Juli 13, 2018


Yang ada di depan saya ini merupakan batu nisan dari seorang bayi berumur satu tahun bernama Wilhelmine Hoff lahir 1893, meninggal 1894. 

Mungkin meninggal karena sakit, dan yang jelas orangtuanya pasti lah sangat sedih dengan kepergian anak bayinya itu sehingga untuk mengenangnya dibuatlah batu nisan yang cukup mewah berbentuk tugu kecil yang langsung menarik perhatian saya ketika memasuki area kerkhof ini.

Memasuki gerbang kerkhof ini saya disambut oleh sebuah sumur tua yang kelihatan cukup mistis. Pikiran langsung terbayang akan munculnya makhluk aneh dari dalam sumur tersebut.

Tapi pikiran seram itu segera hilang, karena tidak mungkin juga sih, karena ini kan siang hari dan kuburan ini berada tepat dipinggir jalan kota, di area perkantoran pemerintah, seberang kantor Badan Pusat Statistik Purbalingga.


Kerkhof merupakan bahasa belanda yang artinya kuburan, orang lokal menyebutnya 'kerkop', merupakan sebuah kompleks pekuburan untuk ekspatriat-ekspatriat belanda era Hindia-Belanda.

Batu nisannya besar-besar dengan bentuk yang beragam, ala kuburan di film-film dracula. Kebanyakan dikuburkan di tahun 1900an dan nisannya masih kokoh sampai sekarang.
Baca juga: Seramnya Kuntilanak Dibalik Indahnya Bukit Ayu di Kaki Gunung Slamet
Ini adalah kali kedua saya main ke kuburan ini. Dulu, kuburan ini kondisinya sungguh tak terawat, batu-batu nisan tertutup oleh rerumputan liar. Rata-rata tulisan pada nisan juga tak dapat dibaca karena tertutup oleh debu yang menebal dan berevolusi jadi tanah.

Pohon-pohonnya juga amat rimbun sehingga membuat kerkhof ini terlihat sangat mistis. Orang sini menyebutnya Kerkop Astana Landa, istana masa depan tempat orang-orang be-landa dikuburkan.



Beda dulu, beda sekarang. Kini kerkhof Purbalingga sudah mulai diperhatikan oleh pemerintah. Sudah jauh dari yang namanya serem. Pohon sudah tertata rapi, rumput sudah dibabat habis, dan nama-nama di batu nisan juga sudah dapat di baca.


Ternyata, tidak semua yang dikuburkan disini adalah orang belanda. Ada beberapa nisan yang bernama tionghoa dengan bentuk nisan ala kuburan orang tionghoa.

Kemudian saya iseng mencari-cari barangkali ada nama orang jawa, tapi ternyata tidak ada. Mungkin pekuburan ini termasuk pekuburan 'high class' pada jamannya sehingga tidak ada orang pribumi yang dikuburkan disini (mohon di koreksi bila salah).


Kerkhof bisa ditemukan di kota-kota penting jaman kolonial. Area Banyumas termasuk salah satunya, karena selain sebagai jalur transportasi utama juga berfungsi sebagai lumbung produksi gula tebu, salah satu komoditi unggulan sang penjajah.

Kerkhof yang saya kunjungi ini berada di daerah Kedungmenjangan, Purbalingga dan sudah beralih fungsi menjadi hutan kota.


Banyak orang Purbalingga yang belum tau keberadaan kerkhof ini, jadi kalau kamu orang Purbalingga dan lagi ada waktu luang, sempatkanlah mengunjungi kerkhof Astana Landa ini. Siapa tau dapet wangsit.

Post a Comment: