Januari 25, 2021


Siapa sih yang nggak suka baca buku? Banyak! hahaha. Faktanya, sebuah riset yang dilakukan oleh Central Connecticut University dengan judul World's Most Literate Ranked pada maret 2016 menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat ke 60 dari 61 negara. Tepat berada di bawah Thailand (urutan 59) dan di atas Bostwana (urutan 61). Sungguh sebuah prestasi.

Memang tidak bisa disangkal lagi bahwa minat baca masyarakat kita masih begitu rendah. Rendahnya minat baca ini sangat berkontribusi terhadap maraknya hoax atau berita bohong, karena dengan minat baca yang rendah, maka minat melakukan riset terhadap kebenaran sebuah berita juga hampir nihil. Boro-boro riset, sekedar kroscek pun enggan.

Menurut Syarifudin Yunus, pegiat literasi sekaligus Pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka, rendahnya budaya literasi masyarakat akan memiliki dampak yang fundamental yaitu pendidikan yang tidak berkualitas, tingginya angka putus sekolah, merebaknya kebodohan, meluasnya kemiskinan, meningkatnya angka kriminalitas, rendahnya produktivitas kerja, serta rendahnya sikap bijak dalam menyikapi informasi.


Bukan masalah minimnya jumlah perpustakaan di Indonesia

Ada yang bilang bahwa minat baca masyarakat Indonesia erat kaitannya dengan ketersediaan sarana prasarana seperti taman bacaan serta perpustakaan umum yang jumlahnya masih sedikit. Faktanya mungkin tidak demikian.

Data dari perpusnas.go.id menyatakan bahwa jumlah perpustakaan di Indonesia justru menempati peringkat ke-2 terbanyak di dunia dengan jumlah total 164.610 perpustakaan. Kita kalah dari India yang menempati peringkat pertama dengan jumlah perpustakaan 323.605, berada di atas Rusia dengan 113,440 perpustakaan dan China di urutan keempat dengan 105,831 perpustakaan. Keren bukan?

Jumlah total perpustakaan yang ada di Indonesia itu terbagi menjadi empat jenis perpustakaan. Yaitu perpustakaan umum yang terdiri atas 42.460 perpustakaan, perpustakaan perguruan tinggi  sebanyak 6.552, perpustakaan khusus sebanyak 2.057, dan yang paling banyak adalah perpustakaan sekolah sebanyak 113. 541.

Jumlah perpustakaan yang ada memang bisa dikatakan belum sebanding dengan jumlah sekolah serta populasi masyarakat Indonesia. Tetapi itu tidak bisa menjadi alasan rendahnya tingkat literasi kita. Lihat saja China, dengan populasi lebih dari 1 milyar dan jumlah perpustakaan dibawah kita, tingkat literasinya kok mampu menempati posisi ke-39 menurut riset dari Central Connecticut University di atas?

Sungguh sebuah ironi, dimana jumlah perpustakaan kita terbanyak kedua di dunia, tetapi minat membacanya justru menempati peringkat kedua dari belakang.

Perpustakaan yang tidak ada pengunjungnya sama saja dengan sebuah gudang yang penuh buku. (foto: pustakawansolo.blogspot.com)

Kenapa bisa begitu?

Hal ini mungkin dikarenakanan perpustakaan-perpustakaan umum tampil tak lebih sebagai dekorasi dan kepatutan saja dengan jumlah pengunjung setiap harinya yang bisa dihitung jari. Sementara perpustakaan sekolah dan kampus hanya dikunjungi untuk mengerjakan tugas. Sangat jarang yang datang ke perpustakaan dengan niat cuman ingin baca buku, apapun itu. 

Jumlah perpustakaan yang ada juga tidak sebanding dengan jumlah pustakawan sebagai tenaga pengelola. Berdasarkan data yang didapat pada hasil Rekerpus Perpusnas 28 Januari 2020, jumlah tenaga pustakawan yang ada di Indonesia hanya sekitar 3.596 orang. Itu ibarat satu orang pustakawan harus mengelola 46 perpustakan. 

Minimnya pustakawan ini menyebabkan perpustakaan hanya berfungsi sebagai 'gudang' buku saja. Sehingga minim upaya aktif jemput bola untuk mendorong masyarakat membaca lebih banyak buku. Padahal salah satu fungsi dari pustakawan adalah menciptakan program-program untuk mendorong minat baca masyarakat.

Mungkin upaya yang paling dikenal masyarakat adalah program perpustakaan keliling. Tapi, apakah itu cukup?



Budaya membaca seharusnya dimulai dari keluarga

Bukan rahasia lagi bahwa kita sebagai negara berkembang masih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi lebih dari apapun. Hal ini tercermin dari masyarakat Indonesia yang masih berpikiran "lebih baik nyari duit daripada baca buku". Pikiran yang nampaknya realistis ini telah membudaya dan sangat berkontribusi terhadap kecilnya minat baca masyarakat.

Mahalnya harga buku juga ikut menjadi faktor yang membuat masyarakat, khususnya kelas menengah kebawah enggan baca buku. Mungkin mereka akan berkata, "Mending buat beli makan, daripada buat beli buku".

Solusi untuk masalah klasik sosial-ekonomi ini sebenarnya adalah perpustakaan. Tetapi kembali lagi, jika tidak ada yang mendorong masyarakat untuk membaca, maka walau ribuan perpustakaan didirikan pun tidak akan ada gunanya.

Budaya membaca buku seharusnya dimulai dari keluarga. (foto: kemendikbud.go.id)
Saat sebuah keluarga tidak mempunyai –atau lebih tepatnya tidak mau– meluangkan waktu untuk membaca, maka lingkungan di dalam keluarga tersebut memiliki peluang yang sangat kecil untuk memiliki budaya membaca. Sebaliknya, orang tua yang gemar membaca biasanya akan menurunkan kegemarannya tersebut kepada anak-anaknya sehingga terciptalah sebuah budaya membaca di dalam keluarga.

Hal ini juga berlaku di sebuah masyarakat, taruhlah dalam lingkup yang paling kecil yaitu Rukun Tetangga atau RT. Ketika disebuah RT terdapat taman bacaan yang diikuti oleh partisipasi masyarakat untuk membaca, maka hal tersebut akan berpengaruh positif terhadap minat baca masyarakat di lingkungannya. Membaca dapat menjadi sebuah tren baru di masyarakat, seperti halnya fashion. Karena manusia cenderung akan meniru apa yang dilakukan oleh lingkungannya.

Gawai mengalihkan duniaku

Dulu kita menghabiskan waktu dengan membaca, sekarang sebagian besar dari kita menghabiskan waktu dengan menatap layar smartphone, berjam-jam.

Memang ada yang membaca e-book atau berita-berita terkini, tapi sebagian besar pasti membuka sosial media dan bermain mobile game. 

Menurut data dari PBB, pengguna aktif sosial media diseluruh dunia per tahun 2020 adalah sebesar 3,8 Milyar. Tentunya itu bukan angka yang sedikit, karena hampir separuh dari populasi manusia yang ada di dunia. Sementara itu, rata-rata waktu yang dihabiskan untuk sosial media adalah 144 menit per hari.

Per tahun 2020 pengguna sosial media hampir mencapai separuh populasi manusia yang ada di dunia. (sumber: wearesocial.com)
Gawai beserta kemutakhiran teknologi internet memang sangat membantu kita dalam berkomunikasi, mencari informasi, serta menghibur diri. Tetapi gawai juga menjadi sumber distraksi utama minat baca kita. 

Kecepatan dan kemudahannya semakin membuat kita menginginkan hal-hal yang serba instan. Contohnya, alih-alih membaca keseluruhan sebuah berita, kita justru lebih sering membaca judulnya saja dan menyimpulkannya sendiri tanpa mengerti isi dari keseluruhan berita yang sebenarnya.

Mudahnya mencari informasi apapun di internet juga turut mempertajam laju grafik malas membaca masyarakat kita. Tinggal ketik apa yang ingin di cari di google, dan sejurus kemudian keluarlah seluruh informasi yang kita mau dalam bentuk tulisan kesimpulan, gambar, dan video. Tanpa proses panjang dan berlibet dari yang namanya membaca buku atau artikel-artikel yang relevan.

Sosial media dan mobile game juga menjadi pengganggu utama saat sedang serius membaca buku. Baru berapa menit membaca kita sudah gelisah tengak-tengok gawai siapa tau ada notifikasi. Baru berapa menit membaca, rasanya ingin sekali bermain game. Hal ini pasti sering kalian alami bukan?

Masih ada secercah harapan

Berita-berita menggembirakan ini menjadi secercah harapan bagi masa depan literasi Indonesia.
Rasanya memang sangat pesimistik ketika melihat begitu rendahnya minat baca masyarakat kita. Tetapi, dibalik gelap-samarnya masa depan literasi Indonesia, terlihat masih ada secercah harapan.

Harapan tersebut dimulai dari semakin bermunculannya para pejuang literasi. Mereka adalah para pahlawan yang meluangkan waktu berharga mereka untuk mensosialisasikan gerakan gemar membaca untuk semua kalangan, tanpa pamrih. 

Para pejuang literasi ini bahu membahu secara swadaya mendirikan program-program yang mendorong masyarakat untuk gemar membaca seperti taman bacaan, pojok literasi, perpustakaan jalanan, dll. 

Usaha-usaha 'melek literasi' ini bahkan banyak yang di inisiasi oleh anak muda kritis nan edgy. Bukan tidak mungkin jika nantinya membaca buku akan menjadi sebuah tren dan lifestyle baru bagi masyarakat kita. Apalagi dengan menggandeng sosial media beserta influencernya, efek yang dapat ditimbulkan dari gerakan-gerakan melek literasi ini akan berdampak lebih luas.

Maudy Ayunda, artis favorit saya yang sering posting tentang buku ini dapat mempengaruhi followersnya untuk ikut baca buku.
Secercah harapan lainnya adalah minat terhadap buku dalam beberapa tahun terakhir semakin tinggi.  Hal ini dilihat dari pertumbuhan industri penerbitan dan permintaan nomor Angka Standar Buku Internasional atau International Standard Book Number (ISBN) ke pemerintah.

Pada tahun 2016 kebawah, permintaan terhadap penerbitan ISBN hanya berkisar di angka 30.000 – 40.000 judul buku, tetapi sejak tahun 2017 – 2018 permintaan naik menjadi sekitar 70.000.

Harapan lainnya juga datang dari teman-teman yang sudah membaca artikel ini sampai pada paragraf terakhir. Dengan mengetahui masalah rendanya tingkat literasi masyarakat Indonesia, saya berharap teman-teman pembaca juga dapat ikut serta meningkatkan minat baca masyarakat kita dengan cara yang paling mudah yaitu membudayakan baca buku, koran, majalah, artikel, blog, atau apapun itu. Karena perubahan sekecil apapun dimulai dari diri kita sendiri.

Salam literasi!

22 comments:

  1. Balasan
    1. bosqueeeee, ini pasti bang hendra, bagi bukunya dooong.

      Hapus
  2. saya akui sih, dari saya pribadi aja, yg dulunya hobi bgt baca buku, bahkan novel setebal Harry Potter aja saya lahap, entah knp mulai kendor nih, apakah terpengaruh jg dari minat org2 lain yg menyebabkan saya jd berkurang selera bacanya.. tp setidaknya hobi baca saya msh tersalurkan melalui ngeblog ini.... mungkin lagi gak mute aja utk membaca di masa pandemi ini... skrg hobi saya lg senenngnya nonton film sob...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gakpapa baca blog sob, yang penting baca dan bisa memahami isi dari tulisannya sudah keren bangeet πŸ‘Œ.

      Hapus
  3. kalau aku justru makin ke sini uda ga sempet baca...namun anehnya malah pingin rajin nulis ala ala cerita kayak yang di buku..jadi ibaratnya penurunan minat baca berbanding trbalik dengan menggebu gebunya aku pingin banyak nulis cerita hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walaupun lebih rajin nulis, tapi buat nyari ide tulisan, rujukan, dll, pasti ada lah baca-bacanya kak? Entah itu baca artikel atau blog, gak harus bukuu, Hehe

      Hapus
  4. waduh yang benar saja unesco, tapi walaupun 1 berbanding 1000,kurasa masih terbilang banyak secara jumlah penduduk Indonesia sangat banyak haha

    BalasHapus
  5. Setuju dengan kalimat terakhir, membaca bisa dalam media apa saja, nggak harus buku, koran dan blog juga bisa menjadi salah satunyaa! Bahkan aku pribadi merasa dengan adanya ebook sungguh meningkatkan minat bacaku, aku bisa membaca lebih cepat karena bisa baca dimana saja, kapan saja tanpa harus membawa buku besar dan tebal 😁
    Sayangnya, sebagian orang mudah terdikstrasi kalau membaca via hp, solusi lainnya jika memang mampu dan suka membaca ebook, bisa beli ebook reader.

    Dengan menyebarkan kesukaan kita terhadap membaca juga bisa menjadi salah satu solusi. Aku setujuu! Karena beberapa teman blogger telah kena racun membaca yang sering aku tebarkan 🀭.

    Aku cukup tercengang mengetahui fakta bahwa perpustakaan di Indonesia termasuk terbanyak ke-2. Sayang sekaliii mengingat banyak perpustakaan yang kosong melompong 😭 jujur, waktu aku sekolah, aku termasuk yang jarang ke perpustakaan karena lebih senang main. Baru beberapa tahun belakangan ini suka membaca dan malah jadi ingin menghabiskan waktu di perpustakaan πŸ˜‚.

    Sekarang banyak aplikasi ebook legal juga yang mendukung minat baca masyrakat, contohnya iPusnas dan Gramedia Digital. Semoga lebih banyak orang yang sadar akan manfaat 2 aplikasi ini sehingga minat baca masyarakat bisa meningkat 😁.

    Nice writing, Kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh, rasanya bangga banget pasti ya bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan apa yang kamu lakukan, dalam hal ini membaca. semoga aku juga bisa menginspirasi orang lain seperti kak Lia, hehe.

      Iya, apalagi perpus di kota-kota kecil, sepii banggeeett, pegawainya kerjanya enak, gabut tiap hari, kwkwkw.

      Ipusnas!! suka pinjem buku disini nih, tapi sayang koleksinya belum begitu lengkap sih.

      Hapus
  6. Di Inggris, budaya membaca sudah mendarah daging. Mulai anak muda sampai kakek nenek suka membaca. Nenek - kakek ubanan berkunjung ke toko buku Charity bukan pemandangan aneh. Sopir bus menunggu jam operasi juga menyempatkan diri untuk membaca. terima kasih telah berbagi informasi, Mas Abesagara.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pola pikir kebanyakan manusia inggris mungkin berbeda dengan orang Indonesia yang sukanya kumpul kebo ngopi bareng haha

      Hapus
    2. Iya, di negara maju memang budaya membacanya sangat kuat sekali. Beda dengan negara -negara berkembang macam kita ini. Sama-sama kak Nur>

      Hapus
  7. Setuju, kalo kebiasaan membaca ini harus mulai dr rumah ato keluarga.

    Aku saaaaangat sangat suka membaca mas. Dan ini berkat papa yang udh membiasakan kami untuk mencintai buku sejak bayi.papa yg selalu beli aneka macam buku dulu. Setiap kali balik dr bisnis trip ke LN , yg dibawa pasti buku bergambar, dgn gambar2 tokoh menarik yang bikin anak kecil pasti tertarik. Umur 3 tahun pas sudah bisa baca, baru aku diajak ke toko buku utk milih sendiri buku2yg dimaui. Tiap ulang tahun, kado dari papa cuma 1, ngajakin yg berultah ke toko buku, dan kami bebas beli buku apapun selama kami kuat membawa keranjangnya. Tapi aku dan adekku slalu punya akal, kami saling bantu dorong keranjangnya, jd buku yg kami beli bisa maksimal hahahhaa.

    Di rumah ortuku juga di rumahku yg skr, ada perpustakaan pribadi. Anakku2 juga kulatih utk cinta membaca. Dari kecil aku slalu beliin buku, juga mendongeng utk mereka. Si Kaka yg udah lancar baca aku ksh target baca novel anak2 stiap bulan.

    Kalo aku sendiri, seminggu 1 buku , jadi setahun targetku 54. Dan aku tetapi jadwal membaca per hari itu 3 jam. Buatku ga berat samasekali, Krn aku sesuka itu dengan buku :).

    Kalo bukan kita yang memulai, bukan keluarga, bakal sulit utk membuat anak2 zaman skr untuk cinta membaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh keluarga kak Fanny asik banget kayaknya, pasti koleksi buku diperpusnya udah banyak banget ya! Kereen!

      Busyet, pengen banget bisa baca buku minimal 3 jam, aku palingan kalau weekend doang bisa baca buku lama-lama.

      Hapus
    2. Karena aku udh resign, jd waktu kosongku banyak banget :p. Makanya bisa baca selama itu. Pas msh kerja dulu, boro2 juga mas :D

      Hapus
  8. Setuju banget nih, bahkan untuk membaca sebuah caption yg satu paragraf aja masyarakat indonesia rata enggan, apalagi baca buku.. miris banget deh liat nya.. aku respecr banget sama blogger2 yang belum meninggalkan dunia blog, at least para blogger2 itu minat bacanya masih ada. Karena blogger mau ga mau pasti kerjaa n membaca, setidaknya l, tulisan mereka sendiri

    Salam literasi (juga) hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benerrr, banyak yang suka ke trigger cuman baca judul doang πŸ˜‘. Aku juga respect nih sama kak Tara sudah berkenan membaca artikelku ini, hehe. Trimakasiiiih.

      Hapus
  9. kita lebih suka "ngerumpi" dan desas desus sehingga mudah dikibuli oleh hoax....

    semoga minat baca meningkat di masa depan....

    BalasHapus
  10. Padahal kalau saya liat di grup jual beli buku Facebook, masih rame orang beli buku.
    Di kota saya, udah beberapa kali toko buku akhirnya tutup, dan selalu kelihatan sepi.

    Waktu jaman Twitter lagi booming juga banyak akun twitter berfollower banyak yang bikin buku. Dan sepertinya penjualannya juga pada lumayan.

    Tapi emang bener sih, kebanyakan perpus sekolah dipakai cuma buat ngerjain tugas, jarang banget ada yang rajin datang sengaja buat minjem buku buat dibaca

    Mungkin faktor harga buku yang makin kesini makin mahal juga jadi pengaruh ya. Saya aja sekarang kalau mau beli buku baru mikir-mikir, lebih seneng nyari yang bekas hehe

    BalasHapus
  11. Gw dari kecil malah suka banget baca buku. Sampe koleksi buku banyak banget. Saking banyaknya sampe bingung mau ditaroh di mana. Bisa dibilang tabungan gw ya buku. Termasuk buku-buku yang gw pinjem dari perpus terus gw lupa balikin, wkwkwkwkwk.

    BalasHapus