Pantai Mandorak - Surga Kecil di Balik Batu Karang

Lanjutan Cerita di Danau Weekuri. 

Setelah kami puas menikmati eksotisnya Danau Weekuri, kami menuju pantai yang sebelumnya kami lewati yaitu Pantai Mandorak.

Tidak ada pos penjagaan, tidak ada portal. Kami tinggal masuk saja. Tidak ada orang selain kami berdelapan. Pantai Mandorak jadi berasa pantai pribadi saja.


Ada sebuah perahu nelayan yang tengah bersandar di atas pasir putih pantai mandorak yang menambah indah pemandangan. Pohon-pohon kelapa di belakang pantai juga seakan menambah dekorasi keindahan pantai ini.

Air laut yang masuk lewat celah diantara dua batu karang membuat ombaknya berhempas agak kuat jadi harus agak hati-hati kalau bermain air karena tarikan ombaknya cukup kuat.


Saatnya bersenang-senang!

Kompak, kami menceburkan diri ke dalam air laut yang berwarna biru kehijauan ini. Kontur pasirnya yang agak landai membuat saya bermain guling-gulingan dari atas sampai jatuh ke air, asik coy! Wes, pokoke terserah sampeyan mau guling-guling mau salto mau kayang, terserah wes, soale mau ngapain aja bakal asik kalau disini.


Paket Pantai Mandorak dan Danau Weekuriini  merupakan paket Combo yang wajib kamu dapatkan kalau berkunjung ke Sumba Barat Daya. Jangan sampai di lewatkan. Pemandangan sepanjang jalan juga bagus, hutan dan sabana, kuda, babi dan anjing. Kita juga bakal melewati kampung-kampung adat dan warganya yang ramah-ramah.


Saran saya, kalau teman-teman mau berkunjung ke Sumba jangan cuma berwisata saja. Coba jelajahi desa dan lingkungan sekitar. berinteraksilah dengan penduduk sekitar. Banyak sekali pelajaran yang saya ambil selama berinteraksi dengan warga sekitar. Jadi, selain berwisata, kita bisa lihat potret kehidupan masyarakat sumba yang sebenarnya.

Jalan-Jalan Malam di Makam Raja Mataram


Hayoo..denger kata jalan-jalan ke makam atau kuburan di malam hari pasti bulu kuduk kalian pada berdiri?? hehe. Tapi makam yang satu ini beda loh dengan makam-makam lainnya yang angker atau dalam bahasa jawa disebut wingit.

Makam Raja Mataram yang terletak di Kota Gede merupakan makam dari Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan, dan orang-orang penting lainnya di Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat.



Sekitar pukul setengah dua belas malam saya memarkirkan motor saya yang ternyata sudah ramai, seperti pasar malam, maklum saja karena malam ini merupakan malam jumat kliwon dimana banyak orang-orang putus asa yang mencari secercah harapan dari sebuah kuburan supaya dapet duit banyak, singkatnya adalah pesugihan.

Di area parkiran terdapat sebuah pohon beringin besar yang kata si tukang parkir usianya sudah ratusan tahun. Saya mendekati pohon beringin itu dan berdiri sekitar lima menit barangkali kejatuhan daun beringin yang gugur.

Menurut mitos, jika ada orang yang kejatuhan daun dari pohon beringin tersebut maka merupakan pertanda baik. Dari situ saya berjalan  menuju pintu masuk yang di apit oleh deretan warung-warung kopi. Yang membuat saya heran, didalam warung-warung kopi itu ada beberapa wanita berpakaian seksi macam yang ada di sarkem.


Begitu melewati gapura pintu masuk saya langsung disambut oleh Masjid Agung Kota Gede dengan bentuk Joglonya. Ada beberapa orang yang tengah tidur di selasar-selasar masjid.

Dari Masjid saya menuju ke kiri, melewati sebuah gerbang Paduraksa yang terbuat dari susunan batu bata merah yang tebal dan terlihat sangat tua. Disitu terdapat sebuah pendopo kecil yang bernama Bangsal Duda yang dibangun sekitar tahun 1644 M oleh Sultan Agung yang diperuntukan bagi para abdi dalem berjaga.

Dari situ saya masih berjalan lagi melewati gapura dan sampailah di tempat para pencari pesugihan tidur. Terdapat satu pondokan dan dua pendopo disitu yang sudah ramai dengan orang-orang yang tidur-tiduran beralaskan tikar.

Diujung terdapat sebuah gapura dengan pintu yang tertutup dan terkunci. Disinilah batas peziarah diperbolehkan untuk berkunjung karena didalam pintu tersebut merupakan makam utama Raja-Raja Mataram dan hanya dibuka pada siang hari dan hari-hari tertentu.

Didepan pintu terdapat segerombolan orang berpakaian serba hitam yang tengah memanjatkan doa. Saya menghampiri salah satu pengunjung disitu dan menyalakan sebatang rokok untuk memperlancar obrolan kami.


Dari obrolan tersebut diketahui bahwa para peziarah sengaja menginap di area makam karena sebuah mitos yang menyatakan jika ada peziarah yang menginap di area makam selama 40 hari berturut-turut maka akan mendapatkan sebuah wangsit atau pencerahaan dari sesuatu yang disebut sebagai arwahnya Panembahan Senopati. Namun kebanyakan peziarah hanya menginap 1-2 malam saja. Ada juga beberapa peziarah yang sudah menginap beberapa minggu di makam tersebut.


Begitulah orang Indonesia, kita masih sangat percaya pada mitos-mitos yang belum tentu benar adanya. Mungkin tujuan utama dari menginap di makam ini pada jaman dulu adalah sebagai sarana berintrospeksi dan meditasi serta mengenang jasa-perjuangan para leluhur yang kemudian karena ketidak tahuan disalah artikan menjadi sebuah perbuatan yang syirik.

Tapi ada sesuatu yang membuat saya heran. Sebelumnya di pelataran parkir ada beberapa mobil mewah, salah satunya sebuah Rubicon. Disini, di area tidur para peziarah, ada beberapa orang tionghoa yang sepertinya adalah pengusaha-pengusaha kaya raya yang mungkin percaya pada mitos tersebut. Hal tersebut membuat akal sehat saya jadi goyah, apakah mitos tersebut benar adanya? wallahualam....


Seramnya Kuntilanak Dibalik Indahnya Bukit Ayu di Kaki Gunung Slamet


Masih di sekitar Purbalingga, jadi mumpung saya lagi mudik maka saya sempatkan untuk menjelajah tempat-tempat yang belum terjamah di daerah Purbalingga untuk menggali potensi-potensi pariwisata di kota Purbalingga ini supaya industri pariwisatanya semakin maju.

Mbolang kali ini,  saya di temani tiga orang ekpslorer Purbalingga yang sudah malang melintang di ranah petualang Purbalingga yaitu Jipeng, Ole, dan Fito. Tujuan kali ini sebenarnya adalah Gunung Kelir yang terletak di kaki Gunung Slamet. Bukan gunung sih, hanya bukit yang terlihat menantang langit dari jalan, membayangi kebun-kebun strawberry disekitarnya.

Malam minggu, sehabis Isya kami berangkat dari Purbalingga menuju Desa Serang, Pratin, Purbalingga. Kalau kalian mau kesini, tempatnya dekat dengan Basecamp Bambangan Gunung Slamet,  tapi Basecamp Gunung Slamet masih keatas lagi.  Jalannya nanjak terus, sesekali ada jalan turunan, sekedar menghibur mesin motor yang sudah meraung-raung. 

Sekitar 45 menit perjalanan dari Purbalingga, terlihatlah deretan pohon pinus dan cemara sepanjang kanan kiri-kanan jalan. Sepi tidak ada orang. 

Didepan terlihat nyala kemerahan dari lentera sebuah warung di antara hutan pinus. Warung itu ternyata lumayan ramai, ada beberapa bapak-bapak yang sedang bersenda gurau sambil sesekali merayu mbak-mbak si penjaga warung, lumayan cantik dan bahenol sih tuh mbak-mbaknya, hehe. Kami hampiri warung itu dan memesan secangkir jahe susu ditemani tempe mendoan untuk mengobati hawa dingin yang menusuk menembus jaket kami..brrr.


Pemandangan dari atas bukit
Sambil menyeruput jahe susu yang kental, kami bertanya kepada bapak-bapak disitu mengenai Arah memulai pendakian Gunung Kelir. Ealah ngga disangka bapak tersebut malah menceritakan cerita-cerita horor mengena Gunung tersebut. “Gunung kelir toli akeh medine mas, yakin, ngono kue sarange kuntilanak” (“Gunung kelir itu banyak setannya mas, yakin, disitu itu sarangnya kuntilanak”), kata bapak itu dengan muka serius dan tangan yang mengacung-ngacung ke arah siluet Gunung Kelir yang tampak dari belakang warung. 

“Tapi nek arep munggah ya ora papa ngonoh, ngko ati-ati aja njagongi kayu mati nang dalan ya, karo aja turonan nang ngisor wit, laju bae pokoke, tapi kie kayane arep udan lho mas” (Tapi kalau memang mau naik ya tidak apa-apa, nanti hati-hati, jangan menduduki kayu mati yang sudah roboh dan jangan tiduran atau duduk-duduk di bawah pohon, pokoknya jalan terus, tapi kayaknya mau hujan ini mas”). Walah, bisa mengendorkan semangat kami ini perkataan bapak-bapak ini. 

Kami masih terus ngobrol-ngobrol mengenai arah menuju Gunung ini dan harus dimulai dari mana, sesekali obrolan politik pun diselipkan sebagai penyegar.



Jahe Susu sudah habis sampai tetes terakhir, dan benar juga, ternyata hujan turun, walaupun Cuma gerimis tapi cukup deras. Kami berpamitan dengan gerombolan bapak-bapak genit yang humoris ini untuk segera menuju ke lokasi awal pendakian. 

Motor kembali melaju, mendaki jalanan aspal yang mulus dengan kebun kobis dan strawberry menggantikan hutan pinus di sepanjang sisi jalan. Disebuah pertigaan yang terdapat satu pohon besar, kami jalan lurus sampai mentok tidak ada jalan lagi. Disitu ada sebuah rumah bercat kuning dengan lampu teras yang lumayan terang, niatnya kami akan menitipkan motor di rumah tersebut.

Kami langsung melangkah menuju teras dan mengetok pintu rumah tersebut. Seorang bapak berkumis lebat muncul dari balik pintu ditemani putrinya yang masih kecil dan imut-imut. Kami mengatakan maksud kedatangan kami sambil minta ijin berteduh sampai hujan reda. 

Cerita horor kembali keluar, si Bapak mengatakan kalau gunung itu memang banyak kuntilanaknya, dan katanya juga medannya sulit, jarang sekali ada yang iseng-iseng ingin naik kesana. Aaaaah tidaaak… Suasana horor seperti diamini oleh rintik hujan yang tak kunjung reda. Dengan pertimbangan yang matang dan saran dari bapak  itu, maka kami putuskan untuk menunda pendakian pada esok harinya. 

Untuk menghabiskan malam, kami menginap di basecamp Bambangan, Gunung Slamet yang hanya berjarak 15 menit dari situ. Di basecamp ternyata banyak pendaki yang baru akan naik Gunung Slamet. Karena sudah kenal dengan si mbok Basecamp, kami langsung dibuatkan kopi hitam, dan langsung menggelar matras dan sleeping bag, ngobrol-ngobrol sebentar dengan pendaki-pendaki yang ada disitu kemudian lanjut tidur.


Tingkatan jenis vegetasi Gunung Slamet yang dengan jelas terlihat dari Bukit Ayu
Paginya ketika fajar baru nampak setengah, kami meluncur ketempat kemarin, memarkirkan motor dan pamit dengan si empunya rumah. Cerita berhantu tentang kuntilanak yang semalam kami dengarkanpun sirna seiring dengan bersahabatnya mentari pagi ini. 

Pendakian diawali dengan menaiki bukit melewati ladang-ladang kubis dan strawberry, sayang strawberrynya belum berbuah. Jalurnya benar-benar masih tertutup jadi kami harus selalu menyibak rerumputan dan semak-semak sepanjang perjalanan. Walau belum ada jalurnya, kondisi medannya cukup mudah untuk didaki karena landai dan tidak terlalu curam. 

Sekitar tiga puluh menit mendaki, kami sampai diatas bukit, dan ternyata bukit tujuan kami masih ada dibaliknya dengan kondisi harus menuruni jurang serta tidak terlihat tanda-tanda jalan sama sekali. 

Karena it’s seems impossible untuk menaiki Gunung Kelir dari sisi ini (dan juga karena sudah malas, hehe) maka kami putuskan untuk cukup mendaki bukit tempat kami berpijak sekarang dan ternyata...Wow! pemandangan di arah timur sangat indah! Matahari menyibak Bukit-bukit barisan dan dua gunung besar di arah timur.

Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing telrihat jelas, padahal jaraknya lumayan jauh! Sementara di sebelah barat, Gunung Slamet menjulang tinggi dengan sangat jelas tanpa tertutup kabut sama sekali. Zona-zona hutan Gunung Slamet pun menjadi tampak sangat jelas! Kami gelar tikar, siapkan kompor dan kopi. Sambil menyeruput kopi dan menikmati pemandangan yang cerah pagi ini serasa mengobati kekecewaan karena tidak jadi  naik Gunung Kelir.


Memandang Gunung Kelir yang sangat curam
Saat turun, kami tanyakan nama bukit tadi kepada bapak-bapak yang kami singgahi rumahnya kemarin malam, kebetulan itu bapak lagi mengurus ladang kobisnya, dan katannya bukit itu gak ada namanya “ya sekarepmu arep dijenengi apa ngonoh, haha”, kami namakan bukit itu dengan nama bukit Ayu, karena menyuguhkan pemandangan yang “ayu” dan juga mbak kunti di atas sana katanya juga namanya “Ayu”, hihihihi.

Galeri :







Air Terjun Eksotis di Curug Sumba, Purbalingga


Tidak saya sangka ternyata di kota kecil Purbalingga yang dikalangan para pelancong hanya dikenal dengan Gunung Slamet, sementara untuk para pebisnis dikenal dengan industri rambut dan knalpotnya terdapat sebuah air terjun atau bahasa daerahnya "curug" yang menurut saya sangat eksotis dan keren abis.

Letak curug ini juga ternyata tidak disangka berada dibawah sebuah jembatan kecil di sebuah desa bernama Desa Tlahab Kidul, Kecamatan Bobotsari.

Sebelumnya saya pernah mencoba kesini saat saya pulang dari Desa Wisata Limbasari dan mendapat info dari penduduk sekitar kalau ada sebuah Curug yang letaknya tidak jauh dari Jalan Raya Bobotsari - Karangreja namun setelah saya kesana teryata zonk! karena sungainya sedang banjir. 


Akhirnya saya kembali kesini dalam perjalanan pulang dari pendakian Gunung Beser untuk sekedar mandi-mandi lucu. 

Berada ditengah areal persawahan, menantilah sebuah Curug indah dengan air yang berwarna hijau karena refleksi lumut dan tanaman-tanaman yang berada diatasnya.

Untuk menuju Curug ini saya harus melewati sebuah jalan tanah sekitar 300 meter dari jalan raya, kemudian motor saya parkir di pinggir jembatan. Dari jembatan saya jalan turun melewati pematang sawah sekitar lima menit dan... inilah Curug Sumba yang keren itu.


Airnya jernih dan segar, namun pada bagian kolam utamanya terlihat dalam karena saya tidak bisa melihat dasarnya. Dasar kolam tersebut mungkin menyatu dengan warna air yang kehijauan tersebut.

Dibagian tebingnya ada sebuah celah gua kecil yang terdapat air mengalir dari dalamnya. Untuk air terjunnya sendiri tidak besar, namun saat banjir bisa menjadi sangat besar dan ganas. Tidak ada orang disini selain saya dan Fito, teman perbolangan saya.


Tidak menunggu lama, langsung saya ceburkan badan berlemak ini kedalam segarnya air kolam Curug Sumba, aiih....rasanya badan ini seperti hidup kembali dari penatnya pendakian Gunung Beser dan panasnya cuaca di siang hari itu.

Buat kamu yang mau mandi di kolamnya dan tidak bisa berenang harus menggunakan pelampung yah, karena dalamnya lebih dari dua meter. Tapi buat yang tidak sempat membawa pelampung bisa berenang dipinggirannya yang airnya dangkal, sama segarnya kok, cuman beda sensasinya saja, hehe.

Curug ini wajib dikunjungi jika kamu berkunjung ke Purbalingga, apalagi jika kamu mendaki Gunung Slamet, pulangnya harus mampir kesini, saya jamin semua penat akan hilang, apalagi lokasinya masih satu jalur dengan jalur menuju basecamp Bambangan.

foto-foto lain :





Camping Asik di Pantai Krakal, Gunung Kidul, Yogyakarta


Weekend kemarin untuk menyegarkan kondisi otak beberapa teman yang sudah lelah bekerja, saya mengajak mereka untuk refreshing. Kasihan melihat muka kusut dan bete mereka karena kerjaan yang numpuk, sementara saya muka kusut karena nyari kerjaan, keren kan?

Tujuannya adalah pantai Gunung Kidul (lagi) karena langsung di pinggir jalan dan tidak repot, begitu sampai bisa langsung mendirikan tenda, hehe.

Berbekal mobil dan perlengkapan camping sewaan kami pun meluncur hari sabtu sore menuju Pantai Krakal. Rute menuju pantai Krakal bisa dilihat disini, lokasinya bersebelahan dengan Pantai Sadranan, hanya dipisahkan tebing karang saja.

Mendekati pantai, semburat sinar matahari menyeruak di sebelah barat atau di sebelah kanan kami. Setelah bayar parkir mobil Rp. 10.000, kami bergegas mencari spot yang aman dan damai.

Ternyata di situ sudah ada beberapa orang yang mendirikan tenda juga, dan beberapa diantaranya adalah segerombolan wanita muda ala ala socialita. Bakal asik nih, kiranya ada seorang gadis yang khilaf masuk tenda kami, haha. Begitu tenda berdiri, kami langsung segera mencari kayu bakar dan apa saja yang kiranya bisa dibakar. Untungnya malam hari ini cuacanya bagus, bintang-bintang terlihat. 

Hari mulai gelap, kami mencoba menyalakan kayu bakar yang tadi kami kumpulkan sementara Diki, teman kami yang mantan seorang barista di sebuah cafe terkenal di Yogyakarta menyiapkan biji kopi dan grinder.

"Esrek..esrek..esrek" suara grinder kopi mulai menggiling biji kopi menjadi butiran-butiran debu di angkasa. Semerbak wangi kopinya amat menyegarkan. 

Api unggun berhasil dinyalakan, kopi Aceh Gayo sudah terseduh dengan aromanya yang semerbak di udara dan alunan suara gitar mengiringi sebuah lagu dari Payung Teduh yang kami nyanyikan dengan buas. Sayup-sayup juga terdengar suara cekikikan gadis-gadis sosialita dari tenda berwarna hijau, mbak sini mbok melu nyanyi karo aku.

Bang Dik, The Barista
Paginya kami bangun jam setengah tujuh, dan seperti biasa, sudah banyak pengunjung di pantai Krakal. Banyak bule juga ternyata. Beberapa warung sudah buka dan juga ternyata di Pantai Krakal ada penyewaan alat snorkeling.

Kami nikmati suasana pagi hari dipantai berpasir putih yang harmonis ini ditemani kopi Aceh Gayo ala Bang Dik. Setelah ngopi, kami menuju ke bukit karang krakal, untuk menikmati pantai dari ketinggian, dan ternyata pemandangannya asoooyy, keren sekali cah! 

Di Bukit ini ada yang namanya Batu Gemuruh. Jadi batu ini bersuara gemuruh beberapa detik sekali karena batu ini bolong dan lubang bolongannya ini tembus sampai ke laut Ketika ombak menabrak bukit karang ini maka suara gemuruh ombak akan teresonansi melewat batu diatas bukit ini.

Kami tidak berlama-lama diatas bukit ini karena panasnya luar biasa. Setelah turun, kami langsung membeli es kelapa muda seharga Rp. 10.000 per orang yang kami nikmati dibawah warung beratapkan sabut kelapa dengan angin yang sepoi-sepoi genit.

Pantai Krakal dari atas bukit
Karena matahari mulai nakal, maka kami putuskan untuk pulang ke Kota Jogja yang sekarang bertambah sumpek dan macet itu. Simple memang, hanya sekedar camping, tapi mampu menyingkirkan pikiran penat setelah bekerja selama seminggu. Coba deh kapan-kapan kalian camping ceria bersama teman-teman, dan jangan lupa ajak diriku juga ya.

It's Me!
Susilo, Sang Wartawan Kompas

Ikan-ikan terlihat saat surut
Nelayan hendak mencari ikan


Melihat Kepercayaan Marapu di Kampung Adat Manola, Tena Teke, Sumba

Dataran tinggi Wewewa di Sumba Barat Daya menyimpan sejumlah ke eksotisannya tersendiri. Alam yang hijau dan alami berbaur dengan misteriusnya sebuah kampung adat yang bernama Manola, di Desa Tena Teke, Kecamatan Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya.

Untuk menuju ke kampung adat Manola, Jika berangkat dari Tambolaka bisa melewati jalur utama Tambolaka-Waikabubak (Sumba Barat) dengan jarak sekitar 30 km.

Kunjungan kali ini, kami full team, sepuluh orang dengan motor sewaan mendaki bukit-bukit terjal membelah hutan sampai terseok-seok di jalan pengerasan yang belum keras sama sekali. Alhasil, yang mbonceng harus turun karena jalannya sangat eksentrik.

Kuda sedang merumput di dekat kubur batu.

Setelah melalui jalan pengerasan setidaknya dua kilometer itu, kami disambut oleh deretan kubur batu dengan beberapa ekor kuda yang sedang merumput. Di belakang kubur batu, atap-atap rumah berbentuk kerucut terlihat menyembul sebagai latar belakangnya.

Anak-anak berlarian malu-malu menghindari kedatangan kami. Orang tua menyambut dan menyalami kami sambil menanyakan maksud kedatangan, dari mana gerangan kami berasal, dan lain sebagainya.

Baca juga: Potret Kehidupan Masyarakat Sumba - Sebuah Asa Ditengah Keterbatasan

Acara penyambutan tersebut berlangsung sampai kedalam rumah ketua adat. Kami disuguhi kopi khas dari Wewewa yang rasanya mantep dan juga sepiring ubi. Kopinya mempunyai rasa earthy sebagaimana umumnya rasa kopi robusta.

"Natara" Tempat penyembelihan hewan / pengorbanan yang berada di halaman rumah.

Kepala Suku bercerita bahwa dalam bahasa lokal, “Manola” berarti “sekelompok yang berpindah-pindah”. Legenda Manola menyebut bahwa leluhur mereka berkali-kali berpindah tempat untuk mencari tempat tinggal. Perpindahan ini disebabkan oleh kebutuhan untuk dekat dengan sumber daya alam penunjang kehidupan, serta mencari tempat strategis dalam rangka pertahanan perang antar suku. Hingga pada akhirnya diputuskan mereka tinggal di lokasi, dimana saat ini masyarakat Manolamempertahankan kekayaan budayanya.

Terdapat 42 rumah adat dan ratusan kubur batu di kampung ini. Terdapat juga beberapa pusaka keramat seperti parang dengan gagang gading, tambur dari kulit manusia, patung-patung keramat, dan benda pusaka lainnya.


Pada beberapa bagian sudut desa juga terdapat tempat-tempat yang dikeramatkan. Salah satunya adalah sebuah tempat pengorbanan atau penyembelihan hewan yang oleh masyarakat sekitar dinamakan 'Narata' berada tepat ditengah-tengah perkampungan.

Totem atau patung pemujaan kepercayaan Marapu di Sumba.

Beberapa totem atau patung pemujaan juga terlihat dibawah sebuah pohon yang rindang. Masyarakat kampung adat ini masih memelihara kepercayaan Marapu yang membuatnya menjadi salah satu atraksi wisata budaya yang unik.

Selesai ngopi, kami mengelilingi desa dan melihat-lihat kehidupan disini. Pada beberapa rumah terlihat nona-nona manis dan juga mama-mama cantik sedang menenun menggunakan mesin tenun tradisional dari kayu di teras rumah panggung mereka.

Baca juga: Danau Weekuri - Hidden Paradise Pulau Sumba

Anak-anak bermain-main sambil membuntuti kami dari belakang dan berpose malu-malu saat diajak berfoto. Dibawah rumah terdapat ternak seperti babi dan ayam. Sementara kerbau dan kuda terlihat sedang merumput liar.

Rumah dan kuburan berbaur akrab seperti tidak ada pembatas bagi yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Tidak heran jika orang sumba sangat bersifat kekeluargaan. 

Anak-anak kampung adat yang malu-malu saat di foto

Hari sudah hampir menjelang malam dan kami pun berpamitan dengan segenap perangkat kampung adat yang ada dengan tidak lupa membawa beberapa kain tenun sebagai cindera mata.

Perjalanan pulang kami disuguhi dengan pemandangan matahari terbenam yang cukup indah di salah satu jalan di atas bukit sehingga kami sempatkan untuk berfoto-foto dahulu.

Kalau kalian berkunjung ke Sumba Barat Daya, kalian harus berkunjung kesini dan menikmati kebudayaan dan keramahan yang tidak bisa kamu dapat di manapun juga.

Foto bersama para tetua di Kampung Adat Manola

20 Tips Sebelum Berangkat Traveling Ke Luar Negeri

Ismir, Turkey, by Meg Mitchell

Jika kamu baru mau bepergian atau liburan ke luar negeri untuk pertama kalinya, mungkin kamu butuh sedikit pencerahan supaya nantinya liburanmu mulus dan lancar tanpa ada masalah. sebagai pemula world traveler ada baiknya kamu terlebih dahulu mengunjungi negara-negara yang dekat-dekat saja, seperti traveling ke Singapore misalnya. Berikut ini 20 tips yang harus kamu siapkan sebelum memulai perjalananmu ke luar negeri.

KEAMANAN & KESEHATAN

1. Cek kesehatan. pastikan kamu dalam keadaan sehat dan tidak ada penyakit beresiko tinggi yang bakal menghantui perjalanan kamu. Pastikan juga kamu mendapatkan vaksinasi yang diperlukan, khususnya jika bepergian ke negara-negara dengan epidemi penyakit yang tinggi.
 2. Bawa salinan passport. Jika passport kamu hilang atau tercuri setidaknya kamu punya bukti identitas kewarganegaraan sehingga akan memudahkan kamu berurusan dengan pihak berwenang seperti kantor keimigrasian setempat.
3. Backup salinan passport kamu. Untuk keamanan tambahan, tinggalkan salinan passport kamu dirumah atau kepada orang yang kamu kenal dengan baik. Salinan passport dalam bentuk hasil scan juga perlu di upload ke internet supaya kamu bisa mengunduhnya kapan saja saat dibutuhkan. Hal ini untuk mengantisipasi jika kamu tidak membawa salinan passport dalam bentuk fisik saat berada di luar negeri.
4. Daftarkan diri kamu ke kedutaan setempat. Pendaftaran atau penginformasian ini bisa dilakukan secara online atau via telepon. Jika ada masalah di negara tempat kamu berkunjung, maka kedutaan setempat bisa dengan mudah menghubungi dan membantumu.
UANG

5. Cek kurs keuangan saat ini. Kurs Rupiah saat ini sedang dalam kondisi yang sangat lemah, menembus angka Rp. 14.000 per dollarnya. Jadi sebaiknya kamu cek dulu kurs rupiah terhadap mata uang tujuan, biar tidak terkejut.
6. Pastikan keberlakuan kartu kredit atau kartu bank kamu. Ini sangat penting karena biasanya kita jarang membawa uang cash dengan alasan repot dan tidak aman jadi kita menggunakan kartu bank atau atm yang bisa digunakan secara internasional. Jika kartu bank tidak berlaku di negara tujuan, maka pastikan kamu bawa uang cash yang banyak.
7. Tukarkan uang dengan menggunakan ATM. Jasa penukaran uang di airport maupun di jasa-jasa penukaran uang lainnya biasanya memberi charge yang tidak sedikit. ATM bisa menjadi solusi karena mereka menerapkan charge yang standar dengan kurs yang terkini.
8. Selalu bawa uang receh. simpan recehan mata uang setempat kamu karena sangat berguna untuk membayar ini itu, dan juga dengan alasan keamanan misalnya supaya saat kamu beli barang di pasar tradisional tidak diincar oleh penjambret yang mengira kamu sebagai traveler kaya karena membayar menggunakan uang yang besar.
9. Hubungi pihak bank. Kadang-kadang bank akan menganggap ada tindak penipuan atau penggelapan jika transaksi kartu kredit tiba-tiba terjadi di Zimbabwe padahal kamu berasal dari Bandung, dan pihak bank akan menutup akun kamu.
10. Cek bea masuk atau keluar sebuah negara. Beberapa negara mengharuskan para pelancong membayar untuk bisa masuk atau keluar dari negaranya. Biaya ini bervariasi dari $25 - $200, biaya ini biasanya tidak dimasukan ke dalam harga tiket pesawat.
Perlu tips rekomended mendapatkan tiket pesawat promo? baca artikelnya disini
RISET
11. Beli tiket duluan untuk tempat-tempat yang ingin kamu kunjungi. Jika kamu ingin mengunjungi wahana wisata seperti disney world, atau ingin berselancar di salju pegunungan alpen kamu bisa membeli tiketnya dulu. Biasanya pembelian jauh hari akan mendapat promo khusus. Dengan membeli tiket duluan juga membuat kamu fokus dan mudah dalam mengatur pengeluaran.
12. Dapatkan panduan tempat yang akan kamu kunjungi. Panduan-panduan ini bisa berasal dari website-website traveler yang telah membahas tempat yang akan kamu kunjungi. Rangkum tips-tips tersebut dan print. Biasanya banyak buku panduan yang bisa kamu download secara gratis dan kamu print sebagai buku pegangan kamu saat menjelajah. Download juga aplikasi smartphone untuk panduan wisata seperti trip advisor, dll.
13. Cari tahu event-event yang sedang berlangsung di negara tujuan. Hal ini membuatmu tidak akan kehilangan momen-momen berharga. Acara-acara menarik seperti pertunjukan, festival, upacara adat, atau kejadian alam. Pastikan juga kamu cari tahu makanan lokal yang harus dicicipi. Kamu pastinya tidak mau meninggalkan sebuah negara tanpa mengalami apa yang membuatnya terkenal kan? 
Elektronik
14. Cek kembali kelengkapan gadget kamu. Jangan sampai ketika sudah berada di negara tujuan charger handphone atau kamera kamu ketinggalan. Bakalan repot jika kamu harus mencari-cari  charger yang sesuai untuk gadget kamu.
15. Bawa adaptor untuk charger. Setiap negara mempunyai jenis colokan yang berbeda-beda. Pastikan kamu membawa adapter yang bisa mengantisipasi perbedaan colokan tersebut
16. Cek voltase barang elektronik kamu . Masing-masing standar voltase setiap negara berbeda-beda, jangan sampai beberapa barang elektronik kamu tidak bisa digunakan karena mempunyai  tegangan di bawah atau diatas standar voltase negara tersebut.
PACKING & BARANG BAWAAN
17. Barang penting harus dibawa kedalam kabin. Jangan taruh barang-barang pentingmu didalam bagasi karena bisa saja terjadi kehilangan tas bagasi. Taruhlah paspor, gadget, uang, dan barang penting lainnya di dalam tas yang kamu bawa kedalam kabin
18. Bawa pakaian tambahan di dalam tas kecil. Pastikan kamu membawa sebuah tas yang bisa dibawa kedalam kabin. Untuk jaga-jaga bila ada masalah terjadi pada tas besar kamu yang ditaruh di bagasi, jadi kamu punya pakaian cadangan sembari menunggu tindak lanjut dari pihak maskapai. 
19. Check limit bawaan maskapai penerbanganmu. Biasanya setiap maskapai punya limit barang bawaan per kilo. Jadi cek kembali berat bawaan kamu apa melebihi limit atau tidak. Jika barang bawaan kamu seabreg banyaknya, maka siapkan uang tambahan untuk chek in bagasi berlebih.
20. Bawa snack atau makan kecil. Bepergian ke luar negeri itu menyenangkan, tapi terkadang selalu timbul masalah kebutuhan perut dimana makanannya tidak sesuai lidah dan kantong atau tidak halal bagi seorang muslim. Keberadaan makanan yang kita bawa bisa menjadi solusi selagi kita mencari tempat makanan yang sesuai.
Segitu dulu tips sebelum berangkat bepergian ke luar negeri, Kalau kamu punya tips lainnya atau jika ada yang perlu di ralat bisa ditambahkan di kolom komentar. 

Menyibak Kabut Gunung Beser Purbalingga


Cuaca sore hari ini begitu buruk. Petir bersahut-sahutan di angkasa. Saya hanya bisa memandangnya dengan pasrah karena acara ngecamp sore ini jadi batal karena hujan.

Sebenarnya saya bersama seorang teman berencana untuk mengeksplor sebuah gunung di Kecamatan Karang Jambu, Kabupaten Purbalingga. Gunung ini terlihat begitu menjulang saat dilihat dari jalanan dan nampaknya belum pernah di eksplorasi untuk kegiatan wisata.

Gunung ini juga terlihat di cerita saya sebelumnya saat saya berada di Desa Wisata Limbasari. Nama gunung ini adalah Gunung Beser.

Camping Asik Di Pantai Sundak Gunung Kidul


Waktu menunjukan pukul delapan malam ketika para bujangan ini gegap gempita sibuk sendiri menata peralatan camping yang harus dibawa. Rencananya kami bertujuh akan mengadakan camping bujangan di pantai Gunung Kidul yang nyaman, aman, dan tenteram. Setelah browsing sana-sini maka ketemulah tempat camping asyik di Gunung Kidul bernama Pantai Sundak. Selesai packing langsung meluncurlah kami dengan mobil sewaan seharga Rp. 250.000 untuk waktu sewa selama 24 jam. 


Perjalanan selama satu setengah jam berlangsung sangat fun dan santai karena disepanjang perjalan kami selalu bercanda, tertawa, dan bernyanyi bersama. Perjanjian kami sebelum berangkat adalah ME-NON-AKTIFKAN SEMUA GADGET kecuali satu untuk keperluan navigasi. Kenapa? karena ngga asik dong kalau fun camp malah sibuk sendiri dengan gadget masing-masing.

Pantai Sundak masih berada dideretan pantai-pantai selatan Gunung Kidul dengan koordinat google maps 8°08'49.1"S 110°36'28.8"E. Tepatnya disebelah timurnya Pantai Sadranan dan merupakan sebuah pantai berkarang. Sesampainya di area pantai tak nampak satu pengunjung pun yang mendirikan tenda disitu padahal ini adalah malam minggu. Hanya ada beberapa pasang muda-mudi yang nampaknya terganggu dengan kedatangan kami. Maaf lho mas mbak kalau kita mengganggu quality time kalian. Kan jadi kentang, hehehe

Letaknya yang berada di pinggir jalan membuatnya tidak repot. Lokasi camping juga berada tepat disebelah mobil, sekalian ngejaga mobil biar aman. Kan ga lucu kalau bangun tidur mobil sewaannya raib. Sebenernya bisa saja sih tidur di mobil atau sekedar gelar tiker, tapi biar lebih greget jadi kami pasang tenda. Singkat cerita, sekitar jam 11 malam tenda sudah berdiri dan api unggun telah berkobar. Kami keluarkan ayam yang sebelumnya kami rebus dulu dari rumah dan diberi bumbu kuning. It's bakar-bakar time!

Setelah sesi bebakaran, berikutnya adalah sesi ngopi sambil cerita seram. Kami bertujuh bergantian menceritakan cerita seram yang ujungnya malah jadi cerita humor dan cerita "malam". Suasana malam itu sungguh mendukung untuk mewujudkan camping asoy ini. Langit berbintang dengan milkyway yang samar-samar terlihat. Angin malam yang syahdu menerpa tubuh kami dan menggoyang-goyangkan bayangan dari api unggun. Yang terpenting untuk mewujudkan camping yang seru adalah suasana keakraban bersama teman kita.


Suara berisik dari luar tenda bertambah keras, saya terbangun dan membuka tenda. Diluar, matahari sudah agak naik, dan disekeliling tenda kami sudah ada beberapa orang wisatawan yang ikut menikmati keindahan Pantai Sundak di pagi hari. Saya menghirup nafas dalam-dalam dan membatin "ini baru yang namanya hidup". Bayangkan, bangun tidur langsung disuguhi pemandangan pantai berpasir putih dengan air laut yang biru dibawah pohon kelapa yang melambai-lambai. Aiih saya jadi semakin bersemangat jadi travel writer.


Air laut sedang surut, saya melihat para pencari hewan-hewan laut dan juga rumput laut sedang beraksi. Mereka dengan semangatnya mencari nafkah dari laut ini sedangkan kami hanya bersenang-senang di laut yang sama. Ironis memang, namun begitulah kehidupan, saling melengkapi. Penduduk sekitar juga semakin meningkat kondisi ekonominya dengan semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung. Mereka yang pagi ini mencari hewan dan rumput laut juga mungkin semakin bertambah penghasilannya, karena permintaan dari pengumpul pasti bertambah untuk memenuhi permintaan wisatawan akan oleh-oleh makanan khas Pantai Gunung Kidul. 

Pagi itu kami lalui dengan berenang-renang asik, bermain pasir, dan susur pantai. Semakin siang air laut semakin bertambah tinggi. Matahari juga semakin bertambah terik. Tepat pukul sebelas siang kami cabut pulang ke Yogyakarta tercinta dengan pemandangan di sepanjang jalan dari arah berlawanan adalah kemacetan panjang bus-bus dan mobil pribadi.

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca