Singapore, Destinasi Awal Untuk World Traveler Pemula


Singapore, siapa sih yang tidak tau negara tetangga dengan ukuran yang mini ini? Yup, siluet negara ini sudah terlihat jelas dari tepian Harbour Bay Batam. Singapura merupakan negara dimana biasanya para traveler ataupun backpacker dari Indonesia mencoba melangkahkan kakinya ke luar negeri untuk pertama kali. Bisa disebut juga sebagai negara pertama bagi para newbie world traveler dari Indonesia, termasuk saya. Salah satu faktornya adalah selain jaraknya yang dekat, banyaknya tiket penerbangan promo Indonesia-Singapura yang disediakan oleh beberapa maskapai penerbangan seperti AirAsia, Mandala, dll. Harganya kalau promo tidak sampai Rp. 500.000, bahkan teman saya ada yang pernah mendapatkannya seharga Rp. 99.000 hanya sebagai gantai biaya avtur saja.



Saya terbang dari Yogyakarta menuju Changi pada pukul delapan pagi dan sampai disana pukul setengah sepuluh. Sebelum mendarat, saya disuguhkan pemandangan kapal-kapal kargo yang begitu banyak di perairan Singapura, hal ini menandakan eksistensi Negara ini sebagai Negara perdagangan yang paling strategis di Asia Tenggara. 

Sebelum mendarat, saya melihat bahwa bandara ini dikelilingi oleh hutan-hutan yang luas dengan pohonnya yang besar-besar. Bandingkan dengan bandara Soekarno-Hatta dimana justru bandaranya dikelilingi oleh pemukiman padat penduduk. Bandara Changi cukup luas dan modern sampai toiletnya juga serba otomatis. Imigrasi disini tidak ribet, yang penting tempat tinggal kita selama di Singapura tercatat jelas pada kartu kunjungan, sehabis itu tinggal melanglang buana deh.

Saya tinggal disebuah apartement padat penduduk di pusat kota. Pemukiman disini sebagian besar merupakan apartemen/rumah susun. Dibagi per kawasan, per blok. Setiap kawasan mempunyai pasarnya sendiri dan juga foodcourt yang terletak dibawah. Saya tinggal di distrik Whampoa, dekat dengan Baleister rd. Terdapat community centre tempat berkumpul dan ngopi-ngopi warga sekitar.



Untuk transportasi saya menggunakan semua moda transportasi yang ada, MRT dan Bus. Cara menggunakan bus di singapura sangatlah mudah. Kita cukup membeli kartu di seveneleven atau cheers (mini market), saya memakai kartu NETS Flashpay yang berisi SG$ 16, cukup untuk bolak-balik 16 kali naik bus atau MRT. Untuk menggunakan kartunya cukup men-tap / menempelkan kartu pada mesin yang tersedia di dekat pintu bus. Jika tidak punya kartu, kita dapat membayarnya langsung ke supir bus, namun uang harus pas, jika tidak maka artinya kamu merelakan kembalian uang kamu.

Untuk MRT, jika tidak punya kartu, terdapat mesin tiket otomatis di setiap stasiun, cukup masukan uang sejumlah harga tiket yang tertera, nanti tiketnya akan keluar sendiri. Untuk jarak jauh, gunakanlah MRT, namun untuk jarak dekat cukup gunakan bus saja.



Warga Singapura, sebagaimana layaknya bangsa Asia umumnya ramah-ramah, jika tersesat mereka akan siap membantu kita. Tenang saja, kita tidak akan tersesat di Singapura karena penunjuk jalan terdapat dimana-mana.

Destinasi pertama saya adalah destinasi mainstream yang ada, yaitu Orchard Road, Esplanade, Merlion Park, Asian Civilization Museum (ACM), Clarke Quay, Mustafa, dan Little India. Semua destinasi tersebut dapat dilakukan dalam sehari saja dan cukup jalan kaki! Yang terpenting adalah kita tahu rutenya, pastikan destinasi tersebut sejalur. 

Contohnya, pertama saya awali dengan Orchard Road, dari situ saya naik bus ke Esplanade. Nah dari Esplanade ke Merlion Park cukup menyeberangi jembatan saja dengan jalan kaki. Dari Merlion Park, jalan menuju ACM kemudian lanjut ke Clarke Quay. Dari Clarke Quay bisa ke Chinatown dulu atau langsung ke Mustafa Centre, Bugis, dan Little India nak bus (jaraknya lumayan jauh boo..)



Orchard Road, bagi traveler kere seperti saya tampaknya tempat ini bukanlah tempat yang cocok karena disini semuanya mall-mall dengan brand-brand ternama seperti GUCCI, Louis Vuitton dll. Bisa dibilang ini tempat shopingnya orang-orang menengah keatas. Tidak ada yang menarik disini bagi saya karena saya bukan tukang belanja. Namun bagi mereka kaum hawa dan shopaholic tempat ini ibarat surga. Semua-semuanya adalah mall! mall! dan mall! Disepanjang jalan saya melihat banyak pengamen yang tengah beraksi, dan mereka punya kemampuan bermusik yang sangat hebat! Give applause!



Esplanade, gedung pertunjukan berbentuk durian. Gedung ini merupakan salah satu ikon Singapura. Selain gedung, kita bisa bersantai dipinggir gedung disebelah sungai sambil menikmati pemandangan kota dengan gedung-gedungnya yang menjulang, patung singa Merlion, Hotel Fullerton, dan Marina bay Sands yang terkenal itu ( gedung kembar dengan kapal diatasnya) dibawah pohon sambil menikmati angin yang semilir serta softdrink seharga SG$1,7.


Merlion Park, Nah ini dia ikon Singapura yang paling terkenal yaitu patung singa yang disebut Merlion. Patung ini dibuat sebagai ikon untuk menyambut para pelancong yang datang ke negeri mungil ini. Dari Esplanade, saya cukup menyeberangi sungai lewat jembatan. Disekitar patung merlion banyak turis-turis yang tengah berfoto maupun sekedar bersantai-santai. Jikalau saja saya punya uang lebih, maka saya akan menikmati secangkir kopi di café-café yang bertebaran disekitar patung tersebut. Saya pergi kesini dua kali, kunjungan yang kedua adalah untuk mengambil gambar patung ini dan sekitarnya yang katanya cantik dan indah dikala malam hari.


Asian Civilization Museum, tempat ini berdekatan dengan Merlion Park. Diseberang Merlion Park terdapat Fullerton Hotel, dan dibelakang hotel terdapat jalan Fullerton. Saya menyeberangi jembatan lagi, namun kali ini jembatannya lebih kecil dan lebih klasik dengan arsitektur jembatan masa colonial. Nah setelah jembatan saya melihat ada bangunan dengan arsitektur khas colonial, didepannya terdapat tugu yang dulu dibangun untuk menyambut kedatangan orang penting dari India. Bangunan tersebut merupakan Museum Asian Civilization, yang menampilkan beragam peninggalan-peninggalan bangsa Asia jaman dulu. Bangunan ini ada di pinggir sungai Singapura. Banyak jembatan-jembatan kuno disini yang bagus untuk diambil gambarnya. Disepanjang sungai banyak kapal-kapal wisata yang hilir mudik menambah keelokan tempat ini. Disekitar museum terdapat banyak taman dan ruang hijau sehingga dijadikan sebagai tempat jogging bagi masyarakat sekitar. Olahraga di sini sudah menjadi semacam lifestyle bagi warga Negara ini terutama untuk kaum mudanya.


Clarke Quay, jam sudah menunjukan pukul setengah delapan sore. Disini gelap baru datang jam segini. Dari museum saya berjalan menyusuri pinggiran sungai. Banyak café-café kecil yang berdiri disepanjang pinggiran sungai dengan temboknya yang dicat warna-warni. Pemandangan seperti ini menjadikan daerah pinggiran sungai ini dikenal juga dengan nama Venesianya Singapura. Saya berjalan sampai menemukan tulisan neon warna-warni yang dibaca Clarke Quay. Tempat ini merupakan kumpulan café-café yang menawarkan berbagai macam minuman, dari kopi, the sampai minuman beralkohol (lebih banyak yang menawarkan minuman beralkohol disini). Tempat ini merupakan tempat nongkrongnya para Ang Mo. Ang Mo adalah bahasa china untuk si rambut merah atau dalam bahasa kita sering kita sebut sebagai bule. Harga minuman disini bervarisai namun rata-rata ya mahal. Saya cuma bisa jalan-jalan sambil menikmati malam yang gemerlap ini ditemani traveler lain dari berbagai Negara.


Mustafa Center, Bugis Street, Litle India, ketiga tempat ini jaraknya lumayan dekat. Dari Clarke Quay saya naik bus ke Mustafa Center yang katanya juga surga belanja. Mustafa Center hanyalah gedung swalayan biasa dengan dagangan yang juga biasa, ya seperti swalayan pada umumnya, nothing special. Namun masih tetap banyak saja para wisatawan yang belanja disini. Karena nothing special maka saya lanjutkan ke Bugis Street. Tempat ini merupakan pasar oleh-oleh, banyak ditawarkan kaos-kaos Singapura, gantungan kunci, jajanan, dll. Harga disini murah-murah dan tempatnya lebih khas dan eksentrik. Saya sarankan lebih baik belanja disini daripada di Mustafa. Di Bugis juga terdapat sex shop yang menawarkan berbagai jenis sex toys untuk 21tahun ke atas. Dari Bugis saya berjalan menuju Little India. Daerah Little India merupakan daerah pemukiman orang-orang India yang cukup luas, tidak ada gedung tinggi disini, semuanya gedung standar 2-4 lantai. Banyak toko-toko yang menawarkan dagangan khas negeri India dengan harga yang lumayan miring. Jika jeli maka kita bisa mendapatkan barang berkualitas dengan harga yang cukup miring.



Hari pertama sudah cukup puas dan cukup melelahkan juga. Ada beberapa pengetahuan yang saya dapat selama sehari menjelajah Singapura :

  • Disini tukang bangunan mayoritas dilakukan oleh orang-orang dari India, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina.
  • Disetiap bangunan yang sedang dibangun pasti kita akan melihat orang-orang ini. Disini pembantu rumah tangga masih tetap dikuasai oleh pembantu dari Indonesia. Berkali-kali saya  lihat orang Chinese bersama pembantu mereka (yang mukanya sangat njawani).
  • Terdapat kawasan-kawasan khusus masing-masing etnis seperti orang India di Little India, orang Melayu di Kampung Melayu, orang China di China Town, dan orang bule di Ang Mo Kio, ada juga orang-orang dari timur tengah di Arab Street namun jumlahnya hanya sedikit.
  • Jika kita kurang lancar berbahasa Inggris, gunakan saja bahasa melayu, sebagian besar orang disini tahu bahasa melayu, jadi santai saja.
  • Beli kartu perdana di minimarket seperti cheers dan seveneleven. Harganya lumayan mahal, SG$ 15. Minta aktifkan kartu ke pelayan toko menggunakan data dari passport kita.
  • Beli makanan murah ada di foodcourt yang banyak terdapat dipusat keramaian maupun di daerah pemukiman, namun untuk yang muslim harus hati-hati dengan makanan yang bertuliskan pork, ham, atau bak, karena itu semua adalah daging babi.
  • Jika tidak punya kartu tap untuk bus dan MRT, maka siapkan banyak-banyak uang receh koin, kita akan sangat membutuhkannya.
  • Jangan heran bila melihat orang berpelukan atau berciuman di bus, MRT, maupun dijalanan.
  • Banyak terdapat masjid maupun mushala, sebagian dari mereka berbentuk gedung biasa tanpa kubah diatasnya. Tanyakan saja pada orang melayu atau Bangladesh untuk lokasi keberadaan masjid.
  • Kalau mau beli kopi item, bilangnya jangan I want a coffee, nanti malah diberi kopi susu. Kalau pengen kopi item bilang saja Kopi’o. (berlaku diwarung kecil seperti di foodcourt).

Sekelumit Kisah Tentang Sumba, Sebuah Kepolosan Yang Penuh Makna



Daerah timur Indonesia masih sangatlah jauh dari kata maju, salah satunya adalah Pulau Sumba. Hal ini berdasarkan pengamatan saya selama dua bulan tinggal di Pulau Sumba dalam rangka melakukan pengambilan data untuk sebuah riset tentang kesehatan dan pendidikan masyarakat. Penelitian tersebut di prakarsai oleh Pusat Kebijakan dan Pendidikan Universitas Gajah Mada. 


Lokasi pengambilan data berada di Kabupaten Sumba Barat Daya. Hampir semua kecamatan dan daerah-daerah terpencil saya kunjungi. Suka-duka cerita masyarakatnya hampir setiap hari saya dengarkan.


Bermodalkan baju lapangan, sepatu boots, co-card, dan quesioner, penduduk mengira saya orang dari pusat yang akan membawa bantuan kepada mereka. Semua pertanyaan dan keluh kesah, mereka sampaikan kepada saya.

Sumba Barat Daya merupakan sebuah kabupaten yang baru saja mekar dari Kabupaten Sumba Barat. Pusat kotanya tidak lebih besar dan lebih maju dari pusat kecamatan yang ada di Purbalingga, sebuah kota kecil di kaki Gunung Slamet tempat kelahiran saya. 


Salah satu penyebab dari ketertinggalan ini adalah aksesibilitas antar provinsi, antar kabupaten, sampai antar daerah terpencil masih sangat jauh dari kata memadai. Padahal, aksesibilitas merupakan faktor penting dalam pengembangan sebuah kota. 



Baru pertama kali disini saya mendengar nama 'jalan pengerasan'. Sebuah nama yang merujuk pada jalan tanah yang dikeraskan dengan batu kapur, Mungkin perbandingan antara jalan pengerasan dan jalan aspal di SBD ini kurang lebih 70 : 30. Lebih banyak jalan pengerasan ketimbang jalan aspal.

Saya tidak tau apa jadinya kalau kabupaten ini tidak jadi mekar dan masih berada di bawah pemerintahan Kabupaten Sumba Barat. Mungkin hampir 90% masih jalan pengerasan.

Masyarakat Sumba yang penuh kekeluargaan
Keadaan geografis Pulau Sumba hampir sama dengan keadaan geografis Kabupaten Gunung Kidul. Tanahnya dominan batu kapur dan karang sebagai bukti bahwa sebagian wilayah Pulau Sumba merupakan hasil dari pengangkatan bawah laut.

Kondisi tanahnya gersang dan kering, sehingga hanya bisa ditumbuhi umbi-umbian. Satu-satunya daerah subur adalah Kecamatan Wewewa yang merupakan dataran tinggi dengan tanah gembur dan iklim yang basah. Pertama mendengar kata Wewewa saya tersenyum sendiri, namanya begitu aneh, kalau dibaca jadi Wejewa.

Pertama kali menginjakan kaki di pulau Sumba pandangan mata saya selalu tertuju kepada orang-orang yang membawa parang dijalanan. Hampir setiap laki-laki di Sumba pasti membawa parang jika keluar rumah. 

Alasan utama adalah karena adat-istiadat yang mengharuskannya begitu. Yang kedua adalah untuk bekerja. Orang Sumba mayoritas bekerja sebagai pekerja ladang atau kebun, jadi, membawa parang merupakan suatu keharusan. Yang ketiga adalah sebagai sarana jaga diri karena di Sumba masih sering terjadi perang antar suku.

Saya bahkan diberi parang oleh salah satu warga gara-gara saya menanyakan berapa harga parang dipasar. Bukannya dijawab, dia malah menawarkan parang bergagang tanduk miliknya untuk saya.

Titik tertinggi di Wewewa Selatan, setelah gunung Yawila
Kain tenun juga tidak lepas dari keseharian orang Sumba, dimanapun pada acara apapun pasti mereka mengenakan kain tenun.

Untuk laki-laki, mereka mengenakan kain ikat dan selendang. Kain ikat gunanya untuk dililitkan di pinggang sementara kain selendang sebagai ikat kepala. Untuk perempuan, mereka mengenakan kain sarung yang berfungsi sebagai rok. 


Kain adat sumba kebanyakan berwarna cerah. Masing-masing daerah punya motif sendiri-sendiri. Motif tenun Sumba yang menurut saya paling bagus adalah motif tenun dari Kabupaten Sumba Timur.


Sementara untuk Kabupaten Sumba Barat Daya, motif tenun yang paling bagus berasal dari Kecamatan Kodi. Motif tenun dari kodi ini lebih indah dan berwarna dibandng dengan motif tenun dari kecamatan lainnya. 

Kain tenun khas Sumba tersedia di pasar dan juga toko-toko souvenir. Harganya hampir sama. Jika ingin kain tenun yang harganya agak murah bisa langsung mendatangi penenunnya.

Beberapa hari sebelum pulang, saya menghabiskan waktu seharian penuh untuk berburu kain tenun ini. 


Hampir semua penenun bekerja secara rumahan dan cukup mudah ditemukan di desa-desa karena mereka menenun di depan rumah.


Harga kain selendang (ikat kepala) berkisar antara puluhan ribu sampai ratusan ribu, tergantung warna dan kerumitan motifnya. Sementara untuk kain bahan yang dijual per meter, harganya ratusan sampai jutaan.

Keindahan kain tenun khas Sumba membuatnya pernah menjadi kain favorit pada pameran sebuah pameran tekstil tradisional bertaraf internasional yang diselenggarakan di Prancis beberapa tahun lalu.

Entah berapa kali saya mendengarkan keluh kesah dari masyarakat. Keluhan tersebut mulai dari masalah kesehatan, dimana pelayanan kesehatan yang tidak memadai, jauh, dan kekurangan tenaga ahli.

Kemudian ada permasalahan mengenai pendidikan yang memprihatinkan. Gedung sekolah yang bobrok, guru yang jarang berangkat, fasilitas sekolah yang jauh dari kata layak, dan lain sebagainya.

Namun menurut saya, masalah yang paling krusial di Sumba Barat Daya dan mungkin di seluruh Pulau Sumba adalah masalah tentang terikatnya mereka terhadap adat-istiadat budaya mereka.

Bayangkan, untuk kematian anggota keluarga mereka bisa menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta  hanya untuk penyembelihan hewan ternak seperti babi dan kerbau.

Dalam hal pernikahan, mereka juga harus menyiapkan bilis atau mas kawin yang harganya tidak murah. Pada setiap acara kematian, selain anggota keluarga yang ditinggal mati, kerabat juga datang membawa hewan-hewan ternak untuk disumbangkan. Semakin banyak hewan ternak yang ada pada upacara kematian tersebut maka semakin naik harga diri  dan derajat sosial mereka.

Sumbangan tersebut tidak diberikan secara cuma-cuma, tapi harus dibayar balik dengan nilai yang sama atau lebih tinggi jika salah satu anggota keluarga penyumbang meninggal dunia.

Tidak heran jika setiap rumah tangga disini punya hutang berjuta-juta kepada kerabat mereka. Keadaan ini membuat sebagian besar masyarakat Sumba tinggal dalam kemiskinan.

Sebenarnya sudah banyak orang Sumba yang sadar akan bom waktu adat istiadat mereka. Namun mereka tidak bisa melakukan apa apa. 

Banyak dari orang Sumba yang menikah dengan orang dari luar Sumba hanya untuk menghindari adat semacam ini. Bupati Sumba Barat dulu juga pernah menerapkan peraturan minimal hewan ternak yang harus di korbankan, namun gagal karena adat yang begitu ketat. Bayangkan, kuburan mereka bahkan jauh lebih bagus daripada rumah tempat tinggalnya.


Salah satu pantai "perawan" yang belum ada namanya di Kecamatan Loura. Tidak ada wisatawan kecuali saya dan tiga orang teman serta beberapa nelayan.
Banyak daerah berpotensi wisata di Sumba Barat Daya yang bagus dan belum banyak diketahui wisatawan. Sumba merupakan daerah yang sangat eksotis.

Ke-eksotisan itu terlihat dari banyaknya pantai-pantai dengan pasir putih yang bersih dan indah. Kemudian ada padang savana dan bukit-bukit yang luas bak di afrika.

Jika menuju ke dataran tinggi maka akan disambut oleh hutan hujan tropis dengan kanopinya yang menjulang tinggi menanti kita dengan flora-fauna endemiknya.

Banyak pantai, banyak air terjun, banyak wisata budaya, dan banyak sungai-sungai yang indah, namun sayangnya belum ada pengelolaan yang serius oleh pemerintah setempat. 

Untuk pantai, kecamatan Kodi adalah surganya dengan pantai Pero, Mandorak, Bondokawango, Ratenggaro, Danau Weekuri, dll.

Untuk wisata dataran tinggi, Wewewa adalah rajanya. Masih banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan selama dua bulan di Sumba, yang ceritanya bisa kalian simak dibawah ini :

1. Pantai Kawona, Pantai Perawan Yang Sunyi Senyap di Sumba Barat Daya

2. Danau Weekuri, Hidden Paradise Pulau Sumba


3. Pantai Mandorak, Surga Kecil di Balik Batu Karang


4. 
Melihat Kepercayaan Marapu di Kampung Adat Manola, Tena Teke, Sumba

5. 
Senja di Pantai Pero Kodi, Sumba Barat Daya



Satu kesan yang begitu mendalam bagi saya adalah, jangan tertipu wajah garang mereka, karena sebenarnya mereka sangat-sangatlah ramah, polos dan apa adanya.

Walaupun adat-istiadat mengekang dan menerpurukan mereka, itulah pengorbanan mereka dalam melestarikan budaya leluhur. Suka, duka, mereka tetap tersenyum.

Mungkin dari semua jenis orang yang pernah saya temui, orang Sumba adalah yang paling ramah.

Memang kebahagiaan itu relatif...



Keywords : Sumba, Sumba Barat Daya, Wisata Di Sumba, Budaya Sumba, Pantai Di Sumba, Pendidikan Sumba, Kesehatan Sumba, Orang Sumba, Adat-Istiadat Sumba

Melihat Pertunjukan Wayang Dalang Manteb Dengan Sinden Bule


Menyambut hari jadi Kabupaten Purbalingga ke 182 yang jatuh pada tanggal 18 Desember, Pemerintah menggelar beberapa hiburan untuk masyarakatnya, salah satu diantaranya adalah pementasan wayang kulit yang diadakan dua hari berturut-turut yakni hari selasa dan rabu kemarin. 

Sayangnya hujan turun pada pagelaran wayang yang pertama sehingga jumlah penontonnya hanya sedikit. Baru pada pementasan kedua yang digawangi oleh dalang beken Ki Manteb, jumlah penontonnya lumayan banyak. Padahal, sebelum pentas dimulai, hujan turun sangat deras. 

Ajaibnya saat acara dimulai, hujan perlahan-lahan mereda, seperti yang dikatakan oleh Ki Manteb sendiri " Tenang wae, nek wis mulai wayangane li insyaallah udane mandek, merga Gusti Allah". Ki Manteb merupakan dalang yang beken karena menjadi ikon salah satu obat sakit kepala.

Acara dimulai pukul 21.00 WIB, penonton mulai berkerumun mengelilingi panggung, sementara pejabat-pejabat pemerintahan duduk nyaman di bagian paling depan. Penjual-penjual makanan dan minuman turut serta meramaikan pementasan wayang ini. 

Selain penjual makanan, ada juga penjual obat-obatan alternatif seperti jamu, ramuan herbal tradisional, tukang bekam, dll yang memanfaatkan pentas ini sebagai ajang mencari peruntungan. Aneka penjual suvenir wayang juga tak kalah meramaikan acara ini. 


Sinden Import
Yang menarik adalah, beberapa waranggana wayang kulit atau akrab disapa dengan sebutan sinden ada yang berasal dari mancanegara. Agnes Serfozo atau akrab dipanggil Aggy merupakan sinden yang berasal dari Hungaria, dia telah tertarik dengan kesenian wayang ini sejak Ki Manteb melakukan pentas di negerinya, tepatnya saat pentas di Budapest. Bahasa Jawa yang di ucapkannya benar-benar fasih, tak disangka ternyata yang mengucapkannya adalah bule dari Hungaria. Saat ini Aggy tinggal di Kota Solo.

Sinden bule lainnya yang tak kalah menarik adalah Hiromi Kano, sinden asal negeri sakura, Jepang ini telah malang melintang didunia perwayangan sejak 13 tahun lalu. Awal mula ketertarikannya dengan dunia sinden dan wayang kulit diawali ketika dia kuliah di STSI atau Sekolah Tinggi Seni Indonesia pada tahun 1996. Orang luar saja begitu antusias dengan budaya leluhur kita, kenapa kita tidak?

Foto :




Agnes Serfozo, sinden dari Hungaria


Hiromi Kano (tengah), sinden asal Jepang.

Tips Melatih Otot Supaya Bisa Traveling Berhari-hari



Supaya saat kita traveling selalu fit dan bugar, kita perlu memperkuat tiga bagian utama - bahu, pergelangan kaki, dan otot inti-dengan melakukan latihan ini, diharapkan kamu dapat melewati segala rintangan yang berat.

Kekuatan otot tidak hanya diperoleh dengan angkat beban saja. "Jika anda tersandung didalam medan yang sulit, latihan ini membantu anda untuk pulih lebih cepat dari biasanya" Kata juara angkat besi, Dan John. Latihlah gerakan ini tiga kali dalam seminggu, dan kegiatan backpackingmu bakal lebih mudah dan menyenangkan. simak tips dari backpacker.com berikut ini.

Farmer's Walk
A. Farmer's Walk

Fungsi : Mencegah pergelangan kaki dari keseleo, dan mengkondisikan tulang, persendian, dan otot kaki dalam menahan beban yang berat

Cara : Berjalanlah sejauh 100 kaki/30 meter (disarankan pada lintasan yang panjang atau tidak melengkung) dengan menenteng beban pada masing-masing tangan seberat 4,5 kg keatas. Jaga supaya punggung dan tanganmu tetap lurus, berjongkok untuk mengangkat beban dari tanah menggunakan otot kakimu. Kemudian kembali berdiri ke posisi tegak sepenuhnya, sambil tetap menjaga bobot di kedua sisi tubuh. Berjalan maju dengan kecepatan normal sejauh 30 meter; berhenti dan turunkan lagi. ulangi sebanyak 20 kali per latihan.

Overhead Squat
B. Overhead Squat

Fungsi : Menguatkan bahu, pinggul, otot paha belakang (otot yang melindungimu dari cedera karena beban berat)

CaraAngkatlah sebuah barbel panjang dengan tangan ke atas kepala, sekitar 45 derajat dari tubuhmu (seperti membentuk huruf "Y"). Posisikan kaki Anda sedikit lebih lebar dari lebar bahu, dengan jari-jari kaki menunjuk sedikit ke luar. Jaga tanganmu tetap di atas dan turunkan sedikit, kontrol gerakanmu saat kamu menekuk lututmu sejauh yang kamu bisa. Angkat dengan meluruskan kakimu. Mulailah dengan tiga set dengan delapan repetisi empat kali seminggu dan turunkan menjadi dua kali seminggu.


C. Bear Crawl

Fungsi : Gerakan ini membantu membangun bahu, inti otot (bagian dada-perut), dan fleksor pinggul supaya dapat membantumu melintasi medan-medan yang sulit.

Cara : Mulai dengan membungkuk dan tangan meraih jauh kedepan (seperti yang dicontohkan pada gambar). Bergeraklah maju, "berjalan" pada telapak tangan dan kaki secepat mungkin. Istirahat selama 45 detik pada setiap set. Mulailah dengan lima kali merangkak sejauh 10 meter. Ulangi sampai lelah.
 
Dengan latihan fisik yang matang, maka diharapkan bagi para backpacker yang hobi melintasi medan berat, atau hobi menggendong ranselnya kemana-mana dapat melakukan perjalanan dengan enjoy.(dilansir dari backpacker.com)

Menyepi di Air Terjun Curug Kali Karang, Purbalingga


Jalan-jalan kali ini saya berkesempatan mengunjungi salah satu curug di Purbalingga yang berada di kecamatan rembang, yakni curug Kali Karang. Curug ini berada di desa Tanalum, dari terminal losari masih terus ke atas. Jika hendak kesana, tanyakan saja pada warga di sekitar situ, soalnya rute jalannya rumit. Untuk masuk ke area curug ini saya harus melewati jalan offroad yakni jalan berbatu dan berkerikil yang naik turun. harus sangat berhati-hati ketika mengendarainya, lengah sedikit bisa-bisa tergelincir. Kebetulan saya kesana pas hujan sedang turun, jadi saya harus extra hati-hati.


Saya parkir motor di pinggiran sungai, air terjun sudah terlihat didepan mata, untuk mendekatinya harus jalan sekitar 100 m untuk mencapai air terjun ini. Debit air waktu saya kesana sedang lumayan besar. Air terjun ini mempunyai tiga tingkatan. Yang paling tinggi adalah tingkat ke tiga, sekitar 60 meter. Dikarenakan faktor hujan, saya hanya dapat melihatnya dari dasar, alias tingkat pertama. Untuk menuju tingkatan selanjutnya harus melewati tebing berbatu dan berlumut yang tentunya licin saat hujan, dan beresiko untuk didaki. Tidak ada pengunjung lain hari itu, hanya saya sendiri dan petani yang sedang menggarap sawahnya. 



Curug ini akan lebih indah dan lebih terjangkau pada saat cuaca cerah, namun debit airnya akan lebih sedikit. Curug Kali Karang merupakan salah satu curug dari banyak curug di wilayah Purbalingga, mungkin pada perjalanan lainnya saya akan mengunjungi curug-curug lainnya. 

Banyak potensi wisata alam di Purbalingga yang tersembunyi, dan saya sebut sebagai the hidden paradise, namun pemerintah agaknya belum menganggap wisata alam di Purbalingga itu layak digarap. Pemerintah justru membuat wisata-wisata buatan seperti Owabong, Sanggaluri Park, dll. Yah, semoga kedepannya, pemerintah mau menggarap potensi wisata alam yang ada sehingga dapat menambah perbendaharaan objek wisata "layak kunjung" di Purbalingga.

Pendakian Gunung Sindoro via Kledung

Sumbing, Merapi, dan Merbabu dilihat dari Sindoro
Beberapa bulan kemarin saya bersama dua orang teman melakukan pendakian ke puncak gunung Sindoro, Wonosobo, Jawa Tengah, namun baru sekarang ini saya sempat mempublikasikannyam mumpung lagi mood. Sindoro merupakan gunung yang masih perawan, karena dibagian badan gunungnya tidak terjamah oleh manusia, beda dengan sumbing yang pada bagian badan gunungnya sudah ditanami oleh penduduk. karena kealamiannya tersebut, Sindoro sering sekali mengalami kebakaran hutan.
Untuk yang baru belajar naik gunung bisa baca artikel Tips Mendaki Gunung
Perjalanan diawali dengan menuju basecamp Kledung yang terletak di desa Kledung, Wonosobo. Kami bertiga berangkat dari Yogyakarta menggunakan sepeda motor. Jarak tempuh dengan laju yang santai sekitar dua jam dengan jalur Yogyakarta-Magelang-Wonosobo. Jika menggunakan bus, maka naiklah bus jurusan Wonosobo, dan turun di daerah Kledung, tepatnya disebelah restoran Dieng Pass. 


Basecamp gunung Sindoro masihlah sangat rendah karena sangat dekat dengan jalan besar. Basecamp ini juga menjadi markas dari tim SAR yang bernama GRASINDO. Disini sudah ada tempat istirahat, toilet, tempat ibadah, penjualan souvenir, dan makanan.

Sebaiknya sebelum mendaki Sindoro, sediakanlah perbekalan air yang lebih, karena gunung Sindoro miskin akan mata air. Hampir tidak ada sumber air di atas gunung ini. Lebih baik bawa perbekalan makanan segar dari bawah seperti nasi bungkus yang memang sudah disediakan oleh basecamp untuk menghemat air.

Basecamp Gunung Sindoro
Pendakian dimulai

Dari basecamp, kami masih harus menempuh ladang-ladang tembakau penduduk sekitar satu jam sebelum masuk hutan. Terdapat tukang ojek yang bisa mengantarkan kita dari basecamp sampai pintu masuk hutan (watu gede) dengan tarif Rp. 15.000, sebenarnya lumayan menghemat tenaga. Saya sarankan untuk naik ojek saja, karena jalur ladang ini lumayan mengesalkan walaupun jalannya lurus-lurus saja.

Dari Watu Gede kami berjalan memasuki hutan-hutan yang lumayan gelap karena waktu itu kami memulai pendakian pada pukul setengah lima sore. Trek dari Watu Gede sampai ke pos 1 Sibajing tidaklah sulit. Jalannya landai, hanya saja sempit. Di pos 1 kami istirahat sejenak untuk melepaskan dahaga dan menghisap sebatang rokok. 

Setelah segar kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Lagit sudah gelap, dan matahari sudah terbenam. Jalur yang kami ambil adalah yang sebelah kanan, karena jika lurus merupakan jalan buntu. Jalurnya sedikit menanjak, namun masih tergolong relatif mudah.

Dari sini kami harus melewati dua buah bukit. pada bukit yang berikutnya kami melewati jembatan kayu yang terdiri dari tiga kayu yang dijejerkan. Jembatan ini bisa menjadi patokan kami. Suasananya semakin gelap karena jalurnya dikelilingi oleh pohon-pohon lamtoro dan pinus. sekitar jam 8 kami sampai di pos 2, kami beristirahat sejenak. Pos 2 ini berketinggian 2.120 mdpl, sedangkan pos 1 hanya 1900 mdpl. Jadi kami hanya menempuh jarak 220 m. 


Ladang Tembakau warga sekitar Gunung Sindoro
Dari pos 2, kami berjalan kembali menuju pos 3 Seroto. Jalur yang kami lewati lumayan menanjak, perpaduan kerikil dan tanah berdebu lumayan menyulitkan, sehingga kami harus menggunakan slayer kami sebagai penutup hidung dari debu. Kami berhenti sejenak pada sebuah batu yang cukup besar. Katanya batu besar ini dulunya merupakan bekas candi, tapi tidak tahu benar atau tidak sih, soalnya bentuknya juga lumayan simetris. 

Dari batu ini kami naik lagi, hutannya mulai terbuka dan angin malam mulai menerpa kami. berhenti sejenak saja, dingin langsung menjalar. Semakin keatas semakin terbuka, nah saat berada di tempat datar yang cukup luas dan agak terbuka, disitulah pos 3 Seroto berada. Tempatnya bisa menampung belasan tenda.

Disini kami bertemu dua orang dari semarang yang sudah mendaki lebih dulu. mereka sedang mendirikan tenda sederhana atau bivak. Kami disini beristirahat cukup lama, memasak dan ngopi-ngopi dulu bersama dua teman baru ini. Pemandangannya bagus. Karena cuaca saat itu cerah, maka Gunung Sumbing terlihat sangat mempesona walau dikegelapan malam. berjalan ke arah jurang, kita dapat melihat lamu-lampu kota wonosobo berkerlap-kerlip. 

Chef Narto kebanggaan kami
Waktunya mendirikan tenda

Kami kembali melanjutkan perjalanan lebih keatas lagi. Jalur dari pos 3 ke atas sudah mulai sulit didaki karena lumayan curam, berbatu, berkerikil, serta berdebu.

Setelah memanjat sekitar satu jam, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat datar sebelah kiri kami. Sebenarnya lokasinya tidak terlalu jauh dari pos 3, hanya saja treknya lumayan terjal.

Tenda didirkan, kayu bakar dikumpulkan, dan api unggun dinyalakan. Nikmatnya ngopi sambil ngobrol ngalor-ngidul sembari memandang gunung Sumbing.  Pukul dua belas malam kami terlelap. Subuh bangun, kemas-kemas, dan ngopi dulu, tidak lupa foto-foto sunrise dulu. 

Suasana pagi dari lokasi camp.
Ketemu pendaki ekstrim

Jalan semakin terjal namun lumayan teduh karena dikelilingi oleh pohon lamtoro dan tanaman-tanaman perdu. namun hanya sebentar. Setelah itu hutan kembali terbuka, jalannya lebih curam dan sulit. Batu-batu besar mulai bermunculan disekeliling rumput-rumput hijau dan semak-semak belukar. Pohon-pohon lamtoro tampak berdiri jarang, sesekali hanya satu batang pohon saja. 

Pemandangan ini sungguh eksotis, bayangkan padang rumput, dengan batu-batu besar dan pohon kurus tinggi yang berdiri sendiri, sungguh beautiful! sayangnya jalannya menanjak. Puncak-puncak bayangan mulai terlihat, dimana saat kita melihat keatas, tampak ujung dari tanjakan yang setelah kita naiki ternyata masih ada tanjakan lainnya. Dari puncak bayangan satu ke yang lainnya jalurnya sungguh terjal. Lumayan menguras tenaga. Disinilah air sangat dibutuhkan. 


Puncak bayangan yang melelahkan.
pada saat kami sedang ngos-ngosan mendaki, kami menjumpai tanah datar yang ternyata telah berdiri tenda darurat (sangat darurat) disitu. Kami berhenti untuk istirahat sambil bertanya-tanya apakah di tenda tersebut ada orang atau tidak.

Tenda tersebut (kalau saya bilang sih bukan tenda) hanya dibuat dengan memanfaatkan mantel kelelawar, kayu sebagai tiang, dan matras sebagai alasnya. Mungkin karena mendengar suara berisik diluar, si penghuni tenda tersebut keluar dan akhirnya kami saling menyapa. Dia hanya seorang saja, dari Bekasi, perbekalannya sangat minim, tidak membawa jaket, dan hanya bercelana pendek, edaaaan!. 

Setelah bercerita, ternyata tadinya mas-mas ini yang berama Didi berencana trekking tanpa ngecamp untuk naik ke puncak, namun apa daya, jalurnya begitu terjal, sehingga mas-mas ini harus berhenti karena kelelahan yang luar biasa. Hari ini dia berencana untuk turun saja karena sudah tidak kuat, namun setelah kami bujuk akhirnya dia mau melanjutkan perjalanannya kembali. 

Menuju puncak Sindoro

Perjalanan kami lanjutkan setelah sebelumnya ketambahan satu personel. Ditengah jalan tiba-tiba mas Didi muntah-muntah, mungkin akibat semalam tidur didalam tenda darurat tanpa jaket dan bekal yang minim sehingga dia masuk angin. Kami istirahat sebentar sambil mengobati Didi. Setelah lumayan baikan, kami naik lagi.

 Jalurnya sungguh sangat berat, terjal dan terbuka, sehingga panas matahari begitu menggnaggu perjalan kami. Pohon-pohon edelweis berada disekeliling kami, memandangi kami dengan rasa iba, hehe. Pemandangannya lumayan indah, menengok kebelakang ada gumpalan-gumpalan awan dan sosok raksasa gunung Sumbing. 


Alam yang indah tak henti-hentinya menyemangati pendakian ini
Setelah melewati hutan edelweis, kami masih harus naik lagi, terdapat pohon-pohon edelweis yang lumayan tinggi, sehingga dapat dijadikan tempat berteduh. karena saya capek, saya berhenti agak lama sambil menikmati pemandangan alam bersama Didi, sementara dua orang teman saya berangkat duluan.

Saat kami berdua tengah istirahat, dua orang dari semarang yang ngecamp di pos 3 datang dengan enteng dan ringannya, sambil menyapa, mereka mendahului kami. Cepat benar mereka, memang kalau tubuhnya kurus dan langsing , mendaki jadi lebih gampang ya? tidak seperti saya yang lumayan kepayahan karena timbunan lemak ditubuh lumayan banyak.

Puncak Gunung Sindoro
Akhirnya, puncak!

Pendakian menuju puncak akhirnya berhasil setelah nafas ngos-ngosan setengah mati. Puncak tidak lebar, hanya memanjang mengeliling kawah yang lumayan dalam. Kita bisa turun kedalam kawah yang cukup lebar sambil menikmati aroma belerang yang keluar dari asap didalam kawah. 

Kawah ini pada musim hujan akan terendam oleh air sehingga membentuk danau kawah yang dapat kita minum airnya, namun sayang kami mendaki pada musim kemarau, sehingga tidak berkesempatan melihat danau kawah tersebut.Terik matahari sangat menyengat, panasnya ngga nahan!.

Dipuncak kami masak-masak dulu , puas-puasin foto-foto, puas-puasin menikmati pemandangan yang luar biasa indah, dan puas-puasin perjuangan kami (khususnya saya) yang lumayan berat ini. 

Dari puncak, jika kita menghadap ke arah selatan maka akan tampak gunung Sumbing yang kelihatan megah, sedikit kearah timur maka akan tampak gunung merbabi dan merapi di kejauhan.sungguh menakjubkan! puncak gunung selalu menampilkan pemandangan dan kepuasan batin tersendiri bagi para pendakinya.

Setelah puas, kami turun dengan hati gembira. Hati-hati saat turun karena jalannya merupakan campuran kerikil, debu, dan pasir sehingga jika kita lengah, bisa-bisa kita tergelincir.

Kawah Sindoro, dengan penunggunya berpose genit ;)
Fact : Gunung Sindoro - 3.136 m.dpl, setidaknya ada tiga nama yang dikenal baik oleh masyarakat, Sindoro, Sundoro atau Sendoro. Adalah termasuk dalam jajaran gunung berapi yang mempunyai bentuk kerucut dengan tipe Strato. Dari kejauhan nampak seperti dua saudara kembar antara Sundoro dan Sumbing, berdiri kokoh di batas Kabupaten Temanggung sebelah barat dan sebelah timur kota Wonosobo. Diantara keduanya, dipisahkan oleh pelana Kledung (1.405 m.dpl) yang melintasi jalan raya, menghubungkan Wonosobo dengan kota Magelang.


Gunung Sindoro mempunyai Koordinat/ Geografi pada 7° 18'LS dan 109° 59.5' BT dan memiliki areal Kawasan Hutan cukup luas yang di kelola oleh PERHUTANI Wonosobo (772 mdpl) dan Temanggung. Berada di puncaknya, kita bisa melihat pemandangan disekitarnya, bagian lereng gunung ditanami hamparan kebun teh yang mengelilinginya sehingga menjadikan lereng sindoro terlihat hijau sepanjang tahun.


Di bagian timur dari puncak datar seluas 400 x 300 m terdapat kawah kembar besar berukuran 210 x 150 m, sedangkan dataran Segero Wedi, Banjaran, di bagian barat dan utara, adalah sisa dari kawah utama dan sekunder. Kerucut dan kawah parasit ditemukan di lereng barat daya dan timur laut dan di kaki tenggara. Beberapa ratus bukit di kaki timur laut menurut Taverne dan van Bemmelen merupakan sisa erosi dari suatu longsoran tanah sebelum tanah sebelum sejarah atau dari lahar.


Berikut ini merupakan peta jalur pendakian gunung Sindoro (klik biar gede) : 


Tips Fotografi Landscape Saat Traveling


Helo sobat, di postingan ini saya akan berbagi beberapa tips dalam melaksanakan fotografi landscape. Tips ini diberikan oleh Mister Robert Caputo, selaku fotografer dari media National Geografi sebagai panduan singkat para fotografer pemula dalam melakukan hunting foto landscapenya. Simak baik-baik wejangan dari mister,

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca