Abraham Lincoln, Kepemimpinan itu Empati

Sabtu, Juni 01, 2019 abesagara 6 Comments



Ada sebuah buku kepemimpinan yang bagus berjudul Leadership: In Turbulent Times. Buku ini ditulis oleh pemenang Penghargaan Pulitzer, Doris Kearns Goodwin yang menulis mengenai cara-cara kepemimpinan mantan presiden Amerika terdahulu di masa-masa sulit yakni, Abraham Lincoln, Theodore Roosevelt, Franklin Roosevelt, dan Lyndon Johnson.

Saat membaca profil kepemimpinan Abraham Lincoln, ternyata kombinasi antara kemauan untuk terus belajar, tekad yang kuat, motivasi yang hebat, dan empati antar sesama merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap keberhasilannya dalam memimpin Amerika melewati masa-masa kritis.
Kecerdasan
Ambisi kepemimpinan Lincoln dapat dilihat dari masa kecil Lincoln itu sendiri. Sejak kecil dia memang sudah diberi anugerah kecerdasan di atas rata-rata. Walaupun dia tidak begitu rajin sekolah, tetapi dia mampu menjadi nomor 1 di kelasnya. 
Pasti ada kan beberapa teman kita yang walaupun di kelas tidak pernah mendengarkan pelajaran dan malas-malasan, tapi tau-tau hasil ulangannya selalu nomor 1. Itulah bakat kecerdasan. 
Oleh teman-teman masa kecilnya, Lincoln di cap sebagai seorang yang "marvelously retentive" alias "sungguh luar biasa", pikirannya ibarat seperti sebuah keajaiban.
Tekad
Sejak dini, Lincoln sudah mengetahui bahwa kunci setiap kesuksesan di bidang apapun adalah motivasi dan tekad. "Dia mengembangkan setiap bakatnya dengan penuh" "Orang yang ambisinya melebihi siapapun yang ada di dunia ini", teman masa kecilnya yang bernama Nathaniel Grigsby mengatakan "Saat kami sedang bermain, dia justru lebih memilih duduk menyendiri dan membaca buku".
Lincoln mendidik dirinya sendiri. Dia mengambil inisiatif, memutuskan harus belajar apa, dan membuatnya menjadi guru bagi dirinya sendiri. Dia membuat sesuatu terjadi, daripada menunggu terjadi sesuatu.

Foto Abraham Lincoln sedang membaca
Foto Abraham Lincoln sedang membaca bersama seorang anak kecil
Lincoln akan mengunjungi setiap rumah tetangganya hingga yang paling pelosok hanya untuk meminjam buku dan akan membaca sampai tuntas tak bersisa. 
Sebagai seorang dewasa, Lincoln "lebih memilih untuk membaca dan belajar sampai berjam-jam ketika yang lain sudah tidur" kata Herndon, salah satu mitra hukumnya. "Dia akan menaruh lilin di dekat tempat tidurnya dan membaca sampai larut malam, kadang sampai jam 2 pagi".
Lincoln mulai mempelajari hukum. Dengan mempelajari hukum maka dia bisa memupuk karir politiknya. Seorang otodidak tulen yang tidak pernah belajar dari siapapun.
Lincoln pernah menulis, "Aturan utama seorang pengacara adalah ketekunan. Jangan pernah menunda pekerjaan sampai besok kalau bisa dikerjakan hari ini juga". Dia berkeyakinan bahwa kunci sukses adalah, "kerja, kerja, kerja". (Kok saya familiar dengan slogan ini yah? hehe)
Motivasi
Abraham Lincoln punya motivasi yang luar biasa besar, bahkan mampu membuatnya tetap sukses walaupun saat itu dia sedang dirundung depresi.
Saat itu Lincoln tengah diliputi kesedihan, menunjukan sisi melankolisnya yang menjadi lebih jelas seiring berjalannya waktu.
Musim dingin tahun 1840, Abraham Lincoln yang saat itu berumur 32 tahun jatuh kedalam depresi yang sangat parah, sampai teman-temannya khawatir dia akan bunuh diri.  Mereka menyita semua benda tajam seperti pisau, silet, gunting, dll dari ruangannya. 
Sebagai salah satu arsitek utama dan advokat rencana ekspansif negaranya, Lincoln menerima tanggung jawab terbesar dari kesalahan atas bencana terbesar negaranya.
Hutang yang begitu besar membuat negara menjadi lumpuh, menghancurkan peringkat kreditnya selama bertahun-tahun. Nilai tanah anjlok, ribuan orang kehilangan rumah, bank dan rumah pialang ditutup. Para dokter bahkan menyatakan bahwa Lincoln tinggal selangkah lagi menuju kegilaan.
Empati
"Kata mereka, aku adalah orang yang banyak bercerita", kata Lincoln kepada salah satu rekannya, "Itu benar, itu karena aku telah banyak belajar dari pengalaman bahwa orang biasa lebih mudah dipengaruhi melalui cerita ketimbang cara-cara lainnya.
Dia adalah 'pembaca' yang cerdas, mampu mengetahui apa yang diinginkan lawan bicaranya.
Dia selalu melakukan pendekatan personal kepada rekan-rekan kerjanya. Dia berempati ketika rekannya dirundung keseihan. Dia ikut senang ketika rekannya bahagia. Dia tidak pernah mengatur, tetapi ikut mengerjakan apa yang dilakukan oleh bawahannya.

Foto Abraham Lincoln ketika mengunjungi pasukannya
"Jika seseorang pernah menjelek-jelekannya, namun orang tersebut merupakan orang yang paling cocok untuk sebuah pekerjaan, maka dia akan menaruh orang tersebut kedalam kabinetnya dan akan menganggapnya sebagai seorang teman. Dia tidak peduli apakah dia pernah membencinya, atau mencacinya pada masa lalu. Yang penting kedepannya dia tidak akan berbuat demikian"
Saat Lincoln marah, dia akan melampiaskan dengan apa yang disebut sebagai 'surat panas'. Dia akan menuangkan kemarahannya dengan menulis pada sebuah kertas. Kemudian kertas tersebut dia taruh di sebelahnya sampai dia kembali tenang sehingga dia bisa menyelesaikan sebuah masalah dengan pikiran yang jernih.
Saat mengunjungi pasukan tentara, Lincoln akan ikut makan sepotong roti kering dan kacang (ransum militer) bersama pasukan. Dia akan meninjau pondokan tidur mereka. Dia akan menanyakan para tentara mengenai keluarga mereka. Lincoln merupakan seorang yang peduli.
Karena pemimpin sejati adalah yang mau merasakan apa yang dirasakan oleh pengikutnya.
...

6 komentar:

  1. Nggk pernah familiar dengan kisah hidup Lincoln. Tapi tulisan ini sudah bisa memancing saya buat mencari lebih dalam lagi bagaimana cara Lincoln dalam memimpin. Boleh nih bukunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh banget mas, ini saya lagi baca buku biografinya bung karno, ternyata kepemimpinan itu selain ada tekniknya juga memang harus ada 'bakat'

      Hapus
  2. Inspiratif mas tulisannya...

    BalasHapus
  3. jadi bisa dikatakan sosok abraham lincoln seorang panutan pada masanya dan skg.

    BalasHapus