Bagaiamana Kabar Buku Kuning Yellow Pages Sekarang?

Jumat, Februari 01, 2019 abesagara 30 Comments


Masih ingatkah kalian dengan Yellow Pages? buku kuning besar yang dulu selalu ada di meja wartel (warung telepon). Yellow Pages adalah buku yang berisi kumpulan direktori telepon terlengkap pada masanya.

Warnanya memang tidak semuanya kuning, tergantung jenis kategori direktorinya. Tetapi kebanyakan berwarna kuning, makanya sering disebut buku kuning.

Dulu kalau di wartel kan sering orang tanya "Bu, ada buku kuning?"

...

Sejarah Yellow Pages berawal pada tahun 1883 ketika sebuah printer di kantor penyedia direktori telepon kehabisan kertas berwarna putih sehingga akhirnya tepaksa memakai kertas berwarna kuning. Tahun 1886, Reuben H. Donnelley akhirnya resmi meluncurkan buku direktori Yellow Pages yang legendaris ini. 

Di Indonesia sendiri, Yellow Pages baru resmi beroperasi pada tahun 1980. Yellow Pages versi Indonesia di susun dan diterbitkan oleh PT Elnusa Yellow Pages.

Lima belas tahun kemudian PT Elnusa Yellow Pages ini berganti nama menjadi PT Infomedia Nusantara atau lebih di kenal dengan Infomedia, dimana 50% kepemilikan sahamnya dimiliki oleh PT. Telkomsel.

Yellow Pages memuat berbagai macam informasi produk dan jasa dalam bentuk direktori yang disusun secara alfabetikal berdasarkan klasifikasi usaha.

Buku kuning ini menjadi buku wajib yang harus ada di meja bos, karena fungsinya sebagai acuan untuk mencari produk yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Informasi yang ada di Yellow Pages sangat lengkap, dari info toko kelontong, industri rumahan, residensial, perumahan, perusahaan jasa, perusahaan dagang, sampai kantor-kantor pemerintahan semuanya ada.

Wartel, tempat favorit pejuang LDR jaman dulu.
Yang punya telepon rumah biasanya juga punya buku kuning ini. Tetapi dulu tidak semua orang punya telepon rumah sehingga kepemilikan buku Yellow Pages terbatas. Adapun yang punya buku Yellow Pages biasanya akan menelantarkan buku ini di kolong-kolong meja atau terbengkalai di gudang.

Padahal dulu, karena keluarga saya punya wartel, saya sering iseng baca-baca isinya atau iseng menelepon nomor-nomor yang ada di Buku Yellow Pages. Kalau di angkat, saya akan langsung menutupnya. Kejahilan saya itu —kalau ketahuan— akan membuat kuping saya berubah merah karena dijewer eyang.

Nah terus sekarang kemana perginya Yellow Pages ini?

Bersamaan dengan banyaknya wartel yang tutup karena masyarakat lebih memilih telepon genggam yang murah dan bisa dibawa kemana-mana, buku kuning ini juga perlahan-lahan ikut lenyap.

Apalagi ditambah dengan semakin berkembangnya teknologi internet beserta mesin-mesin pencarinya, Yellow Pages mulai dilupakan oleh penggunanya.

Untuk mengimbangi kemajuan teknologi ini, akhirnya Yellow Pages berhenti mencetak dan meluncurkan versi internetnya yakni Internet Yellow Pages dengan websitenya yell.com.

Yellow Pages Indonesia juga ikut meluncurkan versi internetnya pada tahun 2013 dibawah PT. Metra Digital Media (MD Media) yang merupakan anak perusahaan Infomedia khusus menggarap segmen bisnis digital media. 

Isu lingkungan

Tempat sampah khusus buku telepon (foto: inhabitat.com)
Salah satu yang ikut mendorong Yellow Pages berhenti menerbitkan versi cetaknya adalah isu lingkungan.

Pada tahun 2011 Yellow Pages menghadapi protes dari kelompok peduli lingkungan yang menyatakan bahwa menurut data statistik, pada tahun itu hampir 70% warga Amerika tidak pernah lagi menggunakan direktori telepon cetak.

The Product Stewadship Institute (PSI), sebuah lembaga non-profit yang bergerak di bidang dampak lingkungan dari produk-produk yang di konsumsi masyarakat mengklaim bahwa pemerintah lokal menghabiskan dana $54 juta hanya untuk memproses sampah buku-buku telepon dan $9 juta untuk mendaur ulangnya.

Selain itu buku direktori telepon seperti Yellow Pages juga menggunakan lem yang sulit untuk di daur ulang dan terkadang juga membuat mesin daur ulang macet.

Karena tekanan dari pihak-pihak tersebut ditambah semakin berkurangnya pengguna buku telepon. Maka Yellow Pages cetak resmi berhenti beroperasi.

Jika pembaca ingin bernostalgia atau ingin memanfaatkannya guna mencari informasi perusahaan dengan Yellow Pages, pembaca bisa mengunjungi versi internet Yellow Pages Indonesia di yellowpages.co.id.


Untungnya eyang saya masih menyimpan buku kuning besar ini di rak bukunya sehingga saya bisa bernostalgia dengan Yellow Pages setiap pulang ke rumah eyang.

Pembaca — apakah ada yang masih punya buku kuning Yellow Pages ? 

30 komentar:

  1. Dulu kami punya satu yellow pages ini hehe. Di tengah arus informasi yang serba mudah 'ditangkap' seperti sekarang ini yellow pages memang terlalu 'kuno' tapi pada masa jayanya buku itu luar biasa ... karena kadang saya suka banget baca-baca informasi tempat ini itu dari yellow pages hehe. Dan isu lingkungan itu yang akhirnya saya setuju :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sekarang sudah terlalu kuno dan ribet mba, udah jamannya 'tinggal klik'.

      Hapus
  2. Wow, saya ingat ingat lupa tapi yg paling saya ingat ketika ibu nelpon adiknya pasti nanyain itu ke penjaga nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, pasti ada di wartel kok mas, biasanya udah ditaroh di sebelah telepon

      Hapus
  3. Wh kebetulan ibu sy msh nyimpan tuh buku kuning. Ada bbrp buah malahan.. Nostalgia jaman dulu 😑😑

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan dibuang ya mba, 50 tahun lagi udah jadi barang langka tuh

      Hapus
  4. Kalau tidak salah memuat no HP juga yah. bisa sekalian nyari jodoh hihi

    BalasHapus
  5. Saya nggak punya yang kaya ginian nih hehe

    BalasHapus
  6. Bukunya udah ilang, ngak bisa nostalgia. Saya suka baca-baca buku ini dan sebuah kebanggan telpon rumah masuk buku kuning. Duh... Saking noraknya saya menandai no telpon rumah kami dengan stabilo.

    Saya setuju dengan isu lingkungan, lebih baik disesuaikan dengan kemajuan teknologi

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah sama mbaa, haha, eyang saya juga nandain nomor teleponnya pake stabilo warna ijo ngejreng

      Hapus
  7. dulu saya pernah punya. Suka iseng mencari nomor-nomor orang yang kira-kira punya anak gadis atau perawan. Agar bisa berhalo say dan berhalo ria. Sejarah dari buku kuning ternyata panjang juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kalo orangnya asik bisa berlanjut telepon2an terus mas, nambah sodara malahan.

      Hapus
  8. Jadi inget dulu banget, punya sodara yang buka wartel di tokonya. Buku kuning ini jadi wajib banget ada.
    Kalau di rumah sih sempat ada kalau nggk salah dua buah gitu, asli tebel dah tuh buku
    Sayangnya saya masih kecil banget mas, tidak punya memori yang begitu indah sama buku ini hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. saking tebelnya sampe bisa buat nggebuk tikus ya mas, hehe

      Hapus
  9. Saya termasuk generasi yang pernah lihat Tellow Pages, he he. Iya, anyak terdapat di kantor dan warnet, bahkan di tempat kerja saya juga ada karena tokonya masih menggunakan telefon Telkom untuk lakukan transaksi dan hal lainnya.
    Beberapa tahun lalu lihat wujudnya sebagai pembungkus ikan pindang di pasar. Sekarang mah sudah jarang lagi mungkin karena bukunya susah didapat.
    Zaman telah berubah dan digitalisasi tak terelakkan maka baguslah perusahaan Yellow Pages mengalihkan diri pada ranah digital pula. Segala sesuatu yang tercetak tebal seperti itu sudah tak praktis lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, sekarang karena sudah tidak berfungsi lagi ya banyak yang jadi bungkus dagangan. semoga buku2 cetak nggak ikut pindah ke digital semua deh, aku pusing kalo baca buku ebook soalnya

      Hapus
  10. Sepertinya yellow pages harus cari solusi biar kembali dikenal masyarakat..

    BalasHapus
  11. Wahhh sudah jarang sekali saya menemukannya ya, sekarang udah canggih nomor telepon tersimpan dengan sendirinya, bahkan ada yang bisa dihubungi tanpa menggunakan nomor telepon... wadaw

    BalasHapus
  12. Tahun lalu, 2018 pernah ke Medan nginap di salah satu hotel yang ga terlalu baru, masih menyediakan Yellow Pages lho. Saya aja takjub melihatnya wahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah itu hotelnya berarti keren tuh mass, dah jarang loh ada hotel yang nyimpen yellow pages

      Hapus
  13. Kalau saya sendiri ga pernah lihat langsung bentuk Yellow Pages ini mas,,,, jaman saya kecil dulu telepon itu barang mahal, ke wartel aja jarang banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah berkat kesederhanaan mas sabda sekarang berbuah manis jadi seorang pns muda ahli keuangan, hehe.

      Hapus
  14. kemelesatan jaman memang nggak bisa di nafikan, maka wajar jika keberadaan buku kuning sudah dilupakan...kesianan banget ya yelow pages itu

    BalasHapus
  15. Wah iya, aku memang sudah ga punya. Tapi masih suka lihat di film-film jadul kalau pemeran utamanya mau stalking orang :D Aku juga penasaran, apa kabar 108 ya? Kan sekarang nomor apa-apa bisa dicari via internet.

    BalasHapus
  16. masih inget pas jaman smp,, kalo mau reques malam minggu di radio kesayangan naek sepeda pergi ke wartel...pas pulang cuma bisa tanya temen,,lagunya udah diputer belom hahahahahaha

    BalasHapus
  17. Sudah ndak punya yellow pages lagi, dulu suka ngumpulin buku ini buat dipake prakarya. Lumayan menghemat kertas

    BalasHapus
  18. Masih adaaa. Maklum, tinggal di rumaha tua ortu :D Masih inget jingle-nya juga dong. "Cari tahuuu...dengan jarimu..." :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah iya ada jinglenya juga yaaah, saya malah baru inget, kwkwk

      Hapus