Jumat, 06 November 2015

Tips Mendaki Gunung Bagi Pemula


Buat para petualang atau calon petualang (Newbie, seperti saya) pasti ada kalanya perjalanan kita mengarah ke pendakian sebuah gunung, baik itu karena ada suatu event, ataupun atas ajakan teman-teman petualang kita. Nah, repotnya, buat yang baru pertama kali naik gunung pasti bingung apa yang harus disiapkan dan bagaimana pula menyiapkannya. Sebenernya mendaki gunung itu simple saja persiapannya. Yang kita butuhkan disaat mendaki gunung adalah : Informasi, Fisik , Kesehatan, Keamanan, Kenyamanan.

Senin, 19 Oktober 2015

Merumput di Pantai Pero, Sumba Barat Daya



Kota kecil yang bernama Kodi, sebelumnya sudah saya ceritakan di post tentang Danau Weekuri, mempunyai banyak sekali obyek wisata yang belum dikelola dengan baik oleh pemerintah setempat, padahal potensinya sangat bagus sebagai obyek pariwisata. Kali ini saya mengunjungi sebuah pantai yang masyarakat sekitar menyebutnya pantai Kodi, ya, sebuah pantai utama dengan pelabuhan kecil dan perkampungan nelayan di sekitarnya. 

Warga kampung nelayan disini rata-rata beragama Islam, sebuah hal yang jarang saya temukan ketika mendengar adzan Ashar sewaktu dalam perjalanan menuju pantai Kodi, karena Islam di Sumba merupakan minoritas. Kebanyakan warga kampung ini adalah pendatng muslim dari Flores.

Senin, 07 September 2015

Pantai Pasir Putih Sadranan & Ngandong di Gunung Kidul


Akhir pekan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, walaupun sebenarnya hari-hari biasa maupun akhir pekan itu sama saja, kenapa? yah...nasib pengangguran. Bingung mau kemana, ke gunung sudah sering, bukit juga lumayan bosen, sekali-sekali pengen juga main ke pantai dengan pasir putih, laut biru, dan karang-karang indah. Saya bergumam pada tembok kos yang cat-catnya mengelupas :

Jumat, 28 Agustus 2015

Masjid Ceng Ho, Masjid Berarsitektur Oriental di Purbalingga


Bertambah satu lagi masjid yang bentuk bangunannya menyerupai rumah peribadatan orang tionghoa atau biasa disebut klenteng di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Masjid Ceng Ho namanya, bentuknya khas daratan Tiongkok sana dengan dominasi warna merah yang tajam mencolok mata. 

Pertama kali saya melihatnya sudah membuat saya jatuh hati dengannya, namun baru sempat menjejakan kaki dan beribadah didalamnya kemarin. Mungkin bentuk masjid yang paling banyak ragamnya hanya ada di Indonesia saja. Ada masjid bergaya Jawa, masjid bergaya Hindu, masjid bergaya Timur Tengah, masjid bergaya Padang, Masjid bergaya Tiongkok, dan masih banyak gaya-gaya yang lainnya. Sungguh, Indonesia memang negeri yang indah.

Rabu, 26 Agustus 2015

Misteri Bukit Batu Gunung Mendelem Pemalang



Jika kita pergi dari Purwokerto ke arah Pekalongan-Pemalang melewati Karangreja, Purbalingga, atau sebaliknya maka setelah menempuh jarak sekitar 60 km, dan melewati jalanan menanjak dan menurun yang berkelok-kelok, kita akan sampai didaerah belik. 

Baca Juga Tulisan Pendakian Gunung Dengan Pemandangan Paling Indah

Didaerah tersebut akan terlihat sebuah bukit batu besar menjulang tinggi yang dinamakan oleh warga sekitar dengan sebutan watu payung atau gunung Mendelem. Ketinggiannya kurang lebih 1450 mdpal. Gunung tersebut sangat cocok bagi para pemanjat tebing, para layang, dan penyuka hikking dikarenakan pemandangan alam sekitar yang indah dan juga keeksotisan gunung tebing itu sendiri.

Selasa, 25 Agustus 2015

Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu



Gunung Lawu berada di di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya berada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Perjalanan menuju gunung Lawu diawali dari Yogyakarta, perjalanan kami menggunakan kendaraan bermotor dengan waktu sekitar tiga jam. Rute dari Yogyakarta adalah Yogyakarta – Klaten – Solo – Karanganyar – Tawangmangu. Basecamp pendakian Gunung lawu ada dua yaitu rute Cemoro kandang yang berada di Tawangmangu, Karanganyar, dan Cemoro Sewu yang berada di Jawa Timur.

Senin, 10 Agustus 2015

Kalibening, Surga Di Ujung Kota Banjarnegara


Kemarin sekitar H + 2 lebaran saya bersilaturahmi ke rumah saudara di Desa Pandanarum, Kecamatan Kalibening, Banjarnegara. Letak desa ini kalau menurut saya bisa dikategorikan terpencil. Berada di perbukitan, di pucuk Kabupaten Banjarnegara yang berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan.

Dari Purbalingga, saya memacu motor saya lewat rute Pengadegan - Wanadadi - Gripit - Kalibening - Pandanarum. Jalan yang berkelak-kelok naik-turun harus saya lewati, plus kondisi jalan yang berlobang disana-sini. Hanya pengemudi yang brilliant sepertiku saja yang bisa mengatasinya :-P.

Sabtu, 09 Mei 2015

Puncak Emas Bukit Si Kunir Dataran Tinggi Dieng


Kemarin, saya beserta dua orang teman yakni Hapid dan Afris iseng-iseng mengunjungi Wonosobo untuk mencari "sesuatu". Namun dikarenakan "sesuatu" tersebut tidak dapat ditemui maka daripada perjalanan kami yang jauh-jauh dari Jogja ke Wonosobo mubazir, maka kami putuskan untuk pergi ke Dieng, dengan tujuan Bukit Sikunir. 

Dari Jogja kami berangkat naik motor pukul 14.00 namun baru sampai Sleman hujan mengguyur dengan derasnya, dan beruntungnya kami tidak membawa mantel, jadi terpaksa mlipir dulu di sebuah warung pinggir jalan. Menunggu hujan sambil nyeruput kopi. Hujan baru reda sekitar pukul 16.00, kami langsung cabut mengendarai honda astrea prima yang butut sekali. 

Sampai di Wonosobo sekitar pukul 19.30, dikarenakan tidak berhasil mencari "sesuatu" itu maka langsung kami putuskan pergi ke Dieng malam itu juga. Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit dengan jalan yang terus menanjak. Begitu sulitnya jalanan ini ditempuh dengan astrea prima boncengan dua orang dengan tubuh yang lumayan besar
.

Sabtu, 18 April 2015

Biografi Agustinus Wibowo, Inspirasi Para Traveler Dunia

 “HIDUP ini adalah sebuah perjalanan. Kita tidak tahu kapan perjalanan hidup kita akan selesai. Begitu pula saya tidak tahu kapan petualangan saya ini akan berakhir. Yang saya tahu, saya masih ingin terus melanjutkan petualangan saya. Masih ada banyak tempat yang ingin saya kunjungi,”
 Ketika tulisan ini dibuat, Agus, begitu biasa ia disapa, sedang menetap sementara di Afghanistan. Ia telah hampir tiga tahun melakukan perjalanan tanpa jeda melalu jalur darat melintasi Asia Selatan dan Tengah. Ia sedang melakukan ”misi pribadinya” keliling Asia, bagian dari cita-citanya keliling dunia. Perjalanannya dimulai dari Stasiun Kereta Api Beijing, China pada tanggal 31 Juli 2005. Dari negeri tirai bambu itu ia naik ke atap dunia Tibet, menyeberang ke Nepal, turun ke India, kemudian menembus ke barat, masuk ke Pakistan, Afghanistan, Iran, berputar lagi ke Asia Tengah, diawali Tajikistan, kemudian Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga Uzbekistan dan Turkmenistan. Ribuan kilometer yang dilaluinya ia tempuh dengan berbaga macam alat transportasi seperti kereta api, bus, truk, hingga kuda, keledai dan tak ketinggalan jalan kaki.

Minggu, 12 April 2015

Danau Weekuri, Hidden Paradise Pulau Sumba


Rangkaian cerita di sumba.....

Waktu penelitian di Sumba, waktu berada di Kodi, si kota konflik, waktu menginap di tempat pak camat, hari itu adalah hari minggu, dan merupakan hari yang sempurna untuk jalan-jalan di sela rutinnya tugas penelitian kami. Searching-searching di google, ternyata ada tempat wisata keren di Kodi, namanya danau weekuri. Tidak jauh dari tempat kami, sekitar 30 menit perjalanan naik motor. Kami mengandalkan anak pak Camat yang bernama, sebut saja Jono (maaf sekali aku lupa namamu kawan, hehe) untuk menjadi guide dan pelindung kami. Pelindung? ya, Kodi merupakan daerah rawan konflik dan rawan kejahatan, terutama perampokan di jalan, apalagi jalanan yang akan kami lewati merupakan daerah sepi dan masuk ke dalam. Dengan adanya si Jono ini, diharapkan para calon perampok enggan untuk merampok sang putra mahkota dari Kerajaan Kodi ini, dan juga supaya kita tidak tersesat arah dan tujuan. Jono enggan jika tidak bersama ajudannya si Bono, maka okelah kami angkut Bono juga. FYI, Jono dan Bono ini masih SMA.

Kamis, 02 April 2015

Kenalan Dengan Traveler Bule Dari Rusia Mark & Natasha


Sore ini Purbalingga cerah sekali, tak seperti biasanya yang selalu mendung dan turun hujan. Saya menikmati sore hari ini dengan secangkir kopi hitam yang tak terlalu manis dan ditemani hisapan rokok favorit sambil menikmati kecerahan suasana alun-alun kota. 

Langit begitu cerah, awan-awan putih bertebaran di angkasa dengan bias sinar matahari berwarna oranye menembus awan-awan tersebut, matahari hendak tenggelam tampaknya. Ditengah kenikmatan tersebut, tiba-tiba ada yang mencuri perhatian saya, yakni dua orang bule yang sedang berjalan ditengah alun-alun sambil menenteng tas ransel besar dengan tampilan ala kadarnya. Si cowok mengenakan kaus merah dengan celan khaki 3/4 yang sobek dibagian lututnya, sedangkan si cewek mengenakan kemeja motif bunga-bunga dengan tanpa alas kaki alias nyeker. Wah, sungguh keren penampilan mereka. Coba saja kalau mereka bukan bule, pasti sudah di caci-maki oleh khalayak umum.

Rabu, 25 Maret 2015

Pantai Kawona, Pantai Perawan Yang Sunyi Senyap di Sumba Barat Daya


Rangkaian Cerita di Sumba...


Siang itu, matahari di atas kepalaku bersinar dengan sangat sombong dan angkuh. Panasnya sungguh membuatku  gerah, tapi tidak lebih gerah dari gerahnya masyarakat terhadap para wakilnya. Es Buah di seberang rumah Pak Camat memanggil-manggil namaku. Udara di Nusa Tengggara Timur memang sangat panas, hal ini dikarenakan letak dan kondisi geografisnya membuat angin yang bertiup di daratan NTT adalah angin panas. 

Sekarang saya berada di Kecamatan Loura, Sumba Barat Daya. Kecamatan yang akhir-akhir ini baru saja mekar, dan sedikit membuat saya bingung. Hari ini tujuan saya adalah pergi ke pantai, menyejukkan pikiran dari penatnya kerjaan editing quesioner yang begitu banyak. Salah satu cara berwisata gratis adalah dengan mengikuti beberapa proyek survey seperti yang aku lakukan ini, sudah gratis, dibayar pula.

Selasa, 17 Maret 2015

Bromo, Sebuah Keagungan Mentari Sang Brahma


Bromo, sudah lama saya mendengar cerita dari teman-teman yang pernah melancong kesana. Kata mereka Bromo itu indah dan menakjubkan, terutama saat sunrise. Akhirnya saya terinisiasi. Segera saya browsing di internet tentang Bromo di beberapa blog dan milis-milis traveling. Nama Bromo berasal dari bahasa sansekerta yaitu Brahma, salah satu dewa utama Hindu. 

Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif hingga saat ini dan mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut , meliputi empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. 

Baca : Backpackeran di Kota Hujan, Malang

 Saya bersama tiga orang teman sepakat berangkat ke Bromo melalui Malang dengan naik kereta api Matarmaja dari Solo. Saya sempat singgah dulu sambil jalan-jalan di Malang selama satu hari. Esoknya pukul sembilan pagi saya berangkat ke Bromo dari Malang naik bus ke Probolinggo, tarifnya cukup murah, hanya Rp. 12.000 dengan lama perjalanan kurang lebih tiga jam.

Selasa, 10 Maret 2015

Backpackeran di Kota Hujan, Malang


Lempuyangan, stasiun nomor dua setelah stasiun Tugu, Yogyakarta. Kereta Prameks menuju staasiun Balapan, Solo sudah tiba. Waktu tempuh dari Lempuyangan ke Balapan sekitar satu jam, dan saya selama itu harus berdiri, karena sistemnya untung-untungan, yang dapat kursi ya bisa duduk, yang tidak dapat ya terpaksa berdiri. Dari stasiun Balapan saya dan ketiga teman saya harus berjalan sejauh kurang lebih 3 km menuju stasiun Jebres dengan bejalan kaki sambil menikmati keindahan kota Solo di malam hari. 

Sepanjang jalan, saya harus jalan di pinggir jalan utama karena tidak terdapat sedikitpun trotoar. Tampaknya pemerintah kota Solo tidak melirik bahkan secuil pun kenyamanan para pejalan kaki. Saya sampai di stasiun jebres pukul delapan malam, sedangkan kereta Matarmaja baru sampai pukul satu dini hari. Alhasil kami berempat harus menunggu selama empat jam, belum lagi kereta juga terlambat satu jam dari jadwal yang sudah tertera di tiket.

Senin, 09 Maret 2015

Senin, 02 Maret 2015

Merlion Park, Tempat Paling Iconic di Singapore


Apa yang sangat wajib dikunjungi bila pergi ke Singapore? Singapore sangat sangat sangat identik dengan patung singa berbadan ikan yang meumuncratkan air dari mulutnya. Patung tersebut bernama Merlion ( "Mer" berarti Laut, "Lion" berarti Singa). Badannya yang berupa ikan melambangkan asal mula Singapore yang dulu bernama Temasek sebagai sebuah desa nelayan. Sementara kepalanya yang berupa Singa melambangkan nama dari Singapura, yang berarti "Kota Singa".


Waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Merlion adalah pada sore hari. Karena bila kesini siang hari bakalan panas banget karena ngga ada atapnya. Selain itu, saat langit sudah mulai gelap, lampu-lampu ajaib dinyalakan, terutama lampu pada Marina Bay Sands yang menyala warna-warni membuat suasana semakin Gorgeous!. Saya kesini pada sore hari naik bus turun di depan Esplanade, Sebuah gedung yang mirip durian. Disekelilingnya merupakan taman yang asri tempat warga Singapore menghabiskan sore hari dengan berolahraga, senam, yoga, dan ngobrol. 

Esplanade, Gedung Durian.
Merlion Park dan Esplanade dipisahkan oleh sungai yang muaranya berada di Merlion Park itu sendiri. Sungainya jangan dibayangkan seperti sungai-sungai di Jakarta yah. Sungai di Singapore itu luar biasa jernih, lebar dan asik buat ngopi dipinggiran saat sore hari sambil ngeliatin amoy-amoy pada joging. Tempat ngopinya bernama Clarke Quay, cukup jalan kaki 20 menit dari Merlion. Dibelakang Merlion ada sebuah bangunan bergaya Eropa bernama Fullerton Hotel, sebuah hotel legendaris di Singapore tempatnya para birokrat elit mengistirahatkan diri. Tak jauh dari Fullerton, sekitar lima menit jalan kaki ada Museum of Asian Civilization.

Fullerton Hotel
Seperti biasa, di Merlion sudah banyak orang dengan kameranya mulai jeprat-jepret sana-sini, termasuk saya. Hari mulai gelap, lampu-lampu mulai dinyalakan, wisatawan semakin ramai. Seperti gembel, saya duduk di sebuah undakan sambil melihat antusiasme wisatawan. Lampu yang berwarna-warni itu tidak menurutkan kesepian saya sebagai solo traveler. Disebuah negeri asing, sendirian tiada yang menemani. Apalagi disebelah saya ikut duduk pasangan kekasih yang dengan khidmatnya berpelukan satu sama lain, hiks. Setelah puas dengan Merlion Park, dengan langkah gontai kesepian (duh, kesannya kok kasihan banget yah) saya memutuskan untuk ngopi-ngopi manja di Clarke Quay, sendirian! 😂😂😂😂


Selasa, 24 Februari 2015

Bugis Street, Dari Wisata Waria Sampai Wisata Belanja


Bugis Street, pada tahun 1950 - 1980an terkenal sebagai tempat mangkalnya para waria yang centil nan manja. Jaman segitu waria masih bisa dikatakan fenomenal. Keunikan Bugis Street tersebut membuatnya dikenal oleh wisatawan sebagai salah satu destinasi wisata "minat khusus" Singapura.

Namun dalam taham berkembangnya Singapura menjadi negara modern, kawasan Bugis masuk kedalam kawasan yang harus dipermak menjadi sebuah kawasan perdagangan dan perbelanjaan. Adanya perkembangan tersebut tidak lantas mengubah daerah Bugis menjadi wajh hang berbeda. Bugis masih menyisakan sedikit peradaban "sex" yang ditandai dengan berdirinya beberapa toko yang khusus menjual sex toys.

Tips Jalan-Jalan Ke Singapore

Kontes Waria Cantik jaman dulu di Bugis Street.
Orang Indonesia mengenalnya sebagai Bugis Street, kawasan perbelanjaan murah ala ala Malioboro di Yogyakarta. Setiap musim liburan pasti tempat ini rame oleh wasatawan Indonesia, kenapa? mungkin karena nama "Bugis" cukup akrab di telinga orang Indonesia, khususnya merujuk pada Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Orang Bugis terkenal karena ketangguhannya dalam mengarungi laut dan semangat berdagangnya ang membuatnya sebagai salah satu suku perantau ulung di Indonesia. Nah, jaman dulu kala, pedagang-pedagang dari Bugis ini mengarungi Samudera sembari membawa dagangan berupa rempah-rempah ke dataran Melayu, tepatnya ke sebuah pulau kecil yang hingga saat ini menjadi pasar dagang Internasional, yaitu Singapore. Karena perniagaan yang lancar maka beberapa orang menetap di Singapore dan lahirlah kawasan "Bugis", salah satunya adalah Bugis Street itu sendiri.


Nah, dari Orchard Road saya melanjutkan jalan-jalan ke Bugis Street naik Bus keliling kota ~syalala~. Sesampainya di Bugis Street, saya langsung nyamperin sebuah bangunan mirip pasar yang sungguh ramai sekali, karena hari ini adalah hari Minggu. Matahari semakin turun, lampu-lampu mulai dinyalakan, menambah suasana semakin disko. Kebanyakan pedagang ang ada di Bugis Street adalah pedagang pakaian dan street food. Harganya sungguh tidak mahal, pantas saja banyak wisatawan yang mampir kesini untuk sekedar membeli oleh-oleh untuk kerabat mereka tercinta. Saya juga ikut membeli beberapa kaos dengan harga SGD 10 untuk tiga biji kaos dan beberapa kerenceng gantungan kunci. 


Saya beberapa kali menjumpai Sex Shop dan sempat berdecak kagum melihat isi didalamnya. Maklum, toko seperti ini mustahil di jumpai di Indonesia. Ingin rasanya saya masuk dan melihat-lihat apa saja gerangan yang di perdagangkan didalamnya namun hati kecil ini berontak, wkwkwk. Iyalah, gimana coba kesan orang ang melihat seorang dekil dari Indonesia masuk sebuah toko Sex, bisa dideportasi muka saya dari dunia ini, haha. Seteah puas shoping (sebagian besar sih cuman window shoping) saya mampir disebuah kedai kopi dan memesan secangkir Kopi-O sambil menghisap sebatang rokok yang harga sebungkusnya bisa buat beli tiga kaos oleh-oleh. 

Selasa, 17 Februari 2015

Sekedar Cuci Mata di Orchard Road


Wisata belanja? aduh..sepertinya bukan passion saya. Tapi berhubung saya lagi berada di Singapore mau ngga mau saya harus berkunjung kesini karena katanya wajib dikunjungi. Naik bus dari daerah Toa Payoh menggunakan Bus nomer 143 dan berhenti tepat di Orchard Road. Sebenarnya jarak dari tempat saya menginap ke Orchard cukup dekat, hanya sekitar 6 km, tapi jalannya tu loh yang muter-muter membutuhkan waktu sekitar setengah jam.



Sesampainya di Orchard Road saya mendadak seperti anak yang ditinggal emaknya belanja, tidak tau mau kemana dan emmm...nothing interesting sih buat saya. semua-muanya hanya toko-toko branded dengan harga yang nggilani. Tapi saya akui untuk orang yang hobinya shoping, terutama untuk emak-emak sosialita, Orchard ini surga mereka banget. Dimana-mana, di kanan, di kiri, di seberang, di atas, dibawah itu semuanya tempat belanja. 

Saya menyusuri dari ujung ke ujung. Jajan es seharga limapuluh ribu rupiah (matiii). Sesekali berhenti di smoking area untuk sebat (sebatang) dulu bareng pemuda-pemudi dengan style parlente. Disitulah saya sadar bahwa saya nampaknya salah kostum. Celana pendek, kaos hitam kucel, sendal gunung, dan ransel menjadi kostum saya waktu itu. Yang menjadi hiburan saya di Orchard adalah para pengamen yang keren-keren. Mereka malah seperti bukan pengamen karena skill bermusik mereka patut diacungi jempol! oya disini juga ada pengemis lho, tapi ga sembarangan bisa mengemis karena pengemisnya harus mendapatkan sertifikat dulu. 


Karena ini bukan dunia saya jadi saya langsung mencari halte untuk menuju tempat shoping yang agak terjangkau yaitu Bugis Street, yang letaknya juga paling cuman 20 menit naik bus. Di Orchard Road banyak banget wisatawan dari Indonesia, dari embak-embak sampai emak-emak, saya serasa berada di negeri sendiri. Waktu yang paling bagus untuk mengunjung Orchard Road adalah sore - malam hari dimana lampu-lampu ynag indah mulai dinyalakan dan menunjukan kemewahan jalan ini.


Rabu, 11 Februari 2015

Singapore, Destinasi Awal Untuk World Traveler Pemula


Singapore, siapa sih yang tidak tau negara tetangga dengan ukuran yang mini ini? Yup, siluet negara ini sudah terlihat jelas dari tepian Harbour Bay Batam. Singapura merupakan negara dimana biasanya para traveler ataupun backpacker dari Indonesia mencoba melangkahkan kakinya ke luar negeri untuk pertama kali. Bisa disebut juga sebagai negara pertama bagi para newbie world traveler dari Indonesia, termasuk saya. Salah satu faktornya adalah selain jaraknya yang dekat, banyaknya tiket penerbangan promo Indonesia-Singapura yang disediakan oleh beberapa maskapai penerbangan seperti AirAsia, Mandala, dll. Harganya kalau promo tidak sampai Rp. 500.000, bahkan teman saya ada yang pernah mendapatkannya seharga Rp. 99.000 hanya sebagai gantai biaya avtur saja.



Saya terbang dari Yogyakarta menuju Changi pada pukul delapan pagi dan sampai disana pukul setengah sepuluh. Sebelum mendarat, saya disuguhkan pemandangan kapal-kapal kargo yang begitu banyak di perairan Singapura, hal ini menandakan eksistensi Negara ini sebagai Negara perdagangan yang paling strategis di Asia Tenggara. 

Sebelum mendarat, saya melihat bahwa bandara ini dikelilingi oleh hutan-hutan yang luas dengan pohonnya yang besar-besar. Bandingkan dengan bandara Soekarno-Hatta dimana justru bandaranya dikelilingi oleh pemukiman padat penduduk. Bandara Changi cukup luas dan modern sampai toiletnya juga serba otomatis. Imigrasi disini tidak ribet, yang penting tempat tinggal kita selama di Singapura tercatat jelas pada kartu kunjungan, sehabis itu tinggal melanglang buana deh.

Saya tinggal disebuah apartement padat penduduk di pusat kota. Pemukiman disini sebagian besar merupakan apartemen/rumah susun. Dibagi per kawasan, per blok. Setiap kawasan mempunyai pasarnya sendiri dan juga foodcourt yang terletak dibawah. Saya tinggal di distrik Whampoa, dekat dengan Baleister rd. Terdapat community centre tempat berkumpul dan ngopi-ngopi warga sekitar.



Untuk transportasi saya menggunakan semua moda transportasi yang ada, MRT dan Bus. Cara menggunakan bus di singapura sangatlah mudah. Kita cukup membeli kartu di seveneleven atau cheers (mini market), saya memakai kartu NETS Flashpay yang berisi SG$ 16, cukup untuk bolak-balik 16 kali naik bus atau MRT. Untuk menggunakan kartunya cukup men-tap / menempelkan kartu pada mesin yang tersedia di dekat pintu bus. Jika tidak punya kartu, kita dapat membayarnya langsung ke supir bus, namun uang harus pas, jika tidak maka artinya kamu merelakan kembalian uang kamu.

Untuk MRT, jika tidak punya kartu, terdapat mesin tiket otomatis di setiap stasiun, cukup masukan uang sejumlah harga tiket yang tertera, nanti tiketnya akan keluar sendiri. Untuk jarak jauh, gunakanlah MRT, namun untuk jarak dekat cukup gunakan bus saja.



Warga Singapura, sebagaimana layaknya bangsa Asia umumnya ramah-ramah, jika tersesat mereka akan siap membantu kita. Tenang saja, kita tidak akan tersesat di Singapura karena penunjuk jalan terdapat dimana-mana.

Destinasi pertama saya adalah destinasi mainstream yang ada, yaitu Orchard Road, Esplanade, Merlion Park, Asian Civilization Museum (ACM), Clarke Quay, Mustafa, dan Little India. Semua destinasi tersebut dapat dilakukan dalam sehari saja dan cukup jalan kaki! Yang terpenting adalah kita tahu rutenya, pastikan destinasi tersebut sejalur. 

Contohnya, pertama saya awali dengan Orchard Road, dari situ saya naik bus ke Esplanade. Nah dari Esplanade ke Merlion Park cukup menyeberangi jembatan saja dengan jalan kaki. Dari Merlion Park, jalan menuju ACM kemudian lanjut ke Clarke Quay. Dari Clarke Quay bisa ke Chinatown dulu atau langsung ke Mustafa Centre, Bugis, dan Little India nak bus (jaraknya lumayan jauh boo..)



Orchard Road, bagi traveler kere seperti saya tampaknya tempat ini bukanlah tempat yang cocok karena disini semuanya mall-mall dengan brand-brand ternama seperti GUCCI, Louis Vuitton dll. Bisa dibilang ini tempat shopingnya orang-orang menengah keatas. Tidak ada yang menarik disini bagi saya karena saya bukan tukang belanja. Namun bagi mereka kaum hawa dan shopaholic tempat ini ibarat surga. Semua-semuanya adalah mall! mall! dan mall! Disepanjang jalan saya melihat banyak pengamen yang tengah beraksi, dan mereka punya kemampuan bermusik yang sangat hebat! Give applause!



Esplanade, gedung pertunjukan berbentuk durian. Gedung ini merupakan salah satu ikon Singapura. Selain gedung, kita bisa bersantai dipinggir gedung disebelah sungai sambil menikmati pemandangan kota dengan gedung-gedungnya yang menjulang, patung singa Merlion, Hotel Fullerton, dan Marina bay Sands yang terkenal itu ( gedung kembar dengan kapal diatasnya) dibawah pohon sambil menikmati angin yang semilir serta softdrink seharga SG$1,7.


Merlion Park, Nah ini dia ikon Singapura yang paling terkenal yaitu patung singa yang disebut Merlion. Patung ini dibuat sebagai ikon untuk menyambut para pelancong yang datang ke negeri mungil ini. Dari Esplanade, saya cukup menyeberangi sungai lewat jembatan. Disekitar patung merlion banyak turis-turis yang tengah berfoto maupun sekedar bersantai-santai. Jikalau saja saya punya uang lebih, maka saya akan menikmati secangkir kopi di café-café yang bertebaran disekitar patung tersebut. Saya pergi kesini dua kali, kunjungan yang kedua adalah untuk mengambil gambar patung ini dan sekitarnya yang katanya cantik dan indah dikala malam hari.


Asian Civilization Museum, tempat ini berdekatan dengan Merlion Park. Diseberang Merlion Park terdapat Fullerton Hotel, dan dibelakang hotel terdapat jalan Fullerton. Saya menyeberangi jembatan lagi, namun kali ini jembatannya lebih kecil dan lebih klasik dengan arsitektur jembatan masa colonial. Nah setelah jembatan saya melihat ada bangunan dengan arsitektur khas colonial, didepannya terdapat tugu yang dulu dibangun untuk menyambut kedatangan orang penting dari India. Bangunan tersebut merupakan Museum Asian Civilization, yang menampilkan beragam peninggalan-peninggalan bangsa Asia jaman dulu. Bangunan ini ada di pinggir sungai Singapura. Banyak jembatan-jembatan kuno disini yang bagus untuk diambil gambarnya. Disepanjang sungai banyak kapal-kapal wisata yang hilir mudik menambah keelokan tempat ini. Disekitar museum terdapat banyak taman dan ruang hijau sehingga dijadikan sebagai tempat jogging bagi masyarakat sekitar. Olahraga di sini sudah menjadi semacam lifestyle bagi warga Negara ini terutama untuk kaum mudanya.


Clarke Quay, jam sudah menunjukan pukul setengah delapan sore. Disini gelap baru datang jam segini. Dari museum saya berjalan menyusuri pinggiran sungai. Banyak café-café kecil yang berdiri disepanjang pinggiran sungai dengan temboknya yang dicat warna-warni. Pemandangan seperti ini menjadikan daerah pinggiran sungai ini dikenal juga dengan nama Venesianya Singapura. Saya berjalan sampai menemukan tulisan neon warna-warni yang dibaca Clarke Quay. Tempat ini merupakan kumpulan café-café yang menawarkan berbagai macam minuman, dari kopi, the sampai minuman beralkohol (lebih banyak yang menawarkan minuman beralkohol disini). Tempat ini merupakan tempat nongkrongnya para Ang Mo. Ang Mo adalah bahasa china untuk si rambut merah atau dalam bahasa kita sering kita sebut sebagai bule. Harga minuman disini bervarisai namun rata-rata ya mahal. Saya cuma bisa jalan-jalan sambil menikmati malam yang gemerlap ini ditemani traveler lain dari berbagai Negara.


Mustafa Center, Bugis Street, Litle India, ketiga tempat ini jaraknya lumayan dekat. Dari Clarke Quay saya naik bus ke Mustafa Center yang katanya juga surga belanja. Mustafa Center hanyalah gedung swalayan biasa dengan dagangan yang juga biasa, ya seperti swalayan pada umumnya, nothing special. Namun masih tetap banyak saja para wisatawan yang belanja disini. Karena nothing special maka saya lanjutkan ke Bugis Street. Tempat ini merupakan pasar oleh-oleh, banyak ditawarkan kaos-kaos Singapura, gantungan kunci, jajanan, dll. Harga disini murah-murah dan tempatnya lebih khas dan eksentrik. Saya sarankan lebih baik belanja disini daripada di Mustafa. Di Bugis juga terdapat sex shop yang menawarkan berbagai jenis sex toys untuk 21tahun ke atas. Dari Bugis saya berjalan menuju Little India. Daerah Little India merupakan daerah pemukiman orang-orang India yang cukup luas, tidak ada gedung tinggi disini, semuanya gedung standar 2-4 lantai. Banyak toko-toko yang menawarkan dagangan khas negeri India dengan harga yang lumayan miring. Jika jeli maka kita bisa mendapatkan barang berkualitas dengan harga yang cukup miring.



Hari pertama sudah cukup puas dan cukup melelahkan juga. Ada beberapa pengetahuan yang saya dapat selama sehari menjelajah Singapura :
  • Disini tukang bangunan mayoritas dilakukan oleh orang-orang dari India, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina.
  • Disetiap bangunan yang sedang dibangun pasti kita akan melihat orang-orang ini. Disini pembantu rumah tangga masih tetap dikuasai oleh pembantu dari Indonesia. Berkali-kali saya  lihat orang Chinese bersama pembantu mereka (yang mukanya sangat njawani).
  • Terdapat kawasan-kawasan khusus masing-masing etnis seperti orang India di Little India, orang Melayu di Kampung Melayu, orang China di China Town, dan orang bule di Ang Mo Kio, ada juga orang-orang dari timur tengah di Arab Street namun jumlahnya hanya sedikit.
  • Jika kita kurang lancar berbahasa Inggris, gunakan saja bahasa melayu, sebagian besar orang disini tahu bahasa melayu, jadi santai saja.
  • Beli kartu perdana di minimarket seperti cheers dan seveneleven. Harganya lumayan mahal, SG$ 15. Minta aktifkan kartu ke pelayan toko menggunakan data dari passport kita.
  • Beli makanan murah ada di foodcourt yang banyak terdapat dipusat keramaian maupun di daerah pemukiman, namun untuk yang muslim harus hati-hati dengan makanan yang bertuliskan pork, ham, atau bak, karena itu semua adalah daging babi.
  • Jika tidak punya kartu tap untuk bus dan MRT, maka siapkan banyak-banyak uang receh koin, kita akan sangat membutuhkannya.
  • Jangan heran bila melihat orang berpelukan atau berciuman di bus, MRT, maupun dijalanan.
  • Banyak terdapat masjid maupun mushala, sebagian dari mereka berbentuk gedung biasa tanpa kubah diatasnya. Tanyakan saja pada orang melayu atau Bangladesh untuk lokasi keberadaan masjid.
  • Kalau mau beli kopi item, bilangnya jangan I want a coffee, nanti malah diberi kopi susu. Kalau pengen kopi item bilang saja Kopi’o. (berlaku diwarung kecil seperti di foodcourt).

Jumat, 16 Januari 2015

Sekelumit Kisah Tentang Sumba, Sebuah Kepolosan Yang Penuh Makna



Daerah timur Indonesia masih sangatlah jauh dari kata maju, salah satunya adalah Pulau Sumba. Hal ini berdasarkan pengamatan saya selama dua bulan tinggal di Pulau Sumba dalam rangka melakukan pengambilan data untuk sebuah riset tentang kesehatan dan pendidikan masyarakat. Penelitian tersebut di prakarsai oleh Pusat Kebijakan dan Pendidikan Universitas Gajah Mada. 

Lokasi pengambilan data berada di Kabupaten Sumba Barat Daya. Hampir semua kecamatan dan daerah-daerah terpencil saya kunjungi. Suka-duka cerita masyarakatnya hampir setiap hari saya dengarkan. Bermodalkan baju lapangan, sepatu boots, co-card, dan quesioner, penduduk mengira saya orang dari pusat yang akan membawa bantuan kepada mereka. Semua pertanyaan dan keluh kesah, mereka sampaikan kepada saya.