Sabtu, 14 Juli 2018

Knalpot, Logam 'Mulia' Kebanggaan Masyarakat Purbalingga


Buat yang hobi otomotif, pasti sudah tidak asing lagi dengan knalpot buatan Purbalingga. Purbalingga selain terkenal dengan Pendakian Gunung Slamet juga terkenal dengan industri knalpotnya. Knalpot Purbalingga dibuat secara handmade oleh tangan-tangan terampil dari Desa Sayangan. Hasil dari keuletan dan ketekunan pengrajinnya membuat knalpot buatan Purbalingga berkualitas internasional, bahkan pernah dipesan oleh sebuah perusahaan mobil terkenal, Mercedes Benz.

Menurut rumor yang beredar, industri knalpot di Desa Sayangan ini di awali oleh seorang pengusaha krenceng atau dandang yang berbahan kuningan bernama Hasan Yusuf, pada tahun 1970an. Namun, karena mengalami kerugian yang besar, ia akhirnya beralih membuat knalpot kendaraan. Usaha knalpotnya lambat laun menuai kesuksesan dan mulai diikuti oleh tetangga-tetangganya hingga saat ini.

Sebuah tugu yang didedikasikan untuk pengrajin knalpot di Desa Sayangan berdiri dengan gagah di tengah sebuah persimpangan. Tugu tersebut menampilkan sebuah patung orang yang sedang membuat knalpot dan terkenal dengan sebutan 'Tugu Knalpot'. Jika anda berkunjung ke Purbalingga dan menghampiri tugu ini maka anda tengah berada di desanya para empu knalpot.

Patung knalpot Purbalingga yang ikonik.
Disepanjang jalan saya melihat banyak knalpot yang bergelantungan didepan bengkel-bengkel produksi. "Tang..tang..tang..tang" terdengar suara orang yang sedang memempa potongan lembaran besi menjadi sebuah silinder

Jam dinding menunjukkan pukul 8 pagi, teman saya, Danu, tampak sedang sibuk mempacking knalpot bersama dua orang karyawannya di teras rumah tipe 45 yang baru saja dibelinya secara cash. Rumahnya tampak kosong, belum banyak perabotan yang menghiasi sudut-sudutnya. Hanya ada dua buah kasur lantai, sebuah televisi 21 inch, dan 2 rak dinding display yang tergantung beberapa knalpot bermacam bentuk dan merk.

Umurnya baru 24, minggu depan dia akan melamar gadis pujaannya yang sudah ia kencani selama hampir 4 tahun. Tak pernah terbayangkan bagi Danu bisa membeli sebuah rumah secara cash sekaligus melamar sang gadis pujaan. Sebelum berjualan knalpot secara online, Danu bekerja sebagai karyawan pabrik bulu mata yang memang menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Kabupaten Purbalingga dengan gaji yang pas-pasan sesuai UMK (Upah Minimum Karyawan) sebesar 1,4 juta per bulan.

Sekarang, Danu telah menjadi bos dari usahanya berjualan knalpot secara online. Pelanggannya kebanyakan justru berasal dari luar negeri seperti Thailand, Filipina, dan Jepang. Keuntungan dari penjualan knalpotnya bisa mencapai 500% dari harga kulakannya yang berkisar antara Rp. 400.000 - Rp. 1 juta. Kata Danu, knalpot di luar negeri harganya sangat mahal, sampai jutaan. Pelanggannya yang rata-rata adalah pemilik bengkel menganggap harga Danu masih sangat murah dibanding harga knalpot di negaranya sehingga mereka bisa menjualnya lagi kepada customer.

Itu hanya sepenggal kisah dari banyaknya kisah sukses anak muda Purbalingga yang berhasil kaya mendadak berkat usaha jualan knalpot secara online. Anak muda yang melek teknologi ini berhasil memanfaatkan internet sebagai sarana menjual produk asli Purbalingga. Dengan sasaran utama pasar luar negeri, maka keuntungan yang mereka dapatkan juga berkali-kali lipat.

Sekali lagi terbukti bahwa penguasaan teknologi sangat berperan pada peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional yang mampu menyejahterakan rakyat kecil. Bagaimana dengan kamu? Apa produk unggulan daerahmu? Share di kolom komen ya.(sgr)

Gambar muka: usahapurbalingga.blogspot.com

Jumat, 13 Juli 2018

Ziarah Kuburan Belanda, Kerkhof 'Stana Landa' Purbalingga


Yang ada di depan saya ini merupakan batu nisan dari seorang bayi berumur satu tahun bernama Wilhelmine Hoff lahir 1893, meninggal 1894. Mungkin meninggal karena sakit, dan yang jelas orangtuanya pasti lah sangat sedih dengan kepergian anak bayinya itu sehingga untuk mengenangnya dibuatlah batu nisan yang cukup mewah berbentuk tugu kecil yang langsung menarik perhatian saya ketika memasuki area kerkhof ini.

Memasuki gerbang kerkhof ini saya disambut oleh sebuah sumur tua yang kelihatan cukup mistis. Pikiran langsung terbayang akan munculnya makhluk aneh dari dalam sumur tersebut. Tapi tidak mungkin juga sih, karena ini kan siang hari dan kuburan ini berada tepat dipinggir jalan kota, di area perkantoran pemerintah, seberang kantor Badan Pusat Statistik Purbalingga.


Kerkhof merupakan bahasa belanda yang artinya kuburan, orang lokal menyebutnya 'kerkop', merupakan sebuah kompleks pekuburan untuk ekspatriat-ekspatriat belanda era nederlandsch-indie. Batu nisannya besar besar dengan bentuk yang beragam, ala kuburan di film-film dracula. Kebanyakan dikuburkan di tahun 1900an dan nisannya masih kokoh sampai sekarang.

Ini adalah kali kedua saya main ke kuburan ini. Dulu, kuburan ini kondisinya sungguh tak terawat, batu-batu nisan tertutup oleh rerumputan liar. Rata-rata tulisan pada nisan juga tak dapat dibaca karena tertutup oleh debu yang menebal dan berevolusi jadi tanah. Pohon-pohonnya juga amat rimbun sehingga membuat kerkhof ini terlihat sangat mistis. Orang sini menyebutnya Kerkop Astana Landa, istana masa depan tempat orang-orang be-landa dikuburkan.


Namun beda dulu, beda sekarang. Sekarang kerkhof Purbalingga ini sudah mulai diperhatikan oleh pemerintah. Sudah jauh dari yang namanya serem. Pohon sudah tertata rapi, rumput sudah dibabat habis, dan nama-nama di batu nisan juga sudah dapat di baca.

Ternyata, tidak semua yang dikuburkan disini adalah orang belanda. Ada beberapa nisan yang bernama tionghoa dengan bentuk nisan ala kuburan orang tionghoa. Kemudian saya iseng mencari-cari barangkali ada nama orang jawa, tapi ternyata tidak ada. Mungkin pekuburan ini termasuk pekuburan 'high class' pada jamannya sehingga tidak ada orang pribumi yang dikuburkan disini (mohon di koreksi bila salah).


Kerkhof bisa ditemukan di kota-kota penting jaman kolonial. Area Banyumas termasuk salah satunya, karena selain sebagai jalur transportasi utama juga berfungsi sebagai lumbung produksi gula tebu, salah satu komoditi unggulan sang penjajah. Kerkhof yang saya kunjungi ini berada di daerah Kedungmenjangan, Purbalingga dan sudah beralih fungsi menjadi hutan kota.


Banyak orang Purbalingga yang belum tau keberadaan kerkhof ini, jadi kalau kamu orang Purbalingga dan lagi ada waktu luang, sempatkanlah mengunjungi kerkhof Astana Landa ini. Siapa tau dapet wangsit. (Sgr)

Rabu, 11 Juli 2018

Kerja Sesuai Passion? Atau Passion Menyesuaikan Kerja?


Belakangan ini banyak orang yang ingin bekerja sesuai passion, karena katanya kerja sesuai passion itu nikmat, jadi gak berasa kerja. Kata siapaaa?? Gak berasa kerja itu impossible kecuali kamu passionnya nanem saham.

Banyak orang ngaku passionnya desain grafis atau penulis, tapi belum tentu 'dikejar-kejar deadline' juga jadi passionnya. Proses 'kenikmatan' melakukan desain terganggu oleh deadline, lalu bilang 'design is not my passion'. Ada yang kayak gini? Banyak.

Menurut cambridge dictionary, 'Passion; something that you are strongly interested in and enjoy'. Kita suka dan menikmati istri kita itu juga sudah bisa disebut passion.

Kerja sesuai passion berarti harus siap dengan segala konsekuensinya, jangan asal pengin enaknya saja. Banyak yang mengejar passion justru malah gagal ditengah jalan karena tidak komitmen.

Semua pekerjaan pasti ada enak dan enggak enaknya. Kerja sesuai passion emang bisa ngeboost kinerja, tapi apakah nanti kita bisa tetep enjoy ketika banyak rintangan menghadang? Atau malah melarikan diri dengan mengejar passion yang lain?

Passion itu tidak saklek, passion bisa diciptakan dan bisa berubah sesuai situasi dan kondisi, fleksibel. Banyak dijumpai orang yang 'labil passion', misal sekarang passionnya sebagai penulis, bulan depan passionnya jadi fotografi. Itu karena mereka sudah menemukan titik jenuh didalam passion tersebut. Atau mereka tidak bisa membedakan antara passion dan keinginan belaka.

Jadi jika kita merasa belum bekerja sesuai passion, coba ciptakan passion kita sendiri yang berkaitan dengan pekerjaan kita sekarang, ciptakan sesuatu yang bisa membuat kita enjoy melakukan pekerjaan kita sekarang sehingga kita bisa menyebut diri kita 'bekerja sesuai passion'. Kalau masih nggak bisa enjoy, boleh lah resign.

Kunci dari passion adalah kata "interested" dan "enjoy". Kita ngelamar posisi kerja sekarang ini kan karena dulu kita "interested" baik dengan posisinya, jobdescnya, lingkungan kerjanya atau gajinya. Setelah diterima, kita bisa bertahan sedemikian rupa karena kita 'enjoy' dengan benefit dari kerjaan tersebut.

Intinya sih kalau ngejar passion gak akan ada habisnya, yang jelas kita harus pandai-pandai bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang.

Jadi, sekarang ini kamu sedang kerja sesuai passion? Atau passion yang menyesuaikan kerjaanmu? Share pengalamanmu di kolom komen ya. (Sgr)

Foto muka: care2.com

Selasa, 10 Juli 2018

Krisis Kepercayaan Akibat Pencitraan Digital Generasi Millenial


Pernah ngelamar kerja? Atau mungkin pernah pedekate sama calon gebetan? Pasti kamu tahu lah yang namanya pencitraan. Di CV lamaran kerja kita pasti isinya pencitraan kan? Sedikit banyak pasti mengarang isi CV agar terlihat profesional. Kalau kamu lagi pedekate, pasti sok-sokan jual mahal dan sedikit mempercantik citra diri melebihi realitas.

Itulah pencitraan, sebuah tindakan agar orang lain menganggap kita seperti apa yang telah kita citrakan atau gambarkan. Artis, salesperson dan politisi sangat sering melakukan pencitraan untuk melancarkan kepentingannya.

Di era digital seperti ini, hampir semua orang, termasuk saya, juga melakukan pencitraan karena saking gampangnya kita berinteraksi dengan orang lain, bahkan yang tidak kita kenal sekalipun, sehingga sangat mudah membentuk citra diri yang kita inginkan.

Pencitraan nowadays terbagi menjadi dua; pencitraan visual dan pencitraan verbal. Media pencitraannya saya ambil yang paling hits di kalangan millenial, yakni instagram dan twitter.

Kita tahu bahwa instagram adalah tempat pamer, pamer foto-foto keren, biasanya harus ngeluarin modal banyak biar fotonya makin hits. Sementara twitter cenderung murah, isinya ya cuman cuitan-cuitan isi hati pemakainya. Netizen yang tidak mampu membuat citra visual lewat instagram maka akan beralih ke twitter sebagai pencitraan verbal tanpa modal.

Tanpa modal maksudnya bukan miskin. Walupun di twitter banyak kaum #oldmoneygakngerasain, masih ada kok the real billionaire, orang kaya (beneran) yang main twitter. Saking kaya-nya, mereka males foto-foto di menara eiffel buat dipamerin di IG, wong mereka bisa kesana tiap hari. Orang kaya mah gak perlu pencitraan 😌. Kecuali kalo mau nyalon #pilkada *eh

Kubu Instagram biasanya ingin membentuk citra diri yang eksklusif dengan posting foto yang serba pamer. "I am afford to do this, this is my lifestyle, can you?" Padahal itu hasil nabung satu tahun. Eladalah, pas liat postingan orang lain yg lebih wah langsung cemberut, pindah ke twitter lalu ngetwit "instagram isinya pamer doang".

Kubu twitter yang 'biasanya' kurang modal buat pamer foto berkelas akan merepresentasikan kekayaan intelektual mereka dengan pemikiran bahwa 'i am what i write'.  Dengan twitter, kita bisa membentuk diri menjadi orang yang humoris, cendekiawan, politikus, budayawan, seniman, bahkan alim ulama. Padahal aslinya ya gak tau.

Tapi ya gak semuanya begitu sih, Banyak juga yang posting 'apa adanya' di akun sosmed mereka, tapi orang yang begini biasanya gak punya sosmed 😓.

Oh ada tambahan lagi, selain instagram dan twitter sebagai platform paling laris untuk pencitraan. Tau linkedin kan? Nah, itu adalah media terbesar untuk mencitrakan jiwa profesionalisme yang sebenarnya tidak terlalu profesional, zona zonk buat headhunter.

What about facebook? Facebook adalah media khusus pencitraan emak-emak (katanya nggak kelas buat millenial). Emak-emak carinya sosmed yang diskonan, buy 1 get 3. Merasa ribet pindah-pindah aplikasi, dan tiap hari hobi mantengin hoax.

But, pencitraan, alias membentuk citra diri jika dilakukan dengan tidak lebay maka akan sangat bermanfaat.

Pencitraan bukanlah dosa, itu adalah sebuah keharusan jika kita hidup ditengah masyarakat. Asal yang kita citrakan sesuai dengan tingkah polah kita di luar sana.

Dengan kata lain, jika kita adalah orang yang sadar diri, maka dengan sadar pula tingkah laku kita akan mengikuti apa yang telah dicitrakan di sosmed, harus ada sense of responsibility-nya

So, pencitraan itu sebenernya penting, tapi gak penting-penting amat, jadilah diri sendiri, jadilah apa yang kamu mau until the world recognize you as 'you'.

Satu-satunya pencitraan yang dosa itu pencitraan lewat tiktok. Gak usah tanya kenapa! pokoknya dosa! Dosa besar! Bisa kena azab! Tetetew ~~~

Ada pepatah millenial yang mengatakan bahwa "Ajining diri soko twitter, ajining raga soko instagram". Kalau kamu pake pencitraan yang mana?


Minggu, 08 Juli 2018

Kenapa Saya Jarang Posting?


Blog, jaman sebelum 2010 merupakan sebuah hal yang keren abis. Orang yang punya blog pasti lah orang keren, atau setidaknya saya suka menganggapnya begitu. Pertama kali bikin blog pas tahun 2008 saat pertama masuk kuliah, blognya random banget, saya malu untuk menceritakannya, wkwkwk. 

Biasanya blog jaman dulu itu isinya curhatan kehidupan sehari-hari, penuh drama dan intrik, sesekali diselipin joke receh biar kayak blognya Raditya Dika yang super fenomenal. Belum banyak bersliweran blog-blog travel macam sekarang ini karena jaman dulu kan belum ada sosmed jadi untuk pamer foto traveling masih agak susah sehingga peminat traveling masih sedikit. Iya, banyak traveler dadakan jaman sekarang itu ya karena sosmed.