada sebuah restoran bintang lima . Karena penasaran dengan masakannya, maka mereka mampir kedalam restoran tersebut dan memesan tujuh porsi nasi goreng, satu porsi mie goreng dan tujuh gelas es teh. Tak disangka tak dinyana, bagaikan tersambar jambulnya Syahrini, si bapak ini langsung lemas setelah kasir menyerahkan receipt yang berisi total jumlah yang harus dibayar sebesar Rp. 3.629.000. Harga yang tak masuk akal walaupun sekelas restoran bintang lima.
Sungguh harga yang tidak senonoh. (sumber: facebook.com/chandraireng )
Untuk menghindari hal-hal seperti ini saya ada tips nih buat teman-teman yang suka jajan saat traveling. Usahakan jika mau kulineran di sebuah tempat wisata, tanyakan dulu harganya (kalau bisa ditawar saja ). Setelah deal, segera bayar di muka dan tunggu pesanannya jadi. Setelah pesanan sudah jadi, baru lah kita bisa menyantap makanannya dengan nikmat tanpa harus merasa was-was, takut harganya di markup. Kenapa perlu bayar di muka? Karena ada kejadian walaupun kita tahu harganya, tapi, saat kita mau bayar, si penjual menaikkan harganya seenak dengkulnya  sensiri dengan beragam alasan.

Setelah menghabiskan dan membayar nasi goreng seafood  seharga Rp. 14.000, dan secangkir kopi seharga Rp. 5000. Saya segera mencari tempat persewaan motor karena jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi dan matahari sudah semakin menyengat. Saya tanyakan kepada mas warung dimana saya bisa menyewa motor. Mas warung dengan cekatan langsung berteriak memanggil salah satu tukang ojek yang bersedia menyewakan motornya. Pertama si tukang ojek menawarkan harga Rp. 150.000 untuk 12 jam atau sewa sampai sore, tapi harga tersebut sungguh fantastis. Tinggal tambah Rp. 50.000 saya bisa sewa mobil. Karena harganya tidak wajar maka saya tolak. Namun dengan wajah yang keliatan pasrah, saya agak merasa iba juga. Saya manfaatkan keputus-asaannya supaya mau di nego. Saya keluarkan jurus nego-nego preman, sambil pasang muka jutek akhirnya saya berhasil mendapatkan motor seharga Rp. 80.000 untuk sewa sampai sore hari. Motor matic warna merah segera meluncur ke arah utara berbekal arahan dari paman gugelmap.

Rute perjalanan Tanjung Uban ke Pantai Lagoi via google maps.
Pantai pertama yang akan saya tuju adalah pantainya orang kaya, yaitu Lagoi Bay. Kenapa saya sebut 'pantainya orang kaya'? Karena dulu, Lagoi Bay merupakan resort ekslusif dan tidak sembarang orang bisa masuk kecuali kalau orang itu punya duit. Kebanyakan pengunjung Lagoi Bay dulu adalah orang Singapore. Namun sekarang Lagoi Bay sudah terbuka untuk umum, jadi, masyarakat dari berbagai kelas bisa menikmati indahnya pantai di ujung utara pulau Bintan ini, walaupun masih terbatas hanya beberapa pantai saja yg free entry. 

Lagoi Bay merupakan Sebuah area yang cukup luas, dimana didalamnya terdapat beberapa resort yang bisa kita kunjungi. Ibaratnya, Lagoi Bay adalah kompleks per-resort-an dengan semboyannya "Lagoi - yours to develop". Pantai ini direkomendasikan oleh teman saya yang baru nikahan kemarin. Katanya pantainya berpasir putih dan sangat bersih. Jaraknya dari Tanjung Uban sekitar 32 km, menempuh perjalanan naik motor dengan laju santai sekitar satu jam. 

Dari tanjung uban saya tinggal lurus saja mengikuti jalan utama ke arah utara. Jalan utamanya hanya ada satu, menghubungkan Tanjung Uban dengan Tanjung Pinang. Sesekali ada percabangan, namun tinggal mengikuti plang petunjuk arah saja kok, dijamin tidak akan tersesat, kebangeten lah kalau tersesat .

Jalanan di Pulau Bintan
Saya menyusuri jalan aspal buluk yang sesekali terdapat lubang di kanan kirinya. Jalanan lengang, sesekali saya berpacu dengan bus yang keberadaannya di Pulau Bintan sangat jarang, makanya saya pilih menyewa motor. Beberapa kali motor naik turun bukit dengan pemandangan sepanjang perjalanan adalah hutan semak belukar dan tanah-tanah tandus. Sesekali saya melihat sebuah rumah kayu dengan ornamen oriental. Pemandangan seperti itu tidak ada di Jawa, orang keturunan Tionghoa di Bintan cukup banyak dan mereka tidak hanya terpusat didaerah pasar atau perkotaan saja namun juga di daerah terpencil jauh dari kota. Rumah-rumah mereka sederhana namun tampak unik karena hiasan lampion, cat merah dan kuil-kuil kecil menghiasi rumah kayu mereka.

Portal masuk kawasan Lagoi bay saat sedang peak season (gambar diambil dar rr.co.id , karena saya lupa tidak memfotonya)
Pintu masuk area Lagoi Bay ditandai dengan jalur berportal di sisi kiri jalan (bila dari arah Tanjung Uban). Saya agak was-was karena takut tidak boleh masuk dan sudah menyediakan beberapa lembar recehan di dalam saku celana tapi ternyata masuk area Lagoy gratiss, hanya diberi tiket masuk tanda bawa kendaraan saja. Tapi untuk mobil ada biaya retribusi sebesar Rp. 5000.

Jalan di area Lagoi Bay ini sangat kontras dengan jalan kota. Jalannya lebar dengan aspal yang mulus dan bersih. Di kanan-kiri sepanjang jalan ditumbuhi pepohonan yang hijau dan asri. Jalanan masih tetap lengan, tampaknya tidak banyak wisatawan di hari ini. Beberapa turis asing bermata sipit tampak melaju menaiki sepeda berlawanan arah denganku sambil tertawa terbahak-bahak seakan-akan seperti sedang menertawakanku. 

Sesampainya di ujung jalan saya menjumpai pertigaan yang penuh dengan plang petunjuk arah. Buta destinasi, saya ambil arah kiri menuju Lagoi Beach, karena sepertinya pantai itu merupakan suguhan utama Lagoi Bay. Jalanan berganti dari aspal menjadi paving yang dihiasi tanaman-tanaman hias disepanjang jalan. Petugas kebersihan tampak wara-wiri. Saya tidak tahu apa yang mereka bersihkan. Karena menurut saya jalannya sudah sangat bersih.

Banyak gedung tapi sepi pengunjung.
Mendekati Lagoi Beach, beberapa gedung bertingkat tampak menjulang didepan saya. Gedung-gedung ber-arsitektur unik yang banyak kacanya itu tampak kosong dan kesepian. Di kanan jalan terdapat sebuah danau buatan ditengah padang rumput yang juga buatan. Saya kebingungan mencari tempat parkir motor. Setelah tanya sama petugas keamanan saya diarahkan ke sebuah lahan kosong yang berbatu, berpasir, tanpa atap seperti tempat parkirnya petugas proyek. Sementara saya lihat parkir mobilnya cukup nyaman karena luas dan beralaskan aspal. Saya langsung kepikiran apakah ini adalah sebuah tindakan diskriminasi status? Ataukah tempat parkir motornya sedang dibangun? I dont know, lagian tempat parkir motornya tidak ada penjaganya jadi saya tidak bisa menanyakannya.

Mungkin parkiran motornya masih dalam tahap pembangunan.
Lagoi beach, walaupun dikelilingi gedung-gedung perbelanjaan dan hotel ternama tampak sepi, lengang, seperti kota zombie walaupun sesekali ada rombongan anak-anak alay berambut orange bergerombol cekakak-cekikik. Saya langsung berjalan menuju pantai. Pohon kelapa nyiur melambai tertiup angin sepo-sepoi. Rumput hijau seakan menabrak pasir putih, menciptakan gradasi warna yang segar. "Ini baru pantai" batinku. Ternyata pantainya tidak sesepi dugaanku sebelumnya. 

Di Lagoi Beach sudah banyak orang yang tengah menikmati alunan merdu ombak pantai. Kebanyakan adalah rombongan keluarga. Mereka menggelar tikar diatas rumput maupun pasir. Di ujung pantai terlihat segerombolan anak sekolah yang nampaknya sedang study tour. Diujung pantai lainnya tampak beberapa pasang kekasih sedang memadu cinta. Sedangkan disini, tampak seorang pria kesepian tampak freaking berdiri sendirian, cengar-cengir sendiri .

Pantai yang bersih pasti bikin betah!
It's time to enjoy the beach! Saya susuri pantai dari ujung ke ujung. Sesekali menapakan kaki pada hangatnya ombak disiang hari. Foto sana-sini. Duduk dibawah pohon kelapa dan bersandar padanya sambil meneguk teh botol yang telah saya beli di warung sebelumnya. Oya kalian wajib bawa makanan dari luar, karena disini tidak ada warung! Setidaknya waktu itu saya tidak melihat adanya warung di Lagoy Beach, kecuali satu restaurant sepi di salah satu bangunan bertingkat. 

Beberapa fasilitas yang ditawarkan di Lagoi Beach adalah kursi bantal yang empuk di bawah payung pantai yang bisa kita sewa supaya bisa menikmati minuman favorit sambil bermain gadget seperti foto-foto anak traveler kekinian di instagram. Wahana kayaking juga ada di Lagoy Beach, rutenya hanya diperbolehkan berkililing di area pantai saja. Selain itu banyak fasilitas yang disediakan oleh pengelola yakni sarana olahraga seperti volley pantai, futsal, dll.

Wisatawan tampak asik bermain volley pantai,
Terdapat perbedaan mendasar antara pantai yang diperuntukkan bagi orang berduit yang ekslusif dan pantai umum yang semua kalangan masyarakat bisa menikmatinya. Lagoy beach merupakan salah satu contoh  perpaduan antara keduanya (contoh lainnya adalah pantai-pantai di Bali dan lombok). Perbedaan utamanya adalah soal kebersihan. Disini, saya tidak menemukan adanya sampah berserakan di sudut-sudut pantai. Semuanya tampak putih bersih. Sangat berbeda dengan tujuan pantai saya selanjutnya yaitu pantai Trikora. 

Hal ini selain keterlibatan pasukan 'orange' dari pihak pengelola juga ada keterlibatan perbedaan cara berpikir antara masyarakat kelas ekonomi menengah keatas dan masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah. Utamanya adalah perbedaan cara pandang terhadap sampah itu sendiri dimana dalam hal ini saya menggeneralisir bahwa kalangan ekonomi menengah keatas itu pendidikannya sudah maju sehingga cara pandangnya terhadap sampah lebih 'bersih' dari kalangan ekonomi kebawah. Ada sebuah rasa 'gengsi' bagi orang kaya untuk membuang sampah sembarangan. 

Selain itu keterlibatan pasukan 'orange' alias pasukan bersih-bersih sangatlah besar. Pantai yang dikelola oleh swasta kebanyakan lebih mementingkan kebersihan ketimbang pantai yang dikelola oleh daerah yang saya kira masih acuh tak acuh terhadap masalah kebersihan pantai. Lagoy beach, sebagai perpaduan antara pantai orang kaya dan pantai rakyat berhasil menerapkan rasa 'gengsi' tersebut kepada masyarakat umum dimana pihak pengelola tidak memberikan sedikitpun ruang bagi masyarakat untuk membuang sampah sembarangan. 

Tong-tong sampah ditempatkan disegala penjuru. Petugas kebersihan selalu mondar-mandir membersihkan sekecil apapun sampah itu sehingga memunculkan rasa 'bersalah' bagi masyarakat yang hendak membuang sampah sembarangan. Pengelolaan pantai Lagoi Beach ini patut dicontoh oleh pengelola pantai-pantai lainnya. 

Banyak destinasi wisata di Lagoi Bay selain Lagoi Beach. Tetapi beberapa merupakan private resort dimana kita harus jadi tamu resortnya dahulu sebelum bisa puas menikmati pantainya. Sementara beberapanya lagi berbayar, seperti Treasure Bay, sebuah kolam renang buatan berbentuk pantai yang katanya terpanjang se-Asia tenggara. Biaya masuknya Rp. 100.000. Karena saya penyuka gratisan jadi tidak ada waktu bagi saya untuk menghabiskan hari ditempat berbayar seperti ini. Maka dari itu saya akan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Trikora! Pantainya rakyat! Merdeka! (Bersambung)

Foto-foto Lagoy Beach lainnya :


Berbekal kamera sport dan tongsis pinjaman salah satu teman di Batam, Thanks Rio!. Solo traveler wajib membawa tongsis.
Pengunjung menikmati fasilitas futsal yang disediakan oleh pengelola Lagoy Beach

Kalian bisa berman volley pantai loh! boleh kok pakai bikini, hehe.


Kursi bantal yang bisa kalian sewa supaya postingan foto d Instagram tambah kekinian


Pengin olahraga air? kalian bisa mencoba bermain kayak disni.


Pohon-pohon kelapa yang tnggi menjulang membuatnya serasa berada di Hawaii


Pantai yang sangat enjoyable untuk sebuah family trip. Bercengkerama dan bercanda di pinggir pantai yang ndah pastnya akan menambah kehangatan keluarga bukan?


Ini kantor baywatch-nya Lagoi Beach. Sayang ngga ada penjaga pantai yang sexy.


Ini berada di belakang pantai, jika peak season biasanya akan banyak pedagang  makanan yang berjualan disini.


Pantainya orang kaya memang bersih, setuju?

Kamis, 20 April 2017

Kondangan Nyambi Mantai di Pulau Bintan

Pelabuhan Bulang Linggi, Tanjung Uban, Bintan.
Kepulauan Riau menyimpan banyak pantai-pantai indah, namanya saja ‘kepulauan’ pasti banyak pantainya. Salah satu pantai-pantai indah tersebut ada di Pulau Bintan. Pulau Bintan kalau di peta berada tepat di sebelah Pulau Batam. Saya menuju pulau Bintan dari Pelabuhan Telaga Punggur  Batam,  menuju Pelabuhan Bulang Linggi, Tanjung Uban. Ada dua rute menuju Pulau Bintan bila naik kapal laut dari Batam, yaitu lewat pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjung Pinang dan Pelabuhan Tanjung Uban. 

Minggu, 16 April 2017

Jembatan Barelang, Tempat Kumpulnya Jomblo Batam di Malam Minggu


Matahari sudah menyemburatkan warnanya yang keemasan. Ujung jalan beraspal Pulau Galang sudah kami lewati, begitu pula dengan petualangan hari ini terpaksa harus kami akhiri untuk kembali ke Kota Batam tercinta. Sebenarnya masih banyak pantai di Barelang yang nampaknya indah kalau di lihat di Google dan ingin kami kunjungi semua, tapi hari sudah hampir gelap jadi terpaksa kami lewati dulu pantai-pantai yang lain. Mungkin di lain waktu dan lain kesempatan saya bisa mengunjungi semua pantai di Barelang.

Jumat, 07 April 2017

Pantai Cakang, Pantai di Ujung Kepulauan Batam Barelang

Nah, jadi karena saking panasnya hawa di Camp Vietnam , kami menyudahi kunjungan dan bersegara menuju destinasi yahud selanjutnya yakni pantai yang berada di paling ujung Pulau Galang, Barelang yang bernama Pantai Cakang. Perjalanan dari Camp mungkin membutuhkan waktu sekitar setengah jam berkendara santai. Pulau Batam dan sekitarnya ini sebenarnya kalau niat bisa kita kelilingi dalam sehari loh!

Selasa, 04 April 2017

Menyusuri Jejak Pengungsi Vietnam di Batam


Pasti kalian sering lihat atau minimal mendengar tentang perang Vietnam kan? biasanya film-film jaman dulu sering mengangkat tema tentang perang Vietnam melawan Amerika dimana si Amerika selalu jadi lakonnya. Tahukah kalian jika Amerika tidak memenangkan perang ini dan harus pulang ke negara mereka? Vietnam dengan strategi perang gerilya yang mencontoh strategi perang Indonesia saat melawan penjajahan Belanda akhirnya berhasil mengulur waktu dan membuat Amerika harus meninggalkan Vietnam dengan tangan hampa.

Perang Vietnam tersebut berdampak pada banyaknya pengungsi yang terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka untuk menyelamatkan diri ke negara-negara tetangga meninggalkan harta bendanya demi menyelamatkan diri dari hantaman bom dan letupan timah panas. Salah satu tempat pengungsian mereka adalah Indonesia, tepatnya di pulau Batam.

Ini bukan di Vietnam, tapi di Batam
Saya di ajak oleh teman saya mengunjungi bekas tempat pengungsian tersebut yang terletak di Pulau Galang, Batam. untuk menuju Pulau Galang saya harus melewati sekitar enam jembatan antar pulau. Jembatan pertama yang saya lewati adalah jembatan Barelang, jembatan ikonik Pulau Batam yang menjadi salah satu tujuan wisata Pulau Batam.

Sepanjang perjalanan, yang terlihat hanyalah bukit-bukit tandus yang terlihat eksotis. Saya melewati satu-satunya daerah perkebunan di Batam yaitu di Pulau Rempang. Kenapa satu-satunya? karena tanah di daerah lain di batam tidak ada yang cocok untuk dijadikan tanah garapan. Selain itu juga pemerintah kota batam berfokus pada pembangunan kawasan industri sehingga tidak begitu peduli dengan sektor pertanian/perkebunan. Jalanan sangat sepi, hampir tidak ada permukiman, jadi hati-hati saja kalau kendaraan mogok atau bocor ban. Untung saja kendaraan kami saat itu tidak ada masalah.

Kera penyambut tamu di Camp Vietnam
Sesampainya di Pulau Galang, setelah melewati jembatan ke-enam, di sebelah kanan jalan ada papan petunjuk Camp Vietnam. Nah di daerah sini barulah mulai terlihat ada beberapa permukiman penduduk dan warung-warung kecil. Memasuki daerah camp, daerah yang tadinya hanya perbukitan tandus mendadak berubah menjadi daerah hutan tropis yang rimbun. Dari pintu masuk / retribusi, Bangunan yang paling pertama menyambut saya adalah sebuah Vihara yang masih difungsikan sampai saat ini. Banyak wisatawan yang mengunjungi vihara ini untuk sekedar berfoto atau memang hendak sembahyang. Selepas dari Vihara saya langsung menuju ke bangunan utama yakni Museum Camp Vietnam. Saya di sambut oleh banyak gerombolan kera yang menunggu di pinggiran jalan berharap dilempari makanan oleh wisatawan.

Makam dengan lambang swastika
Saya melihat ada sebuah komplek pemakaman dengan logo swastika. Logo ini mendadak mengingatkan saya kepada simbol paling terkenal didunia, yakni simbol Nazi. Kami parkir di pinggir jalan, disebelah sebuah monumen kapal laut yang mewakili jenis kapal yang digunakan para pengungsi Vietnam menuju pulau-pulau Melayu.

Kapal yang pernah digunakan oleh pengungsi Vietnam menuju indonesia lewat jalur laut.
Tujuan utama Camp Vietnam adalah museum, monumen kapal, dan beberapa bangunan bekas pengungsian salah satunya adalah sebuah gereja. Suasana hari itu sangatlah panas, membuat saya tidak betah berlama-lama di camp ini karena memang tidak banyak yang bisa saya lakukan disini. Ingin rasanya segera mampir ke pantai-pantai Pulau Barelang yang jumlahnya puluhan dengan papan petunjuk berderatan di sepanjang jalan yang saya lewati tadi. Yang paling ingin saya kunjungi adalah pantai paling ujung di deretan pulau-pulau Barelang.

Pemandanan dari pelataran Vihara

Suasana di dalam museum.

Foto ex-penghuni camp pengungsi Vietnam. Biasanya setiap tahun ada beberapa dari bekas penghuni yang datang ke Batam untuk bernostalgia.

Gereja di Ex-Camp Vietnam