Full width home advertisement

Jurnal Perjalanan

Opini

Post Page Advertisement [Top]

Gertrudis, Kapal kargo berbendera Panama yang kami bongkar muatannya.
Alhamdulilah, setelah mencurahkan isi hati soal betapa susahnya mencari kerja pada tulisan 'Balada Si Pencari Kerja', selang beberapa hari kemudian saya dapat tawaran kerja dari salah satu teman training K3 Umum yang saya ikuti beberapa waktu lalu.

Walau hanya kerja proyekan yang di gaji perhari, tetapi pengalaman yang saya dapatkan dengan terjun langsung ke lapangan itu sangat berharga. Yang penting pengalaman dahulu, soal gaji kemudian.

Nah, sekarang terbukti kan manfaat pentingnya menjalin relasi saat menganggur (baca tulisan: 'Jadilah Pengangguran Produktif'). Karena, dalam mencari kerja, tidak cukup hanya bermodalkan Curriculum Vitae dan surat lamaran saja. Relasi mempunyai peranan penting dalam pengembangan karir kita. 
...

Singkat cerita saya bekerja lah sebagai asisten safety officer di salah satu perusahaan persewaan kapal dan bongkar muat kargo. 

Ini adalah kali pertama saya bekerja di pelabuhan bongkar muat dengan pengetahuan yang masih 'nol'. Untung safety officernya baik hati dan mau mengajari saya. Alhasil saya jadi mulai terbiasa dengan istilah-istilah yang ada di dunia bongkar muat. 

Pekerja di perusahaan bongkar muat ini terbagi menjadi dua. Pertama adalah pekerja dari perusahaan bongkar muat (PBM) yang bertindak sebagai 'event organizer'-nya. Kedua adalah pekerja lapangannya yang berasal dari koperasi TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Muat) Pelabuhan Batu Ampar, Batam.

Safety Induction Pelabuhan Batu Ampar
Safety induction oleh pak Wawan sebelum pekerjaan dimulai.

Jam 8 pagi, pekerja sudah mulai berkumpul. Rata-rata pekerjanya berbadan kekar. Walaupun ada yang tidak kekar, setidaknya badan mereka kencang, bukti bahwa mereka bekerja menggunakan fisik. 

Yang menarik perhatian, sekitar 30% dari para pekerja bongkar muat ini adalah kakek-kakek, dengan rambut dan jenggotnya yang sudah memutih. Sisanya ya antara umur 25-40an.

"Memang mereka masih kuat kerja begini pak?" tanya saya kepada pak Wawan, safety officer. "Eh jangan salah, mereka itu walaupun sudah tua tapi tenanganya masih luar biasa beng." jawab pak Wawan.

Banyaknya pekerja usia lanjut ini tak lepas dari kurangnya regenerasi pekerja.

Buruh bongkar muat merupakan tipe pekerjaan kasar dan berat serta tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan yang tinggi. Sedangkan anak muda jaman sekarang sepertinya lebih memilih pekerjaan kantoran yang nyaman dan tidak panas.

Pembagian Kerja
Perusahaan Bongkar Muat Pelabuhan Batu Ampar
Rigger menyeimbangkan muatan agar posisinya sejajar dengan bak truk di bawahnya
Para pekerja bongkar muat ini terbagi menjadi beberapa posisi kerja yakni rigger (juru ikat), crane operator, mandor, foreman, safety officer, counter, dan agensi.

Crane operator tugasnya menjalankan mesin crane dan mengangkut kargo dari kapal ke darat atau sebaliknya. 

Rigger atau juru ikat tugasnya mengikat atau memastikan barang/kargo terikat dengan baik pada kaitan crane sehingga bisa dilakukan pengangkatan dengan aman

Mandor, tugasnya mengawasi kerjaan rigger dan crane operator yang berada di bawah pengawasannya.

Foreman, adalah pemimpin para pekerja bongkar muat ini, dialah kunci dari proses bongkar muat ini.

Safety Officer tugasnya membuat desain kerja agar pekerjaan yang dilakukan crane dan rigger aman dari kecelakaan. Kalau dilapangan tugas safety hanya melakukan pengawasan saja.

Counter, tugasnya menghitung barang atau kargo yang masuk.

Agensi, bekerja jika kapal yang di bongkar adalah kapal asing. Mereka bekerja mengurus ijin dan dokumen keimigrasian serta bea cukai.

Loading kargo pelabuhan batu ampar
Bekerja 24 jam dari pagi sampai malam.
Proses kerja bongkar muat kargo ini berlangsung 24 jam loh, terbagi menjadi shift siang dan shift malam.

Jenis kargo banyak macamnya, ada kontainer, ada pipa, ada lembaran-lembaran besi, dll.

Proses kerjanya ya hanya berkisar soal mengikat kargo untuk dikaitkan ke crane, lalu crane mengangkat kargo untuk diturunkan ke darat dimana truk-truk besar sudah mengantri.

Berasa Keluarga

Pelabuhan Kargo Batu Ampar
Pelabuhan Batu Ampar, berseberangan langsung dengan Singapura. Dari sini kita bisa melihat gedung-gedung dari negeri tetangga.
Walaupun terlihat simple, pekerjaan kuli bongkar muat ini membutuhkan tenaga yang besar karena tali yang digunakan bukan tali biasa, melainkan tali besar dengan berat berkilo-kilo. Belum lagi kondisi pelabuhan bongkar muat itu kalau siang hari panasnya bukan main. 

Suasana kekeluargaan begitu terasa ketika waktu istirahat tiba. Wajah-wajah ramah dan sumringah terlihat jelas dari raut wajah mereka. Mereka terlihat puas dengan pekerjaannya. 

"Bapak yang pakai wearpack (baju kerja) biru itu biasa kita panggil 'abah' mas, dia sudah kami anggap orang tua sendiri" kata Imam, salah satu pekerja TKBM yang usut punya usut ternyata kami berdua berasal dari daerah yang sama, yaitu Purbalingga. 

Suasana akrab dan serba kekeluargaan ini mungkin dipicu oleh kesamaan latar belakangnya, yakni sama-sama perantau. Jauh dari keluarga memaksa para perantau membuat keluarga baru di daerah rantauannya sehingga tidak heran pekerja-pekerja ini sangat ramah. 

Ada semacam rasa senasib sepenanggungan di pelabuhan ini.

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk cepat akrab dengan mereka. Sama-sama buruh harian, sama-sama perantau, sama-sama cari rezeki halal.

"Uang sikit tak pe, yang penting kite punye kerja halal, barokah. Uang banyak tapi haram, tapi riba, buat ape je?" itulah 'nasehat harian' dari abah dengan logat melayunya yang kental saat kami sedang istirahat.

Yah, mulai saat ini saya akan banyak-banyak bersyukur mengikuti nasehat dari abah. Tak apa sedikit, yang penting halal dan hasil keringat sendiri.


Tiga hari berlalu dan proyek bongkar muat kapal Gertrudis ini pun berakhir.  Saya kembali menganggur, namun rasanya puas sekali. 

Makasih abah, makasih teman-teman TKBM. Besok kalau ada bongkaran lagi saya ikut yaa, hehe.

...



Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

6 komentar:

  1. Ya ampun masss, saya gak bisa bayangin kayak gimana panasnya kerja di pelabuhan gitu. Eh btw, salam kenal yah. Baru pertama kali main ke blog mas nih.

    Sering-sering cerita tentang kerjaan aja mas, unik loh kerjanya mas itu. Jarang-jarang kan orang kerja di pelabuhan tapi jadi blogger. Kalo kantoran kaya saya mah udah basi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wihh panasssssss gila pokoknya mass, doa para pekerja pelabuhan hanyalah biar didatangkan awan di atas pelabuhan, biar teduh, hehe. Siap masssss

      Hapus
  2. butuh tenaga extra ya..semoga sehat selalu dan jaga badan supaya fit terus

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya harus ekstra mas, air harus selalu siap biar tak dehidrasi

      Hapus
  3. Jadi penasaran nih pengalaman kerja selanjutnya..

    BalasHapus
  4. Tak apa kerja kuli yang penting halal dan berkah, meski gaji kecil insya Allah akan cukup dan semoga kelapangan mengiringi langkah Mas Abe.
    Suami saya juga kerja kuli jadi laden (asisten tukang), saat ini sedang kerja di proyek bikin rumah orang kampung dekat rumah. Panas gini tentunya melelahkan tetapi ia ikhlas demi anak dan istri yang menadikannya sandaran.
    Hidup akan selalu ada pasang surut. Semoga nanti akan ada pekerjaan lain yang lebih baik lagi.
    Blog ini isinya kayak petualangan Mas Abe, ya. Merantau demi sesuatu.
    Maaf saya lama tak main ke sini, sibuk ikut lomba blogwalking dan ikut WAG blogwalking perempuan untuk menaikkan pageview pos lama.
    Sekarang lomba sudah kelar saya jalani. Kembali blogwalking secara organik dengan kunbal ke blog teman-teman.
    Tetap semangat, meski kerja kuli melelahkan tetapi ada keberkahan dari setiap tetes keringat yang mengalir.

    BalasHapus

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib