Selasa, 10 Juli 2018

Krisis Kepercayaan Akibat Pencitraan Digital Generasi Millenial


Pernah ngelamar kerja? Atau mungkin pernah pedekate sama calon gebetan? Pasti kamu tahu lah yang namanya pencitraan. Di CV lamaran kerja kita pasti isinya pencitraan kan? Sedikit banyak pasti mengarang isi CV agar terlihat profesional. Kalau kamu lagi pedekate, pasti sok-sokan jual mahal dan sedikit mempercantik citra diri melebihi realitas.

Itulah pencitraan, sebuah tindakan agar orang lain menganggap kita seperti apa yang telah kita citrakan atau gambarkan. Artis, salesperson dan politisi sangat sering melakukan pencitraan untuk melancarkan kepentingannya.

Di era digital seperti ini, hampir semua orang, termasuk saya, juga melakukan pencitraan karena saking gampangnya kita berinteraksi dengan orang lain, bahkan yang tidak kita kenal sekalipun, sehingga sangat mudah membentuk citra diri yang kita inginkan.

Pencitraan nowadays terbagi menjadi dua; pencitraan visual dan pencitraan verbal. Media pencitraannya saya ambil yang paling hits di kalangan millenial, yakni instagram dan twitter.

Kita tahu bahwa instagram adalah tempat pamer, pamer foto-foto keren, biasanya harus ngeluarin modal banyak biar fotonya makin hits. Sementara twitter cenderung murah, isinya ya cuman cuitan-cuitan isi hati pemakainya. Netizen yang tidak mampu membuat citra visual lewat instagram maka akan beralih ke twitter sebagai pencitraan verbal tanpa modal.

Tanpa modal maksudnya bukan miskin. Walupun di twitter banyak kaum #oldmoneygakngerasain, masih ada kok the real billionaire, orang kaya (beneran) yang main twitter. Saking kaya-nya, mereka males foto-foto di menara eiffel buat dipamerin di IG, wong mereka bisa kesana tiap hari. Orang kaya mah gak perlu pencitraan 😌. Kecuali kalo mau nyalon #pilkada *eh

Kubu Instagram biasanya ingin membentuk citra diri yang eksklusif dengan posting foto yang serba pamer. "I am afford to do this, this is my lifestyle, can you?" Padahal itu hasil nabung satu tahun. Eladalah, pas liat postingan orang lain yg lebih wah langsung cemberut, pindah ke twitter lalu ngetwit "instagram isinya pamer doang".

Kubu twitter yang 'biasanya' kurang modal buat pamer foto berkelas akan merepresentasikan kekayaan intelektual mereka dengan pemikiran bahwa 'i am what i write'.  Dengan twitter, kita bisa membentuk diri menjadi orang yang humoris, cendekiawan, politikus, budayawan, seniman, bahkan alim ulama. Padahal aslinya ya gak tau.

Tapi ya gak semuanya begitu sih, Banyak juga yang posting 'apa adanya' di akun sosmed mereka, tapi orang yang begini biasanya gak punya sosmed 😓.

Oh ada tambahan lagi, selain instagram dan twitter sebagai platform paling laris untuk pencitraan. Tau linkedin kan? Nah, itu adalah media terbesar untuk mencitrakan jiwa profesionalisme yang sebenarnya tidak terlalu profesional, zona zonk buat headhunter.

What about facebook? Facebook adalah media khusus pencitraan emak-emak (katanya nggak kelas buat millenial). Emak-emak carinya sosmed yang diskonan, buy 1 get 3. Merasa ribet pindah-pindah aplikasi, dan tiap hari hobi mantengin hoax.

But, pencitraan, alias membentuk citra diri jika dilakukan dengan tidak lebay maka akan sangat bermanfaat.

Pencitraan bukanlah dosa, itu adalah sebuah keharusan jika kita hidup ditengah masyarakat. Asal yang kita citrakan sesuai dengan tingkah polah kita di luar sana.

Dengan kata lain, jika kita adalah orang yang sadar diri, maka dengan sadar pula tingkah laku kita akan mengikuti apa yang telah dicitrakan di sosmed, harus ada sense of responsibility-nya

So, pencitraan itu sebenernya penting, tapi gak penting-penting amat, jadilah diri sendiri, jadilah apa yang kamu mau until the world recognize you as 'you'.

Satu-satunya pencitraan yang dosa itu pencitraan lewat tiktok. Gak usah tanya kenapa! pokoknya dosa! Dosa besar! Bisa kena azab! Tetetew ~~~

Ada pepatah millenial yang mengatakan bahwa "Ajining diri soko twitter, ajining raga soko instagram". Kalau kamu pake pencitraan yang mana?


0 comments: