Nama warungnya yang unik tentunya membuat orang penasaran sehingga menarik pengunjung candi untuk singgah mencicipi soto tersebut.
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Segarnya Soto Bathok Mbah Katro, Sambisari, Yogyakarta
Jogja Sebagai Destinasi Wisata Kopi, Kenapa TIdak
Siapa sih yang belum pernah minum kopi? Saya yakin 100% pembaca artikel ini pasti pernah ngopi walau hanya satu seruputan saja.
Dari Sabang sampai Merauke, dari Gayo sampai Wamena, kopi seperti sudah menjadi nadi-nadi kehidupan masyarakat Indonesia. Sudah mendarah daging dan sulit untuk dipisahkan dari keseharian masyarakat.
Menikmati Sore di Candi Sambisari Yogyakarta
Candi Sambisari, tidak banyak wisatawan dari luar kota Jogja yang mengenal nama dari candi yang dibangun pada abad ke-9 ini. Candi Sambisari dibangun pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung pada zaman Kerajaan Mataram Kuno.
Stasiun Maguwo Lama Yogyakarta, Kecil nan Bersahaja
Tak banyak yang mengetahui keberadaan salah satu bangunan saksi sejarah kota Jogja ini. Bangunan tua berwarna dominan putih abu-abu dengan gaya arsitektur khas indische berdiri anggun di pinggir rel kereta api yang membujur, membelah Desa Maguwoharjo, Sleman, DI Yogyakarta.
Taman Tebing Breksi Jogja? Biasa Saja
Pesona wisata Yogyakarta memang tidak akan pernah habis. Selalu saja ada inovasi wisata yang baru dan menyegarkan. Dulu jaman awal saya kuliah, yaitu tahun 2008, pantai, goa, dan air terjun di Gunung Kidul masih sedikit sekali yang tahu akan keindahannya.
Jika tidak ada kuliah lapangan tentang Geografi Fisik di Gunung Kidul pasti saya tidak akan tahu indahnya alam Gunung Kidul. Jauh sebelum hebohnya sosmed, waktu jamannya friendster, obyek wisata yang sekarang hits di instagram bahkan belum ada wujudnya, belum direncanakan.
Seiring berkembangnya fitur pada platform sosial media dan semakin banyaknya pengguna sosial media maka pesona wisata yang ada di daerah semakin naik kepermukaan. Tempat-tempat yang potensial sebagai obyek wisata segera digarap baik oleh pemerintah maupun pengelola swasta.
Akhirnya, mulailah banyak bermunculan obyek wisata baru di Yogyakarta, salah satunya adalah Taman Tebing Breksi (TTB) di Pedukuhan Nglengkong, Groyokan, Sambirejo, Prambanan.
![]() |
| Panggung pertunjukan dibawah Tebing Breksi. |
Namun mulai tahun 2014, oleh pemerintah, penambangan dihentikan karena setelah dilakukan penelitian, di lokasi ini terdapat singkapan batuan endapan debu Gunung Api Purba yang membentuk morfologi bukit. Ternyata batuan kapur breksi di Pedukuhan Nglengkong ini merupakan endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran, di Gunung Kidul.
Dari penelitian tersebut, akhirnya pemerintah memutuskan bahwa kawasan Tebing Breksi ini masuk dalam cagar alam dan harus dilestarikan. Sama halnya dengan keberadaan Gunung Api Purba Nglanggeran. Pada tahun 2015, sebuah Prasasti yang ditandatangani langsung oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X semakin mengukuhkan status Tebing Breksi sebagai Cagar Alam.
Saya sebenarnya sudah sering mendengar dan melihat keindahan Taman Tebing Breksi dari feeds yang ada di timeline sosmed saya. Tampak Foto-foto tebing batu putih menjadi background foto yang indah di timeline para pejalan hits yang ada di Instagram, terlepas apakah foto tersebut di edit atau tidak.
Hingga pada suatu hari masuk sebuah chat di whatsapp dari seorang teman yang mengajak saya untuk ke Candi Ijo yang langsung saya iyakan. Sebenarnya tujuan utama saya adalah Menikmati Sunset di Candi IJo. Tapi karena lokasinya satu jalur dan berdekatan dengan Taman Tebing Breksi, jadinya kami putuskan untuk mampir sekalian ke TTB. Soalnya saya juga penasaran dengan foto-foto indah dengan background Tebing Breksi yang bertebaran di Instagram, seperti apakah wujud aslinya.
![]() |
| Bagian Tebing yang diukir oleh seniman lokal dan menjadi salah satu spot foto favorit pengunjung. |
Area parkiran saat itu sangat berdebu. Tidak hanya di area parkiran saja namun di wilayah obyek wisata ini kondisinya cukup berdebu, mungkin dikarenakan musim kemarau. Masker adalah wajib! namun sayang sekali saya tidak membawa masker.
Sebuah tebing putih berdiri gagah, namun tidak seindah seperti yang saya lihat di foto. Menurut saya pribadi, lebih mirip area tambang. Ya, memang dulunya tebing ini kan area tambang. Sebuah area tambang yang 'dihias'. Tampaknya, mulai sekarang saya tidak akan percaya begitu saja dengan foto-foto indah yang ada di Internet.
![]() |
| Pengunjung berfoto bersama burung hantu malang yang tampak stres. |
Semakin naik keatas, saya akhirnya sampai di puncak tebing yang ditumbuhi beberapa pohon-pohon kecil sebagai penghijau area yang gersang ini. Tebing ini berhadapan langsung dengan sunset, sehingga bisa menjadi salah satu spot untuk menikmati sunset di Jogja.
![]() |
| Puncak tebing breksi menjadi salah satu spot untuk menikmati sunset di Jogja |
Mungkin hanya sekitar setengah jam saja saya berada di Taman Tebing Breksi ini. Selanjutnya saya akan menuju ke Candi Ijo, spot terbaik menikmati sunset di Yogyakarta. Kesan saya di Tebing Breksi? biasa saja, seperti sebuah obyek wisata yang dipaksakan. Semoga kedepannya Taman Tebing Breksi bisa lebih baik dan mampu memberikan atraksi wisata yang berkesan bagi pengunjungnya sehingga membuat mereka mau untuk kembali lagi kesini. Mungkin bisa dimulai dengan memperbanyak pepohonan dan memberikan masker gratis.
![]() |
| Burung hantu yang malang. |
![]() |
| Mereka sedang menambang atau membangun? |
![]() |
| Piknik keluarga di Puncak Tebing Breksi sambil menikmati sunset. |
Menikmati Sunset Candi Ijo, Candi Tertinggi di Jogja
Jika ditanya kegiatan apa yang paling berkualitas untuk mengisi waktu luang? Jawaban saya adalah baca buku dan jalan-jalan! Dua kegiatan ini mampu mengisi kekosongan kita dengan sesuatu yang bermanfaat yakni pengalaman, wawasan, dan pengetahuan.
Mungkin jawaban tersebut bisa dibilang naif dan klise karena saya sendiri sebenarnya masih terjebak dalam gelombang dusta sosial media. Ada waktu senggang sedikit pasti langsung buka instagram atau facebook, kalau lagi banyak kuota ya youtube.
Tapi sore itu saya merasa sangat bosan dengan sosmed yang timelinenya penuh dengan postingan kebencian. Maka saya putuskan untuk jalan-jalan, menikmati sore yang cerah dengan langit yang berwarna keemasan.
Sunset! kata tersebut langsung saja terbayang dibenakku. Dimana spot sunset terbaik di Jogja yang dekat dengan rumah? jawabannya adalah Candi Ijo.
Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Letaknya tidak terlalu jauh dari Candi Prambanan dan Candi Kalasan. Yang membedakan Candi Ijo dengan candi-candi lainnya di Jogja adalah letaknya yang berada di lereng perbukitan dengan ketinggian 425 mdpl sehinga membuat candi ini menjadi salah satu spot sunset terbaik di Yogyakarta.
Saya berangkat dari rumah sekitar jam empat sore. Sebelum ke Candi Ijo, saya sempatkan mampir dulu ke obyek wisata Tebing Breksi yang masih satu jalur dengan Candi Ijo. Akan rugi kalau tidak mengunjungi obyek wisata ini karena mau tidak mau pasti akan melewati tebing breksi yang jalan masuknya tepat di pinggir jalan, 500 meter sebelum Candi Ijo.
Hanya sebentar saja saya mengunjungi Tebing Breksi karena tempat itu ternyata biasa saja --dan berdebu--. Hanya sebuah tebing bekas tambang yang disulap jadi tempat wisata dadakan yang tenar karena --lagi lagi-- sosial media.
Memasuki area parkir Candi Ijo, saya langsung dihadapkan dengan pemandangan indah deretan pegunungan sewu dan kota Jogja yang berpadu dengan warna keemasan matahari sore.
Kursi-kursi payung dari bambu berjejer rapi dipinggir tebing, memanjakan siapa saja yang hendak duduk-duduk disitu sembari menyeruput secangkir kopi panas, menikmati pemandangan alam kota Jogja yang indah dari ketinggian. Pemandangannya mirip dengan Bukit Bintang, di Jalan Raya Jogja-Wonosari.
Tiket masuk Candi Sewu hanya Rp. 2000 per orang tapi karena saya berkunjungnya jam lima sore sedangkan Candi tutup saat maghrib maka Pak Satpam mempersilahkan saya dan pengunjung lainnya masuk dengan gratis. Terimakasih Pak Satpam.
Kompleks Candi Ijo berbentuk teras berundak. Candi utama berada di teras paling atas sementara di teras bagian bawah terdapat candi-candi yang masih dalam proses pemugaran. Bentuknya masih berupa reruntuhan.
Matahari sore kala itu seakan menyembunyikan rupa Candi Ijo, menyelimutinya dengan bayang-bayang siluet hitam dibalik keemasan langit senja. Tiga candi pengiring / perwara untuk memuja trimurti: Brahma, Wisnu, dan Siwa seakan-akan tampak sedang berlutut memuja Sang Maha Tunggal, Candi Utama yang menghadap ke barat, menghadap matahari.
Untuk memasuki Candi Utama saya mendaki sebuah tangga batu yang dijaga oleh sepasang makara , makhluk mitos berbentuk bertubuh ikan dan berbelalai seperti gajah. Kepala makara menjulur ke bawah dengan mulut menganga. Di dalam candi utama terdapat sebuah lingga yoni dengan ukuran yang besar, tingginya mencapai 3 meter.
Matahari semakin mendekati garis horizon di ujung kota Yogyakarta. Orang-orang berkumpul di pinggiran teras candi. Sebagian berdiri, sebagian duduk, sebagian lagi tidur-tiduran di rumput. Kami semua di sini menikmati matahari senja yang perlahan-lahan menuruni cakrawala. Semakin matahari turun ke bawah, maka semakin merah nyala langit di depanku, seakan menghimpit siang dengan gelapnya malam.
Lampu kota mulai menyala. Kerlip lampu landasan pacu Bandara Adisucipto terlihat dengan sangat jelas. Lalu lalang pesawat terbang dari bandara ini juga sangat nampak. Hampir setiap 10 menit ada pesawat yang lepas landas dan mendarat.
Lampu-lampu di bawah sana menyala semakin terang seiring dengan semakin gelapnya langit. Tiba-tiba terdengar suara sirine dari bawah, dari Pos Satpam. Dua orang Satpam mendatangi kerumunan kami, para pengunjung dan dengan senyum ramahnya mempersilahkan kami untuk pulang karena area candi akan segera ditutup.
Masih belum puas, saya mendatangi warung di dekat parkiran pengunjung. Memesan segelas kopi hitam dan memilih tempat duduk di pinggir tebing. Malam sudah turun sepenuhnya. Kota Jogja terlihat menawan dari atas sini. Sebagian pengunjung yang belum puas juga turut serta mendatangi warung ini.
Saya bergabung dengan beberapa pengunjung yang merupakan mahasiswa rantau, sama seperti saya. Berbagi cerita, berbagi kisah, di bawah bayangan agung masa lalu dan di atas gemerlapnya cahaya masa depan.
⬇⬇⬇ Tonton VIDEO amatiran saya di Candi Ijo ⬇⬇⬇
Candi Gebang, Si Kecil Yang Penyendiri
Saya sangat akrab dengan sebuah jalan yang bernama Candi Gebang. Lokasinya yang dekat dengan rumah membuatnya sering saya lewati. Dulu saya kira 'Candi Gebang' hanyalah sebuah nama jalan atau perumahan. Sama seperti 'Candi Indah' yang saya kira nama dari sebuah candi tapi setelah dicari-cari ternyata merupakan sebuah perumahan semi elit, bukan sebuah candi.
Syukurlah Candi Gebang yang saya tuju bukanlah sebuah perumahan, melainkan memang nama dari sebuah candi peninggalan peradaban masa lalu.
Penggunaan istilah 'candi' sebagai nama tempat memang sudah lumrah di Jogja. Terutama sebagai nama sebuah perumahan atau hotel. Jadi jangan sampai tertipu dengan sebuah tempat yang namanya diawali dengan kata 'candi'.
Candi gebang yang berada Desa Gebang, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman ini memang kurang terkenal karena bukan merupakan candi utama. Hanya sebuah candi minor yang lokasinya ditengah-tengah perkampungan penduduk dan jauh dari jalan raya. Dari rumah saya mungkin jaraknya hanya sekitar 5 km.
Latar belakang historis dibangunnya Candi Gebang juga belum diketahui. Arkeolog hanya dapat memastikan bahwa candi gebang merupakan sebuah Candi Hindu yang dibangun pada tahun 730-800 M.
Jika dilihat dari ukuran tubuh candi yang kecil - hanya 3 meter dari pondasi kaki - mungkin difungsikan sebagai tempat pemujaan warga yang rumahnya jauh dari candi utama. Ibarat sebuah mushala dalam agama islam, atau sebuah kapel dalam agama kristen.
Jika dilihat dari ukuran tubuh candi yang kecil - hanya 3 meter dari pondasi kaki - mungkin difungsikan sebagai tempat pemujaan warga yang rumahnya jauh dari candi utama. Ibarat sebuah mushala dalam agama islam, atau sebuah kapel dalam agama kristen.
Berawal dari sebuah niat untuk JJS alias jalan jalan sore, sebuah papan petunjuk kecil bertuliskan 'Candi Gebang' tiba-tiba menggoda rasa ingin tahu saya untuk mengunjunginya.
Sebelumnya saya memang telah berniat untuk mengunjungi semua Candi yang ada di Jogjakarta. Jika saja saya tidak pernah berniat, mungkin papan petunjuk yang kecil dan hampir tak terlihat itu tidak akan pernah saya gubris. Karena memang tidak begitu meyakinkan untuk dikunjungi.
Kompleks area Candi Gebang terletak di tengah persawahan dan hutan bambu sehingga membuatnya sejuk dan tidak panas. Area candi juga sudah ditata dengan indah. Disekelilingnya ditanami rerumputan yang dipagari oleh pohon teh-tehan. Bangku untuk pengunjung tersebar di beberapa titik. Ada satu warung makan kecil dan beberapa penjual bergerobak yang ikut meramaikan candi tunggal yang tampak kesepian ini.
Sebelumnya saya memang telah berniat untuk mengunjungi semua Candi yang ada di Jogjakarta. Jika saja saya tidak pernah berniat, mungkin papan petunjuk yang kecil dan hampir tak terlihat itu tidak akan pernah saya gubris. Karena memang tidak begitu meyakinkan untuk dikunjungi.
Kompleks area Candi Gebang terletak di tengah persawahan dan hutan bambu sehingga membuatnya sejuk dan tidak panas. Area candi juga sudah ditata dengan indah. Disekelilingnya ditanami rerumputan yang dipagari oleh pohon teh-tehan. Bangku untuk pengunjung tersebar di beberapa titik. Ada satu warung makan kecil dan beberapa penjual bergerobak yang ikut meramaikan candi tunggal yang tampak kesepian ini.
Candi Gebang hanyalah sebuah bangunan candi berukuran kecil tanpa ada candi pengiring / pendamping. Bahkan tampaknya ukuran Candi Gebang lebih kecil dari candi pengiring yang terdapat di Candi Ijo, apalagi Candi Prambanan. Tidak terdapat tangga untuk menuju ke kamar utama. Kemungkinan jaman dulu menggunakan tangga dari kayu, jadi saya harus memanjat kaki candi yang tingginya satu meter untuk menuju ke kamar utama yang berisikan sebuah yoni tanpa lingga.
Pak satpam yang masih muda terlihat tengah asik berbincang dengan bakul bakso bergerobak pink. Saat saya masuk, tidak ada biaya retribusi sama sekali, mungkin karena sudah sore. Saya menyapa pak satpam dan sedikit berbincang dengannya.
Dia menjelaskan bahwa dulu awal dipugarnya Candi Gebang adalah karena ditemukan sebuah arca ganesha oleh warga sekitar pada tahun 1937. Berdasarkan penemuan itu, para arkeolog mulai melakukan penelitian tentang kemungkinan adanya sebuah candi di lokasi penemuan patung tersebut.
Diasumsikan bahwa patung Ganesha tersebut merupakan bagian dari sebuah bangunan. Setelah dipastikan tentang adanya sebuah candi di lokasi tersebut, selanjutnya dilakukan penggalian, rekonstruksi dan pemugaran, yang dilangsungkan tahun 1937 sampai tahun 1939 di bawah pimpinan Van Romondt. Sekarang patung Ganesha tersebut bisa kita lihat tertempel pada dinding Candi Gebang.
Diasumsikan bahwa patung Ganesha tersebut merupakan bagian dari sebuah bangunan. Setelah dipastikan tentang adanya sebuah candi di lokasi tersebut, selanjutnya dilakukan penggalian, rekonstruksi dan pemugaran, yang dilangsungkan tahun 1937 sampai tahun 1939 di bawah pimpinan Van Romondt. Sekarang patung Ganesha tersebut bisa kita lihat tertempel pada dinding Candi Gebang.
Baca Juga: Candi Kalasan, Candi Untuk Jiwa Yang bebas
Beberapa reruntuhan batuan candi yang belum ada pasangannya tertata rapi bersama dengan sebuah lingga yoni yang sudah hancur. Kemungkinan merupakan bagian dari sebuah candi yang masih satu komplek dengan Candi Gebang namun masih berbentuk puzzle dan belum selesai di susun karena tidak ada kepingan pelengkapnya.
Jika pembaca hendak mengunjungi Candi Gebang maka rute paling mudah adalah lewat kampus AMIKOM Yogyakarta. Jika sudah ketemu kampusnya, maka tinggal lurus saja ke utara melalui Jalan Candi Gebang, nanti di kanan jalan akan ada plang kecil bertuliskan 'Candi Gebang'. Jika bingung, tanyakan saja pada warga sekitar, pasti akan dibantu sampai ketemu karena warga Jogja ramah-ramah.
Berburu Barang Antik di Hari Pasaran Pancawara Yogyakarta
Salah satu hobi saya kalau sedang tidak ada kerjaan adalah berburu barang-barang vintage, antik, jadul, dan unik sekedar sebagai penghias rumah atau di alih fungsikan jadi sesuatu yang lebih yahud, istilah bulenya 'upcycle'.
Tempat berburu barang-barang tersebut di Jogja selain di Pasar Klitikan, Pasar Niten Bantul , dan Pasar Senthir adalah di Pasar Pasaran Pancawara.
Pancawara merupakan nama dari sebuah pekan atau minggu yang terdiri dari lima hari dalam budaya Jawa dan Bali. Contohnya Pasar Pon, Pasar Kliwon, Pasar Wage, dan seterusnya. Pasar tersebut tempatnya berbeda-beda sesuai harinya.
Pasar Pon berlangsung di Pasar Godean, Kliwon di Pasar Bantul dan Cebongan, Legi di Pasar Kotagede, Pahing di Pasar Sleman, dan Wage berlangsung di Pasar Tegalrejo.
Bedanya dengan pasar biasa, pasar pancawara ini menjadi ajang para penjual barang bekas untuk menggelar lapaknya.
Tempat berburu barang-barang tersebut di Jogja selain di Pasar Klitikan, Pasar Niten Bantul , dan Pasar Senthir adalah di Pasar Pasaran Pancawara.
Pancawara merupakan nama dari sebuah pekan atau minggu yang terdiri dari lima hari dalam budaya Jawa dan Bali. Contohnya Pasar Pon, Pasar Kliwon, Pasar Wage, dan seterusnya. Pasar tersebut tempatnya berbeda-beda sesuai harinya.
Pasar Pon berlangsung di Pasar Godean, Kliwon di Pasar Bantul dan Cebongan, Legi di Pasar Kotagede, Pahing di Pasar Sleman, dan Wage berlangsung di Pasar Tegalrejo.
Bedanya dengan pasar biasa, pasar pancawara ini menjadi ajang para penjual barang bekas untuk menggelar lapaknya.
Penjual berasal dari Jogja maupun kota tetangga seperti Magelang, Purworejo, dan Solo. Diluar negeri pasar seperti ini dikenal dengan nama flea market atau pasar lalat karena para penjual ini seperti lalat, hinggap dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menjajakan barang dagangan mereka.
Atau bisa juga diartikan secara harfiah sebagai pasar dimana memang banyak lalatnya, karena barang-barang yang dijual ya memang sekelas barang rongsokan.
Dikalangan para pecinta barang-barang vintage ada istilah 'Grandma had it. Mom threw it out. I bought it back'. Kalimat tersebut memang sangat tepat karena saya benar-benar menyukai barang yang notabene pernah jadi benda kesayangan nenek.
Kesan retro vintage yang dipancarkan oleh barang-barang tersebut saat dipajang di salah satu sudut rumah mampu membuat tuan rumah, bahkan tamu terpukau oleh nuansa nostalgianya.
Kesan retro vintage yang dipancarkan oleh barang-barang tersebut saat dipajang di salah satu sudut rumah mampu membuat tuan rumah, bahkan tamu terpukau oleh nuansa nostalgianya.
Kenapa di pasar seperti ini banyak barang-barang vintagenya? Karena, barang vintage itu kan sebenarnya adalah barang bekas namun usianya sudah puluhan tahun.
Nah di pasar seperti ini, barang bekas dari yang baru diproduksi sampai yang berasal dari jaman bahoela ada semua, tinggal bagaimana kita pintar-pintar memilihnya saja. Biasanya si penjual sudah memisahkan antara 'barang baru' dengan 'barang lama', atau malah ada yang mengkhususkan hanya menjual barang vintage saja.
Nah di pasar seperti ini, barang bekas dari yang baru diproduksi sampai yang berasal dari jaman bahoela ada semua, tinggal bagaimana kita pintar-pintar memilihnya saja. Biasanya si penjual sudah memisahkan antara 'barang baru' dengan 'barang lama', atau malah ada yang mengkhususkan hanya menjual barang vintage saja.
Hari pasaran yang sering saya kunjungi untuk berburu barang antik adalah pasar pahing di Pasar Sleman karena dekat dengan rumah. Saking seringnya, pedagang disitu sampai hafal dengan saya. Jika saya berkunjung pasti sudah disiapkan barang-barang pilihan untuk ditawarkan.
Pasar Pahing di Sleman ini terletak sebelum Polres Sleman, di sebelah kiri jalan. Pedagang menggelar lapaknya di sepanjang jalan depan pasar. Ada puluhan pedagang yang menjajakan dagangannya dengan menggelar terpal di jalanan.
Barang yang dijajakan antara lain adalah pakaian baru dan bekas, onderdil motor, alat-alat rumah tangga, buku bekas, obat-obat tradisional, dan tentu saja barang-barang jadul dan antik.
Barang yang dijajakan antara lain adalah pakaian baru dan bekas, onderdil motor, alat-alat rumah tangga, buku bekas, obat-obat tradisional, dan tentu saja barang-barang jadul dan antik.
Setiap hari pasaran pasti pasar akan dipenuhi oleh warga. Jangan dikira bakal sepi. Ramainya pasaran ini hampir menyamai ramainya konser Raisa vs Isyana loh! Saya harus bejubel berdesakkan dengan pengunjung lain. Bahkan berebut cepat demi mendapatkan barang incaran karena barang yang dijual disini kebanyakan one and only, alias satu-satunya, tidak ada yang menyamai.
Jika telah lelah menyusuri dari ujung ke ujung pasar ini maka saya biasanya akan memesan segelas es kopi susu dan semangkuk soto pedas di warung-warung sepanjang jalan pasar tumpah ini. Atau kalau ingin jajanan pasar khas Jogja tinggal masuk ke pasar utama saja, karena didalam pasar masih banyak penjual makanan tradisional.
Oya jangan lupa kalau mau berkunjung harus berangkat pagi, sekitar jam 7 karena kalau kesiangan bakal panas dan barang yang bagus-bagus biasanya sudah sold out. Pedagang pasar pancawara baru akan mengemasi dagangan mereka pukul 11 siang atau jika matahari sudah dirasa terlalu panas.
Pasar pancawara di Jogja ini bisa jadi wisata alternatif bagi pembaca yang kebetulan mengunjungi Jogja pada salah satu hari Pasaran. Bahkan, Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Yogyakarta sudah ada rencana untuk membuat pasar pasaran di Jogja ini menjadi salah satu tujuan wisata utama hanya saja terkendala infrastruktur pendukung obyek wisatanya saja.
Mari kita lestarikan pasar tradisional di Yogyakarta supaya tidak tergerus oleh pesatnya pembangunan pasar modern. Karena, belakangan ini Jogja nampaknya menjadi lokasi ajang lomba bangun Mall.
Candi Kalasan, Sebuah Penghormatan Bagi Jiwa Yang Bebas
Jalanan siang itu sangat padat, truk dan bus saling salip, saya yang hanya menaiki sebuah motor matic tua melaju dengan kecepatan seadanya, tak sampai 40km/jam, mungkin.
Tepat di pinggir jalan raya, saya dikejutkan oleh sosok bangunan berbatu tinggi menjulang. Bangunan batu tersebut tampak kontras dengan rumah-rumah semen di sekelilingnya.
10 Tahun Tinggal di Jogja, 10 Hal Inilah Yang Paling Bikin Kangen Jogja!
Yogyakarta, Jogja, Ngayogyo, Mataram, apapun itu namanya, semuanya mengacu pada sebuah kota yang terletak di bagian kanan bawah peta Jawa Tengah, dengan bentuk yang mirip tumpeng karena bagian atasnya mengerucut. Bagi saya yang sudah membuat penuh Jogja selama hampir sepuluh tahun, masih saja enggan beranjak dari kenyamanan yang ditawarkan oleh kota ini. Sebenarnya tidak adil kalau yang disebut hanya kota 'Jogja' saja.
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang kedepannya akan saya singkat menjadi sebuah nama sesimpel 'Jogja' ini melingkupi beberapa kabupaten, yaitu Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunung Kidul, dan Kota Jogja. Semua kabupaten itu punya andil sendiri-sendiri dalam kontribusinya kepada kekangenan kita akan Jogja.
Jogja memang istimewa. Provinsi ini merupakan salah satu provinsi yang menawarkan paket wisata terlengkap. Mau ke gunung? Ada!, mau ke pantai? Banyak!, mau wisata budaya? Bejibun!, mau wisata kuliner? Gak usah ditanya!, atau mau wisata 'anu-anu'? Emmm...ada juga sih, dikit. Selain wisata, Jogja juga dipenuhi oleh mahasiswa dari ratusan kampus. Nah, yang biasanya kangen banget sama Jogja adalah para alumnus anak kuliahan di Jogja. Iyalah, kisah cinta, suka duka pengorbanan skripsi, titip absen, sampai hutang teman yang belum lunas semuanya tertinggal di Jogja. Berikut ini adalah 10 hal di Jogja yang bikin kangen versi saya :
1. Kampus!
![]() |
| Rindu Jogja, Rindu Kampus (sumber gambar: inovasee) |
Yap, kampus. Ini merupakan satu hal yang paling saya kangenin dari Jogja. Biasanya tuh mahasiswa yang baru lulus bakal sok-sokan berkata "akhirnyaaa...aku bebas dari kampus juga" dan seakan-akan mereka benci banget sama kampus gegara dulu skripsinya ga di terima-terima sama dosen. Namun seiring berjalannya waktu, lama-lama kita akan merasa rindu kampus. Awalnya sih cuman pengen "ah..nongkrong di kantin ah" tapi lama-lama teringat akan canda tawa bersama teman-teman seangkatan, lalu kisah pedekate sama maba-maba tak berdosa, dan akhirnya malah baper ditempat. Setiap berkunjung ke Jogja pasti nyempetin ngeliat mantan kampus tercinta. Soalnya kampus gak melulu soal belajar, namun juga soal teman, cinta, dan canda tawa
Warung burjo adalah teman disaat kita berduka. Hanya warung burjo lah tempat kita mengadu #tsadisss. FYI buat kalian yang bukan mantan mahasiswa Jogja, warung Burjo itu semacam wartegnya orang Jogja dengan menu yang lebih simple dan to the point. Di setiap dindingnya pasti akan ada logo-logo indomei dan kopi badday, warnanya biasanya dominasi merah kuning hijau. Warung burjo ini di Jogja persebarannya kayak semut. Hampir tiap seratus meter ada warung burjo. Kenapa bikin kangen? Karena mau tidak mau kita bakal ngeliat burjo di mana-mana sampai mata mau belekan. Sebagai mahasiswa, burjo sudah seperti ibu kita sendiri, dialah yang memberi kita makan dan minum dari pagi sampai malam. Apalagi kalau burjonya ada fasilitas wifi, bisa pindah kos disitu dah. " A' nastel satu sama kopi item ya..."
Angkringan langganan saya yaitu, angkringan Lek Tri menyediakan layanan custom menu minuman. Saya menciptakan sebuah minuman custom perpaduan antara jahe, jeruk, dan teh yang di patok dengan harga Rp. 2000 saja. Siapa yang ngga tau angkringan sih? tempat makan berbentuk gerobak dengan sistem bar dimana kita bakal nangkring di atas kursinya sambil ngobrol tentang rahasia kehidupan ini. Nasi kucing, gorengan, dan sate jeroan adalah menu makanan utama dari angkringan. Tidak sehat memang, tapi sebagai mahasiswa yang duitnya pas-pasan, mana peduli sama yang namanya healthy food berharga mahal itu? Teman saya bilang, kalau pengin makan jangan di Angkringan, tapi kalau pengin jajan, baru deh ke Angkringan. Kenapa? Karena kalau mau makan kenyang, jatuhnya malah mahal kalau kita makan di angkringan karena sistemnya eceran. Nyala lampu remang-remang didalam tendanya selalu membuat rindu Jogja.
4. Mantan Kos dan Kontrakan
![]() |
| Kebersamaan bersama teman-teman di kontrakan yang bikin kangen. |
Beberapa teman saya yang sudah hengkang dari Jogja pasti akan pura-pura tidak sengaja lewat bekas kos atau kontrakannya sekedar ingin bernostalgia dan mengenang masa-masa jahiliahnya. Kos dan kontrakan tersebut telah menjadi saksi bisu masa-masa indah di Jogja. Kos itu mempertemukan kita dengan teman-teman baru yang sudah sudah kita anggap seperti saudara sendiri . Cerita cinta, kebersamaan, dan kehilangan ada disitu. Kekonyolan dan kegilaan juga semuanya ada disitu. Menjadi anak kos artinya adalah memecut diri sendiri menjadi pribadi mandiri yang lebih baik. Jadi kangen kos kan?
5. Selokan Mataram
![]() |
| Di selokan mataram biasanya ada kendaraan yang nyungsep ke selokan (sumber gambar : menghilangkanspasi) |
Selokan mataram ada dimana-dimana, selokan ini merupakan sungai buatan yang menyatukan antara Sungai Progo di Kulonprogo dan Sungai Opak di Bantul. Kenapa bikin kangen? Sebagai mahasiswa, saya sering nongkrong untuk sekedar ngopi dan ngobrol bareng teman-teman. Dan tongkrongan paling banyak ada di daerah Selokan Mataram Seturan. Disitu juga banyak toko-toko, dari parfum, baju, sepatu, helm, dll. Apalagi waktu sore hari sunsetnya lumayan indah bila dilihat dari Selokan Mataram Seturan Selokan mataram juga dikelilingi oleh kampus-kampus besar seperti UGM, UNY, UPN, dll, jadi tidak mungkin kamu tidak kangen selokan mataram kan?
6. Malioboro, Kampung Keraton, Tugu, sampai Sarkem
![]() |
| Jalan paling ikonik di Jogja (sumber gambar : tribunnews) |
Entah kenapa setiap kali saya mengunjungi tempat-tempat di atas ada sebuah aura kerinduan yang menyelimutinya. Memang sebagai mahasiswa yang hidup cukup lama di Jogja, Malioboro dan sekitarmya hanya menarik diawalnya saja, setelahnya ya biasa saja. Namun jika kita sudah meninggalkan Jogja pasti akan sangat kangen dengan tempat-tempat tersebut. Hiruk pikuk wisatawan, rayuan pedagang oleh-oleh, sadisnya harga pedagang kaki lima, dan macetnya lalu-lintas seakan tertutup oleh humblenya arsitektur khas Jawa yang ada di situ. Perpaduan warna hijau dan bentuk jawa di bangunan dan fasilitas publik seakan mendamaikan pikiran. Senyuman ramah kusir dokar, tukang becak, dan pedagang kecil mampu mengeliminasi ego diri kita dan membuat kita nyaman selama berada di Jogja.
7. Murah!
![]() |
| Biaya hidup di Jogja murah! (Sumber gambar : Brillio) |
Kalau ditanya kota besar mana di Indonesia yang masuk dalam kategori biaya hidup paling murah? Jawabannya adalah Jogja! Untuk makan dengan menu nasi + sayur + ayam + es teh, harga termurah yang pernah saya dapatkan adalah Rp. 7000, sungguh murah bukan? Kalau jaman awal saya kuliah, nasi ayam cuman Rp. 4000 saja. Bandingkan dengan kota besar lainnya. Maka, tidak heran bila banyak mahasiswa perantauan terutama dari luar jawa yang 'mendadak kaya' selama berada di Jogja. Murahnya hidup di kota Jogja akan semakin terasa ketika kamu meninggalkan Jogja dan hidup di kota lain seperti Jakarta. Kamu akan langsung merindukan murahnya harga makanan di Jogja.
8. Senyum dan sapa
![]() |
| Tuh kan senyumnya bikin hati bahagia, apalagi senyumannya yang baju pink. (sumber gambar : Brillio) |
Orang ASLI Jogja akan selalu tersenyum dan menyapa siapa saja yang ditemuinya ketika berpapasan di jalan. Cobalah kamu main ke daerah-daerah pemukiman seperti kali code dan kampung keraton. Kamu akan langsung disenyumin. Budaya ramah ini akan selalu terjaga selama budaya individualisme tidak semakin menjamur di kota yang ramah ini.
9. Banyak Tempat Wisata dan Hiburan
![]() |
| Jogja banyak tempat wisata yang asik buat pacaran (sumber gambar : sorotgunungkidul) |
Selama hidup di Jogja kita tidak akan pernah kehabisan tempat yang menarik untuk dikunjungi di akhir pekan. Mau menikmati udara segar pegunungan? Kalian tinggal pergi ke Kaliurang atau Kulonprogo. Mau bermain pasir diiringi deburan ombak? Bantul dan Gunung Kidul setia menunggumu. Mau shoping? Banyak mall dan pasar tradisional yang siap menerima uangmu. Pengin senang-senang atau sekedar jalan-jalan? Kamu bisa pergi ke event-event musik, pameran dan budaya yang hampir setiap hari ada! Pokoknya banyak banget tempat wisata dan hiburan yang ada di Jogja yang bakal bikin kita merasa kehilangan kalau beranjak dari Jogja.
10. Surganya Kuliner dan tempat nongkrong
![]() |
| Nongkrong dan begadang bersama Backpacker Indonesia Reg. Jogja sampai pagi, ngobrolin apa saja sampai mulut berbusa. |
Ada ribuan tempat makan dan minun yang tersebar di seantero Yogyakarta. Banyak tempat makan baik tradisional maupun modern yang selalu bertambah setiap waktu. Banyak tempat ngopi untuk sekedar tongkrongan bersama teman-teman. Bisnis kuliner di Jogja tidak akan pernah mati. Walaupun satu mati, pasti akan tumbuh seribu. Di cafe-cafe inilah kita menghabiskan malam bersama teman, komunitas dan juga pacar yang kalau di ingat-ingat lagi bakal bikin kita baper.
Nah, itulah 10 hal yang bikin betah di Jogja dan selalu ngangenin setiap waktu. Apa kotamu yang sekarang juga ngangenin seperti Jogja? Jawab di kolom komentar ya.
Jalan-Jalan Malam di Makam Raja Mataram
Hayoo..denger kata jalan-jalan ke makam atau kuburan di malam hari pasti bulu kuduk kalian pada berdiri?? hehe. Tapi makam yang satu ini beda loh dengan makam-makam lainnya yang angker atau dalam bahasa jawa disebut wingit.
Makam Raja Mataram yang terletak di Kota Gede merupakan makam dari Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan, dan orang-orang penting lainnya di Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat.
Sekitar pukul setengah dua belas malam saya memarkirkan motor saya yang ternyata sudah ramai, seperti pasar malam, maklum saja karena malam ini merupakan malam jumat kliwon dimana banyak orang-orang putus asa yang mencari secercah harapan dari sebuah kuburan supaya dapet duit banyak, singkatnya adalah pesugihan.
Di area parkiran terdapat sebuah pohon beringin besar yang kata si tukang parkir usianya sudah ratusan tahun. Saya mendekati pohon beringin itu dan berdiri sekitar lima menit barangkali kejatuhan daun beringin yang gugur.
Menurut mitos, jika ada orang yang kejatuhan daun dari pohon beringin tersebut maka merupakan pertanda baik. Dari situ saya berjalan menuju pintu masuk yang di apit oleh deretan warung-warung kopi. Yang membuat saya heran, didalam warung-warung kopi itu ada beberapa wanita berpakaian seksi macam yang ada di sarkem.
Begitu melewati gapura pintu masuk saya langsung disambut oleh Masjid Agung Kota Gede dengan bentuk Joglonya. Ada beberapa orang yang tengah tidur di selasar-selasar masjid.
Dari Masjid saya menuju ke kiri, melewati sebuah gerbang Paduraksa yang terbuat dari susunan batu bata merah yang tebal dan terlihat sangat tua. Disitu terdapat sebuah pendopo kecil yang bernama Bangsal Duda yang dibangun sekitar tahun 1644 M oleh Sultan Agung yang diperuntukan bagi para abdi dalem berjaga.
Dari situ saya masih berjalan lagi melewati gapura dan sampailah di tempat para pencari pesugihan tidur. Terdapat satu pondokan dan dua pendopo disitu yang sudah ramai dengan orang-orang yang tidur-tiduran beralaskan tikar.
Diujung terdapat sebuah gapura dengan pintu yang tertutup dan terkunci. Disinilah batas peziarah diperbolehkan untuk berkunjung karena didalam pintu tersebut merupakan makam utama Raja-Raja Mataram dan hanya dibuka pada siang hari dan hari-hari tertentu.
Didepan pintu terdapat segerombolan orang berpakaian serba hitam yang tengah memanjatkan doa. Saya menghampiri salah satu pengunjung disitu dan menyalakan sebatang rokok untuk memperlancar obrolan kami.
Dari Masjid saya menuju ke kiri, melewati sebuah gerbang Paduraksa yang terbuat dari susunan batu bata merah yang tebal dan terlihat sangat tua. Disitu terdapat sebuah pendopo kecil yang bernama Bangsal Duda yang dibangun sekitar tahun 1644 M oleh Sultan Agung yang diperuntukan bagi para abdi dalem berjaga.
Dari situ saya masih berjalan lagi melewati gapura dan sampailah di tempat para pencari pesugihan tidur. Terdapat satu pondokan dan dua pendopo disitu yang sudah ramai dengan orang-orang yang tidur-tiduran beralaskan tikar.
Diujung terdapat sebuah gapura dengan pintu yang tertutup dan terkunci. Disinilah batas peziarah diperbolehkan untuk berkunjung karena didalam pintu tersebut merupakan makam utama Raja-Raja Mataram dan hanya dibuka pada siang hari dan hari-hari tertentu.
Didepan pintu terdapat segerombolan orang berpakaian serba hitam yang tengah memanjatkan doa. Saya menghampiri salah satu pengunjung disitu dan menyalakan sebatang rokok untuk memperlancar obrolan kami.
Dari obrolan tersebut diketahui bahwa para peziarah sengaja menginap di area makam karena sebuah mitos yang menyatakan jika ada peziarah yang menginap di area makam selama 40 hari berturut-turut maka akan mendapatkan sebuah wangsit atau pencerahaan dari sesuatu yang disebut sebagai arwahnya Panembahan Senopati. Namun kebanyakan peziarah hanya menginap 1-2 malam saja. Ada juga beberapa peziarah yang sudah menginap beberapa minggu di makam tersebut.
Begitulah orang Indonesia, kita masih sangat percaya pada mitos-mitos yang belum tentu benar adanya. Mungkin tujuan utama dari menginap di makam ini pada jaman dulu adalah sebagai sarana berintrospeksi dan meditasi serta mengenang jasa-perjuangan para leluhur yang kemudian karena ketidak tahuan disalah artikan menjadi sebuah perbuatan yang syirik.
Tapi ada sesuatu yang membuat saya heran. Sebelumnya di pelataran parkir ada beberapa mobil mewah, salah satunya sebuah Rubicon. Disini, di area tidur para peziarah, ada beberapa orang tionghoa yang sepertinya adalah pengusaha-pengusaha kaya raya yang mungkin percaya pada mitos tersebut. Hal tersebut membuat akal sehat saya jadi goyah, apakah mitos tersebut benar adanya? wallahualam....
Tapi ada sesuatu yang membuat saya heran. Sebelumnya di pelataran parkir ada beberapa mobil mewah, salah satunya sebuah Rubicon. Disini, di area tidur para peziarah, ada beberapa orang tionghoa yang sepertinya adalah pengusaha-pengusaha kaya raya yang mungkin percaya pada mitos tersebut. Hal tersebut membuat akal sehat saya jadi goyah, apakah mitos tersebut benar adanya? wallahualam....
Langganan:
Postingan (Atom)
Featured post
Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua
"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...
Paling Banyak Dibaca
-
Bagi yang sudah pernah mendaki gunung Arjuno pasti sudah tidak asing lagi dengan cerita mistis mengenai hutan yang bernama Lali Jiwo ini. ...
-
Manusia sebagai makhluk hidup yang paling bijaksana — itu lah mengapa kita disebut sebagai homo sapiens, yang berarti manusia bijaksana — se...







































