Januari 15, 2016

Melihat Kepercayaan Marapu di Kampung Adat Manola, Tena Teke, Sumba
Dataran tinggi Wewewa di Sumba Barat Daya menyimpan sejumlah ke eksotisannya tersendiri. Alam yang hijau dan alami berbaur dengan misteriusnya sebuah kampung adat yang bernama Manola, di Desa Tena Teke, Kecamatan Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya.

Untuk menuju ke kampung adat Manola, Jika berangkat dari Tambolaka bisa melewati jalur utama Tambolaka-Waikabubak (Sumba Barat) dengan jarak sekitar 30 km.

Kunjungan kali ini, kami full team, sepuluh orang dengan motor sewaan mendaki bukit-bukit terjal membelah hutan sampai terseok-seok di jalan pengerasan yang belum keras sama sekali. Alhasil, yang mbonceng harus turun karena jalannya sangat eksentrik.

Kuda sedang merumput di dekat kubur batu.

Setelah melalui jalan pengerasan setidaknya dua kilometer itu, kami disambut oleh deretan kubur batu dengan beberapa ekor kuda yang sedang merumput. Di belakang kubur batu, atap-atap rumah berbentuk kerucut terlihat menyembul sebagai latar belakangnya.

Anak-anak berlarian malu-malu menghindari kedatangan kami. Orang tua menyambut dan menyalami kami sambil menanyakan maksud kedatangan, dari mana gerangan kami berasal, dan lain sebagainya.

Baca juga: Potret Kehidupan Masyarakat Sumba - Sebuah Asa Ditengah Keterbatasan

Acara penyambutan tersebut berlangsung sampai kedalam rumah ketua adat. Kami disuguhi kopi khas dari Wewewa yang rasanya mantep dan juga sepiring ubi. Kopinya mempunyai rasa earthy sebagaimana umumnya rasa kopi robusta.

"Natara" Tempat penyembelihan hewan / pengorbanan yang berada di halaman rumah.

Kepala Suku bercerita bahwa dalam bahasa lokal, “Manola” berarti “sekelompok yang berpindah-pindah”. Legenda Manola menyebut bahwa leluhur mereka berkali-kali berpindah tempat untuk mencari tempat tinggal. Perpindahan ini disebabkan oleh kebutuhan untuk dekat dengan sumber daya alam penunjang kehidupan, serta mencari tempat strategis dalam rangka pertahanan perang antar suku. Hingga pada akhirnya diputuskan mereka tinggal di lokasi, dimana saat ini masyarakat Manolamempertahankan kekayaan budayanya.

Terdapat 42 rumah adat dan ratusan kubur batu di kampung ini. Terdapat juga beberapa pusaka keramat seperti parang dengan gagang gading, tambur dari kulit manusia, patung-patung keramat, dan benda pusaka lainnya.


Pada beberapa bagian sudut desa juga terdapat tempat-tempat yang dikeramatkan. Salah satunya adalah sebuah tempat pengorbanan atau penyembelihan hewan yang oleh masyarakat sekitar dinamakan 'Narata' berada tepat ditengah-tengah perkampungan.

Totem atau patung pemujaan kepercayaan Marapu di Sumba.

Beberapa totem atau patung pemujaan juga terlihat dibawah sebuah pohon yang rindang. Masyarakat kampung adat ini masih memelihara kepercayaan Marapu yang membuatnya menjadi salah satu atraksi wisata budaya yang unik.

Selesai ngopi, kami mengelilingi desa dan melihat-lihat kehidupan disini. Pada beberapa rumah terlihat nona-nona manis dan juga mama-mama cantik sedang menenun menggunakan mesin tenun tradisional dari kayu di teras rumah panggung mereka.

Baca juga: Danau Weekuri - Hidden Paradise Pulau Sumba

Anak-anak bermain-main sambil membuntuti kami dari belakang dan berpose malu-malu saat diajak berfoto. Dibawah rumah terdapat ternak seperti babi dan ayam. Sementara kerbau dan kuda terlihat sedang merumput liar.

Rumah dan kuburan berbaur akrab seperti tidak ada pembatas bagi yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Tidak heran jika orang sumba sangat bersifat kekeluargaan. 

Anak-anak kampung adat yang malu-malu saat di foto

Hari sudah hampir menjelang malam dan kami pun berpamitan dengan segenap perangkat kampung adat yang ada dengan tidak lupa membawa beberapa kain tenun sebagai cindera mata.

Perjalanan pulang kami disuguhi dengan pemandangan matahari terbenam yang cukup indah di salah satu jalan di atas bukit sehingga kami sempatkan untuk berfoto-foto dahulu.

Kalau kalian berkunjung ke Sumba Barat Daya, kalian harus berkunjung kesini dan menikmati kebudayaan dan keramahan yang tidak bisa kamu dapat di manapun juga.

Foto bersama para tetua di Kampung Adat Manola

Seorang lulusan Sarjana Pendidikan yang sampai sekarang ijazahnya belum terpakai. Punya hobi bepergian tapi lebih suka rebahan di kamar. Oh ya, ayo saling follow sosmed di bawah ini cuy!.

6 comments:

  1. sumpah keren abizzzzz......
    kubur batu itu apakah kuburan maksudnya?? atau itu adalah batu yang terkubur??
    alam Indonesia memang super indah ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kuburan tapi dari batu yang besar besaaar

      Hapus
  2. terima kasih info lengkapnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama sama , terimakasih sudah berkunjung ke blog saya ya

      Hapus
  3. Maaf saya orang asli Manola mama saya dari Kampung Manola di Kerewano atau ujung kampung, perbaikan kata Narata yang benar Natara atau halaman rumah.Trims sudah berkunjung di Kampung kami.Martin Solo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap bang Martin, teirmakasih atas koreksi dan tambahan informasinya.

      Hapus

Contact Me!

Phone :

+628213572XXXX

Address :

Kadang di Purwokerto, kadang di Jogja
, kadang juga di Pulau Batam

Email :

sagara.abe@gmail.com