Candi Kalasan, Sebuah Penghormatan Bagi Jiwa Yang Bebas


Jalanan siang itu sangat padat, truk dan bus saling salip, saya yang hanya menaiki sebuah motor matic tua melaju dengan kecepatan seadanya, tak sampai 40km/jam, mungkin.

Tepat di pinggir jalan raya, saya dikejutkan oleh sosok bangunan berbatu tinggi menjulang. Bangunan batu tersebut tampak kontras dengan rumah-rumah semen di sekelilingnya.

Trekking dan Menginap di Kampung Baduy Dalam


Ingin melihat seperti apa rasanya hidup di jaman kerajaan? datang dan menginaplah di kampung Baduy. Sebuah kampung dimana modernisasi di tolak tetapi tidak dengan lembaran kertas rupiah.

Perjalanan saya menuju kampung Baduy ini diawali dari Yogyakarta langsung menuju Banten, tepatnya di daerah Leuwidamar, Kabupaten Lebak.

Kunjungan ke Baduy ini dalam rangka praktikum lapangan mata kuliah Geografi Terpadu yang harus diakhiri dengan membuat laporan penelitian. Duh!

Dari kota Lebak, bus yang membawa sekitar lima puluh orang mahasiswa ini langsung menuju ke Desa Kanekes yang berada di kaki Pegunungan Kendeng. Melewati perbukitan dengan lama perjalanan sekitar dua setengah jam.

Jalan aspal yang banyak lubangnya ini membuat bus yang kami tumpangi berasa sedang berdandsa cha cha cha.

Mesin waktu

Sesampainya di terminal, patung besar yang menggambarkan satu keluarga Baduy, lengkap dengan pakaian tradisionalnya menyambut kami dengan lambaian tangannya.

Toko oleh-oleh, suvenir dan kerajinan khas Baduy berderetan mengelilingi terminal ini. Minimarket modern di ujung sana juga tidak mau kalah.

Gadis baduy yang malu-malu tapi mau di foto.
Setelah sejenak beristirahat dan melakukan briefing, pak dosen membagi satu kelas yang berisi lima puluh orang ini menjadi dua kelompol, yaitu lima belas orang masuk kelompok Baduy Dalam sementara sisanya masuk kelompok Baduy Luar. Saya masuk kelompok yang mengeksplor Baduy Dalam. Yes!

Perjalanan pun di mulai.

Saya mulai berjalan melewati rumah-rumah penduduk dengan jalan paving yang menanjak. Terlihat anak-anak Baduy sedang duduk-duduk di depan warung kelontong sambil menonton televisi yang ada di warung itu.

Mereka terlihat antusias menontonnya. Suku Baduy tidak diperkenankan memiliki fasilitas berteknologi modern, sehingga ketika mereka melihat televisi di warung warga non-Baduy, mereka terlihat sangat menikmatinya.

Hampir di setiap warung kelontong yang saya jumpai pasti terdapat warga Baduy yang sedang asik menonton televisi.

Sementara itu, rayuan ibu-ibu penjual suvenir terus bersahut-sahutan di belakang saya.

Sebelum memasuki kampung, kami melakukan briefing sekali lagi dan berdoa bersama.

Kelompok saya berangkat duluan di iringi muka cemberut teman-teman yang tidak berkesempatan masuk ke Baduy Dalam.

Rumah bambu sederhana namun terlihat sejuk dan nyaman.
Di perbatasan antara warga non-Baduy dengan warga Baduy ada perbedaan yang sangat mencolok.

Di satu sisi ada rumah dengan tembok bata dan kabel-kabel listrik menjuntai semrawut. Di sisi sebelahnya, yang tampak hanya rumah panggung dari kayu dan bambu, tampak reot dan renta. 

Kedua rumah ini benar-benar bersebelahan. Mungkin hanya berjarak satu meter saja namun sudah terlihat sangat berbeda. Seakan-akan saya sedang berada di persimpangan zaman. Menembus waktu.

Baduy Luar

Desa Baduy yang bersebelahan dengan desa modern ini merupakan desanya penduduk Baduy Luar.

Suku Baduy, atau mereka biasa menyebut diri mereka dengan sebutan 'Kanekes' ini terdiri dari suku Baduy Luar dan Baduy Dalam. Perbedaan yang paling tampak dari mereka adalah bajunya.

Warga Baduy Luar biasanya mengenakan pakaian berwarna hitam atau biru tua keunguan dengan ikat kepala hitam. Mereka ini masih diperbolehkan menggunakan sedikit hasil dari modernisasi, seperti sabun mandi, sabun cuci, menumpang kendaraan bermotor, dan lainnya.

Sementara warga Baduy Dalam pakaiannya berwarna putih atau biru tua. Mereka tidak diperbolehkan sama sekali menggunakan teknologi modern. Bahkan menggunakan satu batang paku untuk memperbaiki rumah pun tidak diperbolehkan.

Kostum khas orang-orang dari Baduy Dalam
Pemandu perjalanan kami adalah warga Baduy Dalam asli. Ada empat orang, yaitu Aa Jali, Jukri, Yuli, dan dek Arman. Yang terakhir disebut ini umurnya baru sepuluh tahun tapi tenaganya luar biasa.

Mereka sehari-hari menggunakan bahasa Sunda dialek Banten namun sudah fasih berbahasa Indonesia. Saya kebagian dipandu oleh Aa Jali, yang paling tua.

Sebenarnya ketika baru sampai di terminal, banyak warga Baduy Dalam yang mengerubungi kami dan menawarkan jasa pemandu. Tapi dari pihak kampus sudah menyewa pemandu langganan, sehingga kami terpaksa harus menolak tawaran mereka.



Terlihat juga beberapa ibu-ibu yang sedang mengobrol sambil berdiri di pelataran salah satu rumah. Bahkan di salah satu rumah warga Baduy Luar ada warung kelontong yang menjual aneka jajanan snack modern dan beberapa minuman kemasan.

Jadi selama di Baduy Luar ini saya masih aman dari yang namanya primitifisasi.

Kebanyakan wanita di Baduy hanya memakai kemben saja saat di rumah

Trekking ke Baduy Dalam

Setelah beberapa menit berjalan kaki melewati jalan paving pemukiman Baduy Luar yang naik turun, petualangan yang sebenarnya akhirnya dimulai.

Jarak menuju Baduy Dalam kira-kira 12 km dengan jalan tanah yang berlumpur dan naik turun. Tantangan tersebut saya terima dengan gembira, sudah tidak sabar rasanya ingin mencoba trekking jalannya orang Baduy yang sudah ada sejak ratusan tahun ini.

Sekitar setengah jam perjalanan, saya tiba di tempat yang terdapat banyak deretan gubuk dengan ukuran yang lebih kecil dari rumah penduduk.

Setelah saya tanyakan ke aa Jali, ternyata gubuk-gubuk ini berfungsi sebagai lumbung tempat menyimpan hasil panen. 

Komplek 'Gudang Makanan' Suku Baduy
Di gubuk-gubuk ini kami berhenti sebentar untuk membasahi kerongkongan yang terasa begitu kering.

Tidak jauh dari situ, ada sebuah pancuran air dari bambu yang mengalirkan air langsung dari mata air di hutan. Pancuran ini merupakan sumber air minum warga Baduy di daerah ini.

Karena airnya terlihat sangat jernih, saya pun penasaran untuk mencoba meminumnya. Rasanya menyegarkan. Lebih segar dari pada air pegunungan dalam kemasan.

Saya tidak peduli berapa jumlah bakteri yang ada di dalam air tersebut, yang penting rasanya segar, dahaga terobati.

Antre mendapatkan air segar asli pegunungan.
Hutan Adat

Saya menyeberangi sebuah jembatan yang terbuat dari bambu. Tiang-tiang jembatan bambunya berderet menancap sampai dasar sungai dan menjutai sampai ke atas. 

Kembali berjalan, saya melewati sebuah hutan yang sangat rimbun. Saking rimbunnya, bahkan mungkin kucing pun tidak bisa melewati hutan ini. Penasaran, saya bertanya kepada Aa Jali. Aa Jali berkata kalau ini adalah Hutan Adat atau biasa di sebut Hutan Larangan. Tidak sembarang orang boleh memasukinya.

Hutan adat, selain sebagai salah satu bagian dari kepercayaan si pemegang adat juga secara tidak langsung merupakan sebuah upaya konservasi untuk melindungi ekosistem di sekitarnya.

Manusia sangat mudah dipengaruhi bila hal itu menyangkut kepercayaan. Dengan pantangan-pantangan tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan masyarakat setempat, orang jaman dahulu sebenarnya sudah menerapkan sistem konservasi alam melalui konsep 'Hutan Larangan' ini.

Berkembangnya jaman dan semakin majunya pemikiran manusia, pantangan-pantangan tersebut tidak lagi berupa takhayul, namun berupa peraturan perundang-undangan yang menakuti masyarakat dengan denda dan penjara.

Jembatan Bambu yang susunannya rumit namun terlihat epic.
Modernisasi off-limit

Perjalanan di lanjutkan sampai saya menjumpai sebuah pohon yang terdapat ikatan daun pisang yang telah kering. Di sini kami di berhentikan oleh Aa Jali yang berambut gondrong itu.

"Lurus pohon ini adalah kawasan Baduy Dalam, jadi tolong ya semua barang-barang elektronik jangan di pakai" kata dia dengan bahasa Indonesia campur Sunda.

Di sinilah perpisahan saya dengan kamera dan handphone. Semua alat elektronik kami matikan. Tidak ada musik, tidak ada suara jepretan shutter kamera. Semua mendadak sunyi.

Foto bersama sebelum memasuki Baduy Dalam.
Hari itu, hanya kami yang mengunjungi Baduy Dalam. Langit mulai berwarna jingga. Kegelapan berangsur-angsur datang dari arah timur.

Kami mempercepat tempo jalan. Dari santai menjadi agak ngebut, melewati hutan rimbun dengan jalan yang sempit.

Jarak dari perbatasan tadi dengan kampung Baduy Dalam tidak lah jauh, mungkin hanya sekitar satu jam perjalanan.

Sebelum masuk komplek perkampungan, kami kembali melewati sebuah jembatan dengan sungai dangkal yang cukup jernih di bawahnya.

Kampung Baduy Dalam dikelilingi oleh pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi dengan jarak yang rapat-rapat.

Kampungnya sangat sunyi. Jangkrik-jangkrik sudah mulai bernyanyian sementara langitnya semakin bertambah gelap, menyisakan sedikit cahaya yang sulit menembus rapatnya kanopi bambu yang bergerombol bak payung.

Jalan yang dilewati selama perjalanan ke Baduy dalam adalah jalan tanah merah seperti ini.
Penduduk kampung yang tadinya berada di dalam rumah mendadak keluar dan menyambut kami. Beberapa membawa kerajinan tenun dan parang untuk di tawarkan. Wow, belum apa-apa sudah banyak sales.

Kami berkumpul di rumah Aa Jali. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari bambu. Rumahnya bisa menampung sepuluh orang. Tidak ada perabotan apa pun di dalamnya. Kosong seperti hatiku. Hanya terlihat beberapa perkakas sehari-hari (yang dibuat sendiri) menggantung di dinding bambu.

Kami disuguhi air putih dan gula aren oleh Aa Jali. Gula aren ini merupakan salah satu hasil produksi masyarakat Baduy Dalam dengan menyadap nira pohon aren.

Suguhan gula aren kepada tamu merupakan salah satu suguhan mewah orang Baduy Dalam. Ibarat kami di suguhi kue jika bertamu ke rumah seseorang. 

Saya ambil dan emut satu potong gula aren, di susul dengan satu tegukan air putih. Tak disangka, rasa manis dari gula aren yang larut dalam air yang saya minum ini terasa begitu menyegarkan.

Tipikal teras rumah Suku Baduy.
Sambil duduk bersila di beranda rumah yang beralaskan tikar anyaman bambu, kami saling bercerita. Kami menanyakan budaya suku Baduy, sementara mereka menanyakan tentang kota kami, Yogyakarta.

Ternyata warga Baduy benar-benar taat akan budaya mereka. Pernah suatu ketika mereka di undang bertemu presiden. Mereka mengutus dua wakilnya untuk berangkat ke Jakarta dengan berjalan kaki! Ya, mereka jalan kaki dari kampung mereka ke Jakarta tanpa naik satu kendaraan transportasi pun. Luar biasa bukan? Inilah traveler sejati, pikir saya.

Selain itu mereka juga menceritakan mengenai agama mereka, Sunda Wiwitan. Sebuah ajaran kepercayaan yang berakar pada penghormatan para karuhun atau arwah leluhur dan pemujaan kepada roh alam (animisme).

Kepercayaan ini juga sedikit banyak di pengaruhi oleh agama-agama Hindu, Buddha, dan Islam. Mereka percaya bahwa orang Kanekes merupakan keturunan langsung Nabi Adam.

Bentuk penghormatan kepada roh alam semesta dilakukan dengan cara menjaga dan melestarikan alam. Maka tak heran jika hutan di daerah ini sangat rimbun dan kestari, sungai-sungainya juga jernih.

Orang baduy memegang teguh sebuah 'pikukuh' atau kepatuhan yang berbunyi:


'Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.' Artinya adalah 'Panjang tidak boleh di potong, pendek tidak boleh disambung'.

Pikukuh tersebut merupakan konsep dari 'tanpa perubahan apa pun' atau perubahan dilakukan sekecil mungkin. Maka dari itu orang Baduy Dalam ini tidak mau menerima adanya modernisasi.

Banyak kunang-kunang dan jamur fosfor

Tak terasa gelap sudah turun, jam tangan saya menunjukan pukul 18:12, waktunya sholat maghrib. Kami mencari sumber air dan berakhir wudhu di sungai dekat perkampungan.

Suasana gelap gulita, satu-satunya penerangan hanyalah lampu minyak yang kami bawa dari kampus. Karena menggunakan minyak, jadi tidak masalah digunakan di kampung Baduy Dalam.

Saat sedang berwudhu, tatapan mata saya tertuju pada beberapa titik kecil di tanah yang menyala kehijauan. Setelah saya dekati ternyata itu adalah gerombolan jamur.

Jamur-jamur tersebut bercahaya hijau di tengah gelapnya malam. Kami baru kali pertama ini melihat jamur fosfor yang ternyata tumbuh di tanah Baduy Dalam.

Sungguh takjub karena setelah melihat sekeliling kami ternyata ada banyak jamur yang menyala kehijauan, mirip pemandangan di film-film famtasi.

"Gaes, deloken, jamure podo murub iki!" Teriak saya dengan girang, memberi tahu teman saya yang tadi ikut berwudhu kalau banyak jamur yang menyala dalam gelap.

Teman-teman yang di belakang langsung berlarian penasaran dan langsung takjub melihatnya.

Ukuran jamurnya kecil-kecil dan bergerombol, jadi terlihat seperti kerajaan para peri. 

Sayang sekali saya tidak bisa memotretnya karena sudah di larang sebelumnya untuk tidak boleh menggunakan alat elektronik, dan saya menghormati itu.
Ilustrasi jamur fosfor yang ada di kampung Baduy Dalam (Foto: Angus Veitich)
Jamur menyala atau jamur fosfor seperti yang ada di Baduy Dalam ini nampaknya bisa di jumpai juga di Pegunungan Halimun Salak (menurut website halimunsalak.org).

Jamur ini dapat menyala karena adanya enzim latiferiza dan bio fosfor yang akan memberikan nyala putih kebiruan atau kehijauan di malam hari.

Menginap di Baduy Dalam

Kami sholat di dalam rumah Aa' Jali setelah sebelumnya dia keheranan karena baru kali ini ada orang yang sholat di rumahnya. Selesai sholat, saya mengabari teman lainnya yang belum melihat jamur, jadinya kami pergi lagi ke pinggir sungai untuk melihat jamur itu.

Rasanya benar-benar tak terlupakan. Saat memasuki pinggiran sungai, suasana tetiba berubah menjadi fantasi. Kami hening memandangi jamur fosfor itu.

Hanya suara jangkrik dan deru sungai yang terdengar. Kunang-kunang di seberang sungai juga tak mau kalah, mereka menari-nari anggun memendarkan cahaya kuningnya.

Ilustrasi kunang-kunang yang ada di kampung Baduy Dalam (foto: Steve Hoever)
Malam itu kami habiskan hanya dengan mengobrol saja. Sesekali hening karena tidak ada obrolan lagi. Sungguh, tidak banyak yang bisa di lakukan dalam kegelapan tanpa teknologi seperti ini. Apalagi tidak ada kopi sebagai teman begadang.

Entah karena bosan atau kelelahan akhirnya saya terpejam pada pukul sembilan malam. Kami tidur hanya beralaskan tikar, dan itu merupakan alas tidur yang paling nyaman yang pernah saya rasakan.

Saya terbangun oleh decitan lantai bambu yang terinjak oleh sebuah langkah kaki buru-buru. Matahari sudah mengintip masuk melalui celah-celah dinding bambu.

Setengah sadar, saya mencium aroma kopi dan asap kretek teman saya.

"Loh kok ada kopi?" Tanya saya. 

"Lah iya, aku lupa kalau ternyata aku bawa kompor, nesting, dan kopi" jawabnya sambil terkekeh.

"Woo, asyem tenan koe!" gerutu saya.

Saya join kopi dengan teman saya itu yang biasa dipanggil 'Pak Taka' karena badannya yang besar dan mukanya yang boros umur.

Kami menikmati kopi di beranda rumah Aa Jali sambil melihat aktifitas pagi hari warga Baduy.

Setelah semua anggota tim segar bugar, kami melanjutkan aktivitas penelitian kami yakni mengambil data lapangan mengenai geografi fisik seperti suhu, ketinggian, curah hujan, dan sebagainya.

Sebelum pulang, tak lupa kami membeli dulu kerajinan tangan warga Baduy Dalam yang sudah ditawarkan sejak kemarin sore, seperti kain, ikat kepala, badik, madu hutan, gula aren, dan lain sebagainya.

Perjalanan pulang di pandu oleh pemandu yang sama seperti kemarin. Tetapi kali ini saya di pandu oleh dek Arman. Bocah kecil yang rasa ingin tahunya amat besar.


Dek Arman yang sukanya kepo.
"A sudah punya istri?" Tanya Arman dengan penuh rasa ingin tahu.

"Belum lah, masih harus sekolah dulu, baru cari istri" jawab saya.

Dengan muka heran dia berkata "Anak laki seumuran aa kalau di sini sudah punya anak lho".

Perkataannya itu diiringi oleh tawa teman-teman yang menyeringai jahat sambil berkata "dasar jomblo".



– Tulisan ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2013

Keluar Dari Zona Nyaman Dengan Traveling


Traveling mungkin merupakan salah satu alasan saya untuk mencoba keluar dari zona nyaman. Pernah pada suatu ketika saat saya masih polos, saya bertemu dengan seorang backpacker bule asal Amerika di dalam kereta Pramex jurusan Jogja - Solo. Saat itu saya duduk disebelahnya dan sepanjang perjalanan kami banyak mengobrol. 


Salah satu obrolannya adalah tentang comfort zone.  Waktu itu saya belum tahu apa itu comfort zone. 


Seingatku dia bilang begini "I want to escape my comfort zone,  so i decided to travel around the world". 


Dari perkataanya, saya pikir zona nyaman itu ya cuma rasa bosan saja. Sudah, itu saja, rasa bosan.


Pernah mendengar istilah 'zona nyaman'? jika belum, maka beruntunglah saya karena bisa memberikan informasi ini kepada pembaca yang mungkin sekarang sedang berada dalam fase stagnant, merasa hidup kok begini-begini saja, tidak ada kemajuan.


Saya juga sekarang sedang berada dalam fase tersebut, tapi setidaknya saat ini saya sedang mencoba untuk keluar dari penjara 'zona nyaman' itu dengan melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. sesuatu yang di luar kebiasaan dan selama ini cenderung saya hindari.

Arti sebenarnya dari zona nyaman

(quotemaster)
Zona nyaman merupakan bagian dari masalah psikologi dasar manusia. Menurut pakar Behavioural Psychology Alasdair A. K. White dalam bukunya 'From Comfort Zone to Performance Management' mengatakan bahwa,
Zona Nyaman adalah sebuah keadaan dimana seseorang merasa terbiasa dan nyaman karena mampu mengontrol lingkungannya. Dalam keadaan ini, orang tersebut jarang merasa gelisah dan jarang mengalami tekanan yang mengakibatkan stress. 
Jadi, hal apapun yang membuat saya nyaman dan enggan beranjak pergi karena takut sesuatu terjadi jika saya meninggalkannya adalah merupakan Zona Nyaman. Takut mencoba sesuatu yang baru adalah definisi paling sederhana dari kalimat 'terjebak di zona nyaman'.


Skripsi, diet, olahraga, traveling, memulai sebuah bisnis, mencari pekerjaan - hal tersebut adalah sekian dari banyak hal yang ingin di sukseskan oleh banyak orang namun selalu gagal untuk dilaksanakan.

Kita gagal melaksanakan hal-hal tersebut bahkan sebelum dimulai karena takut akan kemungkinan-kemungkinan menyusahkan yang mengikutinya.


Jika ingin kurus maka kita harus mengorbankan makanan favorit kita, saat ingin memulai sebuah bisnis maka langsung terbayang kegagalan dan penderitaanya, saat ingin mulai mengerjakan skripsi, langsung terbayang wajah garang sang dosen.


Kita selalu menghindar dengan berbagai macam alasan dan kekhawatiran, alhasil kita akan terus terjebak dalam zona nyaman dan tidak bisa berkembang.

Keluar dari zona nyaman dengan traveling

Sumber: thegardenhale

Pasti ada yang berpikiran "Ah, saya kan juga sudah bahagia karena melakukan apa yang saya sukai". Pemikiran seperti ini merupakan pemikiran yang salah. itulah sikap avoidance. Sikap menghindar tersebutlah yang sebenarnya paling berbahaya, membuat kita terkurung di dalam zona nyaman. Bila kita mau melangkah keluar dari zona nyaman maka kita akan menemukan sumber kebahagiaan yang lebih luas lagi. 


Keluar dari zona nyaman berarti adalah keluar dari kebiasaan-kebiasaan dan berani menghancurkan pagar pembatas untuk melangkah menuju zona yang lebih besar dan bervariasi. 

Setelah keluar dari zona nyaman, untuk menuju zona misterius yang menyimpan berbagai keajaiban, kita harus melewati sebuah sungai yang cukup luas yang namanya sungai penderitaan.

Banyak yang sudah berusaha keluar zona nyaman namun balik lagi karena tidak kuat berenang menyeberangi sungai tersebut. Hanya orang-orang yang punya tekad dan semangatlah yang mampu menyeberanginya.


Zona nyaman kebanyakan adalah alasan kenapa seseorang melakukan sebuah perjalanan atau traveling ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Dengan mengunjungi sebuah tempat yang berbeda, kita akan dilatih untuk harus merasa nyaman di tempat yang bukan biasanya kita merasa nyaman.

Ditempat dimana kita akan bertemu orang-orang yang berbeda, bangunan yang berbeda, makanan yang berbeda, dan bahasa yang berbeda sehingga kita akan terlatih untuk merasa nyaman ditempat yang tidak nyaman.

Kita akan melihat sebuah dunia dimana banyak keajaiban dan kejutan menanti. Hidup kita akan lebih berwarna-warni seiring berlalunya sang mentari.

10 Tahun Tinggal di Jogja, 10 Hal Inilah Yang Paling Bikin Kangen Jogja!



Yogyakarta, Jogja, Ngayogyo, Mataram, apapun itu namanya, semuanya mengacu pada sebuah kota yang terletak di bagian kanan bawah peta Jawa Tengah, dengan bentuk yang mirip tumpeng karena bagian atasnya mengerucut. Bagi saya yang sudah membuat penuh Jogja selama hampir sepuluh tahun, masih saja enggan beranjak dari kenyamanan yang ditawarkan oleh kota ini. Sebenarnya tidak adil kalau yang disebut hanya kota 'Jogja' saja.

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang kedepannya akan saya singkat menjadi sebuah nama sesimpel 'Jogja' ini melingkupi beberapa kabupaten, yaitu Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunung Kidul, dan Kota Jogja. Semua kabupaten itu punya andil sendiri-sendiri dalam kontribusinya kepada kekangenan kita akan Jogja. 

Jogja memang istimewa. Provinsi ini merupakan salah satu provinsi yang menawarkan paket wisata terlengkap. Mau ke gunung? Ada!, mau ke pantai? Banyak!, mau wisata budaya? Bejibun!, mau wisata kuliner? Gak usah ditanya!, atau mau wisata 'anu-anu'? Emmm...ada juga sih, dikit. Selain wisata, Jogja juga dipenuhi oleh mahasiswa dari ratusan kampus. Nah, yang biasanya kangen banget sama Jogja adalah para alumnus anak kuliahan di Jogja. Iyalah, kisah cinta, suka duka pengorbanan skripsi, titip absen, sampai hutang teman yang belum lunas semuanya tertinggal di Jogja. Berikut ini adalah 10 hal di Jogja yang bikin kangen versi saya :

1. Kampus!


Rindu Jogja, Rindu Kampus (sumber gambar: inovasee)
Yap, kampus. Ini merupakan satu hal yang paling saya kangenin dari Jogja. Biasanya tuh mahasiswa yang baru lulus bakal sok-sokan berkata "akhirnyaaa...aku bebas dari kampus juga" dan seakan-akan mereka benci banget sama kampus gegara dulu skripsinya ga di terima-terima sama dosen. Namun seiring berjalannya waktu, lama-lama kita akan merasa rindu kampus. Awalnya sih cuman pengen "ah..nongkrong di kantin ah" tapi lama-lama teringat akan canda tawa bersama teman-teman seangkatan, lalu kisah pedekate sama maba-maba tak berdosa, dan akhirnya malah baper ditempat. Setiap berkunjung ke Jogja pasti nyempetin ngeliat mantan kampus tercinta. Soalnya kampus gak melulu soal belajar, namun juga soal teman, cinta, dan canda tawa

2. Warung Burjo!


Burjoan, buka 24 jam, selalu siap siaga melayani anak kos.
Warung burjo adalah teman disaat kita berduka. Hanya warung burjo lah tempat kita mengadu #tsadisss. FYI buat kalian yang bukan mantan mahasiswa Jogja, warung Burjo itu semacam wartegnya orang Jogja dengan menu yang lebih simple dan to the point. Di setiap dindingnya pasti akan ada logo-logo indomei dan kopi badday, warnanya biasanya dominasi merah kuning hijau. Warung burjo ini di Jogja persebarannya kayak semut. Hampir tiap seratus meter ada warung burjo. Kenapa bikin kangen? Karena mau tidak mau kita bakal ngeliat burjo di mana-mana sampai mata mau belekan. Sebagai mahasiswa, burjo sudah seperti ibu kita sendiri, dialah yang memberi kita makan dan minum dari pagi sampai malam. Apalagi kalau burjonya ada fasilitas wifi, bisa pindah kos disitu dah. " A' nastel satu sama kopi item ya..."

3. Angkringan


Temaram lampu angkringan yang bikin rindu. (Sumber gambar : kotamini)
Angkringan langganan saya yaitu, angkringan Lek Tri menyediakan layanan custom menu minuman. Saya menciptakan sebuah minuman custom perpaduan antara jahe, jeruk, dan teh yang di patok dengan harga Rp. 2000 saja. Siapa yang ngga tau angkringan sih? tempat makan berbentuk gerobak dengan sistem bar dimana kita bakal nangkring di atas kursinya sambil ngobrol tentang rahasia kehidupan ini. Nasi kucing, gorengan, dan sate jeroan adalah menu makanan utama dari angkringan. Tidak sehat memang, tapi sebagai mahasiswa yang duitnya pas-pasan, mana peduli sama yang namanya healthy food berharga mahal itu? Teman saya bilang, kalau pengin makan jangan di Angkringan, tapi kalau pengin jajan, baru deh ke Angkringan. Kenapa? Karena kalau mau makan kenyang, jatuhnya malah mahal kalau kita makan di angkringan karena sistemnya eceran. Nyala lampu remang-remang didalam tendanya selalu membuat rindu Jogja.

4. Mantan Kos dan Kontrakan


Kebersamaan bersama teman-teman di kontrakan yang bikin kangen.
Beberapa teman saya yang sudah hengkang dari Jogja pasti akan pura-pura tidak sengaja lewat bekas kos atau kontrakannya sekedar ingin bernostalgia dan mengenang masa-masa jahiliahnya. Kos dan kontrakan tersebut telah menjadi saksi bisu masa-masa indah di Jogja. Kos itu mempertemukan kita dengan teman-teman baru yang sudah sudah kita anggap seperti saudara sendiri . Cerita cinta, kebersamaan, dan kehilangan ada disitu. Kekonyolan dan kegilaan juga semuanya ada disitu. Menjadi anak kos artinya adalah memecut diri sendiri menjadi pribadi mandiri yang lebih baik. Jadi kangen kos kan? 

5. Selokan Mataram


Di selokan mataram biasanya ada kendaraan yang nyungsep ke selokan (sumber gambar : menghilangkanspasi)
Selokan mataram ada dimana-dimana, selokan ini merupakan sungai buatan yang menyatukan antara Sungai Progo di Kulonprogo dan Sungai Opak di Bantul. Kenapa bikin kangen? Sebagai mahasiswa, saya sering nongkrong untuk sekedar ngopi dan ngobrol bareng teman-teman. Dan tongkrongan paling banyak ada di daerah Selokan Mataram Seturan. Disitu juga banyak toko-toko, dari parfum, baju, sepatu, helm, dll. Apalagi waktu sore hari sunsetnya lumayan indah bila dilihat dari Selokan Mataram Seturan Selokan mataram juga dikelilingi oleh kampus-kampus besar seperti UGM, UNY, UPN, dll, jadi tidak mungkin kamu tidak kangen selokan mataram kan?

6. Malioboro, Kampung Keraton, Tugu, sampai Sarkem


Jalan paling ikonik di Jogja (sumber gambar : tribunnews)
Entah kenapa setiap kali saya mengunjungi tempat-tempat di atas ada sebuah aura kerinduan yang menyelimutinya. Memang sebagai mahasiswa yang hidup cukup lama di Jogja, Malioboro dan sekitarmya hanya menarik diawalnya saja, setelahnya ya biasa saja. Namun jika kita sudah meninggalkan Jogja pasti akan sangat kangen dengan tempat-tempat tersebut. Hiruk pikuk wisatawan, rayuan pedagang oleh-oleh, sadisnya harga pedagang kaki lima, dan macetnya lalu-lintas seakan tertutup oleh humblenya arsitektur khas Jawa yang ada di situ. Perpaduan warna hijau dan bentuk jawa di bangunan dan fasilitas publik seakan mendamaikan pikiran. Senyuman ramah kusir dokar, tukang becak, dan pedagang kecil mampu mengeliminasi ego diri kita dan membuat kita nyaman selama berada di Jogja.

7. Murah!


Biaya hidup di Jogja murah! (Sumber gambar :  Brillio)
Kalau ditanya kota besar mana di Indonesia yang masuk dalam kategori biaya hidup paling murah? Jawabannya adalah Jogja!  Untuk makan dengan menu nasi + sayur + ayam + es teh, harga termurah yang pernah saya dapatkan adalah Rp. 7000, sungguh murah bukan? Kalau jaman awal saya kuliah, nasi ayam cuman Rp. 4000 saja. Bandingkan dengan kota besar lainnya. Maka, tidak heran bila banyak mahasiswa perantauan terutama dari luar jawa yang 'mendadak kaya' selama berada di Jogja. Murahnya hidup di kota Jogja akan semakin terasa ketika kamu meninggalkan Jogja dan hidup di kota lain seperti Jakarta. Kamu akan langsung merindukan murahnya harga makanan di Jogja. 

8. Senyum dan sapa


Tuh kan senyumnya bikin hati bahagia, apalagi senyumannya yang baju pink. (sumber gambar : Brillio)
Orang ASLI Jogja akan selalu tersenyum dan menyapa siapa saja yang ditemuinya ketika berpapasan di jalan. Cobalah kamu main ke daerah-daerah pemukiman seperti kali code dan kampung keraton. Kamu akan langsung disenyumin. Budaya ramah ini akan selalu terjaga selama budaya individualisme tidak semakin menjamur di kota yang ramah ini.

9. Banyak Tempat Wisata dan Hiburan


Jogja banyak tempat wisata yang asik buat pacaran (sumber gambar : sorotgunungkidul)
Selama hidup di Jogja kita tidak akan pernah kehabisan tempat yang menarik untuk dikunjungi di akhir pekan. Mau menikmati udara segar pegunungan? Kalian tinggal pergi ke Kaliurang atau Kulonprogo. Mau bermain pasir diiringi deburan ombak? Bantul dan Gunung Kidul setia menunggumu. Mau shoping? Banyak mall dan pasar tradisional yang siap menerima uangmu. Pengin senang-senang atau sekedar jalan-jalan? Kamu bisa pergi ke event-event musik, pameran dan budaya yang hampir setiap hari ada! Pokoknya banyak banget tempat wisata dan hiburan yang ada di Jogja yang bakal bikin kita merasa kehilangan kalau beranjak dari Jogja.

10. Surganya Kuliner dan tempat nongkrong


Nongkrong dan begadang bersama Backpacker Indonesia Reg. Jogja sampai pagi, ngobrolin apa saja sampai mulut berbusa.
Ada ribuan tempat makan dan minun yang tersebar di seantero Yogyakarta. Banyak tempat makan baik tradisional maupun modern yang selalu bertambah setiap waktu. Banyak tempat ngopi untuk sekedar tongkrongan bersama teman-teman. Bisnis kuliner di Jogja tidak akan pernah mati. Walaupun satu mati, pasti akan tumbuh seribu. Di cafe-cafe inilah kita menghabiskan malam bersama teman, komunitas dan juga pacar yang kalau di ingat-ingat lagi bakal bikin kita baper.

Nah, itulah 10 hal yang bikin betah di Jogja dan selalu ngangenin setiap waktu. Apa kotamu yang sekarang juga ngangenin seperti Jogja? Jawab di kolom komentar ya.

Lagoi Bay, Pantai Khusus Orang Kaya Yang Bisa Dinikmati Semua Kalangan


...(Lanjutan Seperti Inilah Acara Nikahan di Pulau Bintan, Pengalaman Kondangan Paling Jauh)

Akhirnya pagi tiba juga! Punggungku rasanya pegal-pegal tak karuan akibat kasur jahat di penginapan ini. Sambil melenguh kesal, kuambil handuk di dalam ransel dan melenggang lemas menuju kamar mandi. Setelah menuntaskan semua urusan kamar mandi, saya langsung berkemas dan buru-buru meninggalkan penginapan wadefak ini. 

Jam tangan merk "Sekoi" di pergelangan tangan sudah menunjukan pukul delapan lebih sepuluh menit. Ternyata saya ditiduri cukup lama oleh kasur jahat itu.

Saya kembali mampir ke warung makannya mas-mas dari Jawa. "Mas, aku pesen nasi goreng seafood sama kopi item satu yah", pintaku kepada si mas Jawa tersebut. Alhamdulilah Harga disini standar, tidak nutuk seperti kejadian yang sempat menghebohkan jagat internet beberapa waktu lalu, dimana beberapa wisatawan ketiban apes karena harga makanan yang dipesannya diluar kewajaran.

Beberapa bulan lalu netizen sempat heboh, karena ada sebuah postingan di facebook yang mengatakan bahwa beberapa orang mengaku telah di dzolimi oleh warung makan di tempat-tempat wisata seperti di Malioboro Jogja, Anyer dan bahkan di Pulau Bintan! Kasus yang ada di pulau Bintan kejadiaannya adalah saat keluarga korban sedang berlibur di sebuah resort. 

Di area resort itu ada sebuah restoran bintang lima . Karena penasaran dengan masakannya, mereka mampir kedalam restoran tersebut dan memesan tujuh porsi nasi goreng, satu porsi mie goreng dan tujuh gelas es teh. Tak disangka tak dinyana, bagaikan tersambar jambulnya Syahrini, si bapak ini langsung lemas setelah kasir menyerahkan receipt yang berisi total jumlah yang harus dibayar sebesar Rp. 3.629.000. Harga yang tak masuk akal walaupun sekelas restoran bintang lima.

Sungguh harga yang tidak senonoh. (sumber: facebook.com/chandraireng )
Untuk menghindari hal-hal seperti ini saya ada tips nih buat teman-teman yang suka jajan saat traveling. Usahakan jika mau kulineran di sebuah tempat wisata, tanyakan dulu harganya, kalau bisa ditawar saja. Setelah deal, segera bayar di muka dan tunggu pesanannya jadi. Setelah pesanan sudah jadi, baru lah kita bisa menyantap makanannya dengan nikmat tanpa harus merasa was-was, takut harganya di markup. Kenapa perlu bayar di muka? Karena ada kejadian walaupun kita tahu harganya, tapi, saat kita mau bayar, si penjual menaikkan harganya seenak dengkulnya  sensiri dengan beragam alasan.

Otewe Lagoi
Setelah menghabiskan dan membayar nasi goreng seafood  seharga Rp. 14.000, dan secangkir kopi seharga Rp. 5000. Saya segera mencari tempat persewaan motor karena jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi dan matahari sudah semakin menyengat. 

Saya tanyakan kepada mas warung dimana saya bisa menyewa motor. Mas warung dengan cekatan langsung berteriak memanggil salah satu tukang ojek yang bersedia menyewakan motornya. 

Pertama, si tukang ojek menawarkan harga Rp. 150.000 untuk 12 jam atau sewa sampai sore, tapi harga tersebut sungguh fantastis. Tinggal tambah Rp. 50.000 saya bisa sewa mobil. Karena harganya tidak wajar maka saya tolak. Namun dengan wajah yang keliatan pasrah, saya agak merasa iba juga.

Akhirnya saya manfaatkan keputus-asaannya supaya mau di nego. Saya keluarkan jurus nego ala preman, sambil pasang muka jutek akhirnya saya berhasil mendapatkan motor seharga Rp. 80.000 untuk sewa sampai sore hari. Motor matic warna merah segera meluncur ke arah utara berbekal arahan dari paman gugelmap.

Rute perjalanan Tanjung Uban ke Pantai Lagoi via google maps.
Pantai pertama yang akan saya tuju adalah pantainya orang kaya, yaitu Lagoi Bay. Kenapa saya sebut 'pantainya orang kaya'? Karena dulu, Lagoi Bay merupakan resort ekslusif dan tidak sembarang orang bisa masuk kecuali kalau orang itu punya duit. Kebanyakan pengunjung Lagoi Bay dulu adalah orang Singapore.

Sekarang Lagoi Bay sudah terbuka untuk umum, jadi, masyarakat dari berbagai kelas bisa menikmati indahnya pantai di ujung utara pulau Bintan ini, walaupun masih terbatas hanya beberapa pantai saja yg free entry. 

Lagoi Bay merupakan Sebuah area yang cukup luas, dimana didalamnya terdapat beberapa resort yang bisa kita kunjungi. Ibaratnya, Lagoi Bay adalah kompleks per-resort-an dengan semboyannya "Lagoi - yours to develop".


Pantai ini direkomendasikan oleh teman saya yang baru nikahan kemarin. Katanya pantainya berpasir putih dan sangat bersih. Jaraknya dari Tanjung Uban sekitar 32 km, menempuh perjalanan naik motor dengan laju santai sekitar satu jam.

Dari tanjung uban saya tinggal lurus saja mengikuti jalan utama ke arah utara. Jalan utamanya hanya ada satu, menghubungkan Tanjung Uban dengan Tanjung Pinang. Sesekali ada percabangan, namun tinggal mengikuti plang petunjuk arah saja kok, dijamin tidak akan tersesat, kebangeten lah kalau tersesat .


Jalanan di Pulau Bintan
Saya menyusuri jalan aspal buluk yang sesekali terdapat lubang di kanan kirinya. Jalanan lengang, sesekali saya berpacu dengan bus yang keberadaannya di Pulau Bintan sangat jarang, makanya saya pilih menyewa motor.

Beberapa kali motor naik turun bukit dengan pemandangan sepanjang perjalanan adalah hutan semak belukar dan tanah-tanah tandus. Sesekali saya melihat sebuah rumah kayu dengan ornamen oriental. 

Pemandangan seperti itu tidak ada di Jawa, orang keturunan Tionghoa di Bintan cukup banyak, dan mereka tidak hanya terpusat didaerah pasar atau perkotaan saja namun juga di daerah terpencil jauh dari kota. Rumah-rumah mereka sederhana namun tampak unik karena hiasan lampion, cat merah dan kuil-kuil kecil menghiasi rumah kayu mereka.

Portal masuk kawasan Lagoi bay saat sedang peak season (gambar diambil dar rr.co.id , karena saya lupa tidak memfotonya)
Pintu masuk area Lagoi Bay ditandai dengan jalur berportal di sisi kiri jalan (bila dari arah Tanjung Uban). Saya agak was-was karena takut tidak boleh masuk dan sudah menyediakan beberapa lembar recehan di dalam saku celana tapi ternyata masuk area Lagoy gratiss, hanya diberi tiket masuk tanda bawa kendaraan saja. Tapi untuk mobil ada biaya retribusi sebesar Rp. 5000.

Jalan di area Lagoi Bay ini sangat kontras dengan jalan kota. Jalannya lebar dengan aspal yang mulus dan bersih. Di kanan-kiri sepanjang jalan ditumbuhi pepohonan yang hijau dan asri. 

Jalan masih tetap lengan, tampaknya tidak banyak wisatawan di hari ini. Beberapa turis asing bermata sipit tampak melaju menaiki sepeda berlawanan arah denganku sambil tertawa terbahak-bahak seakan-akan seperti sedang menertawakanku. 

Sesampainya di ujung jalan saya menjumpai pertigaan yang penuh dengan plang petunjuk arah. Buta destinasi, saya ambil arah kiri menuju Lagoi Beach, karena sepertinya pantai itu merupakan suguhan utama Lagoi Bay.

Jalan berganti dari aspal menjadi paving yang dihiasi tanaman-tanaman hias disepanjang jalan. Petugas kebersihan tampak wara-wiri. Saya tidak tahu apa yang mereka bersihkan. Karena menurut saya jalannya sudah sangat bersih.

Banyak gedung tapi sepi pengunjung.
Mendekati Lagoi Beach, beberapa gedung bertingkat tampak menjulang didepan saya. Gedung-gedung ber-arsitektur unik yang banyak kacanya itu tampak kosong dan kesepian. Di kanan jalan terdapat sebuah danau buatan ditengah padang rumput yang juga buatan.

Saya kebingungan mencari tempat parkir motor. Setelah tanya sama petugas keamanan, saya diarahkan ke sebuah lahan kosong yang berbatu, berpasir, tanpa atap seperti tempat parkirnya petugas proyek. Sementara saya lihat parkir mobilnya cukup nyaman karena luas dan beralaskan aspal. Saya langsung kepikiran apakah ini adalah sebuah tindakan diskriminasi status? Ataukah tempat parkir motornya sedang dibangun? I dont know, lagian tempat parkir motornya tidak ada penjaganya jadi saya tidak bisa menanyakannya.

Mungkin parkiran motornya masih dalam tahap pembangunan.

Pantai Lagoi
Lagoi beach, walaupun dikelilingi gedung-gedung perbelanjaan dan hotel ternama tampak sepi, lengang, seperti kota zombie walaupun sesekali ada rombongan remaja berambut orange bergerombol sambil cekikikan.

Saya langsung berjalan menuju pantai. Pohon kelapa nyiur melambai tertiup angin sepo-sepoi. Rumput hijau seakan menabrak pasir putih, menciptakan gradasi warna yang segar. "Ini baru pantai" batinku. Ternyata pantainya tidak sesepi dugaanku sebelumnya. 

Di Lagoi Beach sudah banyak orang yang tengah menikmati alunan merdu ombak pantai. Kebanyakan adalah rombongan keluarga. Mereka menggelar tikar diatas rumput maupun pasir. Di ujung pantai terlihat segerombolan anak sekolah yang nampaknya sedang study tour. Diujung pantai lainnya tampak beberapa pasang kekasih sedang memadu cinta. Sedangkan disini, tampak seorang pria kesepian tampak mencurigakan, berdiri sendirian sambil cengar-cengir sendiri .

Pantai yang bersih pasti bikin betah!
It's time to enjoy the beach! Saya susuri pantai dari ujung ke ujung. Sesekali menapakan kaki pada hangatnya ombak disiang hari. Foto sana-sini. Duduk dibawah pohon kelapa dan bersandar padanya sambil meneguk teh botol yang telah saya beli di warung sebelumnya.

Oya kalian wajib bawa makanan dari luar, karena disini tidak ada warung! Setidaknya waktu itu saya tidak melihat adanya warung di Lagoy Beach, kecuali satu restaurant sepi di salah satu bangunan bertingkat. 

Beberapa fasilitas yang ditawarkan di Lagoi Beach adalah kursi bantal yang empuk di bawah payung pantai yang bisa kita sewa supaya bisa menikmati minuman favorit sambil bermain gadget seperti foto-foto anak traveler kekinian di instagram. Wahana kayaking juga ada di Lagoy Beach, rutenya hanya diperbolehkan berkililing di area pantai saja. Selain itu banyak fasilitas yang disediakan oleh pengelola yakni sarana olahraga seperti volley pantai, futsal, dll.

Wisatawan tampak asik bermain volley pantai,
Pantainya 'Orang Kaya' vs 'Orang Miskin'
Terdapat perbedaan mendasar antara pantai yang diperuntukkan bagi orang berduit yang ekslusif dan pantai umum yang semua kalangan masyarakat bisa menikmatinya.

Lagoy beach merupakan salah satu contoh  perpaduan antara keduanya (contoh lainnya adalah pantai-pantai di Bali dan lombok). Perbedaan utamanya adalah soal kebersihan. Disini, saya tidak menemukan adanya sampah berserakan di sudut-sudut pantai. Semuanya tampak putih bersih. Sangat berbeda dengan tujuan pantai saya selanjutnya yaitu pantai Trikora. 

Hal ini selain keterlibatan pasukan 'orange' dari pihak pengelola juga ada keterlibatan perbedaan cara berpikir antara masyarakat kelas ekonomi menengah keatas dan masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah. Utamanya adalah perbedaan cara pandang terhadap sampah itu sendiri dimana dalam hal ini saya menggeneralisir bahwa kalangan ekonomi menengah keatas itu pendidikannya sudah maju sehingga cara pandangnya terhadap sampah lebih 'bersih' dari kalangan ekonomi kebawah. Ada sebuah rasa 'gengsi' bagi orang kaya untuk membuang sampah sembarangan. 

Selain itu keterlibatan pasukan 'orange' alias pasukan bersih-bersih sangatlah besar. Pantai yang dikelola oleh swasta kebanyakan lebih mementingkan kebersihan ketimbang pantai yang dikelola oleh daerah yang saya kira masih acuh tak acuh terhadap masalah kebersihan pantai.

Lagoy beach, sebagai perpaduan antara pantai orang kaya dan pantai rakyat berhasil menerapkan rasa 'gengsi' tersebut kepada masyarakat umum dimana pihak pengelola tidak memberikan sedikitpun ruang bagi masyarakat untuk membuang sampah sembarangan. 

Tong-tong sampah ditempatkan disegala penjuru. Petugas kebersihan selalu mondar-mandir membersihkan sekecil apapun sampah itu sehingga memunculkan rasa 'bersalah' bagi masyarakat yang hendak membuang sampah sembarangan. Pengelolaan pantai Lagoi Beach ini patut dicontoh oleh pengelola pantai-pantai lainnya. 

Banyak destinasi wisata di Lagoi Bay selain Lagoi Beach. Tetapi beberapa merupakan private resort dimana kita harus jadi tamu resortnya dahulu sebelum bisa puas menikmati pantainya. Sementara beberapanya lagi berbayar, seperti Treasure Bay, sebuah kolam renang buatan berbentuk pantai yang katanya terpanjang se-Asia tenggara. Biaya masuknya Rp. 100.000. Karena saya penyuka gratisan jadi tidak ada waktu bagi saya untuk menghabiskan hari ditempat berbayar seperti ini. Maka dari itu saya akan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Trikora! Pantainya rakyat! Merdeka! (Bersambung)

Foto-foto Lagoy Beach lainnya :


Berbekal kamera sport dan tongsis pinjaman salah satu teman di Batam, Thanks Rio!. Solo traveler wajib membawa tongsis.
Pengunjung menikmati fasilitas futsal yang disediakan oleh pengelola Lagoy Beach

Kalian bisa berman volley pantai loh! boleh kok pakai bikini, hehe.


Kursi bantal yang bisa kalian sewa supaya postingan foto d Instagram tambah kekinian


Pengin olahraga air? kalian bisa mencoba bermain kayak disni.


Pohon-pohon kelapa yang tnggi menjulang membuatnya serasa berada di Hawaii


Pantai yang sangat enjoyable untuk sebuah family trip. Bercengkerama dan bercanda di pinggir pantai yang ndah pastnya akan menambah kehangatan keluarga bukan?


Ini kantor baywatch-nya Lagoi Beach. Sayang ngga ada penjaga pantai yang sexy.


Ini berada di belakang pantai, jika peak season biasanya akan banyak pedagang  makanan yang berjualan disini.


Pantainya orang kaya memang bersih, setuju?

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca