Full width home advertisement

Jurnal Perjalanan

Opini

Post Page Advertisement [Top]




Semilir angin menerpa muka ketika saya duduk di antara sambungan gerbong kereta yang pintu keluarnya terbuka lebar. "crek..crek..crek" bunyi korek api berulang kali terdengar dari bapak-bapak di sebelah saya. Ditutupinya korek tersebut dengan tangan supaya tidak diterpa angin, lalu "fuuuh" kepulan asap keluar dari mulutnya yang dihiasi kumis tebal.

Sementara itu, lentingan suara "mijon, akua, kacang, popmi, yang lapar, yang aus" terdengar nyaring dari gerbong sebelah, diiringi genjrengan gitar oleh seorang pemuda yang melantunkan lagu 'bento'-nya Iwan Fals. 

Begitulah kiranya suasana di dalam kereta api waktu saya melakukan perjalanan dari Jogja ke Malang pada tahun 2012 silam. Suasana rusuh namun akrab, khas kereta api ekonomi sebelum terjadinya pembaruan layanan pada era menteri perhubungan, Ignasius Jonan.

Pembaruan itu membalik wajah dunia perkeretaapian Indonesia 180°. Yang dulunya kereta api dan stasiun identik dengan kekumuhan dan kesemrawutan. Kini sudah berubah drastis menjadi lebih bersih, lebih teratur, dan lebih disiplin. 

Perubahan pelayanan kereta api ini memang membuat masyarakat lebih nyaman menggunakan kereta api. Tidak ada lagi calo dan pedagan asongan wara-wiri. Tidak ada lagi duduk sesak berhimpit-himpitan dan bau ayam. Tidak ada lagi penumpang yang tiduran di lantai. Tidak ada lagi bau rokok di dalam gerbong kereta. 

Baca juga: 10 Hal Yang Paling Ngangenin Dari Jogja

Tapi, walaupun naik kereta api sekarang lebih enak dan nyaman, saya sebagai seorang yang pernah mengalami 'nikmatnya' naik kereta api jaman dulu tiba-tiba merasa kangen dengan suasana semrawutnya. Yang saya kangenin adalah,

1. Pedagang asongan
Pedagang asongan sahabat sobat misqueen.
Kereta api sekarang, kalau lapar harus makan di gerbong makan atau pesan ke mbak-mbak pramugarinya, yang, untuk pengangguran seperti saya harganya tergolong mahal. Kalau jaman dulu, lapar ya tinggal beli lontong sama gorengan yang di jual pedagang asongan.

Begitu juga kalau pengen ngopi. Dulu pedagang asongan selalu bawa-bawa termos air panas, pengen ngopi ya tinggal beli aja, murah pula harganya. Pengen ngemil? pedagang asongan solusinya.

2. Nongkrong di sambungan gerbong
Spot favorit saya kalau naik kereta api, duduk di dekat sambungan gerbong.
Tempat favorit saya kalau naik kereta api adalah duduk di bagian dekat sambungan gerbong sambil ngerokok. Pintu keluarnya biasanya bisa dibuka, sehingga asap rokoknya tidak mengebul di dalam kereta.

Selain ngerokok, duduk di sambungan gerbong yang pintunya terbuka juga ada sensasi tersendiri buat saya. Duduk lesehan sambil menikmati terpaan angin saat memandangi indahnya sawah di luar itu adalah sebuah hal yang tak bisa lagi saya lakukan kalau naik kereta api.


3. Suasana kereta lebih akrab


Yang tak kenal jadi kenal gara-gara kereta api ekonomi.
Mungkin perbedaan yang sangat besar antara kereta api sekarang dan dulu adalah suasana di dalam gerbong keretanya. Dulu menurut saya suasananya sangat hidup. Orang-orang terlihat lebih akrab satu sama lain. Semua orang bisa saling sapa, dari rakyat misqueen seperti saya sampai bapak-bapak TNI bisa ngobrol ngalor-ngidul tanpa batas.

Biasanya jika sudah memulai obrolan dengan seseorang, maka yang disebelah-sebelahnya juga akan ikut ngobrol. Maklum, suasana yang penuh sesak memang mengaruskan kami untuk berbaur satu sama lain. Alhasil, sekarang ini saya masih sering bersapa lewat sosial media dengan beberapa orang yang saya kenal di gerbong kereta dulu.


4. Pengamen unik



Ya sebenarnya saya ini sebel sama pengamen. Uang receh saya selalu habis sama pengamen. Tapi tidak semua pengamen menyebalkan. Ada beberapa pengamen yang unik dan menghibur. Pengamen-pengamen macam ini lah yang harus di apresiasi.



Dari pengamen yang cara ngamennya aneh, pengamen banci kaleng yang kocak abis, pengamen yang kalau nyanyi kayak lagi audisi indonesian idol, sampai pengamen yang benar-benar berkualitas musisi dengan menggunakan violin. Pengamen seperti ini sangat menghibur dan bikin kangen.


Biasanya setiap jurusan kereta api punya pengamen favoritnya masing-masing yang selalu ditunggu oleh penumpang kereta.


5. Kalau ketinggalan bisa naik kereta selanjutnya

Tiket kereta api dulu, sederhana banget.
Dulu kalau telat naik kereta api karena berbagai alasan, misal macet atau ketiduran, saya bisa naik kereta api selanjutnya yang jurusannya sama dengan tiket saya tadi yang keretanya sudah berangkat duluan, tanpa harus beli tiket baru.


Misalnya waktu itu saya harusnya naik kereta api Progo jurusan Jogja-Jakarta, tapi saya ketinggalan kereta karena ketiduran. Tidak mengapa, karena saya masih bisa naik kereta api berikutnya yaitu kereta api Bengawan dengan jurusan yang sama dan dengan tiket yang sama juga.



Kalau sekarang ya harus beli tiket lagi, keluar duit lagi. Kalau kedapatan naik kereta dengan tiket yang tidak sesuai nama kereta, siap siap saja buat turun di stasiun berikutnya.



Begitulah, disetiap perubahan pasti selalu saja ada hal yang bikin kangen. Terlepas dari kekangenan saya itu, perkeretaapian sekarang ini memang dalam segi pelayanan dan kenyamanan jauh lebih baik dari jaman dulu. Bravo PT. KAI!
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

11 komentar:

  1. Lupa rasanya naik kereta, dulu pertama naik kereta kalo gak salah th 2004 ato 2005 *lupa. Mau nyobain naik pramex Klaten Jogja aja belum jadi2...

    BalasHapus
    Balasan
    1. lama banget 2005, tahun segitu saya masih SMP bu, belom diijinkan kemana mana, haha

      Hapus
  2. wah yang enak sekarang mas abeng, gak desek2an , skrg sering pakai kereta walau ekonomi tp tetep nyaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener bu, kalau nyaman sih eman nyaman kereta api sekarang, tapi agak kurang hidup suasananya kl menurut saya

      Hapus
  3. Iya sekarang lebih nyaman tapi enak momen dulu

    BalasHapus
  4. Saya dulu sering naik kereta seperti itu

    BalasHapus
  5. jadi inget pas kuliah naik kereta jogja-bandung duduk di sambungan sampe diiket pake webbing takut jatoh pas ketiduran :D
    seru banget lah kereta dulu terutama kelas ekonomi, akan ada minimal satu cerita dalam setiap perjalanannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, kesulitan dalam hidup malah bisa jadi nostalgia yang unik ya rhe

      Hapus
  6. Entah kenapa, kalau naik kereta saya suka susah tidur. Jadi waktu masih suka mondar-mandir Jakarta-Semarang dulu, favorit saya KA ekonomi Tawang Jaya. Selain karena ini KA terakhir (paling malam), lampunya juga paling terang (kalau kelas bisnis/eksekutif lebih redup), cocok untuk baca buku/isi TTS. Dan yang pasti, angin yang semribit (semua jendela tebuka dan tiap gerbong ada sekian kipas angin) membuat saya jadi BEBAS UDUT! :)

    BalasHapus

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib