Tips Mendaki Gunung Bagi Pemula



Buat para petualang atau calon petualang (Newbie, seperti saya) pasti ada kalanya perjalanan kita mengarah ke pendakian sebuah gunung, baik itu karena ada suatu event, ataupun atas ajakan teman-teman petualang kita. Nah, repotnya, buat yang baru pertama kali naik gunung pasti bingung apa yang harus disiapkan dan bagaimana pula menyiapkannya. Sebenernya mendaki gunung itu simple saja persiapannya. Yang kita butuhkan disaat mendaki gunung adalah : Informasi, Fisik , Kesehatan, Keamanan, Kenyamanan.

Informasi
Kenali medan, adat-istiadat, legenda, dan cerita masyarakat setempat. Terutama informasi tentang medan perjalanan. informasi ini akan sangat menentukan persiapan-persiapan kita sebelum melakukan pendakian, seperti apa saja yang harus dibawa, dibutuhkan, dan yang penting-penting. 

Cerita dan adat-istiadat masyarakat setempat juga harus dipatuhi. Biasanya ada pantangan-pantangan tertentu pada sebuah gunung, seperti dilarang berbicara tidak sopan, berbuat yang tidak baik seperti mabok-mabokan, dll. Legenda masyarakat selalu ada benarnya. ingat itu berrooooo..jangan seenak jidatmu. hehehe

Fisik 
Fisik tentunya sangat kita butuhkan supaya kita dapat naik terus sampai kepuncak tanpa halangan yang begitu berarti, misalnya sakit, capek, pegal-linu, dll. Sebaiknya sebelum melakukan pendakian, lakukanlah olahraga untuk stamina seperti lari-lari, jogging, berenang, dll. 

Pemanasan seperti itu sangat penting! saya pernah mengalaminya sendiri, ketika itu saya sudah lama tidak mendaki, dan saat mendaki, saya tidak ada persiapan apapun untuk fisik. Alhasil, capek, pegal, dan ngos-ngosan yang saya dapat, hahaha. Olahraga angkat beban untuk menguatkan beban pada punggung , pundak, dan lengan juga penting, karena saat pendakian, beban utama kita tertumpu pada tiga area tersebut. Kalo fisik sudah dipersiapkan sebelumnya, pasti keatasnya akan lebih lancarrrr jayaaa..

Kesehatan
INI SANGAT PENTING! ingat riwayat penyakit kita, jika ada yang begitu krusial seperti asma (parah) , jantung, dll, sebaiknya pikirkan kembali! Mendaki gunung itu bukanlah mendaki bukit. Saat sudah diatas, kita hanya bisa mengandalkan perlengkapan yang kita bawa dan rekan-rekan seperjalanan kita. Ingat! ga ada Rumah Sakit di gunung brooo. Bawalah obat-obatan secukupnya dan seperlunya, yang wajib dibawa adalah obat-obatan khas penyakit gunung seperti obat untuk demam, kedinginan / hipotermia, oralit / obat mencret, counterpain, dll. 

Keamanan
Nahh, ini nih yang biasanya lalai dari para pendaki. Mentang-mentang udah banyak pengalaman, biasanya para pendaki yang ngakunya pro mengabaikan begitu saja keamanan perjalanan pendakian gunung. Kompas, gps, peta, belati, pisau, senapan, dll. Gunung itu liar, jadi apapun bisa terjadi, mungkin serangan binatang liar, jalur yang menyesatkan, dll. Maksimalkan keamanan sebisa mungkin.

Kenyamanan. Nah, kenyamanan ini sangat penting supaya pendakian kita mulus, lancar, dan meninggalkan kesan perjalanan yang asik. Ga usah nggaya lah kalau mendaki gunung. Gunung itu ngga cocok buat pakaian-pakaian gaul sehari-hari. Juga ga usah sok "anak gunung" banget, apa-apa dibawa, tas ransel yang gedenya minta ampuun, pakaian tebel (pake banget), celana tebel (pake banget), de el el. bawa secukupnya dan seperlunya saja. ga mau kan? keberatan bawaan dijalan? hehe. Perlengkapan adventuring juga sangat mendukung kenyamanan kita seperti tenda, kompor, sleeping bag, matras, dll.

Baca Tulisan Pendakian Saya Mendaki Gunung-Gunung di Indonesia

Umunya yang dibawa dalam pendakian dibagi menjadi dua yaitu untuk Individu dan kelompok.

individu : 
- Pakaian hangat (sweater, jaket gunung / jaket tebal )
- kaos, celana, pakaian dalam, dll
- Obat-obatan pribadi
- tisu basah
- sepatu / sendal gunung
-sarung tangan
-penutup kepala (usahakan yang ikut menutupi telinga)
- alat komunikasi (handphone, dll)
- Charger Outdoor 
- Senter 
- batery
- tas ransel / carrier 
- mantel
- sleeping bag
- makanan cepat saji (mie, sardin, roti, dll)
- Air botolan

Kelompok : 
- tenda
- kompor - nesting
- p3k
- alat navigasi (peta, gps, kompas)
- makanan segar (sayur, telur, daging, dll)
- alat survival
- dll

Demikian, semoga berguna, kalau ada yang kurang, silahkan ditambahkan saja dikolom komentar ya sobb, trimssss :)

Senja di Pantai Pero Kodi, Sumba Barat Daya


Kota kecil yang bernama Kodi (sebelumnya sudah saya ceritakan pada tulisan Danau Weekuri) mempunyai banyak sekali obyek wisata yang belum dikelola dengan baik oleh pemerintah setempat, padahal potensinya sangat bagus sebagai obyek pariwisata.

Kali ini saya mengunjungi sebuah pantai yang bernama Pantai Pero tetapi masyarakat setempat lebih sering menyebutnya Pantai Kodi, sebuah pantai utama dengan pelabuhan kecil dan perkampungan nelayan di pinggirannya.


Sewaktu dalam perjalanan menuju pantai Kodi, saya mendengar suara adzan ashar bergema. Suara adzan adalah sebuah hal yang jarang saya temui di pedalaman Sumba karena islam di Pulau Sumba merupakan minoritas.

Namun berbeda dengan perkampungan ini. Warga kampung nelayan disini rata-rata beragama Islam. Kebanyakan warganya adalah pendatang muslim dari Flores.


Jalan sempit beraspal di akhiri dengan sambutan sebuah menara atau lebih tepatnya sebuah bangunan berlantai dua yang saya kira difungsikan sebagai gardu pandang. Tapi sayangnya saat itu tutup.

Didepan bangunan terhampar padang rumput yang cukup luas, kontras dengan biru air laut yang seolah hanya dibatasi oleh sebuah garis tipis. 


Disini, disore hari, banyak warga yang melakukan kegiatan baik itu sekedar berkumpul, bermain bola, ataupun memadu kasih.

Pemandangan pantai ini membuat saya termenung menikmati indahnya kekontrasan warna antara hijaunya rumput dengan putihnya pasir pantai. Saya memejamkan mata, menghayati lembutnya angin laut menyapu wajah dan desiran suara ombak menerpa karang.

Di ujung sana ada pasir yang sangat luas, tapi banyak begalnya.
Niatnya sih kami mau menelusuri padang rumput sampai ujung dimana disana terbentang pasir pantai yang sangat luas. Tapi saat kami berpapasan dengan seorang nelayan yang tampaknya baru pulang melaut, kami langsung mengurungkan niat tersebut.

Pasalnya, nelayan itu mewanti-wanti kami "kakak, jangan kesana jauh-jauh, banyak perampok, dekat-dekat saja sudah"

Terpaksalah demi keamanan dan keselamatan kami hanya bermain pasir dekat dengan perkampungan penduduk, namun view yang kami dapatkan tetaplah indah, sebuah sunset yang menutup hari itu di Pantai Kodi.


Pelabuhan nelayan berada tepat disebelah pantai ini, hanya dibatasi oleh karang besar. 

Disana sudah banyak warga desa yang melakukan aktifitas sore hari. Boacah-bocah berenang dengan lincahnya sementara ibu-ibu berkumpul dan bergossip ria. Bapak-bapak? mereka terlihat asik menghisap rokok di mulut mereka sambil memandang matahari yang perlahan-lahan tenggelam ke dasar cakrawala.


Pantai Pasir Putih Sadranan & Ngandong di Gunung Kidul



Akhir pekan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, walaupun sebenarnya hari-hari biasa maupun akhir pekan itu sama saja, kenapa? yah...nasib pengangguran. Bingung mau kemana, ke gunung sudah sering, bukit juga lumayan bosen, sekali-sekali pengen juga main ke pantai dengan pasir putih, laut biru, dan karang-karang indah. Saya bergumam pada tembok kos yang cat-catnya mengelupas :


Tembok : Bali?
Saya : mmm.. sepertinya terlalu mainstream,
Tembok : Gimana kalau Lombok? Gili Trawangan? Bikini?
Saya : Boleh...tapi.. (sambil mengeluarkan dompet tipis yang isinya kembang-kempis) sepertinya impossible bro...
Tiba-tiba laptop menyela percakapan kami
Laptop : Berooh..berroohh..nih ada pantai cakep di Gunung Kidul loh, pasirnya putih...
Saya & Tembok : Beneran tuh? terus...
Laptop : Lautnya biru...
Saya & Tembok : Terus..terus..
Laptop : Karangnya lumayan bagus, dan katanya..
Saya & Tembok : Katanya apa cuuuukk???
Laptop : Bisa buat snorkeling loh!
Saya & Tembok : WOW!! Berangkatt broohhh!!

Tak menunggu lama, Saya telepon (baca : sms) temen perempuan (baca : girlfriend), and she said agree dengan begitu antusiasnya, maklum, jarang liburan dia. Tapi, betewe, pantai manakah yang dimaksud bro laptop? berhubung bro laptop sudah shutdown, sedangkan bro tembok itu is not responding, so the only way i can do is menanyakannya pada bro henpon yang notabene masih saudaraan sama bro laptop, dan setelah bro henpon bertelepati dengan bro leptop. Akhirnya kudapatkan sebuah jawaban, pantai tersebut adalah pantai Sadranan, berlokasi di Gunung Kidul, DIY. Bro henpon bahkan memberikan infonya dengan sangat detil sampai ke koordinat GPS lho!.

Koordinat GPS Pantai Sadranan yakni S8°8'44" E110°36'14", terletak disepanjang jajaran timur pantai Baron, yakni setelah pantai Krakal dan sebelum pantai Sundak. Kupacu keledai besiku berangkat dari Yogyakarta hadiningrat yang tentunya bakalan tetap istimewa sepanjang hayat. Waktu pemberangkatan adalah pukul 14:00, kenapa agak sore? karena sejujurnya saya tidak suka berpanas-panasan, plus katanya, pantai kalau di sore hari itu so sweet.

Kudaki Wonosari, Kuturuni Gunung Kidul. Rute untuk pantai-pantai Gunung Kidul tidak menyesatkan kok, Kalau dari arah Jogja, cukup ikuti saja jalan Wonosari sampai ke Kota Wonosari. Setelah alun-alun wonosari atau lebih tepatnya setelah pasar, nanti ada pertigaan ke kanan, menuju arah pantai. Terus ikuti jalan utama sampai menemukan gapura yang bersiap memalak kita sejumlah uang untuk ditukarkan dengan selembar tiket (tiket ini belum termasuk tiket parkir di lokasi utama lho). 

Setelah gapura tiket, jalan lurus adalah arah menuju pantai Baron, kita ambil yang kiri menuju deretan pantai timur yang sepi dan eksotis. Setelah itu kita tinggal pilih saja hendak mengunjungi pantai mana, disetiap persimpangan sudah ada papan penunjuknya, jadi tenang saja.




Sudah lama saya tidak mengunjungi 0 mdpl, dan tampaknya sudah banyak perubahan di sana-sini. Beberapa hotel kecil-kecilan mulai ramai bermunculan diiringi dengan warung-warung yang juga semakin banyak berjejer disepanjang jalan aspal yang saya tempuh. Melewati pantai-pantai kecil dan juga Pantai Krakal, masih jalan lurus terus sampai menemukan papan petunjuk kecil bertuliskan "Sadranan". Jalan berganti dari aspal menjadi berbatu. Di arah berlawanan, seonggok mobil Av*nza tengah terseok-seok dengan muka om-om pengemudinya tampak berkeringat dan sangat serius mengendarai gerobak canggihnya. Sebelum masuk pantai, ada sebuah hotel sederhana yang cukup luas, tampaknya didesain seperti resort dengan bangunan mirip cafe didepannya. Hmmm... tampaknya komersialisasi sudah mulai merambah surga terpencil ini.




Saya parkirkan motor pada tanah yang berpasir, hanya sedikit motor yang parkir disitu, selebihnya dipenuhi oleh mobil-mobil berplat B, D, F dan plat-plat Jawa Barat lainnya. Tampaknya publikasi pantai Gunung Kidul berhasil. 

Seperti yang telah pecinta jalan-jalan ketahui, belakangan ini sosmed-sosmed dan juga beberapa website sudah banyak yang mengupas keindahan dan keeksotisan pantai Gunung Kidul. Bahkan, ada beberapa buku wisata yang secara khusus mengupas semua pantai yang berada di Gunung Kidul. Tak ayal lagi, harga tanah disini kian melambung pesat, dan beberapa investor tampaknya sudah mulai bergerak dengan membangun hotel maupun resort disini.




Pasir pantai Sadranan terhampar tidak begitu luas, berwarna putih, membelakangi beberapa tebing-tebing karang dan dibelakangi oleh karang-karang yang menaungi beragam jenis satwa laut. Karang disini sangat dekat dengan pantai, ombaknya juga tidak terlalu besar, relatif tenang, hal ini dikarenakan spot karang ini dibelakangi oleh tebing karang yang menghalau hempasan ombak, sehingga spot ini bisa digunakan untuk kegiatan snorkeling.

Beberapa Klub pecinta snorkeling sudah membahas potensi pantai Sadranan Sebagai salah satu (bahkan mungkin satu-satunya) spot snorkeling di DIY. Namun sayang, ketika saya tengah asik menikmati semilir ombak dan hempasan angin, seketika itu kenikmatan itu terganggu oleh ulah beberapa anak muda yang tergolong alay tengah mengambil paksa karang-karang indah tersebut, ditumpuk, ditimbun menjadi satu, kemudian mereka pilah yang bentuknya bagus dan mereka masukan kedalam plastik. 

HEY! What the f*ck are you doing?!. Inilah sesungguhnya yang merusak indahnya alam Indonesia ini. Ketidakpedulian yang dikarenakan ketidakterdidikan masyarakat. JANGAN DITIRU! take nothing but picture is not usable in this region, i think...

Disebelah pantai timur Sadranan terdapat pantai Ngandong. Nama-nama pantai di Gunung Kidul hampir semuanya dibatasi oleh tebing-tebing karang. Di Pantai Ngandong terdapat warung-warung dengan meja-meja outdoor yang tampaknya cukup asik untuk menikmati segarnya angin laut sambil menikmati satu biji es kelapa muda utuh. Atau mungkin juga ingin berjemur seperti di Gili Trawangan? bisa banget! ada beberapa kursi tidur yang sudah disiapkan oleh penduduk setempat. 

Ada juga penginapan yang terletak persis di pinggir pantai ini. Pokoknya, akomodasi disini sudah tidak perlu bingung-bingung lagi. Yang penting, satu hal yang harus saya ingatkan buat teman-teman yang pengin kesini, khususnya para wanita, yaitu : jangan pakai bikini yaaaa, disini adatnya masih timur, walaupun letaknya ditengah. Tidak seperti pantai yang ada disebelah timur jauh sana, dimana adatnya malah barat banget.


Well, masih banyak sekali eksotisme pantai Gunung Kidul yang belum saya tuliskan, cooming soon deh ya..

Lihat juga keindahan pantai Sundak

Galeri Foto  :
Pantai Sadranan

Pantai Sadranan

Pantai Sadranan

Sadranan Snorkeling Spot

Pantai Ngandong, a family beach

Sunset Pantai Sadranan

Sunset Pantai Sadranan






Masjid Ceng Ho, Masjid Berarsitektur Oriental di Purbalingga


Bertambah satu lagi masjid yang bentuk bangunannya menyerupai rumah peribadatan orang tionghoa atau biasa disebut klenteng di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Masjid Ceng Ho namanya, bentuknya khas daratan Tiongkok sana dengan dominasi warna merah yang tajam mencolok mata. 

Pertama kali saya melihatnya sudah membuat saya jatuh hati dengannya, namun baru sempat menjejakan kaki dan beribadah didalamnya kemarin. Mungkin bentuk masjid yang paling banyak ragamnya hanya ada di Indonesia saja. Ada masjid bergaya Jawa, masjid bergaya Hindu, masjid bergaya Timur Tengah, masjid bergaya Padang, Masjid bergaya Tiongkok, dan masih banyak gaya-gaya yang lainnya. Sungguh, Indonesia memang negeri yang indah.

Lampion menambah kuat kesan Tiongkoknya
Pelataran parkir masjid Jami' Muhammad Ceng Ho ini cukup luas. orang yang hanya sekilas melihatnya pasti menyangka ini adalah klenteng. Lampu lampion berwarna merah menggantung di tiap sudut masjid. Jendela berbentuk segi delapan khas China dengan kaca warna-warni ikut memperindah fisik bangunan ini. Masjid ini membawa nafas baru di kota Purbalingga Perwira ini. 

Perbedaan yang mencolok dengan bentuk masjid-masjid yang lain membuat warga Purbalingga penasaran dan akhirnya masjid ini banyak yang mengunjunginya. Letaknya yang berada di pinggir jalan, tepatnya di jalan Purbalingga - Bobotsari, di desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet, membuat masjid ini menjadi tempat beribadah bagi para komuter maupun orang-orang yang sedang dalam perjalanan jauh. 

Pilar dengan warna merah dan hijau, khas Tiongkok
Interior masjid Ceng Ho ini juga sarat dengan warna merah. Pilar-pilar penyangganya berjumlah empat dan berwarna merah, senada dengan warna lantainya yang juga merah mengkilap. Pada pintu masuk terdapat empat huruf China, yang artinya mungkin "Masjid Jami' Ceng Ho. Nah, kalau dipintu masuk terdapat huruf China, lain halnya di dalam masjid. Ayat-ayat suci Al'Quran berwarna emas berjejer diatas background merah, sungguh unik perbaduan antara dua kebudayaan ini. 

Bukan kubah, melainkan segi delapan

Indah bukan?
Pembuatan Masjid Jami' Ceng Ho ini awalnya diperuntukan untuk para mualaf yang berada di Purbalingga. Ada sekitar 130 orang muslim Tionghoa yang berada di Purbalingga dan tersebar di berbagai kecamatan. Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 2005 atas prakarsa dari PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia), namun papa tahun 2006 pembangunannya sempat terhenti dan baru pada tahun 2010 kembali dibangun yang akhirnya selesai dan diresmikan pada tanggal 5 Juli 2011.

Sholatlah sebelum engkau disholati

Tiongkok banget!
Perpaduan etnis dan budaya yang ada di Purbalingga ini tidak lepas dari sikap toleransi dan saling menghargai antar suku, agama, dan ras masyarakatnya sendiri. Semoga sikap saling menghargai ini tetap erat sampai kapanpun. Jangan sampai rusak gara-gara beberapa orang bodoh yang tidak tahu apa-apa yang menganggap sukunya dan agamanya, bahkan mungkin rasnya-lah yang paling unggul. Indonesia menjadi Indonesia karena toleransinya, begitu juga Purbalingga. 

Pai-pai di pintu depan masjid
Ingat, satu-satunya niat untuk beribadah adalah niat karena Tuhan Yang Maha Esa, bukan yang lainnya. 

Misteri Bukit Batu Gunung Mendelem Pemalang



Jika kita pergi dari Purwokerto ke arah Pekalongan-Pemalang melewati Karangreja, Purbalingga, atau sebaliknya maka setelah menempuh jarak sekitar 60 km, dan melewati jalanan menanjak dan menurun yang berkelok-kelok, kita akan sampai didaerah belik. 


Baca Juga Tulisan Pendakian Gunung Dengan Pemandangan Paling Indah

Didaerah tersebut akan terlihat sebuah bukit batu besar menjulang tinggi yang dinamakan oleh warga sekitar dengan sebutan watu payung atau gunung Mendelem. Ketinggiannya kurang lebih 1450 mdpal. Gunung tersebut sangat cocok bagi para pemanjat tebing, para layang, dan penyuka hikking dikarenakan pemandangan alam sekitar yang indah dan juga keeksotisan gunung tebing itu sendiri.

Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu



Gunung Lawu berada di di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya berada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Perjalanan menuju gunung Lawu diawali dari Yogyakarta, perjalanan kami menggunakan kendaraan bermotor dengan waktu sekitar tiga jam. Rute dari Yogyakarta adalah Yogyakarta – Klaten – Solo – Karanganyar – Tawangmangu. Basecamp pendakian Gunung lawu ada dua yaitu rute Cemoro kandang yang berada di Tawangmangu, Karanganyar, dan Cemoro Sewu yang berada di Jawa Timur.
Untuk yang baru belajar naik gunung bisa baca artikel Tips Mendaki Gunung
Nama asli gunung Lawu adalah Wukir Mahendra. Menurut legenda, gunung Lawu merupakan kerajaan pertama di pulau Jawa yang dipimpin oleh raja yang dikirim dari Khayangan karena terpana melihat keindahan alam diseputar Gunung Lawu. Sejak jaman Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit pada abad ke 15 hingga kerajaan Mataram II banyak upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu. Hingga saat ini Gunung Lawu masih mempunyai ikatan yang erat dengan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terutama pada bulan Suro, para kerabat Keraton sering berjiarah ke tempat-tempat keramat di puncak Lawu.

Gerbang masuk Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu
Untuk pemberangkatan, kami memilih rute Cemoro Sewu karena Jalurnya lebih cepat namun lebih terjal. Pos retribusi cukup membayar tiga ribu per orang, sedangkan motor kami titipkan di rumah penduduk dengan biaya titip sebesar lima ribu per motor. 

Kami berempat berangkat dari basecamp selepas adzan maghrib, jadi kondisi jalan sudah gelap dan senter merupakan senjata utama kami. Kabut mulai turun dengan dingin yang menembus jaket sampai ke tulang. Maklum saja, gunung Lawu dinobatkan sebagai salah satu gunung ter-dingin di Pulau Jawa. 

Di awal perjalanan, jalan yang kami lalui masih jalan setapak menembus kungkungan pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi didalam gelap. Kunang-kunang menari kesana-kemari. Sudah lama saya tidak melihat kunang-kunang, apalagi di kota seperti Yogyakarta. Saya selalu mempunyai keinginan untuk menangkap kunang-kunang dan memasukannya kedalam botol, alih-alih sebagai pengganti penerangan jikalau baterei senter sudah habis. 

Beberapa penelitian menunjukan kalau disuatu tempat terdapat kunang-kunang berarti tempat tersebut udaranya bersih alias miskin polusi. Saya rasa benar juga, karena udara disini memang sangatlah bersih, sampai-sampai hidung saya perih saat menghirup oksigen di kaki Gunung Lawu ini.

Jalan landai yang kami lalui tidak bertahan lama, karena sekitar satu setengah jam perjalanan dari basecamp jalanan mulai menanjak. Jalanan berbatu dan berdebu menjadi penantang kami. Seperti pada umumnya pendakian gunung, kami harus melewati pematang sawah, lembah dan juga naik turun bukit. Saat berada diatas bukit, terlihat pemandangan kota dibawah, sungguh indah gemerlap cahaya lampu dari atas sini. 

Kami beristirahat menyesuaikan kecapekan kami, jika kami merasa capek maka kami akan beristirahat, tidak terburu-buru. Yang menjadi kendala selama perjalanan ini adalah tidak adanya nama-nama pos-pos pendakian. Umumnya disetiap jalur pendakian tersedia beberapa pos sebagai patokan lama tempuh perjalanan. Namun di Gunung Lawu ini tidak ada plakat nama atau nomer pos, padahal tempat-tempat yagyang bentuknya seperti pos itu banyak sekali. 

Yang membedakan Gunung Lawu dengan gunung-gunung lainnya adalah banyaknya warung disepanjang jalur pendakian, terutama jalur Cemara sewu, karena jalur ini merupakan jalur para peziarah. Namun sayangnya disaat pendakian kami, semua warung tutup, hanya satu warung saja yang buka, yaitu di puncak. 

Gubuk para peziarah Gunung Lawu
Sebenarnya jalur Cemara Sewu ini sudah dibuat tangga-tangga disepanjang jalur, namun kondisinya sudah tidak terawat sehingga banyak yang rusak, selain itu tangganya sangat terjal, sehingga tenaga begitu terkuras, alhasil frekuensi istirahat kami sangat banyak. Setelah hamper 6jam perjalanan, kami sampai di pos 4, tempatnya sangat kecil dan tepat di pinggir jurang. Untung saja tempatnya tertutup oleh tebing dan semak sehingga angin tidak begitu mengganggu kami. Tenda didirikan dan kamipun tidur pulas sampai pagi.
 
Mendekati Puncak Gunung Lawu
Kami tidak begitu antusias untuk menyaksikan sunrise  dari Gunung Lawu ini, jadi kami bangun pukul 8 pagi, tutup tenda, dan mengemasi barang-barang kami terlebih dahulu. Setelah ngopi dan ngerokok, kamipun melanjutkan perjalanan kami semakin keatas. Semakin terjal juga jalan yang kami lewati. Semangat kami berkobar karena semakin ke atas, pemandangan disekitar semakin indah. 

Hal yang kami sesali adalah, mengapa kami mendirikan tenda di pos 4 yang sempit itu, padahal sekitar 45 menit berjalan dari pos 4 maka kami akan sampai di pos 5 yang tempatnya lapang dan dan banyak tumbuh rerumputan yang pastinya bakal membuat kami betah berlama-lama disitu. Tapi ya sudahlah, kami hanya dapat istirahat sejenak disini.

Tanjakan Setan Di Gunung Lawu
Jalan setapak menjulur keatas sampai hilang dari pandangan kami. Pemandangan tersebut selain indah juga agak menurunkan semangat kami, seraya berkata “Bajigur!”. Kami harus melewati satu bukit lagi sebelum sampai di pos terakhir. Kami melewati sebuah petilasan yang sepertinya inilah tujuan akhir dari para peziarah. 

Petilasan tersebut merupakan tempatnya Eyang Sunan Lawu. Tempat bertahta raja terakhir Majapahit memerintah kerajaan Makhluk halus. Disamping petilasan atau makam tersebut terdapat mata air yang katanya mata air keramat. Banyak dari peziarah yang membawanya pulang untuk berbagai keperluan seperti pengobatan, pagar diri, dll. Disekitar petilasan tersebut banyak berjejer warung-warung non permanen dari bamboo/kayu namun sayangnya semuanya tutup. 


Petilasan Sunan Lawu di Gunung Lawu
Terdapat sebuah mata air yang disebut Sendang Drajad, sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 2 meter. Meskipun berada di puncak gunung sumur ini airnya tidak pernah habis atau kering walaupun diambil terus menerus. Air sendang ini dipercaya dapat memberikan mujijat bagi orang yang meminumnya. Juga terdapat bangunan yang berupa bilik-bilik untuk mandi, karena para pejiarah disarankan untuk menyiram badannya dengan air sendang ini dalam hitungan ganjil.

Juga ada sebuah gua yang disebut Sumur Jolotundo menjelang puncak, gua ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam 5 meter. Gua ini dikeramatkan oleh masyarakat dan sering dipakai untuk bertapa. Sumur ini berupa lubang bergaris tengah sekitar 3 meter. Untuk turun ke dalam sumur harus menggunakan tali dan lampu senter karena gelap. Di dalam sumur terdapat pintu goa dengan garis tengah 90 cm. Konon di dalam sumur Jolotundho ini sering digunakan untuk bertapa, dan digunakan guru-guru untuk memberi wejangan/pelajaran kepada muridnya.


Dari petilasan menuju pos terakhir terdapat beberapa bangunan permanen yang ukurannya lumayan besar, hamper menyerupai sebuah aula. Mungkin bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat inap para peziarah. Nah, pos terakhir ini ditandai dengan berdirinya sebuah warung yang bernama “Hargo dalem, Warung Mbok Yem” hanya satu warung ini yang tetap buka sepanjang waktu. 

Yang punya warung ini adalah seorang nenek yang dipanggil Mbok Yem, namun pada saat kami kesana, si “mbok” ini sedang turun gunung, yang menjaga warungnya adalah seorang pria paruh baya yang tampaknya merupakan putra dari Mbok Yem. Seorang nenek-nenek naik-turun gunung dengan begitu mudahnya??? Kami yang masih muda seperti ini saja sudah kepayahan saat naik gunung, benar-benar hebat!


Satu-satunya warung yang berada di Puncak Gunung Lawu
Terdapat padang rumput pegunungan banjaran / Festuca nubigena yang mengelilingi sebuah danau gunung di kawah tua menjelang Pos terakhir menuju puncak pada ketinggian 3.200 m dpl yang biasanya kering di musim kemarau. Konon pendaki yang mandi berendam di tempat ini, segala keinginannya dapat terkabul. Namun sebaiknya jangan coba-coba untuk mandi di puncak gunung karena airnya sangat dingin. Rumput yang tumbuh di dasar telaga ini berwarna kuning sehingga airnya kelihatan kuning. Telaga ini diapit oleh puncak Hargo Dumilah dengan puncak lainnya. Luas dasar telaga Kuning ini sekitar 4 Ha.



Puncak lawu berjarak setengah jam dari warung, menaiki satu bukit terakhir yang lumayan terjal jalannya. Pemandangan dari puncak terlihat kurang sempurna karena tertutup awan, namun kami cukup puas dengan penaklukan ini. Puncak Argodumilah pada saat tertutup awan sangat indah, kita menyaksikan beberapa puncak lainnya seperti pulau - pulau kecil yang dibatasi oleh lautan awan, kita merasa berada di atas awan-awan seperti di kahyangan. 


Baca Juga Catatan Perjalan Mendaki Gunung Sindoro, Merapi, dll.
Bila udara bersih tanpa awan kita bisa melihat Samudera Indonesia. kita dapat melihat pantulan matahari di Samudera Indonesia, deburan dan riak ombak Laut Selatan sepertinya sangat dekat. Sangat jelas terlihat kota Wonogiri juga kota-kota di Jawa Timur. Tampak waduk Gajah mungkur juga telaga Sarangan. Setelah dirasa cukup menikmati puncak lawu, kami turun kembali ke warungnya simbok Yem untuk menikmati nasi pecel ala puncak Lawu dengan segelas teh manis hangat.


Kami turun lewat jalur Cemara Kandang, Jalurnya mudah namun cukup jauh. Jalurnya dibuat melingkar, jadi tidak begitu terjal. Satu hal yang kami sangat berhati-hati di gunung Lawu ini adalah, tidak menyakiti burung jalak yang ada di gunung ini. Hampir sepanjang perjalanan, pasti kami selalu ditemani oleh burung-burung jalak ini, yang menurut mitos merupakan penunggu gunung ini. Burung tersebut katanya akan selalu menemani dan mengawasi kita sepanjang perjalanan. Jika kita menyakiti burung tersebut atau menangkapnya, maka kita akan mendapatkan kutukan. Percaya atau tidak, terserah anda. Hal tersebut masih dapat saya maklumi, mungkin mitos tersebut bertujuan untuk melindungi burung tersebut dari ancaman pemburu liar. Karena larangan yang paling dipatuhi oleh orang Indonesia adalah larangan berbasis pamali atau mitos dan legenda.


Goodbye Lawu, goodbye warung Mbok Yem, goodbye burung jalak.

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca