Mengintip Singapura Dari Pantai Tanjung Pinggir, Batam


Kapal-kapal tanker tampak terapung tak bergerak, disebelahnya, sebuah kapal ferry melaju kencang menerabas angin, memecah ombak. Sementara dibelakangnya, siluet gedung-gedung pencakar langit tampak menjadi pembatas horizon sebuah laut yang sedang saya pandangi, sambil sesekali menyipitkan mata karena angin yang berhembus membawa serpihan-serpihan kecil pasir pantai membuat mata saya kelilipan.

Bayang-bayang gedung bertingkat dari seberang tampak mengintimidasi pulau kecil ini, walaupun sebenarnya gedung diseberang sana juga berdiri diatas pulau yang sama kecilnya.

Namun jika posisinya saya balik, mungkin pemandangan yang terlihat dari seberang bukanlah siluet gedung bertingkat, melainkan gundukan hitam tak berbentuk. Sebuah perbedaan signifikan yang hanya dipisahkan oleh jarak sekian puluh kilometer. 

Siluet Singapura dari Pantai Tanjung Pinggir
Begitulah kiranya yang saya rasakan ketika melihat Kota Singapura dari Pantai Tanjung Pinggir, Sekupang, Batam. Selain menawarkan pasir cokelat dan ombak yang tenang, Pantai Tanjung Pinggir juga menawarkan atraksi melihat siluet kota Singapura. 

Pantai ini cukup bagus, garis pantainya lumayan panjang dengan pasir yang berwarna putih kecoklatan. Pasirnya tampak halus, dan memang halus saat saya tapaki dengan kaki telanjang. Cukup bersih, hanya ada sedikit sampah plastik yang terlihat, mungkin dibuang sembarangan oleh 'monyet-monyet' nakal yang berkunjung kesini.

Dibelakang garis pantai banyak tumbuh pohon-pohon rindang yang bisa digunakan sebagai peneduh saat matahari terlalu menyengat panasnya. 


Saya menyusuri garis pantai dari timur ke barat. Pasir cokelat yang halus perlahan berganti menjadi batu karang cokelat yang kasar dan tajam. kaki telanjang saya sekarang tidak telanjang lagi, takut kesuciannya terenggut oleh karang-karang yang tampak horny.


Menyusuri jalanan berkarang ini mengantarkan saya pada sebuah hutan mangrove yang dipisahkan oleh selat kecil, mustahil untuk menyeberanginya maka saya balik lagi ke pantai.

Warung dibawah sebuah pohon besar yang teduh mendadak menjadi tempat favorit saya di pantai ini. Air es kelapa muda membasahi kerongkongan saya yang sedari tadi kehausan karena lupa tidak membawa air minum.


Tidak banyak pengunjung sore ini, hanya ada beberapa keluarga dan pasangan muda-mudi yang tampak mewarnai background cokelat Pantai Tanjung Pinggir.

Oya, Pantai Tanjung Pinggir juga aman untuk mandi-mandi manja karena ombaknya kecil dan laut pantainya dangkal, tapi jangan berenang terlalu jauh.


Overall, Pantai Tanjung Pinggir worthed untuk dikunjungi jika kamu berlibur ke Batam, terutama bila arrived dari Pelabuhan Sekupang.

Jarak dari Pelabuhan Sekupang ke Pantai Tanjung Pinggir hanya sekitar 5 km. Disekitar pantai juga terdapat beberapa resort yang siap memanjakan liburan anda di Batam. Selamat berlibur!



Pohon horizontal ini menjadi spot foto paling hits di Pantai Tanjung Pinggir, Batam.

Hutan mangrove yang tengah terendam air pasang.

Piknik beneran nih, gelar tiker, bawa makanan sendiri dan menikmati indahnya Pantai Tanjung Pinggir bersama keluarga tercinta.

Tempat Wisata Kuliner di Hong Kong


Hongkong menjelma menjadi negara yang maju dengan pesona dan tempat wisata yang banyak di kunjungi wisatawan. Ada banyak hal yang menjadi incaran para turis saat berkunjung ke Hongkong ini, mulai dari wisata belanja, wisata alam, atau ke tempat-tempat keagamaan, sampai wisata kuliner.

Dan kali ini kita akan membahas dimana saja tempat wisata kuliner di Hongkong yang bisa dicoba mulai dari tempat yang murah meriah, hingga yang mahal. Yuk, cek wisata kuliner di Hong Kong ini.

Menikmati Sunset Candi Ijo, Candi Tertinggi di Jogja


Jika ditanya kegiatan apa yang paling berkualitas untuk mengisi waktu luang? Jawaban saya adalah baca buku dan jalan-jalan! Dua kegiatan ini mampu mengisi kekosongan kita dengan sesuatu yang bermanfaat yakni pengalaman, wawasan, dan pengetahuan.
Mungkin jawaban tersebut bisa dibilang naif dan klise karena saya sendiri sebenarnya masih terjebak dalam gelombang dusta sosial media. Ada waktu senggang sedikit pasti langsung buka instagram atau facebook, kalau lagi banyak kuota ya youtube.
Tapi sore itu saya merasa sangat bosan dengan sosmed yang timelinenya penuh dengan postingan kebencian. Maka saya putuskan untuk jalan-jalan, menikmati sore yang cerah dengan langit yang berwarna keemasan.
Sunset! kata tersebut langsung saja terbayang dibenakku. Dimana spot sunset terbaik di Jogja yang dekat dengan rumah? jawabannya adalah Candi Ijo.


Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Letaknya tidak terlalu jauh dari Candi Prambanan dan Candi Kalasan. Yang membedakan Candi Ijo dengan candi-candi lainnya di Jogja adalah letaknya yang berada di lereng perbukitan dengan ketinggian 425 mdpl sehinga membuat candi ini menjadi salah satu spot sunset terbaik di Yogyakarta. 
Saya berangkat dari rumah sekitar jam empat sore. Sebelum ke Candi Ijo, saya sempatkan mampir dulu ke obyek wisata Tebing Breksi yang masih satu jalur dengan Candi Ijo. Akan rugi kalau tidak mengunjungi obyek wisata ini karena mau tidak mau pasti akan melewati tebing breksi yang jalan masuknya tepat di pinggir jalan, 500 meter sebelum Candi Ijo.
Hanya sebentar saja saya mengunjungi Tebing Breksi karena tempat itu ternyata biasa saja --dan berdebu--. Hanya sebuah tebing bekas tambang yang disulap jadi tempat wisata dadakan yang tenar karena --lagi lagi-- sosial media.


Memasuki area parkir Candi Ijo, saya langsung dihadapkan dengan pemandangan indah deretan pegunungan sewu dan kota Jogja yang berpadu dengan warna keemasan matahari sore.


Kursi-kursi payung dari bambu berjejer rapi dipinggir tebing, memanjakan siapa saja yang hendak duduk-duduk disitu sembari menyeruput secangkir kopi panas, menikmati pemandangan alam kota Jogja yang indah dari ketinggian. Pemandangannya mirip dengan Bukit Bintang, di Jalan Raya Jogja-Wonosari.


Tiket masuk Candi Sewu hanya Rp. 2000 per orang tapi karena saya berkunjungnya jam lima sore sedangkan Candi tutup saat maghrib maka Pak Satpam mempersilahkan saya dan pengunjung lainnya masuk dengan gratis. Terimakasih Pak Satpam.




Candi Ijo yang semula hanya terlihat bagian puncaknya saja perlahan-lahan menampakkan seluruh tubuhnya seiring saya mendaki tangga menuju pelataran Candi yang ditumbuhi rerumputan.



Kompleks Candi Ijo berbentuk teras berundak. Candi utama berada di teras paling atas sementara di teras bagian bawah terdapat candi-candi yang masih dalam proses pemugaran. Bentuknya masih berupa reruntuhan.

Matahari sore kala itu seakan menyembunyikan rupa Candi Ijo, menyelimutinya dengan bayang-bayang siluet hitam dibalik keemasan langit senja. Tiga candi pengiring / perwara untuk memuja trimurti: Brahma, Wisnu, dan Siwa seakan-akan tampak sedang berlutut memuja Sang Maha Tunggal, Candi Utama yang menghadap ke barat, menghadap matahari. 

Candi perwara yang berada di tengah melindungi arca lembu, kendaraan Dewa Siwa. Arca lembu ini berada di dalam candi, bersebelahan dengan lingga yoni.

Untuk memasuki Candi Utama saya mendaki sebuah tangga batu yang dijaga oleh sepasang makara , makhluk mitos berbentuk bertubuh ikan dan berbelalai seperti gajah. Kepala makara menjulur ke bawah dengan mulut menganga. Di dalam candi utama terdapat sebuah lingga yoni dengan ukuran yang besar, tingginya mencapai 3 meter.



Matahari semakin mendekati garis horizon di ujung kota Yogyakarta. Orang-orang berkumpul di pinggiran teras candi. Sebagian berdiri, sebagian duduk, sebagian lagi tidur-tiduran di rumput. Kami semua di sini menikmati matahari senja yang perlahan-lahan menuruni cakrawala. Semakin matahari turun ke bawah, maka semakin merah nyala langit di depanku, seakan menghimpit siang dengan gelapnya malam.



Lampu kota mulai menyala. Kerlip lampu landasan pacu Bandara Adisucipto terlihat dengan sangat jelas. Lalu lalang pesawat terbang dari bandara ini juga sangat nampak. Hampir setiap 10 menit ada pesawat yang lepas landas dan mendarat.

Lampu-lampu di bawah sana menyala semakin terang seiring dengan semakin gelapnya langit. Tiba-tiba terdengar suara sirine dari bawah, dari Pos Satpam. Dua orang Satpam mendatangi kerumunan kami, para pengunjung dan dengan senyum ramahnya mempersilahkan kami untuk pulang karena area candi akan segera ditutup.



Masih belum puas, saya mendatangi warung di dekat parkiran pengunjung. Memesan segelas kopi hitam dan memilih tempat duduk di pinggir tebing. Malam sudah turun sepenuhnya. Kota Jogja terlihat menawan dari atas sini. Sebagian pengunjung yang belum puas juga turut serta mendatangi warung ini.

Saya bergabung dengan beberapa pengunjung yang merupakan mahasiswa rantau, sama seperti saya. Berbagi cerita, berbagi kisah, di bawah bayangan agung masa lalu dan di atas gemerlapnya cahaya masa depan.

⬇⬇⬇ Tonton VIDEO amatiran saya di Candi Ijo  ⬇⬇⬇


Candi Gebang, Si Kecil Yang Penyendiri


Saya sangat akrab dengan sebuah jalan yang bernama Candi Gebang. Lokasinya yang dekat dengan rumah membuatnya sering saya lewati. Dulu saya kira 'Candi Gebang' hanyalah sebuah nama jalan atau perumahan. Sama seperti 'Candi Indah' yang saya kira nama dari sebuah candi tapi setelah dicari-cari ternyata merupakan sebuah perumahan semi elit, bukan sebuah candi.

Syukurlah Candi Gebang yang saya tuju bukanlah sebuah perumahan, melainkan memang nama dari sebuah candi peninggalan peradaban masa lalu.


Penggunaan istilah 'candi' sebagai nama tempat memang sudah lumrah di Jogja. Terutama sebagai nama sebuah perumahan atau hotel. Jadi jangan sampai tertipu dengan sebuah tempat yang namanya diawali dengan kata 'candi'. 


Candi gebang yang berada Desa Gebang, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman ini memang kurang terkenal karena bukan merupakan candi utama. Hanya sebuah candi minor yang lokasinya ditengah-tengah perkampungan penduduk dan jauh dari jalan raya. Dari rumah saya mungkin jaraknya hanya sekitar 5 km.

Latar belakang historis dibangunnya Candi Gebang juga belum diketahui. Arkeolog hanya dapat memastikan bahwa candi gebang merupakan sebuah Candi Hindu yang dibangun pada tahun 730-800 M.

Jika dilihat dari ukuran tubuh candi yang kecil - hanya 3 meter dari pondasi kaki - mungkin difungsikan sebagai tempat pemujaan warga yang rumahnya jauh dari candi utama. Ibarat sebuah mushala dalam agama islam, atau sebuah kapel dalam agama kristen.



Berawal dari sebuah niat untuk JJS alias jalan jalan sore, sebuah papan petunjuk kecil bertuliskan 'Candi Gebang' tiba-tiba menggoda rasa ingin tahu saya untuk mengunjunginya. 

Sebelumnya saya memang telah berniat untuk mengunjungi semua Candi yang ada di Jogjakarta. Jika saja saya tidak pernah berniat, mungkin papan petunjuk yang kecil dan hampir tak terlihat itu tidak akan pernah saya gubris. Karena memang tidak begitu meyakinkan untuk dikunjungi.


Kompleks area Candi Gebang terletak di tengah persawahan dan hutan bambu sehingga membuatnya sejuk dan tidak panas. Area candi juga sudah ditata dengan indah. Disekelilingnya ditanami rerumputan yang dipagari oleh pohon teh-tehan. Bangku untuk pengunjung tersebar di beberapa titik. Ada satu warung makan kecil dan beberapa penjual bergerobak yang ikut meramaikan candi tunggal yang tampak kesepian ini.


Candi Gebang hanyalah sebuah bangunan candi berukuran kecil tanpa ada candi pengiring / pendamping. Bahkan tampaknya ukuran Candi Gebang lebih kecil dari candi pengiring yang terdapat di Candi Ijo, apalagi Candi Prambanan. Tidak terdapat tangga untuk menuju ke kamar utama. Kemungkinan jaman dulu menggunakan tangga dari kayu, jadi saya harus memanjat kaki candi yang tingginya satu meter untuk menuju ke kamar utama yang berisikan sebuah yoni tanpa lingga.

Pak satpam yang masih muda terlihat tengah asik berbincang dengan bakul bakso bergerobak pink. Saat saya masuk, tidak ada biaya retribusi sama sekali, mungkin karena sudah sore. Saya menyapa pak satpam dan sedikit berbincang dengannya.


Dia menjelaskan bahwa dulu awal dipugarnya Candi Gebang adalah karena ditemukan sebuah arca ganesha oleh warga sekitar pada tahun 1937. Berdasarkan penemuan itu, para arkeolog mulai melakukan penelitian tentang kemungkinan adanya sebuah candi di lokasi penemuan patung tersebut. 

Diasumsikan bahwa patung Ganesha tersebut merupakan bagian dari sebuah bangunan. Setelah dipastikan tentang adanya sebuah candi di lokasi tersebut, selanjutnya dilakukan penggalian, rekonstruksi dan pemugaran, yang dilangsungkan tahun 1937 sampai tahun 1939 di bawah pimpinan Van Romondt. Sekarang patung Ganesha tersebut bisa kita lihat tertempel pada dinding Candi Gebang.

Baca Juga: Candi Kalasan, Candi Untuk Jiwa Yang bebas
Beberapa reruntuhan batuan candi yang belum ada pasangannya tertata rapi bersama dengan sebuah lingga yoni yang sudah hancur. Kemungkinan merupakan bagian dari sebuah candi yang masih satu komplek dengan Candi Gebang namun masih berbentuk puzzle dan belum selesai di susun karena tidak ada kepingan pelengkapnya.


Jika pembaca hendak mengunjungi Candi Gebang maka rute paling mudah adalah lewat kampus AMIKOM Yogyakarta. Jika sudah ketemu kampusnya, maka tinggal lurus saja ke utara melalui Jalan Candi Gebang, nanti di kanan jalan akan ada plang kecil bertuliskan 'Candi Gebang'. Jika bingung, tanyakan saja pada warga sekitar, pasti akan dibantu sampai ketemu karena warga Jogja ramah-ramah.

Berburu Barang Antik di Hari Pasaran Pancawara Yogyakarta


Salah satu hobi saya kalau sedang tidak ada kerjaan adalah berburu barang-barang vintage, antik, jadul, dan unik sekedar sebagai penghias rumah atau di alih fungsikan jadi sesuatu yang lebih yahud, istilah bulenya 'upcycle'.

Tempat berburu barang-barang tersebut di Jogja selain di Pasar Klitikan, Pasar Niten Bantul , dan Pasar Senthir adalah di Pasar Pasaran Pancawara.

Pancawara merupakan nama dari sebuah pekan atau minggu yang terdiri dari lima hari dalam budaya Jawa dan Bali. Contohnya Pasar Pon, Pasar Kliwon, Pasar Wage, dan seterusnya. Pasar tersebut tempatnya berbeda-beda sesuai harinya.

Pasar Pon berlangsung di Pasar Godean, Kliwon di Pasar Bantul dan Cebongan, Legi di Pasar Kotagede, Pahing di Pasar Sleman, dan Wage berlangsung di Pasar Tegalrejo.

Bedanya dengan pasar biasa, pasar pancawara ini menjadi ajang para penjual barang bekas untuk menggelar lapaknya.

Penjual berasal dari Jogja maupun kota tetangga seperti Magelang, Purworejo, dan Solo. Diluar negeri pasar seperti ini dikenal dengan nama flea market atau pasar lalat karena para penjual ini seperti lalat, hinggap dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menjajakan barang dagangan mereka.

Atau bisa juga diartikan secara harfiah sebagai pasar dimana memang banyak lalatnya, karena barang-barang yang dijual ya memang sekelas barang rongsokan.


Dikalangan para pecinta barang-barang vintage ada istilah 'Grandma had it. Mom threw it out. I bought it back'. Kalimat tersebut memang sangat tepat karena saya benar-benar menyukai barang yang notabene pernah jadi benda kesayangan nenek.

Kesan retro vintage yang dipancarkan oleh barang-barang tersebut saat dipajang di salah satu sudut rumah mampu membuat tuan rumah, bahkan tamu terpukau oleh nuansa nostalgianya.

Kenapa di pasar seperti ini banyak barang-barang vintagenya? Karena, barang vintage itu kan sebenarnya adalah barang bekas namun usianya sudah puluhan tahun.

Nah di pasar seperti ini, barang bekas dari yang baru diproduksi sampai yang berasal dari jaman bahoela ada semua, tinggal bagaimana kita pintar-pintar memilihnya saja. Biasanya si penjual sudah memisahkan antara 'barang baru' dengan 'barang lama', atau malah ada yang mengkhususkan hanya menjual barang vintage saja.

Hari pasaran yang sering saya kunjungi untuk berburu barang antik adalah pasar pahing di Pasar Sleman karena dekat dengan rumah. Saking seringnya, pedagang disitu sampai hafal dengan saya. Jika saya berkunjung pasti sudah disiapkan barang-barang pilihan untuk ditawarkan.

Pasar Pahing di Sleman ini terletak sebelum Polres Sleman, di sebelah kiri jalan. Pedagang menggelar lapaknya di sepanjang jalan depan pasar. Ada puluhan pedagang yang menjajakan dagangannya dengan menggelar terpal di jalanan.

Barang yang dijajakan antara lain adalah pakaian baru dan bekas, onderdil motor, alat-alat rumah tangga, buku bekas, obat-obat tradisional, dan tentu saja barang-barang jadul dan antik.


Setiap hari pasaran pasti pasar akan dipenuhi oleh warga. Jangan dikira bakal sepi. Ramainya pasaran ini hampir menyamai ramainya konser Raisa vs Isyana loh! Saya harus bejubel berdesakkan dengan pengunjung lain. Bahkan berebut cepat demi mendapatkan barang incaran karena barang yang dijual disini kebanyakan one and only, alias satu-satunya, tidak ada yang menyamai.

Jika telah lelah menyusuri dari ujung ke ujung pasar ini maka saya biasanya akan memesan segelas es kopi susu dan semangkuk soto pedas di warung-warung sepanjang jalan pasar tumpah ini. Atau kalau ingin jajanan pasar khas Jogja tinggal masuk ke pasar utama saja, karena didalam pasar masih banyak penjual makanan tradisional.

Oya jangan lupa kalau mau berkunjung harus berangkat pagi, sekitar jam 7 karena kalau kesiangan bakal panas dan barang yang bagus-bagus biasanya sudah sold out. Pedagang pasar pancawara baru akan mengemasi dagangan mereka pukul 11 siang atau jika matahari sudah dirasa terlalu panas.


Pasar pancawara di Jogja ini bisa jadi wisata alternatif bagi pembaca yang kebetulan mengunjungi Jogja pada salah satu hari Pasaran. Bahkan, Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Yogyakarta sudah ada rencana untuk membuat pasar pasaran di Jogja ini menjadi salah satu tujuan wisata utama hanya saja terkendala infrastruktur pendukung obyek wisatanya saja.

Mari kita lestarikan pasar tradisional di Yogyakarta supaya tidak tergerus oleh pesatnya pembangunan pasar modern. Karena, belakangan ini Jogja nampaknya menjadi lokasi ajang lomba bangun Mall.

Menyusuri Panjangnya Pantai Trikora di Pulau Bintan


Pantai Trikora terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Provinsi Riau Kepulauan. Berjarak 45 km dari Tanjung Pinang, atau 70 km dari Tanjung Uban.


Nama 'Trikora' pada pantai ini katanya berasal dari Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) pada tahun 1961 dulu dalam rangka penggabungan Irian Barat ke NKRI.


Pada saat itu pantai ini digunakan sebagai salah satu pangkalan terluar untuk menghadapi serangan pasukan Belanda.

Tambak ikan laut di lepas pantai Trikora, Bintan.
Saya sampai di Pantai Trikora sekitar jam satu siang. Cuaca hari itu mendung, tapi hujan tak kunjung turun. Perjalanan saya dari Pantai Lagoi ke Pantai Trikora menggunakan sepeda motor membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam.

Orang aneh

Dalam perjalanan menuju pantai, saat saya sedang mengisi bensin eceran di satu-satunya warung yang ada di pinggir jalan, saya didatangi oleh seorang anak muda yang mukanya sudah terlihat tua (jahat banget ya saya), dengan rambut ala-ala Mike Jagger. Bagian depan pendek, belakangnya panjang.


Tiba-tiba dia bertanya "Bang, abang mau kemana?".

"Mau ke Trikora bro, kenapa ya?" jawab saya dengan agak heran dan sedikit was-was karena dia berpenampilan aneh.


Dia mengenakan kemeja yang sudah kotor berpadu dengan celana panjang jeans coklat yang juga sama kotornya. Bagian kaki kiri celananya di gulung sampai ke lutut, sementara satunya tidak.

"Boleh ikut bang? saya numpang sampai ke Trikora", pintanya.


Dengan perasaan was-was campur kasihan saya pun mengiyakan, kebetulan saya juga asing dengan daerah sini. Dengan adanya orang lokal yang menumpang ini bisa sekalian jadi pemandu saya.


Baca juga: kondangan di Pulau Bintan

Adi, warga lokal yang jadi guide dadakan.
Jangan lihat orang dari penampilannya. Barangkali nasehat itu yang harus kukatakan pada diri sendiri.

Namanya Adi. Penampilan lusuhnya yang tadi sempat membuat saya was-was akhirnya hilang setelah saya banyak bercakap dengannya sepanjang perjalanan. Orangnya ramah dan sangat talkative.

Ternyata si Adi kesehariannya menggarap kebun miliknya sendiri yang diwarisi oleh orangtuanya. Dia memang suka hitch hiking karena tidak ada transportasi umum menuju Pantai Trikora. Kalaupun ada, itu sangat langka. Jadi saya sarankan jika pembaca ingin menjelajahi Pulau Bintan, sewalah kendaraan sendiri.

Rumah si Adi, sederhana namun terlihat nyaman.
Panjangnya Pantai Trikora

Sesampainya di daerah pantai saya sempat bingung mencari mana yang namanya Pantai Trikora, karena pantai ini sungguh sangat panjang.

Kumpulan semak dan mangrove seakan menjadi pembatas alami pantai yang panjang ini.

Ternyata yang namanya Pantai Trikora ya sederetan pantai ini. Semua bernama Pantai Trikora hanya dibedakan jadi Pantai Trikora 1, Pantai Trikora 2, dan seterusnya.

Menurut wikipedia dan juga google maps, panjang Pantai Trikora mencapai 25 km.



Garis pantai yang sangat panjang ini semuanya berpasir putih.


Saat saya kesitu air laut sedang surut sehingga karang-karang yang tajam terlihat menghiasi bibir pantanya.

Laut biru yang tampak indah saat saya browsing gambar 'Pantai Trikora' di google tidak tampak. Malah, air laut seakan-akan tidak berwarna karena cuaca saat itu mendung.

Pantai utamanya, yang entah Pantai Trikora nomer berapa berada di ujung, ditandai oleh tumpukan batuan besar seperti yang biasa kita lihat di pantai-pantai Belitung.



Untuk sampai ke ujung Pantai Trikora yang pemandangannya paling bagus, saya membutuhkan waktu sekitar 20 menit menaiki motor. Bisa dibayangkan kan betapa panjang pantai Trikora ini. 


Saya berkunjung ke Pantai Trikora pada week days jadi tidak banyak pengunjung lain yang saya lihat.


Pantai yang panjang ini terasa sangat sunyi. Warung-warung dengan gubuk gazebonya yang kosong berderet di sepanjang pantai.

Saya mampir ke salah satu warung dan memesan dua cangkir kopi hitam, satu untuk saya, satunya lagi untuk si Adi yang sudah bersedia mejadi guide dadakan saya.



Berkunjunglah di akhir pekan


Sungguh berbeda dengan pantainya orang kaya, Pantai Lagoi. Pantai rakyat yang seharusnya indah ini ternodai oleh banyaknya sampah yang bertebaran di sepanjang pasir putihnya.

Pasir yang putih pun seakan tampak berwarna-warni, oleh sampah.

Fasilitas pengunjung? selain warung dan kamar mandi saya tidak menemukan wahana hiburan lain seperti paralayang, speedboating, dan lainnya seperti yang pernah saya baca di internet.

Hal itu mungkin dikarenakan kunjungan saya bukan pada hari libur atau weekend jadi penyedia wahana wisatanya enggan menampakkan diri karena pengunjungnya memang sedikit.



Saya berjalan menyusuri deretan warung menuju ujung pantai yang terdapat banyak batu-batu berukuran besar. Mungkin ini spot yang paling bagus di Pantai Trikora.


Tumpukan batuan granit yang ukurannya besar-besar ini memang banyak terdapat di pantai-pantai Kepulauan Riau.

Saran saya, jika ingin mengunjungi pantai-pantai di Pulau Bintan, kunjungilah pada saat musim kemarau dimana airnya akan tampak berwarna biru dan jernih sehingga keindahan pantainya akan lebih berasa.


Juga, kunjungilah saat peak season karena wahana dan fasilitas wisata akan lebih banyak dan beragam.



Chinese Garden Singapore, Oase di Tengah Riuhnya Metropolitan


Walaupun merupakan kota besar yang sibuk, Singapura mempunyai banyak tempat untuk menyepi dari penatnya kehidupan yang serba cepat ala kota metropolitan. Banyak taman yang selalu penuhi oleh warga di setiap sudut kotanya. 

Ketika mengelilingi negeri tetangga ini dengan bus, saya banyak melihat taman dengan pohon-pohonnya yang rindang. 
Kanopi-kanopi pepohonan tropis tampak dari kejauhan menggelayut tertiup angin.

Menurut situs Dinas Pertamanan Singapura, ada 1626 taman dan hutan kota yang tersebar di seluruh penjuru Singapura, termasuk taman atas gedung dan beberapa pohon lindung.

Ada satu tempat yang mencuri perhatian saya waktu sedang mengelilingi Singapura secara random (baca : tersesat) menggunakan kereta Mono Rail Train (MRT).

Waktu itu kereta yang saya tumpangi keluar dari terowongan bawah tanah dan kemudian naik ke jembatan rel di atas jalan raya. Karena posisi kereta berada di atas jalan, saya bisa melihat kota dengan leluasa dari atas.

Pemandangan dari atas pagoda. Hijaunya pepohonan sangat kontras dengan warna-warna gedung bertingkat
Saat itu saya melihat sebuah area hijau yang cukup luas di tengah gerombolan gedung-gedung bertingkat.

Tentunya pemandangan itu sangatlah mencolok karena area hijau sangat kontras dengan warna abu-abu gedung bertingkat di sekitarnya.

Pemandangan itu nampak sangat damai dan tenang. Dari kejauhan saya melihat ada sebuah pagoda berwarna merah di pinggir sebuah danau. Tertarik, saya langsung turun di pemberhentian Chinese Garden ( Stasiun EW25) tepat di pintu masuk taman tersebut.

Jembatan ala Tiongkok di Chinese Garden.
Taman itu adalah Singapore Chinese Garden. Sebuah area pertamanan khas Tiongkok dengan suasananya yang sangat ‘zen’. Seketika suasana hening yang menenangkan kalbu langsung terasa saat saya melewati sebuah jembatan kecil dan memasuki gapura berwarna merah.

Kolam-kolam kecil dengan gemericik air dari pancurannya menambah suasana menjadi meditasi-able.

Ikan koi berwarna-warni melenggat-lenggot indah di kolam itu.

Kolam ikan koi 'Koi Pond'
Saya berjalan mengikuti jalan setapak utama yang di pinggirannya berjajar rapi pohon-pohon pinus beralaskan rumput hijau yang basah.

Kebetulan waktu itu hujan baru saja reda jadi hawa di taman jadi sangat sejuk.

Jalan setapak yang diteduhi pohon-pohon membuat nyaman pengunjung.
Saya memasuki sebuah bangunan khas Tiongkok berwarna dominan merah yang saya tidak tahu apa sebutannya. Bangunan tersebut berdiri di atas sebuah kolam besar. Dihiasi oleh pot-pot pohon bonsai. Di situ saya merasa seperti berada di film-film laga Tiongkok dimana biasanya para Shaolin berlatih kungfu.

Ini spot terbaik di Chinese Garden Singapore.
Beranjak dari situ, saya menuju pagoda di pinggir danau yang tadi saya lihat dari kereta. Pagoda ganda tersebut tinggi menjulang berwarna putih merah.

Angin sejuk dari danau menyapu wajah saya.

Saya berdiam cukup lama di pagoda ini, menikmati suasana yang hening dan menenangkan.

Hampir semua bangunan yang ada di Chinese Garden Singapore saya kunjungi.

Twin Pagoda di pinggir danau yang menyita oerhatian saya sejak dari kereta.
Chinese garden singapore sore itu sangat sunyi. Mungkin hanya saya saja turis yang datang kesini. Pengunjung lainnya hanya warga lokal yang tampak sedang asik berolahraga.

Sepasang kakek-nenek yang sedang joging wara-wiri memberikan senyumannya kepadaku. Entah sudah berapa putaran mereka mengelilingi taman ini.

Tidak hanya Chinese Garden, disini juga terdapat Japanese Garden dengan rumah tradisional jepang. Hanya saja yang paling dominan tetaplah bangunan bertemakan Tiongkok.

Taman ini wajib di kunjungi bagi kalian yang sudah bosan mengunjungi tempat yang itu-itu saja di Singapore.


Cara menuju ke Chinese Garden Singapore ini tidaklah sulit, tinggal naik MRT jalur hijau atau East West Line  Jurusan Jurong Chinese Garden. Lebih mudahnya kalian bisa langsung cek web resmi MRT disini.

Biaya masuk ke Chinese Garden Singapore juga gratis-tis! Dijamin tidak ada pungli dan tukang retribusi dadakan.

Jangan lupa bawa bekal makanan dan minuman sendiri yah, atau kalian juga bisa membelinya di minimarket ‘Cheers’ tepat di stasiun pemberhentian Chinese Garden.

Chinese Garden Singapore bisa menjadi alternatif obyek wisata murah jika kamu sudah bosan mengunjungi destinasi wisata mainstream di Singapura. 

Selamat Menjelajah!


Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca