Full width home advertisement

Jurnal Perjalanan

Opini

Post Page Advertisement [Top]


Day 2: Puncak Garuda, Here I Come! - 05:00

Lanjutan dari Pendakian Gunung Merapi: Tersesat di Jalur Kartini


Hangatnya batu bara membuat tidur saya cukup lelap. Subuh, tiba-tiba serasa ada tangan lembut yang menyentuh pipi. Saya terbangun, dan bengong.

Ah senangnya, di pagi yang dingin seperti ini saya dibangunkan oleh sentuhan lembut wanita idaman.

Angan itu seketika lenyap karena ternyata itu bukanlah tangan lembut, melainkan kaki teman saya yang nempel di pipi.

Saya terbangun dan mengambil handphone - yang mendadak jadi sedingin es - menunjukan pukul setengah lima.

Teman saya yang lain sudah ada yang berangkat ke puncak. Sebagian lainnya masih meringkuk nikmat di atas matras.

Kami, terutama para pria-pria kesepian tidur tanpa tenda. Karena masih mengantuk, saya enggan beranjang. Masih tiduran sambil ikut meringkuk. 

Saat pikiran sedang mengembara entah kemana, Anna, salah satu bunga kelas yang berparas dan berperawakan cukup 'menarik' mengajak saya untuk segera menyusul rombongan yang sudah berangkat duluan ke pasar bubrah.

Dia tampak sudah segar dan siap bertempur. Rambutnya pendek model bob, mengenakan hoodie warna hijau. Satu-satunya cewek tomboy di kelas.

Foto bersama Anna
Setelah membasahi muka dengan segenggam air, saya segera mengemasi barang-barang yang diperlukan.

Sleeping bag, dan semacamnya saya tinggal di camp ground. Toh tidak di pakai ketika summit attack. Terlihat juga ada beberapa bule yang lewat di depan saya. 

Waktu itu tempat camping kami berada di jalur pendakian, dan itu salah, jangan di tiru ya.


Herannya, bule-bule itu hanya memakai t-shirt, celana pendek dan sebuah tas ransel kecil saja.

Mungkin suhu sejuk begini bagi mereka masih terasa hangat.

Baca juga Kumpulan Tips-Tips Mendaki Gunung Biar Nggak Kewalahan Seperti Saya.

Matahari sudah mulai bersinar dan mengeluarkan semburat kemerahan.

Saya dan Anna mulai berjalan, di ikuti oleh beberapa teman yang memang sudah bersiap-siap sebelumnya. 

Saya menyusuri jalan sempit sepanjang igir. Jalannya terbuka dan berada di ketinggian sehingga kami bisa melihat pemandangan dibawah walaupun masih agak gelap. 


Gerombolan awan tampak sangat dekat, seperti sekumpulan kapas-kapas putih.


Ah andaikan awan itu bersifat padat, ingin rasanya saya melompat ke awan awan itu.

Mulai mendaki tumpukan batu di depan pasar bubrah.
Akhirnya saya sampai di Pasar Bubrah. Di sini terdapat prasasti-prasasti dan monumen untuk mengenang rekan-rekan pendaki yang wafat dalam pendakian merapi. 

Di pasar bubrah sudah ada banyak orang. Sekitar tiga puluh persennya adalah orang-orang bule.


Saya berhenti sejenak di pasar bubrah untuk melihat pemandangan yang amat mengagumkan, epic! Benar-benar Tuhan itu Maha Sempurna dan Maha Pencipta Segalanya. 

Pemandangan di sebelah kanan saya adalah Gunung Merbabu yang terlihat megah dikelilingi awan yang benar-benar indah.


Sayang saya tidak sempat melihat sunrise karena telat naik. Saya merasa seperti berada di negeri kahyangan. 

Di pasar bubrah sendiri ada sekitar tiga tenda. Setelah selesai foto-foto, saya melanjutkan Pendakian Puncak Gunung Merapi.


Saat mendongak ke atas, pemanangan seperti ini bakal membuat down siapa saja.
Sebelum sampai di puncak, saya harus mendaki tumpukan batu-batu vulkanis yang mementuk sebuah gunung kecil dari. Di balik itu adalah puncak sekaligus kawah Gunung Merapi. 

Pendakian lumayan sulit karena harus pandai-pandai memilih pijakan yang tepat, kalau salah bisa fatal akibatnya.


Kenapa? karena sepanjang jalur adalah batu hidup - batu yang tidak setabil dan rawan longsor / jatuh sehingga bisa membuat kita terpeleset atau mengenai pendaki di bawah kita. 

Satu jam setengah adalah waktu yang saya perlukan untuk menaiki puncak pasar bubrah dalam Pendakian Gunung Merapi ini.


Cukup lama karena jalur sempit, pendaki banyak, serta jalannya harus pelan dan hati-hati.


Kesabaran itu berbuah manis. Kami sampai juga di Puncak Gunung Merapi. Gunung paling aktif di Indonesia!


Yang ada di puncak hanyalah batu-batuan berwarna putih karena tertutup debu vulkanik. Bau belerang cukup menyengat. Asap putih membumbung perlahan dari dalam kawah.

Kami duduk-duduk di bebatuan sambil memandangi deretan awan di langit biru yang cerah. Langit yang cerah membuat Gunung Merbabu, Lawu, Sindoro-Sumbing terlihat di kejauhan.

Anna di atas puncak Garuda sebelum erupsi 2010
Puncak Garuda Gunung Merapi terlihat menjulang menantang setiap pendaki untuk menaikinya. Puncak Garuda merupakan titik tertinggi dan simbol penaklukan merapi. 

Beberapa teman saya sudah antre di bawahya menunggu giliran untuk menaikinya. Saya tidak begitu antusias untuk mencobanya jadi saya hanya melihat mereka saja sambil menghisap sebatang kretek.


Teman-teman yang tadi masih terlelap satu per satu mulai tampak dengan muka kegirangannya karena berhasil menaklukan Puncak Gunung Merapi ini. Saya pun begitu.

Day 2: Let's Go Home - 08 : 00


Pukul delapan pagi kami turun gunung dan mengemasi semua perlengkapan kemah.

Semuanya terlihat puas.

Sesampainya di basecamp, teman-teman kelihatan lebih dekat dan akrab dibandingkan waktu pertama kali bertemu. Bahkan beberapa dari mereka di kemudian hari menjadi sepasang kekasih.

Mungkin ini salah satu alasan kenapa banyak orang suka mendaki gunung. Karena gunung itu teman, gunung itu cinta.



Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

5 komentar:

  1. Nah ini nie..
    picture nya KomPlit ..
    ^^
    Keep Blogging sobat

    BalasHapus
  2. hah ha,, naik gunung lagi benx... ternyata postingan kmu banyak juga...sipp sipp!

    BalasHapus
  3. ajibbbb..ada foto bendera mahamerunya juga.. kalo ga salah ini kegiatan kemangga sama mahameru yaa??

    BalasHapus
  4. @momonway hahaha, okokeoke, min, semangat!

    @amadaffa iyo pak, sudah lama ni, yang agustus tanggal 1 itu lho, km juga ikut to..

    BalasHapus

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib