Jumat, 10 November 2017

Segarnya Soto Bathok Mbah Katro, Sambisari, Yogyakarta


Berkunjung ke Candi Sambisari rasanya kurang lengkap kalau tidak sekalian mampir ke warung Soto Bathok Mbah Katro. Lokasinya hanya berjarak sekitar seratus meter dari candi. Nama warungnya yang unik tentunya membuat orang penasaran sehingga menarik pengunjung candi untuk singgah mencicipi soto tersebut.

Coba kalau dulu si mbah Katro buka warung mie ayam, atau bakso, atau sekedar warung soto biasa, pasti bakalan kurang dikenal masyarakat. Nah, disinilah kita belajar bahwa keunikan sebuah produk akan mampu menarik customer untuk menghabiskan beberapa lembar rupiah pada produk kita. Apabila dibarengi dengan kualitas produk yang baik, maka produk kita akan laris manis, seperti Soto Batok ini.



Biasanya pada akhir pekan, warung soto ini pasti ramai dikunjungi manusia-manusia kelaparan dari berbagai penjuru. Tetapi tumben sore ini cukup sepi, hanya terlihat beberapa deret sepeda motor. Yah, suasana beginilah yang paling asik untuk bersantap. Tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu sepi.

Tempatnya yang berada ditengah areal persawahan membuat warung ini berhawa sejuk karena angin semilir yang lewat melalui sela-sela tiang bambu berperan bak AC alami ramah lingkungan. Terdapat deretan meja kursi yang memanjang dari depan sampai ke belakang. Kursi-kursi tersebut tampak kosong karena pengunjung lebih memilih duduk santai di tempat lesehan beralaskan tikar. 



Didepan warung, saya memesan dua porsi soto batok, satu porsi tempe goreng, dan segelas es jeruk. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, mas-mas pelayan datang membawa satu nampan yang tampak penuh berisi pesanan saya tadi ditambah sambal, semangkuk kecil jeruk nipis, dan sebotol kecap.

Kenapa dinamakan soto batok? karena sotonya disajikan dalam sebuah mangkuk kecil dari batok kelapa / kulit buah kelapa yang keras. Rasanya? rempah-rempah beradu dalam mulut bercampur dengan harum kaldu langsung terasa saat mulut mulai menyeruput kuah soto bermangkuk kulit kelapa ini. Daging babat yang direbus berjam-jam terasa sangat empuk, sayang babatnya cuma sedikit. Tempe goreng yang masih panas saya celupkan kedalam kuah soto sampai kaldu dan rempahnya meresap kedalam tempe lalu saya santap bersamaan dengan nasi, tauge, babat, nikmat guys. 



Kalau berkunjung kesini, saya yakin 100% pasti tidak akan puas / kenyang hanya dengan menyantap satu porsi soto batok. Butuh minimal dua porsi supaya bisa puas menikmati salah satu wujud keunikan kuliner Yogyakarta ini. Jika sudah selesai menyantap Soto Batok, kita bisa langsung berkunjung ke Candi Sambisari, atau berenang-renang manja di Jogja Bay Waterpark. Kalau kalian suka bola, tidak ada salahnya menyambangi markas besar klub sepakbola PSS Sleman yakni stadion Maguwoharjo yang tempatnya persis di sebelah Jogja Bay.



xxXXxx

Minggu, 08 Oktober 2017

Jogja Sebagai Destinasi Wisata Kopi, Why Not?


Siapa sih yang belum pernah minum kopi? Saya yakin 100% pembaca artikel ini pasti pernah ngopi walau hanya satu seruputan saja. Dari Sabang sampai Merauke, dari Gayo sampai Wamena, kopi seperti sudah menjadi nadi-nadi kehidupan masyarakat Indonesia. Sudah mendarah daging dan sulit untuk dipisahkan dari keseharian masyarakat.

Sabtu, 30 September 2017

Waikelo Sawah, Air Terjun Dari Dalam Gua


Pulau Sumba memang unik. Pulau ini menyajikan paket wisata lengkap dari pantai-pantainya yang indah dan eksotis, budayanya yang unik, arsitektur rumahnya yang menarik, alam hutannya yang masih asri, sampai air terjunnya yang keren-keren. Salah satu air terjun yang termasuk keren adalah Air Terjun Waikelo Sawah. Air terjun ini tidak begitu tinggi tapi memiliki debit air yang besar, dan yang paling unik adalah, air terjun ini bersumber dari dalam tanah, tepatnya dari sebuah gua di kaki bukit. 

Jumat, 29 September 2017

Menikmati Sore di Candi Sambisari Yogyakarta


Candi Sambisari, tidak banyak wisatawan dari luar kota Jogja yang mengenal nama dari candi yang dibangun pada abad ke-9 ini. Candi Sambisari dibangun pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Setelah sekian abad terpendam dibawah tanah karena berulang kali tertutup oleh abu dari letusan Gunung Merapi, pada tahun 1966 candi ini ditemukan oleh seorang petani di Desa Sambisari yang kemudian dipugar dan direkonstruksi oleh Dinas Purbakala pada tahun 1986.

Kamis, 28 September 2017

8 Destinasi Liburan Tahun Baru Paling Asik di Asia


Kenapa di era modern, di era serba canggih ini, waktu terasa begitu cepat berlalu? Tidak terasa beberapa bulan lagi tahun akan segera berganti. Perasaan baru kemarin saya menulis resolusi tahun baru, dan sebentar lagi saya bakal menulis resolusi tahun baru lagi, padahal resolusi yang kemarin saja belum semua tercapai.

Sabtu, 16 September 2017

Jelajah Sejarah, Stasiun Maguwo Lama Yogyakarta


Tak banyak yang tahu dengan salah satu bangunan tua saksi sejarah kota Jogja ini. Sebuah bangunan tua berwarna dominan putih abu-abu dengan gaya arsitektur khas indische ini berdiri anggun di pinggir rel kereta api yang membujur, membelah Desa Maguwoharjo, Sleman, DI Yogyakarta. Bangunan ini dulunya merupakan sebuah stasiun kereta api, namanya Stasiun Maguwo, untuk membedakan dengan stasiun yang baru dibangun tidak jauh disebelah timurnya, maka orang-orang menamainya 'Stasiun Maguwo Lama'. 

Sabtu, 09 September 2017

Ngaku Pemberani? Yuk Wisata Malam Hari ke Lawang Sewu


Apa yang pertama kali kamu pikirkan saat seseorang menyebut Lawang Sewu?Apakah horor? Angker? Menakutkan?

Tahukah kamu, pendapat seperti itu tak sepenuhnya benar. Lawang Sewu yang terkenal ini sebenarnya terlalu megah dan indah kalau harus disemati dengan image horor dan isu-isu miring yang tak enak didengar.

Selasa, 15 Agustus 2017

Taman Tebing Breksi Jogja? Biasa Saja


Pesona wisata Yogyakarta memang tidak akan pernah habis. Selalu saja ada inovasi wisata yang baru dan menyegarkan. Dulu jaman awal saya kuliah, yaitu tahun 2008, pantai, gua, dan air terjun di Gunung Kidul masih sedikit sekali yang tahu akan keindahannya. Jika tidak ada kuliah lapangan tentang Geografi Fisik di Gunung Kidul pasti saya tidak akan tahu indahnya alam Gunung Kidul. Jauh sebelum hebohnya sosmed, waktu jamannya friendster, obyek wisata yang sekarang hits di instagram bahkan belum ada wujudnya, belum direncanakan. 

Senin, 31 Juli 2017

Mengintip Singapura Dari Pantai Tanjung Pinggir, Batam


Kapal-kapal tanker tampak terapung tak bergerak, disebelahnya, sebuah kapal ferry melaju kencang menerabas angin, memecah ombak. Sementara dibelakangnya, siluet gedung-gedung pencakar langit tampak menjadi pembatas horizon sebuah laut yang sedang saya pandangi, sambil sesekali menyipitkan mata karena angin yang berhembus membawa serpihan-serpihan kecil pasir pantai membuat mata saya kelilipan.

Selasa, 25 Juli 2017

Tempat Wisata Kuliner di Hong Kong


Hongkong menjelma menjadi negara yang maju dengan pesona dan tempat wisata yang banyak di kunjungi wisatawan. Ada banyak hal yang menjadi incaran para turis saat berkunjung ke Hongkong ini, mulai dari wisata belanja, wisata alam, atau ke tempat-tempat keagamaan, sampai wisata kuliner.

Dan kali ini kita akan membahas dimana saja tempat wisata kuliner di Hongkong yang bisa dicoba mulai dari tempat yang murah meriah, hingga yang mahal. Yuk, cek wisata kuliner di Hong Kong ini.

Rabu, 07 Juni 2017

Menikmati Sunset Candi Ijo, Candi Tertinggi di Jogja


Jika ditanyakan kegiatan apa yang paling berkualitas untuk mengisi waktu luang? Jawaban saya adalah baca buku dan jalan-jalan! Dua kegiatan ini mampu mengisi kekosongan kita dengan sesuatu yang bermanfaat yakni pengalaman, wawasan, dan pengetahuan. Mungkin jawaban tersebut bisa dibilang naif dan klise karena saya sendiri sebenarnya masih terjebak dalam gelombang dusta sosial media. Ada waktu senggang sedikit pasti langsung buka instagram atau facebook, kalau lagi banyak kuota ya youtube.

Minggu, 28 Mei 2017

Candi Gebang, Si Kecil Yang Penyendiri


Saya sangat akrab dengan sebuah jalan yang bernama Candi Gebang. Lokasinya yang dekat dengan rumah membuatnya sering saya lewati. Dulu saya kira 'Candi Gebang' hanyalah sebuah nama jalan atau perumahan. Sama seperti 'Candi Indah' yang saya kira nama dari sebuah candi tapi setelah dicari-cari ternyata merupakan sebuah perumahan semi elit, bukan sebuah candi. Syukurlah Candi Gebang yang saya maksud bukanlah sebuah perumahan, melainkan memang nama dari sebuah candi peninggalan peradaban masa lalu.

Jumat, 26 Mei 2017

Berburu Barang Antik di Hari Pasaran Pancawara Yogyakarta


Salah satu hobi saya kalau sedang tidak ada kerjaan adalah berburu barang-barang vintage, antik, jadul, dan unik sekedar sebagai penghias rumah atau di alih fungsikan jadi sesuatu yang lebih yahud, istilah bulenya 'upcycle'. Tempat berburu barang-barang tersebut di Jogja selain di Pasar Klitikan, Pasar Niten Bantul , dan Pasar Senthir adalah di Pasar Pasaran Pancawara.

Selasa, 23 Mei 2017

Jumat, 19 Mei 2017

Chinese Garden Singapore, Ketenangan di Tengah Riuhnya Metropolitan


Walaupun sebuah kota besar yang sibuk, Singapore mempunyai banyak tempat untuk menyepi dari penatnya kehidupan yang serba cepat ala kota metropolis. Banyak taman yang selalu penuhi oleh warga di setiap sudut kotanya. 

Ketika saya mengelilingi kota saya banyak melihat taman hijau yang luas dan rindang. Kanopi-kanopi pepohonan tropis tampak dari kejauhan menggelayut tertiup angin. Menurut situs Dinas Pertamanan Singapore (nparks.gov.sg) ada 1626 taman dan hutan kota yang tersebar di seluruh penjuru Singapore, termasuk taman atas gedung (roof garden) dan beberapa pohon lindung.

Ayo Bantu Kawan Kita Yang Terancam Punah!


Hei! Apakah kalian tahu kalau tanggal 19 Mei adalah sebuah hari berbahagia untuk teman-teman kita di luar sana? 19 Mei adalah World Endangered Species Day! Hari yang dikhususkan untuk teman-teman lucu kita yang mungkin jika kita tidak ikut turun tangan maka suatu saat nanti anak-cucu kita tidak bisa melihat mereka lagi. Sedih bukan? Saya selalu penasaran dengan yang namanya burung dodo, mereka punah pada abad ke 16, sekarang, saya hanya bisa melihatnya melalui gambar dan film-film fiksi saja.

Senin, 15 Mei 2017

Candi Kalasan, Sebuah Penghormatan Bagi Jiwa Yang Bebas


Jalanan siang itu sangat padat, truk dan bus saling salip, saya yang hanya menaiki sebuah motor matic tua melaju dengan kecepatan seadanya, tak sampai 40km/jam, mungkin.

Tepat di pinggir jalan raya, saya dikejutkan oleh sosok bangunan berbatu tinggi menjulang. Bangunan batu tersebut tampak kontras dengan rumah-rumah semen di sekelilingnya.

Rabu, 10 Mei 2017

Gemerlap Cahaya Jamur dan Kunang-Kunang di Kampung Baduy Dalam


Perjalanan diawali dari Yogyakarta langsung menuju Banten, tepatnya di Leuwidamar, Kabupaten Lebak, melewati jalur selatan. Dari kota Lebak kami langsung menuju ke desa Kanekes yang berada di kaki Pegunungan Kendeng melewati perbukitan dengan lama perjalanan sekitar dua setengah jam. Jalan yang kami lewati sebenarnya sudah di aspal, namun masih terdapat beberapa lubang di kanan, kiri, bahkan di tengah, sehingga mobil yang kami tumpangi terpaksa 'berdisko'. 

Jumat, 05 Mei 2017

Dongeng Dari Negeri Sabana : Simalakama Adat Leluhur


...Lanjutan Dari Dongeng Dari Negeri Sabana: Nyanyian Anak-Anak Rumput

Kakek Yoha meyuruh cucunya untuk mengambilkan sirih pinang di dalam rumahnya. Sejurus kemudian, satu set sirih pinang sudah ada di depan saya. Kakek lantas mengambil sebuah pinang dan mengunyahnya disusul dengan sedikit taburan kapur. Penasaran, saya pun ikut mencobanya. Beberapa detik setelah mengunyanya, mulut terasa seperti terbakar dan kepala agak melayang-layang. Sensasi pedas dan sengar beradu di dalam mulut. Sesekali saya meludahkannya ke tanah yang langsung berwarna merah, kemudian kembali mengunyahnya. Satu kali mencoba, saya langsung mulai akrab dengan rasanya. Setelah pinang pertama habis, saya lanjutkan pinang kedua sambil sesekali menghisap rokok kretek yang saya bawa. 

Kamis, 04 Mei 2017

Dongeng Dari Negeri Sabana : Nyanyian Anak-Anak Rumput


Pada suatu siang yang terik di sebuah negeri sabana bernama Sumba. Sejauh mata memandang, saya hanya melihat padang rumput dan semak belukar. Kadang diselingi pohon-pohon kurus yang tidak terlalu tinggi. Dua anak kecil tampak sedang menuruni sebuah bukit. 

Anak yang paling besar membawa setandan pisang. Sementara yang kecil tampak membawa sebuah karung yang terisi penuh. Di belakang mereka, satu anak perempuan juga membawa karung dan berlari-lari kecil mengejar dua anak di depan. 

Sesekali mereka berhenti dan menaruh kantong itu di tanah kemudian bermain-main sambil menyanyikan sebuah lagu daerah yang terasa asing di telingaku. 

Di atas padang rumput yang luas, mereka berkejaran kesana-kemari diiringi tawa yang lepas seakan-akan menyiratkan bahwa hidup mereka sungguh bahagia. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika melihat mereka dari kejauhan. Tawa lepas mereka menggema sampai ke tempat saya berada. 

Baca juga tulisan saya lainnya tentang Sumba
Di beranda sebuah rumah panggung yang terbuat dari bambu. Dua babi di kolong rumah tak henti-hentinya menguik sambil menggaruk tanah mencari apapun yang bisa dikunyah. “Ah, itu mereka sudah pulang” kata seorang kakek tua di beranda rumah tempat saya duduk bersila. 

Cucunya yang masih balita duduk di pangkuannya sambil memainkan jenggotnya yang sudah memutih. Namanya Yohanis Lodwig Mete. Dia menyuruh saya memanggilnya Yoha saja, nama panggilannya sejak kecil. 

Sebelumnya, saya yang sedang menyusuri sebuah jalan pengerasan, sebuah jalan tanah bercampur kerikil dan batu kapur diantara bukit-bukit padang rumput tiba-tiba melihat sebuah rumah panggung. Di halamannya terhampar biji-biji kopi yang sedang di jemur. 

Sebagai pecinta kopi, saya langsung tertarik dengan pemandangan itu dan menghampiri rumah satu-satunya yang ada di padang ini. Rumahnya ditumbuhi pepohonan dan semak tinggi yang sengaja ditanam untuk melindungi penghuninya dari panas terik matahari timur. 

Dua gelas kopi panas dan sepiring singkong rebus yang sudah dingin tersaji di hadapanku. "Maaf ini ala kadarnya saja ya bapak" katanya dengan santun saat menghidangkan suguhan yang menurut saya sudah lebih dari cukup. Seorang asing dengan mata sipit tiba-tiba menghampiri rumahnya lalu di suguhi makan dan minum. 

Sikap dihormati sebagai tamu seperti ini selalu saya dapatkan saat singgah di rumah-rumah penduduk walaupun hanya sekedar untuk bertanya mengenai kehidupan mereka sehari-hari.

Keharusan menghormati tamu memang sudah jadi sebuah ajaran umum di setiap agama dan kepercayaan yang ada di dunia. Beruntung di Negeri Padang Rumput ini, ajaran tersebut masih terpelihara dengan baik, belum termakan budaya individualisme produk kebudayaan nirkabel.

Anak-anak kecil dari padang rumput tadi dengan ceria memasuki pelataran rumah yang di pagari dengan tumbuhan singkong. "Bapatua (kakek), ini kopinya sa (saya) taruh mana?" tanya si anak perempuan dengan sedikit malu-malu. Sedangkan dua anak lainnya beringsut ke bawah rumah dan menjahili babi-babi yang sedari tadi menguik-nguik terus. "Sini saja, ini bapa dari Jawa mau liat kopinya", jawab Kakek Yoha. 

Sebungkus besar plastik berisi kopi di sodorkan kehadapan saya. Biji-bijian yang masih hijau tersebut masih belum berbau wangi. Kakek Yoha menjelaskan kalau biji kopi ini diambil dari kebunnya yang berada di bawah bukit, dekat dengan sekolahan dua cucunya itu. 

Anak perempuan dengan senyuman yang manis ini punya cita-cita jadi dokter.
Saya baru sadar kalau hari ini memang hari aktif sekolah. Bocah-bocah tadi ternyata baru pulang sekolah, padahal jam di pergelangan tanganku menunjukan sudah pukul tiga sore. "Sekolahnya di mana ade?" tanyaku. Bocah perempuan yang manis itu langsung bersembunyi di balik tubuh saudaranya. Dia tampaknya malu ditanya oleh om-om aneh dari negeri antah berantah ini. Sambil tersenyum cengengesan, dia meminta Kakeknya saja yang menjawab.

Kakek Yoha menjelaskan kalau tempat cucunya sekolah ada di balik bukit, sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah bukit yang di maksud. Sekolahnya berada di desa tetangga. Jaraknya sekitar satu setengah jam berjalan kaki.

Di tengah perjalanan, anak-anak juga harus menyeberangi sebuah sungai yang cukup dalam untuk ukuran anak kecil, sehingga mereka biasanya meninggalkan seragamnya di sekolah. Seragam baru dipakai ketika mereka sampai di sekolah. 

Kakek Yoha juga menjelaskan, pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru kepada cucu-cucunya itu biasa mereka kerjakan di siang hari sepulang sekolah. Karena jika dikerjakan di malam hari, mata mereka akan sakit karena hanya diterangi oleh pelita dari lampu minyak. Penggunaan lampu minyak juga mereka atur se efisien mungkin karena harga minyak mahal. Listrik? Sebuah fasilitas mewah orang kota saja. 


Jalan Pengerasan yang dikelilingi oleh bukit-bukit sabana.
Perjuangan bocah-bocah inilah yang lantas menginspirasi dan memberi motivasi kepada saya untuk terus dan terus belajar tanpa menyerah pada keadaan. Saya yang hidup di sebuah kota besar penuh dengan fasilitas yang memudahkan justru termotivasi oleh perjuangan bocah kecil di Negeri Padang Rumput yang jauh dari kata modernisasi. Belajar adalah tentang proses. 

Proses dalam pembelajaran itulah yang sebenarnya memberi kita wawasan dan pengetahuan. Karena belajar itu tidak berujung. Selama kita hidup kita akan terus belajar dan belajar supaya menjadi pribadi yang lebih baik. 

Rabu, 03 Mei 2017

Mengembara, Mencari Arti di Luar Zona Nyaman


Traveling mungkin merupakan salah satu alasan saya untuk mencoba keluar dari zona nyaman. Pernah pada suatu ketika saat saya masih polos, saya bertemu dengan seorang backpacker bule asal Amerika di dalam kereta Pramex jurusan Jogja - Solo. Saat itu saya duduk disebelahnya dan sepanjang perjalanan kami banyak mengobrol. Salah satu obrolannya adalah tentang comfort zone.  Waktu itu saya belum tahu apa itu comfort zone. Seingatku dia bilang begini "...I want to escape my comfort zone,  so i decide to travel around the world". Dari perkataanya, saya pikir zona nyaman itu ya cuma rasa bosan saja. Sudah, itu saja, rasa bosan.

Pernah mendengar istilah 'zona nyaman'? jika belum, maka beruntunglah saya karena bisa memberikan informasi ini kepada pembaca yang mungkin sekarang sedang berada dalam fase stagnant, merasa hidup kok begini-begini saja, tidak ada kemajuan. Saya juga sekarang sedang berada dalam fase tersebut, tapi setidaknya saat ini saya sedang mencoba untuk keluar dari penjara 'zona nyaman' itu dengan melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. sesuatu yang di luar kebiasaan dan selama ini cenderung saya hindari.

Zona nyaman merupakan bagian dari masalah psikologi dasar manusia. Menurut pakar Behavioural Psychology Alasdair A. K. White dalam bukunya 'From Comfort Zone to Performance Management' mengatakan bahwa,  Zona Nyaman adalah sebuah keadaan dimana seseorang merasa terbiasa dan nyaman karena mampu mengontrol lingkungannya. Dalam keadaan ini, orang tersebut jarang merasa gelisah dan jarang mengalami tekanan yang mengakibatkan stress. Jadi, hal apapun yang membuat saya nyaman dan enggan beranjak pergi karena takut sesuatu terjadi jika saya meninggalkannya adalah merupakan Zona Nyaman saya. Takut mencoba sesuatu yang baru adalah definisi paling sederhana dari kalimat 'terjebak di zona nyaman'.

Skripsi, diet, olahraga, traveling, memulai sebuah bisnis, mencari pekerjaan - hal tersebut adalah sekian dari banyak hal yang ingin di sukseskan oleh banyak orang namun selalu gagal untuk dilaksanakan. Kita gagal melaksanakan hal-hal tersebut bahkan sebelum dimulai karena takut akan kemungkinan-kemungkinan menyusahkan yang mengikutinya. Jika ingin kurus maka kita harus mengorbankan makanan favorit kita, saat ingin memulai sebuah usaha maka langsung terbayang kegagalan dan penderitaanya, saat ingin mulai mengerjakan skripsi, langsung terbayang wajah garang sang dosen. Kita selalu menghindar dengan berbagai macam alasan dan kekhawatiran, alhasil kita akan terus terjebak dalam zona nyaman dan tidak bisa berkembang.


Pasti ada yang berpikiran "Ah, saya kan juga sudah bahagia karena melakukan apa yang saya sukai". Pemikiran seperti ini merupakan pemikiran yang salah. itulah sikap avoidance. Sikap menghindar tersebutlah yang sebenarnya paling berbahaya, membuat kita terkurung di dalam zona nyaman. Bila kita mau melangkah keluar dari zona nyaman maka kita akan menemukan sumber kebahagiaan yang lebih luas lagi. Keluar dari zona nyaman berarti adalah keluar dari kebiasaan-kebiasaan dan berani menghancurkan pagar untuk melangkah menuju zona nyaman yang lebih besar dan bervariasi. 

(quotemaster)
Setelah keluar dari zona nyaman, untuk menuju zona misterius yang menyimpan berbagai keajaiban kita harus melewati sebuah sungai yang cukup luas yang namanya sungai penderitaan. Banyak yang sudah berusaha keluar zona nyaman namun balik lagi karena tidak kuat berenang menyeberangi sungai tersebut. Hanya orang-orang yang punya tekad dan semangatlah yang mampu menyeberanginya.

Zona nyaman kebanyakan adalah alasan kenapa seseorang melakukan sebuah perjalanan / traveling ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Dengan mengunjungi sebuah tempat yang berbeda, kita akan dilatih untuk harus merasa nyaman di tempat yang bukan biasanya kita merasa nyaman. Ditempat dimana kita akan bertemu orang-orang yang berbeda, bangunan yang berbeda, makanan yang berbeda, dan bahasa yang berbeda sehingga kita akan terlatih untuk merasa nyaman ditempat yang tidak nyaman. Kita akan melihat sebuah dunia dimana banyak keajaiban dan kejutan menanti. Hidup kita akan lebih berwarna-warni seiring berlalunya sang mentari.

Sebuah Self Reminder.....

Senin, 01 Mei 2017

10 Tahun Tinggal di Jogja, 10 Hal Inilah Yang Paling Bikin Kangen Jogja!



Yogyakarta, Jogja, Ngayogyo, Mataram, apapun itu namanya, semuanya mengacu pada sebuah kota yang terletak di bagian kanan bawah peta Jawa Tengah, dengan bentuk yang mirip tumpeng karena bagian atasnya mengerucut. Bagi saya yang sudah membuat penuh Jogja selama hampir sepuluh tahun, masih saja enggan beranjak dari kenyamanan yang ditawarkan oleh kota ini. Sebenarnya tidak adil kalau yang disebut hanya kota 'Jogja' saja.

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang kedepannya akan saya singkat menjadi sebuah nama sesimpel 'Jogja' ini melingkupi beberapa kabupaten, yaitu Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunung Kidul, dan Kota Jogja. Semua kabupaten itu punya andil sendiri-sendiri dalam kontribusinya kepada kekangenan kita akan Jogja. 

Jogja memang istimewa. Provinsi ini merupakan salah satu provinsi yang menawarkan paket wisata terlengkap. Mau ke gunung? Ada!, mau ke pantai? Banyak!, mau wisata budaya? Bejibun!, mau wisata kuliner? Gak usah ditanya!, atau mau wisata 'anu-anu'? Emmm...ada juga sih, dikit. Selain wisata, Jogja juga dipenuhi oleh mahasiswa dari ratusan kampus. Nah, yang biasanya kangen banget sama Jogja adalah para alumnus anak kuliahan di Jogja. Iyalah, kisah cinta, suka duka pengorbanan skripsi, titip absen, sampai hutang teman yang belum lunas semuanya tertinggal di Jogja. Berikut ini adalah 10 hal di Jogja yang bikin kangen versi saya :

1. Kampus!


Rindu Jogja, Rindu Kampus (sumber gambar: inovasee)
Yap, kampus. Ini merupakan satu hal yang paling saya kangenin dari Jogja. Biasanya tuh mahasiswa yang baru lulus bakal sok-sokan berkata "akhirnyaaa...aku bebas dari kampus juga" dan seakan-akan mereka benci banget sama kampus gegara dulu skripsinya ga di terima-terima sama dosen. Namun seiring berjalannya waktu, lama-lama kita akan merasa rindu kampus. Awalnya sih cuman pengen "ah..nongkrong di kantin ah" tapi lama-lama teringat akan canda tawa bersama teman-teman seangkatan, lalu kisah pedekate sama maba-maba tak berdosa, dan akhirnya malah baper ditempat. Setiap berkunjung ke Jogja pasti nyempetin ngeliat mantan kampus tercinta. Soalnya kampus gak melulu soal belajar, namun juga soal teman, cinta, dan canda tawa

2. Warung Burjo!


Burjoan, buka 24 jam, selalu siap siaga melayani anak kos.
Warung burjo adalah teman disaat kita berduka. Hanya warung burjo lah tempat kita mengadu #tsadisss. FYI buat kalian yang bukan mantan mahasiswa Jogja, warung Burjo itu semacam wartegnya orang Jogja dengan menu yang lebih simple dan to the point. Di setiap dindingnya pasti akan ada logo-logo indomei dan kopi badday, warnanya biasanya dominasi merah kuning hijau. Warung burjo ini di Jogja persebarannya kayak semut. Hampir tiap seratus meter ada warung burjo. Kenapa bikin kangen? Karena mau tidak mau kita bakal ngeliat burjo di mana-mana sampai mata mau belekan. Sebagai mahasiswa, burjo sudah seperti ibu kita sendiri, dialah yang memberi kita makan dan minum dari pagi sampai malam. Apalagi kalau burjonya ada fasilitas wifi, bisa pindah kos disitu dah. " A' nastel satu sama kopi item ya..."

3. Angkringan


Temaram lampu angkringan yang bikin rindu. (Sumber gambar : kotamini)
Angkringan langganan saya yaitu, angkringan Lek Tri menyediakan layanan custom menu minuman. Saya menciptakan sebuah minuman custom perpaduan antara jahe, jeruk, dan teh yang di patok dengan harga Rp. 2000 saja. Siapa yang ngga tau angkringan sih? tempat makan berbentuk gerobak dengan sistem bar dimana kita bakal nangkring di atas kursinya sambil ngobrol tentang rahasia kehidupan ini. Nasi kucing, gorengan, dan sate jeroan adalah menu makanan utama dari angkringan. Tidak sehat memang, tapi sebagai mahasiswa yang duitnya pas-pasan, mana peduli sama yang namanya healthy food berharga mahal itu? Teman saya bilang, kalau pengin makan jangan di Angkringan, tapi kalau pengin jajan, baru deh ke Angkringan. Kenapa? Karena kalau mau makan kenyang, jatuhnya malah mahal kalau kita makan di angkringan karena sistemnya eceran. Nyala lampu remang-remang didalam tendanya selalu membuat rindu Jogja.

4. Mantan Kos dan Kontrakan


Kebersamaan bersama teman-teman di kontrakan yang bikin kangen.
Beberapa teman saya yang sudah hengkang dari Jogja pasti akan pura-pura tidak sengaja lewat bekas kos atau kontrakannya sekedar ingin bernostalgia dan mengenang masa-masa jahiliahnya. Kos dan kontrakan tersebut telah menjadi saksi bisu masa-masa indah di Jogja. Kos itu mempertemukan kita dengan teman-teman baru yang sudah sudah kita anggap seperti saudara sendiri . Cerita cinta, kebersamaan, dan kehilangan ada disitu. Kekonyolan dan kegilaan juga semuanya ada disitu. Menjadi anak kos artinya adalah memecut diri sendiri menjadi pribadi mandiri yang lebih baik. Jadi kangen kos kan? 

5. Selokan Mataram


Di selokan mataram biasanya ada kendaraan yang nyungsep ke selokan (sumber gambar : menghilangkanspasi)
Selokan mataram ada dimana-dimana, selokan ini merupakan sungai buatan yang menyatukan antara Sungai Progo di Kulonprogo dan Sungai Opak di Bantul. Kenapa bikin kangen? Sebagai mahasiswa, saya sering nongkrong untuk sekedar ngopi dan ngobrol bareng teman-teman. Dan tongkrongan paling banyak ada di daerah Selokan Mataram Seturan. Disitu juga banyak toko-toko, dari parfum, baju, sepatu, helm, dll. Apalagi waktu sore hari sunsetnya lumayan indah bila dilihat dari Selokan Mataram Seturan Selokan mataram juga dikelilingi oleh kampus-kampus besar seperti UGM, UNY, UPN, dll, jadi tidak mungkin kamu tidak kangen selokan mataram kan?

6. Malioboro, Kampung Keraton, Tugu, sampai Sarkem


Jalan paling ikonik di Jogja (sumber gambar : tribunnews)
Entah kenapa setiap kali saya mengunjungi tempat-tempat di atas ada sebuah aura kerinduan yang menyelimutinya. Memang sebagai mahasiswa yang hidup cukup lama di Jogja, Malioboro dan sekitarmya hanya menarik diawalnya saja, setelahnya ya biasa saja. Namun jika kita sudah meninggalkan Jogja pasti akan sangat kangen dengan tempat-tempat tersebut. Hiruk pikuk wisatawan, rayuan pedagang oleh-oleh, sadisnya harga pedagang kaki lima, dan macetnya lalu-lintas seakan tertutup oleh humblenya arsitektur khas Jawa yang ada di situ. Perpaduan warna hijau dan bentuk jawa di bangunan dan fasilitas publik seakan mendamaikan pikiran. Senyuman ramah kusir dokar, tukang becak, dan pedagang kecil mampu mengeliminasi ego diri kita dan membuat kita nyaman selama berada di Jogja.

7. Murah!


Biaya hidup di Jogja murah! (Sumber gambar :  Brillio)
Kalau ditanya kota besar mana di Indonesia yang masuk dalam kategori biaya hidup paling murah? Jawabannya adalah Jogja!  Untuk makan dengan menu nasi + sayur + ayam + es teh, harga termurah yang pernah saya dapatkan adalah Rp. 7000, sungguh murah bukan? Kalau jaman awal saya kuliah, nasi ayam cuman Rp. 4000 saja. Bandingkan dengan kota besar lainnya. Maka, tidak heran bila banyak mahasiswa perantauan terutama dari luar jawa yang 'mendadak kaya' selama berada di Jogja. Murahnya hidup di kota Jogja akan semakin terasa ketika kamu meninggalkan Jogja dan hidup di kota lain seperti Jakarta. Kamu akan langsung merindukan murahnya harga makanan di Jogja. 

8. Senyum dan sapa


Tuh kan senyumnya bikin hati bahagia, apalagi senyumannya yang baju pink. (sumber gambar : Brillio)
Orang ASLI Jogja akan selalu tersenyum dan menyapa siapa saja yang ditemuinya ketika berpapasan di jalan. Cobalah kamu main ke daerah-daerah pemukiman seperti kali code dan kampung keraton. Kamu akan langsung disenyumin. Budaya ramah ini akan selalu terjaga selama budaya individualisme tidak semakin menjamur di kota yang ramah ini.

9. Banyak Tempat Wisata dan Hiburan


Jogja banyak tempat wisata yang asik buat pacaran (sumber gambar : sorotgunungkidul)
Selama hidup di Jogja kita tidak akan pernah kehabisan tempat yang menarik untuk dikunjungi di akhir pekan. Mau menikmati udara segar pegunungan? Kalian tinggal pergi ke Kaliurang atau Kulonprogo. Mau bermain pasir diiringi deburan ombak? Bantul dan Gunung Kidul setia menunggumu. Mau shoping? Banyak mall dan pasar tradisional yang siap menerima uangmu. Pengin senang-senang atau sekedar jalan-jalan? Kamu bisa pergi ke event-event musik, pameran dan budaya yang hampir setiap hari ada! Pokoknya banyak banget tempat wisata dan hiburan yang ada di Jogja yang bakal bikin kita merasa kehilangan kalau beranjak dari Jogja.

10. Surganya Kuliner dan tempat nongkrong


Nongkrong dan begadang bersama Backpacker Indonesia Reg. Jogja sampai pagi, ngobrolin apa saja sampai mulut berbusa.
Ada ribuan tempat makan dan minun yang tersebar di seantero Yogyakarta. Banyak tempat makan baik tradisional maupun modern yang selalu bertambah setiap waktu. Banyak tempat ngopi untuk sekedar tongkrongan bersama teman-teman. Bisnis kuliner di Jogja tidak akan pernah mati. Walaupun satu mati, pasti akan tumbuh seribu. Di cafe-cafe inilah kita menghabiskan malam bersama teman, komunitas dan juga pacar yang kalau di ingat-ingat lagi bakal bikin kita baper.

Nah, itulah 10 hal yang bikin betah di Jogja dan selalu ngangenin setiap waktu. Apa kotamu yang sekarang juga ngangenin seperti Jogja? Jawab di kolom komentar ya.

Jumat, 28 April 2017

Lagoi Bay, Pantai Khusus Orang Kaya Yang Bisa Dinikmati Semua Kalangan


...(Lanjutan Seperti Inilah Acara Nikahan di Pulau Bintan, Pengalaman Kondangan Paling Jauh)

Akhirnya pagi tiba juga! Punggungku rasanya pegal-pegal tak karuan akibat kasur jahat di penginapan ini. Sambil melenguh kesal, kuambil handuk di dalam ransel dan melenggang lemas menuju kamar mandi. Setelah menuntaskan semua urusan kamar mandi, saya langsung berkemas dan buru-buru meninggalkan penginapan wadefak ini. Jam tangan merk "Sekoi" di pergelangan tangan sudah menunjukan pukul delapan lebih sepuluh menit. Ternyata saya ditiduri cukup lama oleh kasur jahat itu.

Saya kembali mampir ke warung makannya mas-mas dari Jawa. "Mas, aku pesen nasi goreng seafood sama kopi item satu yah", pintaku kepada si mas Jawa tersebut. Alhamdulilah Harga disini standar, tidak nutuk seperti kejadian yang sempat menghebohkan jagat internet beberapa waktu lalu, dimana beberapa wisatawan ketiban apes karena harga makanan yang dipesannya diluar kewajaran.

Beberapa bulan lalu netizen sempat heboh, karena ada sebuah postingan di facebook yang mengatakan bahwa beberapa orang mengaku telah di dzolimi oleh warung makan di tempat-tempat wisata seperti di Malioboro Jogja, Anyer dan bahkan di Pulau Bintan! Kasus yang ada di pulau Bintan kejadiaannya adalah saat keluarga korban sedang berlibur di sebuah resort. Di area resort itu ada sebuah restoran bintang lima . Karena penasaran dengan masakannya, maka mereka mampir kedalam restoran tersebut dan memesan tujuh porsi nasi goreng, satu porsi mie goreng dan tujuh gelas es teh. Tak disangka tak dinyana, bagaikan tersambar jambulnya Syahrini, si bapak ini langsung lemas setelah kasir menyerahkan receipt yang berisi total jumlah yang harus dibayar sebesar Rp. 3.629.000. Harga yang tak masuk akal walaupun sekelas restoran bintang lima.
Sungguh harga yang tidak senonoh. (sumber: facebook.com/chandraireng )
Untuk menghindari hal-hal seperti ini saya ada tips nih buat teman-teman yang suka jajan saat traveling. Usahakan jika mau kulineran di sebuah tempat wisata, tanyakan dulu harganya (kalau bisa ditawar saja ). Setelah deal, segera bayar di muka dan tunggu pesanannya jadi. Setelah pesanan sudah jadi, baru lah kita bisa menyantap makanannya dengan nikmat tanpa harus merasa was-was, takut harganya di markup. Kenapa perlu bayar di muka? Karena ada kejadian walaupun kita tahu harganya, tapi, saat kita mau bayar, si penjual menaikkan harganya seenak dengkulnya  sensiri dengan beragam alasan.

Setelah menghabiskan dan membayar nasi goreng seafood  seharga Rp. 14.000, dan secangkir kopi seharga Rp. 5000. Saya segera mencari tempat persewaan motor karena jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi dan matahari sudah semakin menyengat. Saya tanyakan kepada mas warung dimana saya bisa menyewa motor. Mas warung dengan cekatan langsung berteriak memanggil salah satu tukang ojek yang bersedia menyewakan motornya. Pertama si tukang ojek menawarkan harga Rp. 150.000 untuk 12 jam atau sewa sampai sore, tapi harga tersebut sungguh fantastis. Tinggal tambah Rp. 50.000 saya bisa sewa mobil. Karena harganya tidak wajar maka saya tolak. Namun dengan wajah yang keliatan pasrah, saya agak merasa iba juga. Saya manfaatkan keputus-asaannya supaya mau di nego. Saya keluarkan jurus nego-nego preman, sambil pasang muka jutek akhirnya saya berhasil mendapatkan motor seharga Rp. 80.000 untuk sewa sampai sore hari. Motor matic warna merah segera meluncur ke arah utara berbekal arahan dari paman gugelmap.

Rute perjalanan Tanjung Uban ke Pantai Lagoi via google maps.
Pantai pertama yang akan saya tuju adalah pantainya orang kaya, yaitu Lagoi Bay. Kenapa saya sebut 'pantainya orang kaya'? Karena dulu, Lagoi Bay merupakan resort ekslusif dan tidak sembarang orang bisa masuk kecuali kalau orang itu punya duit. Kebanyakan pengunjung Lagoi Bay dulu adalah orang Singapore. Namun sekarang Lagoi Bay sudah terbuka untuk umum, jadi, masyarakat dari berbagai kelas bisa menikmati indahnya pantai di ujung utara pulau Bintan ini, walaupun masih terbatas hanya beberapa pantai saja yg free entry. 

Lagoi Bay merupakan Sebuah area yang cukup luas, dimana didalamnya terdapat beberapa resort yang bisa kita kunjungi. Ibaratnya, Lagoi Bay adalah kompleks per-resort-an dengan semboyannya "Lagoi - yours to develop". Pantai ini direkomendasikan oleh teman saya yang baru nikahan kemarin. Katanya pantainya berpasir putih dan sangat bersih. Jaraknya dari Tanjung Uban sekitar 32 km, menempuh perjalanan naik motor dengan laju santai sekitar satu jam. 

Dari tanjung uban saya tinggal lurus saja mengikuti jalan utama ke arah utara. Jalan utamanya hanya ada satu, menghubungkan Tanjung Uban dengan Tanjung Pinang. Sesekali ada percabangan, namun tinggal mengikuti plang petunjuk arah saja kok, dijamin tidak akan tersesat, kebangeten lah kalau tersesat .

Jalanan di Pulau Bintan
Saya menyusuri jalan aspal buluk yang sesekali terdapat lubang di kanan kirinya. Jalanan lengang, sesekali saya berpacu dengan bus yang keberadaannya di Pulau Bintan sangat jarang, makanya saya pilih menyewa motor. Beberapa kali motor naik turun bukit dengan pemandangan sepanjang perjalanan adalah hutan semak belukar dan tanah-tanah tandus. Sesekali saya melihat sebuah rumah kayu dengan ornamen oriental. Pemandangan seperti itu tidak ada di Jawa, orang keturunan Tionghoa di Bintan cukup banyak dan mereka tidak hanya terpusat didaerah pasar atau perkotaan saja namun juga di daerah terpencil jauh dari kota. Rumah-rumah mereka sederhana namun tampak unik karena hiasan lampion, cat merah dan kuil-kuil kecil menghiasi rumah kayu mereka.

Portal masuk kawasan Lagoi bay saat sedang peak season (gambar diambil dar rr.co.id , karena saya lupa tidak memfotonya)
Pintu masuk area Lagoi Bay ditandai dengan jalur berportal di sisi kiri jalan (bila dari arah Tanjung Uban). Saya agak was-was karena takut tidak boleh masuk dan sudah menyediakan beberapa lembar recehan di dalam saku celana tapi ternyata masuk area Lagoy gratiss, hanya diberi tiket masuk tanda bawa kendaraan saja. Tapi untuk mobil ada biaya retribusi sebesar Rp. 5000.

Jalan di area Lagoi Bay ini sangat kontras dengan jalan kota. Jalannya lebar dengan aspal yang mulus dan bersih. Di kanan-kiri sepanjang jalan ditumbuhi pepohonan yang hijau dan asri. Jalanan masih tetap lengan, tampaknya tidak banyak wisatawan di hari ini. Beberapa turis asing bermata sipit tampak melaju menaiki sepeda berlawanan arah denganku sambil tertawa terbahak-bahak seakan-akan seperti sedang menertawakanku. 

Sesampainya di ujung jalan saya menjumpai pertigaan yang penuh dengan plang petunjuk arah. Buta destinasi, saya ambil arah kiri menuju Lagoi Beach, karena sepertinya pantai itu merupakan suguhan utama Lagoi Bay. Jalanan berganti dari aspal menjadi paving yang dihiasi tanaman-tanaman hias disepanjang jalan. Petugas kebersihan tampak wara-wiri. Saya tidak tahu apa yang mereka bersihkan. Karena menurut saya jalannya sudah sangat bersih.

Banyak gedung tapi sepi pengunjung.
Mendekati Lagoi Beach, beberapa gedung bertingkat tampak menjulang didepan saya. Gedung-gedung ber-arsitektur unik yang banyak kacanya itu tampak kosong dan kesepian. Di kanan jalan terdapat sebuah danau buatan ditengah padang rumput yang juga buatan. Saya kebingungan mencari tempat parkir motor. Setelah tanya sama petugas keamanan saya diarahkan ke sebuah lahan kosong yang berbatu, berpasir, tanpa atap seperti tempat parkirnya petugas proyek. Sementara saya lihat parkir mobilnya cukup nyaman karena luas dan beralaskan aspal. Saya langsung kepikiran apakah ini adalah sebuah tindakan diskriminasi status? Ataukah tempat parkir motornya sedang dibangun? I dont know, lagian tempat parkir motornya tidak ada penjaganya jadi saya tidak bisa menanyakannya.

Mungkin parkiran motornya masih dalam tahap pembangunan.
Lagoi beach, walaupun dikelilingi gedung-gedung perbelanjaan dan hotel ternama tampak sepi, lengang, seperti kota zombie walaupun sesekali ada rombongan anak-anak alay berambut orange bergerombol cekakak-cekikik. Saya langsung berjalan menuju pantai. Pohon kelapa nyiur melambai tertiup angin sepo-sepoi. Rumput hijau seakan menabrak pasir putih, menciptakan gradasi warna yang segar. "Ini baru pantai" batinku. Ternyata pantainya tidak sesepi dugaanku sebelumnya. 

Di Lagoi Beach sudah banyak orang yang tengah menikmati alunan merdu ombak pantai. Kebanyakan adalah rombongan keluarga. Mereka menggelar tikar diatas rumput maupun pasir. Di ujung pantai terlihat segerombolan anak sekolah yang nampaknya sedang study tour. Diujung pantai lainnya tampak beberapa pasang kekasih sedang memadu cinta. Sedangkan disini, tampak seorang pria kesepian tampak freaking berdiri sendirian, cengar-cengir sendiri .

Pantai yang bersih pasti bikin betah!
It's time to enjoy the beach! Saya susuri pantai dari ujung ke ujung. Sesekali menapakan kaki pada hangatnya ombak disiang hari. Foto sana-sini. Duduk dibawah pohon kelapa dan bersandar padanya sambil meneguk teh botol yang telah saya beli di warung sebelumnya. Oya kalian wajib bawa makanan dari luar, karena disini tidak ada warung! Setidaknya waktu itu saya tidak melihat adanya warung di Lagoy Beach, kecuali satu restaurant sepi di salah satu bangunan bertingkat. 

Beberapa fasilitas yang ditawarkan di Lagoi Beach adalah kursi bantal yang empuk di bawah payung pantai yang bisa kita sewa supaya bisa menikmati minuman favorit sambil bermain gadget seperti foto-foto anak traveler kekinian di instagram. Wahana kayaking juga ada di Lagoy Beach, rutenya hanya diperbolehkan berkililing di area pantai saja. Selain itu banyak fasilitas yang disediakan oleh pengelola yakni sarana olahraga seperti volley pantai, futsal, dll.

Wisatawan tampak asik bermain volley pantai,
Terdapat perbedaan mendasar antara pantai yang diperuntukkan bagi orang berduit yang ekslusif dan pantai umum yang semua kalangan masyarakat bisa menikmatinya. Lagoy beach merupakan salah satu contoh  perpaduan antara keduanya (contoh lainnya adalah pantai-pantai di Bali dan lombok). Perbedaan utamanya adalah soal kebersihan. Disini, saya tidak menemukan adanya sampah berserakan di sudut-sudut pantai. Semuanya tampak putih bersih. Sangat berbeda dengan tujuan pantai saya selanjutnya yaitu pantai Trikora. 

Hal ini selain keterlibatan pasukan 'orange' dari pihak pengelola juga ada keterlibatan perbedaan cara berpikir antara masyarakat kelas ekonomi menengah keatas dan masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah. Utamanya adalah perbedaan cara pandang terhadap sampah itu sendiri dimana dalam hal ini saya menggeneralisir bahwa kalangan ekonomi menengah keatas itu pendidikannya sudah maju sehingga cara pandangnya terhadap sampah lebih 'bersih' dari kalangan ekonomi kebawah. Ada sebuah rasa 'gengsi' bagi orang kaya untuk membuang sampah sembarangan. 

Selain itu keterlibatan pasukan 'orange' alias pasukan bersih-bersih sangatlah besar. Pantai yang dikelola oleh swasta kebanyakan lebih mementingkan kebersihan ketimbang pantai yang dikelola oleh daerah yang saya kira masih acuh tak acuh terhadap masalah kebersihan pantai. Lagoy beach, sebagai perpaduan antara pantai orang kaya dan pantai rakyat berhasil menerapkan rasa 'gengsi' tersebut kepada masyarakat umum dimana pihak pengelola tidak memberikan sedikitpun ruang bagi masyarakat untuk membuang sampah sembarangan. 

Tong-tong sampah ditempatkan disegala penjuru. Petugas kebersihan selalu mondar-mandir membersihkan sekecil apapun sampah itu sehingga memunculkan rasa 'bersalah' bagi masyarakat yang hendak membuang sampah sembarangan. Pengelolaan pantai Lagoi Beach ini patut dicontoh oleh pengelola pantai-pantai lainnya. 

Banyak destinasi wisata di Lagoi Bay selain Lagoi Beach. Tetapi beberapa merupakan private resort dimana kita harus jadi tamu resortnya dahulu sebelum bisa puas menikmati pantainya. Sementara beberapanya lagi berbayar, seperti Treasure Bay, sebuah kolam renang buatan berbentuk pantai yang katanya terpanjang se-Asia tenggara. Biaya masuknya Rp. 100.000. Karena saya penyuka gratisan jadi tidak ada waktu bagi saya untuk menghabiskan hari ditempat berbayar seperti ini. Maka dari itu saya akan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Trikora! Pantainya rakyat! Merdeka! (Bersambung)

Foto-foto Lagoy Beach lainnya :


Berbekal kamera sport dan tongsis pinjaman salah satu teman di Batam, Thanks Rio!. Solo traveler wajib membawa tongsis.
Pengunjung menikmati fasilitas futsal yang disediakan oleh pengelola Lagoy Beach

Kalian bisa berman volley pantai loh! boleh kok pakai bikini, hehe.


Kursi bantal yang bisa kalian sewa supaya postingan foto d Instagram tambah kekinian


Pengin olahraga air? kalian bisa mencoba bermain kayak disni.


Pohon-pohon kelapa yang tnggi menjulang membuatnya serasa berada di Hawaii


Pantai yang sangat enjoyable untuk sebuah family trip. Bercengkerama dan bercanda di pinggir pantai yang ndah pastnya akan menambah kehangatan keluarga bukan?


Ini kantor baywatch-nya Lagoi Beach. Sayang ngga ada penjaga pantai yang sexy.


Ini berada di belakang pantai, jika peak season biasanya akan banyak pedagang  makanan yang berjualan disini.


Pantainya orang kaya memang bersih, setuju?