Minggu, 28 Mei 2017

Candi Gebang, Si Kecil Yang Penyendiri


Saya sangat akrab dengan sebuah jalan yang bernama Candi Gebang. Lokasinya yang dekat dengan rumah membuatnya sering saya lewati. Dulu saya kira 'Candi Gebang' hanyalah sebuah nama jalan atau perumahan. Sama seperti 'Candi Indah' yang saya kira nama dari sebuah candi tapi setelah dicari-cari ternyata merupakan sebuah perumahan semi elit, bukan sebuah candi. Syukurlah Candi Gebang yang saya maksud bukanlah sebuah perumahan, melainkan memang nama dari sebuah candi peninggalan peradaban masa lalu.

Jumat, 26 Mei 2017

Berburu Barang Antik di Hari Pasaran Pancawara Yogyakarta


Salah satu hobi saya kalau sedang tidak ada kerjaan adalah berburu barang-barang vintage, antik, jadul, dan unik sekedar sebagai penghias rumah atau di alih fungsikan jadi sesuatu yang lebih yahud, istilah bulenya 'upcycle'. Tempat berburu barang-barang tersebut di Jogja selain di Pasar Klitikan, Pasar Niten Bantul , dan Pasar Senthir adalah di Pasar Pasaran Pancawara.

Selasa, 23 Mei 2017

Jumat, 19 Mei 2017

Chinese Garden Singapore, Ketenangan di Tengah Riuhnya Metropolitan


Walaupun sebuah kota besar yang sibuk, Singapore mempunyai banyak tempat untuk menyepi dari penatnya kehidupan yang serba cepat ala kota metropolis. Banyak taman yang selalu penuhi oleh warga di setiap sudut kotanya. 

Ketika saya mengelilingi kota saya banyak melihat taman hijau yang luas dan rindang. Kanopi-kanopi pepohonan tropis tampak dari kejauhan menggelayut tertiup angin. Menurut situs Dinas Pertamanan Singapore (nparks.gov.sg) ada 1626 taman dan hutan kota yang tersebar di seluruh penjuru Singapore, termasuk taman atas gedung (roof garden) dan beberapa pohon lindung.

Ayo Bantu Kawan Kita Yang Terancam Punah!


Hei! Apakah kalian tahu kalau tanggal 19 Mei adalah sebuah hari berbahagia untuk teman-teman kita di luar sana? 19 Mei adalah World Endangered Species Day! Hari yang dikhususkan untuk teman-teman lucu kita yang mungkin jika kita tidak ikut turun tangan maka suatu saat nanti anak-cucu kita tidak bisa melihat mereka lagi. Sedih bukan? Saya selalu penasaran dengan yang namanya burung dodo, mereka punah pada abad ke 16, sekarang, saya hanya bisa melihatnya melalui gambar dan film-film fiksi saja.

Senin, 15 Mei 2017

Candi Kalasan, Sebuah Penghormatan Bagi Jiwa Yang Bebas


Jalanan siang itu sangat padat, truk dan bus saling salip, saya yang hanya menaiki sebuah motor matic tua melaju dengan kecepatan seadanya, tak sampai 40km/jam, mungkin.

Tepat di pinggir jalan raya, saya dikejutkan oleh sosok bangunan berbatu tinggi menjulang. Bangunan batu tersebut tampak kontras dengan rumah-rumah semen di sekelilingnya.

Rabu, 10 Mei 2017

Gemerlap Cahaya Jamur dan Kunang-Kunang di Kampung Baduy Dalam


Perjalanan diawali dari Yogyakarta langsung menuju Banten, tepatnya di Leuwidamar, Kabupaten Lebak, melewati jalur selatan. Dari kota Lebak kami langsung menuju ke desa Kanekes yang berada di kaki Pegunungan Kendeng melewati perbukitan dengan lama perjalanan sekitar dua setengah jam. Jalan yang kami lewati sebenarnya sudah di aspal, namun masih terdapat beberapa lubang di kanan, kiri, bahkan di tengah, sehingga mobil yang kami tumpangi terpaksa 'berdisko'. 

Jumat, 05 Mei 2017

Dongeng Dari Negeri Sabana : Simalakama Adat Leluhur


...Lanjutan Dari Dongeng Dari Negeri Sabana: Nyanyian Anak-Anak Rumput

Kakek Yoha meyuruh cucunya untuk mengambilkan sirih pinang di dalam rumahnya. Sejurus kemudian, satu set sirih pinang sudah ada di depan saya. Kakek lantas mengambil sebuah pinang dan mengunyahnya disusul dengan sedikit taburan kapur. Penasaran, saya pun ikut mencobanya. Beberapa detik setelah mengunyanya, mulut terasa seperti terbakar dan kepala agak melayang-layang. Sensasi pedas dan sengar beradu di dalam mulut. Sesekali saya meludahkannya ke tanah yang langsung berwarna merah, kemudian kembali mengunyahnya. Satu kali mencoba, saya langsung mulai akrab dengan rasanya. Setelah pinang pertama habis, saya lanjutkan pinang kedua sambil sesekali menghisap rokok kretek yang saya bawa. 

Kamis, 04 Mei 2017

Dongeng Dari Negeri Sabana : Nyanyian Anak-Anak Rumput


Pada suatu siang yang terik di sebuah negeri sabana bernama Sumba. Sejauh mata memandang, saya hanya melihat padang rumput dan semak belukar. Kadang diselingi pohon-pohon kurus yang tidak terlalu tinggi. Dua anak kecil tampak sedang menuruni sebuah bukit. 

Anak yang paling besar membawa setandan pisang. Sementara yang kecil tampak membawa sebuah karung yang terisi penuh. Di belakang mereka, satu anak perempuan juga membawa karung dan berlari-lari kecil mengejar dua anak di depan. 

Sesekali mereka berhenti dan menaruh kantong itu di tanah kemudian bermain-main sambil menyanyikan sebuah lagu daerah yang terasa asing di telingaku. 

Di atas padang rumput yang luas, mereka berkejaran kesana-kemari diiringi tawa yang lepas seakan-akan menyiratkan bahwa hidup mereka sungguh bahagia. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika melihat mereka dari kejauhan. Tawa lepas mereka menggema sampai ke tempat saya berada. 

Baca juga tulisan saya lainnya tentang Sumba
Di beranda sebuah rumah panggung yang terbuat dari bambu. Dua babi di kolong rumah tak henti-hentinya menguik sambil menggaruk tanah mencari apapun yang bisa dikunyah. “Ah, itu mereka sudah pulang” kata seorang kakek tua di beranda rumah tempat saya duduk bersila. 

Cucunya yang masih balita duduk di pangkuannya sambil memainkan jenggotnya yang sudah memutih. Namanya Yohanis Lodwig Mete. Dia menyuruh saya memanggilnya Yoha saja, nama panggilannya sejak kecil. 

Sebelumnya, saya yang sedang menyusuri sebuah jalan pengerasan, sebuah jalan tanah bercampur kerikil dan batu kapur diantara bukit-bukit padang rumput tiba-tiba melihat sebuah rumah panggung. Di halamannya terhampar biji-biji kopi yang sedang di jemur. 

Sebagai pecinta kopi, saya langsung tertarik dengan pemandangan itu dan menghampiri rumah satu-satunya yang ada di padang ini. Rumahnya ditumbuhi pepohonan dan semak tinggi yang sengaja ditanam untuk melindungi penghuninya dari panas terik matahari timur. 

Dua gelas kopi panas dan sepiring singkong rebus yang sudah dingin tersaji di hadapanku. "Maaf ini ala kadarnya saja ya bapak" katanya dengan santun saat menghidangkan suguhan yang menurut saya sudah lebih dari cukup. Seorang asing dengan mata sipit tiba-tiba menghampiri rumahnya lalu di suguhi makan dan minum. 

Sikap dihormati sebagai tamu seperti ini selalu saya dapatkan saat singgah di rumah-rumah penduduk walaupun hanya sekedar untuk bertanya mengenai kehidupan mereka sehari-hari.

Keharusan menghormati tamu memang sudah jadi sebuah ajaran umum di setiap agama dan kepercayaan yang ada di dunia. Beruntung di Negeri Padang Rumput ini, ajaran tersebut masih terpelihara dengan baik, belum termakan budaya individualisme produk kebudayaan nirkabel.

Anak-anak kecil dari padang rumput tadi dengan ceria memasuki pelataran rumah yang di pagari dengan tumbuhan singkong. "Bapatua (kakek), ini kopinya sa (saya) taruh mana?" tanya si anak perempuan dengan sedikit malu-malu. Sedangkan dua anak lainnya beringsut ke bawah rumah dan menjahili babi-babi yang sedari tadi menguik-nguik terus. "Sini saja, ini bapa dari Jawa mau liat kopinya", jawab Kakek Yoha. 

Sebungkus besar plastik berisi kopi di sodorkan kehadapan saya. Biji-bijian yang masih hijau tersebut masih belum berbau wangi. Kakek Yoha menjelaskan kalau biji kopi ini diambil dari kebunnya yang berada di bawah bukit, dekat dengan sekolahan dua cucunya itu. 

Anak perempuan dengan senyuman yang manis ini punya cita-cita jadi dokter.
Saya baru sadar kalau hari ini memang hari aktif sekolah. Bocah-bocah tadi ternyata baru pulang sekolah, padahal jam di pergelangan tanganku menunjukan sudah pukul tiga sore. "Sekolahnya di mana ade?" tanyaku. Bocah perempuan yang manis itu langsung bersembunyi di balik tubuh saudaranya. Dia tampaknya malu ditanya oleh om-om aneh dari negeri antah berantah ini. Sambil tersenyum cengengesan, dia meminta Kakeknya saja yang menjawab.

Kakek Yoha menjelaskan kalau tempat cucunya sekolah ada di balik bukit, sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah bukit yang di maksud. Sekolahnya berada di desa tetangga. Jaraknya sekitar satu setengah jam berjalan kaki.

Di tengah perjalanan, anak-anak juga harus menyeberangi sebuah sungai yang cukup dalam untuk ukuran anak kecil, sehingga mereka biasanya meninggalkan seragamnya di sekolah. Seragam baru dipakai ketika mereka sampai di sekolah. 

Kakek Yoha juga menjelaskan, pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru kepada cucu-cucunya itu biasa mereka kerjakan di siang hari sepulang sekolah. Karena jika dikerjakan di malam hari, mata mereka akan sakit karena hanya diterangi oleh pelita dari lampu minyak. Penggunaan lampu minyak juga mereka atur se efisien mungkin karena harga minyak mahal. Listrik? Sebuah fasilitas mewah orang kota saja. 


Jalan Pengerasan yang dikelilingi oleh bukit-bukit sabana.
Perjuangan bocah-bocah inilah yang lantas menginspirasi dan memberi motivasi kepada saya untuk terus dan terus belajar tanpa menyerah pada keadaan. Saya yang hidup di sebuah kota besar penuh dengan fasilitas yang memudahkan justru termotivasi oleh perjuangan bocah kecil di Negeri Padang Rumput yang jauh dari kata modernisasi. Belajar adalah tentang proses. 

Proses dalam pembelajaran itulah yang sebenarnya memberi kita wawasan dan pengetahuan. Karena belajar itu tidak berujung. Selama kita hidup kita akan terus belajar dan belajar supaya menjadi pribadi yang lebih baik. 

Rabu, 03 Mei 2017

Mengembara, Mencari Arti di Luar Zona Nyaman


Traveling mungkin merupakan salah satu alasan saya untuk mencoba keluar dari zona nyaman. Pernah pada suatu ketika saat saya masih polos, saya bertemu dengan seorang backpacker bule asal Amerika di dalam kereta Pramex jurusan Jogja - Solo. Saat itu saya duduk disebelahnya dan sepanjang perjalanan kami banyak mengobrol. Salah satu obrolannya adalah tentang comfort zone.  Waktu itu saya belum tahu apa itu comfort zone. Seingatku dia bilang begini "...I want to escape my comfort zone,  so i decide to travel around the world". Dari perkataanya, saya pikir zona nyaman itu ya cuma rasa bosan saja. Sudah, itu saja, rasa bosan.

Pernah mendengar istilah 'zona nyaman'? jika belum, maka beruntunglah saya karena bisa memberikan informasi ini kepada pembaca yang mungkin sekarang sedang berada dalam fase stagnant, merasa hidup kok begini-begini saja, tidak ada kemajuan. Saya juga sekarang sedang berada dalam fase tersebut, tapi setidaknya saat ini saya sedang mencoba untuk keluar dari penjara 'zona nyaman' itu dengan melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. sesuatu yang di luar kebiasaan dan selama ini cenderung saya hindari.

Zona nyaman merupakan bagian dari masalah psikologi dasar manusia. Menurut pakar Behavioural Psychology Alasdair A. K. White dalam bukunya 'From Comfort Zone to Performance Management' mengatakan bahwa,  Zona Nyaman adalah sebuah keadaan dimana seseorang merasa terbiasa dan nyaman karena mampu mengontrol lingkungannya. Dalam keadaan ini, orang tersebut jarang merasa gelisah dan jarang mengalami tekanan yang mengakibatkan stress. Jadi, hal apapun yang membuat saya nyaman dan enggan beranjak pergi karena takut sesuatu terjadi jika saya meninggalkannya adalah merupakan Zona Nyaman saya. Takut mencoba sesuatu yang baru adalah definisi paling sederhana dari kalimat 'terjebak di zona nyaman'.

Skripsi, diet, olahraga, traveling, memulai sebuah bisnis, mencari pekerjaan - hal tersebut adalah sekian dari banyak hal yang ingin di sukseskan oleh banyak orang namun selalu gagal untuk dilaksanakan. Kita gagal melaksanakan hal-hal tersebut bahkan sebelum dimulai karena takut akan kemungkinan-kemungkinan menyusahkan yang mengikutinya. Jika ingin kurus maka kita harus mengorbankan makanan favorit kita, saat ingin memulai sebuah usaha maka langsung terbayang kegagalan dan penderitaanya, saat ingin mulai mengerjakan skripsi, langsung terbayang wajah garang sang dosen. Kita selalu menghindar dengan berbagai macam alasan dan kekhawatiran, alhasil kita akan terus terjebak dalam zona nyaman dan tidak bisa berkembang.


Pasti ada yang berpikiran "Ah, saya kan juga sudah bahagia karena melakukan apa yang saya sukai". Pemikiran seperti ini merupakan pemikiran yang salah. itulah sikap avoidance. Sikap menghindar tersebutlah yang sebenarnya paling berbahaya, membuat kita terkurung di dalam zona nyaman. Bila kita mau melangkah keluar dari zona nyaman maka kita akan menemukan sumber kebahagiaan yang lebih luas lagi. Keluar dari zona nyaman berarti adalah keluar dari kebiasaan-kebiasaan dan berani menghancurkan pagar untuk melangkah menuju zona nyaman yang lebih besar dan bervariasi. 

(quotemaster)
Setelah keluar dari zona nyaman, untuk menuju zona misterius yang menyimpan berbagai keajaiban kita harus melewati sebuah sungai yang cukup luas yang namanya sungai penderitaan. Banyak yang sudah berusaha keluar zona nyaman namun balik lagi karena tidak kuat berenang menyeberangi sungai tersebut. Hanya orang-orang yang punya tekad dan semangatlah yang mampu menyeberanginya.

Zona nyaman kebanyakan adalah alasan kenapa seseorang melakukan sebuah perjalanan / traveling ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Dengan mengunjungi sebuah tempat yang berbeda, kita akan dilatih untuk harus merasa nyaman di tempat yang bukan biasanya kita merasa nyaman. Ditempat dimana kita akan bertemu orang-orang yang berbeda, bangunan yang berbeda, makanan yang berbeda, dan bahasa yang berbeda sehingga kita akan terlatih untuk merasa nyaman ditempat yang tidak nyaman. Kita akan melihat sebuah dunia dimana banyak keajaiban dan kejutan menanti. Hidup kita akan lebih berwarna-warni seiring berlalunya sang mentari.

Sebuah Self Reminder.....

Senin, 01 Mei 2017

10 Tahun Tinggal di Jogja, 10 Hal Inilah Yang Paling Bikin Kangen Jogja!



Yogyakarta, Jogja, Ngayogyo, Mataram, apapun itu namanya, semuanya mengacu pada sebuah kota yang terletak di bagian kanan bawah peta Jawa Tengah, dengan bentuk yang mirip tumpeng karena bagian atasnya mengerucut. Bagi saya yang sudah membuat penuh Jogja selama hampir sepuluh tahun, masih saja enggan beranjak dari kenyamanan yang ditawarkan oleh kota ini. Sebenarnya tidak adil kalau yang disebut hanya kota 'Jogja' saja.

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang kedepannya akan saya singkat menjadi sebuah nama sesimpel 'Jogja' ini melingkupi beberapa kabupaten, yaitu Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunung Kidul, dan Kota Jogja. Semua kabupaten itu punya andil sendiri-sendiri dalam kontribusinya kepada kekangenan kita akan Jogja. 

Jogja memang istimewa. Provinsi ini merupakan salah satu provinsi yang menawarkan paket wisata terlengkap. Mau ke gunung? Ada!, mau ke pantai? Banyak!, mau wisata budaya? Bejibun!, mau wisata kuliner? Gak usah ditanya!, atau mau wisata 'anu-anu'? Emmm...ada juga sih, dikit. Selain wisata, Jogja juga dipenuhi oleh mahasiswa dari ratusan kampus. Nah, yang biasanya kangen banget sama Jogja adalah para alumnus anak kuliahan di Jogja. Iyalah, kisah cinta, suka duka pengorbanan skripsi, titip absen, sampai hutang teman yang belum lunas semuanya tertinggal di Jogja. Berikut ini adalah 10 hal di Jogja yang bikin kangen versi saya :

1. Kampus!


Rindu Jogja, Rindu Kampus (sumber gambar: inovasee)
Yap, kampus. Ini merupakan satu hal yang paling saya kangenin dari Jogja. Biasanya tuh mahasiswa yang baru lulus bakal sok-sokan berkata "akhirnyaaa...aku bebas dari kampus juga" dan seakan-akan mereka benci banget sama kampus gegara dulu skripsinya ga di terima-terima sama dosen. Namun seiring berjalannya waktu, lama-lama kita akan merasa rindu kampus. Awalnya sih cuman pengen "ah..nongkrong di kantin ah" tapi lama-lama teringat akan canda tawa bersama teman-teman seangkatan, lalu kisah pedekate sama maba-maba tak berdosa, dan akhirnya malah baper ditempat. Setiap berkunjung ke Jogja pasti nyempetin ngeliat mantan kampus tercinta. Soalnya kampus gak melulu soal belajar, namun juga soal teman, cinta, dan canda tawa

2. Warung Burjo!


Burjoan, buka 24 jam, selalu siap siaga melayani anak kos.
Warung burjo adalah teman disaat kita berduka. Hanya warung burjo lah tempat kita mengadu #tsadisss. FYI buat kalian yang bukan mantan mahasiswa Jogja, warung Burjo itu semacam wartegnya orang Jogja dengan menu yang lebih simple dan to the point. Di setiap dindingnya pasti akan ada logo-logo indomei dan kopi badday, warnanya biasanya dominasi merah kuning hijau. Warung burjo ini di Jogja persebarannya kayak semut. Hampir tiap seratus meter ada warung burjo. Kenapa bikin kangen? Karena mau tidak mau kita bakal ngeliat burjo di mana-mana sampai mata mau belekan. Sebagai mahasiswa, burjo sudah seperti ibu kita sendiri, dialah yang memberi kita makan dan minum dari pagi sampai malam. Apalagi kalau burjonya ada fasilitas wifi, bisa pindah kos disitu dah. " A' nastel satu sama kopi item ya..."

3. Angkringan


Temaram lampu angkringan yang bikin rindu. (Sumber gambar : kotamini)
Angkringan langganan saya yaitu, angkringan Lek Tri menyediakan layanan custom menu minuman. Saya menciptakan sebuah minuman custom perpaduan antara jahe, jeruk, dan teh yang di patok dengan harga Rp. 2000 saja. Siapa yang ngga tau angkringan sih? tempat makan berbentuk gerobak dengan sistem bar dimana kita bakal nangkring di atas kursinya sambil ngobrol tentang rahasia kehidupan ini. Nasi kucing, gorengan, dan sate jeroan adalah menu makanan utama dari angkringan. Tidak sehat memang, tapi sebagai mahasiswa yang duitnya pas-pasan, mana peduli sama yang namanya healthy food berharga mahal itu? Teman saya bilang, kalau pengin makan jangan di Angkringan, tapi kalau pengin jajan, baru deh ke Angkringan. Kenapa? Karena kalau mau makan kenyang, jatuhnya malah mahal kalau kita makan di angkringan karena sistemnya eceran. Nyala lampu remang-remang didalam tendanya selalu membuat rindu Jogja.

4. Mantan Kos dan Kontrakan


Kebersamaan bersama teman-teman di kontrakan yang bikin kangen.
Beberapa teman saya yang sudah hengkang dari Jogja pasti akan pura-pura tidak sengaja lewat bekas kos atau kontrakannya sekedar ingin bernostalgia dan mengenang masa-masa jahiliahnya. Kos dan kontrakan tersebut telah menjadi saksi bisu masa-masa indah di Jogja. Kos itu mempertemukan kita dengan teman-teman baru yang sudah sudah kita anggap seperti saudara sendiri . Cerita cinta, kebersamaan, dan kehilangan ada disitu. Kekonyolan dan kegilaan juga semuanya ada disitu. Menjadi anak kos artinya adalah memecut diri sendiri menjadi pribadi mandiri yang lebih baik. Jadi kangen kos kan? 

5. Selokan Mataram


Di selokan mataram biasanya ada kendaraan yang nyungsep ke selokan (sumber gambar : menghilangkanspasi)
Selokan mataram ada dimana-dimana, selokan ini merupakan sungai buatan yang menyatukan antara Sungai Progo di Kulonprogo dan Sungai Opak di Bantul. Kenapa bikin kangen? Sebagai mahasiswa, saya sering nongkrong untuk sekedar ngopi dan ngobrol bareng teman-teman. Dan tongkrongan paling banyak ada di daerah Selokan Mataram Seturan. Disitu juga banyak toko-toko, dari parfum, baju, sepatu, helm, dll. Apalagi waktu sore hari sunsetnya lumayan indah bila dilihat dari Selokan Mataram Seturan Selokan mataram juga dikelilingi oleh kampus-kampus besar seperti UGM, UNY, UPN, dll, jadi tidak mungkin kamu tidak kangen selokan mataram kan?

6. Malioboro, Kampung Keraton, Tugu, sampai Sarkem


Jalan paling ikonik di Jogja (sumber gambar : tribunnews)
Entah kenapa setiap kali saya mengunjungi tempat-tempat di atas ada sebuah aura kerinduan yang menyelimutinya. Memang sebagai mahasiswa yang hidup cukup lama di Jogja, Malioboro dan sekitarmya hanya menarik diawalnya saja, setelahnya ya biasa saja. Namun jika kita sudah meninggalkan Jogja pasti akan sangat kangen dengan tempat-tempat tersebut. Hiruk pikuk wisatawan, rayuan pedagang oleh-oleh, sadisnya harga pedagang kaki lima, dan macetnya lalu-lintas seakan tertutup oleh humblenya arsitektur khas Jawa yang ada di situ. Perpaduan warna hijau dan bentuk jawa di bangunan dan fasilitas publik seakan mendamaikan pikiran. Senyuman ramah kusir dokar, tukang becak, dan pedagang kecil mampu mengeliminasi ego diri kita dan membuat kita nyaman selama berada di Jogja.

7. Murah!


Biaya hidup di Jogja murah! (Sumber gambar :  Brillio)
Kalau ditanya kota besar mana di Indonesia yang masuk dalam kategori biaya hidup paling murah? Jawabannya adalah Jogja!  Untuk makan dengan menu nasi + sayur + ayam + es teh, harga termurah yang pernah saya dapatkan adalah Rp. 7000, sungguh murah bukan? Kalau jaman awal saya kuliah, nasi ayam cuman Rp. 4000 saja. Bandingkan dengan kota besar lainnya. Maka, tidak heran bila banyak mahasiswa perantauan terutama dari luar jawa yang 'mendadak kaya' selama berada di Jogja. Murahnya hidup di kota Jogja akan semakin terasa ketika kamu meninggalkan Jogja dan hidup di kota lain seperti Jakarta. Kamu akan langsung merindukan murahnya harga makanan di Jogja. 

8. Senyum dan sapa


Tuh kan senyumnya bikin hati bahagia, apalagi senyumannya yang baju pink. (sumber gambar : Brillio)
Orang ASLI Jogja akan selalu tersenyum dan menyapa siapa saja yang ditemuinya ketika berpapasan di jalan. Cobalah kamu main ke daerah-daerah pemukiman seperti kali code dan kampung keraton. Kamu akan langsung disenyumin. Budaya ramah ini akan selalu terjaga selama budaya individualisme tidak semakin menjamur di kota yang ramah ini.

9. Banyak Tempat Wisata dan Hiburan


Jogja banyak tempat wisata yang asik buat pacaran (sumber gambar : sorotgunungkidul)
Selama hidup di Jogja kita tidak akan pernah kehabisan tempat yang menarik untuk dikunjungi di akhir pekan. Mau menikmati udara segar pegunungan? Kalian tinggal pergi ke Kaliurang atau Kulonprogo. Mau bermain pasir diiringi deburan ombak? Bantul dan Gunung Kidul setia menunggumu. Mau shoping? Banyak mall dan pasar tradisional yang siap menerima uangmu. Pengin senang-senang atau sekedar jalan-jalan? Kamu bisa pergi ke event-event musik, pameran dan budaya yang hampir setiap hari ada! Pokoknya banyak banget tempat wisata dan hiburan yang ada di Jogja yang bakal bikin kita merasa kehilangan kalau beranjak dari Jogja.

10. Surganya Kuliner dan tempat nongkrong


Nongkrong dan begadang bersama Backpacker Indonesia Reg. Jogja sampai pagi, ngobrolin apa saja sampai mulut berbusa.
Ada ribuan tempat makan dan minun yang tersebar di seantero Yogyakarta. Banyak tempat makan baik tradisional maupun modern yang selalu bertambah setiap waktu. Banyak tempat ngopi untuk sekedar tongkrongan bersama teman-teman. Bisnis kuliner di Jogja tidak akan pernah mati. Walaupun satu mati, pasti akan tumbuh seribu. Di cafe-cafe inilah kita menghabiskan malam bersama teman, komunitas dan juga pacar yang kalau di ingat-ingat lagi bakal bikin kita baper.

Nah, itulah 10 hal yang bikin betah di Jogja dan selalu ngangenin setiap waktu. Apa kotamu yang sekarang juga ngangenin seperti Jogja? Jawab di kolom komentar ya.