Pantai Kawona, Pantai Perawan Yang Sunyi Senyap di Sumba Barat Daya


Siang itu, matahari di atas kepalaku bersinar dengan sangat sombong dan angkuh. Panasnya sungguh membuatku  gerah, tapi tidak lebih gerah dari gerahnya masyarakat terhadap para wakilnya.

Es Buah di seberang rumah Pak Camat memanggil-manggil namaku. Udara di Nusa Tengggara Timur memang sangat panas, hal ini dikarenakan letak dan kondisi geografisnya membuat angin yang bertiup di daratan NTT adalah angin panas.

Baca cerita sebelumnya disini

Sekarang saya berada di Kecamatan Loura, Sumba Barat Daya. Kecamatan yang akhir-akhir ini baru saja mekar, dan sedikit membuat saya bingung.


Hari ini tujuan saya adalah pergi ke pantai, menyejukkan pikiran dari penatnya kerjaan editing quesioner yang begitu banyak.

Salah satu cara berwisata gratis adalah dengan mengikuti beberapa proyek survey seperti yang aku lakukan ini, sudah gratis, dibayar pula.



Bersama empat orang teman, Nike, Siska, dan Hendi, kami memacu motor sewaan menuju salah satu pantai yang tempatnya tidak jauh dari rumah responden kami, yakni di desa Kawona, tidak jauh dari kantor Bupati Sumba Barat Daya, di jalan raya Kota-Kodi. 

Pantai tersebut belum ada namanya jadi kami namakan pantai tersebut dengan nama Pantai Kawona, sesuai nama Desa dimana pantai tersebut berada. Saya kira desa ini masih masuk kecamatan Loura atau Kecamatan Tambolaka, namun ternyata ini masuk Kecamatan Wewewa Barat, yang notabene seluruh desanya berada di daerah pegunungan, ini malah nyempil disini.




Jalanan menuju pantai tidak begitu jauh namun lumayan memacu adrenalin. Kami harus melewati jalan-jalan pengerasan yang berbatu dengan karang-karang tajam. Butuh keahlian khusus meliuk-liukan motor disini. Kami parkirkan motor sembarangan di tepi jalan, karena memang tidak ada tempat parkir disini. 

Ahh, angin pantai yang sejuk sekaligus panas menerpa wajahku bersama butiran-butiran pasir pantai yang seperti scrub ini. Pasir pantainya benar-benar putih, diselingi oleh sebaran rumput laut yang membuatnya seperti sebuah oase ditengah padang pasir.



Tidak ada pengunjung lain disini selain kami berempat dan empat nelayan lainnya yang menatap kami penuh penasaran. Mungkin mereka berpikir "itu orang-orang ga ada kerjaan kali ya?", memang. 

Di seberang pantai terlihat pelabuhan yang tidak terlalu sibuk, beberapa kali kapal-kapal kecil tampak lalu lalang dengan suara motornya yang begitu berisik.


Pantai ini recommended banget untuk kalian yang ingin menyepi, bermeditasi, dan meningkatkan level cakkra kalian, haha.



Bromo, Sebuah Keagungan Mentari Sang Brahma


Bromo, sudah lama saya mendengar cerita dari teman-teman yang pernah melancong kesana. Kata mereka Bromo itu indah dan menakjubkan, terutama saat sunrise.


Akhirnya saya terinisiasi.Segera saya browsing di internet tentang Bromo di beberapa blog dan milis-milis traveling. Nama Bromo berasal dari bahasa sansekerta yaitu Brahma, salah satu dewa utama Hindu. 

Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif hingga saat ini dan mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut , meliputi empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. 

Baca : Backpackeran di Kota Hujan, Malang

Saya bersama tiga orang teman sepakat berangkat ke Bromo melalui Malang dengan naik kereta api Matarmaja dari Solo. Saya sempat singgah dulu sambil jalan-jalan di Malang selama satu hari. Esoknya pukul sembilan pagi saya berangkat ke Bromo dari Malang naik bus ke Probolinggo, tarifnya cukup murah, hanya Rp. 12.000 dengan lama perjalanan kurang lebih tiga jam.

Kendaraan ini disebut 'Bison'
Sesampainya di terminal Probolinggo saya menuju ke tempat mangkal mobil angkutan menuju Bromo, atau biasanya disebut Bison, namanya memang keren tapi sebenarnya adalah angkutan kota kuno atau kalau di Jogja biasa disebut Kobutri. Satu mobil bisa muat sampai empat belas orang, kebetulan pas saya datang sudah ada enam orang, ditambah kami jadi sepuluh orang, jadi tinggal menunggu empat orang lagi. Dirombongan kami itu ada dua bule, satu dari Prancis dan satunya lagi dari Belgia. Akhirnya sambil menunggu empat orang lagi sebelum mobil berangkat, kami ngobrol-ngobrol dulu dengan bule-bule tersebut. 

Si bule dari Prancis bernama Cleude, dia umurnya sudah lumayan tua. Selama bekerja, dia selalu menabung sebagian gajinya hanya untuk berkeliling dunia ketika pensiun nanti. Si Cleude ini merupakan golongan menengah kebawah di negaranya, dia bahkan tidak punya rumah di Prancis sana. Kemarin-kemarin dia berusaha mendaftarkan anaknya disalah satu hotel di Bali untuk menempati posisi chef. Namun karena birokrasi di Indonesia terlalu njelimet, akhirnya anaknya bekerja di Australia.

Hampir satu jam kami menunggu empat orang yang tidak kunjung datang. Akhirnya kami bersepuluh setuju untuk membayar tarif Bison ini dengan tarif yang lebih mahal tentunya, karena minus empat orang. Tarif standar naik angkutan ini Rp. 25.000, itu jika kapasitasnya maksimalnya terpenuhi, namun kami terpaksa membayar Rp. 35.000/orang karena menanggung biaya empat tempat duduk yang kosong itu. 

Perjalanan dari terminal Probolinggo ke Bromo mamakan waktu kurang lebih sekitar 45 menit. Sopir Bison yang kami tumpangi ini membawa kami ke salah satu penginapan murah alias homestay, kami dipatok harga untuk satu kamar yang terdiri dari dua bed seharga Rp. 100.000. Padahal waktu saya browsing di internet, homestay model seperti ini paling mahal hanya Rp. 60.000 satu kamar. 

Sebenarnya saya tidak setuju dengan harga yang ditawarkan oleh sopir yang merangkap calo ini, tapi teman-teman saya dengan alasan tidak mau repot menyetujui begitu saja. Selain itu si sopir merangkap calo ini juga menawarkan kami untuk menyewa jeep yang nantinya akan mengantarkan kami ke Pananjakan dan Bromo pergi-pulang.

Kata si calo ini harganya Rp.350.000, satu jeep muat untuk enam orang. Kami dipasangkan dengan dua orang bule tadi. Kami menyanggupi saja karena kami kira itu tarif standar sewa jeepnya. Ditambah lagi kami dua bule tersebut dipatok seratus ribu per orangnya, jadi sudah dua ratus ribu, kami berempat tinggal menggenapi sisanya saja, benar-benar tawaran yang menarik.

Setelah deal, si calo-pun pergi. Saya ngobrol dengan supir jeep tersebut, ternyata kami hanya diantar sampai Pananjakan 1- Bromo saja, padahal tarif Rp. 350.000 itu sebenarnya adalah tarif  dengan rute Pananjakan 2 – Bromo. Seharusnya kami hanya perlu bayar Rp.250.000 saja. Ahh, betapa sial nasib kami.


Kami rehat sejenak, berbaring di kasur yang empuk tidak, keras juga tidak. Saya terlelap sampai jam setengah lima sore. Saya bergegas bangun dan buru-buru berjalan ke salah satu tempat untuk melihat sunset. Disitu banyak wisatawan mancanegara, namun wisatawan domestiknya sedikit, jadi saya merasa seperti bukan di Indonesia saja. 

Dimana-mana yang saya lihat hanyalah bule-bule yang di suhu dingin seperti Bromo ini hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Sedangkan saya mengenakan baju seperti mau perang saja dengan kaus dua lapis, jaket tebal, sarung tangan, celana panjang dan penutup kepala. 

Sunset di Bromo lumayan indah, titik tenggelamnya matahari adalah dibalik pegunungan. Semakin turun matahari, semakin memerah langit di atas sana. Matahari sore ini bak foto model saja, semua orang siaga dengan kameranya, menjepret kepada satu titik saja, sunset.


Tenggelamnya matahari di iringi bubarnya kerumunan wisatawan yang kembali ke penginapannya masing-masing, termasuk saya. Tidak ada niatan sedikitpun bagi saya untuk mencicipi mandi di Bromo malam hari yang dinginnya menusuk tulang seperti ini.

Daripada diam di kamar yang lantainya semakin lama semakin basah. Saya dan teman-teman memutuskan untuk cari kehangatan dari secangkir kopi di warung terdekat. 

Sambil ngopi-ngopi, kami juga memesan nasi goring yang harganya cukup murah, Rp. 6000. Sambil ngopi, saya ngobrol-ngobrol dengan bapak-bapak pemilik warung yang asli warga dari Suku Tengger ini. Beliau bercerita bahwa sopir-sopir Bison di terminal Probolingga itu merupakan calo-calo yang benar-benar mencekik leher para wisatawan. Para calo ini tidak tega mengeruk untung hampir dua kali lipat. Hal ini menyebabkan pariwisata di Bromo semakin lama semakin menurun karena ulah para sopir merangkap calo tersebut. Apalagi kepada turis mancanegara, rakusnya minta ampun. Padahal turis mancanegara tidak semuanya kaya, seperti Cleude dari Prancis tadi. Bapak warga asli Tengger ini hanya berharap ada perhatian dari pemerintah terkait maraknya pencaloan oleh sopir angkutan di terminal Probolinggo. 
“Bromo itu Tengger dan Tengger itu Bromo mas, kasihan kami lah yang sudah dari dulu hidup di Bromo, semakin lama semakin sepi pengunjungnya” kata bapak yang bernama Adi ini. 
Dia berkata bahwa penginapan kami itu sebetulnya hanya Rp. 40.000 satu kamar, sementari tariff jeep kami yang rutenya Pananjakan 1- Bromo itu hanya Rp. 200.000 saja. Jadi lain kali jika ke Bromo lebih baik mencari-cari sendiri saja, jangan mengikuti calo. Jika si calo memaksa, laporkan saja pada petugas keamanan.


Disela-sela obrolan kami, teman saya dari Jogja datang dengan naik motor, dua orang satu motor. Teman saya ini sedang touring dengan rute Jogja-Surabaya-Madura-Bromo-Jogja. Kebetulan kami di Bromonya pas sekali bertepatan waktunya. Akhirnya saya dengan empat orang teman saya mendapat dua teman ngobrol baru. 

Karena waktu yang sudah malam, kamar saya dipakai untuk enam orang. Tak masalah, malah tambah hangat. Suhu benar-benar dingin, mendekati dua derajat celcius. Karena capek dan dingin akhirnya kami tertidur. 

Jam empat pagi, kamar kami digedor oleh sopir jeep. Jeep sudah mau berangkat, karena kami mengejar sunrise. Kami pun bergegas, dan ternyata dua bule rombongan kami sudah siap sedia di jeep. Benar-benar budaya orang bule itu benar-benar menghargai waktu, tidak seperti budaya ngaret negeriku. 


Tidak sampai 15 menit, jeep sudah sampai di parkiran Pananjakan 1. Dari parkiran, saya masih harus naik ke atas bukit, lumayan jauh dan lumayan membuat nafas ngos-ngosan. Di Pananjakan 1 sudah tedapat wisatawan, kebanyakan mancanegara, tengah menanti datangnya sang mentari pagi. Banyak pedagang souvenir dan minuman hangat disini, tapi harganya dua kali lipat dari harga normal. Maklum saja, aksesibilitasnya lumayan sulit di atas bukit ini. 

Mentari pagi yang kami nanti-nantikan pun datang. Semua orang sibuk dengan kameranya. Sunrise bromo benar-benar indah. Matahari muncul dengan cahaya keemasannya, menyinari Bromo dan barisan gunung disekitarnya. Sungguh indah, pantas saja sunrise Bromo ini dinobatkan sebagai salah satu sunrise terindah di Asia. Puas menikmati dan mengabadikan sunrise bromo. Saya pun turun dengan rombongan kembali ke parkiran jeep dan menuju ke Bromo.



Jeep melewati padang pasir yang lumayan luas menuju Kawah Bromo. Kawah Bromo ini mempunyai garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Jarak parkiran jeep dengan kawah Bromo lumayan jauh. 

Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. 

Dari parkiran jeep, saya melihat pura yang berdiri sendiri ditengah lautan pasir Bromo ini, memberikan suasana mistis sekaligus menakjubkan bagi saya. Setelah puas mengabadikan gambar pura ini, saya kembali melanjutkan perjalanan menuju kawah Bromo ini. Pendakian menuju kawah Bromo lumayan sulit, tanjakannya benar-benar membuat nafas saya ngos-ngosan

 Beberapa kali saya berhenti di tengah jalan untuk mengembalikan nafas saya yang hampir hilang. Bagi yang tidak kuat mendaki, banyak tersedia kuda-kuda yang siap ditunggangi dengan harga sewa mulai dari Rp. 20.000 - Rp. 70.000, tergantung nego. Sesampainya di atas kawah, pemandangannya benar-benar indah. Sunrise dan pemandangan di Bromo ini begitu menakjubkan. Rasa-rasanya hilang sudah kekecewaan saya karena ditipu oleh calo-calo tadi. Bromo begitu fantastis! 



Setelah puas menikmati Bromo, saya pun kembali ke penginapan untuk packing barang-barang dan makan pagi, untuk selanjutnya kembali ke Malang dilanjutkan menuju Yogyakarta. Saya harap saya dapat kembali lagi ke Bromo nanti, dan tidak akan tertipu lagi oleh calo-calo tersebut. Goodbye Bromo, Your Sunrise is Amazing! 

UPDATE : Ongkos transportasi mungkin lebih mahal dikarenakan kebijakan pemerintah dan harga BBM yang naik.

Backpackeran di Kota Hujan, Malang


Lempuyangan, stasiun nomor dua setelah stasiun Tugu, Yogyakarta. Kereta Prameks menuju stasiun Balapan, Solo sudah tiba. Waktu tempuh dari Lempuyangan ke Balapan sekitar satu jam, dan saya selama itu harus berdiri, karena sistemnya untung-untungan, yang dapat kursi ya bisa duduk, yang tidak dapat ya terpaksa berdiri. Dari stasiun Balapan saya dan ketiga teman saya harus berjalan sejauh kurang lebih 3 km menuju stasiun Jebres dengan bejalan kaki sambil menikmati keindahan kota Solo di malam hari. 

Sepanjang jalan, saya harus jalan di pinggir jalan utama karena tidak terdapat sedikitpun trotoar. Tampaknya pemerintah kota Solo tidak melirik bahkan secuil pun kenyamanan para pejalan kaki. Saya sampai di stasiun jebres pukul delapan malam, sedangkan kereta Matarmaja baru sampai pukul satu dini hari. Alhasil kami berempat harus menunggu selama empat jam, belum lagi kereta juga terlambat satu jam dari jadwal yang sudah tertera di tiket.

Perjalanan dari Solo menuju Malang perlu waktu sekitar tujuh jam. Karena kereta yang saya naiki ini merupakan kereta ekonomi, jadi banyak pedagang-pedagang asongan yang berseliweran menjual berbagai makanan kecil, dan minuman-minuman seperti kopi, teh, dll. Walaupun pedagang asongan sempat dilarang peredarannya, namun mereka masih saja berjualan. Saya tidak merasa terganggu dengan adanya para pedagang asongan ini, justru menurut saya mereka sangat membantu. Bayangkan bila kita tidak membawa bekal makanan selama tujuh jam perjalanan ini tanpa adanya pedagang asongan. Padahal mungkin saat itu kita haus, lapar, dan mungkin ingin sekedar ngopi. Pedagang asonganlah solusinya. 


Pukul 8.15 pagi, saya sampai di Stasiun Kota Baru, Malang. Tampak beberapa polwan berseragam ketat dan juga cantik tengah ngobrol-ngobrol asyik di dekat pintu keluar. Keberadaan polwan tersebut seperti secercah sinar rembulan di tengah kegelapan malam, hahaha.

Keluar dari stasiun, kami disambut oleh sopir taksi, angkot, tukang ojek, dan tukang becak yang langsung menanyakan “kemana mas? Batu? Bromo?“ dan kami cukup melambaikan tangan tanda tidak perlu karena tujuan kami pertama kali sampai di Malang adalah langsung menuju alun-alun yang juga pusat kota dimana disitu berkumpul berbagai objek wisata menarik yang sebagian besar adalah bangunan-bangunan tua bersejarah seperti Toko Oen, Gereja Kayu Tangan, GBIP Immanuel, Masjid Jami, dll. 

Berjalan kaki dari stasiun Kota Baru menuju pusat kota tidaklah jauh, hanya sekitar 2 km. Sepanjang jalan kita akun dipayungi oleh rimbunnya pohon-pohon yang berdiri berjajar di sepanjang trotoar yang nyaman dan berwarna-warni. Dan juga pemandangan kota Malang menurut saya sungguh menarik, tampak oldies, tidak beda jauh dengan Yogyakarta.


Hanya sekitar tiga ratus meter dari stasiun Kota Baru sudah tampak Monumen Tugu Malang, yang katanya berbentuk seperti bambu runcing, dan terletak di alun-alun bunder atau alun-alun lama Kota Malang yang tampak anggun bila dilihat saat malam hari, sayang saya tidak bisa melihatnya di malam hari. Disekitarnya terbaring bunga-bunga berwarna-warni dengan bunga teratai yang selalu mekar. 

Disamping alun-alun ini terdapat banyak pohon-pohon trembesi yang sudah sangat tua umurnya. Kantor Walikota tepat berada di depannya. Alun-alun ini sebenarnya adalah bangunan peninggalan pemerintah Kolonial Belanda, yaitu bekas dari Taman Gubernur Jenderal Hindia Belanda J.P Zoen Coen. Tidak jauh dari Monumen Tugu sekitar 1 km ke arah barat sudah berjejer beberapa objek wisata menarik.


Toko Oen terletak persis berhadapan dengan gereja Kayu Tangan, di jalan Basuki Rachmad. Bangunannya tampak tua dengan dominasi warna hijau dan putih. Toko Oen ini merupakan toko yang wajib di kunjungi oleh para pelancong. Dulunya Toko Oen ini sangat populer oleh kalangan pelancong belanda yang berkunjung ke Malang.

Walaupun judulnya adalah “toko” tapi sebenarnya ini adalah sebuah restoran dan café yang menyediakan beraneka makanan dan minuman khas jaman dulu. Yang paling terkenal adalah es krimnya. Disini saya dapat menikmati makanan dan minuman dengan suasana khas tempo dulu. Diselingi dengan alunan piano khas lagu-lagu Belanda maupun lagu-lagu yang agak jadul seperti punyanya Elvis Parsley, The Beatles, dll. 

Tidak hanya bangunannya saja yang kuno, suasana dalam restoran ini juga sengaja tidak pernah dirubah. Ruangan untuk pengunjung dibiarkan luas tanpa penyekat, dengan 3 pilar yang menyangganya. Perabotannya juga antik-antik.

Kesan kuno ini diperkuat dengan dipajangnya radio antic dan sepeda motor merek Villier buatan Belanda tahun 1936. Pelayan pria disini berseragam putih hitam dengan mengenakan peci di kepalanya. Sedangkan pelayan wanita masih mengenakan seragam putih hitam namun dengan rok yang tingginya selutut serta celemek berenda, seperti noni-noni tempo dulu. Saya hanya memesan satu porsi es krim seharga 12 ribu ( ini sudah termasuk yang paling murah lho! ).

 
 
Di seberang Toko Oen terdapat gereja dengan arsitektur gothic bernama Gereja Kayu Tangan. Bentuknya meruncing ke atas. Bener-bener serasa di eropa kalau berfoto di depan gereja ini. Ada juga gereja lainnya yang juga berarsitektur kuno, yaitu GBIP Immanuel.

Gereja ini terletak disamping Masjid Agung Jami’ Malang. GBIP Immanuel bentuknya  juga mengerucut pada atapnya dan juga terdapat seperti pipa-pipa yang menjulur keluar pada menaranya, seperti menara penangkap angin di timur-tengah sana. Keberadaanya yang bersebelahan dengan Masjid Agung Jami’ mengesankan bahwa kerukunan antar umat beragama di Malang sungguh sangat erat. 

Sementara di lain tempat sana, perbedaan agama justru menjadi momok yang menakutkan, namun di Malang ini rasanya semua rukun-rukun saja kecuali tawuran antar supporter sepak bola. Arema telah menjadi ikon kota malang dengan Aremania-nya yang berseragam biru, dan tidak sedikit pula jumlah tawuran antara Aremania dengan supporter sepakbola lainnya.

Toko-toko souvenir bagi para fans Arema di Kota Malang ini jumlahnya bisa dibilang tidak sedikit. Baru keluar dari stasiun Kota baru saja sudah tampak toko-toko baju dan souvenir khas Arema berjejeran dengan tak luput terdapat gambar maupun patung “singo edan” didepannya.



 


Dari Gereja GBIP Immanuel, saya beralih kesebelahnya, yaitu Masjid Agung Jami’ karena adzan dhuhur juga sudah berkumandang. Masjid Jami’ terletak di Jl. Merdeka Barat No.03, tepat disebelah GBIP Immanuel dan didepan Alun-alun Merdeka. Dahulu masjid ini bernama Masjid Agung dan berdiri setelah Pendopo Kabupaten Malang ahun 1824. Masjid ini sangat luas dan terdiri dari empat lantai. 

Lantai bawah merupakan tempat wudlu. Kami beristirahat sejenak di teras luar masjid, sambil tidur-tiduran dan ngobrol-ngobrol, serta tak lupa ikut men-charge baterai hanphone yang sudah kelap-kelip tanda mau wafat karena sudah disediakan stop kontak. Namun tiba-tiba bapak-bapak dengan jenggot lebat dan celana diatas mata kaki datang menegur kami “mas, jangan ngecas hape, ga boleh!” Akhirnya kami cabut chargernya.

Aneh saja, kan sudah disediakan stop kontak diteras masjid, masa kami tidak boleh ikut nge-charge baterai. Mungkin khawatir tagihan listrik masjid membengkak ya? Tapi kan biaya perawatan masjid juga berasal dari jemaah, dan seharusnya akan kembali lagi ke jamaah. Ya sudahlah, akhirnya saya pergi menuju ke depan Masjid Jami’ yaitu alun-alun Merdeka, atau alun-alun baru Kota Malang.

 
Alun-alun Merdeka lumayan luas dengan pohon-pohon besar seperti beringin dan trembesi disekitarnya serta taman bunga berwarna-warni terbaring disamping air mancur ditengah-tengah alun-alun. Banyak juga terdapat tempat duduk bagi warga yang mau bersantai-santai dibawah rindangnya pepohonan.

Yang menarik dari alun-alun Kota Malang ini adalah terdapat banyak burung merpati disini. Ada beberapa rumah burung di sudut-sudut alun-alun. Jadi sambil duduk-duduk santai kita juga dihibur dengan burung-burung merpati yang berseliweran, kita juga bisa memberi makan burung-burung tersebut. Seperti di Eropa saja. 

Setelah berjalan-jalan setengah hari, perut saya pun keroncongan minta diisi. Akhirnya Bakso Gong-lah pilihan kami, harganya yah di atas rata-rata sih, bentuknya juga tidak beda jauh dengan bakso-bakso biasa, tapi rasanya lumayan lah. Setelah kenyang makan Bakso Gong (kebetulan ditraktir salah satu teman kami yang sedang ulang tahun) kami mencari angkot menuju terminal Landung Sari, dimana tempat singgah kami berada. Ngangkot disini cukup mengeluarkan uang Rp. 3000 saja. 

Untung saja ada teman yang bersedia menyediakan kamar kosnya sebagai tempat singgah kami, lumayan bisa ngirit uang hostel sekaligus menambah teman. Uniknya adalah, teman yang menyediakan tempat singgah tersebut merupakan temannya teman dari teman kami. Bingung kan? Saya juga bingung. Yang jelas relasi dan pertemanan merupakan modal utama perjalanan kami. Terimakasih teman.


Sore hari kami beristirahat sejenak sambil melepas penat di kamar kos temannya teman dari teman kami. Tempatnya tidak jauh dari Universitas Muhamadiyah Malang. Malamya kami berjalan-jalan disekitar area kampus UMM saja sambil merasakan suasana tongkrongan di Malang. 

Namun tampaknya untuk suasana tongkrongan, Malang bukan tempat yang begitu cocok, agak sepi dan tempat tongkrongannya juga ga begitu interesting. Makan malam saya mencoba makanan yang dijajakan oleh pedagang kaki lima yaitu tahu telor khas malang, rasanya enak walaupun sebenarnya hanya tahu dan telor yang digoreng bersamaan dengan bumbu kacang diatasnya, harganya cuma Rp. 6000 sudah pakai nasi. 

Didepan tempat kami makan, Universitas Negeri Malang terlihat megah dan luas, seperti yang di iklan-iklan televisi itu. Kami pun menyempatkan berjalan-jalan dikampus UMM, yah not bad, gedung-gedungnya tinggi-tinggi, modern, dan luas, dengan sungai brantas (kalau tidak salah) membelah area kampus tersebut, menambah suasan asri daerah kampus. Kalau Universitas Indonesia punya danau untuk pendukung suasana belajar, UMM punya sungai. 


Entah kenapa belakangan ini setiap kampus berlomba-lomba membangun kampus mereka supaya terlihat Wah dan Megah, untuk kemudian biaya pendidikannya juga bertambah, alih-alih biaya fasilitas yang akan mahasiswa dapatkan. Namun tak jarang juga yang dibangun hanya fisiknya saja, namun kualitas mahasiswanya? Nihil!


Setelah lumayan puas jalan-jalan di Kota Malang. Kasur-pun menanti, dan malam ini tidak terasa sulit bagi saya untuk tidur, karena baru semenit saja memejamkan mata, saya sudah melayang kealam bawah sadar.

Mungkin karena capek setelah seharian jalan terus. Istirahat malam ini merupakan pemulihan energi karena esoknya saya sudah haris fit untuk melanjutkan perjalanan menuju Gunung Bromo, Probolinggo. Ayo rek! Ga ono koe ga rame!


Biaya :  
- Tiket Prameks (Jogja-Solo) Rp. 10.000
- Tiket Matarmaja (Solo-Malang) Rp.65.000
- Angkot dalam kota Malang Rp.3500
- Makan 1x Rp.5.000
- Lain-lain Rp. 10.000


Tips : 
- Bawa bekal sendiri, bawa termos kecil untuk wadah kopi, teh, dll
- Jangan malu bertanya, warga Malang ramah-ramah. 
- Tourist Information ada di dekat Toko Oen dan di Alun-alun Merdeka
- Cari akomodasi gratis lewat teman, jejaring sosial, atau milis backpacker.
- Selanjutnya terserah anda

Informasi Nomor Telepon Basecamp Gunung Indonesia

Basecamp Gunung Merbabu Saat Sunset
Ingin tahu informasi seputar gunung yang hendak kita daki? kan repot kalau sudah jauh-jauh ke basecamp gunung tujuan malah gunungnya ditutup. Berikut beberapa info kontak basecamp gunung yang bisa kawan-kawan hubungi :

G. Slamet :

via Bambangan: 085726000335 (P. Sugeng ) , 085726666912 (Mas Didin),
via Guci : 085643755398 (Mas Uceng)

G. Sindoro : 

081328096081, 08190386023

G. Sumbing :

085868611446

G. Lawu :

085741307298

G. Merapi : 

081329266656 (P. Syamsuri)

G. Merbabu : 

-081325932700 (P. Tono)
-085329720365 (Mas Ando)
-085740540437 (GRABUPALA)

Untuk yang baru belajar naik gunung bisa baca artikel Tips Mendaki Gunung

G. Arjuna-Welirang :
via Tretes, 085856052510 (Basecamp)
via Lawang, 081330787722 (P. Rudi)

G. Argopura :

081336017979 (P. Suryadi)
08113651015 (P. Susiono)

G. Semeru : 

0341787055 (P. Samsul)

G. Raung :

Telp. (0332) 321305 / Hp. 081333862244 (KPW Gunung Raung)

G. Salak :

via Kawah Ratu, 085724995370 (P. Dadang)

G. Gede - Pangrango :

+62263519415 / +62263512776 (TNGGP)
081912021180 (P. Usep)

G. Ciremai :

085724111966 (Basecamp)

G. Rinjani :

(0370) 27851 (Dephut)
(0370) 627764 (Pengelola)
085367588494 (Mas Lihun)

G. Kerinci :

(0748)22250 (Balai Besar TNKS)


Info lain/berikutnya akan di update  

Merlion Park, Tempat Paling Iconic di Singapore


Apa yang sangat wajib dikunjungi bila pergi ke Singapore? Singapore sangat sangat sangat identik dengan patung singa berbadan ikan yang meumuncratkan air dari mulutnya. Patung tersebut bernama Merlion ( "Mer" berarti Laut, "Lion" berarti Singa). Badannya yang berupa ikan melambangkan asal mula Singapore yang dulu bernama Temasek sebagai sebuah desa nelayan. Sementara kepalanya yang berupa Singa melambangkan nama dari Singapura, yang berarti "Kota Singa".


Waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Merlion adalah pada sore hari. Karena bila kesini siang hari bakalan panas banget karena ngga ada atapnya. Selain itu, saat langit sudah mulai gelap, lampu-lampu ajaib dinyalakan, terutama lampu pada Marina Bay Sands yang menyala warna-warni membuat suasana semakin Gorgeous!. Saya kesini pada sore hari naik bus turun di depan Esplanade, Sebuah gedung yang mirip durian. Disekelilingnya merupakan taman yang asri tempat warga Singapore menghabiskan sore hari dengan berolahraga, senam, yoga, dan ngobrol. 

Esplanade, Gedung Durian.
Merlion Park dan Esplanade dipisahkan oleh sungai yang muaranya berada di Merlion Park itu sendiri. Sungainya jangan dibayangkan seperti sungai-sungai di Jakarta yah. Sungai di Singapore itu luar biasa jernih, lebar dan asik buat ngopi dipinggiran saat sore hari sambil ngeliatin amoy-amoy pada joging. Tempat ngopinya bernama Clarke Quay, cukup jalan kaki 20 menit dari Merlion. Dibelakang Merlion ada sebuah bangunan bergaya Eropa bernama Fullerton Hotel, sebuah hotel legendaris di Singapore tempatnya para birokrat elit mengistirahatkan diri. Tak jauh dari Fullerton, sekitar lima menit jalan kaki ada Museum of Asian Civilization.

Fullerton Hotel
Seperti biasa, di Merlion sudah banyak orang dengan kameranya mulai jeprat-jepret sana-sini, termasuk saya. Hari mulai gelap, lampu-lampu mulai dinyalakan, wisatawan semakin ramai. Seperti gembel, saya duduk di sebuah undakan sambil melihat antusiasme wisatawan. Lampu yang berwarna-warni itu tidak menurutkan kesepian saya sebagai solo traveler. Disebuah negeri asing, sendirian tiada yang menemani. Apalagi disebelah saya ikut duduk pasangan kekasih yang dengan khidmatnya berpelukan satu sama lain, hiks. Setelah puas dengan Merlion Park, dengan langkah gontai kesepian (duh, kesannya kok kasihan banget yah) saya memutuskan untuk ngopi-ngopi manja di Clarke Quay, sendirian! 😂😂😂😂


Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca