Tampilkan postingan dengan label Kepulauan Riau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepulauan Riau. Tampilkan semua postingan

Kopi Awaak, Tempat Ngopi Paling Cozy di Batam


Dulu, kali pertama menginjakan kaki di Batam, hal pertama yang saya cari adalah dimana tempat ngopi yang paling asyik di Batam? Yang bisa buat numpang wifi berjam-jam dengan nyaman.

Mencicip Kerja Bongkar Muat di Pelabuhan


Alhamdulilah, setelah mencurahkan isi hati soal betapa susahnya mencari kerja pada tulisan 'Balada Si Pencari Kerja', selang beberapa hari kemudian saya dapat tawaran kerja dari salah satu teman training K3 Umum yang saya ikuti beberapa waktu lalu.

Walau hanya kerja proyekan yang di gaji perhari, tetapi pengalaman yang saya dapatkan dengan terjun langsung ke lapangan itu sangat berharga. Yang penting pengalaman dahulu, soal gaji kemudian.

Nah, sekarang terbukti kan manfaat pentingnya menjalin relasi saat menganggur (baca tulisan 'Jadilah Pengangguran Produktif'). Karena, dalam mencari kerja, tidak cukup hanya bermodalkan Curriculum Vitae dan surat lamaran saja. Relasi mempunyai peranan penting dalam pengembangan karir kita. 
...

Singkat cerita saya bekerja lah sebagai asisten safety officer di salah satu perusahaan persewaan kapal dan bongkar muat kargo. 

Ini adalah kali pertama saya bekerja di pelabuhan bongkar muat dengan pengetahuan yang masih 'nol'. Untung safety officernya baik hati dan mau mengajari saya. Alhasil saya jadi mulai terbiasa dengan istilah-istilah yang ada di dunia bongkar muat. 

Pekerja di perusahaan bongkar muat ini terbagi menjadi dua. Pertama adalah pekerja dari perusahaan bongkar muat (PBM) yang bertindak sebagai 'event organizer'-nya. Kedua adalah pekerja lapangannya yang berasal dari koperasi TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Muat) Pelabuhan Batu Ampar, Batam.

Safety Induction Pelabuhan Batu Ampar
Safety induction oleh pak Wawan sebelum pekerjaan dimulai







Jam 8 pagi, pekerja sudah mulai berkumpul. Rata-rata pekerjanya berbadan kekar. Walaupun ada yang tidak kekar, setidaknya badan mereka kencang, bukti bahwa mereka bekerja menggunakan fisik. 

Yang menarik perhatian, sekitar 30% dari para pekerja bongkar muat ini adalah kakek-kakek, dengan rambut dan jenggotnya yang sudah memutih. Sisanya ya antara umur 25-40an.

"Memang mereka masih kuat kerja begini pak?" tanya saya kepada pak Wawan, safety officer. "Eh jangan salah, mereka itu walaupun sudah tua tapi tenanganya masih luar biasa beng." jawab pak Wawan.

Banyaknya pekerja usia lanjut ini tak lepas dari kurangnya regenerasi pekerja.

Buruh bongkar muat merupakan tipe pekerjaan kasar dan berat serta tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan yang tinggi. Sedangkan anak muda jaman sekarang sepertinya lebih memilih pekerjaan kantoran yang nyaman dan tidak panas.

Pembagian Kerja

Perusahaan Bongkar Muat Pelabuhan Batu Ampar
Rigger menyeimbangkan muatan agar posisinya sejajar dengan bak truk di bawahnya

Para pekerja bongkar muat ini terbagi menjadi beberapa posisi kerja yakni rigger (juru ikat), crane operator, mandor, foreman, safety officer, counter, dan agensi.

Crane operator tugasnya menjalankan mesin crane dan mengangkut kargo dari kapal ke darat atau sebaliknya. 

Rigger atau juru ikat tugasnya mengikat atau memastikan barang/kargo terikat dengan baik pada kaitan crane sehingga bisa dilakukan pengangkatan dengan aman

Mandor, tugasnya mengawasi kerjaan rigger dan crane operator yang berada di bawah pengawasannya.

Foreman, adalah pemimpin para pekerja bongkar muat ini, dialah kunci dari proses bongkar muat ini.

Safety Officer tugasnya membuat desain kerja agar pekerjaan yang dilakukan crane dan rigger aman dari kecelakaan. Kalau dilapangan tugas safety hanya melakukan pengawasan saja.

Counter, tugasnya menghitung barang atau kargo yang masuk.

Agensi, bekerja jika kapal yang di bongkar adalah kapal asing. Mereka bekerja mengurus ijin dan dokumen keimigrasian serta bea cukai.

Loading kargo pelabuhan batu ampar
Bekerja 24 jam dari pagi sampai malam

Proses kerja bongkar muat kargo ini berlangsung 24 jam loh, terbagi menjadi shift siang dan shift malam.

Jenis kargo banyak macamnya, ada kontainer, ada pipa, ada lembaran-lembaran besi, dll.

Proses kerjanya ya hanya berkisar soal mengikat kargo untuk dikaitkan ke crane, lalu crane mengangkat kargo untuk diturunkan ke darat dimana truk-truk besar sudah mengantri.

Berasa Keluarga

Pelabuhan Kargo Batu Ampar
Pelabuhan Batu Ampar, berseberangan langsung dengan Singapura. Dari sini kita bisa melihat gedung-gedung dari negeri tetangga


Walaupun terlihat simple, pekerjaan kuli bongkar muat ini membutuhkan tenaga yang besar karena tali yang digunakan bukan tali biasa, melainkan tali besar dengan berat berkilo-kilo. Belum lagi kondisi pelabuhan bongkar muat itu kalau siang hari panasnya bukan main. 

Suasana kekeluargaan begitu terasa ketika waktu istirahat tiba. Wajah-wajah ramah dan sumringah terlihat jelas dari raut wajah mereka. Mereka terlihat puas dengan pekerjaannya. 

"Bapak yang pakai wearpack (baju kerja) biru itu biasa kita panggil 'abah' mas, dia sudah kami anggap orang tua sendiri" kata Imam, salah satu pekerja TKBM yang usut punya usut ternyata kami berdua berasal dari daerah yang sama, yaitu Purbalingga. 

Suasana akrab dan serba kekeluargaan ini mungkin dipicu oleh kesamaan latar belakangnya, yakni sama-sama perantau. Jauh dari keluarga memaksa para perantau membuat keluarga baru di daerah rantauannya sehingga tidak heran pekerja-pekerja ini sangat ramah. 

Ada semacam rasa senasib sepenanggungan di pelabuhan ini.

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk cepat akrab dengan mereka. Sama-sama buruh harian, sama-sama perantau, sama-sama cari rezeki halal.

"Uang sikit tak pe, yang penting kite punye kerja halal, barokah. Uang banyak tapi haram, tapi riba, buat ape je?" itulah 'nasehat harian' dari abah dengan logat melayunya yang kental saat kami sedang istirahat.

Yah, mulai saat ini saya akan banyak-banyak bersyukur mengikuti nasehat dari abah. Tak apa sedikit, yang penting halal dan hasil keringat sendiri.

Tiga hari berlalu dan proyek bongkar muat kapal Gertrudis ini pun berakhir.  Saya kembali menganggur, namun rasanya puas sekali. 

Makasih abah, makasih teman-teman TKBM. Besok kalau ada bongkaran lagi saya ikut yaa, hehe.

...

Baca Juga:

Luti Gendang, Makanan Khas Anambas Yang Rasanya Nendang!

Makan luti gendang sambil ditemani kopi hitam

Luti Gendang, selain masyarakat Kepulauan Riau, sepertinya tak banyak yang tahu keberadaan makanan teman ngopi paling nikmat ini. Saya sendiri baru tahu ketika kemarin malam teman saya membawa Luti Gendang saat nongkrong di warung kopi.


Bentuknya bulat lonjong, warnanya coklat, dan ketika digigit, "kresss", renyahnya kulit luti gendang berpadu nikmat dengan lembutnya roti di dalam yang berisi abon ayam atau ikan tongkol. 

Luti gendang makanan khas anambas dengan isian abon ayam
Abon ayamnya enak, apalagi ditambah dengan seruputan kopi hitam, beuh!

Abon ayam dan ikan tongkol adalah isian Luti Gendang yang asli, alias original. Sekarang sudah banyak isian lainnya yang lebih modern seperti Luti Gendang isi keju, coklat, green tea, dll.

Kalau teman-teman ada yang berlibur ke Provinsi Kepulauan Riau, terutama Pulau Batam, bolehlah kalian membawa Luti Gendang khas Anambas ini sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di rumah. Harga satu bijinya murah kok, hanya Rp. 3500 saja.

Asal Usul Luti Gendang - asli Kepulauan Anambas, bukan Batam

Foto kota kecamatan tarempa kabupaten kepulauan anambas
Kecamatan Tarempa, Pusat Kepulauan Anambas

Jadi, beberapa waktu lalu salah satu toko oleh-oleh di Batam mengklaim bahwa Luti Gendang ini adalah oleh-oleh makanan khas Batam. Sontak saja, Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Kepulauan Anambas memprotesnya, karena Luti Gendang itu merupakan makanan asli Kepulauan Anambas.

Batam sendiri sebenarnya tidak punya makanan khas apapun karena Batam adalah kota dengan kebudayaan es cendol, alias campur aduk. Masing-masing suku budaya yang ada di Batam membawa makanan khas dari daerahnya sendiri-sendiri, termasuk pendatang dari Anambas.

'Luti' diambil dari cara khas lidah orang Tionghoa setempat dalam menyebut kata 'roti'. Sedangkan, kata “gendang” digunakan karena bentuknya lonjong seperti alat musik tabuh gendang. Sehingga jadilah Luti Gendang.

Luti Gendang merupakan makanan yang biasa di santap masyarakat Anambas di pagi hari sebagai teman ngopi atau ngeteh. Tidak hanya di Tarempa (pusat Kepulauan Anambas), luti gendang ini juga sudah tersebar diseluruh desa di Anambas.

Luti Gendang sudah menjadi budaya masyarakat Anambas, jadi sangat di sayangkan jika makanan khas Anambas ini di akui oleh daerah lain.

bawah resort anambas yang sungguh cantik dilihat dari atas
Pulau Bawah, salah satu resort paling laris di Kepulauan Anambas.

Kabupaten Kepulauan Anambas sendiri berada di Laut Natuna Utara dan memiliki perbatasan dengan sejumlah negara. Sebagai kabupaten terluar, kabupaten yang terdiri dari 260 pulau ini mempunyai pesona tak kalah dengan Raja Ampat yang telah dikenal seantero dunia.

Untuk mencapai salah satu pulau terluar di Provinsi Kepulauan Riau ini kalian bisa menggunakan kapal ataupun pesawat dari Batam.

...

Saya sendiri belum berkesempatan untuk mengunjungi Kepulauan Anambas, padahal pulau ini pemandangannya sangat cantik. Ingin rasanya menikmati Luti Gendang di tempat asalnya sambil menikmati indahnya pantai yang ada di Anambas.

Semoga suatu saat saya bisa mengunjungi anambas, amiin.

Pembaca, Tolong di amin-kan juga dooong, hahaha

Sejarah Pulau Belakang Padang, Dari Bajak Laut Malaka Sampai Jadi Penawar Rindu



Pada kunjungan saya ke Pulau Belakang Padang beberapa waktu lalu (bisa dibaca disini), saya sangat penasaran dengan sejarah pulau kecil ini. Kenapa kok dinamakan Belakang Padang? apakah ada hubungannya dengan Suku Minang dan Kota Padang? dan kenapa juga ada julukan 'Pulau Penawar Rindu'?

Tidak banyak literatur sejarah yang menyinggung secara langsung mengenai asal-usul pulau Belakang Padang, sebuah pulau kecil di utara Pulau Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura. Sumber sejarah kebanyakan berasal dari cerita turun temurun dan mitos masyarakat setempat.

Penduduk pulau Belakang Padang ini sangat heterogen. Sebagian besar merupakan pendatang dari berbagai daerah di Indonesia yang didominasi oleh Suku Melayu, Jawa, dan Tionghoa yang tersebar pada lima kelurahan. Kelurahan tersebut adalah Kelurahan Sekanak Raya, Kelurahan Tanjung Sari, Kelurahan Pulau Terong, Kelurahan Pemping, Kelurahan Kasu, dan Kelurahan Pecong.

Belakang Padang Dulu Merupakan Pusatnya Pulau Batam

Peta Selat Malaka yang dibuat oleh Valentijn François pada tahun 1726.(arsip dari website Library of Congress, USA)

Untuk mengetahui sejarah pulau Belakang Padang, ada baiknya juga harus mengetahui sejarah Pulau Batam terlebih dahulu.

Pulau Batam dulunya bernama 'Pulau Batang', merupakan pulau kecil yang hanya dihuni oleh nelayan pada bagian pesisirnya. Nelayan-nelayan ini merupakan orang melayu yang pada masa itu lebih dikenal dengan sebutan 'Orang Selat' atau orang laut.

Orang selat ini selain berada di Pulau Batam juga tersebar di beberapa pulau lain seperti Pulau Bulan, Pulau Bintan, sampai ke pulau-pulau kecil disekitarnya. Diperkirakan merekalah suku asli Batam yang ber ras melayu. Orang selat ini menghuni pulau-pulau di Selat Malaka, termasuk Batam pertama kali pada 231 M.
Baca juga: Kondangan Nyambi Mantai di Pulau Bintan
Perlu dicatat bahwa secara historis Kecamatan Belakang Padang merupakan Ibu Kota Kecamatan Batam ketika masih berada dibawah Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Riau (Asisten Wedana).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 1983 tanggal 24 Desember 1983 Wilayah Kecamatan terpecah menjadi tiga bagian Kecamatan yaitu : Kecamatan Batam Barat, Kecamatan Batam Timur dan Kecamatan Belakang Padang sendiri.

Hal ini menunjukan bahwa sebelum tahun 1983, Kecamatan Belakang Padang merupakan pusat dari Pulau Batam. Selain itu letak kota-kota lama di Batam juga terpusat di daerah sebelah utara Pulau Batam. Sehingga, besar kemungkinan jika kita menyebut 'orang selat' dalam konteks sejarah maka hal itu merujuk pada orang-orang yang menempati pulau-pulau kecil di utara Batam seperti Pulau Belakang Padang.

Belakang Padang, Pulaunya Bajak Laut
Artikel tentang bajak laut Belakang Padang di Harian Kompas, rabu 4 november 1992 (Sumber foto: Robert Adhi Ksp) 

Dua Puluh lima tahun yang lalu, nama Bajak Laut Belakang Padang menjadi ancaman yang menakutkan bagi kapal-kapal yang melintas di selat Philip dan selat Singapura setiap harinya.

Sepanjang tahun 1991 berbagai kasus perompakan yang terjadi di wilayah perairan Polda Riau, tercatat 185 kali. Kemudian pada tahun 1992 sampai bulan Mei tercatat 63 kasus.

Berbagai media massa asing memuat berita-berita tentang kasus perompakan ini, dan hal ini tentu saja membuat citra buruk bagi Singapura dan Indonesia.

Lokasi Belakang Padang yang berada di dekat selat Singapura, selat Philip dan selat Malaka, besar kemungkinan juga pernah menjadi sarang bajak laut sejak jaman dahulu.

Menurut catatan sejarah , sejak dulu selat Malaka telah menjadi jalur perdagangan yang ramai. Ramainya selat ini sebagai jalur perdagangan membuatnya menjadi rawan akan perompakan karena kebanyakan kapal yang berlayar melewati selat Malaka membawa barang dagang yang nilainya tidak sedikit.

Menurut catatan sejarah dari China pada abad ke 14, seorang pengelana yang bernama Wang Dayuan dalam bukunya Daoyi Zhilue mendeskrpisikan keberadaan bajak laut dari Long Ya Men (Tumasek / Singapura) dan Lambri (Daerah di bagian Sumatera Utara) menyerang kapal dagang China dengan armadanya yang mencapai tiga ratus buah kapal kecil. 

Lukisan yang juga di buat oleh Valentijn François menggambarkan kondisi perairan di Selat Malaka pada abad 18.

Puncak dari pembajakan kapal adalah pada abad ke 18 sampai 19 seperti yang ditulis pada buku The Scents of Eden: A Narrative of The Spice Trade. Pada abad itu rempah-rempah menjadi komoditas yang paling mahal selain minyak paus. Selat Malaka menjadi jalur rempah yang sangat ramai dan membuatnya rawan perompakan.

Belanda yang menguasai Indonesia dan Inggris yang waktu itu menguasai Melayu dan Singapura membuat kesepakatan untuk memberantas bajak laut pada masing-masing daerah jajahannya. Hal ini menjadi pencetus dibuatnya perbatasan Malaysia dan Indonesia yang berlaku hingga saat ini.

Dengan melihat lokasi Pulau Belakang Padang yang berada tepat di depan Selat Singapura dan di ujung selatan Selat Malaka. Besar kemungkinan Pulau ini dulu pernah menjadi tempat persembunyian bajak laut dikarenakan lokasinya yang strategis berupa pulau-pulau kecil yang memudahkan perompak untuk lepas-tanam jangkar kapal mereka.

Asal-Usul Nama Belakang Padang

Sebuah kapal jung China yang tengah berlayar di perairan pulau Sambu pada jaman kolonial (foto koleksi tropenmuseum).

Ternyata Belakang Padang ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kota Padang maupun suku Minang yang ada di Sumatera Barat. Menurut penuturan warga setempat yang diceritakan secara turun temurun, asal nama Belakang Padang bisa ditelusur dari zaman penjajahan Belanda.

Pada tahun 1897 Belanda mendirikan pangkalan minyak di Pulau Sambu, pulau yang terletak persis di sebelah timur pulau Belakang Padang. Pulau Sambu sebagai penghasil minyak bumi membuatnya menjadi pulau penting bagi Belanda.

Pangkalan minyak bumi ini menjadi magnet bagi banyak orang untuk berdatangan mengais rezeki di pulau Sambu, sehingga lama-lama pulau Sambu menjadi sebuah kota kecil yang ramai (sekarang pulau Sambu menjadi salah satu kota tua di Batam).

Saat itu Belanda memerintahkan pekerja, yang mayoritas warga pribumi untuk membuka lahan baru di sebuah pulau yang terletak di belakangnya pulau Sambu. Belanda ingin membuka dan meratakan lahan di pulau tersebut untuk dibuat sebuah padang atau lapangan luas. Kemungkinan untuk dijadikan pemukiman.

Maka berangkatlah para pekerja tersebut menyeberangi pulau di belakang pulau Sambu itu dan meratakan lahan disana untuk dibuat menjadi sebuah padang sehingga kini pulau tersebut diberi nama pulau Belakang Padang (atau padang lapangan di belakang pulau Sambu).

Pulau tersebut lama kelamaan banyak dimukimi oleh pekerja-pekerja yang ada di pangkalan minyak pulau Sambu. Pekerja dari Sambu inilah yang menjadi cikal bakal nenek moyang warga Pulau Belakang Padang.

Ada pula versi lain yang mengungkapkan bahwa dahulu kala, ada seorang Bugis bernama Daeng Demak. Beliau berlayar dan menemukan sebuah pulau tak berpenghuni. Pulau tersebut terdiri dari dataran yang datar dan luas (padang). Karena banyaknya tanah yang kosong di balik pepohonan yang rimbun, maka dinamakanlah pulau tersebut pulau Belakang Padang.

Kenapa Diberi Nama Pulau Penawar Rindu?

Ucapan selamat datang di Belakang Padang, Pulau Penawar Rindu. 

Masih menurut penuturan turun temurun dari warga lokal, konon katanya, nama 'penawar rindu' muncul dari kalangan para pendekar pantun yang sering datang dan pergi ke Belakang Padang.

Kita tahu bahwa pantun adalah salah satu seni favorit warga melayu. Apapun akan dijadikan pantun. Bisa dikatakan, bagi orang melayu, tiada hari tanpa berpantun.

Belakang Padang sebagai pulau yang berada di tengah-tengah Batam dan Temasek (Singapur) sering menjadi tempat persinggahan para pelaut. Para pendekar pantun membuat ungkapan 'penawar rindu'‎ ditujukan kepada orang yang pernah mengunjungi Belakang Padang dan kemudian kembali lagi kesana untuk mengobati rindunya akan teman, keluarga, ataupun gadis yang dicintainya.

Ungkapan yang terkenal dari pendekar pantun kala itu adalah, ”kalau engkau dah kene air Belakangpadang, engkau pasti nak datang lagi. Sebab pulau ini pulau penawar rindu".

Kisah Batu Berantai di Pulau Belakang Padang

Ada sebuah kisah dari negeri Temasek (Singapura) yang sedikit menyinggung pulau Belakang Padang ini.

Batu Berantai atau Batu Rantai adalah gugusan karang yang berada di perairan antara Pulau Belakang Padang dan Pulau Sambu yang juga berada di perbatasan dengan negeri jiran Singapura.

Kisah ini mengenai seorang anak kecil cerdas yang dapat menolong kerajaan Tumasik (Singapura) dan rakyatnya dari serangan ratusan ribu ikan Todak (swordfish) namun kebaikannya dibalas oleh sang Raja dengan mengikat dirinya dengan rantai besi, serta menenggelamkannya di sebuah pulau karang kecil yang letaknya tidak jauh dari Pulau Penawar Rindu, karena ada ketakutan dari sang Raja apabila anak tersebut akan merebut tahtanya.

Begitulah sekiranya sejarah pulau Belakang Padang yang bisa saya jabarkan sehingga jika teman-teman pembaca hendak berkunjung ke Belakang Padang setidaknya sedikit banyak sudah mengetahui asal-usul pulau Belakang Padang.
...

Sumber:
www.tropenmuseum.nl (Chinese Junk at Sambu Island)
www.loc.gov (Nieuwe kaart van het Eyland Sumatra)
arsipskpd.batam.go.id (Profil Kecamatan Belakang Padang)
www.idntimes.com (Pulau Penawar Rindu: Ragam Kisah dan Mitos “Rindu” yang Terobati)
disbud.kepriprov.go.id (Sejarah Batam)
asyiknyajadiwartawan.blogspot.com / Robert Adhi Ksp (Meliput Perompakan di Perairan Batam-Singapura)
www.batamxinwen.com (Imlek, Menir Belanda, dan Asal-Usul Pulau Belakang Padang)


Menikmati Birunya Air Laut Pantai Mirota Batam


Lanjutan dari Menghabiskan Malam Tahun Baru di Pantai Mirota

Sekitar jam tiga pagi saya tertidur beralaskan tikar di atas pasir Pantai Mirota. Baru saja tidur beberapa jam saya terbangun karena kaki saya berasa menyentuh air, eh ternyata air laut sudah naik ke pantai.

Matahari sudah menerangi Pantai Mirota dan memberi warna pada air laut yang tadinya hitam sekarang berubah jadi biru cerah. Mungkin tadi laut membangunkan saya untuk mengajak saya bersenang-senang dengannya.

Bersantai pakai hammock emang paling pas dilakukan di pantai. 

Mata masih mengantuk, sambil terhuyung-huyung saya menuju ke dapur camp, wah ternyata sudah ada yang berbaik hati membuatkan kopi satu ceret penuh. Sungguh nikmat mana lagi yang kau dustakan, minum kopi di pagi hari sambil memandang birunya air laut. beuh!
Baca juga: Pantai Paling Ujung di Deretan Pulau Batam Barelang
Pandangan saya teralihkan dengan laju kapal motor kecil yang perlahan-lahan mendekati bibir pantai dan tidak lama kemudian berlabuh. Pengemudi kapal yang seorang bapak-bapak paruh baya menghampiri kami.

"Mau naik kapal keliling laut dek? murah saja, murah" kata dia menawarkan jasanya kepada kami yang nyawanya masih setengah ini.

"Berapa pak?" seloroh salah satu teman saya.

"Seratus ribu dek, satu kapal, boleh isi sepuluh orang" jawabnya.

"kurang-kurangi lah pak, tak ada duit kita ini, tujuh puluh dapat lah" tawar temanku, ahli sekali dia kalau soal tawar menawar.

"oke lah, ayo naik. Sepuluh orang maksimal ya dek" jawab bapak itu dengan muka tersenyum lebar. Penglaris awal tahun.

Selesai membawa kami, bapak kapal tadi langsung dapat penumpang lagi. Semoga selalu laris pak. 

Kami bersepuluh naik kapal menyusuri bibir Pantai Mirota sampai ke pantai-pantai sebelahnya. Jarak antar kapal dengan permukaan air laut cukup dekat sehingga saya agak khawatir kalau-kalau kapal ini overload.

Sepanjang perjalanan, hijaunya buit-bukit di sebelah kiri kapal berpadu apik dengan birunya air laut hari ini yang membuat laut tampak berwarna cyan, yaitu warna biru kehijauan yang mampu menyegarkan mata siapa saja yang memandangnya.

Camping menghadap birunya air laut dan perbukitan hijau di Pantai Mirota 

Kami mengelilingi laut sekitar dua puluh menit saja. Sebenarnya agak kurang puas sih. Ingin rasanya berlama-lama di atas laut dan berlagak layaknya seorang pelaut tangguh.

Setelah kapal berlabuh, kami langsung melompat kelaut dan berenang-renang cantik. Laut di Pantai Mirota aman untuk berenang karena lautnya cukup dangkal sampai sekitar 50 meter dari bibir pantai dengan ombak yang tenang, tidak terlalu besar. Bapak-ibu, kakak-adek, dewasa-anak bisa berenang di kolam renang alami yang luas ini.
Baca juga: Pantai Nongsa Akan Lebih Indah Jika Tanpa Sampah
Pantai Mirota terlihat sempit karena di pagi hari air lautnya naik. Kalau sedang surut bisa buat main futsal. 

Pagi itu kami habiskan waktu sampai tengah hari bermain-main di Pantai Mirota, ada yang berenang, memancing, susur pantai, bermalas-malasan, dan aktivitas mengasyikan lainnya.

Jadi kalau pembaca berkunjung ke Batam, sempatkanlah sejenak mengunjungi Pantai Mirota ini karena pantai ini berada dekat dengan kawasan wisata favorit Batam lainnya seperti Camp Pengungsian Vietnam, Pantai Cakang, Jembatan Barelang, dll.

Tonton juga videonya di youtube, biar makin tahu gimana indahnya Pantai Mirota, Batam

Malam Tahun Baruan di Pantai Mirota, Batam

 
Batam mungkin belum jadi destinasi wisata favorit di Indonesia karena lebih terkenal sebagai kota industri, bukan kota wisata. Tapi sebenarnya untuk pecinta wisata pantai, Batam punya banyak sekali pilihan pantai yang indah, salah satunya adalah Pantai Mirota.

Selayang Pandang di Belakang Padang, Mencoba Teh Tarik Ter-Enak Sampai Keliling Pulau Naik Becak


Di sebelah utara Pulau Batam, berbatasan langsung dengan Singapura terdapat sebuah pulau kecil yang terkenal dengan teh tarik yang katanya paling enak di seluruh Kota Batam. Nama pulau ini adalah Pulau Belakang Padang.

Eits, walaupun namanya Belakang Padang, tapi nggak ada hubungannya dengan Kota Padang di Sumatera Barat yah.

Mengintip Singapura Dari Pantai Tanjung Pinggir, Batam


Kapal-kapal tanker tampak terapung tak bergerak, disebelahnya, sebuah kapal ferry melaju kencang menerabas angin, memecah ombak. Sementara dibelakangnya, siluet gedung-gedung pencakar langit tampak menjadi pembatas horizon sebuah laut yang sedang saya pandangi, sambil sesekali menyipitkan mata karena angin yang berhembus membawa serpihan-serpihan kecil pasir pantai membuat mata saya kelilipan.

Bayang-bayang gedung bertingkat dari seberang tampak mengintimidasi pulau kecil ini, walaupun sebenarnya gedung diseberang sana juga berdiri diatas pulau yang sama kecilnya.

Namun jika posisinya saya balik, mungkin pemandangan yang terlihat dari seberang bukanlah siluet gedung bertingkat, melainkan gundukan hitam tak berbentuk. Sebuah perbedaan signifikan yang hanya dipisahkan oleh jarak sekian puluh kilometer. 

Siluet Singapura dari Pantai Tanjung Pinggir
Begitulah kiranya yang saya rasakan ketika melihat Kota Singapura dari Pantai Tanjung Pinggir, Sekupang, Batam. Selain menawarkan pasir cokelat dan ombak yang tenang, Pantai Tanjung Pinggir juga menawarkan atraksi melihat siluet kota Singapura. 


Pantai ini cukup bagus, garis pantainya lumayan panjang dengan pasir yang berwarna putih kecoklatan. Pasirnya tampak halus, dan memang halus saat saya tapaki dengan kaki telanjang. Cukup bersih, hanya ada sedikit sampah plastik yang terlihat, mungkin dibuang sembarangan oleh 'monyet-monyet' nakal yang berkunjung kesini.


Dibelakang garis pantai banyak tumbuh pohon-pohon rindang yang bisa digunakan sebagai peneduh saat matahari terlalu menyengat panasnya. 


Saya menyusuri garis pantai dari timur ke barat. Pasir cokelat yang halus perlahan berganti menjadi batu karang cokelat yang kasar dan tajam. kaki telanjang saya sekarang tidak telanjang lagi, takut kesuciannya terenggut oleh karang-karang yang tampak horny.


Menyusuri jalanan berkarang ini mengantarkan saya pada sebuah hutan mangrove yang dipisahkan oleh selat kecil, mustahil untuk menyeberanginya maka saya balik lagi ke pantai.


Warung dibawah sebuah pohon besar yang teduh mendadak menjadi tempat favorit saya di pantai ini. Air es kelapa muda membasahi kerongkongan saya yang sedari tadi kehausan karena lupa tidak membawa air minum.


Tidak banyak pengunjung sore ini, hanya ada beberapa keluarga dan pasangan muda-mudi yang tampak mewarnai background cokelat Pantai Tanjung Pinggir.


Oya, Pantai Tanjung Pinggir juga aman untuk mandi-mandi manja karena ombaknya kecil dan laut pantainya dangkal, tapi jangan berenang terlalu jauh.


Overall, Pantai Tanjung Pinggir worthed untuk dikunjungi jika kamu berlibur ke Batam, terutama bila arrived dari Pelabuhan Sekupang.


Jarak dari Pelabuhan Sekupang ke Pantai Tanjung Pinggir hanya sekitar 5 km. Disekitar pantai juga terdapat beberapa resort yang siap memanjakan liburan anda di Batam. Selamat berlibur!



Pohon horizontal ini menjadi spot foto paling hits di Pantai Tanjung Pinggir, Batam.

Hutan mangrove yang tengah terendam air pasang.

Piknik beneran nih, gelar tiker, bawa makanan sendiri dan menikmati indahnya Pantai Tanjung Pinggir bersama keluarga tercinta.

Menyusuri Panjangnya Pantai Trikora di Pulau Bintan


Pantai Trikora terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Provinsi Riau Kepulauan. Berjarak 45 km dari Tanjung Pinang, atau 70 km dari Tanjung Uban.


Nama 'Trikora' pada pantai ini katanya berasal dari Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) pada tahun 1961 dulu dalam rangka penggabungan Irian Barat ke NKRI.


Pada saat itu pantai ini digunakan sebagai salah satu pangkalan terluar untuk menghadapi serangan pasukan Belanda.

Tambak ikan laut di lepas pantai Trikora, Bintan.
Saya sampai di Pantai Trikora sekitar jam satu siang. Cuaca hari itu mendung, tapi hujan tak kunjung turun. Perjalanan saya dari Pantai Lagoi ke Pantai Trikora menggunakan sepeda motor membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam.

Orang aneh

Dalam perjalanan menuju pantai, saat saya sedang mengisi bensin eceran di satu-satunya warung yang ada di pinggir jalan, saya didatangi oleh seorang anak muda yang mukanya sudah terlihat tua (jahat banget ya saya), dengan rambut ala-ala Mike Jagger. Bagian depan pendek, belakangnya panjang.


Tiba-tiba dia bertanya "Bang, abang mau kemana?".

"Mau ke Trikora bro, kenapa ya?" jawab saya dengan agak heran dan sedikit was-was karena dia berpenampilan aneh.


Dia mengenakan kemeja yang sudah kotor berpadu dengan celana panjang jeans coklat yang juga sama kotornya. Bagian kaki kiri celananya di gulung sampai ke lutut, sementara satunya tidak.

"Boleh ikut bang? saya numpang sampai ke Trikora", pintanya.


Dengan perasaan was-was campur kasihan saya pun mengiyakan, kebetulan saya juga asing dengan daerah sini. Dengan adanya orang lokal yang menumpang ini bisa sekalian jadi pemandu saya.


Baca juga: kondangan di Pulau Bintan

Adi, warga lokal yang jadi guide dadakan.
Jangan lihat orang dari penampilannya. Barangkali nasehat itu yang harus kukatakan pada diri sendiri.

Namanya Adi. Penampilan lusuhnya yang tadi sempat membuat saya was-was akhirnya hilang setelah saya banyak bercakap dengannya sepanjang perjalanan. Orangnya ramah dan sangat talkative.

Ternyata si Adi kesehariannya menggarap kebun miliknya sendiri yang diwarisi oleh orangtuanya. Dia memang suka hitch hiking karena tidak ada transportasi umum menuju Pantai Trikora. Kalaupun ada, itu sangat langka. Jadi saya sarankan jika pembaca ingin menjelajahi Pulau Bintan, sewalah kendaraan sendiri.

Rumah si Adi, sederhana namun terlihat nyaman.
Panjangnya Pantai Trikora

Sesampainya di daerah pantai saya sempat bingung mencari mana yang namanya Pantai Trikora, karena pantai ini sungguh sangat panjang.

Kumpulan semak dan mangrove seakan menjadi pembatas alami pantai yang panjang ini.

Ternyata yang namanya Pantai Trikora ya sederetan pantai ini. Semua bernama Pantai Trikora hanya dibedakan jadi Pantai Trikora 1, Pantai Trikora 2, dan seterusnya.

Menurut wikipedia dan juga google maps, panjang Pantai Trikora mencapai 25 km.



Garis pantai yang sangat panjang ini semuanya berpasir putih.


Saat saya kesitu air laut sedang surut sehingga karang-karang yang tajam terlihat menghiasi bibir pantanya.

Laut biru yang tampak indah saat saya browsing gambar 'Pantai Trikora' di google tidak tampak. Malah, air laut seakan-akan tidak berwarna karena cuaca saat itu mendung.

Pantai utamanya, yang entah Pantai Trikora nomer berapa berada di ujung, ditandai oleh tumpukan batuan besar seperti yang biasa kita lihat di pantai-pantai Belitung.



Untuk sampai ke ujung Pantai Trikora yang pemandangannya paling bagus, saya membutuhkan waktu sekitar 20 menit menaiki motor. Bisa dibayangkan kan betapa panjang pantai Trikora ini. 


Saya berkunjung ke Pantai Trikora pada week days jadi tidak banyak pengunjung lain yang saya lihat.


Pantai yang panjang ini terasa sangat sunyi. Warung-warung dengan gubuk gazebonya yang kosong berderet di sepanjang pantai.

Saya mampir ke salah satu warung dan memesan dua cangkir kopi hitam, satu untuk saya, satunya lagi untuk si Adi yang sudah bersedia mejadi guide dadakan saya.



Berkunjunglah di akhir pekan


Sungguh berbeda dengan pantainya orang kaya, Pantai Lagoi. Pantai rakyat yang seharusnya indah ini ternodai oleh banyaknya sampah yang bertebaran di sepanjang pasir putihnya.

Pasir yang putih pun seakan tampak berwarna-warni, oleh sampah.

Fasilitas pengunjung? selain warung dan kamar mandi saya tidak menemukan wahana hiburan lain seperti paralayang, speedboating, dan lainnya seperti yang pernah saya baca di internet.

Hal itu mungkin dikarenakan kunjungan saya bukan pada hari libur atau weekend jadi penyedia wahana wisatanya enggan menampakkan diri karena pengunjungnya memang sedikit.



Saya berjalan menyusuri deretan warung menuju ujung pantai yang terdapat banyak batu-batu berukuran besar. Mungkin ini spot yang paling bagus di Pantai Trikora.


Tumpukan batuan granit yang ukurannya besar-besar ini memang banyak terdapat di pantai-pantai Kepulauan Riau.

Saran saya, jika ingin mengunjungi pantai-pantai di Pulau Bintan, kunjungilah pada saat musim kemarau dimana airnya akan tampak berwarna biru dan jernih sehingga keindahan pantainya akan lebih berasa.


Juga, kunjungilah saat peak season karena wahana dan fasilitas wisata akan lebih banyak dan beragam.



Lagoi Bay, Pantai Khusus Orang Kaya Yang Bisa Dinikmati Semua Kalangan


...(Lanjutan Seperti Inilah Acara Nikahan di Pulau Bintan, Pengalaman Kondangan Paling Jauh)

Akhirnya pagi tiba juga! Punggungku rasanya pegal-pegal tak karuan akibat kasur jahat di penginapan ini. Sambil melenguh kesal, kuambil handuk di dalam ransel dan melenggang lemas menuju kamar mandi. Setelah menuntaskan semua urusan kamar mandi, saya langsung berkemas dan buru-buru meninggalkan penginapan wadefak ini. 

Jam tangan merk "Sekoi" di pergelangan tangan sudah menunjukan pukul delapan lebih sepuluh menit. Ternyata saya ditiduri cukup lama oleh kasur jahat itu.

Saya kembali mampir ke warung makannya mas-mas dari Jawa. "Mas, aku pesen nasi goreng seafood sama kopi item satu yah", pintaku kepada si mas Jawa tersebut. Alhamdulilah Harga disini standar, tidak nutuk seperti kejadian yang sempat menghebohkan jagat internet beberapa waktu lalu, dimana beberapa wisatawan ketiban apes karena harga makanan yang dipesannya diluar kewajaran.

Beberapa bulan lalu netizen sempat heboh, karena ada sebuah postingan di facebook yang mengatakan bahwa beberapa orang mengaku telah di dzolimi oleh warung makan di tempat-tempat wisata seperti di Malioboro Jogja, Anyer dan bahkan di Pulau Bintan! Kasus yang ada di pulau Bintan kejadiaannya adalah saat keluarga korban sedang berlibur di sebuah resort. 

Di area resort itu ada sebuah restoran bintang lima . Karena penasaran dengan masakannya, mereka mampir kedalam restoran tersebut dan memesan tujuh porsi nasi goreng, satu porsi mie goreng dan tujuh gelas es teh. Tak disangka tak dinyana, bagaikan tersambar jambulnya Syahrini, si bapak ini langsung lemas setelah kasir menyerahkan receipt yang berisi total jumlah yang harus dibayar sebesar Rp. 3.629.000. Harga yang tak masuk akal walaupun sekelas restoran bintang lima.

Sungguh harga yang tidak senonoh. (sumber: facebook.com/chandraireng )
Untuk menghindari hal-hal seperti ini saya ada tips nih buat teman-teman yang suka jajan saat traveling. Usahakan jika mau kulineran di sebuah tempat wisata, tanyakan dulu harganya, kalau bisa ditawar saja. Setelah deal, segera bayar di muka dan tunggu pesanannya jadi. Setelah pesanan sudah jadi, baru lah kita bisa menyantap makanannya dengan nikmat tanpa harus merasa was-was, takut harganya di markup. Kenapa perlu bayar di muka? Karena ada kejadian walaupun kita tahu harganya, tapi, saat kita mau bayar, si penjual menaikkan harganya seenak dengkulnya  sensiri dengan beragam alasan.

Otewe Lagoi
Setelah menghabiskan dan membayar nasi goreng seafood  seharga Rp. 14.000, dan secangkir kopi seharga Rp. 5000. Saya segera mencari tempat persewaan motor karena jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi dan matahari sudah semakin menyengat. 

Saya tanyakan kepada mas warung dimana saya bisa menyewa motor. Mas warung dengan cekatan langsung berteriak memanggil salah satu tukang ojek yang bersedia menyewakan motornya. 

Pertama, si tukang ojek menawarkan harga Rp. 150.000 untuk 12 jam atau sewa sampai sore, tapi harga tersebut sungguh fantastis. Tinggal tambah Rp. 50.000 saya bisa sewa mobil. Karena harganya tidak wajar maka saya tolak. Namun dengan wajah yang keliatan pasrah, saya agak merasa iba juga.

Akhirnya saya manfaatkan keputus-asaannya supaya mau di nego. Saya keluarkan jurus nego ala preman, sambil pasang muka jutek akhirnya saya berhasil mendapatkan motor seharga Rp. 80.000 untuk sewa sampai sore hari. Motor matic warna merah segera meluncur ke arah utara berbekal arahan dari paman gugelmap.

Rute perjalanan Tanjung Uban ke Pantai Lagoi via google maps.
Pantai pertama yang akan saya tuju adalah pantainya orang kaya, yaitu Lagoi Bay. Kenapa saya sebut 'pantainya orang kaya'? Karena dulu, Lagoi Bay merupakan resort ekslusif dan tidak sembarang orang bisa masuk kecuali kalau orang itu punya duit. Kebanyakan pengunjung Lagoi Bay dulu adalah orang Singapore.

Sekarang Lagoi Bay sudah terbuka untuk umum, jadi, masyarakat dari berbagai kelas bisa menikmati indahnya pantai di ujung utara pulau Bintan ini, walaupun masih terbatas hanya beberapa pantai saja yg free entry. 

Lagoi Bay merupakan Sebuah area yang cukup luas, dimana didalamnya terdapat beberapa resort yang bisa kita kunjungi. Ibaratnya, Lagoi Bay adalah kompleks per-resort-an dengan semboyannya "Lagoi - yours to develop".


Pantai ini direkomendasikan oleh teman saya yang baru nikahan kemarin. Katanya pantainya berpasir putih dan sangat bersih. Jaraknya dari Tanjung Uban sekitar 32 km, menempuh perjalanan naik motor dengan laju santai sekitar satu jam.

Dari tanjung uban saya tinggal lurus saja mengikuti jalan utama ke arah utara. Jalan utamanya hanya ada satu, menghubungkan Tanjung Uban dengan Tanjung Pinang. Sesekali ada percabangan, namun tinggal mengikuti plang petunjuk arah saja kok, dijamin tidak akan tersesat, kebangeten lah kalau tersesat .


Jalanan di Pulau Bintan
Saya menyusuri jalan aspal buluk yang sesekali terdapat lubang di kanan kirinya. Jalanan lengang, sesekali saya berpacu dengan bus yang keberadaannya di Pulau Bintan sangat jarang, makanya saya pilih menyewa motor.

Beberapa kali motor naik turun bukit dengan pemandangan sepanjang perjalanan adalah hutan semak belukar dan tanah-tanah tandus. Sesekali saya melihat sebuah rumah kayu dengan ornamen oriental. 

Pemandangan seperti itu tidak ada di Jawa, orang keturunan Tionghoa di Bintan cukup banyak, dan mereka tidak hanya terpusat didaerah pasar atau perkotaan saja namun juga di daerah terpencil jauh dari kota. Rumah-rumah mereka sederhana namun tampak unik karena hiasan lampion, cat merah dan kuil-kuil kecil menghiasi rumah kayu mereka.

Portal masuk kawasan Lagoi bay saat sedang peak season (gambar diambil dar rr.co.id , karena saya lupa tidak memfotonya)
Pintu masuk area Lagoi Bay ditandai dengan jalur berportal di sisi kiri jalan (bila dari arah Tanjung Uban). Saya agak was-was karena takut tidak boleh masuk dan sudah menyediakan beberapa lembar recehan di dalam saku celana tapi ternyata masuk area Lagoy gratiss, hanya diberi tiket masuk tanda bawa kendaraan saja. Tapi untuk mobil ada biaya retribusi sebesar Rp. 5000.

Jalan di area Lagoi Bay ini sangat kontras dengan jalan kota. Jalannya lebar dengan aspal yang mulus dan bersih. Di kanan-kiri sepanjang jalan ditumbuhi pepohonan yang hijau dan asri. 

Jalan masih tetap lengan, tampaknya tidak banyak wisatawan di hari ini. Beberapa turis asing bermata sipit tampak melaju menaiki sepeda berlawanan arah denganku sambil tertawa terbahak-bahak seakan-akan seperti sedang menertawakanku. 

Sesampainya di ujung jalan saya menjumpai pertigaan yang penuh dengan plang petunjuk arah. Buta destinasi, saya ambil arah kiri menuju Lagoi Beach, karena sepertinya pantai itu merupakan suguhan utama Lagoi Bay.

Jalan berganti dari aspal menjadi paving yang dihiasi tanaman-tanaman hias disepanjang jalan. Petugas kebersihan tampak wara-wiri. Saya tidak tahu apa yang mereka bersihkan. Karena menurut saya jalannya sudah sangat bersih.

Banyak gedung tapi sepi pengunjung.
Mendekati Lagoi Beach, beberapa gedung bertingkat tampak menjulang didepan saya. Gedung-gedung ber-arsitektur unik yang banyak kacanya itu tampak kosong dan kesepian. Di kanan jalan terdapat sebuah danau buatan ditengah padang rumput yang juga buatan.

Saya kebingungan mencari tempat parkir motor. Setelah tanya sama petugas keamanan, saya diarahkan ke sebuah lahan kosong yang berbatu, berpasir, tanpa atap seperti tempat parkirnya petugas proyek. Sementara saya lihat parkir mobilnya cukup nyaman karena luas dan beralaskan aspal. Saya langsung kepikiran apakah ini adalah sebuah tindakan diskriminasi status? Ataukah tempat parkir motornya sedang dibangun? I dont know, lagian tempat parkir motornya tidak ada penjaganya jadi saya tidak bisa menanyakannya.

Mungkin parkiran motornya masih dalam tahap pembangunan.

Pantai Lagoi
Lagoi beach, walaupun dikelilingi gedung-gedung perbelanjaan dan hotel ternama tampak sepi, lengang, seperti kota zombie walaupun sesekali ada rombongan remaja berambut orange bergerombol sambil cekikikan.

Saya langsung berjalan menuju pantai. Pohon kelapa nyiur melambai tertiup angin sepo-sepoi. Rumput hijau seakan menabrak pasir putih, menciptakan gradasi warna yang segar. "Ini baru pantai" batinku. Ternyata pantainya tidak sesepi dugaanku sebelumnya. 

Di Lagoi Beach sudah banyak orang yang tengah menikmati alunan merdu ombak pantai. Kebanyakan adalah rombongan keluarga. Mereka menggelar tikar diatas rumput maupun pasir. Di ujung pantai terlihat segerombolan anak sekolah yang nampaknya sedang study tour. Diujung pantai lainnya tampak beberapa pasang kekasih sedang memadu cinta. Sedangkan disini, tampak seorang pria kesepian tampak mencurigakan, berdiri sendirian sambil cengar-cengir sendiri .

Pantai yang bersih pasti bikin betah!
It's time to enjoy the beach! Saya susuri pantai dari ujung ke ujung. Sesekali menapakan kaki pada hangatnya ombak disiang hari. Foto sana-sini. Duduk dibawah pohon kelapa dan bersandar padanya sambil meneguk teh botol yang telah saya beli di warung sebelumnya.

Oya kalian wajib bawa makanan dari luar, karena disini tidak ada warung! Setidaknya waktu itu saya tidak melihat adanya warung di Lagoy Beach, kecuali satu restaurant sepi di salah satu bangunan bertingkat. 

Beberapa fasilitas yang ditawarkan di Lagoi Beach adalah kursi bantal yang empuk di bawah payung pantai yang bisa kita sewa supaya bisa menikmati minuman favorit sambil bermain gadget seperti foto-foto anak traveler kekinian di instagram. Wahana kayaking juga ada di Lagoy Beach, rutenya hanya diperbolehkan berkililing di area pantai saja. Selain itu banyak fasilitas yang disediakan oleh pengelola yakni sarana olahraga seperti volley pantai, futsal, dll.

Wisatawan tampak asik bermain volley pantai,
Pantainya 'Orang Kaya' vs 'Orang Miskin'
Terdapat perbedaan mendasar antara pantai yang diperuntukkan bagi orang berduit yang ekslusif dan pantai umum yang semua kalangan masyarakat bisa menikmatinya.

Lagoy beach merupakan salah satu contoh  perpaduan antara keduanya (contoh lainnya adalah pantai-pantai di Bali dan lombok). Perbedaan utamanya adalah soal kebersihan. Disini, saya tidak menemukan adanya sampah berserakan di sudut-sudut pantai. Semuanya tampak putih bersih. Sangat berbeda dengan tujuan pantai saya selanjutnya yaitu pantai Trikora. 

Hal ini selain keterlibatan pasukan 'orange' dari pihak pengelola juga ada keterlibatan perbedaan cara berpikir antara masyarakat kelas ekonomi menengah keatas dan masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah. Utamanya adalah perbedaan cara pandang terhadap sampah itu sendiri dimana dalam hal ini saya menggeneralisir bahwa kalangan ekonomi menengah keatas itu pendidikannya sudah maju sehingga cara pandangnya terhadap sampah lebih 'bersih' dari kalangan ekonomi kebawah. Ada sebuah rasa 'gengsi' bagi orang kaya untuk membuang sampah sembarangan. 

Selain itu keterlibatan pasukan 'orange' alias pasukan bersih-bersih sangatlah besar. Pantai yang dikelola oleh swasta kebanyakan lebih mementingkan kebersihan ketimbang pantai yang dikelola oleh daerah yang saya kira masih acuh tak acuh terhadap masalah kebersihan pantai.

Lagoy beach, sebagai perpaduan antara pantai orang kaya dan pantai rakyat berhasil menerapkan rasa 'gengsi' tersebut kepada masyarakat umum dimana pihak pengelola tidak memberikan sedikitpun ruang bagi masyarakat untuk membuang sampah sembarangan. 

Tong-tong sampah ditempatkan disegala penjuru. Petugas kebersihan selalu mondar-mandir membersihkan sekecil apapun sampah itu sehingga memunculkan rasa 'bersalah' bagi masyarakat yang hendak membuang sampah sembarangan. Pengelolaan pantai Lagoi Beach ini patut dicontoh oleh pengelola pantai-pantai lainnya. 

Banyak destinasi wisata di Lagoi Bay selain Lagoi Beach. Tetapi beberapa merupakan private resort dimana kita harus jadi tamu resortnya dahulu sebelum bisa puas menikmati pantainya. Sementara beberapanya lagi berbayar, seperti Treasure Bay, sebuah kolam renang buatan berbentuk pantai yang katanya terpanjang se-Asia tenggara. Biaya masuknya Rp. 100.000. Karena saya penyuka gratisan jadi tidak ada waktu bagi saya untuk menghabiskan hari ditempat berbayar seperti ini. Maka dari itu saya akan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Trikora! Pantainya rakyat! Merdeka! (Bersambung)

Foto-foto Lagoy Beach lainnya :


Berbekal kamera sport dan tongsis pinjaman salah satu teman di Batam, Thanks Rio!. Solo traveler wajib membawa tongsis.
Pengunjung menikmati fasilitas futsal yang disediakan oleh pengelola Lagoy Beach

Kalian bisa berman volley pantai loh! boleh kok pakai bikini, hehe.


Kursi bantal yang bisa kalian sewa supaya postingan foto d Instagram tambah kekinian


Pengin olahraga air? kalian bisa mencoba bermain kayak disni.


Pohon-pohon kelapa yang tnggi menjulang membuatnya serasa berada di Hawaii


Pantai yang sangat enjoyable untuk sebuah family trip. Bercengkerama dan bercanda di pinggir pantai yang ndah pastnya akan menambah kehangatan keluarga bukan?


Ini kantor baywatch-nya Lagoi Beach. Sayang ngga ada penjaga pantai yang sexy.


Ini berada di belakang pantai, jika peak season biasanya akan banyak pedagang  makanan yang berjualan disini.


Pantainya orang kaya memang bersih, setuju?

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca