Keluar Dari Zona Nyaman Dengan Traveling


Traveling mungkin merupakan salah satu alasan saya untuk mencoba keluar dari zona nyaman. Pernah pada suatu ketika saat saya masih polos, saya bertemu dengan seorang backpacker bule asal Amerika di dalam kereta Pramex jurusan Jogja - Solo. Saat itu saya duduk disebelahnya dan sepanjang perjalanan kami banyak mengobrol. 


Salah satu obrolannya adalah tentang comfort zone.  Waktu itu saya belum tahu apa itu comfort zone. 


Seingatku dia bilang begini "I want to escape my comfort zone,  so i decided to travel around the world". 


Dari perkataanya, saya pikir zona nyaman itu ya cuma rasa bosan saja. Sudah, itu saja, rasa bosan.


Pernah mendengar istilah 'zona nyaman'? jika belum, maka beruntunglah saya karena bisa memberikan informasi ini kepada pembaca yang mungkin sekarang sedang berada dalam fase stagnant, merasa hidup kok begini-begini saja, tidak ada kemajuan.


Saya juga sekarang sedang berada dalam fase tersebut, tapi setidaknya saat ini saya sedang mencoba untuk keluar dari penjara 'zona nyaman' itu dengan melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. sesuatu yang di luar kebiasaan dan selama ini cenderung saya hindari.

Arti sebenarnya dari zona nyaman

(quotemaster)
Zona nyaman merupakan bagian dari masalah psikologi dasar manusia. Menurut pakar Behavioural Psychology Alasdair A. K. White dalam bukunya 'From Comfort Zone to Performance Management' mengatakan bahwa,
Zona Nyaman adalah sebuah keadaan dimana seseorang merasa terbiasa dan nyaman karena mampu mengontrol lingkungannya. Dalam keadaan ini, orang tersebut jarang merasa gelisah dan jarang mengalami tekanan yang mengakibatkan stress. 
Jadi, hal apapun yang membuat saya nyaman dan enggan beranjak pergi karena takut sesuatu terjadi jika saya meninggalkannya adalah merupakan Zona Nyaman. Takut mencoba sesuatu yang baru adalah definisi paling sederhana dari kalimat 'terjebak di zona nyaman'.


Skripsi, diet, olahraga, traveling, memulai sebuah bisnis, mencari pekerjaan - hal tersebut adalah sekian dari banyak hal yang ingin di sukseskan oleh banyak orang namun selalu gagal untuk dilaksanakan.

Kita gagal melaksanakan hal-hal tersebut bahkan sebelum dimulai karena takut akan kemungkinan-kemungkinan menyusahkan yang mengikutinya.


Jika ingin kurus maka kita harus mengorbankan makanan favorit kita, saat ingin memulai sebuah bisnis maka langsung terbayang kegagalan dan penderitaanya, saat ingin mulai mengerjakan skripsi, langsung terbayang wajah garang sang dosen.


Kita selalu menghindar dengan berbagai macam alasan dan kekhawatiran, alhasil kita akan terus terjebak dalam zona nyaman dan tidak bisa berkembang.

Keluar dari zona nyaman dengan traveling

Sumber: thegardenhale

Pasti ada yang berpikiran "Ah, saya kan juga sudah bahagia karena melakukan apa yang saya sukai". Pemikiran seperti ini merupakan pemikiran yang salah. itulah sikap avoidance. Sikap menghindar tersebutlah yang sebenarnya paling berbahaya, membuat kita terkurung di dalam zona nyaman. Bila kita mau melangkah keluar dari zona nyaman maka kita akan menemukan sumber kebahagiaan yang lebih luas lagi. 


Keluar dari zona nyaman berarti adalah keluar dari kebiasaan-kebiasaan dan berani menghancurkan pagar pembatas untuk melangkah menuju zona yang lebih besar dan bervariasi. 

Setelah keluar dari zona nyaman, untuk menuju zona misterius yang menyimpan berbagai keajaiban, kita harus melewati sebuah sungai yang cukup luas yang namanya sungai penderitaan.

Banyak yang sudah berusaha keluar zona nyaman namun balik lagi karena tidak kuat berenang menyeberangi sungai tersebut. Hanya orang-orang yang punya tekad dan semangatlah yang mampu menyeberanginya.


Zona nyaman kebanyakan adalah alasan kenapa seseorang melakukan sebuah perjalanan atau traveling ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Dengan mengunjungi sebuah tempat yang berbeda, kita akan dilatih untuk harus merasa nyaman di tempat yang bukan biasanya kita merasa nyaman.

Ditempat dimana kita akan bertemu orang-orang yang berbeda, bangunan yang berbeda, makanan yang berbeda, dan bahasa yang berbeda sehingga kita akan terlatih untuk merasa nyaman ditempat yang tidak nyaman.

Kita akan melihat sebuah dunia dimana banyak keajaiban dan kejutan menanti. Hidup kita akan lebih berwarna-warni seiring berlalunya sang mentari.

10 Tahun Tinggal di Jogja, 10 Hal Inilah Yang Paling Bikin Kangen Jogja!



Yogyakarta, Jogja, Ngayogyo, Mataram, apapun itu namanya, semuanya mengacu pada sebuah kota yang terletak di bagian kanan bawah peta Jawa Tengah, dengan bentuk yang mirip tumpeng karena bagian atasnya mengerucut. Bagi saya yang sudah membuat penuh Jogja selama hampir sepuluh tahun, masih saja enggan beranjak dari kenyamanan yang ditawarkan oleh kota ini. Sebenarnya tidak adil kalau yang disebut hanya kota 'Jogja' saja.

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang kedepannya akan saya singkat menjadi sebuah nama sesimpel 'Jogja' ini melingkupi beberapa kabupaten, yaitu Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunung Kidul, dan Kota Jogja. Semua kabupaten itu punya andil sendiri-sendiri dalam kontribusinya kepada kekangenan kita akan Jogja. 

Jogja memang istimewa. Provinsi ini merupakan salah satu provinsi yang menawarkan paket wisata terlengkap. Mau ke gunung? Ada!, mau ke pantai? Banyak!, mau wisata budaya? Bejibun!, mau wisata kuliner? Gak usah ditanya!, atau mau wisata 'anu-anu'? Emmm...ada juga sih, dikit. Selain wisata, Jogja juga dipenuhi oleh mahasiswa dari ratusan kampus. Nah, yang biasanya kangen banget sama Jogja adalah para alumnus anak kuliahan di Jogja. Iyalah, kisah cinta, suka duka pengorbanan skripsi, titip absen, sampai hutang teman yang belum lunas semuanya tertinggal di Jogja. Berikut ini adalah 10 hal di Jogja yang bikin kangen versi saya :

1. Kampus!


Rindu Jogja, Rindu Kampus (sumber gambar: inovasee)
Yap, kampus. Ini merupakan satu hal yang paling saya kangenin dari Jogja. Biasanya tuh mahasiswa yang baru lulus bakal sok-sokan berkata "akhirnyaaa...aku bebas dari kampus juga" dan seakan-akan mereka benci banget sama kampus gegara dulu skripsinya ga di terima-terima sama dosen. Namun seiring berjalannya waktu, lama-lama kita akan merasa rindu kampus. Awalnya sih cuman pengen "ah..nongkrong di kantin ah" tapi lama-lama teringat akan canda tawa bersama teman-teman seangkatan, lalu kisah pedekate sama maba-maba tak berdosa, dan akhirnya malah baper ditempat. Setiap berkunjung ke Jogja pasti nyempetin ngeliat mantan kampus tercinta. Soalnya kampus gak melulu soal belajar, namun juga soal teman, cinta, dan canda tawa

2. Warung Burjo!


Burjoan, buka 24 jam, selalu siap siaga melayani anak kos.
Warung burjo adalah teman disaat kita berduka. Hanya warung burjo lah tempat kita mengadu #tsadisss. FYI buat kalian yang bukan mantan mahasiswa Jogja, warung Burjo itu semacam wartegnya orang Jogja dengan menu yang lebih simple dan to the point. Di setiap dindingnya pasti akan ada logo-logo indomei dan kopi badday, warnanya biasanya dominasi merah kuning hijau. Warung burjo ini di Jogja persebarannya kayak semut. Hampir tiap seratus meter ada warung burjo. Kenapa bikin kangen? Karena mau tidak mau kita bakal ngeliat burjo di mana-mana sampai mata mau belekan. Sebagai mahasiswa, burjo sudah seperti ibu kita sendiri, dialah yang memberi kita makan dan minum dari pagi sampai malam. Apalagi kalau burjonya ada fasilitas wifi, bisa pindah kos disitu dah. " A' nastel satu sama kopi item ya..."

3. Angkringan


Temaram lampu angkringan yang bikin rindu. (Sumber gambar : kotamini)
Angkringan langganan saya yaitu, angkringan Lek Tri menyediakan layanan custom menu minuman. Saya menciptakan sebuah minuman custom perpaduan antara jahe, jeruk, dan teh yang di patok dengan harga Rp. 2000 saja. Siapa yang ngga tau angkringan sih? tempat makan berbentuk gerobak dengan sistem bar dimana kita bakal nangkring di atas kursinya sambil ngobrol tentang rahasia kehidupan ini. Nasi kucing, gorengan, dan sate jeroan adalah menu makanan utama dari angkringan. Tidak sehat memang, tapi sebagai mahasiswa yang duitnya pas-pasan, mana peduli sama yang namanya healthy food berharga mahal itu? Teman saya bilang, kalau pengin makan jangan di Angkringan, tapi kalau pengin jajan, baru deh ke Angkringan. Kenapa? Karena kalau mau makan kenyang, jatuhnya malah mahal kalau kita makan di angkringan karena sistemnya eceran. Nyala lampu remang-remang didalam tendanya selalu membuat rindu Jogja.

4. Mantan Kos dan Kontrakan


Kebersamaan bersama teman-teman di kontrakan yang bikin kangen.
Beberapa teman saya yang sudah hengkang dari Jogja pasti akan pura-pura tidak sengaja lewat bekas kos atau kontrakannya sekedar ingin bernostalgia dan mengenang masa-masa jahiliahnya. Kos dan kontrakan tersebut telah menjadi saksi bisu masa-masa indah di Jogja. Kos itu mempertemukan kita dengan teman-teman baru yang sudah sudah kita anggap seperti saudara sendiri . Cerita cinta, kebersamaan, dan kehilangan ada disitu. Kekonyolan dan kegilaan juga semuanya ada disitu. Menjadi anak kos artinya adalah memecut diri sendiri menjadi pribadi mandiri yang lebih baik. Jadi kangen kos kan? 

5. Selokan Mataram


Di selokan mataram biasanya ada kendaraan yang nyungsep ke selokan (sumber gambar : menghilangkanspasi)
Selokan mataram ada dimana-dimana, selokan ini merupakan sungai buatan yang menyatukan antara Sungai Progo di Kulonprogo dan Sungai Opak di Bantul. Kenapa bikin kangen? Sebagai mahasiswa, saya sering nongkrong untuk sekedar ngopi dan ngobrol bareng teman-teman. Dan tongkrongan paling banyak ada di daerah Selokan Mataram Seturan. Disitu juga banyak toko-toko, dari parfum, baju, sepatu, helm, dll. Apalagi waktu sore hari sunsetnya lumayan indah bila dilihat dari Selokan Mataram Seturan Selokan mataram juga dikelilingi oleh kampus-kampus besar seperti UGM, UNY, UPN, dll, jadi tidak mungkin kamu tidak kangen selokan mataram kan?

6. Malioboro, Kampung Keraton, Tugu, sampai Sarkem


Jalan paling ikonik di Jogja (sumber gambar : tribunnews)
Entah kenapa setiap kali saya mengunjungi tempat-tempat di atas ada sebuah aura kerinduan yang menyelimutinya. Memang sebagai mahasiswa yang hidup cukup lama di Jogja, Malioboro dan sekitarmya hanya menarik diawalnya saja, setelahnya ya biasa saja. Namun jika kita sudah meninggalkan Jogja pasti akan sangat kangen dengan tempat-tempat tersebut. Hiruk pikuk wisatawan, rayuan pedagang oleh-oleh, sadisnya harga pedagang kaki lima, dan macetnya lalu-lintas seakan tertutup oleh humblenya arsitektur khas Jawa yang ada di situ. Perpaduan warna hijau dan bentuk jawa di bangunan dan fasilitas publik seakan mendamaikan pikiran. Senyuman ramah kusir dokar, tukang becak, dan pedagang kecil mampu mengeliminasi ego diri kita dan membuat kita nyaman selama berada di Jogja.

7. Murah!


Biaya hidup di Jogja murah! (Sumber gambar :  Brillio)
Kalau ditanya kota besar mana di Indonesia yang masuk dalam kategori biaya hidup paling murah? Jawabannya adalah Jogja!  Untuk makan dengan menu nasi + sayur + ayam + es teh, harga termurah yang pernah saya dapatkan adalah Rp. 7000, sungguh murah bukan? Kalau jaman awal saya kuliah, nasi ayam cuman Rp. 4000 saja. Bandingkan dengan kota besar lainnya. Maka, tidak heran bila banyak mahasiswa perantauan terutama dari luar jawa yang 'mendadak kaya' selama berada di Jogja. Murahnya hidup di kota Jogja akan semakin terasa ketika kamu meninggalkan Jogja dan hidup di kota lain seperti Jakarta. Kamu akan langsung merindukan murahnya harga makanan di Jogja. 

8. Senyum dan sapa


Tuh kan senyumnya bikin hati bahagia, apalagi senyumannya yang baju pink. (sumber gambar : Brillio)
Orang ASLI Jogja akan selalu tersenyum dan menyapa siapa saja yang ditemuinya ketika berpapasan di jalan. Cobalah kamu main ke daerah-daerah pemukiman seperti kali code dan kampung keraton. Kamu akan langsung disenyumin. Budaya ramah ini akan selalu terjaga selama budaya individualisme tidak semakin menjamur di kota yang ramah ini.

9. Banyak Tempat Wisata dan Hiburan


Jogja banyak tempat wisata yang asik buat pacaran (sumber gambar : sorotgunungkidul)
Selama hidup di Jogja kita tidak akan pernah kehabisan tempat yang menarik untuk dikunjungi di akhir pekan. Mau menikmati udara segar pegunungan? Kalian tinggal pergi ke Kaliurang atau Kulonprogo. Mau bermain pasir diiringi deburan ombak? Bantul dan Gunung Kidul setia menunggumu. Mau shoping? Banyak mall dan pasar tradisional yang siap menerima uangmu. Pengin senang-senang atau sekedar jalan-jalan? Kamu bisa pergi ke event-event musik, pameran dan budaya yang hampir setiap hari ada! Pokoknya banyak banget tempat wisata dan hiburan yang ada di Jogja yang bakal bikin kita merasa kehilangan kalau beranjak dari Jogja.

10. Surganya Kuliner dan tempat nongkrong


Nongkrong dan begadang bersama Backpacker Indonesia Reg. Jogja sampai pagi, ngobrolin apa saja sampai mulut berbusa.
Ada ribuan tempat makan dan minun yang tersebar di seantero Yogyakarta. Banyak tempat makan baik tradisional maupun modern yang selalu bertambah setiap waktu. Banyak tempat ngopi untuk sekedar tongkrongan bersama teman-teman. Bisnis kuliner di Jogja tidak akan pernah mati. Walaupun satu mati, pasti akan tumbuh seribu. Di cafe-cafe inilah kita menghabiskan malam bersama teman, komunitas dan juga pacar yang kalau di ingat-ingat lagi bakal bikin kita baper.

Nah, itulah 10 hal yang bikin betah di Jogja dan selalu ngangenin setiap waktu. Apa kotamu yang sekarang juga ngangenin seperti Jogja? Jawab di kolom komentar ya.

Lagoi Bay, Pantai Khusus Orang Kaya Yang Bisa Dinikmati Semua Kalangan


...(Lanjutan Seperti Inilah Acara Nikahan di Pulau Bintan, Pengalaman Kondangan Paling Jauh)

Akhirnya pagi tiba juga! Punggungku rasanya pegal-pegal tak karuan akibat kasur jahat di penginapan ini. Sambil melenguh kesal, kuambil handuk di dalam ransel dan melenggang lemas menuju kamar mandi. Setelah menuntaskan semua urusan kamar mandi, saya langsung berkemas dan buru-buru meninggalkan penginapan wadefak ini. 

Jam tangan merk "Sekoi" di pergelangan tangan sudah menunjukan pukul delapan lebih sepuluh menit. Ternyata saya ditiduri cukup lama oleh kasur jahat itu.

Saya kembali mampir ke warung makannya mas-mas dari Jawa. "Mas, aku pesen nasi goreng seafood sama kopi item satu yah", pintaku kepada si mas Jawa tersebut. Alhamdulilah Harga disini standar, tidak nutuk seperti kejadian yang sempat menghebohkan jagat internet beberapa waktu lalu, dimana beberapa wisatawan ketiban apes karena harga makanan yang dipesannya diluar kewajaran.

Beberapa bulan lalu netizen sempat heboh, karena ada sebuah postingan di facebook yang mengatakan bahwa beberapa orang mengaku telah di dzolimi oleh warung makan di tempat-tempat wisata seperti di Malioboro Jogja, Anyer dan bahkan di Pulau Bintan! Kasus yang ada di pulau Bintan kejadiaannya adalah saat keluarga korban sedang berlibur di sebuah resort. 

Di area resort itu ada sebuah restoran bintang lima . Karena penasaran dengan masakannya, mereka mampir kedalam restoran tersebut dan memesan tujuh porsi nasi goreng, satu porsi mie goreng dan tujuh gelas es teh. Tak disangka tak dinyana, bagaikan tersambar jambulnya Syahrini, si bapak ini langsung lemas setelah kasir menyerahkan receipt yang berisi total jumlah yang harus dibayar sebesar Rp. 3.629.000. Harga yang tak masuk akal walaupun sekelas restoran bintang lima.

Sungguh harga yang tidak senonoh. (sumber: facebook.com/chandraireng )
Untuk menghindari hal-hal seperti ini saya ada tips nih buat teman-teman yang suka jajan saat traveling. Usahakan jika mau kulineran di sebuah tempat wisata, tanyakan dulu harganya, kalau bisa ditawar saja. Setelah deal, segera bayar di muka dan tunggu pesanannya jadi. Setelah pesanan sudah jadi, baru lah kita bisa menyantap makanannya dengan nikmat tanpa harus merasa was-was, takut harganya di markup. Kenapa perlu bayar di muka? Karena ada kejadian walaupun kita tahu harganya, tapi, saat kita mau bayar, si penjual menaikkan harganya seenak dengkulnya  sensiri dengan beragam alasan.

Otewe Lagoi
Setelah menghabiskan dan membayar nasi goreng seafood  seharga Rp. 14.000, dan secangkir kopi seharga Rp. 5000. Saya segera mencari tempat persewaan motor karena jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi dan matahari sudah semakin menyengat. 

Saya tanyakan kepada mas warung dimana saya bisa menyewa motor. Mas warung dengan cekatan langsung berteriak memanggil salah satu tukang ojek yang bersedia menyewakan motornya. 

Pertama, si tukang ojek menawarkan harga Rp. 150.000 untuk 12 jam atau sewa sampai sore, tapi harga tersebut sungguh fantastis. Tinggal tambah Rp. 50.000 saya bisa sewa mobil. Karena harganya tidak wajar maka saya tolak. Namun dengan wajah yang keliatan pasrah, saya agak merasa iba juga.

Akhirnya saya manfaatkan keputus-asaannya supaya mau di nego. Saya keluarkan jurus nego ala preman, sambil pasang muka jutek akhirnya saya berhasil mendapatkan motor seharga Rp. 80.000 untuk sewa sampai sore hari. Motor matic warna merah segera meluncur ke arah utara berbekal arahan dari paman gugelmap.

Rute perjalanan Tanjung Uban ke Pantai Lagoi via google maps.
Pantai pertama yang akan saya tuju adalah pantainya orang kaya, yaitu Lagoi Bay. Kenapa saya sebut 'pantainya orang kaya'? Karena dulu, Lagoi Bay merupakan resort ekslusif dan tidak sembarang orang bisa masuk kecuali kalau orang itu punya duit. Kebanyakan pengunjung Lagoi Bay dulu adalah orang Singapore.

Sekarang Lagoi Bay sudah terbuka untuk umum, jadi, masyarakat dari berbagai kelas bisa menikmati indahnya pantai di ujung utara pulau Bintan ini, walaupun masih terbatas hanya beberapa pantai saja yg free entry. 

Lagoi Bay merupakan Sebuah area yang cukup luas, dimana didalamnya terdapat beberapa resort yang bisa kita kunjungi. Ibaratnya, Lagoi Bay adalah kompleks per-resort-an dengan semboyannya "Lagoi - yours to develop".


Pantai ini direkomendasikan oleh teman saya yang baru nikahan kemarin. Katanya pantainya berpasir putih dan sangat bersih. Jaraknya dari Tanjung Uban sekitar 32 km, menempuh perjalanan naik motor dengan laju santai sekitar satu jam.

Dari tanjung uban saya tinggal lurus saja mengikuti jalan utama ke arah utara. Jalan utamanya hanya ada satu, menghubungkan Tanjung Uban dengan Tanjung Pinang. Sesekali ada percabangan, namun tinggal mengikuti plang petunjuk arah saja kok, dijamin tidak akan tersesat, kebangeten lah kalau tersesat .


Jalanan di Pulau Bintan
Saya menyusuri jalan aspal buluk yang sesekali terdapat lubang di kanan kirinya. Jalanan lengang, sesekali saya berpacu dengan bus yang keberadaannya di Pulau Bintan sangat jarang, makanya saya pilih menyewa motor.

Beberapa kali motor naik turun bukit dengan pemandangan sepanjang perjalanan adalah hutan semak belukar dan tanah-tanah tandus. Sesekali saya melihat sebuah rumah kayu dengan ornamen oriental. 

Pemandangan seperti itu tidak ada di Jawa, orang keturunan Tionghoa di Bintan cukup banyak, dan mereka tidak hanya terpusat didaerah pasar atau perkotaan saja namun juga di daerah terpencil jauh dari kota. Rumah-rumah mereka sederhana namun tampak unik karena hiasan lampion, cat merah dan kuil-kuil kecil menghiasi rumah kayu mereka.

Portal masuk kawasan Lagoi bay saat sedang peak season (gambar diambil dar rr.co.id , karena saya lupa tidak memfotonya)
Pintu masuk area Lagoi Bay ditandai dengan jalur berportal di sisi kiri jalan (bila dari arah Tanjung Uban). Saya agak was-was karena takut tidak boleh masuk dan sudah menyediakan beberapa lembar recehan di dalam saku celana tapi ternyata masuk area Lagoy gratiss, hanya diberi tiket masuk tanda bawa kendaraan saja. Tapi untuk mobil ada biaya retribusi sebesar Rp. 5000.

Jalan di area Lagoi Bay ini sangat kontras dengan jalan kota. Jalannya lebar dengan aspal yang mulus dan bersih. Di kanan-kiri sepanjang jalan ditumbuhi pepohonan yang hijau dan asri. 

Jalan masih tetap lengan, tampaknya tidak banyak wisatawan di hari ini. Beberapa turis asing bermata sipit tampak melaju menaiki sepeda berlawanan arah denganku sambil tertawa terbahak-bahak seakan-akan seperti sedang menertawakanku. 

Sesampainya di ujung jalan saya menjumpai pertigaan yang penuh dengan plang petunjuk arah. Buta destinasi, saya ambil arah kiri menuju Lagoi Beach, karena sepertinya pantai itu merupakan suguhan utama Lagoi Bay.

Jalan berganti dari aspal menjadi paving yang dihiasi tanaman-tanaman hias disepanjang jalan. Petugas kebersihan tampak wara-wiri. Saya tidak tahu apa yang mereka bersihkan. Karena menurut saya jalannya sudah sangat bersih.

Banyak gedung tapi sepi pengunjung.
Mendekati Lagoi Beach, beberapa gedung bertingkat tampak menjulang didepan saya. Gedung-gedung ber-arsitektur unik yang banyak kacanya itu tampak kosong dan kesepian. Di kanan jalan terdapat sebuah danau buatan ditengah padang rumput yang juga buatan.

Saya kebingungan mencari tempat parkir motor. Setelah tanya sama petugas keamanan, saya diarahkan ke sebuah lahan kosong yang berbatu, berpasir, tanpa atap seperti tempat parkirnya petugas proyek. Sementara saya lihat parkir mobilnya cukup nyaman karena luas dan beralaskan aspal. Saya langsung kepikiran apakah ini adalah sebuah tindakan diskriminasi status? Ataukah tempat parkir motornya sedang dibangun? I dont know, lagian tempat parkir motornya tidak ada penjaganya jadi saya tidak bisa menanyakannya.

Mungkin parkiran motornya masih dalam tahap pembangunan.

Pantai Lagoi
Lagoi beach, walaupun dikelilingi gedung-gedung perbelanjaan dan hotel ternama tampak sepi, lengang, seperti kota zombie walaupun sesekali ada rombongan remaja berambut orange bergerombol sambil cekikikan.

Saya langsung berjalan menuju pantai. Pohon kelapa nyiur melambai tertiup angin sepo-sepoi. Rumput hijau seakan menabrak pasir putih, menciptakan gradasi warna yang segar. "Ini baru pantai" batinku. Ternyata pantainya tidak sesepi dugaanku sebelumnya. 

Di Lagoi Beach sudah banyak orang yang tengah menikmati alunan merdu ombak pantai. Kebanyakan adalah rombongan keluarga. Mereka menggelar tikar diatas rumput maupun pasir. Di ujung pantai terlihat segerombolan anak sekolah yang nampaknya sedang study tour. Diujung pantai lainnya tampak beberapa pasang kekasih sedang memadu cinta. Sedangkan disini, tampak seorang pria kesepian tampak mencurigakan, berdiri sendirian sambil cengar-cengir sendiri .

Pantai yang bersih pasti bikin betah!
It's time to enjoy the beach! Saya susuri pantai dari ujung ke ujung. Sesekali menapakan kaki pada hangatnya ombak disiang hari. Foto sana-sini. Duduk dibawah pohon kelapa dan bersandar padanya sambil meneguk teh botol yang telah saya beli di warung sebelumnya.

Oya kalian wajib bawa makanan dari luar, karena disini tidak ada warung! Setidaknya waktu itu saya tidak melihat adanya warung di Lagoy Beach, kecuali satu restaurant sepi di salah satu bangunan bertingkat. 

Beberapa fasilitas yang ditawarkan di Lagoi Beach adalah kursi bantal yang empuk di bawah payung pantai yang bisa kita sewa supaya bisa menikmati minuman favorit sambil bermain gadget seperti foto-foto anak traveler kekinian di instagram. Wahana kayaking juga ada di Lagoy Beach, rutenya hanya diperbolehkan berkililing di area pantai saja. Selain itu banyak fasilitas yang disediakan oleh pengelola yakni sarana olahraga seperti volley pantai, futsal, dll.

Wisatawan tampak asik bermain volley pantai,
Pantainya 'Orang Kaya' vs 'Orang Miskin'
Terdapat perbedaan mendasar antara pantai yang diperuntukkan bagi orang berduit yang ekslusif dan pantai umum yang semua kalangan masyarakat bisa menikmatinya.

Lagoy beach merupakan salah satu contoh  perpaduan antara keduanya (contoh lainnya adalah pantai-pantai di Bali dan lombok). Perbedaan utamanya adalah soal kebersihan. Disini, saya tidak menemukan adanya sampah berserakan di sudut-sudut pantai. Semuanya tampak putih bersih. Sangat berbeda dengan tujuan pantai saya selanjutnya yaitu pantai Trikora. 

Hal ini selain keterlibatan pasukan 'orange' dari pihak pengelola juga ada keterlibatan perbedaan cara berpikir antara masyarakat kelas ekonomi menengah keatas dan masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah. Utamanya adalah perbedaan cara pandang terhadap sampah itu sendiri dimana dalam hal ini saya menggeneralisir bahwa kalangan ekonomi menengah keatas itu pendidikannya sudah maju sehingga cara pandangnya terhadap sampah lebih 'bersih' dari kalangan ekonomi kebawah. Ada sebuah rasa 'gengsi' bagi orang kaya untuk membuang sampah sembarangan. 

Selain itu keterlibatan pasukan 'orange' alias pasukan bersih-bersih sangatlah besar. Pantai yang dikelola oleh swasta kebanyakan lebih mementingkan kebersihan ketimbang pantai yang dikelola oleh daerah yang saya kira masih acuh tak acuh terhadap masalah kebersihan pantai.

Lagoy beach, sebagai perpaduan antara pantai orang kaya dan pantai rakyat berhasil menerapkan rasa 'gengsi' tersebut kepada masyarakat umum dimana pihak pengelola tidak memberikan sedikitpun ruang bagi masyarakat untuk membuang sampah sembarangan. 

Tong-tong sampah ditempatkan disegala penjuru. Petugas kebersihan selalu mondar-mandir membersihkan sekecil apapun sampah itu sehingga memunculkan rasa 'bersalah' bagi masyarakat yang hendak membuang sampah sembarangan. Pengelolaan pantai Lagoi Beach ini patut dicontoh oleh pengelola pantai-pantai lainnya. 

Banyak destinasi wisata di Lagoi Bay selain Lagoi Beach. Tetapi beberapa merupakan private resort dimana kita harus jadi tamu resortnya dahulu sebelum bisa puas menikmati pantainya. Sementara beberapanya lagi berbayar, seperti Treasure Bay, sebuah kolam renang buatan berbentuk pantai yang katanya terpanjang se-Asia tenggara. Biaya masuknya Rp. 100.000. Karena saya penyuka gratisan jadi tidak ada waktu bagi saya untuk menghabiskan hari ditempat berbayar seperti ini. Maka dari itu saya akan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Trikora! Pantainya rakyat! Merdeka! (Bersambung)

Foto-foto Lagoy Beach lainnya :


Berbekal kamera sport dan tongsis pinjaman salah satu teman di Batam, Thanks Rio!. Solo traveler wajib membawa tongsis.
Pengunjung menikmati fasilitas futsal yang disediakan oleh pengelola Lagoy Beach

Kalian bisa berman volley pantai loh! boleh kok pakai bikini, hehe.


Kursi bantal yang bisa kalian sewa supaya postingan foto d Instagram tambah kekinian


Pengin olahraga air? kalian bisa mencoba bermain kayak disni.


Pohon-pohon kelapa yang tnggi menjulang membuatnya serasa berada di Hawaii


Pantai yang sangat enjoyable untuk sebuah family trip. Bercengkerama dan bercanda di pinggir pantai yang ndah pastnya akan menambah kehangatan keluarga bukan?


Ini kantor baywatch-nya Lagoi Beach. Sayang ngga ada penjaga pantai yang sexy.


Ini berada di belakang pantai, jika peak season biasanya akan banyak pedagang  makanan yang berjualan disini.


Pantainya orang kaya memang bersih, setuju?

Kondangan Nyambi Mantai di Pulau Bintan

Pelabuhan Bulang Linggi, Tanjung Uban, Bintan.
Kepulauan Riau menyimpan banyak pantai-pantai indah, namanya saja ‘kepulauan’ pasti banyak pantainya. Salah satu pantai-pantai indah tersebut ada di Pulau Bintan. Pulau Bintan kalau di peta berada tepat di sebelah Pulau Batam.


Saya menuju pulau Bintan dari Pelabuhan Telaga Punggur  Batam,  menuju Pelabuhan Bulang Linggi, Tanjung Uban. Ada dua rute menuju Pulau Bintan bila naik kapal laut dari Batam, yaitu lewat pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjung Pinang dan Pelabuhan Tanjung Uban.

Kenapa lewat Tanjung Uban? Karena saya akan mendatangi pernikahan salah satu teman kuliah saya di Jogja, namanya Danang. Beruntung dia mendapat jodoh cewek Bintan yang aduhai cantiknye, khas awek malay. 


Akad dan resepsi nikahnya bertepatan dengan kunjungan saya ke Batam jadi harus saya sempatkan untuk hadir di acara sekali seumur-hidupnya.  Selain itu saya juga ada agenda lain yaitu mau plesiran ke pantai-pantai yang ada di Bintan, dan destinasi saya itu lebih dekat dijangkau dari Tanjung Uban ketimbang dari Pinang. 


Setelah saya searching di google, ada beberapa pantai yang harus saya kunjungi yaitu pantai Trikora dan Lagoi Bay. Lagoi Bay merupakan sebuah resort yang beberapa pantainya merupakan private beach dan tidak sembarangan orang boleh masuk kecuali tamu resort.


Saya membeli tiket kapal speed boat jurusan Tanjung Uban seharga Rp. 45.000. Perjalanannya cukup cepat, hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit mengarungi lautan. Buat yang hobi mabok laut harus waspada karena alunan ombaknya begitu intens.

Laju kapal yang cepat dan melawan gulungan ombak membuat perjalanannya cukup “menyenangkan”. Saya berangkat dari Batam sekitar jam tiga sore hari dan sampai di Uban sekitar pukul setengah empat kurang. 


Sesampainya di pintu keluar sudah banyak tukang ojek yang mengantri rezeki berharap salah satu penumpang mau memakai jasanya, maklum saat itu jasa ojek online belum ada di pulau kecil ini. Saya berniat memakai salah satu jasa tukang ojek ini tapi saya tunda dulu karena warung kopi di depan pelabuhan sangat menggoda untuk disinggahi.


Saya memesan segelas kopi hitam dan duduk di bagian pojok warung sambil menikmati lalu lalang pengunjung pelabuhan. Saat saya akan membayar kopi, abang kasir mengenali logat jawa saya dan bertanya “ Mas, dari Jawa ya?” saya pun membalas “Iya mas, dari Jogja”, ternyata mas kasir yang juga pemilik warung tersebut juga berasal dari Jawa juga, tapi saya lupa Jawanya dari daerah mana. 


Mas tersebut sudah merantau di Bintan selama sepuluh tahun dan menikah dengan warga lokal dan juga sudah dikaruniai seorang anak. Jiwa rantau suku Jawa ternyata boleh dikata tidak kalah dengan jiwa Rantau orang Batak, Padang, dan Bugis karena kita bisa bertemu orang Jawa di mana saja. Berbekal alamat dan lokasi GPS dari teman saya, saya pun meminta salah satu tukang ojek untuk mengantarkan saya. Tidak sulit mencari alamatnya karena di depan gang sudah ada janur kuning khas adat jawa yang melengkung.

Bersama mempelai pria, Danang, sekarang sudah bekerja sebagai wartawan di koran lokal Batam.
Sesampai di acara nikahan tersebut, bapak penyambut tamu yang ternyata paman dari mempelai perempuan menanyakan asal saya. Saat saya jawab bahwa saya jauh-jauh datang dari Jogja, seorang diri, kesepian, dan dengan raut muka memelas, bapak tersebut menyambut saya bak tamu VIP dan saya disuruh duduk di bagian kursi keluarga.


Saya melihat teman saya bersama istrinya (sekarang sudah sah disebut istri) sedang berada di panggung utama menyalami para undangan yang hadir. Mereka mengenakan busana adat Melayu. 


Cukup lama saya duduk sendirian sebelum akhirnya teman saya turun untuk ganti baju dan menemui saya. Tidak banyak ngobrol saat itu karena memang acaranya masih berlangsung. Danang menawari saya untuk menginap saja di rumahnya (sekarang sudah jadi rumahnya Danang juga) tapi saya tolak karena tidak enak, dan tidak kenal dengan anggota keluarga barunya, nanti saya seperti orang hilang, hehe. 


Setelah sholat maghrib, saya ijin pamit karena saya harus mencari penginapan dulu. Yap, saya sama sekali belum booking penginapan sama sekali. Tidak seperti traveler lain yang apa-apa serba harus dipersiapkan dahulu. Saya adalah tipe traveler yang sukanya dadakan. Jika tidak dapat penginapan ya tidak masalah kalau harus menginap di pombensin atau di masjid.

Foto mereka yang berbahagia, sayang fotoku bersama mempelai belum dikirimkan sama Danang, hiks.
Beberapa menit jalan kaki saya menjumpai sebuah café kecil berfasilitas free wifi. Saya mampir dulu di café tersebut sambil basa-basi bertanya tentang penginapan didekat sini. Abang café menyarankan saya ke daerah pelabuhan, karena disitu banyak penginapan. Oke, saya jalan kaki ke arah pelabuhan yang ternyata sangat dekat, hanya perlu lima belas menit dari rumah teman saya.


Di pelabuhan saya bertanya lagi, kali ini dengan mas-mas dari Jawa tadi, dia menyarankan penginapan yang tepat berada disebelah pelabuhan. Penginapan tersebut menghadap ke laut. Saya check in di penginapan tersebut dengan biaya per malam untuk kamar ekonomi seharga Rp.80.000, sangat murah! Sayangnya saya tidak dapat kamar yang menghadap ke laut.


Kesenangan karena mendapakan kamar dengan harga murah itu langsung lenyap setelah merasakan kondisi kasur yang bobrok. Kasurnya model spring bed, namun sudah rusak! Beberapa pernya sudah mencuat keluar dan saat saya tiduri, kasurnya merosot kebawah, tidak mampu menahan beban tubuh saya. Alhasil, malam itu saya tidak bisa tidur. Karena bete, saya memutuskan keluar di beranda hotel sambil menikmati suasana laut di malam hari.


Beruntung di beranda hotel ada warung kopi kecil dan beberapa tempat duduk. Saya memesan teh tarik. Suasana di pelabuhan terbilang cukup ramai. Beberapa orang terlihat sedang asik memancing di pier pelabuhan. Kapal Patroli Bea Cukai terlihat sedang berlabuh. Kapalnya cukup besar, seperti kapal perang Angkatan Laut minus senapannya.


Saya baru kali ini melihat Kapal Bea Cukai. Daerah perbatasan laut antar negara seperti ini memang rawan dengan penyelundupan barang-barang ilegal demi menghindari cukai. Rata-rata barang-barang tersebut nantinya berlabuh di Batam atau di pulau sekitarnya untuk kemudian di edarkan ke seluruh Indonesia. Untuk mencegah hal tersebut, pihak Bea Cukai memliki armada patroli lautnya sendiri, bekerja sama dengan TNI AL dan POLAIR.


Beberapa batang rokok sudah saya habiskan, sementara teh tarik sudah berada pada tetes terakhirnya. Saya beranjak kekamar untuk tidur. Mengingat kondisi kasurnya yang seperti neraka maka saya putuskan untuk tidur dilantai beralaskan selimut dan seprai hotel. Beruntung suhu malam itu sedang panas-panasnya, jadi tidak masalah bagi saya untuk tidur di lantai. Lantainya terbuat dari kayu dan saat saya mengintip sela-sela lantai ternyata dibawahnya langsung laut. 

Saya tidur dengan tidak nyenyak berteman nyamuk-nyamuk jahanam. Berharap malam segera usai dan pagi menyambut dengan sinar mentarinya yang hangat, yang akan mengantarkan saya menuju pantai-pantai indah di Bintan. (Bersambung ke Pantai Lagoi Beach, Resort Untuk Semua Kalangan)

Jembatan Barelang, Tempat Kumpulnya Jomblo Batam di Malam Minggu


Matahari sudah menyemburatkan warnanya yang keemasan. Ujung jalan beraspal Pulau Galang sudah kami lewati, begitu pula dengan petualangan hari ini terpaksa harus kami akhiri untuk kembali ke Kota Batam tercinta.

|Baca cerita sebelumnya di Pantai Cakang

Sebenarnya masih banyak pantai di Barelang yang nampaknya indah kalau di lihat di Google dan ingin kami kunjungi semua, tapi hari sudah hampir gelap jadi terpaksa kami lewati dulu pantai-pantai yang lain. Mungkin di lain waktu dan lain kesempatan saya bisa mengunjungi semua pantai di Barelang.

Jembatan Barelang menjelang malam hari
Seperti saat berangkat, pulangnya pun jalanan sangat sepi. Mobil rental kami melaju dengan kencang melewati bukit-bukit tandus khas Pulau Batam tanpa ada halangan sedikitpun, alhamdulilah. 

Jembatan demi jembatan kami lewat sampai akhirnya terlihat Jembatan Barelang yang terlihat megah dari kejauhan. Mendekati jembatan, sudah banyak warga yang kongkow di pinggiran jalan. Sebentar lagi lampu jembatan akan mulai dinyalakan dan mulai menerangi langit malam yang membiru mendayu-dayu. 

Jembatan Barelang dari kejauhan
Pas sekali hari itu adalah hari dimana para jomblo tengah meratapi nasib mereka. Kenapa? Karena hari itu adalah malam minggu.

 Jembatan Barelang sudah berasa seperti pasar malam yang minus komidi putar dan rumah hantu saja. Warga Batam maupun wisatawan sudah mengerubuti jembatan tersebut. Jalan yang tadinya mulus mendadak jadi macet. Inilah daya tarik ikon sebuah kota, dimanapun kita berada, ikon sebuah kota pasti akan ramai dikunjungi. 

Berhubung yang ada di dalam mobil hampir 60% jomblo, maka diputuskanlah untuk berhenti sejenak di Jembatan Barelang, menikmati suasana Jembatan Barelang di malam hari, alih-alih sebenarna pengin cuci mata melihat cewek Batam yang aduhai mak cantiknye. 

Teman-teman baru yang asik!
Setelah kendaraan sudah rapi di parkirkan, seperti biasa, tukang parkir yang entah dari mana datangnya tiba-tiba menghampiri kami dan berkata "sepuluh ribu bang" sambil menyerahkan tiket parkir. 

Banyak penjual makanan di Jembatan Barelang. Yang suka jajan saya jamin bakal sangat tergoda untuk mencicipi semua makanan yang ada disini, karena makanan disini unik-unik dan jarang ada di Jawa. Makanan yang paling saya sukai adalah otak-otak. Beda dengan otak-otak Jawa yang bentuknya kayak "anu", otak-otak disini bentuknya semacam pepes, rasanya? makjoss!
Muka kucel penuh dosa
Sangat disayangkan kameraku baterainya wafat, jadi tidak banyak yang terdokumentasi di malam yang penuh sejarah tersebut. 

Kami menyusuri jembatan dari ujung keujung, menggoda awek-awek innocent dengan muka kucel dan berminyak, ngobrol sana sini sampai akhirnya salah satu teman saya nyeletuk, "ke Sintai yuk!" Dan di jawab dengan sangat antusias oleh teman saya yang lainnya " waaah, boleeeh juga tuuh". Saya dengan muka polos pun mengiyakan ajakan mereka tanpa tau apa dan dimana Sintai itu. Perasaanku nggak enak nih...

The Three Jombkenteer

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca