Apakah Tuhan Itu Ada? Sebuah Renungan Dari Buku Cogito Allah Sum!


Saya sudah menyelesaikan membaca buku Cogito Allah Sum! karya Lalu Mohammad Zaenudin. Buku yang amat bagus bagi para pencari tuhan, didalamnya banyak terdapat pertanyaan-pertanyaan tentang ke exist-an Allah. Saya akan membagi beberapa ilmu kepada teman-teman yang telah saya pahami dan mengerti dari buku ini. Bismillah.....


Apakah Tuhan itu ada?

Apakah agama itu hanya sebuah mitos? muncul dari budaya manusia dan berkembang dari waktu ke waktu? Pada awal kehidupan manusia, sekitar 10.000 SM pada awal mencairnya zaman es, tanda-tanda kehidupan manusia mulai muncul. 


Seperti yang dikemukakan oleh teori evolusi Charles Darwin bahwa nenek moyang manusia dulunya adalah sebangsa primata/kera. Dimulai dari zaman paleolitikum, pada awalnya wujud manusia sama dengan kera, hal ini dapat dibuktikan dengan berbagai penemuan fosil-fosil manusia purba seperti pithecanthropus erectus. Jadi nenek moyang manusia dalam agama-agama ibrani yaitu Adam adalah kera? yah disinilah titik pertentangan antara irasional agama dengan rasionalitas ilmu pengetahuan.


Manusia pada pertama kali belum tahu apa itu makhluk halus semacam jin, setan, hantu, dll. karena mereka hidup hanya untuk berburu dan meramu, jadi buat apalah mereka memikirkan hal seperti itu, yang mereka pikirkan kala itu hanyalah bagaimana mengatasi perut mereka yang lapar dengan berburu di alam liar. 


Kemudian pada periode nomaden atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, mereka mulai menemukan ada kekuatan lain yang jauh lebih besar dari mereka, yaitu kekuatan alam, cuaca, adanya binatang buas, serta kejanggalan dan kengerian yang terdapat di alam, hal-hal tersebut membuat mereka menginginkan sebuah perlindungan dari segala ancaman dan bahaya tersebut. 


Saat itulah nenek moyang kita memanipulasi makhluk dan kekuatan supranatural atau kekuatan alam. Akhirnya muncullah kepercayaan animisme. Jadi motivasi awal adalah untuk dapat menaklukan alam ini, bukan takut kepada surga ataupun neraka. Hal ini merupakan pemikiran dari ahli sejarah dan pemikir bernama E. B. Taylor (atheis?)



Selanjutnya orang-orang prasejarah mulai percaya tentang adanya ruh-ruh yang dimiliki oleh setiap benda, seperti pohon, batu, dll. Bahkan sampai saat ini kita masih bisa melihat upacara-upacara yang mengkeramatkan pohon angker dan tua. 

Mereka menyembah apa saja, jadi yang disembah ada banyak, pikiran tersebut melahirkan aliran Dinamisme dalam kepercayaan, yaitu menyembah berbagai roh/ dewa-dewi. Agar mereka bisa memanggil kekuatan tersebut untuk dimintai pertolongan, maka mereka melakukan upacara atau ritual seperti menari, bernyanyi, bertapa, berdoa, dll. Hal tersebut dinamakan religion in action  (agama sebagai perbuatan) olehWallace.



Pada pergeseran masa dan perubahan zaman, manusia mulai menyadari bahwa kekuatan-kekuatan tersebut ternyata sifatnya bervariasi, ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang biasa-biasa saja. 

Ada bebrbagai elemen dan ternyata masing-masing elemen tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangannya seperti air, api, tanah, listrik, cahaya, dll. Nah akibat dari bervariasinya kekuatan tersebut manusia mulai bingung, ada kekuatan lain yang lebih besar dari kekuatan itu sendiri, hal ini dinamakan 'there is god above god'. 


Lalu berdasarkan kenyataan tersebut mereka pun akhirnya sepakat bahwa tuhan-tuhan tersebut mempunyai satu tuhan raja yang paling berkuasa dan menjadi atasan tuhan-tuhan kecil tersebut. Akhirnya dari menyembah banyak tuhan akhirnya mereka hanya menyembah tuhan yang paling tinggi saja. daripada repot mengurus tuhan banyak-banyak.



Hal diatas merupakan pendapat para atheis yang menyatakan tuhan itu tidak ada. Daris kesimpulan uraian diatas berarti bahwa segala macam agama yang ada didunia ini tak lain hanya berasal dari anggapan-anggapan atau pemikiran manusia saja. Tentu saja saya tidak setuju dengan anggapan diatas, ya memang benar agama berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan budaya manusia. 

Seiring berkembangnya kebutuhan manusia dan majunya pemikiran manusia, manusia semakin menemukan kejanggalan dan keajaiban yang amat sangat yang tidak mampu dipikirkan oleh logika, maka berangsur-angsur Tuhan sedikit demi sedikit mulai menampakkan sosoknya serta keagungannya untuk menuntun umat manusia.



Perumpamaan Pedang dan Perisai Untuk Membuktikan BAhwa Tuhan itu Maha Pencipta dan Maha Kuasa

Ada dua buah pertanyaan yang meragukan sifat maha dari Tuhan, yang pertama adalah ,

"Dapatkah Tuhan menciptakan sebuah perisai yang amat sangat kuat sehingga tidak ada satu pedang-pun yang dapat menembusnya, kemudian dapatkah Tuhan menciptakan sebilah pedang yang sangat tajam sehingga dapat menembus perisai yang amat tangguh sekalipun?"



Mari kita hayati sejenak pertanyaan tersebut teman-teman. Pertanyaan tersebut sangatlah menjebak, tuhan pasti bisa membuat kedua-duanya, namun pastilah ada satu yang kalah, dan itu artinya Tuhan bukanlah sang Maha Pencipta karena gagal membuat perisai atau pedang yang paling kuat. setidaknya itu yang dimaksud oleh pertanyaan tersebut. Sudah jelas-kah bagi kalian? dapatkah kalian menjawabnya? Mari kita jawab bersama.


Jawaban dari pertanyaan pertama diatas sebenarnya mirip dengan permainan angka, kita tahu bahwa pedang dan perisai memiliki fungsi kekuatan yang berbeda. Pedang untuk menyerang sedangkan perisai untuk bertahan, masing-masing mempunyai puncak kekuatannya.Andaikan saja kekuatan pedang itu 5 poin, lalu kekuatan perisai itu juga 5 poin. 

Namun karena fungsinya juga berbeda, pedang untuk menyerang sedangkan perisai untuk bertahan, maka kita bedakan juga jenis angkanya, yaitu pedang 5 poin, sedangkan perisai '-5 poin' . Jika saat kedua benda tersebut di adu kekuatan masing-masing, maka terjadilah operasi 'bentrok' dalam logika matematika, dan fungsi tersebut menjadi +5 + (-5) = 0. 


Nah nilai "nol" menunjukan ketiadaan benda dan ketiadaan hasil atau berarti tidak membuat apa-apa, maka hasilnya pun tidak ada. Dan kesimpulannya adalah, Kedua benda tersebut memang kuat, tapi sama-sama kuat sedangkan fungsinya-pun berbeda antara menyerang dan bertahan.



Kemudian kita beralih ke pertanyaan kedua, yang juga sama menjebaknya,


" Dapatkah Tuhan menciptakan makhluk yang lebih kuat daripada-Nya?"


Dalami dan selami pertanyaan tersebut. Jika Tuhan tidak dapat menciptakan makhluk yang lebih kuat dari-Nya, maka tuhan bukanlah sang Maha Pencipta dan bukanlah Maha Kuasa, karena ada makhluk yang lebih kuat dari-Nya. setidaknya itulah yang akan menjadi jebakan pertanyaan tersebut. Mari kita jawab bersama.


Pertanyaan tersebut sebenarnya belum / tidak tepat. Orang yang bertanya demikian harus mengerti dan sepakat arti dari kata 'maha' itu sendiri. dalam terminologi bahasa, makna 'maha' itu sama dengan 'tak terhingga', sedangkan 'tak terhingga' itu merupakan notasi dari angka 'yang paling besar'. 

Jadi sejatinya tidak ada yang lebih besar dari yang paling besar. Nah jika kesepakatan tersebut tercapai, maka pertanyaan tersebut akan mudah untuk dijawab. Adakah nilai yang lebih besar dari 'tak terhingga' ataupun 'tak terbatas'? Tentunya tidak ada bukan? karena tak terhingga merupakan puncak dari sesuatu yang hingga atau mungkin untuk dilakukan. 


Jadi sangat tidak rasional untuk sebuah pertanyaan jebakan seperti itu. Pertanyaan tersebut lebih tepat untuk sebuah 'maha' yang terbatas sehingga masih bisa ada yang lebih tinggi darinya. Namun Tuhan kita adalah 'maha' tak terbatas, tak akan ada yang melebihi-Nya, menyaingi-Nya, maupun hanya sekedar menyamai-Nya.


Demikianlah, semoga dapat kita renungkan dan dapat menjadi amalan bagi kita untuk memperkuat dan mempertebal iman kita dari serangan-serangan pertanyaan para kaum tak beragama yang berusaha menyesatkan kita. Amin.

Singgah di Rumah Kopi OBAMB



 Well sore tadi saya sempat mampir ke kota Purwokerto dengan tujuan pertama yaitu bersilaturahmi ke tempat teman saya, e teman saya ngajak ngopi-ngopi di salah satu  warung kopi, namanya Rumah Kopi OBAMB, teman saya akhirnya terdampar di jln brigjend encung no 9 Purwokerto, lokalisasi, eh maksudnya lokasi bersemayamnya Rumah Kopi Obamb ini. 

Kalo dari arah Unsoed tuh lurus terus sampai pertigaan lapangan belok kanan, terus kanan lagi terus belok kiri, nanti di kanan jalan akan nampak sebuah ruko yang didepan-nya nampak kursi dan meja dari kayu gelondongan,hehe. Berhubung kunjungan ini bersifat mendadak jadi saya tidak sempat membawa kamera, jadi di posting ini saya pasang fotonya dari akun facebook-nya OBAMB sendiri, :-P. So, mari kita lihat ada apa saja didalamnya...


Saat mulai masuk, tampak waiternya (sayang bukan waitress, coba kalo cewe, pasti tambah betah ngopi lama-lama disitu,haha) tersenyum manis semanis gula jawa dan menyapa kita sambil memberi kita daftar menu-nya. Nah, ni kita sudah mulai menuju ke menu, jangan pada pengin ya. 

Menu yang ditawarkan disini lumayan banyak dan harganya amat sangat terjangkau bagi kantong mahasiswa kere seperti saya ini, lol. Menu untuk kopinya lumayan lengkap, untuk kopi originalnya ada arabika, robusta, toraja, lampung, aceh, dll. Lalu untuk mixed coffee-nya pula ada banyak variasi yang disajikan, ada banana coffee, rum coffee, zinger bread, vanilla coffee, cappuccino (sayang tidak memakai froth, jadi rasanya seperti kopi susu saja. hehe), kopi moka, dll. 


Cara meracik kopi-nya bukan hanya ditubruk, tapi ada pilihan cara penyajiannya, kita bisa milih mau pake moka pot atau vietnam drip. Dan Rumah Kopi OBAMB ini juga menyediakan kopi luwak asli dengan banderol harga cuma Rp. 25 ribu saja, kok murah ya? katanya si kopi luwaknya nda seratus persen, masih ada campuran-campurannya, kalo kopi luwaknya seratus persen pastinya mahal dan belum tentu bakal laku kecuali untuk para maniak kopi.

Suasananya lumayan santai, kita bisa ngobrol-ngobrol sampai bibir berbusa, bukan karena ayan tapi karena saking nikmatnya mengobrol. sambil ngopi, kita bisa memesan beberapa teman minum kopi, seperti roti bakar, pisang bakar, dan pancake. 

Waktu itu saya memesan Rum Coffee dengan pancake yang super ajib rasanya. Dan selain kopinya yang menjadi daya tarik utama, ada daya tarik sekunder-nya lho teman-teman, yaitu pengunjung-nya. Kekhasan OBAMB telah menarik para customer-customer yang..mmmhhh...TOP, yaitu wanita-wanita kampusnya, haha. Biasanya pada malam hari cewe-cewe yang mau pada clubbing mampir dulu kesini. Lumaya buat cuci mata nggak tuh?haha.

bravo buat Rumah Kopi OBAMB,kalo saya ke purwokerto lagi, pastilah daftar kunjungan utama saya adalah mampir ke rumah kopi ini. :-)

Saatnya Membuat Outdoor Gear Sendiri


Saya sempat prihatin melihat fenomena di dunia pendakian dan backpacking beberapa tahun belakangan ini. Kenapa? Karena kok sepertinya menjadi sebuah ajang pamer yang bergengsi. 

Baik di alam maupun di sosmed, ramai-ramai memamerkan alat-alat outdoornya yang mahal dan bermerek. Bahkan yang bekasan alias awul-awul sisa impor juga laku keras, terutama yang bermerek (termasuk saya, :P).


Upload foto di depan tenda berlogo daun. Upload foto lagi masak pake kompor keren. Upload lagi kedinginan pake jaket logo fosil burung purba, dll. Bahkan di lapangan juga jarang sekali saya lihat yang pake gear seadanya , kecuali yang masih pemula.

Mungkin sebagian besar branded gear freak beralasan safety no.1. Ya itu tidak ada salahnya, memang benar biasanya semakin mahal semakin berkualitas itu barang.


Ya, oke fix! Tapi berhubung saya tidak bisa beli sebagian barang bermerk tersebut maka ada cara alternatif dan gratis supaya kita tetap nyaman berpetualang di alam liar. Simak tips berikut :

Tenda

Terpal merupakan solusi dalam mengatasi kantong cekak. Ditambah dengan beberapa tali dan tongkat bisa membuat sebuah tenda yang cukup nyaman untuk berlindung dan bersantai. Terpal yang lebih kecil atau plastik sampah bisa jadi alas yang hangat. 

Bangun tenda terpal ini dibawah pohon (jika ada) untuk meminimalisir terpaan hujan yang mungkin masuk pada bagian yang tidak rapat. Namun beratnya bisa dipastikan lebih berat dari tenda gambar daun :D.


Sleeping Bag


Mungkin sebagian kalian sudah punya selimut foil / thermal blanket sebagai salah satu survival kit kalian. Selimut aluminium foil lembaran ini bagus dalam menjaga suhu tubuh tetap hangat. Harganya juga tidak semahal sleeping bag di pasaran, bisa dibeli per meter ( kalau dijogja bisa beli di toko Liman, Malioboro). 

Jika punya selimut biasa, kenapa tidak dimodif jadi sleeping bag? Gabungkan dua buah selimut dan jahit bagian pinggirnya sampai menyerupai sebuah sleeping bag, bisa ditambahkan lembar aluminium foil tadi supaya lebih hangat.


Bantal


Tidak bisa tidur tanpa ada sesuatu yang mengganjal kepala? Tidak usah beli bantal angin! Gunakan baju-bajumu dan bungkus dalam sebuah plastik, kemudian gunakanlah sebagai bantal. Simple dan tidak neko-neko.

Pelindung Hujan


Solusi paling simpel untuk berlindung dari hujan adalah dengan melobangi trash bag pada bagian bawah yang tertutup sebagai tempat masuk kepala dengan sedikit modif untuk kerudung dan tangan. Cukup gunting-gunting pada beberapa bagian dan diselotip. Trash bag merupakan plastik yang cukup kuat dan tidak mudah sobek.

Api


Bisa pakai bow drill tradisional atau batu api, tapi cukup berkeringat untuk menyalakan apinya kalau cuma dengan daun kering ataupun serabut kayu. Cobalah dengan bola kapas yang di rendam bensin. Tapi yang paling mudah ya dengan korek api kayu anti air. Untuk membuat korek api tahan air, cukup dilapisi dengan lilin, baik koreknya maupun wadahnya.

Alat masak




Nah, ga perlu beli set panci dan kompor yang mahal itu. Kita bisa membuat kompornya dengan kaleng soda bekas. Sedangkan panci, tempat air, dll bisa dibuat dengan kaleng bekas kornet atau sarden.

Masih banyak sekali tutorial cara membuat outdoor gear sendiri di website-website, tapi kebanyakan website berbahasa Inggris. Yah, sekali lagi karena kita sebenarnya masih primitif, dan dengan senang hati menjadi objek pasar yang potensial bagi perusahaan - perushaan luar. 


Dengan memanfaatkan barang-barang yang ada disekeliling kita, kita sekaligus bisa merecycle barang-barang yamg tidak terpakai dan memyulapnya jadi barang ajaib serba guna. Bukanah itu misi kita sebagai pecinta alam?

Tips Merencanakan Survival Kit


Perencanaan survival itu merupakan sebuah kesadaran bahwa mungkin sesuatu dapat terjadi dan menempatkan kita pada situasi dimana kita harus bertahan hidup. Hal ini dapat terjadi pada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. 

Dengan mengantisipasi dan membuat rencana survival, berarti kita sudah mencuri start dalam mempertahankan nyawa kita. Perencanan survival berarti adalah persiapan. Persiapan berarti menyiapkan alat-alat survival yang dibutuhkan dan tahu bagaimana menggunakannya.

Survival tidak hanya untuk orang yang akan mendaki gunung atau yang terdampar di pulau terpencil saja. Orang yang bepergian menggunakan kendaraan seperti touring juga membutuhkan survival. 

Masyarakat yang tinggal didaerah bersalju sudah mempersiapkan segala sesuatunya dalam menghadapi medan mereka. Misalnya mereka menggunakan roda salju pada kendaraan mereka, membawa serta sekop, garam, dan selimut tebal. 

Contoh lainnya adalah kita bisa menemukan pintu darurat baik di elevator, pesawat, kereta, bus trans, dll. Itu menandakan bahwa segala sesuatu sudah dipersiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk.

Persiapan juga bisa dilakukan dengan sederhana, yaitu dengan mengetahui rute perjalanan kita dan buat familiar dengan daerah disekitar kita. Intinya, persiapan darurat itu sangatlah penting!

Pentingnya Perencanaan

Rencana kemungkinan darurat / pencegahan yang detail sangat berguna dalam menghadapi berbagai kemungkinan kondisi survival. Salah satu aspek penting dari perencanaan pencegahan ini adalah obat-obatan preventif. Dengan asumsi bahwa kita tidak punya masalah kesehatan dan immun tubuh kita kuat, maka dapat menghindarkan kita dari kemungkinan kematian lebih cepat. 


Itulah mengapa pada beberapa pendaftaran ekspedisi, atau kegiatan yang mempunyai tingkat survive yang tinggi mengharuskan surat keterangan sehat dari dokter.


Baca juga Tips Bila Tersesat di Alam Liar

Mempersiapkan dan membawa survival kit (alat-alat pendukung survival) juga tidak kalah pentingnya dari masalah kesehatan di atas. Alat-alat ini secara ajaib mampu menambah umur kita dan menunda kematian. Hampir semua pesawat terbang militer punya survival kit pada kursi lontarnya tergantung pada daerah mana yang akan mereka tuju. Ada kit untuk survival air, gurun, dan hutan.
Sebelum mempersiapkan survival kit mu sendiri. Ketahui dulu misi atau tujuan perjalananmu, kondisi lingkungan sekitar, dan alat-alat yang akan dibawa.

Survival Kits



Lingkungan merupakan kunci untuk mempersiapkan apa saja yang perlu di bawa dalam survival kit kita. Banyaknya peralatan survival yang akan kita bawa bergantung pada bagaimana kita akan membawanya. Survival kit yang akan dibawa bersama tubuh kita, tentunya haruslah lebih kecil dari yang ada pada kendaraan. Selalu lapisi survival kit kita, taruh alat yang paling penting bersama tubuh kita. Misal kompas, peta, pisau, harus selalu ada pada saku kita.


Selalu memilih alat yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan (multifungsi). Jangan bawa satu-satu, itu hanya akan menambah beban dan tempat. Tempat yang digunakan untuk menaruh alat-alat survival juga harus kuat, yang paling penting adalah tahan air atau waterproof, mudah dibawa, dan bisa dikaitkan bersama tubuhmu.

Dalam survival kit harus ada :
-P3K
-Tablet pemurni air ( water purification tablet), bisa dibeli di apotik atau toko kimia
-peralatan pemantik api
-perlengkapan pemberi sinyal
-perlengkapan untuk (membuat) makan dan minum
-perlengkapan kemah / shelter
Contoh dari peralatan diatas :
-korek api, pemantik api manual, korek api kayu tahan air
-senar kawat
-kaca sinyal / kaca SAR
-Kompas
-Alat pancing ikan
-lilin
-tablet untuk diare dan infeksi (oxytetracyline)
-Lablet pemurni air
-Selimut / Lembaran aluminium foil
-pisau operasi / scalpel,
- alat jahit, benang dan jarum
- Kondom untuk penyimpanan air
- Pisau
-dll

Ini merupakan gambaran umum tentang bagaimana pentingnya persiapan dalam bertahan hidup. Penjelasan detail mengenai apa yang harus dibawa ada pada artikel-artikel berikutnya. Tetep pantengin blog keren ini sob!

Baca juga Tips-Tips Lainnya, supaya persiapan perjalanan kamu semakin matang!

Yang Harus Dilakukan Jika Tersesat atau Terdampar di Alam Liar


Beberapa waktu lalu berita-berita di televisi maupun surat kabar dan media online ramai dengan kasus pendaki hilang dan juga orang-orang yang terdampar karena kecelakaan kendaraan transportasi. 

Apa perbedaan antara tersesat dan terdampar? Tersesat itu jika kita tidak tau dimana kita berada dan tidak tau arah mana yang akan dituju, sedangkan terdampar itu kita tau sedang berada dimana tapi orang lain tidak tau. Tidak ada salahnya jika kita ikut waspada untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu hal tersebut terjadi pada kita. 


Sebenarnya, apa yang harus dilakukan sih jika kita tersesat? terutama di alam liar?  Menurut sebagian besar buku survival, tim SAR, website, dll, Ada beberapa tips dan peraturan yang harus kita ikuti dalam permainan "petak umpet" ini...


PERATURAN 1

Sebelum kita pergi jauh atau akan menjelajah alam liar, kita harus memberitahu seseorang kemana kita akan pergi dan kapan kira-kira akan pulang. Hal ini supaya jika kita tersesat dan tidak pulang-pulang, tim pencari akan tau dimana harus mulai mencari kita.

|Baca juga Tips Merencanakan Survival Kit

PERATURAN 2 
Jika kamu tersesat atau terdampar karena kendaraan yang macet atau kecelakaan pesawat. Lebih baik untuk tetap berada dekat dengan kendaraan atau pesawat. Akan lebih mudah bagi tim pencari untuk menemukanmu dalam posisi yang tetap daripada mencari orang yang bergerak atau gerombolan orang yang tidak tau kemana mereka berjalan.

Tapi jika tidak ada kendaraan ataupun pesawat karena kamu jalan kaki (mendaki gunung / jelajah hutan) dan kamu tidak tau dimana sekarang sedang berada,sekali lagi lebih baik untuk tetap berada pada satu posisi daripada mondar-mandir tidak jelas, yang ada malah kemungkinan semakin menjauh dari tim pencari.


Tapi jika kamu melanggar PERATURAN 1 dengan tidak memberitahu kemana kamu pergi, kamu bisa melewati PERATURAN 2, dan langsung menuju...


PERATURAN 3 

JANGAN PANIK! panik membuat kita tidak bisa berpikir jernih dan tenang, S.T.O.P! Stop, Think, Observe, Plan! Berhentilah sejenak, tenangkan pikiran dan rileks, berpikirlah kemungkinan sekarang kamu berada dimana, Perhatikan sekelilingmu dan coba balik arah siapa tau kamu mengenali sedikit daerah yang kamu lewati tadi. Jika tidak mengenali daerah sekitar, berhentilah dan duduk sebentar. Rencanakan apa yang harus dilakukan.

Coba dengarkan tanda-tanda peradaban, atau perkampungan. Dengarkan apakah ada suara mesin kendaraan, suara adzan, pabrik, suara gergaji mesin, dll yang akan menuntunmu ke luar dari belantara. Jika tidak ada, cobalah mencari tempat atau dataran yang lebih tinggi dan coba lihat dari atas adakah bangunan, masjid, jalan, kabel listrik, asap, yang bisa memberi petunjuk. Jika tidak ada dataran yang lebih tinggi, coba panjat pohon terdekat yang paling tinggi.


Jika kamu tidak menemukan adanya suara maupun bangunan yang menandakan peradaban maka coba cari jika ada sungai, atau aliran air kecil, dan ikutilah alirannya, tidak hanya bisa mensuplai air minum, biasanya aliran.akan membawa kita menuju sebuah perkampungan ataupun jalan raya.


Tapi jika belum menemukan apapun yang seperti disebutkan di atas, maka lebih baik berhenti dan mulai membangun sebuah kemah atau shelter sementara dan mulai membuat api sebelum hari mulai lembab dan gelap. Lakukanlah sebuah tindakan survival untuk menyelamatkan nyawamu dan nyawa teman-temanmu.

Panduan-panduan survival lainnya seperti cara membuat shelter, membuat api, mencari makan, air, dll akan di update kemudian, stay on track with me!



Pendakian Gunung Merapi - Menggapai Puncak Garuda


Day 2: Puncak Garuda, Here I Come! - 05:00

Lanjutan dari Pendakian Gunung Merapi: Tersesat di Jalur Kartini


Hangatnya batu bara membuat tidur saya cukup lelap. Subuh, tiba-tiba serasa ada tangan lembut yang menyentuh pipi. Saya terbangun, dan bengong.

Ah senangnya, di pagi yang dingin seperti ini saya dibangunkan oleh sentuhan lembut wanita idaman.

Angan itu seketika lenyap karena ternyata itu bukanlah tangan lembut, melainkan kaki teman saya yang nempel di pipi.

Saya terbangun dan mengambil handphone - yang mendadak jadi sedingin es - menunjukan pukul setengah lima.

Teman saya yang lain sudah ada yang berangkat ke puncak. Sebagian lainnya masih meringkuk nikmat di atas matras.

Kami, terutama para pria-pria kesepian tidur tanpa tenda. Karena masih mengantuk, saya enggan beranjang. Masih tiduran sambil ikut meringkuk. 

Saat pikiran sedang mengembara entah kemana, Anna, salah satu bunga kelas yang berparas dan berperawakan cukup 'menarik' mengajak saya untuk segera menyusul rombongan yang sudah berangkat duluan ke pasar bubrah.

Dia tampak sudah segar dan siap bertempur. Rambutnya pendek model bob, mengenakan hoodie warna hijau. Satu-satunya cewek tomboy di kelas.

Foto bersama Anna
Setelah membasahi muka dengan segenggam air, saya segera mengemasi barang-barang yang diperlukan.

Sleeping bag, dan semacamnya saya tinggal di camp ground. Toh tidak di pakai ketika summit attack. Terlihat juga ada beberapa bule yang lewat di depan saya. 

Waktu itu tempat camping kami berada di jalur pendakian, dan itu salah, jangan di tiru ya.


Herannya, bule-bule itu hanya memakai t-shirt, celana pendek dan sebuah tas ransel kecil saja.

Mungkin suhu sejuk begini bagi mereka masih terasa hangat.

Baca juga Kumpulan Tips-Tips Mendaki Gunung Biar Nggak Kewalahan Seperti Saya.

Matahari sudah mulai bersinar dan mengeluarkan semburat kemerahan.

Saya dan Anna mulai berjalan, di ikuti oleh beberapa teman yang memang sudah bersiap-siap sebelumnya. 

Saya menyusuri jalan sempit sepanjang igir. Jalannya terbuka dan berada di ketinggian sehingga kami bisa melihat pemandangan dibawah walaupun masih agak gelap. 


Gerombolan awan tampak sangat dekat, seperti sekumpulan kapas-kapas putih.


Ah andaikan awan itu bersifat padat, ingin rasanya saya melompat ke awan awan itu.

Mulai mendaki tumpukan batu di depan pasar bubrah.
Akhirnya saya sampai di Pasar Bubrah. Di sini terdapat prasasti-prasasti dan monumen untuk mengenang rekan-rekan pendaki yang wafat dalam pendakian merapi. 

Di pasar bubrah sudah ada banyak orang. Sekitar tiga puluh persennya adalah orang-orang bule.


Saya berhenti sejenak di pasar bubrah untuk melihat pemandangan yang amat mengagumkan, epic! Benar-benar Tuhan itu Maha Sempurna dan Maha Pencipta Segalanya. 

Pemandangan di sebelah kanan saya adalah Gunung Merbabu yang terlihat megah dikelilingi awan yang benar-benar indah.


Sayang saya tidak sempat melihat sunrise karena telat naik. Saya merasa seperti berada di negeri kahyangan. 

Di pasar bubrah sendiri ada sekitar tiga tenda. Setelah selesai foto-foto, saya melanjutkan Pendakian Puncak Gunung Merapi.


Saat mendongak ke atas, pemanangan seperti ini bakal membuat down siapa saja.
Sebelum sampai di puncak, saya harus mendaki tumpukan batu-batu vulkanis yang mementuk sebuah gunung kecil dari. Di balik itu adalah puncak sekaligus kawah Gunung Merapi. 

Pendakian lumayan sulit karena harus pandai-pandai memilih pijakan yang tepat, kalau salah bisa fatal akibatnya.


Kenapa? karena sepanjang jalur adalah batu hidup - batu yang tidak setabil dan rawan longsor / jatuh sehingga bisa membuat kita terpeleset atau mengenai pendaki di bawah kita. 

Satu jam setengah adalah waktu yang saya perlukan untuk menaiki puncak pasar bubrah dalam Pendakian Gunung Merapi ini.


Cukup lama karena jalur sempit, pendaki banyak, serta jalannya harus pelan dan hati-hati.


Kesabaran itu berbuah manis. Kami sampai juga di Puncak Gunung Merapi. Gunung paling aktif di Indonesia!


Yang ada di puncak hanyalah batu-batuan berwarna putih karena tertutup debu vulkanik. Bau belerang cukup menyengat. Asap putih membumbung perlahan dari dalam kawah.

Kami duduk-duduk di bebatuan sambil memandangi deretan awan di langit biru yang cerah. Langit yang cerah membuat Gunung Merbabu, Lawu, Sindoro-Sumbing terlihat di kejauhan.

Anna di atas puncak Garuda sebelum erupsi 2010
Puncak Garuda Gunung Merapi terlihat menjulang menantang setiap pendaki untuk menaikinya. Puncak Garuda merupakan titik tertinggi dan simbol penaklukan merapi. 

Beberapa teman saya sudah antre di bawahya menunggu giliran untuk menaikinya. Saya tidak begitu antusias untuk mencobanya jadi saya hanya melihat mereka saja sambil menghisap sebatang kretek.


Teman-teman yang tadi masih terlelap satu per satu mulai tampak dengan muka kegirangannya karena berhasil menaklukan Puncak Gunung Merapi ini. Saya pun begitu.

Day 2: Let's Go Home - 08 : 00


Pukul delapan pagi kami turun gunung dan mengemasi semua perlengkapan kemah.

Semuanya terlihat puas.

Sesampainya di basecamp, teman-teman kelihatan lebih dekat dan akrab dibandingkan waktu pertama kali bertemu. Bahkan beberapa dari mereka di kemudian hari menjadi sepasang kekasih.

Mungkin ini salah satu alasan kenapa banyak orang suka mendaki gunung. Karena gunung itu teman, gunung itu cinta.



Pendakian Gunung Merapi: Tersesat Di Jalur Kartini



Ini hanyalah cerita lama waktu saya masih awal-awal kuliah, sekitar tahun 2009. Sebuah reminder dikala Puncak Garuda masih berdiri kokoh sebelum hancur karena Gunung Merapi meletus pada 2010.

Tanggal 1 Agustus 2009, saya dan teman-teman jurusan Pendidikan Geografi UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) mengadakan pendakian ke Gunung Merapi untuk memandu kawan-kawan dari KEMANGGA (Kesatuan Mahasiswa Purbalingga) yang akan mengadakan pendakian ke puncak merapi dengan jumlah keseluruhan sekitar empat puluh orang, lima belas diantaranya adalah perempuan.

Perjalanan ini sudah seperti perjalanan wisata saja, karena yang ikut mendaki lumayan banyak.

Truk pasir yang mengangkut kami
Day 1: Pemberangkatan - 14:00

Dimulai dengan acara pengecekan dan technical meeting yang rencananya diadakan sehabis duhur.

Awalnya saya tidak berencana untuk ikut pendakian ini tapi pas pukul setengah satu tersebut, Ardhi, ketua HIMA Pendidikan Geografi waktu itu menghubungi dan memaksa saya untuk ikut pendakian.

Selesai berkemas, saya langsung menuju ke lokasi pemberangkatan yang bertempat di depan kantor dekanat Fakultas Ilmu Sosial UNY.

Setelah pidato pemberangkatan dari ketua Kemangga dan ketua Mahameru (Organisasi Pecinta Alam FIS UNY) kami langsung naik kendaraan yang sangat nyaman, murah, dan sejuk, yaitu sebuah truk pengangkut pasir. Asik.

Kami menggunakan jalur pendakian Selo, Boyolali.

Saat itu kami belum mengenal pakaian outdoor branded layaknya pendaki gunung kekinian. Pakaian yang kami gunakan seadanya.
Day 1: Basecamp Selo - 16:00

Dua jam badan kami bergoyang-goyang di dalam truk akhirnya kami sampai di basecamp selo yang berupa bangunan pendopo. 

Rencanya pendakian akan dimulai sehabis Sholat Isya. Selama menunggu pemberangkatan, tak banyak yang kami lakukan selain mengisi perut, pemanasan, dan adaptasi udara yang dingin.


Di basecamp juga sudah ada rombongan dari UGM sekitar sepuluh orang.

Seusai sholat isya, kami bersiap untuk berangkat.

Tim kami dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok diisi sekitar tiga belas orang. Saya kebagian berada di kelompok 1. 

Perjalanan dimulai dari basecamp selo melewati jalan aspal sekitar dua puluh menit menuju New Selo (menara pandang merapi), jalannya sangat menanjak.


Karena sebelum pendakian saya tidak melakukan pemanasan, maka nafas saya terasa sangat berat, mungkin juga akibat saya terlalu banyak menghisap rokok.

Dari New Selo, perjalanan yang sebenarnya  akhirnya dimulai. Pertigaan new selo kami ambil jalan lurus. Jalan tanah melewati perkebunan penduduk. 

Tiba-tiba salah satu rekan saya mengalami sakit perut. Jadi terpaksa sebentar-sebentar kami berhenti. Setelah sekitar satu jam perjalanan, sakit rekan saya tadi mereda dan kami pun dapat melanjutkan perjalanan dengan tempo normal. 

Di akhir perkebunan, kami berhenti sejenak sekitar sepuluh menit untuk menjaga jarak dengan kelompok 2 supaya tidak terlalu jauh.

Kami melihat pemandangan yang cukup cantik. Pemandangan Gunung Merbabu di depan saya yang samar-samar terlihat karena disinari oleh cahaya bulan. Dibawahnya lampu-lampu kota berkerlap-kerlip bak lautan bintang.

Sayangnya dalam kelompok kami tidak ada yang membawa kamera jadi pemandangan yang langka tersebut tak ada publikasinya.

Anak-anak KEMANGGA angkatan 2009, dan beberapa penyusup.
Day 1: Tersesat - 21:45

Jalur pendakian New Selo terdiri dari dua jalur yaitu jalur regular dan jalur Kartini yang curam dan terutup semak belukar karena jarang dipakai.

Rencananya, kami, tiga kelompok ini akan berkumpul terlebih dulu di watu gajah atau pos pertama dan bersama sama lewat jalur biasa.

Tetapi takdir berkata lain.

Dalam kondisi gelap karena kami sudah memasuki hutan, jalannya sangat sulit untuk dilacak.

Pemandu kami, mas Aji yakin bahwa jalannya sudah benar.

Tapi lama-lama jalannya terasa aneh, semaknya semakin rimbun seperti belum pernah terjamah manusia.

Jadi di jalur ini kami seperti sedang membuka jalur baru. Akhirnya kami sadari bahwa kami benar-benar tersesat.

Kami berhenti sejenak, kemudian memutuskan untuk terus berjalan kedepan. Mendaki terus dengan jalan yang terjal yang di kanan-kirinya jurang.

Bahkan kami sampai harus merangkak seperti sedang wall climbing.

Kemungkinan saat di pos pertama kami salah jalan mengambil jalur sebelah kiri, yaitu jalur Kartini.

Karena belum ada yang pernah lewat jalur ini maka kami sangat buta akan arah.

Biar tidak tersesat seperti saya, baca Tips Traveling Apa Yang Harus Di Lakukan Saat Tersesat

Sementara itu, teman-teman perempuan sudah mulai panik dan mengeluh. Mereka minta istirahat sebentar, mengatur nafas dan pikiran yang sudah kalut.

Sambil istirahat saya iseng berteriak "GEOGRAFI UNY!" sampai tiga kali namun belum ada jawaban.

Lalu saya berteriak lagi "WOOOOOYYY!", teman-teman yang lain juga ikut berteriak.

Selang berapa detik ada sahutan dari atas kami dan meneriakan "KEMANGGA?" dan kami jawab "YAAA!". 

Ternyata kami berada tidak jauh dengan kelompok lainnya. Perasaan kami semua pun menjadi lega. Dengan bersemangat kami langsung kembali berjalan lagi.

Jalanan sangat gelap, penerangan hanya menggunakan senter sawah.

Day 1, Reuni - 22:30

Sekitar lima belas menit melewati jalan yang juga dipenuhi oleh semak belukar, kami melihat ada sekitar tiga sorotan lampu senter dari atas.

Kami langsung bergegas menuju arah lampu. Ternyata mereka adalah kelompok dua yang dipandu oleh mas Ardhi. 


Akhirnya kami ketemu juga dengan rekan-rekan yang lain.

Memang benar bahwa kelompok saya tadi melewati jalur kartini karena kami bertemu mereka di sebuah persimpangan jalan.

Lega sudah perasaan kami selamat dari liputan berita koran pagi.



Kami beristirahat lagi di persimpangan tersebut untuk regrouping. Banyak batu-batu besar disitu dan amat berdebu.

Dalam sorotan cahaya senter, badan kami semua benar-benar kotor oleh debu karena cuacanya terang jadi tanahnya kering dan berdebu.

Selang sepuluh menit, kami melihat beberapa sorotan lampu senter lagi yang ternyata itu adalah kelompok tiga.

Akhirnya kami reuni juga dengan teman-teman yang lain.



Reuni dengan kelompok 1
Jalur di depan semakin menanjak dan berganti menjadi jalan kerikil berbatu.

Badan benar-benar terasa pegal, apalagi bahu saya. Singkatnya sekitar jam dua belas malam kami sampai di pos kedua. 


Sebenarnya kami berniat mendirikan tenda di pasar bubrah tetapi kami urungkan karena angin di Pasar Bubrah terlalu besar.

Pasar bubrah ini berupa lapangan yang luas di bawah kerucut kaldera Gunung Merapi. Ini adalah titik terakhir sebelum melakukan pendakian terakhir menuju puncak.


Di pasar bubrah pemandangannya lumayan indah dan biasanya yang tidak kuat lagi naik ke puncak akan merasa cukup puas hanya sampai disitu saja. Karena suasananya sudah seperti di puncak maka disebut puncak pertama. 


Kami mendirikan tenda di Pos 2 yang merupakan sebuah igir pegunungan atau tulang belakang sebuah gunung karena bentuknya yang memanjang di atas bukit.


Tempatnya sangat sempit dan di kanan kirinya adalah jurang. Disitu angin menerpa kami dengan amat kencang, sampai-sampai kami sangat kepayahan saat memasang tenda. 


Batu bara yang kami bawa susah menyala, kami harus meniup sampai pipi kempot. Keadaan sangat amat tidak memungkinkan untuk tidur, namun para ladies sepertinya cukup mudah tertidur. Mungkin karena saking capeknya. 



Mengelilingi batu bara sambil bercengkrama
Malam itu kami habiskan dengan kandahan mengelilingi api batu bara. Bercerita dan berbagi pengalaman. Tentunya ditemani oleh tembakau dan kopi.

Tak terasa teman-teman yang tadinya semangat begadang satu persatu tertidur lelap oleh rayuan suara alam.


Baca lanjutannya Pendakian Gunung Merapi: Menggapai Puncak Garuda

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca