Full width home advertisement

Jurnal Perjalanan

Opini

Post Page Advertisement [Top]


Pencitraan, sebuah tindakan agar orang lain menganggap kita seperti apa yang kita gambarkan. Tidak cuma berlaku untuk individu pribadi saja, organisasi, perusahaan, dan pemerintah juga melakukan pencitraan. Bahasa lain pencitraan adalah branding. 


Di era digital sekarang ini, kita begitu gampang berinteraksi dengan orang lain, bahkan yang tidak kita kenal sekalipun, sehingga sangat mudah membentuk citra diri seperti yang kita inginkan. Makanya, jaman sekarang ini jangan mudah menilai orang dari luarnya saja.

Mari kita bahas soal pencitraan digital. Jaman sekarang pencitraan digital terbagi menjadi dua; pencitraan visual dan pencitraan verbal. Media pencitraannya saya ambil yang paling hits di kalangan millenial, yakni media sosial.


Kita tahu sudah tahu kalau instagram itu adalah tempat pamer. Pamer foto-foto keren. Biasanya harus ngeluarin modal banyak biar fotonya makin viral. Sementara twitter cenderung murah, isinya ya cuman cuitan-cuitan isi hati pemakainya. Netizen yang tidak mampu membuat citra visual lewat instagram akan beralih ke twitter sebagai pencitraan verbal tanpa modal.


Tanpa modal maksudnya bukan miskin. Walupun di twitter banyak #sobatmisqueen, masih ada kok the real crazy rich, orang kaya (beneran) yang main twitter. Saking kaya-nya, mereka sampai malas foto-foto di menara eiffel buat dipamerin di IG, lha wong mereka bisa kesana tiap hari. Orang kaya mah gak perlu pencitraan 😌. Kecuali kalo mau nyalon #pilkada *eh.


Kubu Instagram biasanya ingin membentuk citra diri yang eksklusif dengan posting foto serba pamer. Padahal itu hasil nabung satu tahun. Eladalah, pas liat postingan orang lain yg lebih WAH langsung cemberut, pindah ke twitter lalu ngetwit "instagram isinya pamer doang".


Baca juga: Nurhadi-Aldo, Segelas Es Cendol Ditengah Gerahnya Kampanye Politik indonesia


Kubu twitter yang biasanya kurang modal buat pamer foto berkelas akan merepresentasikan kekayaan intelektual mereka dengan pemikiran bahwa 'i am what i write'.  Dengan twitter, kita bisa membungkus diri menjadi orang yang humoris, cendekiawan, politikus, budayawan, seniman, bahkan alim ulama. Padahal aslinya....


Tapi ya gak semuanya begitu sih, Banyak juga yang posting 'apa adanya' di akun sosmed mereka, tapi orang yang begini biasanya gak punya sosmed 😓.


Selain instagram dan twitter sebagai platform paling laris untuk pencitraan. Tau linkedin kan? Nah, itu adalah media terbesar untuk mencitrakan jiwa profesionalisme yang sebenarnya tidak terlalu profesional, zona zonk buat headhunter.


What about facebook? Facebook adalah media khusus pencitraan emak-emak (katanya nggak kelas buat millenial). Emak-emak carinya sosmed yang diskonan, buy 1 get 3. Merasa ribet pindah-pindah aplikasi, dan tiap hari hobi mantengin hoax.


But, pencitraan, branding, penggambaran diri, atau apapun namanya jika dilakukan dengan tidak keterlaluan dan dengan tujuan yang positif maka akan sangat bermanfaat.


Pencitraan bukanlah dosa, itu adalah sebuah keharusan jika kita hidup ditengah masyarakat. Asal yang kita citrakan sesuai dengan tingkah polah kita di luar sana.


Dengan kata lain, jika kita adalah orang yang sadar diri, maka dengan sadar pula tingkah laku kita harus mengikuti apa yang telah dicitrakan, harus ada sense of responsibility-nya.


So, pencitraan itu sebenernya penting, tapi jangan jadikan pencitraan sebagai satu-satunya jalan menuju kemenangan mengambil hati orang lain. Jadilah diri sendiri, jadilah apa yang kamu mau until the world recognize you as 'you'.


Ada pepatah millenial yang mengatakan bahwa "Ajining diri soko twitter, ajining raga soko instagram". Kalau kamu pake pencitraan yang mana?



Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

2 komentar:

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib