Tampilkan postingan dengan label Bintan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bintan. Tampilkan semua postingan

Menyusuri Panjangnya Pantai Trikora di Pulau Bintan


Pantai Trikora terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Provinsi Riau Kepulauan. Berjarak 45 km dari Tanjung Pinang, atau 70 km dari Tanjung Uban.


Nama 'Trikora' pada pantai ini katanya berasal dari Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) pada tahun 1961 dulu dalam rangka penggabungan Irian Barat ke NKRI.


Pada saat itu pantai ini digunakan sebagai salah satu pangkalan terluar untuk menghadapi serangan pasukan Belanda.

Tambak ikan laut di lepas pantai Trikora, Bintan.
Saya sampai di Pantai Trikora sekitar jam satu siang. Cuaca hari itu mendung, tapi hujan tak kunjung turun. Perjalanan saya dari Pantai Lagoi ke Pantai Trikora menggunakan sepeda motor membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam.

Orang aneh

Dalam perjalanan menuju pantai, saat saya sedang mengisi bensin eceran di satu-satunya warung yang ada di pinggir jalan, saya didatangi oleh seorang anak muda yang mukanya sudah terlihat tua (jahat banget ya saya), dengan rambut ala-ala Mike Jagger. Bagian depan pendek, belakangnya panjang.


Tiba-tiba dia bertanya "Bang, abang mau kemana?".

"Mau ke Trikora bro, kenapa ya?" jawab saya dengan agak heran dan sedikit was-was karena dia berpenampilan aneh.


Dia mengenakan kemeja yang sudah kotor berpadu dengan celana panjang jeans coklat yang juga sama kotornya. Bagian kaki kiri celananya di gulung sampai ke lutut, sementara satunya tidak.

"Boleh ikut bang? saya numpang sampai ke Trikora", pintanya.


Dengan perasaan was-was campur kasihan saya pun mengiyakan, kebetulan saya juga asing dengan daerah sini. Dengan adanya orang lokal yang menumpang ini bisa sekalian jadi pemandu saya.


Baca juga: kondangan di Pulau Bintan

Adi, warga lokal yang jadi guide dadakan.
Jangan lihat orang dari penampilannya. Barangkali nasehat itu yang harus kukatakan pada diri sendiri.

Namanya Adi. Penampilan lusuhnya yang tadi sempat membuat saya was-was akhirnya hilang setelah saya banyak bercakap dengannya sepanjang perjalanan. Orangnya ramah dan sangat talkative.

Ternyata si Adi kesehariannya menggarap kebun miliknya sendiri yang diwarisi oleh orangtuanya. Dia memang suka hitch hiking karena tidak ada transportasi umum menuju Pantai Trikora. Kalaupun ada, itu sangat langka. Jadi saya sarankan jika pembaca ingin menjelajahi Pulau Bintan, sewalah kendaraan sendiri.

Rumah si Adi, sederhana namun terlihat nyaman.
Panjangnya Pantai Trikora

Sesampainya di daerah pantai saya sempat bingung mencari mana yang namanya Pantai Trikora, karena pantai ini sungguh sangat panjang.

Kumpulan semak dan mangrove seakan menjadi pembatas alami pantai yang panjang ini.

Ternyata yang namanya Pantai Trikora ya sederetan pantai ini. Semua bernama Pantai Trikora hanya dibedakan jadi Pantai Trikora 1, Pantai Trikora 2, dan seterusnya.

Menurut wikipedia dan juga google maps, panjang Pantai Trikora mencapai 25 km.



Garis pantai yang sangat panjang ini semuanya berpasir putih.


Saat saya kesitu air laut sedang surut sehingga karang-karang yang tajam terlihat menghiasi bibir pantanya.

Laut biru yang tampak indah saat saya browsing gambar 'Pantai Trikora' di google tidak tampak. Malah, air laut seakan-akan tidak berwarna karena cuaca saat itu mendung.

Pantai utamanya, yang entah Pantai Trikora nomer berapa berada di ujung, ditandai oleh tumpukan batuan besar seperti yang biasa kita lihat di pantai-pantai Belitung.



Untuk sampai ke ujung Pantai Trikora yang pemandangannya paling bagus, saya membutuhkan waktu sekitar 20 menit menaiki motor. Bisa dibayangkan kan betapa panjang pantai Trikora ini. 


Saya berkunjung ke Pantai Trikora pada week days jadi tidak banyak pengunjung lain yang saya lihat.


Pantai yang panjang ini terasa sangat sunyi. Warung-warung dengan gubuk gazebonya yang kosong berderet di sepanjang pantai.

Saya mampir ke salah satu warung dan memesan dua cangkir kopi hitam, satu untuk saya, satunya lagi untuk si Adi yang sudah bersedia mejadi guide dadakan saya.



Berkunjunglah di akhir pekan


Sungguh berbeda dengan pantainya orang kaya, Pantai Lagoi. Pantai rakyat yang seharusnya indah ini ternodai oleh banyaknya sampah yang bertebaran di sepanjang pasir putihnya.

Pasir yang putih pun seakan tampak berwarna-warni, oleh sampah.

Fasilitas pengunjung? selain warung dan kamar mandi saya tidak menemukan wahana hiburan lain seperti paralayang, speedboating, dan lainnya seperti yang pernah saya baca di internet.

Hal itu mungkin dikarenakan kunjungan saya bukan pada hari libur atau weekend jadi penyedia wahana wisatanya enggan menampakkan diri karena pengunjungnya memang sedikit.



Saya berjalan menyusuri deretan warung menuju ujung pantai yang terdapat banyak batu-batu berukuran besar. Mungkin ini spot yang paling bagus di Pantai Trikora.


Tumpukan batuan granit yang ukurannya besar-besar ini memang banyak terdapat di pantai-pantai Kepulauan Riau.

Saran saya, jika ingin mengunjungi pantai-pantai di Pulau Bintan, kunjungilah pada saat musim kemarau dimana airnya akan tampak berwarna biru dan jernih sehingga keindahan pantainya akan lebih berasa.


Juga, kunjungilah saat peak season karena wahana dan fasilitas wisata akan lebih banyak dan beragam.



Lagoi Bay, Pantai Khusus Orang Kaya Yang Bisa Dinikmati Semua Kalangan


...(Lanjutan Seperti Inilah Acara Nikahan di Pulau Bintan, Pengalaman Kondangan Paling Jauh)

Akhirnya pagi tiba juga! Punggungku rasanya pegal-pegal tak karuan akibat kasur jahat di penginapan ini. Sambil melenguh kesal, kuambil handuk di dalam ransel dan melenggang lemas menuju kamar mandi. Setelah menuntaskan semua urusan kamar mandi, saya langsung berkemas dan buru-buru meninggalkan penginapan wadefak ini. 

Jam tangan merk "Sekoi" di pergelangan tangan sudah menunjukan pukul delapan lebih sepuluh menit. Ternyata saya ditiduri cukup lama oleh kasur jahat itu.

Saya kembali mampir ke warung makannya mas-mas dari Jawa. "Mas, aku pesen nasi goreng seafood sama kopi item satu yah", pintaku kepada si mas Jawa tersebut. Alhamdulilah Harga disini standar, tidak nutuk seperti kejadian yang sempat menghebohkan jagat internet beberapa waktu lalu, dimana beberapa wisatawan ketiban apes karena harga makanan yang dipesannya diluar kewajaran.

Beberapa bulan lalu netizen sempat heboh, karena ada sebuah postingan di facebook yang mengatakan bahwa beberapa orang mengaku telah di dzolimi oleh warung makan di tempat-tempat wisata seperti di Malioboro Jogja, Anyer dan bahkan di Pulau Bintan! Kasus yang ada di pulau Bintan kejadiaannya adalah saat keluarga korban sedang berlibur di sebuah resort. 

Di area resort itu ada sebuah restoran bintang lima . Karena penasaran dengan masakannya, mereka mampir kedalam restoran tersebut dan memesan tujuh porsi nasi goreng, satu porsi mie goreng dan tujuh gelas es teh. Tak disangka tak dinyana, bagaikan tersambar jambulnya Syahrini, si bapak ini langsung lemas setelah kasir menyerahkan receipt yang berisi total jumlah yang harus dibayar sebesar Rp. 3.629.000. Harga yang tak masuk akal walaupun sekelas restoran bintang lima.

Sungguh harga yang tidak senonoh. (sumber: facebook.com/chandraireng )
Untuk menghindari hal-hal seperti ini saya ada tips nih buat teman-teman yang suka jajan saat traveling. Usahakan jika mau kulineran di sebuah tempat wisata, tanyakan dulu harganya, kalau bisa ditawar saja. Setelah deal, segera bayar di muka dan tunggu pesanannya jadi. Setelah pesanan sudah jadi, baru lah kita bisa menyantap makanannya dengan nikmat tanpa harus merasa was-was, takut harganya di markup. Kenapa perlu bayar di muka? Karena ada kejadian walaupun kita tahu harganya, tapi, saat kita mau bayar, si penjual menaikkan harganya seenak dengkulnya  sensiri dengan beragam alasan.

Otewe Lagoi
Setelah menghabiskan dan membayar nasi goreng seafood  seharga Rp. 14.000, dan secangkir kopi seharga Rp. 5000. Saya segera mencari tempat persewaan motor karena jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi dan matahari sudah semakin menyengat. 

Saya tanyakan kepada mas warung dimana saya bisa menyewa motor. Mas warung dengan cekatan langsung berteriak memanggil salah satu tukang ojek yang bersedia menyewakan motornya. 

Pertama, si tukang ojek menawarkan harga Rp. 150.000 untuk 12 jam atau sewa sampai sore, tapi harga tersebut sungguh fantastis. Tinggal tambah Rp. 50.000 saya bisa sewa mobil. Karena harganya tidak wajar maka saya tolak. Namun dengan wajah yang keliatan pasrah, saya agak merasa iba juga.

Akhirnya saya manfaatkan keputus-asaannya supaya mau di nego. Saya keluarkan jurus nego ala preman, sambil pasang muka jutek akhirnya saya berhasil mendapatkan motor seharga Rp. 80.000 untuk sewa sampai sore hari. Motor matic warna merah segera meluncur ke arah utara berbekal arahan dari paman gugelmap.

Rute perjalanan Tanjung Uban ke Pantai Lagoi via google maps.
Pantai pertama yang akan saya tuju adalah pantainya orang kaya, yaitu Lagoi Bay. Kenapa saya sebut 'pantainya orang kaya'? Karena dulu, Lagoi Bay merupakan resort ekslusif dan tidak sembarang orang bisa masuk kecuali kalau orang itu punya duit. Kebanyakan pengunjung Lagoi Bay dulu adalah orang Singapore.

Sekarang Lagoi Bay sudah terbuka untuk umum, jadi, masyarakat dari berbagai kelas bisa menikmati indahnya pantai di ujung utara pulau Bintan ini, walaupun masih terbatas hanya beberapa pantai saja yg free entry. 

Lagoi Bay merupakan Sebuah area yang cukup luas, dimana didalamnya terdapat beberapa resort yang bisa kita kunjungi. Ibaratnya, Lagoi Bay adalah kompleks per-resort-an dengan semboyannya "Lagoi - yours to develop".


Pantai ini direkomendasikan oleh teman saya yang baru nikahan kemarin. Katanya pantainya berpasir putih dan sangat bersih. Jaraknya dari Tanjung Uban sekitar 32 km, menempuh perjalanan naik motor dengan laju santai sekitar satu jam.

Dari tanjung uban saya tinggal lurus saja mengikuti jalan utama ke arah utara. Jalan utamanya hanya ada satu, menghubungkan Tanjung Uban dengan Tanjung Pinang. Sesekali ada percabangan, namun tinggal mengikuti plang petunjuk arah saja kok, dijamin tidak akan tersesat, kebangeten lah kalau tersesat .


Jalanan di Pulau Bintan
Saya menyusuri jalan aspal buluk yang sesekali terdapat lubang di kanan kirinya. Jalanan lengang, sesekali saya berpacu dengan bus yang keberadaannya di Pulau Bintan sangat jarang, makanya saya pilih menyewa motor.

Beberapa kali motor naik turun bukit dengan pemandangan sepanjang perjalanan adalah hutan semak belukar dan tanah-tanah tandus. Sesekali saya melihat sebuah rumah kayu dengan ornamen oriental. 

Pemandangan seperti itu tidak ada di Jawa, orang keturunan Tionghoa di Bintan cukup banyak, dan mereka tidak hanya terpusat didaerah pasar atau perkotaan saja namun juga di daerah terpencil jauh dari kota. Rumah-rumah mereka sederhana namun tampak unik karena hiasan lampion, cat merah dan kuil-kuil kecil menghiasi rumah kayu mereka.

Portal masuk kawasan Lagoi bay saat sedang peak season (gambar diambil dar rr.co.id , karena saya lupa tidak memfotonya)
Pintu masuk area Lagoi Bay ditandai dengan jalur berportal di sisi kiri jalan (bila dari arah Tanjung Uban). Saya agak was-was karena takut tidak boleh masuk dan sudah menyediakan beberapa lembar recehan di dalam saku celana tapi ternyata masuk area Lagoy gratiss, hanya diberi tiket masuk tanda bawa kendaraan saja. Tapi untuk mobil ada biaya retribusi sebesar Rp. 5000.

Jalan di area Lagoi Bay ini sangat kontras dengan jalan kota. Jalannya lebar dengan aspal yang mulus dan bersih. Di kanan-kiri sepanjang jalan ditumbuhi pepohonan yang hijau dan asri. 

Jalan masih tetap lengan, tampaknya tidak banyak wisatawan di hari ini. Beberapa turis asing bermata sipit tampak melaju menaiki sepeda berlawanan arah denganku sambil tertawa terbahak-bahak seakan-akan seperti sedang menertawakanku. 

Sesampainya di ujung jalan saya menjumpai pertigaan yang penuh dengan plang petunjuk arah. Buta destinasi, saya ambil arah kiri menuju Lagoi Beach, karena sepertinya pantai itu merupakan suguhan utama Lagoi Bay.

Jalan berganti dari aspal menjadi paving yang dihiasi tanaman-tanaman hias disepanjang jalan. Petugas kebersihan tampak wara-wiri. Saya tidak tahu apa yang mereka bersihkan. Karena menurut saya jalannya sudah sangat bersih.

Banyak gedung tapi sepi pengunjung.
Mendekati Lagoi Beach, beberapa gedung bertingkat tampak menjulang didepan saya. Gedung-gedung ber-arsitektur unik yang banyak kacanya itu tampak kosong dan kesepian. Di kanan jalan terdapat sebuah danau buatan ditengah padang rumput yang juga buatan.

Saya kebingungan mencari tempat parkir motor. Setelah tanya sama petugas keamanan, saya diarahkan ke sebuah lahan kosong yang berbatu, berpasir, tanpa atap seperti tempat parkirnya petugas proyek. Sementara saya lihat parkir mobilnya cukup nyaman karena luas dan beralaskan aspal. Saya langsung kepikiran apakah ini adalah sebuah tindakan diskriminasi status? Ataukah tempat parkir motornya sedang dibangun? I dont know, lagian tempat parkir motornya tidak ada penjaganya jadi saya tidak bisa menanyakannya.

Mungkin parkiran motornya masih dalam tahap pembangunan.

Pantai Lagoi
Lagoi beach, walaupun dikelilingi gedung-gedung perbelanjaan dan hotel ternama tampak sepi, lengang, seperti kota zombie walaupun sesekali ada rombongan remaja berambut orange bergerombol sambil cekikikan.

Saya langsung berjalan menuju pantai. Pohon kelapa nyiur melambai tertiup angin sepo-sepoi. Rumput hijau seakan menabrak pasir putih, menciptakan gradasi warna yang segar. "Ini baru pantai" batinku. Ternyata pantainya tidak sesepi dugaanku sebelumnya. 

Di Lagoi Beach sudah banyak orang yang tengah menikmati alunan merdu ombak pantai. Kebanyakan adalah rombongan keluarga. Mereka menggelar tikar diatas rumput maupun pasir. Di ujung pantai terlihat segerombolan anak sekolah yang nampaknya sedang study tour. Diujung pantai lainnya tampak beberapa pasang kekasih sedang memadu cinta. Sedangkan disini, tampak seorang pria kesepian tampak mencurigakan, berdiri sendirian sambil cengar-cengir sendiri .

Pantai yang bersih pasti bikin betah!
It's time to enjoy the beach! Saya susuri pantai dari ujung ke ujung. Sesekali menapakan kaki pada hangatnya ombak disiang hari. Foto sana-sini. Duduk dibawah pohon kelapa dan bersandar padanya sambil meneguk teh botol yang telah saya beli di warung sebelumnya.

Oya kalian wajib bawa makanan dari luar, karena disini tidak ada warung! Setidaknya waktu itu saya tidak melihat adanya warung di Lagoy Beach, kecuali satu restaurant sepi di salah satu bangunan bertingkat. 

Beberapa fasilitas yang ditawarkan di Lagoi Beach adalah kursi bantal yang empuk di bawah payung pantai yang bisa kita sewa supaya bisa menikmati minuman favorit sambil bermain gadget seperti foto-foto anak traveler kekinian di instagram. Wahana kayaking juga ada di Lagoy Beach, rutenya hanya diperbolehkan berkililing di area pantai saja. Selain itu banyak fasilitas yang disediakan oleh pengelola yakni sarana olahraga seperti volley pantai, futsal, dll.

Wisatawan tampak asik bermain volley pantai,
Pantainya 'Orang Kaya' vs 'Orang Miskin'
Terdapat perbedaan mendasar antara pantai yang diperuntukkan bagi orang berduit yang ekslusif dan pantai umum yang semua kalangan masyarakat bisa menikmatinya.

Lagoy beach merupakan salah satu contoh  perpaduan antara keduanya (contoh lainnya adalah pantai-pantai di Bali dan lombok). Perbedaan utamanya adalah soal kebersihan. Disini, saya tidak menemukan adanya sampah berserakan di sudut-sudut pantai. Semuanya tampak putih bersih. Sangat berbeda dengan tujuan pantai saya selanjutnya yaitu pantai Trikora. 

Hal ini selain keterlibatan pasukan 'orange' dari pihak pengelola juga ada keterlibatan perbedaan cara berpikir antara masyarakat kelas ekonomi menengah keatas dan masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah. Utamanya adalah perbedaan cara pandang terhadap sampah itu sendiri dimana dalam hal ini saya menggeneralisir bahwa kalangan ekonomi menengah keatas itu pendidikannya sudah maju sehingga cara pandangnya terhadap sampah lebih 'bersih' dari kalangan ekonomi kebawah. Ada sebuah rasa 'gengsi' bagi orang kaya untuk membuang sampah sembarangan. 

Selain itu keterlibatan pasukan 'orange' alias pasukan bersih-bersih sangatlah besar. Pantai yang dikelola oleh swasta kebanyakan lebih mementingkan kebersihan ketimbang pantai yang dikelola oleh daerah yang saya kira masih acuh tak acuh terhadap masalah kebersihan pantai.

Lagoy beach, sebagai perpaduan antara pantai orang kaya dan pantai rakyat berhasil menerapkan rasa 'gengsi' tersebut kepada masyarakat umum dimana pihak pengelola tidak memberikan sedikitpun ruang bagi masyarakat untuk membuang sampah sembarangan. 

Tong-tong sampah ditempatkan disegala penjuru. Petugas kebersihan selalu mondar-mandir membersihkan sekecil apapun sampah itu sehingga memunculkan rasa 'bersalah' bagi masyarakat yang hendak membuang sampah sembarangan. Pengelolaan pantai Lagoi Beach ini patut dicontoh oleh pengelola pantai-pantai lainnya. 

Banyak destinasi wisata di Lagoi Bay selain Lagoi Beach. Tetapi beberapa merupakan private resort dimana kita harus jadi tamu resortnya dahulu sebelum bisa puas menikmati pantainya. Sementara beberapanya lagi berbayar, seperti Treasure Bay, sebuah kolam renang buatan berbentuk pantai yang katanya terpanjang se-Asia tenggara. Biaya masuknya Rp. 100.000. Karena saya penyuka gratisan jadi tidak ada waktu bagi saya untuk menghabiskan hari ditempat berbayar seperti ini. Maka dari itu saya akan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Trikora! Pantainya rakyat! Merdeka! (Bersambung)

Foto-foto Lagoy Beach lainnya :


Berbekal kamera sport dan tongsis pinjaman salah satu teman di Batam, Thanks Rio!. Solo traveler wajib membawa tongsis.
Pengunjung menikmati fasilitas futsal yang disediakan oleh pengelola Lagoy Beach

Kalian bisa berman volley pantai loh! boleh kok pakai bikini, hehe.


Kursi bantal yang bisa kalian sewa supaya postingan foto d Instagram tambah kekinian


Pengin olahraga air? kalian bisa mencoba bermain kayak disni.


Pohon-pohon kelapa yang tnggi menjulang membuatnya serasa berada di Hawaii


Pantai yang sangat enjoyable untuk sebuah family trip. Bercengkerama dan bercanda di pinggir pantai yang ndah pastnya akan menambah kehangatan keluarga bukan?


Ini kantor baywatch-nya Lagoi Beach. Sayang ngga ada penjaga pantai yang sexy.


Ini berada di belakang pantai, jika peak season biasanya akan banyak pedagang  makanan yang berjualan disini.


Pantainya orang kaya memang bersih, setuju?

Kondangan Nyambi Mantai di Pulau Bintan

Pelabuhan Bulang Linggi, Tanjung Uban, Bintan.
Kepulauan Riau menyimpan banyak pantai-pantai indah, namanya saja ‘kepulauan’ pasti banyak pantainya. Salah satu pantai-pantai indah tersebut ada di Pulau Bintan. Pulau Bintan kalau di peta berada tepat di sebelah Pulau Batam.


Saya menuju pulau Bintan dari Pelabuhan Telaga Punggur  Batam,  menuju Pelabuhan Bulang Linggi, Tanjung Uban. Ada dua rute menuju Pulau Bintan bila naik kapal laut dari Batam, yaitu lewat pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjung Pinang dan Pelabuhan Tanjung Uban.

Kenapa lewat Tanjung Uban? Karena saya akan mendatangi pernikahan salah satu teman kuliah saya di Jogja, namanya Danang. Beruntung dia mendapat jodoh cewek Bintan yang aduhai cantiknye, khas awek malay. 


Akad dan resepsi nikahnya bertepatan dengan kunjungan saya ke Batam jadi harus saya sempatkan untuk hadir di acara sekali seumur-hidupnya.  Selain itu saya juga ada agenda lain yaitu mau plesiran ke pantai-pantai yang ada di Bintan, dan destinasi saya itu lebih dekat dijangkau dari Tanjung Uban ketimbang dari Pinang. 


Setelah saya searching di google, ada beberapa pantai yang harus saya kunjungi yaitu pantai Trikora dan Lagoi Bay. Lagoi Bay merupakan sebuah resort yang beberapa pantainya merupakan private beach dan tidak sembarangan orang boleh masuk kecuali tamu resort.


Saya membeli tiket kapal speed boat jurusan Tanjung Uban seharga Rp. 45.000. Perjalanannya cukup cepat, hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit mengarungi lautan. Buat yang hobi mabok laut harus waspada karena alunan ombaknya begitu intens.

Laju kapal yang cepat dan melawan gulungan ombak membuat perjalanannya cukup “menyenangkan”. Saya berangkat dari Batam sekitar jam tiga sore hari dan sampai di Uban sekitar pukul setengah empat kurang. 


Sesampainya di pintu keluar sudah banyak tukang ojek yang mengantri rezeki berharap salah satu penumpang mau memakai jasanya, maklum saat itu jasa ojek online belum ada di pulau kecil ini. Saya berniat memakai salah satu jasa tukang ojek ini tapi saya tunda dulu karena warung kopi di depan pelabuhan sangat menggoda untuk disinggahi.


Saya memesan segelas kopi hitam dan duduk di bagian pojok warung sambil menikmati lalu lalang pengunjung pelabuhan. Saat saya akan membayar kopi, abang kasir mengenali logat jawa saya dan bertanya “ Mas, dari Jawa ya?” saya pun membalas “Iya mas, dari Jogja”, ternyata mas kasir yang juga pemilik warung tersebut juga berasal dari Jawa juga, tapi saya lupa Jawanya dari daerah mana. 


Mas tersebut sudah merantau di Bintan selama sepuluh tahun dan menikah dengan warga lokal dan juga sudah dikaruniai seorang anak. Jiwa rantau suku Jawa ternyata boleh dikata tidak kalah dengan jiwa Rantau orang Batak, Padang, dan Bugis karena kita bisa bertemu orang Jawa di mana saja. Berbekal alamat dan lokasi GPS dari teman saya, saya pun meminta salah satu tukang ojek untuk mengantarkan saya. Tidak sulit mencari alamatnya karena di depan gang sudah ada janur kuning khas adat jawa yang melengkung.

Bersama mempelai pria, Danang, sekarang sudah bekerja sebagai wartawan di koran lokal Batam.
Sesampai di acara nikahan tersebut, bapak penyambut tamu yang ternyata paman dari mempelai perempuan menanyakan asal saya. Saat saya jawab bahwa saya jauh-jauh datang dari Jogja, seorang diri, kesepian, dan dengan raut muka memelas, bapak tersebut menyambut saya bak tamu VIP dan saya disuruh duduk di bagian kursi keluarga.


Saya melihat teman saya bersama istrinya (sekarang sudah sah disebut istri) sedang berada di panggung utama menyalami para undangan yang hadir. Mereka mengenakan busana adat Melayu. 


Cukup lama saya duduk sendirian sebelum akhirnya teman saya turun untuk ganti baju dan menemui saya. Tidak banyak ngobrol saat itu karena memang acaranya masih berlangsung. Danang menawari saya untuk menginap saja di rumahnya (sekarang sudah jadi rumahnya Danang juga) tapi saya tolak karena tidak enak, dan tidak kenal dengan anggota keluarga barunya, nanti saya seperti orang hilang, hehe. 


Setelah sholat maghrib, saya ijin pamit karena saya harus mencari penginapan dulu. Yap, saya sama sekali belum booking penginapan sama sekali. Tidak seperti traveler lain yang apa-apa serba harus dipersiapkan dahulu. Saya adalah tipe traveler yang sukanya dadakan. Jika tidak dapat penginapan ya tidak masalah kalau harus menginap di pombensin atau di masjid.

Foto mereka yang berbahagia, sayang fotoku bersama mempelai belum dikirimkan sama Danang, hiks.
Beberapa menit jalan kaki saya menjumpai sebuah café kecil berfasilitas free wifi. Saya mampir dulu di café tersebut sambil basa-basi bertanya tentang penginapan didekat sini. Abang café menyarankan saya ke daerah pelabuhan, karena disitu banyak penginapan. Oke, saya jalan kaki ke arah pelabuhan yang ternyata sangat dekat, hanya perlu lima belas menit dari rumah teman saya.


Di pelabuhan saya bertanya lagi, kali ini dengan mas-mas dari Jawa tadi, dia menyarankan penginapan yang tepat berada disebelah pelabuhan. Penginapan tersebut menghadap ke laut. Saya check in di penginapan tersebut dengan biaya per malam untuk kamar ekonomi seharga Rp.80.000, sangat murah! Sayangnya saya tidak dapat kamar yang menghadap ke laut.


Kesenangan karena mendapakan kamar dengan harga murah itu langsung lenyap setelah merasakan kondisi kasur yang bobrok. Kasurnya model spring bed, namun sudah rusak! Beberapa pernya sudah mencuat keluar dan saat saya tiduri, kasurnya merosot kebawah, tidak mampu menahan beban tubuh saya. Alhasil, malam itu saya tidak bisa tidur. Karena bete, saya memutuskan keluar di beranda hotel sambil menikmati suasana laut di malam hari.


Beruntung di beranda hotel ada warung kopi kecil dan beberapa tempat duduk. Saya memesan teh tarik. Suasana di pelabuhan terbilang cukup ramai. Beberapa orang terlihat sedang asik memancing di pier pelabuhan. Kapal Patroli Bea Cukai terlihat sedang berlabuh. Kapalnya cukup besar, seperti kapal perang Angkatan Laut minus senapannya.


Saya baru kali ini melihat Kapal Bea Cukai. Daerah perbatasan laut antar negara seperti ini memang rawan dengan penyelundupan barang-barang ilegal demi menghindari cukai. Rata-rata barang-barang tersebut nantinya berlabuh di Batam atau di pulau sekitarnya untuk kemudian di edarkan ke seluruh Indonesia. Untuk mencegah hal tersebut, pihak Bea Cukai memliki armada patroli lautnya sendiri, bekerja sama dengan TNI AL dan POLAIR.


Beberapa batang rokok sudah saya habiskan, sementara teh tarik sudah berada pada tetes terakhirnya. Saya beranjak kekamar untuk tidur. Mengingat kondisi kasurnya yang seperti neraka maka saya putuskan untuk tidur dilantai beralaskan selimut dan seprai hotel. Beruntung suhu malam itu sedang panas-panasnya, jadi tidak masalah bagi saya untuk tidur di lantai. Lantainya terbuat dari kayu dan saat saya mengintip sela-sela lantai ternyata dibawahnya langsung laut. 

Saya tidur dengan tidak nyenyak berteman nyamuk-nyamuk jahanam. Berharap malam segera usai dan pagi menyambut dengan sinar mentarinya yang hangat, yang akan mengantarkan saya menuju pantai-pantai indah di Bintan. (Bersambung ke Pantai Lagoi Beach, Resort Untuk Semua Kalangan)

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca