Tampilkan postingan dengan label Travel Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travel Stories. Tampilkan semua postingan

Danau Ranau, Dilema Tempat Wisata di Pedalaman

Anak-anak sedang berada di atas perahu untuk mencari ikan di Danau Ranau

Matahari mulai menghangat, perjalanan saya menuju Danau Ranau di Sumatera Selatan akhirnya dimulai. Danau Ranau merupakan danau terbesar kedua di Indonesia (menurut volume airnya), setelah danau Toba. Tetapi walaupun merupakan danau terbesar ke dua, danau ini tidak begitu dikenal oleh masyarakat, khususnya para wisatawan.

Tukang ojek saya, pak Juki, memacu motor bebeknya seperti seorang pembalap profesional. Tanpa ragu dia melibas jalanan pegunungan yang naik turun dan berliku.

Pak Juki bermanuver dengan sangat lihai, bergerak zig-zag menghindari lubang, yang amat banyak. Selain banyak, lubang-lubang itu juga besarnya tidak tanggung-tanggung. Yang paling besar mungkin sampai selebar bodi truk.

Baca cerita sebelumnya:

Pemandangan sepanjang jalan hanyalah hutan hujan tropis dengan pohon-pohonnya yang tinggi lebat. Pada satu bagian jalan, saya melihat plang yang berbunyi 'Kawasan Hutan Lindung'.

Ternyata hutan di Ogan Komering Ulu Selatan ini termasuk kedalam kawasan hutan lindung Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Sekedar info, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan tempat tinggal bagi tiga jenis mamalia besar yang paling terancam di dunia yaitu gajah Sumatera, badak Sumatera, dan harimau Sumatera.


Jalan terus menanjak, membawa kami sampai di atas sebuah bukit. Dari sini saya dapat dengan lebih jelas melihat betapa luasnya kawasan hutan lindung ini. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah hutan, hutan, dan hutan.

Ada sebuah gunung yang terlihat menyembul di antara rimbunnya pepohonan. Setelah saya tanyakan kepada pak Juki, ternyata gunung itu bernama Gunung Seminung.

"Itu gunung banyak kisahnya lho mas, gunung legendaris." jelas pak Juki kepada saya sambil sedikit menolehkan kepalanya ke belakang.

"Kisah apa pak?" Tanya saya dari belakang, sedikit berteriak.

"Anu, tentang pertarungan Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat, pernah dengar tak mas?" Jawab pak Juki juga sambil berteriak, tak mau kalah oleh bising deru udara yang bertabrakan dengan kencangnya laju motor.

Gunung Seminung tampak anggun di lihat dari kejauhan
Gunung Seminung, gunung antar provinsi.

Kedua pendekar ini, Pahit Lidah dan Mata Empat adalah tokoh legenda yang sangat dikenal oleh penduduk Ogan Komering Ulu Selatan.

Konon pada jaman dulu, entah jaman kapan, keduanya bertarung di Gunung Seminung. Tetapi, bukan pertarungan dahsyat seperti di film laga, melainkan pertarungan adu ketangkasan yang berakhir dengan tewasnya kedua pendekar ini.

Baca selengkapnya Legenda Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat

Gunung Seminung sendiri merupakan 'gunung antar provinsi'. Satu sisi berada di Sumatera Selatan, satunya lagi berada di Lampung. Begitu juga dengan Danau Ranau.

Danau Ranau

Kecamatan Banding Agung yang tepat berada di Danau Ranau
Danau Ranau sudah terlihat dari kejauhan.

Motor bebek pak Juki yang dari tadi terus meraung-raung melawan gravitasi, akhirnya bisa bernafas lega. Curamnya tanjakan berganti menjadi turunan, yang tak berkesudahan.

Motor melaju hampir tanpa suara mesin. Pak Juki hanya memainkan pedal remnya saja. Yang terdengar hanyalah suara 'srak srek srak srek' rantai motor.

Danau Ranau mulai terlihat. Airnya biru berkilauan. Rumah panggung khas Sumatera Selatan mulai berjejeran di sepanjang sisi jalan.

Sayangnya, jejeran rumah panggung itu perlahan-lahan berubah menjadi deretan ruko.

"Sudah sampai Kecamatan Banding Agung ini mas, itu pasarnya, nanti lurus terus sampailah kita di danau. Mau mampir mas?" Tanya pak Juki.

"Tentu saja." Jawab saya, singkat, padat, dan jelas. Dengan mata yang berbinar-binar.

Kami melewati jalan pasar yang banyak terdapat lapak pedagang ikan. Tentunya ikan yang di jual adalah ikan air tawar hasil tangkapan dari Danau Ranau seperti mujair, kepor, kepiat, dan harongan. Semua ikan yang dijual disini terlihat masih sangat segar.

"Pak, cari warung kopi dulu ya, kita istirahat sebentar." 

Setelah berputar-putar mencari warung kopi yang pemandangannya pas, akhirnya kami mendarat juga di sebuah warung kopi kecil di pinggiran Danau Ranau.

Nelayan terluhat sedang menjala ikan di Danau Ranau
Nelayan Danau Ranau sedang mencari ikan.

Kami masing-masing memesan segelas kopi hitam dan sepiring mie goreng telor. Menikmatinya sambil memandang Danau Ranau, seketika makanan yang rasanya biasa saja jadi luar biasa. 

Inilah alasan kenapa banyak restoran dan cafe menggelontorkan banyak modal untuk menata interiornya supaya enak di pandang mata. Karena, selain rasa dari makanan itu sendiri, ada faktor lain yang membuat makanan akan terasa lebih nikmat dan membuat customer kembali lagi, yaitu lingkungannya. Lingkungan yang bersih dan indah.

"Kok sepi ya pak?" Tanya saya kepada pak Juki karena heran kok tempat seindah ini sepi pengunjung. 

"Ya beginilah mas, kan tadi liat sendiri kondisi jalannya bagaimana, terus juga selain danau, tidak ada apa-apa disini mas. Ya, cuman warung-warung beginian lah." Jawab pak Juki sambil menyeruput kopi lalu disusul dengan suara "Puaah...mantap."

Dilema Tempat Wisata di Pedalaman

Silau euy!

Secara geografis, topografi danau Ranau adalah perbukitan yang berlembah. Hal ini menjadikan Danau Ranau memiliki cuaca yang sejuk.

Tepat di tengah danau terdapat pulau yang bernama Pulau Marisa. Di sana terdapat sumber air panas dan juga air terjun.

Sayangnya saya tidak sempat menunjungi Pulau Marisa karena terbatasnya waktu.

Meski dikenal memiliki keindahan yang memanjakan mata. Danau Ranau masih saja sepi pengunjung, salah satunya karena minimnya fasilitas sarana dan prasarana yang ada.

Saya tidak melihat keberadaan hotel. Pak Juki bilang hanya ada beberapa penginapan kecil, itu pun lokasinya berada jauh di ujung sana.

Untuk mendongkrak wisata Danau Ranau, pemerintah setempat sudah menyelenggarakan sebuah event bertajuk 'Festival Danau Ranau' yang diadakan setiap bulan desember, tetapi tetap saja tidak banyak menarik wisatawan.

"Ramainya kalau pas festival mas, bisanya penginapannya penuh, yang tidak kebagian bisa menginap dirumah warga." Katanya.

Selain itu, sarana penunjang lain seperti mesin ATM dan wahana atraksi wisata juga tidak ada. Paling atraksi wisatanya hanya naik kapal ke Pulau Marisa.

Ada juga kegiatan rafting yang bermula dari arah hulu danau Ranau, tetapi tidak aktif karena sepi pengunjung.

Foto pulau marisa dari blognya omnduut. Kalau pembaca penasaran dengan Pulau Marisa. Silahkan kunjungi tulisan omnduut.com tentang Pulau Marisa.

Tetapi menurut saya faktor yang paling membuat Danau Ranau sepi pengunjung adalah aksesibilitasnya.

Jauhnya lokasi danau Ranau yang berada di pedalaman Sumatera Selatan membuat wisatawan enggan datang.

Bayangkan, untuk menuju danau Ranau dari Palembang membutuhkan waktu lebih dari 10 jam. Sementara jika dari Lampung, untuk menuju danau Ranau harus ditempuh selama kurang lebih 7 jam.

Wisatawan mana yang mau menghabiskan waktu liburan berharganya hanya untuk dihabiskan di dalam travel yang sempit?

Fenomena Bentilehan

Warga menjaring ikan yang mabok karena belerang di Danau Ranau
Ilustrasi warga menjaring ikan mabok belerang di Danau Ranau.

Di danau Ranau terdapat sebuah fenomena alam yang oleh penduduk setempat disebut dengan 'Bentilehan'. Yaitu fenomena menguapnya belerang di dasar danau setiap beberapa tahun sekali yang mengakibatkan ikan-ikan didalamnya pada mabok bahkan mati.

"Wah kalau ada bentilehan nelayan pada senang itu mas, ikan gratis, pada ngapung di danau." Kata pak Juki, sambil mengacungkan tangannya ke arah danau.

Fenomena bentilehan ini di awali dengan warna air danau yang sebelumnya biru kehijauan berubah menjadi hitam kecoklatan diiringi dengan aroma Belerang yang menyengat.

Belerang berasal dari Gunung Seminung dan fenomena ini memang sudah sudah sering‎kali terjadi, khususnya saat memasuki musim panas dan terjadi perubahan cuaca. 

Jika terjadi bentilehan, puluhan warga dan nelayan serta anak-anak, setiap harinya pasti berbondong-bondong datang ke tepian Danau Ranau dengan membawa peralatan seperti jaring dan sebagainya untuk menangkap ikan dan udang yang mabok itu.

Melanjutkan Perjalanan

Tak terasa kopi di cangkir kami sudah habis. Ingin rasanya menambah satu cangkir lagi tapi tidak enak sama pak Juki yang masih harus pulang ke Muara Dua setelah mengantarkan saya. 

Saat mau membayar, saya melihat di meja kasir ada beberapa bungkusan kopi dengan cap 'Ranau'. 

Kopi robusta khas Danau Ranau Sumatera Selatan
Kopi asli dari perkebunan kopi sekitar Danau Ranau. Bisa untuk oleh-oleh.

"Ini kopi asli daerah sini pak?" tanya saya kepada bapak warung.

"Iya asli sini, kopi murni tanpa campuran, itu yang tadi diminum kamu. Mantap kan rasanya?" Jawab bapak warung sambil nyengir. 

Daerah Ogan Komering Ulu Selatan memang terkenal sebagai daerah penghasil kopi robusta terbaik. Sehingga tidak heran jika daerah disekitar Danau Ranau juga merupakan daerah perkebunan kopi karena adanya danau membuat tanah disekitarnya subur dan berlimpahan air. 

Setelah membeli dua bungkus kopi ranau, satu bungkus 250 gram harganya Rp. 20.000, saya melanjutkan perjalanan menuju Desa Galang Tinggi.

Sebuah desa di hulu Danau Ranau yang juga merupakan desa penghasil kopi dimana mayoritas penduduknya adalah suku Semendo yang diselingi oleh transmigran dari Jawa. 

Simak terus cerita saya di pedalaman Sumatera Selatan ya. (Bersambung)

Luti Gendang, Makanan Khas Anambas Yang Rasanya Nendang!

Makan luti gendang sambil ditemani kopi hitam

Luti Gendang, selain masyarakat Kepulauan Riau, sepertinya tak banyak yang tahu keberadaan makanan teman ngopi paling nikmat ini. Saya sendiri baru tahu ketika kemarin malam teman saya membawa Luti Gendang saat nongkrong di warung kopi.


Bentuknya bulat lonjong, warnanya coklat, dan ketika digigit, "kresss", renyahnya kulit luti gendang berpadu nikmat dengan lembutnya roti di dalam yang berisi abon ayam atau ikan tongkol. 

Luti gendang makanan khas anambas dengan isian abon ayam
Abon ayamnya enak, apalagi ditambah dengan seruputan kopi hitam, beuh!

Abon ayam dan ikan tongkol adalah isian Luti Gendang yang asli, alias original. Sekarang sudah banyak isian lainnya yang lebih modern seperti Luti Gendang isi keju, coklat, green tea, dll.

Kalau teman-teman ada yang berlibur ke Provinsi Kepulauan Riau, terutama Pulau Batam, bolehlah kalian membawa Luti Gendang khas Anambas ini sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di rumah. Harga satu bijinya murah kok, hanya Rp. 3500 saja.

Asal Usul Luti Gendang - asli Kepulauan Anambas, bukan Batam

Foto kota kecamatan tarempa kabupaten kepulauan anambas
Kecamatan Tarempa, Pusat Kepulauan Anambas

Jadi, beberapa waktu lalu salah satu toko oleh-oleh di Batam mengklaim bahwa Luti Gendang ini adalah oleh-oleh makanan khas Batam. Sontak saja, Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Kepulauan Anambas memprotesnya, karena Luti Gendang itu merupakan makanan asli Kepulauan Anambas.

Batam sendiri sebenarnya tidak punya makanan khas apapun karena Batam adalah kota dengan kebudayaan es cendol, alias campur aduk. Masing-masing suku budaya yang ada di Batam membawa makanan khas dari daerahnya sendiri-sendiri, termasuk pendatang dari Anambas.

'Luti' diambil dari cara khas lidah orang Tionghoa setempat dalam menyebut kata 'roti'. Sedangkan, kata “gendang” digunakan karena bentuknya lonjong seperti alat musik tabuh gendang. Sehingga jadilah Luti Gendang.

Luti Gendang merupakan makanan yang biasa di santap masyarakat Anambas di pagi hari sebagai teman ngopi atau ngeteh. Tidak hanya di Tarempa (pusat Kepulauan Anambas), luti gendang ini juga sudah tersebar diseluruh desa di Anambas.

Luti Gendang sudah menjadi budaya masyarakat Anambas, jadi sangat di sayangkan jika makanan khas Anambas ini di akui oleh daerah lain.

bawah resort anambas yang sungguh cantik dilihat dari atas
Pulau Bawah, salah satu resort paling laris di Kepulauan Anambas.

Kabupaten Kepulauan Anambas sendiri berada di Laut Natuna Utara dan memiliki perbatasan dengan sejumlah negara. Sebagai kabupaten terluar, kabupaten yang terdiri dari 260 pulau ini mempunyai pesona tak kalah dengan Raja Ampat yang telah dikenal seantero dunia.

Untuk mencapai salah satu pulau terluar di Provinsi Kepulauan Riau ini kalian bisa menggunakan kapal ataupun pesawat dari Batam.

...

Saya sendiri belum berkesempatan untuk mengunjungi Kepulauan Anambas, padahal pulau ini pemandangannya sangat cantik. Ingin rasanya menikmati Luti Gendang di tempat asalnya sambil menikmati indahnya pantai yang ada di Anambas.

Semoga suatu saat saya bisa mengunjungi anambas, amiin.

Pembaca, Tolong di amin-kan juga dooong, hahaha

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua


"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon beliau di boarding room bandara Adisoetjipto sambil menunggu pesawat langganan yang tak kunjung datang.

Potret Kehidupan Masyarakat Sumba - Sebuah Asa Ditengah Keterbatasan



Siang itu matahari bersinar sangat terik. Keringat mengucur deras bak air terjun. Saya berteduh di beranda sebuah rumah panggung yang terletak di tengah sabana padang rumput pulau Sumba. Tepatnya di daerah Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya.

Menikmati Birunya Air Laut Pantai Mirota Batam


Lanjutan dari Menghabiskan Malam Tahun Baru di Pantai Mirota

Sekitar jam tiga pagi saya tertidur beralaskan tikar di atas pasir Pantai Mirota. Baru saja tidur beberapa jam saya terbangun karena kaki saya berasa menyentuh air, eh ternyata air laut sudah naik ke pantai.

Matahari sudah menerangi Pantai Mirota dan memberi warna pada air laut yang tadinya hitam sekarang berubah jadi biru cerah. Mungkin tadi laut membangunkan saya untuk mengajak saya bersenang-senang dengannya.

Bersantai pakai hammock emang paling pas dilakukan di pantai. 

Mata masih mengantuk, sambil terhuyung-huyung saya menuju ke dapur camp, wah ternyata sudah ada yang berbaik hati membuatkan kopi satu ceret penuh. Sungguh nikmat mana lagi yang kau dustakan, minum kopi di pagi hari sambil memandang birunya air laut. beuh!
Baca juga: Pantai Paling Ujung di Deretan Pulau Batam Barelang
Pandangan saya teralihkan dengan laju kapal motor kecil yang perlahan-lahan mendekati bibir pantai dan tidak lama kemudian berlabuh. Pengemudi kapal yang seorang bapak-bapak paruh baya menghampiri kami.

"Mau naik kapal keliling laut dek? murah saja, murah" kata dia menawarkan jasanya kepada kami yang nyawanya masih setengah ini.

"Berapa pak?" seloroh salah satu teman saya.

"Seratus ribu dek, satu kapal, boleh isi sepuluh orang" jawabnya.

"kurang-kurangi lah pak, tak ada duit kita ini, tujuh puluh dapat lah" tawar temanku, ahli sekali dia kalau soal tawar menawar.

"oke lah, ayo naik. Sepuluh orang maksimal ya dek" jawab bapak itu dengan muka tersenyum lebar. Penglaris awal tahun.

Selesai membawa kami, bapak kapal tadi langsung dapat penumpang lagi. Semoga selalu laris pak. 

Kami bersepuluh naik kapal menyusuri bibir Pantai Mirota sampai ke pantai-pantai sebelahnya. Jarak antar kapal dengan permukaan air laut cukup dekat sehingga saya agak khawatir kalau-kalau kapal ini overload.

Sepanjang perjalanan, hijaunya buit-bukit di sebelah kiri kapal berpadu apik dengan birunya air laut hari ini yang membuat laut tampak berwarna cyan, yaitu warna biru kehijauan yang mampu menyegarkan mata siapa saja yang memandangnya.

Camping menghadap birunya air laut dan perbukitan hijau di Pantai Mirota 

Kami mengelilingi laut sekitar dua puluh menit saja. Sebenarnya agak kurang puas sih. Ingin rasanya berlama-lama di atas laut dan berlagak layaknya seorang pelaut tangguh.

Setelah kapal berlabuh, kami langsung melompat kelaut dan berenang-renang cantik. Laut di Pantai Mirota aman untuk berenang karena lautnya cukup dangkal sampai sekitar 50 meter dari bibir pantai dengan ombak yang tenang, tidak terlalu besar. Bapak-ibu, kakak-adek, dewasa-anak bisa berenang di kolam renang alami yang luas ini.
Baca juga: Pantai Nongsa Akan Lebih Indah Jika Tanpa Sampah
Pantai Mirota terlihat sempit karena di pagi hari air lautnya naik. Kalau sedang surut bisa buat main futsal. 

Pagi itu kami habiskan waktu sampai tengah hari bermain-main di Pantai Mirota, ada yang berenang, memancing, susur pantai, bermalas-malasan, dan aktivitas mengasyikan lainnya.

Jadi kalau pembaca berkunjung ke Batam, sempatkanlah sejenak mengunjungi Pantai Mirota ini karena pantai ini berada dekat dengan kawasan wisata favorit Batam lainnya seperti Camp Pengungsian Vietnam, Pantai Cakang, Jembatan Barelang, dll.

Tonton juga videonya di youtube, biar makin tahu gimana indahnya Pantai Mirota, Batam

Malam Tahun Baruan di Pantai Mirota, Batam

 
Batam mungkin belum jadi destinasi wisata favorit di Indonesia karena lebih terkenal sebagai kota industri, bukan kota wisata. Tapi sebenarnya untuk pecinta wisata pantai, Batam punya banyak sekali pilihan pantai yang indah, salah satunya adalah Pantai Mirota.

Selayang Pandang di Belakang Padang, Mencoba Teh Tarik Ter-Enak Sampai Keliling Pulau Naik Becak


Di sebelah utara Pulau Batam, berbatasan langsung dengan Singapura terdapat sebuah pulau kecil yang terkenal dengan teh tarik yang katanya paling enak di seluruh Kota Batam. Nama pulau ini adalah Pulau Belakang Padang.

Eits, walaupun namanya Belakang Padang, tapi nggak ada hubungannya dengan Kota Padang di Sumatera Barat yah.

Knalpot, Industri Kebanggaan Masyarakat Purbalingga


Buat yang hobi otomotif, pasti sudah tidak asing lagi dengan knalpot buatan Purbalingga. Purbalingga selain terkenal dengan Pendakian Gunung Slamet juga terkenal dengan industri knalpotnya.

Ziarah Kuburan Belanda, Kerkhof 'Stana Landa' Purbalingga


Yang ada di depan saya ini merupakan batu nisan dari seorang bayi berumur satu tahun bernama Wilhelmine Hoff lahir 1893, meninggal 1894. 

Mungkin meninggal karena sakit, dan yang jelas orangtuanya pasti lah sangat sedih dengan kepergian anak bayinya itu sehingga untuk mengenangnya dibuatlah batu nisan yang cukup mewah berbentuk tugu kecil yang langsung menarik perhatian saya ketika memasuki area kerkhof ini.

Jogja Sebagai Destinasi Wisata Kopi, Kenapa TIdak


Siapa sih yang belum pernah minum kopi? Saya yakin 100% pembaca artikel ini pasti pernah ngopi walau hanya satu seruputan saja.

Dari Sabang sampai Merauke, dari Gayo sampai Wamena, kopi seperti sudah menjadi nadi-nadi kehidupan masyarakat Indonesia. Sudah mendarah daging dan sulit untuk dipisahkan dari keseharian masyarakat.

Waikelo Sawah - Air Terjun Dari Dalam Gua



Pulau Sumba memang unik. Pulau ini menyajikan paket wisata lengkap. Dari pantai-pantainya yang indah dan eksotis, budayanya yang unik, arsitektur rumahnya yang menarik, alam hutannya yang masih asri, sampai air terjunnya yang keren-keren.

Menikmati Sore di Candi Sambisari Yogyakarta


Candi Sambisari, tidak banyak wisatawan dari luar kota Jogja yang mengenal nama dari candi yang dibangun pada abad ke-9 ini. Candi Sambisari dibangun pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung pada zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Stasiun Maguwo Lama Yogyakarta, Kecil nan Bersahaja


Tak banyak yang mengetahui keberadaan salah satu bangunan saksi sejarah kota Jogja ini. Bangunan tua berwarna dominan putih abu-abu dengan gaya arsitektur khas indische berdiri anggun di pinggir rel kereta api yang membujur, membelah Desa Maguwoharjo, Sleman, DI Yogyakarta.

Taman Tebing Breksi Jogja? Biasa Saja


Pesona wisata Yogyakarta memang tidak akan pernah habis. Selalu saja ada inovasi wisata yang baru dan menyegarkan. Dulu jaman awal saya kuliah, yaitu tahun 2008, pantai, goa, dan air terjun di Gunung Kidul masih sedikit sekali yang tahu akan keindahannya.

Jika tidak ada kuliah lapangan tentang Geografi Fisik di Gunung Kidul pasti saya tidak akan tahu indahnya alam Gunung Kidul. Jauh sebelum hebohnya sosmed, waktu jamannya friendster, obyek wisata yang sekarang hits di instagram bahkan belum ada wujudnya, belum direncanakan.


Seiring berkembangnya fitur pada platform sosial media dan semakin banyaknya pengguna sosial media maka pesona wisata yang ada di daerah semakin naik kepermukaan. Tempat-tempat yang potensial sebagai obyek wisata segera digarap baik oleh pemerintah maupun pengelola swasta. 

Akhirnya, mulailah banyak bermunculan obyek wisata baru di Yogyakarta, salah satunya adalah Taman Tebing Breksi (TTB) di Pedukuhan Nglengkong, Groyokan, Sambirejo, Prambanan.

Panggung pertunjukan dibawah Tebing Breksi.
Obyek Wisata ini termasuk obyek wisata baru. Awalnya, tebing kapur ini merupakan salah satu sumber mata pencaharian warga. Warga mendapatkan penghasilan dari menambang kapur yang ada di tebing ini.

Namun mulai tahun 2014, oleh pemerintah, penambangan dihentikan karena setelah dilakukan penelitian, di lokasi ini terdapat singkapan batuan endapan debu Gunung Api Purba yang membentuk morfologi bukit. Ternyata batuan kapur breksi di Pedukuhan Nglengkong ini merupakan endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran, di Gunung Kidul. 

Dari penelitian tersebut, akhirnya pemerintah memutuskan bahwa kawasan Tebing Breksi ini masuk dalam cagar alam dan harus dilestarikan. Sama halnya dengan keberadaan Gunung Api Purba Nglanggeran. Pada tahun 2015, sebuah Prasasti yang ditandatangani langsung oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X semakin mengukuhkan status Tebing Breksi sebagai Cagar Alam.

Dua tebing yang gagah ini seakan tampil sebagai pintu masuk.
Biasa Saja?

Saya sebenarnya sudah sering mendengar dan melihat keindahan Taman Tebing Breksi dari feeds yang ada di timeline sosmed saya. Tampak Foto-foto tebing batu putih menjadi background foto yang indah di timeline para pejalan hits yang ada di Instagram, terlepas apakah foto tersebut di edit atau tidak. 

Hingga pada suatu hari masuk sebuah chat di whatsapp dari seorang teman yang mengajak saya untuk ke Candi Ijo yang langsung saya iyakan. Sebenarnya tujuan utama saya adalah Menikmati Sunset di Candi IJo. Tapi karena lokasinya satu jalur dan berdekatan dengan Taman Tebing Breksi, jadinya kami putuskan untuk mampir sekalian ke TTB. Soalnya saya juga penasaran dengan foto-foto indah dengan background Tebing Breksi yang bertebaran di Instagram, seperti apakah wujud aslinya.

Bagian Tebing yang diukir oleh seniman lokal dan menjadi salah satu spot foto favorit pengunjung.
Memasuki Jalan ke Tebing Breksi saya disambut oleh debu, dan segerombolan bapak-bapak tukang parkir yang ramah menyapa. Parkir untuk motor Rp. 2000, sedangkan untuk mobil Rp. 5000. Untuk tiket masuknya kita wajib bayar namun cukup seikhlasnya saja, tidak dipatok tarif.

Area parkiran saat itu sangat berdebu. Tidak hanya di area parkiran saja namun di wilayah obyek wisata ini kondisinya cukup berdebu, mungkin dikarenakan musim kemarau. Masker adalah wajib! namun sayang sekali saya tidak membawa masker. 

Sebuah tebing putih berdiri gagah, namun tidak seindah seperti yang saya lihat di foto. Menurut saya pribadi, lebih mirip area tambang. Ya, memang dulunya tebing ini kan area tambang. Sebuah area tambang yang 'dihias'. Tampaknya, mulai sekarang saya tidak akan percaya begitu saja dengan foto-foto indah yang ada di Internet. 

Pengunjung berfoto bersama burung hantu malang yang tampak stres.
Berjalan menapaki tangga tebing, saya menjumpai beberapa burung hantu dan elang yang tampak stress. Beberapa pengunjung tampak antre untuk berfoto dengan burung malang tersebut. Tembok tebing disebelah kiri saya diukir sedemikian rupa sehingga bergambarkan tokoh wayang. Tebing berukir ini yang menjadi salah satu spot foto terbaik buat para pengunjung, kesampingkan dulu debu silica yang bisa mengganggu pernafasan. 

Semakin naik keatas, saya akhirnya sampai di puncak tebing yang ditumbuhi beberapa pohon-pohon kecil sebagai penghijau area yang gersang ini. Tebing ini berhadapan langsung dengan sunset, sehingga bisa menjadi salah satu spot untuk menikmati sunset di Jogja. 

Puncak tebing breksi menjadi salah satu spot untuk menikmati sunset di Jogja
Karena merasa 'biasa saja', saya akhirnya turun, dan menuju ke area foodcourt yang berdebu. tidak jajan apa-apa, hanya penasaran saja. Terlihat masih ada beberapa orang yang masih menambang di Taman Tebing Breksi ini.

Mungkin hanya sekitar setengah jam saja saya berada di Taman Tebing Breksi ini. Selanjutnya saya akan menuju ke Candi Ijo, spot terbaik menikmati sunset di Yogyakarta. Kesan saya di Tebing Breksi? biasa saja, seperti sebuah obyek wisata yang dipaksakan. Semoga kedepannya Taman Tebing Breksi bisa lebih baik dan mampu memberikan atraksi wisata yang berkesan bagi pengunjungnya sehingga membuat mereka mau untuk kembali lagi kesini. Mungkin bisa dimulai dengan memperbanyak pepohonan dan memberikan masker gratis. 

Bagaimana menurut kamu?


Burung hantu yang malang.

Mereka sedang menambang atau membangun?

Piknik keluarga di Puncak Tebing Breksi sambil menikmati sunset.

Mengintip Singapura Dari Pantai Tanjung Pinggir, Batam


Kapal-kapal tanker tampak terapung tak bergerak, disebelahnya, sebuah kapal ferry melaju kencang menerabas angin, memecah ombak. Sementara dibelakangnya, siluet gedung-gedung pencakar langit tampak menjadi pembatas horizon sebuah laut yang sedang saya pandangi, sambil sesekali menyipitkan mata karena angin yang berhembus membawa serpihan-serpihan kecil pasir pantai membuat mata saya kelilipan.

Bayang-bayang gedung bertingkat dari seberang tampak mengintimidasi pulau kecil ini, walaupun sebenarnya gedung diseberang sana juga berdiri diatas pulau yang sama kecilnya.

Namun jika posisinya saya balik, mungkin pemandangan yang terlihat dari seberang bukanlah siluet gedung bertingkat, melainkan gundukan hitam tak berbentuk. Sebuah perbedaan signifikan yang hanya dipisahkan oleh jarak sekian puluh kilometer. 

Siluet Singapura dari Pantai Tanjung Pinggir
Begitulah kiranya yang saya rasakan ketika melihat Kota Singapura dari Pantai Tanjung Pinggir, Sekupang, Batam. Selain menawarkan pasir cokelat dan ombak yang tenang, Pantai Tanjung Pinggir juga menawarkan atraksi melihat siluet kota Singapura. 


Pantai ini cukup bagus, garis pantainya lumayan panjang dengan pasir yang berwarna putih kecoklatan. Pasirnya tampak halus, dan memang halus saat saya tapaki dengan kaki telanjang. Cukup bersih, hanya ada sedikit sampah plastik yang terlihat, mungkin dibuang sembarangan oleh 'monyet-monyet' nakal yang berkunjung kesini.


Dibelakang garis pantai banyak tumbuh pohon-pohon rindang yang bisa digunakan sebagai peneduh saat matahari terlalu menyengat panasnya. 


Saya menyusuri garis pantai dari timur ke barat. Pasir cokelat yang halus perlahan berganti menjadi batu karang cokelat yang kasar dan tajam. kaki telanjang saya sekarang tidak telanjang lagi, takut kesuciannya terenggut oleh karang-karang yang tampak horny.


Menyusuri jalanan berkarang ini mengantarkan saya pada sebuah hutan mangrove yang dipisahkan oleh selat kecil, mustahil untuk menyeberanginya maka saya balik lagi ke pantai.


Warung dibawah sebuah pohon besar yang teduh mendadak menjadi tempat favorit saya di pantai ini. Air es kelapa muda membasahi kerongkongan saya yang sedari tadi kehausan karena lupa tidak membawa air minum.


Tidak banyak pengunjung sore ini, hanya ada beberapa keluarga dan pasangan muda-mudi yang tampak mewarnai background cokelat Pantai Tanjung Pinggir.


Oya, Pantai Tanjung Pinggir juga aman untuk mandi-mandi manja karena ombaknya kecil dan laut pantainya dangkal, tapi jangan berenang terlalu jauh.


Overall, Pantai Tanjung Pinggir worthed untuk dikunjungi jika kamu berlibur ke Batam, terutama bila arrived dari Pelabuhan Sekupang.


Jarak dari Pelabuhan Sekupang ke Pantai Tanjung Pinggir hanya sekitar 5 km. Disekitar pantai juga terdapat beberapa resort yang siap memanjakan liburan anda di Batam. Selamat berlibur!



Pohon horizontal ini menjadi spot foto paling hits di Pantai Tanjung Pinggir, Batam.

Hutan mangrove yang tengah terendam air pasang.

Piknik beneran nih, gelar tiker, bawa makanan sendiri dan menikmati indahnya Pantai Tanjung Pinggir bersama keluarga tercinta.

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca