Candi Gebang, Si Kecil Yang Penyendiri

Minggu, Mei 28, 2017 abesagara 0 Comments


Saya sangat akrab dengan sebuah jalan yang bernama Candi Gebang. Lokasinya yang dekat dengan rumah membuatnya sering saya lewati. Dulu saya kira 'Candi Gebang' hanyalah sebuah nama jalan atau perumahan. Sama seperti 'Candi Indah' yang saya kira nama dari sebuah candi tapi setelah dicari-cari ternyata merupakan sebuah perumahan semi elit, bukan sebuah candi.

Syukurlah Candi Gebang yang saya tuju bukanlah sebuah perumahan, melainkan memang nama dari sebuah candi peninggalan peradaban masa lalu.


Penggunaan istilah 'candi' sebagai nama tempat memang sudah lumrah di Jogja. Terutama sebagai nama sebuah perumahan atau hotel. Jadi jangan sampai tertipu dengan sebuah tempat yang namanya diawali dengan kata 'candi'. 


Candi gebang yang berada Desa Gebang, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman ini memang kurang terkenal karena bukan merupakan candi utama. Hanya sebuah candi minor yang lokasinya ditengah-tengah perkampungan penduduk dan jauh dari jalan raya. Dari rumah saya mungkin jaraknya hanya sekitar 5 km.

Latar belakang historis dibangunnya Candi Gebang juga belum diketahui. Arkeolog hanya dapat memastikan bahwa candi gebang merupakan sebuah Candi Hindu yang dibangun pada tahun 730-800 M.

Jika dilihat dari ukuran tubuh candi yang kecil - hanya 3 meter dari pondasi kaki - mungkin difungsikan sebagai tempat pemujaan warga yang rumahnya jauh dari candi utama. Ibarat sebuah mushala dalam agama islam, atau sebuah kapel dalam agama kristen.



Berawal dari sebuah niat untuk JJS alias jalan jalan sore, sebuah papan petunjuk kecil bertuliskan 'Candi Gebang' tiba-tiba menggoda rasa ingin tahu saya untuk mengunjunginya. 

Sebelumnya saya memang telah berniat untuk mengunjungi semua Candi yang ada di Jogjakarta. Jika saja saya tidak pernah berniat, mungkin papan petunjuk yang kecil dan hampir tak terlihat itu tidak akan pernah saya gubris. Karena memang tidak begitu meyakinkan untuk dikunjungi.


Kompleks area Candi Gebang terletak di tengah persawahan dan hutan bambu sehingga membuatnya sejuk dan tidak panas. Area candi juga sudah ditata dengan indah. Disekelilingnya ditanami rerumputan yang dipagari oleh pohon teh-tehan. Bangku untuk pengunjung tersebar di beberapa titik. Ada satu warung makan kecil dan beberapa penjual bergerobak yang ikut meramaikan candi tunggal yang tampak kesepian ini.


Candi Gebang hanyalah sebuah bangunan candi berukuran kecil tanpa ada candi pengiring / pendamping. Bahkan tampaknya ukuran Candi Gebang lebih kecil dari candi pengiring yang terdapat di Candi Ijo, apalagi Candi Prambanan. Tidak terdapat tangga untuk menuju ke kamar utama. Kemungkinan jaman dulu menggunakan tangga dari kayu, jadi saya harus memanjat kaki candi yang tingginya satu meter untuk menuju ke kamar utama yang berisikan sebuah yoni tanpa lingga.

Pak satpam yang masih muda terlihat tengah asik berbincang dengan bakul bakso bergerobak pink. Saat saya masuk, tidak ada biaya retribusi sama sekali, mungkin karena sudah sore. Saya menyapa pak satpam dan sedikit berbincang dengannya.


Dia menjelaskan bahwa dulu awal dipugarnya Candi Gebang adalah karena ditemukan sebuah arca ganesha oleh warga sekitar pada tahun 1937. Berdasarkan penemuan itu, para arkeolog mulai melakukan penelitian tentang kemungkinan adanya sebuah candi di lokasi penemuan patung tersebut. 

Diasumsikan bahwa patung Ganesha tersebut merupakan bagian dari sebuah bangunan. Setelah dipastikan tentang adanya sebuah candi di lokasi tersebut, selanjutnya dilakukan penggalian, rekonstruksi dan pemugaran, yang dilangsungkan tahun 1937 sampai tahun 1939 di bawah pimpinan Van Romondt. Sekarang patung Ganesha tersebut bisa kita lihat tertempel pada dinding Candi Gebang.

Baca Juga: Candi Kalasan, Candi Untuk Jiwa Yang bebas
Beberapa reruntuhan batuan candi yang belum ada pasangannya tertata rapi bersama dengan sebuah lingga yoni yang sudah hancur. Kemungkinan merupakan bagian dari sebuah candi yang masih satu komplek dengan Candi Gebang namun masih berbentuk puzzle dan belum selesai di susun karena tidak ada kepingan pelengkapnya.


Jika pembaca hendak mengunjungi Candi Gebang maka rute paling mudah adalah lewat kampus AMIKOM Yogyakarta. Jika sudah ketemu kampusnya, maka tinggal lurus saja ke utara melalui Jalan Candi Gebang, nanti di kanan jalan akan ada plang kecil bertuliskan 'Candi Gebang'. Jika bingung, tanyakan saja pada warga sekitar, pasti akan dibantu sampai ketemu karena warga Jogja ramah-ramah.

0 comments:

Berburu Barang Antik di Hari Pasaran Pancawara Yogyakarta

Jumat, Mei 26, 2017 abesagara 0 Comments


Salah satu hobi saya kalau sedang tidak ada kerjaan adalah berburu barang-barang vintage, antik, jadul, dan unik sekedar sebagai penghias rumah atau di alih fungsikan jadi sesuatu yang lebih yahud, istilah bulenya 'upcycle'.

Tempat berburu barang-barang tersebut di Jogja selain di Pasar Klitikan, Pasar Niten Bantul , dan Pasar Senthir adalah di Pasar Pasaran Pancawara.

Pancawara merupakan nama dari sebuah pekan atau minggu yang terdiri dari lima hari dalam budaya Jawa dan Bali. Contohnya Pasar Pon, Pasar Kliwon, Pasar Wage, dan seterusnya. Pasar tersebut tempatnya berbeda-beda sesuai harinya.

Pasar Pon berlangsung di Pasar Godean, Kliwon di Pasar Bantul dan Cebongan, Legi di Pasar Kotagede, Pahing di Pasar Sleman, dan Wage berlangsung di Pasar Tegalrejo.

Bedanya dengan pasar biasa, pasar pancawara ini menjadi ajang para penjual barang bekas untuk menggelar lapaknya.

Penjual berasal dari Jogja maupun kota tetangga seperti Magelang, Purworejo, dan Solo. Diluar negeri pasar seperti ini dikenal dengan nama flea market atau pasar lalat karena para penjual ini seperti lalat, hinggap dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menjajakan barang dagangan mereka.

Atau bisa juga diartikan secara harfiah sebagai pasar dimana memang banyak lalatnya, karena barang-barang yang dijual ya memang sekelas barang rongsokan.


Dikalangan para pecinta barang-barang vintage ada istilah 'Grandma had it. Mom threw it out. I bought it back'. Kalimat tersebut memang sangat tepat karena saya benar-benar menyukai barang yang notabene pernah jadi benda kesayangan nenek.

Kesan retro vintage yang dipancarkan oleh barang-barang tersebut saat dipajang di salah satu sudut rumah mampu membuat tuan rumah, bahkan tamu terpukau oleh nuansa nostalgianya.

Kenapa di pasar seperti ini banyak barang-barang vintagenya? Karena, barang vintage itu kan sebenarnya adalah barang bekas namun usianya sudah puluhan tahun.

Nah di pasar seperti ini, barang bekas dari yang baru diproduksi sampai yang berasal dari jaman bahoela ada semua, tinggal bagaimana kita pintar-pintar memilihnya saja. Biasanya si penjual sudah memisahkan antara 'barang baru' dengan 'barang lama', atau malah ada yang mengkhususkan hanya menjual barang vintage saja.

Hari pasaran yang sering saya kunjungi untuk berburu barang antik adalah pasar pahing di Pasar Sleman karena dekat dengan rumah. Saking seringnya, pedagang disitu sampai hafal dengan saya. Jika saya berkunjung pasti sudah disiapkan barang-barang pilihan untuk ditawarkan.

Pasar Pahing di Sleman ini terletak sebelum Polres Sleman, di sebelah kiri jalan. Pedagang menggelar lapaknya di sepanjang jalan depan pasar. Ada puluhan pedagang yang menjajakan dagangannya dengan menggelar terpal di jalanan.

Barang yang dijajakan antara lain adalah pakaian baru dan bekas, onderdil motor, alat-alat rumah tangga, buku bekas, obat-obat tradisional, dan tentu saja barang-barang jadul dan antik.


Setiap hari pasaran pasti pasar akan dipenuhi oleh warga. Jangan dikira bakal sepi. Ramainya pasaran ini hampir menyamai ramainya konser Raisa vs Isyana loh! Saya harus bejubel berdesakkan dengan pengunjung lain. Bahkan berebut cepat demi mendapatkan barang incaran karena barang yang dijual disini kebanyakan one and only, alias satu-satunya, tidak ada yang menyamai.

Jika telah lelah menyusuri dari ujung ke ujung pasar ini maka saya biasanya akan memesan segelas es kopi susu dan semangkuk soto pedas di warung-warung sepanjang jalan pasar tumpah ini. Atau kalau ingin jajanan pasar khas Jogja tinggal masuk ke pasar utama saja, karena didalam pasar masih banyak penjual makanan tradisional.

Oya jangan lupa kalau mau berkunjung harus berangkat pagi, sekitar jam 7 karena kalau kesiangan bakal panas dan barang yang bagus-bagus biasanya sudah sold out. Pedagang pasar pancawara baru akan mengemasi dagangan mereka pukul 11 siang atau jika matahari sudah dirasa terlalu panas.


Pasar pancawara di Jogja ini bisa jadi wisata alternatif bagi pembaca yang kebetulan mengunjungi Jogja pada salah satu hari Pasaran. Bahkan, Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Yogyakarta sudah ada rencana untuk membuat pasar pasaran di Jogja ini menjadi salah satu tujuan wisata utama hanya saja terkendala infrastruktur pendukung obyek wisatanya saja.

Mari kita lestarikan pasar tradisional di Yogyakarta supaya tidak tergerus oleh pesatnya pembangunan pasar modern. Karena, belakangan ini Jogja nampaknya menjadi lokasi ajang lomba bangun Mall.

0 comments:

Menyusuri Panjangnya Pantai Trikora di Pulau Bintan

Selasa, Mei 23, 2017 abesagara 0 Comments


Pantai Trikora terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Provinsi Riau Kepulauan. Berjarak 45 km dari Tanjung Pinang, atau 70 km dari Tanjung Uban.


Nama 'Trikora' pada pantai ini katanya berasal dari Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) pada tahun 1961 dulu dalam rangka penggabungan Irian Barat ke NKRI.


Pada saat itu pantai ini digunakan sebagai salah satu pangkalan terluar untuk menghadapi serangan pasukan Belanda.

Tambak ikan laut di lepas pantai Trikora, Bintan.
Saya sampai di Pantai Trikora sekitar jam satu siang. Cuaca hari itu mendung, tapi hujan tak kunjung turun. Perjalanan saya dari Pantai Lagoi ke Pantai Trikora menggunakan sepeda motor membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam.

Orang aneh

Dalam perjalanan menuju pantai, saat saya sedang mengisi bensin eceran di satu-satunya warung yang ada di pinggir jalan, saya didatangi oleh seorang anak muda yang mukanya sudah terlihat tua (jahat banget ya saya), dengan rambut ala-ala Mike Jagger. Bagian depan pendek, belakangnya panjang.


Tiba-tiba dia bertanya "Bang, abang mau kemana?".

"Mau ke Trikora bro, kenapa ya?" jawab saya dengan agak heran dan sedikit was-was karena dia berpenampilan aneh.


Dia mengenakan kemeja yang sudah kotor berpadu dengan celana panjang jeans coklat yang juga sama kotornya. Bagian kaki kiri celananya di gulung sampai ke lutut, sementara satunya tidak.

"Boleh ikut bang? saya numpang sampai ke Trikora", pintanya.


Dengan perasaan was-was campur kasihan saya pun mengiyakan, kebetulan saya juga asing dengan daerah sini. Dengan adanya orang lokal yang menumpang ini bisa sekalian jadi pemandu saya.


Baca juga: kondangan di Pulau Bintan

Adi, warga lokal yang jadi guide dadakan.
Jangan lihat orang dari penampilannya. Barangkali nasehat itu yang harus kukatakan pada diri sendiri.

Namanya Adi. Penampilan lusuhnya yang tadi sempat membuat saya was-was akhirnya hilang setelah saya banyak bercakap dengannya sepanjang perjalanan. Orangnya ramah dan sangat talkative.

Ternyata si Adi kesehariannya menggarap kebun miliknya sendiri yang diwarisi oleh orangtuanya. Dia memang suka hitch hiking karena tidak ada transportasi umum menuju Pantai Trikora. Kalaupun ada, itu sangat langka. Jadi saya sarankan jika pembaca ingin menjelajahi Pulau Bintan, sewalah kendaraan sendiri.

Rumah si Adi, sederhana namun terlihat nyaman.
Panjangnya Pantai Trikora

Sesampainya di daerah pantai saya sempat bingung mencari mana yang namanya Pantai Trikora, karena pantai ini sungguh sangat panjang.

Kumpulan semak dan mangrove seakan menjadi pembatas alami pantai yang panjang ini.

Ternyata yang namanya Pantai Trikora ya sederetan pantai ini. Semua bernama Pantai Trikora hanya dibedakan jadi Pantai Trikora 1, Pantai Trikora 2, dan seterusnya.

Menurut wikipedia dan juga google maps, panjang Pantai Trikora mencapai 25 km.



Garis pantai yang sangat panjang ini semuanya berpasir putih.


Saat saya kesitu air laut sedang surut sehingga karang-karang yang tajam terlihat menghiasi bibir pantanya.

Laut biru yang tampak indah saat saya browsing gambar 'Pantai Trikora' di google tidak tampak. Malah, air laut seakan-akan tidak berwarna karena cuaca saat itu mendung.

Pantai utamanya, yang entah Pantai Trikora nomer berapa berada di ujung, ditandai oleh tumpukan batuan besar seperti yang biasa kita lihat di pantai-pantai Belitung.



Untuk sampai ke ujung Pantai Trikora yang pemandangannya paling bagus, saya membutuhkan waktu sekitar 20 menit menaiki motor. Bisa dibayangkan kan betapa panjang pantai Trikora ini. 


Saya berkunjung ke Pantai Trikora pada week days jadi tidak banyak pengunjung lain yang saya lihat.


Pantai yang panjang ini terasa sangat sunyi. Warung-warung dengan gubuk gazebonya yang kosong berderet di sepanjang pantai.

Saya mampir ke salah satu warung dan memesan dua cangkir kopi hitam, satu untuk saya, satunya lagi untuk si Adi yang sudah bersedia mejadi guide dadakan saya.



Berkunjunglah di akhir pekan


Sungguh berbeda dengan pantainya orang kaya, Pantai Lagoi. Pantai rakyat yang seharusnya indah ini ternodai oleh banyaknya sampah yang bertebaran di sepanjang pasir putihnya.

Pasir yang putih pun seakan tampak berwarna-warni, oleh sampah.

Fasilitas pengunjung? selain warung dan kamar mandi saya tidak menemukan wahana hiburan lain seperti paralayang, speedboating, dan lainnya seperti yang pernah saya baca di internet.

Hal itu mungkin dikarenakan kunjungan saya bukan pada hari libur atau weekend jadi penyedia wahana wisatanya enggan menampakkan diri karena pengunjungnya memang sedikit.



Saya berjalan menyusuri deretan warung menuju ujung pantai yang terdapat banyak batu-batu berukuran besar. Mungkin ini spot yang paling bagus di Pantai Trikora.


Tumpukan batuan granit yang ukurannya besar-besar ini memang banyak terdapat di pantai-pantai Kepulauan Riau.

Saran saya, jika ingin mengunjungi pantai-pantai di Pulau Bintan, kunjungilah pada saat musim kemarau dimana airnya akan tampak berwarna biru dan jernih sehingga keindahan pantainya akan lebih berasa.


Juga, kunjungilah saat peak season karena wahana dan fasilitas wisata akan lebih banyak dan beragam.



0 comments:

Chinese Garden Singapore, Oase di Tengah Riuhnya Metropolitan

Jumat, Mei 19, 2017 abesagara 0 Comments


Walaupun merupakan kota besar yang sibuk, Singapura mempunyai banyak tempat untuk menyepi dari penatnya kehidupan yang serba cepat ala kota metropolitan. Banyak taman yang selalu penuhi oleh warga di setiap sudut kotanya. 

Ketika mengelilingi negeri tetangga ini dengan bus, saya banyak melihat taman dengan pohon-pohonnya yang rindang. 
Kanopi-kanopi pepohonan tropis tampak dari kejauhan menggelayut tertiup angin.

Menurut situs Dinas Pertamanan Singapura, ada 1626 taman dan hutan kota yang tersebar di seluruh penjuru Singapura, termasuk taman atas gedung dan beberapa pohon lindung.

Ada satu tempat yang mencuri perhatian saya waktu sedang mengelilingi Singapura secara random (baca : tersesat) menggunakan kereta Mono Rail Train (MRT).

Waktu itu kereta yang saya tumpangi keluar dari terowongan bawah tanah dan kemudian naik ke jembatan rel di atas jalan raya. Karena posisi kereta berada di atas jalan, saya bisa melihat kota dengan leluasa dari atas.

Pemandangan dari atas pagoda. Hijaunya pepohonan sangat kontras dengan warna-warna gedung bertingkat
Saat itu saya melihat sebuah area hijau yang cukup luas di tengah gerombolan gedung-gedung bertingkat.

Tentunya pemandangan itu sangatlah mencolok karena area hijau sangat kontras dengan warna abu-abu gedung bertingkat di sekitarnya.

Pemandangan itu nampak sangat damai dan tenang. Dari kejauhan saya melihat ada sebuah pagoda berwarna merah di pinggir sebuah danau. Tertarik, saya langsung turun di pemberhentian Chinese Garden ( Stasiun EW25) tepat di pintu masuk taman tersebut.

Jembatan ala Tiongkok di Chinese Garden.
Taman itu adalah Singapore Chinese Garden. Sebuah area pertamanan khas Tiongkok dengan suasananya yang sangat ‘zen’. Seketika suasana hening yang menenangkan kalbu langsung terasa saat saya melewati sebuah jembatan kecil dan memasuki gapura berwarna merah.

Kolam-kolam kecil dengan gemericik air dari pancurannya menambah suasana menjadi meditasi-able.

Ikan koi berwarna-warni melenggat-lenggot indah di kolam itu.

Kolam ikan koi 'Koi Pond'
Saya berjalan mengikuti jalan setapak utama yang di pinggirannya berjajar rapi pohon-pohon pinus beralaskan rumput hijau yang basah.

Kebetulan waktu itu hujan baru saja reda jadi hawa di taman jadi sangat sejuk.

Jalan setapak yang diteduhi pohon-pohon membuat nyaman pengunjung.
Saya memasuki sebuah bangunan khas Tiongkok berwarna dominan merah yang saya tidak tahu apa sebutannya. Bangunan tersebut berdiri di atas sebuah kolam besar. Dihiasi oleh pot-pot pohon bonsai. Di situ saya merasa seperti berada di film-film laga Tiongkok dimana biasanya para Shaolin berlatih kungfu.

Ini spot terbaik di Chinese Garden Singapore.
Beranjak dari situ, saya menuju pagoda di pinggir danau yang tadi saya lihat dari kereta. Pagoda ganda tersebut tinggi menjulang berwarna putih merah.

Angin sejuk dari danau menyapu wajah saya.

Saya berdiam cukup lama di pagoda ini, menikmati suasana yang hening dan menenangkan.

Hampir semua bangunan yang ada di Chinese Garden Singapore saya kunjungi.

Twin Pagoda di pinggir danau yang menyita oerhatian saya sejak dari kereta.
Chinese garden singapore sore itu sangat sunyi. Mungkin hanya saya saja turis yang datang kesini. Pengunjung lainnya hanya warga lokal yang tampak sedang asik berolahraga.

Sepasang kakek-nenek yang sedang joging wara-wiri memberikan senyumannya kepadaku. Entah sudah berapa putaran mereka mengelilingi taman ini.

Tidak hanya Chinese Garden, disini juga terdapat Japanese Garden dengan rumah tradisional jepang. Hanya saja yang paling dominan tetaplah bangunan bertemakan Tiongkok.

Taman ini wajib di kunjungi bagi kalian yang sudah bosan mengunjungi tempat yang itu-itu saja di Singapore.


Cara menuju ke Chinese Garden Singapore ini tidaklah sulit, tinggal naik MRT jalur hijau atau East West Line  Jurusan Jurong Chinese Garden. Lebih mudahnya kalian bisa langsung cek web resmi MRT disini.

Biaya masuk ke Chinese Garden Singapore juga gratis-tis! Dijamin tidak ada pungli dan tukang retribusi dadakan.

Jangan lupa bawa bekal makanan dan minuman sendiri yah, atau kalian juga bisa membelinya di minimarket ‘Cheers’ tepat di stasiun pemberhentian Chinese Garden.

Chinese Garden Singapore bisa menjadi alternatif obyek wisata murah jika kamu sudah bosan mengunjungi destinasi wisata mainstream di Singapura. 

Selamat Menjelajah!


0 comments:

WRS Bantu Kawan Kita Yang Terancam Punah

Jumat, Mei 19, 2017 abesagara 0 Comments


Hei! Apakah kalian tahu kalau tanggal 19 Mei adalah sebuah hari berbahagia untuk teman-teman kita di luar sana? 19 Mei adalah World Endangered Species Day! Hari yang dikhususkan untuk teman-teman lucu kita yang mungkin jika kita tidak ikut turun tangan maka suatu saat nanti anak-cucu kita tidak bisa melihat mereka lagi.


Sedih bukan? Saya selalu penasaran dengan yang namanya burung dodo, mereka punah pada abad ke 16, sekarang, saya hanya bisa melihatnya melalui gambar dan film-film fiksi saja.


Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), hari ini sekitar 3000 spesies satwa langka terancam punah bila dibiarkan tanpa campur tangan konservasi dari manusia. 
Untuk mencegahnya, sangat dibutuhkan bantuan dari kita yang harusnya peduli dengan nasib mereka.

Percayalah, manusia tidak seegois itu untuk tak peduli pada keberlangsungan hidup satwa terancam punah, bukan?


Untuk memperingatinya, Wildlife Reserves Singapore (WRS) yang menaungi mayoritas kebun binatang dan suaka margasatwa di Singapore mengadakan sebuah event khusus di beberapa kebun binatang mereka seperti Jurong Bird Park, Night Safari, River Safari, dan Singapore Zoo.

Kalian yang mengunjungi Singapore pada bulan ini dapat ikut berkontribusi dalam melindungi satwa-satwa yang terancam punah dengan ikut terjun pada beberapa projek mereka.

Semua orang dari yang muda sampai yang tua bisa mengikuti program kampanye perlindungan satwa dari WRS. Kalian yang mengunjungi salah satu dari ke-empat kebun binatang diatas dapat mengikuti program pembelajaran dan konservasi melalui metode learning by experiences yang dipandu oleh ahli konservasi Singapura.


Dengan mengikuti program tersebut diharapkan kita dapat mengaplikasikannya kepada satwa-satwa di sekitar kita.

Wildlife Reserves Singapore saat ini tengah melindungi dan mengkonservasi 210 spesies hewan terancam punah.

Jadi bila kalian saat ini sedang mengunjungi Singapore atau ada rencana akan mengunjungi Singapore, maka sempatkanlah berkunjung ke empat destinasi tersebut.


Selain menyenangkan, kita juga bisa ikut membantu hewan-hewan langka dari kepunahan dan sekaligus mendapatkan pembelajaran berguna tentang konservasi. 

Namun, jika kalian tidak sempat mengunjungi Singapore dalam waktu dekat ini tapi ingin ikut berkontribusi dalam melindungi satwa langka dari kepunahan, kalian bisa memvoting hewan favorit kalian agar diberikan dana bantuan tambahan oleh sponsor. Setiap voting yang diberikan kepada hewan favorit kalian maka kalian sudah memberi bantuan sebesar 20 sen Singapura. Kalian bisa voting disini.

Dibawah ini merupakan program konservasi utama yang di support oleh WRS. Upaya konservasi ini menggunakan dana dari sponsor, dan tentu saja pendapatan dari tiket masuk, makanan, minuman, dan suvenir dari pengunjung kebun binatang mereka.

Konservasi Panda Raksasa (Chinese Giant Panda)

Photo : Wildlife Reserves Singapore
Dua panda imut bernama Kai Kai dan Jia Jia, mereka datang ke Singapura pada tahun 2012 sebagai pinjaman oleh Pemerintah China supaya WRS melakukan upaya konservasi terhadap mereka berdua selama 10 tahun. 

Program utama konservasi panda antar dua negara ini adalah Panda Breeding Programme atau program supaya Kai dan Jia punya anak yang lucu-lucu dan imut. Program ini tidak hanya dilakukan oleh WRS, tapi juga oleh konservasi satwa seluruh dunia, hasilnya? populasi panda raksasa pun meningkat dan semakin menghindarkan hewan lucu ini dari kepunahan.

Perlindungan Berkelanjutan Pada Burung Kakaktua Filipina

Photo: Katala Foundation Inc.
Upaya konservasi tidak melulu untuk hewan mamalia saja, namun juga untuk unggas berekor merah dari Filipina ini.

Habitatnya yang semakin sempit karena hutan-hutan dibabat, ditambah dengan penangkapan besar-besaran sebagai burung hias dalam sangkar menjadikan Kakaktua Filipina ini tinggal sekitar 1000 ekor pada habitat asalnya. 

Bersama dengan Katala Foundation Inc, Jurong Bird Park, sebuah taman marga satwa khusus burung bertugas untuk melindungi burung-burung langka dari kepunahan, termasuk burung asli Filipina ini. Program utamanya adalah untuk mengedukasi masyarakat supaya lebih peduli dengan burung ini.

Secara berkala, pihak margasatwa akan mendatangi masyarakat di sekitar habitat burung ini dan mengedukasi mereka akan pentingnya konservasi burung Kakaktua Filipina ini.

Di Jurong Bird Park, Kakaktua Filipina bisa dijumpai di komplek 'parrot paradise exhibit'.

Gajah Sumatera Milik Kita Semua

Photo : Wildlife Reserves Singapore
Kebakaran hutan, pembabatan lahan, dan perburuan liar membuat populasi gajah sumatera menurun drastis. Walaupun sudah dilindungi oleh pemerintah dengan membuat sebuah taman nasional sebagai habitatnya, perburuan gajah sumatera masih terus berlangsung.

Populasinya sekarang di alam liar hanya sekitar 2000 ekor saja. Taman Nasional Way Kambas hanya menanungi sekitar 10% dari total populasi gajah sumatera. Banyak kita lihat berita-berita tentang konflik antara masyarakat dengan gajah-gajah Sumatera.

WRS berupaya untuk mengatasi konflik antar masyarakat dengan gajah dengan program ERU (Elephant Response Unit's). ERU bertugas untuk menggiring gajah yang keluar ke area penduduk supaya kembali ke hutan lindung tempat asalnya dan mencegah mereka masuk lagi ke area penduduk.

Tugas ini tidaklah mudah karena pada area yang luas, gajah sewaktu-waktu bisa saja keluar dan masuk ke area pemukiman penduduk.

Menyelamatkan Orangutan, Primata Yang Selalu Ceria

Photo : Wildlife Reserves Singapore
Singapore Zoo melindungi 40 jenis primata, dan yang menjadi favorit pengunjung adalah Ah Meng, Orangutan yang selalu ceria dan seakan menjadi sahabat setiap pengunjung Singapore Zoo.

Sedihnya, Ah Meng yang berusia 6 tahun ini masuk dalam 25 primata langka dan rawan punah di dunia. 

Siapa sih yang tidak pernah melihat orangutan? Primata yang cerdas dan suka minta kacang kepada pengunjung kebun binatang ini terancam punah. Apalagi kalau bukan karena ulah manusia yang membabat habis 'rumah' mereka dan bahkan membunuh mereka secara sadis hanya karena mereka merusak kebun masyarakat.

Sebagai bagian dari upaya untuk melindungi orangutan dari kepunahan, WRS mendukung sebuah program bernama Human Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU). Program ini berusaha memfasilitasi kepentingan antara masyarakat dan orangutan.

masyarakat yang tinggal dekat dengan habitat orang utan akan mendapatkan pelatihan dari tim konservasi tentang bagaimana melindungi tanaman mereka dari orangutan secara manusiawi

TENTANG WILDLIFE RESRVES SINGAPORE

Wildlife Reserves Singapore (WRS) merupaka perusahaan induk yang menaungi Jurong Bird Park, Sngapore Night Safari, River Safari, dan Singapore Zoo.

WRS mendedikasikan diri sebagai perusahaan yang menawarkan atraksi kelas dunia yang mementingkan upaya konservasi dan riset sembari memberi edukasi kepada pengunjung tentang hewan dan habitatnya. 

Sebagai organisasi mandiri, WRS juga bekerjasama dengan banyak partner, organisasi, dan institusi yang bertujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati lokal maupun global.

Setiap tahunnya, taman margasatwa WRS seperti Jurong Bird Park dikunjungi sekitar 800.000 pengunjung, Night safari 1,1 juta,  River safari 1 juta, dan Singapore Zoo 1,7 juta pengunjung. Atraksi terbaru WRS adalah River Savari yang baru dibuka tahun 2014 kemarin.

Informasi lainnya bisa langsung kalian lihat di hwww.wrs.com.sg

0 comments:

Candi Kalasan, Sebuah Penghormatan Bagi Jiwa Yang Bebas

Senin, Mei 15, 2017 abesagara 0 Comments


Jalanan siang itu sangat padat, truk dan bus saling salip, saya yang hanya menaiki sebuah motor matic tua melaju dengan kecepatan seadanya, tak sampai 40km/jam, mungkin.

Tepat di pinggir jalan raya, saya dikejutkan oleh sosok bangunan berbatu tinggi menjulang. Bangunan batu tersebut tampak kontras dengan rumah-rumah semen di sekelilingnya.

0 comments:

Trekking dan Menginap di Kampung Baduy Dalam

Rabu, Mei 10, 2017 abesagara 0 Comments


Ingin melihat seperti apa rasanya hidup di jaman kerajaan? datang dan menginaplah di kampung Baduy. Sebuah kampung dimana modernisasi di tolak tetapi tidak dengan lembaran kertas rupiah.

Perjalanan saya menuju kampung Baduy ini diawali dari Yogyakarta langsung menuju Banten, tepatnya di daerah Leuwidamar, Kabupaten Lebak.

Kunjungan ke Baduy ini dalam rangka praktikum lapangan mata kuliah Geografi Terpadu yang harus diakhiri dengan membuat laporan penelitian. Duh!

Dari kota Lebak, bus yang membawa sekitar lima puluh orang mahasiswa ini langsung menuju ke Desa Kanekes yang berada di kaki Pegunungan Kendeng. Melewati perbukitan dengan lama perjalanan sekitar dua setengah jam.

Jalan aspal yang banyak lubangnya ini membuat bus yang kami tumpangi berasa sedang berdandsa cha cha cha.

Mesin waktu

Sesampainya di terminal, patung besar yang menggambarkan satu keluarga Baduy, lengkap dengan pakaian tradisionalnya menyambut kami dengan lambaian tangannya.

Toko oleh-oleh, suvenir dan kerajinan khas Baduy berderetan mengelilingi terminal ini. Minimarket modern di ujung sana juga tidak mau kalah.

Gadis baduy yang malu-malu tapi mau di foto.
Setelah sejenak beristirahat dan melakukan briefing, pak dosen membagi satu kelas yang berisi lima puluh orang ini menjadi dua kelompol, yaitu lima belas orang masuk kelompok Baduy Dalam sementara sisanya masuk kelompok Baduy Luar. Saya masuk kelompok yang mengeksplor Baduy Dalam. Yes!

Perjalanan pun di mulai.

Saya mulai berjalan melewati rumah-rumah penduduk dengan jalan paving yang menanjak. Terlihat anak-anak Baduy sedang duduk-duduk di depan warung kelontong sambil menonton televisi yang ada di warung itu.

Mereka terlihat antusias menontonnya. Suku Baduy tidak diperkenankan memiliki fasilitas berteknologi modern, sehingga ketika mereka melihat televisi di warung warga non-Baduy, mereka terlihat sangat menikmatinya.

Hampir di setiap warung kelontong yang saya jumpai pasti terdapat warga Baduy yang sedang asik menonton televisi.

Sementara itu, rayuan ibu-ibu penjual suvenir terus bersahut-sahutan di belakang saya.

Sebelum memasuki kampung, kami melakukan briefing sekali lagi dan berdoa bersama.

Kelompok saya berangkat duluan di iringi muka cemberut teman-teman yang tidak berkesempatan masuk ke Baduy Dalam.

Rumah bambu sederhana namun terlihat sejuk dan nyaman.
Di perbatasan antara warga non-Baduy dengan warga Baduy ada perbedaan yang sangat mencolok.

Di satu sisi ada rumah dengan tembok bata dan kabel-kabel listrik menjuntai semrawut. Di sisi sebelahnya, yang tampak hanya rumah panggung dari kayu dan bambu, tampak reot dan renta. 

Kedua rumah ini benar-benar bersebelahan. Mungkin hanya berjarak satu meter saja namun sudah terlihat sangat berbeda. Seakan-akan saya sedang berada di persimpangan zaman. Menembus waktu.

Baduy Luar

Desa Baduy yang bersebelahan dengan desa modern ini merupakan desanya penduduk Baduy Luar.

Suku Baduy, atau mereka biasa menyebut diri mereka dengan sebutan 'Kanekes' ini terdiri dari suku Baduy Luar dan Baduy Dalam. Perbedaan yang paling tampak dari mereka adalah bajunya.

Warga Baduy Luar biasanya mengenakan pakaian berwarna hitam atau biru tua keunguan dengan ikat kepala hitam. Mereka ini masih diperbolehkan menggunakan sedikit hasil dari modernisasi, seperti sabun mandi, sabun cuci, menumpang kendaraan bermotor, dan lainnya.

Sementara warga Baduy Dalam pakaiannya berwarna putih atau biru tua. Mereka tidak diperbolehkan sama sekali menggunakan teknologi modern. Bahkan menggunakan satu batang paku untuk memperbaiki rumah pun tidak diperbolehkan.

Kostum khas orang-orang dari Baduy Dalam
Pemandu perjalanan kami adalah warga Baduy Dalam asli. Ada empat orang, yaitu Aa Jali, Jukri, Yuli, dan dek Arman. Yang terakhir disebut ini umurnya baru sepuluh tahun tapi tenaganya luar biasa.

Mereka sehari-hari menggunakan bahasa Sunda dialek Banten namun sudah fasih berbahasa Indonesia. Saya kebagian dipandu oleh Aa Jali, yang paling tua.

Sebenarnya ketika baru sampai di terminal, banyak warga Baduy Dalam yang mengerubungi kami dan menawarkan jasa pemandu. Tapi dari pihak kampus sudah menyewa pemandu langganan, sehingga kami terpaksa harus menolak tawaran mereka.



Terlihat juga beberapa ibu-ibu yang sedang mengobrol sambil berdiri di pelataran salah satu rumah. Bahkan di salah satu rumah warga Baduy Luar ada warung kelontong yang menjual aneka jajanan snack modern dan beberapa minuman kemasan.

Jadi selama di Baduy Luar ini saya masih aman dari yang namanya primitifisasi.

Kebanyakan wanita di Baduy hanya memakai kemben saja saat di rumah

Trekking ke Baduy Dalam

Setelah beberapa menit berjalan kaki melewati jalan paving pemukiman Baduy Luar yang naik turun, petualangan yang sebenarnya akhirnya dimulai.

Jarak menuju Baduy Dalam kira-kira 12 km dengan jalan tanah yang berlumpur dan naik turun. Tantangan tersebut saya terima dengan gembira, sudah tidak sabar rasanya ingin mencoba trekking jalannya orang Baduy yang sudah ada sejak ratusan tahun ini.

Sekitar setengah jam perjalanan, saya tiba di tempat yang terdapat banyak deretan gubuk dengan ukuran yang lebih kecil dari rumah penduduk.

Setelah saya tanyakan ke aa Jali, ternyata gubuk-gubuk ini berfungsi sebagai lumbung tempat menyimpan hasil panen. 

Komplek 'Gudang Makanan' Suku Baduy
Di gubuk-gubuk ini kami berhenti sebentar untuk membasahi kerongkongan yang terasa begitu kering.

Tidak jauh dari situ, ada sebuah pancuran air dari bambu yang mengalirkan air langsung dari mata air di hutan. Pancuran ini merupakan sumber air minum warga Baduy di daerah ini.

Karena airnya terlihat sangat jernih, saya pun penasaran untuk mencoba meminumnya. Rasanya menyegarkan. Lebih segar dari pada air pegunungan dalam kemasan.

Saya tidak peduli berapa jumlah bakteri yang ada di dalam air tersebut, yang penting rasanya segar, dahaga terobati.

Antre mendapatkan air segar asli pegunungan.
Hutan Adat

Saya menyeberangi sebuah jembatan yang terbuat dari bambu. Tiang-tiang jembatan bambunya berderet menancap sampai dasar sungai dan menjutai sampai ke atas. 

Kembali berjalan, saya melewati sebuah hutan yang sangat rimbun. Saking rimbunnya, bahkan mungkin kucing pun tidak bisa melewati hutan ini. Penasaran, saya bertanya kepada Aa Jali. Aa Jali berkata kalau ini adalah Hutan Adat atau biasa di sebut Hutan Larangan. Tidak sembarang orang boleh memasukinya.

Hutan adat, selain sebagai salah satu bagian dari kepercayaan si pemegang adat juga secara tidak langsung merupakan sebuah upaya konservasi untuk melindungi ekosistem di sekitarnya.

Manusia sangat mudah dipengaruhi bila hal itu menyangkut kepercayaan. Dengan pantangan-pantangan tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan masyarakat setempat, orang jaman dahulu sebenarnya sudah menerapkan sistem konservasi alam melalui konsep 'Hutan Larangan' ini.

Berkembangnya jaman dan semakin majunya pemikiran manusia, pantangan-pantangan tersebut tidak lagi berupa takhayul, namun berupa peraturan perundang-undangan yang menakuti masyarakat dengan denda dan penjara.

Jembatan Bambu yang susunannya rumit namun terlihat epic.
Modernisasi off-limit

Perjalanan di lanjutkan sampai saya menjumpai sebuah pohon yang terdapat ikatan daun pisang yang telah kering. Di sini kami di berhentikan oleh Aa Jali yang berambut gondrong itu.

"Lurus pohon ini adalah kawasan Baduy Dalam, jadi tolong ya semua barang-barang elektronik jangan di pakai" kata dia dengan bahasa Indonesia campur Sunda.

Di sinilah perpisahan saya dengan kamera dan handphone. Semua alat elektronik kami matikan. Tidak ada musik, tidak ada suara jepretan shutter kamera. Semua mendadak sunyi.

Foto bersama sebelum memasuki Baduy Dalam.
Hari itu, hanya kami yang mengunjungi Baduy Dalam. Langit mulai berwarna jingga. Kegelapan berangsur-angsur datang dari arah timur.

Kami mempercepat tempo jalan. Dari santai menjadi agak ngebut, melewati hutan rimbun dengan jalan yang sempit.

Jarak dari perbatasan tadi dengan kampung Baduy Dalam tidak lah jauh, mungkin hanya sekitar satu jam perjalanan.

Sebelum masuk komplek perkampungan, kami kembali melewati sebuah jembatan dengan sungai dangkal yang cukup jernih di bawahnya.

Kampung Baduy Dalam dikelilingi oleh pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi dengan jarak yang rapat-rapat.

Kampungnya sangat sunyi. Jangkrik-jangkrik sudah mulai bernyanyian sementara langitnya semakin bertambah gelap, menyisakan sedikit cahaya yang sulit menembus rapatnya kanopi bambu yang bergerombol bak payung.

Jalan yang dilewati selama perjalanan ke Baduy dalam adalah jalan tanah merah seperti ini.
Penduduk kampung yang tadinya berada di dalam rumah mendadak keluar dan menyambut kami. Beberapa membawa kerajinan tenun dan parang untuk di tawarkan. Wow, belum apa-apa sudah banyak sales.

Kami berkumpul di rumah Aa Jali. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari bambu. Rumahnya bisa menampung sepuluh orang. Tidak ada perabotan apa pun di dalamnya. Kosong seperti hatikuHanya terlihat beberapa perkakas sehari-hari (yang dibuat sendiri) menggantung di dinding bambu.

Kami disuguhi air putih dan gula aren oleh Aa Jali. Gula aren ini merupakan salah satu hasil produksi masyarakat Baduy Dalam dengan menyadap nira pohon aren.

Suguhan gula aren kepada tamu merupakan salah satu suguhan mewah orang Baduy Dalam. Ibarat kami di suguhi kue jika bertamu ke rumah seseorang. 

Saya ambil dan emut satu potong gula aren, di susul dengan satu tegukan air putih. Tak disangka, rasa manis dari gula aren yang larut dalam air yang saya minum ini terasa begitu menyegarkan.

Tipikal teras rumah Suku Baduy.
Sambil duduk bersila di beranda rumah yang beralaskan tikar anyaman bambu, kami saling bercerita. Kami menanyakan budaya suku Baduy, sementara mereka menanyakan tentang kota kami, Yogyakarta.

Ternyata warga Baduy benar-benar taat akan budaya mereka. Pernah suatu ketika mereka di undang bertemu presiden. Mereka mengutus dua wakilnya untuk berangkat ke Jakarta dengan berjalan kaki! Ya, mereka jalan kaki dari kampung mereka ke Jakarta tanpa naik satu kendaraan transportasi pun. Luar biasa bukan? Inilah traveler sejati, pikir saya.

Selain itu mereka juga menceritakan mengenai agama mereka, Sunda Wiwitan. Sebuah ajaran kepercayaan yang berakar pada penghormatan para karuhun atau arwah leluhur dan pemujaan kepada roh alam (animisme).

Kepercayaan ini juga sedikit banyak di pengaruhi oleh agama-agama Hindu, Buddha, dan Islam. Mereka percaya bahwa orang Kanekes merupakan keturunan langsung Nabi Adam.

Bentuk penghormatan kepada roh alam semesta dilakukan dengan cara menjaga dan melestarikan alam. Maka tak heran jika hutan di daerah ini sangat rimbun dan kestari, sungai-sungainya juga jernih.

Orang baduy memegang teguh sebuah 'pikukuh' atau kepatuhan yang berbunyi:


'Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.' Artinya adalah 'Panjang tidak boleh di potong, pendek tidak boleh disambung'.

Pikukuh tersebut merupakan konsep dari 'tanpa perubahan apa pun' atau perubahan dilakukan sekecil mungkin. Maka dari itu orang Baduy Dalam ini tidak mau menerima adanya modernisasi.

Banyak kunang-kunang dan jamur fosfor

Tak terasa gelap sudah turun, jam tangan saya menunjukan pukul 18:12, waktunya sholat maghrib. Kami mencari sumber air dan berakhir wudhu di sungai dekat perkampungan.

Suasana gelap gulita, satu-satunya penerangan hanyalah lampu minyak yang kami bawa dari kampus. Karena menggunakan minyak, jadi tidak masalah digunakan di kampung Baduy Dalam.

Saat sedang berwudhu, tatapan mata saya tertuju pada beberapa titik kecil di tanah yang menyala kehijauan. Setelah saya dekati ternyata itu adalah gerombolan jamur.

Jamur-jamur tersebut bercahaya hijau di tengah gelapnya malam. Kami baru kali pertama ini melihat jamur fosfor yang ternyata tumbuh di tanah Baduy Dalam.

Sungguh takjub karena setelah melihat sekeliling kami ternyata ada banyak jamur yang menyala kehijauan, mirip pemandangan di film-film famtasi.

"Gaes, deloken, jamure podo murub iki!" Teriak saya dengan girang, memberi tahu teman saya yang tadi ikut berwudhu kalau banyak jamur yang menyala dalam gelap.

Teman-teman yang di belakang langsung berlarian penasaran dan langsung takjub melihatnya.

Ukuran jamurnya kecil-kecil dan bergerombol, jadi terlihat seperti kerajaan para peri. 

Sayang sekali saya tidak bisa memotretnya karena sudah di larang sebelumnya untuk tidak boleh menggunakan alat elektronik, dan saya menghormati itu.
Ilustrasi jamur fosfor yang ada di kampung Baduy Dalam (Foto: Angus Veitich)
Jamur menyala atau jamur fosfor seperti yang ada di Baduy Dalam ini nampaknya bisa di jumpai juga di Pegunungan Halimun Salak (menurut website halimunsalak.org).

Jamur ini dapat menyala karena adanya enzim latiferiza dan bio fosfor yang akan memberikan nyala putih kebiruan atau kehijauan di malam hari.

Menginap di Baduy Dalam

Kami sholat di dalam rumah Aa' Jali setelah sebelumnya dia keheranan karena baru kali ini ada orang yang sholat di rumahnya. Selesai sholat, saya mengabari teman lainnya yang belum melihat jamur, jadinya kami pergi lagi ke pinggir sungai untuk melihat jamur itu.

Rasanya benar-benar tak terlupakan. Saat memasuki pinggiran sungai, suasana tetiba berubah menjadi fantasi. Kami hening memandangi jamur fosfor itu.

Hanya suara jangkrik dan deru sungai yang terdengar. Kunang-kunang di seberang sungai juga tak mau kalah, mereka menari-nari anggun memendarkan cahaya kuningnya.

Ilustrasi kunang-kunang yang ada di kampung Baduy Dalam (foto: Steve Hoever)
Malam itu kami habiskan hanya dengan mengobrol saja. Sesekali hening karena tidak ada obrolan lagi. Sungguh, tidak banyak yang bisa di lakukan dalam kegelapan tanpa teknologi seperti ini. Apalagi tidak ada kopi sebagai teman begadang.

Entah karena bosan atau kelelahan akhirnya saya terpejam pada pukul sembilan malam. Kami tidur hanya beralaskan tikar, dan itu merupakan alas tidur yang paling nyaman yang pernah saya rasakan.

Saya terbangun oleh decitan lantai bambu yang terinjak oleh sebuah langkah kaki buru-buru. Matahari sudah mengintip masuk melalui celah-celah dinding bambu.

Setengah sadar, saya mencium aroma kopi dan asap kretek teman saya.

"Loh kok ada kopi?" Tanya saya. 

"Lah iya, aku lupa kalau ternyata aku bawa kompor, nesting, dan kopi" jawabnya sambil terkekeh.

"Woo, asyem tenan koe!" gerutu saya.

Saya join kopi dengan teman saya itu yang biasa dipanggil 'Pak Taka' karena badannya yang besar dan mukanya yang boros umur.

Kami menikmati kopi di beranda rumah Aa Jali sambil melihat aktifitas pagi hari warga Baduy.

Setelah semua anggota tim segar bugar, kami melanjutkan aktivitas penelitian kami yakni mengambil data lapangan mengenai geografi fisik seperti suhu, ketinggian, curah hujan, dan sebagainya.

Sebelum pulang, tak lupa kami membeli dulu kerajinan tangan warga Baduy Dalam yang sudah ditawarkan sejak kemarin sore, seperti kain, ikat kepala, badik, madu hutan, gula aren, dan lain sebagainya.

Perjalanan pulang di pandu oleh pemandu yang sama seperti kemarin. Tetapi kali ini saya di pandu oleh dek Arman. Bocah kecil yang rasa ingin tahunya amat besar.


Dek Arman yang sukanya kepo.
"A sudah punya istri?" Tanya Arman dengan penuh rasa ingin tahu.

"Belum lah, masih harus sekolah dulu, baru cari istri" jawab saya.

Dengan muka heran dia berkata "Anak laki seumuran aa kalau di sini sudah punya anak lho".

Perkataannya itu diiringi oleh tawa teman-teman yang menyeringai jahat sambil berkata "dasar jomblo".



 Tulisan ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2013

0 comments: