Full width home advertisement

Jurnal Perjalanan

Post Page Advertisement [Top]


Rasa iri dapat menghampiri siapapun. Baik itu keluarga, teman, tetangga, sampai presiden pun tidak luput dari rasa iri. Jika tidak dihilangkan, rasa iri berkepanjangan justru akan merugikan diri sendiri. Berawal dari tekanan psikologi sampai gangguan kesehatan. Makanya, sebelum terlambat, kita harus menghilangkan rasa iri hati terhadap orang lain.


Dari pengalaman pribadi, cara yang paling ampuh untuk mencegah dan menghindari rasa iri adalah dengan bersikap bodo amat. Ya, bodo amat. Bodo amat ketika teman gajinya dua dijit. Bodo amat kalau teman nikah duluan. Bodo amat teman pamer foto liburan.

Sikap bodo amat ini sudah saya praktekkan jauh sebelum Mark Manson menulis buku 'Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat'. Tepatnya sejak masa putih abu-abu, saya selalu merasa iri ketika teman sekelas mendapat nilai bagus, punya motor, punya hape keren, dll. Sejak itulah saya bersikap bodo amat, untuk menghindari rasa iri yang berlebih.

Jaman dulu saja yang notabene belum ada sosmed kita gampang iri dengan orang lain. Apalagi sekarang? dimana semua orang berlomba-lomba memperlihatkan kebahagiaan dan kesuksesan mereka di sosial media.


Baca juga: Krisis Kepercayaan Akibat Pencitraan Digital Generasi Millenial

Selain bersikap bodo amat, beberapa hal berikut ini juga ampuh untuk menghilangkan rasa iri yang berkecimpung dalam hati.

Ketika kita iri pada seseorang, yang rugi adalah diri sendiri, bukan mereka. Karena iri tidak dapat merubah apapun.
Mereka belum tentu happy beneran

Sering lihat postingan orang lain di sosmed yang bikin kita melirik sebel? Postingan waktu happy-happy. Liburan ke luar negeri (kecuali yang memang pekerjaannya di bidang travel). Makan di restoran mewah. Pamer barang-barang branded.


Semua itu sebenarnya hanya ilusi saja. Tidak mungkin mereka happy terus setiap hari.


Kalau kamu bisa jadi lalat dan terbang kerumah temanmu itu, pasti kamu akan bisa melihat hal-hal yang tidak pernah mereka posting di sosmed. Kegagalan, depresi, stress, kerjaan menumpuk, dimarahi bos, cepirit di celana dan hal lainnya yang tidak mau mereka pamerkan kepada orang lain.


Mereka hanyalah orang biasa yang hidupnya juga penuh derita, sama seperti kita. Jadi kenapa harus iri?


Jauhi iklan


Rasa iri dan rasa ingin memiliki adalah hal yang paling disenangi oleh seorang marketing. Dengan membuat kamu iri, perusahaan berharap kamu akan membeli produknya.


Coba lihat iklan di jalan, di mall, di koran, atau ketika browsing-browsing di internet. Semuanya menawarkan kehidupan yang glamor, bahagia, high class, seolah mengatakan kepada kita bahwa inilah kehidupan ideal yang diidam-idamkan semua umat manusia.


Hal ini membuat kita seolah-olah bisa membeli kebahagiaan melalui produk mereka. Saat kita melihat orang lain memakai produk terkenal itu dan kita merasa iri, maka strategi marketing mereka sudah berhasil.


Jangan terpancing dengan delusi dari iklan-iklan ini, karena kebahagiaan yang hakiki tidak bisa dibeli. Makanya blog ini tidak saya pasangi iklan (karena nggak diterima adsense sih sebenernya :v ).


Buatlah definisi suksesmu sendiri


Pandangan umum kita soal sukses adalah punya rumah gedongan, punya pekerjaan tetap bergaji tinggi, punya gelar sarjana sampai S4, dll. Tapi itu hanyalah definisi umum, dan kamu tidak harus mengikutinya.


Buatlah definisi sukses menurut kamu sendiri. Jika menurutmu bekerja sesuai passion, membantu orang lain, tak putus sholat lima waktu, atau sekedar posting di blog setiap hari bisa membuatmu merasa sukses, ya kenapa tidak?


Hiduplah dengan keyakinanmu, jangan hiraukan perkataan orang lain, bodo amat lah pokoknya.


Benci bikin rugi


Iri dan benci itu manusiawi, tapi jangan sampai malah kamu yang rugi. Kebencian akibat iri justru akan membuat kita tidak produktif karena tidak ada motivasi saat kita mengerjakan sesuatu. Yang ada hanya pikiran benci, benci, dan benci.


Baca juga: Bolehkah Iri Dengan Kesuksesan Teman?


Seharusnya rasa iri bisa kamu jadikan motivasi supaya kamu bisa lebih baik dari orang yang membuatmu iri. Lagipula, ketika kamu iri kepada orang lain, yang rugi ya kamu sendiri, orang lain mah bodo amat.


Nasibmu ya salahmu sendiri


Terkadang ketika kita iri, kita akan menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain akan nasib yang menimpa diri sendiri. Kita menjadi benci dengan orang lain karena menganggap mereka ikut andil dengan nasibmu sekarang ini.


Tidak begitu, Ferguso. Nasibmu ya salahmu sendiri. Keadaan kita sekarang adalah hasil kumpulan dari tindakan-tindakan dan pilihan-pilihan kita sebelumnya. Jadi berusahalah bertanggung jawab dan terimalah kenyataan, tidak usah iri dengan orang lain.


Mereka sukses ya karena mereka melakukan tindakan dan pilihan yang membuat mereka sukses. Kamu menuai apa yang kamu tanam, Ferguso.


Stop dreaming, start action!


Saya tahu kamu iri dengan orang lain karena mereka itu lebih sukses darimu. Tapi pernahkah kamu berpikir bagaimana usaha mereka untuk mencapai kesuksesan itu? Ya mungkin ada beberapa orang yang mencapai kesuksesan dengan cara curang. Maka dari itu, stop melihat orang lain dan mulailah bekerja untuk mewujudkan keinginanmu.


Waktumu akan habis terbuang jika kamu hanya menghabiskan waktu stalking dan ngeghibah kesuksesan orang lain.


Bersyukur!


Kita iri karena kita terlalu sering melihat ke atas. Cobalah sekali-sekali lihat kebawah, masih banyak orang yang nasibnya jauh dibawah kita.



Hilangkanlah rasa iri, lihatlah kelebihan diri, berbahagialah dengan keadaan saat ini. Karena, hidup akan lebih berarti jika kita bisa mensyukuri karunia Illahi.


Pembaca –  apakah pernah merasa iri atau frustasi dengan kesuksesan orang lain? dan apa yang kamu lakukan untuk menghadapinya?


Satu permintaan kecil:

Jika artikel ini bermanfaat, share juga kepada teman-temanmu di sosmed supaya tak ada lagi rasa iri menghinggapi time line kita.
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

14 komentar:

  1. memang sih, sosmed itu bikin iri bener tap serah deh, ya orang kan punya kehidupan masing-masing. kalau aku sedang sebel sih paling mute tuh akun yang bikin panas terus kalau udah adem unmute lagi.
    btw berapa kalikah ditolak si google adsense? wkwkwk.
    sudah hampir setahunan ini mencoba hidup sederhana, mengurangi sampah dll dan baru tahu juga kalau ada juga tren minimalism, baru sadar juga sih kalau beberapa hal sudah diterapkan. entah karena terpaksa atau memang benar-benar ga mampu hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaudah ayo kita minimalisir penggunaan sosmed, cukup pake sosmed but share postingan blog ajam haha. aduh, udah tak terhitung berapa kali di tolak adsense hend, dan aku ngga tau dimana salahku. Aku selalu salah dimata adsense , huhu

      Hapus
  2. Terkadang sih pernah berpikiran seperti itu, tapi makin iri makin sedikit rejeki yang kita dapat.,. lebih baik bersyukur lah atas apa yang ada

    BalasHapus
  3. Syukurnya saya adalah orang yang bodo amat nya kebangetan. Asli, istilahnya sih nggk peduli banget sama2 kehidupan orang di luar. Memang sih, media sosial yang jadi godaan terbesar kita buat nahan2 diri supaya nggk iri. Menurut saya sih sibukin diri aja sama hal2 yang bermanfaat dan sibukin diri buat perkembangan pribadi

    BalasHapus
  4. Kalau aku sih selalu iri dengan orang yang berhasil. Tapi rasa iri tersebut aku jadikan motivasi agar aku bisa seperti mereka yang berhasil. Artinya, yang tidak baik, bisq dijadikan hal positif kan

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, apalagi yang berjuang bersama2 tapi dia duluan yang lebih berhasil. Kita harus bisa lebih bercermin diri

      Hapus
  5. Saya juga harus bersikap bodo amat nih mulai sekarang

    BalasHapus
  6. Iya kadang sih suka iri tapi sekarang jangan

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah saya jarang banget ngiri seringnya nganan. Karena kanan terminal kiri polres purbalingga

    BalasHapus

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib