Danau Weekuri, Hidden Paradise Pulau Sumba


Rangkaian cerita di sumba.....



Waktu penelitian di Sumba, waktu berada di Kodi, si kota konflik, waktu menginap di tempat pak camat, hari itu adalah hari minggu, dan merupakan hari yang sempurna untuk jalan-jalan di sela sibuknya tugas penelitian kami.

Searching-searching di google, ternyata ada tempat wisata keren di Kodi, namanya danau weekuri. Tidak jauh dari tempat kami, sekitar 30 menit perjalanan naik motor.

Kami mengandalkan anak pak Camat yang bernama, sebut saja Jono (maaf sekali aku lupa namamu kawan, hehe) untuk menjadi guide dan pelindung kami.

Pelindung? ya, Kodi merupakan daerah rawan konflik dan rawan kejahatan, terutama perampokan di jalan, apalagi jalanan yang akan kami lewati merupakan daerah sepi dan masuk ke dalam.

Dengan adanya si Jono ini, diharapkan para calon perampok enggan untuk merampok sang putra mahkota dari Kerajaan Kodi ini, dan juga supaya kita tidak tersesat arah dan tujuan.

Jono enggan jika tidak bersama ajudannya si Bono, maka okelah kami angkut Bono juga. FYI, Jono dan Bono ini masih SMA.


Tiga motor kami panaskan, delapan orang bersiap-siap. Aku berboncengan tiga dengan Jono dan satu temanku sebut saja Koko, sementara Bono juga berboncengan tiga bersama Si Mat dan Om Har. Sementara satu motor lagi digawangi oleh Ipoel dan Atik. Aku injak motor GL tua sewaan, dan, brummmm, siap tempur!. 


Dari tempat Pak Camat kami mengarah ke utara melewati padang rumput yang luas dengan banyak kubur batu.

Jono menjelaskan bahwa tempat itu merupakan tempat upacara Pasola, upacara adat orang Sumba, yaitu perang-perangan menggunakan kuda dan tombak (walau terkadang perang-perangan ini berakhir menjadi perang sungguhan).

Melewati Lapangan Pasola, kami menjumpai perkampungan adat yang kuno dengan altar penyembahan serta beberapa totem hewan.

Kampung ini kata Jono merupakan kampung leluhurnya alias kampunya kakek buyutnya. Yang berarti Pak Camat berasal dari kampung keren ini. Hanya terdapat beberapa rumah saja, tidak banyak.

Didepan masing-masing rumah, ibu-ibu dan anak-anak yang sedang menenun kain melambaikan tangan kepada kami, salam sapa khas Sumba yang begitu hangat.




Lepas dari perkampungan adat ini kami mulai memasuki hutan. Jalanan masih beraspal, walau banyak lubangnya. Kanan-kiri hanyalah pohon-pohon yang didominasi pohon kelapa dan beberapa tanaman rambat yang tinggi besar. Jarang terlihat rumah, hanya ada beberapa gubuk saja.

Disinilah biasanya para perompak itu melancarkan aksinya. Dengan berbekal parang yang diberi oleh kakek pejuang dari suku Wewewa serta parang dari Pak Camat Kodi, kami siap menaklukan segalanya! Sebenarnya suku Wewewa dan Suku Kodi ini merupakan suku yang sedang berkonflik.

Mereka adalah musuh bebuyutan, orang Wewewa benci Kodi, begitu juga sebaliknya, orang Kodi benci Wewewa.

Sebenarnya, tiak perlu lah bermusuhan seperti itu, lihatlah parang kami, parang Wewewa dan parang Kodi juga bisa bersatu. Persatuan ini bisa mengalahkan segalanya! perpecahan hanya akan membuat kalian terlihat semakin bodoh, kawan.

Hutan sudah habis, dan kembali lagi ke padang-padang rumput yang luas, dan rumah-rumah panggung beratapkan rumbia membius pandangan.

Sesekali, babi-babi kecil berlari menyeberang tanpa babibu, seakan minta digilas roda motor ini.

Sayang sekali, di padang rumput seluas ini tidak terlihat sapi atau hewan ternak perumput satupun. Padahal, daerah ini sangat cocok untuk beternak sapi. Coba ada yang berinisiatif berternak sapi perah, nantinya susu hasil perahan bisa untuk mencerdaskan masyarakat.




Akhirnya jalan aspal berakhir,berganti menjadi jalan tanah berkerikil yang sempit. Untuk masuk Danau Weekuri, kami harus melalui jalur ini.

Semak belukar yang lebat dikanan kiri jalan membuat kami harus berhati-hati supaya tidak terbeset ranting-rantingnya yang cukup tajam.

Dijalur ini, savananya lebih indah, lebih hijau, dan lebih subur. Mungkin karena tidak ada pemukiman di daerah ini.

Saya membayangkan, ada jerapah dan rusa di padang ini, soalnya kondisinya mirip sekali dengan savana yang ada di Afrika yang selama ini hanya bisa kupandangi lewat film-film dokumenter.

Sesekali burung-burung besar berwarna merah terlihat terbang sangat rendah, juga burung-burung berwarna kuning dan hijau. Kicau burung yang merdu juga sayup-sayup terdengar. Inilah surga!

Menjelang Danau Weekuri, di kiri jalan ada rumah panggung milik warga negara perancis yang mengelola salah satu pantai disini, yakni pantai Mandorak.

Warga negara perancis yang kini berdomisili di Bali ini selain mengelola Pantai Mandorak juga turut menyejahterakan rakyat sekitar dengan membangun sekolah dan yayasan.

Diharapkan pengelolaan ini bisa mengangkat derajat ekonomi dan pendidikan warga sekitar, namun sangat tidak diharapkan bila ujungnya warga negara Perancis ini membangun resort mahal disini. 


Portal berwarna biru yang tak berfungsi menjadi pintu gerbang Danau Weekuri. Kami parkir kendaraan kami. Air berwarna biru kehijauan yang dikelilingi oleh karang-karang berbalut pepohonan menjadi sambutan selamat datang kami.



Menakjubkan! baru pertama aku melihat danau seperti ini. Tidak besar, namun begitu indah. Pasir putih yang digenangi oleh birunya air laut dan gradasi hijau dari rumput laut begitu menakjubkan.

Diujung karang yang berbatasan dengan laut, ombak-ombak keluar dari celah batu karang dan mengisi air danau ini. Tebing-tebing karang disekeliling danau ditumbuhi tumbuhan sulur yang lebat dan hijau. 


Kami langsung menceburkan diri, begitu segar! kamera mulai dikeluarkan dan kami mulai berpose dengan berbagai gaya. Mengabadikan ke eksotisan tempat ini.

Walaupun pemandangannya indah, danau ini juga agak bernuansa magis, mungkin karena hanya rombongan kami saja yang berkunjung. Kesunyian membuat deburan ombak dan deruan angin seakan berbisik kepadaku untuk mencoba naik ke atas karang, di ujung batas antara danau dan laut.




Akhirnya setelah puas menikmati danau Weekuri dari dalamnya, saya mencoba naik ke atas bukit karang yang mengelilinginya. Mendaki perlahan menghindari batu-batu karang yang lancip, mencoba menggapai puncak danau ini. 


Lautan luas di bawahku menghantam tebing-tebing karang dan mengikisnya perlahan. Padang rumput hijau yang begitu luas dibelakangku sangat kontras dengan birunya lautan didepanku.

Danau Weekuri tampak lebih biru dari atas sini. titik-titik kecil di salah satu ujung danau melambaikan tangan kepadaku sebagai isyarat minta di foto dari ketinggian. Beberapa teman menyusulku ke atas, dan bersama, kami menikmati salah satu keajaiban Sumba dari atas karang Danau Weekuri ini.



Dari Danau Weekuri kami menuju ke Pantai Mandorak, simak ceritanya di  Pantai Mandorak, Surga Diantara Batu Karang.
  

  



Behind The Scene :

Bono & Jono, guide lokal kami

#GagalGaya

Didepan Tugu Selamat datang, "Jangan Buang Sampah Sembarangan"

#GagalGaya 2

Salam dari atas tebing, terimakasih sudah berkunjung ke blogku :)

Kenalan Dengan Traveler Bule Dari Rusia Mark & Natasha


Sore ini Purbalingga cerah sekali, tak seperti biasanya yang selalu mendung dan turun hujan. Saya menikmati sore hari ini dengan secangkir kopi hitam yang tak terlalu manis dan ditemani hisapan rokok favorit sambil menikmati kecerahan suasana alun-alun kota. 

Langit begitu cerah, awan-awan putih bertebaran di angkasa dengan bias sinar matahari berwarna oranye menembus awan-awan tersebut, matahari hendak tenggelam tampaknya. Ditengah kenikmatan tersebut, tiba-tiba ada yang mencuri perhatian saya, yakni dua orang bule yang sedang berjalan ditengah alun-alun sambil menenteng tas ransel besar dengan tampilan ala kadarnya. Si cowok mengenakan kaus merah dengan celan khaki 3/4 yang sobek dibagian lututnya, sedangkan si cewek mengenakan kemeja motif bunga-bunga dengan tanpa alas kaki alias nyeker. Wah, sungguh keren penampilan mereka. Coba saja kalau mereka bukan bule, pasti sudah di caci-maki oleh khalayak umum.


Mereka duduk lesehan dengan beralaskan rumput sambil menikmati suasana langit sore ini yang memang sungguh luar biasa indah menurut saya. Karena penasaran, saya dekati mereka. Setelah menyapa, basa-basi, akhirnya kami berbincang-bincang sedikit. 

Saya bertanya mengapa mereka berada di kota kecil ini, yang sangat jarang sekali kedatangan bule dari ras kaukasoid ini. Kalau ada, palingan hanya bule dari Korea ataupun China yang notabene merupakan bos-bos dari pabrik-pabrik bulu dan rambut palsu yang tersebar di seantero Purbalingga. Ternyata, mereka berada di Purbalingga hanya sekedar transit sebelum kembali melakukan perjalanan mereka menuju Yogyakarta. 

Metode perjalanan yang mereka pakai adalah hitch hikking yaitu menyetop kendaraan-kendaraan pribadi supaya bisa numpang gratis sampai tujuan. Di Indonesia sendiri, terutama di kota-kota besar sudah bermunculan komunitas hitch hikking ini, seperti di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dll.

Mark dan Natasha nama mereka. Mereka berasal dari Russia, tepatnya dari kota St. Petersburg. Visa 30 hari mereka manfaatkan dengan sangat maksimal, sebelumnya di Indonesia mereka telah menjelajahi Dumai, Lampung, Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, Purwokerto, dan akhirnya sampai di sini, Purbalingga, sebelum menuju Yogyakarta. Mereka sungguh ramah dan cerewet. Mereka minta pendapatku, tampat mana saja yang most recommended untuk mereka kunjungi selama berada di Jawa. Tentu saja, saya rekomendasikan tempat-tempat seperti Karimunjawa, Dieng, Surakarta, pantai selatan Gunung Kidul, Bromo, Malang, dll. 


Anak-anak kecil yang tadinya hanya ada dua, sekarang bertambah menjadi sepuluh anak yang mengerubungi kami seiring dengan obrolan yang semakin hangat. Maghrib-pun tiba, langit bertambah memerah warnanya, dan jauh lebih indah. Suara adzan dari masjid agung berkumandang dengan merdunya.

Tiba-tiba mereka berdiri dan langsung mengekspresikan keindahan senja itu dengan menari-nari, berpelukan, dan saling cium, ohhhh...wtf! Mereka tampaknya begitu gembira. kata Natasha "When I hear them singing, calling people for praying, it's voice and melodies are so beauty, peaceful, dramatic, and also romantic" Natasha merinding dan merasa suara adzan itu selalu membuatnya merasakan suatu perasaan yang misterius, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin terdengar lebay, namun memang adzan sore ini begitu berbeda, suaranya begitu merdu, ditambah suasan langit cerah yang memang indah dan dramatis.

Malam mulai turun dan it's time to say goodbye. Mereka berdua hendak melanjutkan perjalanannya, dan saya juga hendak pulang ke rumah. Setelah tuker-tukeran e-mail dan nomor telepon, akhirnya kami say goodbye, mereka langsung bersiap dengan jurus hitch hikkingnya. Ternyata, kota kecil seperti Purbalingga juga mampu kedatangan bule nyentrik seperti mereka. Nice to see you, Nat and Mark, hope to see you again.


Lokasi Purbalingga yang berada di jalur tengah  merupakan daerah tempat wisata dataran tinggi yang eksotis. Ada baturaden di Purwokerto, Gunung Slamet, Dataran Tinggi Dieng di Wonosobo dan Banjarnegara, dan merupakan jalur alternatif menuju Propinsi Yogyakarta. Dengan lokasi seperi ini seharusnya pemerintah dapat memanfaatkannya dengan baik, mengelola peluang dan kesempatan yang ada. Siapa tau mungkin nanti, Purbalingga tidak hanya menjadi tempat transit bule-bule, namun justru menjadi destinasi utama bagi mereka.

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca