Kopi Awaak, Tempat Ngopi Paling Cozy di Batam


Dulu, kali pertama menginjakan kaki di Batam, hal pertama yang saya cari adalah dimana tempat ngopi yang paling asyik di Batam? Yang bisa buat numpang wifi berjam-jam dengan nyaman.

Abraham Lincoln, Kepemimpinan itu Empati



Ada sebuah buku kepemimpinan yang bagus berjudul Leadership: In Turbulent Times. Buku ini ditulis oleh pemenang Penghargaan Pulitzer, Doris Kearns Goodwin yang menulis mengenai cara-cara kepemimpinan mantan presiden Amerika terdahulu di masa-masa sulit yakni, Abraham Lincoln, Theodore Roosevelt, Franklin Roosevelt, dan Lyndon Johnson.

Suka Menunda Pekerjaan? Teknik Pomodoro Solusinya!


"Klunting" bunyi notifikasi email kali ini menarik perhatian saya. Email tersebut merupakan email langganan dari blog Vincent Carlos (seorang pembaca buku, ya, pembaca buku) mengenai Teknik Pomodoro, solusi untuk yang suka menunda pekerjaan.

Mencicip Kerja Bongkar Muat di Pelabuhan


Alhamdulilah, setelah mencurahkan isi hati soal betapa susahnya mencari kerja pada tulisan 'Balada Si Pencari Kerja', selang beberapa hari kemudian saya dapat tawaran kerja dari salah satu teman training K3 Umum yang saya ikuti beberapa waktu lalu.

Walau hanya kerja proyekan yang di gaji perhari, tetapi pengalaman yang saya dapatkan dengan terjun langsung ke lapangan itu sangat berharga. Yang penting pengalaman dahulu, soal gaji kemudian.

Nah, sekarang terbukti kan manfaat pentingnya menjalin relasi saat menganggur (baca tulisan 'Jadilah Pengangguran Produktif'). Karena, dalam mencari kerja, tidak cukup hanya bermodalkan Curriculum Vitae dan surat lamaran saja. Relasi mempunyai peranan penting dalam pengembangan karir kita. 
...

Singkat cerita saya bekerja lah sebagai asisten safety officer di salah satu perusahaan persewaan kapal dan bongkar muat kargo. 

Ini adalah kali pertama saya bekerja di pelabuhan bongkar muat dengan pengetahuan yang masih 'nol'. Untung safety officernya baik hati dan mau mengajari saya. Alhasil saya jadi mulai terbiasa dengan istilah-istilah yang ada di dunia bongkar muat. 

Pekerja di perusahaan bongkar muat ini terbagi menjadi dua. Pertama adalah pekerja dari perusahaan bongkar muat (PBM) yang bertindak sebagai 'event organizer'-nya. Kedua adalah pekerja lapangannya yang berasal dari koperasi TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Muat) Pelabuhan Batu Ampar, Batam.

Safety Induction Pelabuhan Batu Ampar
Safety induction oleh pak Wawan sebelum pekerjaan dimulai







Jam 8 pagi, pekerja sudah mulai berkumpul. Rata-rata pekerjanya berbadan kekar. Walaupun ada yang tidak kekar, setidaknya badan mereka kencang, bukti bahwa mereka bekerja menggunakan fisik. 

Yang menarik perhatian, sekitar 30% dari para pekerja bongkar muat ini adalah kakek-kakek, dengan rambut dan jenggotnya yang sudah memutih. Sisanya ya antara umur 25-40an.

"Memang mereka masih kuat kerja begini pak?" tanya saya kepada pak Wawan, safety officer. "Eh jangan salah, mereka itu walaupun sudah tua tapi tenanganya masih luar biasa beng." jawab pak Wawan.

Banyaknya pekerja usia lanjut ini tak lepas dari kurangnya regenerasi pekerja.

Buruh bongkar muat merupakan tipe pekerjaan kasar dan berat serta tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan yang tinggi. Sedangkan anak muda jaman sekarang sepertinya lebih memilih pekerjaan kantoran yang nyaman dan tidak panas.

Pembagian Kerja

Perusahaan Bongkar Muat Pelabuhan Batu Ampar
Rigger menyeimbangkan muatan agar posisinya sejajar dengan bak truk di bawahnya

Para pekerja bongkar muat ini terbagi menjadi beberapa posisi kerja yakni rigger (juru ikat), crane operator, mandor, foreman, safety officer, counter, dan agensi.

Crane operator tugasnya menjalankan mesin crane dan mengangkut kargo dari kapal ke darat atau sebaliknya. 

Rigger atau juru ikat tugasnya mengikat atau memastikan barang/kargo terikat dengan baik pada kaitan crane sehingga bisa dilakukan pengangkatan dengan aman

Mandor, tugasnya mengawasi kerjaan rigger dan crane operator yang berada di bawah pengawasannya.

Foreman, adalah pemimpin para pekerja bongkar muat ini, dialah kunci dari proses bongkar muat ini.

Safety Officer tugasnya membuat desain kerja agar pekerjaan yang dilakukan crane dan rigger aman dari kecelakaan. Kalau dilapangan tugas safety hanya melakukan pengawasan saja.

Counter, tugasnya menghitung barang atau kargo yang masuk.

Agensi, bekerja jika kapal yang di bongkar adalah kapal asing. Mereka bekerja mengurus ijin dan dokumen keimigrasian serta bea cukai.

Loading kargo pelabuhan batu ampar
Bekerja 24 jam dari pagi sampai malam

Proses kerja bongkar muat kargo ini berlangsung 24 jam loh, terbagi menjadi shift siang dan shift malam.

Jenis kargo banyak macamnya, ada kontainer, ada pipa, ada lembaran-lembaran besi, dll.

Proses kerjanya ya hanya berkisar soal mengikat kargo untuk dikaitkan ke crane, lalu crane mengangkat kargo untuk diturunkan ke darat dimana truk-truk besar sudah mengantri.

Berasa Keluarga

Pelabuhan Kargo Batu Ampar
Pelabuhan Batu Ampar, berseberangan langsung dengan Singapura. Dari sini kita bisa melihat gedung-gedung dari negeri tetangga


Walaupun terlihat simple, pekerjaan kuli bongkar muat ini membutuhkan tenaga yang besar karena tali yang digunakan bukan tali biasa, melainkan tali besar dengan berat berkilo-kilo. Belum lagi kondisi pelabuhan bongkar muat itu kalau siang hari panasnya bukan main. 

Suasana kekeluargaan begitu terasa ketika waktu istirahat tiba. Wajah-wajah ramah dan sumringah terlihat jelas dari raut wajah mereka. Mereka terlihat puas dengan pekerjaannya. 

"Bapak yang pakai wearpack (baju kerja) biru itu biasa kita panggil 'abah' mas, dia sudah kami anggap orang tua sendiri" kata Imam, salah satu pekerja TKBM yang usut punya usut ternyata kami berdua berasal dari daerah yang sama, yaitu Purbalingga. 

Suasana akrab dan serba kekeluargaan ini mungkin dipicu oleh kesamaan latar belakangnya, yakni sama-sama perantau. Jauh dari keluarga memaksa para perantau membuat keluarga baru di daerah rantauannya sehingga tidak heran pekerja-pekerja ini sangat ramah. 

Ada semacam rasa senasib sepenanggungan di pelabuhan ini.

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk cepat akrab dengan mereka. Sama-sama buruh harian, sama-sama perantau, sama-sama cari rezeki halal.

"Uang sikit tak pe, yang penting kite punye kerja halal, barokah. Uang banyak tapi haram, tapi riba, buat ape je?" itulah 'nasehat harian' dari abah dengan logat melayunya yang kental saat kami sedang istirahat.

Yah, mulai saat ini saya akan banyak-banyak bersyukur mengikuti nasehat dari abah. Tak apa sedikit, yang penting halal dan hasil keringat sendiri.

Tiga hari berlalu dan proyek bongkar muat kapal Gertrudis ini pun berakhir.  Saya kembali menganggur, namun rasanya puas sekali. 

Makasih abah, makasih teman-teman TKBM. Besok kalau ada bongkaran lagi saya ikut yaa, hehe.

...

Baca Juga:

Balada Si Pencari Kerja


Yup, sekarang ini saya sedang menganggur. Malu? ngapain malu? menganggur kan juga merupakan salah satu proses kehidupan yang pasti, akan, dan pernah di alami oleh setiap umat manusia yang ada di planet earth ini.

Kenapa Harus Ikut Training Ahli K3 Umum?


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, setelah mendaftar dari bulan Januari,  akhirnya sesi training alias pelatihan Ahli K3 Umum yang saya ikuti dimulai juga pada awal bulan April kemarin. 

Sempat was-was juga sih sebelumnya, apa jadi atau tidak ini training dilaksanakan. Karena jawaban dari penyelenggara selalu sama yaitu "pesertanya belum memenuhi kuota".  Tapi alhamdulilah akhirnya jadi juga, walaupun harus menunggu berbulan-bulan.

Biaya training yang tidak murah, hampir menyentuh angka 10 juta membuatnya cukup sulit untuk mendapatkan peserta. Maklum, training Ahli K3 umum ini bukan training atau kursus keterampilan. Melainkan sebuah pelatihan sertifikasi profesi sehingga tahap-tahapannya cukup banyak dan menguras biaya.

Apa itu K3?

K3 merupakan singkatan dari Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Kalau kalian pernah lewat di depan pabrik, proyek-proyek konstruksi, dsb pasti pernah lihat logo atau slogan di bawah ini kan?

Bendera K3

Logo roda gigi berwarna hijau dengan palang ditengahnya ini merupakan logo dari K3. Gerigi roda yang berjumlah sebelas itu merupakan perlambangan dari 11 bab yang ada pada Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja - dasar dari seluruh peraturan mengenai K3.

Jadi, di setiap tempat kerja yang memiliki lebih dari 100 orang pekerja ataupun tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya yang tinggi diwajibkan untuk mempunyai petugas ahli K3.

Kenapa? karena nantinya petugas ahli K3 lah yang akan mengontrol, mengawasi, dan mendesain agar tempat kerja tersebut aman dari bahaya kecelakaan kerja.

Selain itu Ahli K3 juga berperan sebagai mediator atau perpanjangan tangan dari pemerintah untuk mengawal penerapan peraturan perundang-undangan K3 pada masing-masing perusahaan.

Jadi ahli K3 harus paham betul akan undang-undang mengenai K3 yang mana buku perundang-undangannya sangatlah tebal! modyaaarrr....

Ahli K3 harus hafal dan paham isi dari buku undang-undang K3 yang super tebal ini

Kenapa kecelakaan kerja sangat penting untuk diperhatikan? ya tentunya yang paling utama adalah untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera, bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Jika terjadi kecelakaan kerja, tidak hanya pekerjanya saja yang terkena akibatnya tapi juga perusahaan dan lingkungan sekitar juga terkena imbasnya.

Keberadaan K3 di tempat kerja sangat sangat dibutuhkan. Perusahaan yang tidak mengaplikasikan K3 di perusahaannya bisa-bisa dicabut izinnya loh!

Bahasa keren dari K3 ini adalah HSE atau Health Safety and Environment. 

Kenapa saya ikut training K3?

Peserta training Ahli K3 Umum OTI batch 31

Lapangan kerja di bidang K3 saat ini sangat dicari oleh setiap perusahaan besar, karena ya tadi itu, K3 itu wajib hukumnya kalau perusahaan tersebut masih mau beroperasi.

Tidak hanya di Indonesia, hampir di seluruh negara pasti ada sistem K3. Justru sebenarnya Indonesia yang sedikit agak telat dalam mengimplementasikan sistem K3 ini. 

Untuk itu, lapangan kerja di bidang K3 di Indonesia juga masih cukup luas, karena semua perusahaan apapaun itu pasti membutuhkan orang-orang yang ahli di bidang K3.

Selain itu posisi saya saat ini juga sedang standby sehingga saya membutuhkan suatu kegiatan agar saya tetap produktif. Akhirnya saya pilih lah mengikuti training Ahli K3 Umum ini untuk memupuk pengetahuan saya dan juga melanjutkan karir di dunia K3.

Selain itu, mengikuti training semacam ini juga menambah relasi jaringan profesional di bidangnya. Bukan tidak mungkin teman-teman baru kita ini akan secara tidak langsung membantu kita untuk mendapatkan pekerjaan yang baru.

Jadi, biaya yang cukup besar tersebut cukup worth it lah dengan yang didapatkan. Bisa dibilang, ini adalah salah satu bentuk investasi jangka pajang bagi saya. 

Bagaimana Cara Mengikuti Training Ahli K3 Umum?

Training Ahli K3 Umum biasanya diselenggarakan oleh lembaga-lembaga training profesional yang sudah mendapat penunjukan dari Kementerian Tenaga Kerja sebagai sebuah Perusahaan Jasa K3 (PJK3) dalam bidang pelatihan. 

Di mesin pencari google banyak tersedia informasi lembaga-lembaga ini. Tapi sebelum memilih, pastikan bahwa perusahaan tersebut sudah terdaftar sebagai PJK3, kalau tidak maka sertifikat yang dikeluarkannya bisa jadi adalah sertifikat palsu. 

Lama training Ahli K3 Umum sesuai ketentuan yang berlaku adalah selama 12 hari yang termasuk dengan on the job training (PKL) dan ujian kompetensi langsung oleh asessor dari Kementrian Ketenagakerjaan Jakarta.

Jadi jika ada training yang tidak selama 12 hari dan tidak ada ujiannya, maka itu palsu yah.


Saya mengikuti pelatihan Ahli K3 Umum di Batam yang diselenggarakan oleh PT. Kiat Global Batam Sukses, atau lebih dikenal dengan OTI (Offshore Technology Institute) yang merupakan salah satu PJK3 (Perusahaan Jasa K3) terpercaya di Batam.

Saya sangat merekomendasikan OTI ini kepada teman-teman yang mau mengikuti training Ahli K3 Umum , khususnya yang berada di Batam kalau masih bingung dimana harus ikut training Ahli K3 Umum. *Ini bukan endorsement loh, murni review.

Kenapa? karena trainer atau pengajarnya benar-benar orang-orang yang profesional dibidangnya. Para pengajar di OTI selain dari pihak Dinas Ketenagakerjaan juga merupakan praktisi K3 di perusahaan-perusahaan besar di Batam, semuanya berposisi sebagai manager dengan pengalaman puluhan tahun di bidang K3.

Begitulah teman-teman, akhirnya sebentar lagi saya jadi Calon Ahli K3 Umum. Hore!, mungkin nanti blog ini sebagian kecil akan saya isi juga dengan info-info seputar dunia K3.

Salam safety first!

Wanita Berambut Pendek Itu Menarik!

Ilustrasi wanita karir berambut pendek

Tadi sore saya berpapasan dengan seorang wanita muda bersetelan ala wanita karir di basement parkiran motor sebuah mall. Kami saling bertukar pandang. Dia hendak pulang, sementara saya baru saja datang.

Abesagara.com Punya Chanel Youtube Loh! Subscribe Yah


Hai pembaca yang budiman, sudah tahu belum kalau saya juga punya chanel youtube loh! Awalnya ingin saya isi dengan travel vlog, tapi lama-lama saya juga membuat konten youtube yang materinya berasal dari tulisan-tulisan yang ada di blog ini. So, kalau sempat mampir yah ke chanel saya Abe Sagara dan jangan lupa tinggalkan komentar dan like, kalau bisa juga subscribe sekalian, hehe. 

Bagaimana Rasanya Berhenti Menggunakan Sosial Media?

Ilustrasi Berhenti Menggunakan Sosial Media

Sebenarnya sudah sejak lama saya berpikir untuk berhenti menggunakan sosial media, utamanya seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan teman-temannya.

Setiap bangun tidur pasti yang saya baca adalah timeline sosmed, setiap mau tidur pasti buka sosmed, waktu senggang juga buka sosmed.

Selain mengganggu, sosmed juga membuat saya selalu merasa iri, selalu menginginkan sesuatu yang tidak saya butuhkan. Sosmed membuat saya berusaha menjadi orang lain hanya demi sebuah like dan komentar.

Akhirnya dua minggu lalu saya benar-benar uninstall semua aplikasi sosial media yang ada di handphone saya. Beberapa akun juga saya hapus sementara. Akhirnya saya memberanikan hidup tanpa sosial media sama sekali setelah lebih dari sepuluh tahun lamanya saya menggunakan sosmed.

Apa yang saya rasakan? Tiba-tiba saya merasakan sebuah kesepian yang luar biasa menyelimuti saya. Tidak ada lagi wajah teman-teman di layar handphone yang selama ini selalu menemani setiap hari. Dunia tiba-tiba terasa begitu sepi. 

Disitu saya tersadar bahwa di dunia nyata, tanpa sosial media, saya sebenarnya bukanlah siapa-siapa. Saya adalah orang yang kesepian. Teman-teman yang selama ini selalu menemani saya pada akhirnya hanyalah sebuah ilusi. Mereka tidak nyata, mereka jauh, mereka tidak ada.

Saya kembali ke dunia nyata setelah sekian lama berkelana di dunia maya, sebuah dunia imajiner dimana semuanya terasa begitu dekat, namun nyatanya tidak.

Orang-orang yang selama ini memberi like pada foto saya, melihat update story saya, berkomentar di status saya tiba-tiba hilang, seiring lenyapnya saya dari sosial media. Saya kembali sendirian.

Teman dan sahabat yang selama ini jarang bertemu, dan berkat sosmed membuat kami selalu merasa dekat ternyata itu juga hanyalah ilusi. Apalah arti sahabat bila tidak pernah berjumpa. Benar, jarak itu memisahkan.

Baca juga: Krisis Kepercayaan Akibat Pencitraan Digital Generasi Millenial

Mungkin selama ini dengan sosmed saya menganggap mereka peduli kepada saya. Tetapi yang saya tampilkan di sosmed itu bukanlah keadaan saya yang sebenarnya. Saya hanya menampilkan sesuatu yang mungkin membuat mereka peduli. Jauh berbeda dengan kehidupan nyata.

Berhenti menggunakan sosial media membuat saya tersadar bahwa ada dunia lain yang lebih penting untuk saya pedulikan. Dunia saya yang sebenarnya. Dunia yang bisa saya rasakan seutuhnya.

Kepedulian orang yang benar-benar ada di sekitar saya jauh lebih penting dari pada rasa peduli palsu orang-orang di dalam sosial media.

Komentar dari tetangga sebelah rumah jauh lebih penting dari pada komentar di status.

Rasa suka dari teman ketika saya mentraktirnya secangkir kopi jauh lebih berarti daripada puluhan like di instagram.

Ngobrol lama sampai berlarut-larut di sebuah kedai kopi jauh lebih bermakna ketimbang chat basa basi di sosial media.

Yah, begitulah sementara ini yang saya rasakan ketika berhenti menggunakan sosial media. Mungkin terkesan berlebihan alias. Mungkin karena belum terbiasa. 

Oiya, saya tidak berencana untuk berhenti menggunakan sosial media selamanya. Saya hanya ingin merasakan bagaimana sih rasanya hidup tanpa sosial media seperti jaman dulu lagi ketika orang menunggu sesuatu dengan mengisi TTS, bukan scroll timeline sosmed.

Yang bisa saya pelajari adalah, kita harus bijak dalam menggunakan sosmed. Gunakanlah jika benar-benar sedang dibutuhkan. 

...

Gambar illustrasi oleh Jean Julliene

Baca Juga:

Legenda Si Pahit Lidah dan Mata Empat

legenda cerita rakyat tentang pertarungan si pahit lidah dan mata empat

Legenda si Pahit Lidah dan Mata Empat ini sangat dikenal oleh masyarakat Sumatera Selatan dan Lampung. Saya tulis di blog sebagai informasi tambahan untuk tulisan saya tentang Danau Ranau di Sumatera Selatan.

Jadi waktu berkunjung ke Sumatera Selatantepatnya saat berada di Danau Ranau, saya diceritakan soal legenda pertarungan antara si Pahit Lidah dan si Mata Empat. Sebuah pertarungan untuk mempertahankan ego masing-masing yang berujung bencana bagi keduanya.

Danau Ranau, Dilema Tempat Wisata di Pedalaman

Anak-anak sedang berada di atas perahu untuk mencari ikan di Danau Ranau

Matahari mulai menghangat, perjalanan saya menuju Danau Ranau di Sumatera Selatan akhirnya dimulai. Danau Ranau merupakan danau terbesar kedua di Indonesia (menurut volume airnya), setelah danau Toba. Tetapi walaupun merupakan danau terbesar ke dua, danau ini tidak begitu dikenal oleh masyarakat, khususnya para wisatawan.

Tukang ojek saya, pak Juki, memacu motor bebeknya seperti seorang pembalap profesional. Tanpa ragu dia melibas jalanan pegunungan yang naik turun dan berliku.

Pak Juki bermanuver dengan sangat lihai, bergerak zig-zag menghindari lubang, yang amat banyak. Selain banyak, lubang-lubang itu juga besarnya tidak tanggung-tanggung. Yang paling besar mungkin sampai selebar bodi truk.

Baca cerita sebelumnya:

Pemandangan sepanjang jalan hanyalah hutan hujan tropis dengan pohon-pohonnya yang tinggi lebat. Pada satu bagian jalan, saya melihat plang yang berbunyi 'Kawasan Hutan Lindung'.

Ternyata hutan di Ogan Komering Ulu Selatan ini termasuk kedalam kawasan hutan lindung Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Sekedar info, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan tempat tinggal bagi tiga jenis mamalia besar yang paling terancam di dunia yaitu gajah Sumatera, badak Sumatera, dan harimau Sumatera.


Jalan terus menanjak, membawa kami sampai di atas sebuah bukit. Dari sini saya dapat dengan lebih jelas melihat betapa luasnya kawasan hutan lindung ini. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah hutan, hutan, dan hutan.

Ada sebuah gunung yang terlihat menyembul di antara rimbunnya pepohonan. Setelah saya tanyakan kepada pak Juki, ternyata gunung itu bernama Gunung Seminung.

"Itu gunung banyak kisahnya lho mas, gunung legendaris." jelas pak Juki kepada saya sambil sedikit menolehkan kepalanya ke belakang.

"Kisah apa pak?" Tanya saya dari belakang, sedikit berteriak.

"Anu, tentang pertarungan Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat, pernah dengar tak mas?" Jawab pak Juki juga sambil berteriak, tak mau kalah oleh bising deru udara yang bertabrakan dengan kencangnya laju motor.

Gunung Seminung tampak anggun di lihat dari kejauhan
Gunung Seminung, gunung antar provinsi.

Kedua pendekar ini, Pahit Lidah dan Mata Empat adalah tokoh legenda yang sangat dikenal oleh penduduk Ogan Komering Ulu Selatan.

Konon pada jaman dulu, entah jaman kapan, keduanya bertarung di Gunung Seminung. Tetapi, bukan pertarungan dahsyat seperti di film laga, melainkan pertarungan adu ketangkasan yang berakhir dengan tewasnya kedua pendekar ini.

Baca selengkapnya Legenda Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat

Gunung Seminung sendiri merupakan 'gunung antar provinsi'. Satu sisi berada di Sumatera Selatan, satunya lagi berada di Lampung. Begitu juga dengan Danau Ranau.

Danau Ranau

Kecamatan Banding Agung yang tepat berada di Danau Ranau
Danau Ranau sudah terlihat dari kejauhan.

Motor bebek pak Juki yang dari tadi terus meraung-raung melawan gravitasi, akhirnya bisa bernafas lega. Curamnya tanjakan berganti menjadi turunan, yang tak berkesudahan.

Motor melaju hampir tanpa suara mesin. Pak Juki hanya memainkan pedal remnya saja. Yang terdengar hanyalah suara 'srak srek srak srek' rantai motor.

Danau Ranau mulai terlihat. Airnya biru berkilauan. Rumah panggung khas Sumatera Selatan mulai berjejeran di sepanjang sisi jalan.

Sayangnya, jejeran rumah panggung itu perlahan-lahan berubah menjadi deretan ruko.

"Sudah sampai Kecamatan Banding Agung ini mas, itu pasarnya, nanti lurus terus sampailah kita di danau. Mau mampir mas?" Tanya pak Juki.

"Tentu saja." Jawab saya, singkat, padat, dan jelas. Dengan mata yang berbinar-binar.

Kami melewati jalan pasar yang banyak terdapat lapak pedagang ikan. Tentunya ikan yang di jual adalah ikan air tawar hasil tangkapan dari Danau Ranau seperti mujair, kepor, kepiat, dan harongan. Semua ikan yang dijual disini terlihat masih sangat segar.

"Pak, cari warung kopi dulu ya, kita istirahat sebentar." 

Setelah berputar-putar mencari warung kopi yang pemandangannya pas, akhirnya kami mendarat juga di sebuah warung kopi kecil di pinggiran Danau Ranau.

Nelayan terluhat sedang menjala ikan di Danau Ranau
Nelayan Danau Ranau sedang mencari ikan.

Kami masing-masing memesan segelas kopi hitam dan sepiring mie goreng telor. Menikmatinya sambil memandang Danau Ranau, seketika makanan yang rasanya biasa saja jadi luar biasa. 

Inilah alasan kenapa banyak restoran dan cafe menggelontorkan banyak modal untuk menata interiornya supaya enak di pandang mata. Karena, selain rasa dari makanan itu sendiri, ada faktor lain yang membuat makanan akan terasa lebih nikmat dan membuat customer kembali lagi, yaitu lingkungannya. Lingkungan yang bersih dan indah.

"Kok sepi ya pak?" Tanya saya kepada pak Juki karena heran kok tempat seindah ini sepi pengunjung. 

"Ya beginilah mas, kan tadi liat sendiri kondisi jalannya bagaimana, terus juga selain danau, tidak ada apa-apa disini mas. Ya, cuman warung-warung beginian lah." Jawab pak Juki sambil menyeruput kopi lalu disusul dengan suara "Puaah...mantap."

Dilema Tempat Wisata di Pedalaman

Silau euy!

Secara geografis, topografi danau Ranau adalah perbukitan yang berlembah. Hal ini menjadikan Danau Ranau memiliki cuaca yang sejuk.

Tepat di tengah danau terdapat pulau yang bernama Pulau Marisa. Di sana terdapat sumber air panas dan juga air terjun.

Sayangnya saya tidak sempat menunjungi Pulau Marisa karena terbatasnya waktu.

Meski dikenal memiliki keindahan yang memanjakan mata. Danau Ranau masih saja sepi pengunjung, salah satunya karena minimnya fasilitas sarana dan prasarana yang ada.

Saya tidak melihat keberadaan hotel. Pak Juki bilang hanya ada beberapa penginapan kecil, itu pun lokasinya berada jauh di ujung sana.

Untuk mendongkrak wisata Danau Ranau, pemerintah setempat sudah menyelenggarakan sebuah event bertajuk 'Festival Danau Ranau' yang diadakan setiap bulan desember, tetapi tetap saja tidak banyak menarik wisatawan.

"Ramainya kalau pas festival mas, bisanya penginapannya penuh, yang tidak kebagian bisa menginap dirumah warga." Katanya.

Selain itu, sarana penunjang lain seperti mesin ATM dan wahana atraksi wisata juga tidak ada. Paling atraksi wisatanya hanya naik kapal ke Pulau Marisa.

Ada juga kegiatan rafting yang bermula dari arah hulu danau Ranau, tetapi tidak aktif karena sepi pengunjung.

Foto pulau marisa dari blognya omnduut. Kalau pembaca penasaran dengan Pulau Marisa. Silahkan kunjungi tulisan omnduut.com tentang Pulau Marisa.

Tetapi menurut saya faktor yang paling membuat Danau Ranau sepi pengunjung adalah aksesibilitasnya.

Jauhnya lokasi danau Ranau yang berada di pedalaman Sumatera Selatan membuat wisatawan enggan datang.

Bayangkan, untuk menuju danau Ranau dari Palembang membutuhkan waktu lebih dari 10 jam. Sementara jika dari Lampung, untuk menuju danau Ranau harus ditempuh selama kurang lebih 7 jam.

Wisatawan mana yang mau menghabiskan waktu liburan berharganya hanya untuk dihabiskan di dalam travel yang sempit?

Fenomena Bentilehan

Warga menjaring ikan yang mabok karena belerang di Danau Ranau
Ilustrasi warga menjaring ikan mabok belerang di Danau Ranau.

Di danau Ranau terdapat sebuah fenomena alam yang oleh penduduk setempat disebut dengan 'Bentilehan'. Yaitu fenomena menguapnya belerang di dasar danau setiap beberapa tahun sekali yang mengakibatkan ikan-ikan didalamnya pada mabok bahkan mati.

"Wah kalau ada bentilehan nelayan pada senang itu mas, ikan gratis, pada ngapung di danau." Kata pak Juki, sambil mengacungkan tangannya ke arah danau.

Fenomena bentilehan ini di awali dengan warna air danau yang sebelumnya biru kehijauan berubah menjadi hitam kecoklatan diiringi dengan aroma Belerang yang menyengat.

Belerang berasal dari Gunung Seminung dan fenomena ini memang sudah sudah sering‎kali terjadi, khususnya saat memasuki musim panas dan terjadi perubahan cuaca. 

Jika terjadi bentilehan, puluhan warga dan nelayan serta anak-anak, setiap harinya pasti berbondong-bondong datang ke tepian Danau Ranau dengan membawa peralatan seperti jaring dan sebagainya untuk menangkap ikan dan udang yang mabok itu.

Melanjutkan Perjalanan

Tak terasa kopi di cangkir kami sudah habis. Ingin rasanya menambah satu cangkir lagi tapi tidak enak sama pak Juki yang masih harus pulang ke Muara Dua setelah mengantarkan saya. 

Saat mau membayar, saya melihat di meja kasir ada beberapa bungkusan kopi dengan cap 'Ranau'. 

Kopi robusta khas Danau Ranau Sumatera Selatan
Kopi asli dari perkebunan kopi sekitar Danau Ranau. Bisa untuk oleh-oleh.

"Ini kopi asli daerah sini pak?" tanya saya kepada bapak warung.

"Iya asli sini, kopi murni tanpa campuran, itu yang tadi diminum kamu. Mantap kan rasanya?" Jawab bapak warung sambil nyengir. 

Daerah Ogan Komering Ulu Selatan memang terkenal sebagai daerah penghasil kopi robusta terbaik. Sehingga tidak heran jika daerah disekitar Danau Ranau juga merupakan daerah perkebunan kopi karena adanya danau membuat tanah disekitarnya subur dan berlimpahan air. 

Setelah membeli dua bungkus kopi ranau, satu bungkus 250 gram harganya Rp. 20.000, saya melanjutkan perjalanan menuju Desa Galang Tinggi.

Sebuah desa di hulu Danau Ranau yang juga merupakan desa penghasil kopi dimana mayoritas penduduknya adalah suku Semendo yang diselingi oleh transmigran dari Jawa. 

Simak terus cerita saya di pedalaman Sumatera Selatan ya. (Bersambung)

Luti Gendang, Makanan Khas Anambas Yang Rasanya Nendang!

Makan luti gendang sambil ditemani kopi hitam

Luti Gendang, selain masyarakat Kepulauan Riau, sepertinya tak banyak yang tahu keberadaan makanan teman ngopi paling nikmat ini. Saya sendiri baru tahu ketika kemarin malam teman saya membawa Luti Gendang saat nongkrong di warung kopi.


Bentuknya bulat lonjong, warnanya coklat, dan ketika digigit, "kresss", renyahnya kulit luti gendang berpadu nikmat dengan lembutnya roti di dalam yang berisi abon ayam atau ikan tongkol. 

Luti gendang makanan khas anambas dengan isian abon ayam
Abon ayamnya enak, apalagi ditambah dengan seruputan kopi hitam, beuh!

Abon ayam dan ikan tongkol adalah isian Luti Gendang yang asli, alias original. Sekarang sudah banyak isian lainnya yang lebih modern seperti Luti Gendang isi keju, coklat, green tea, dll.

Kalau teman-teman ada yang berlibur ke Provinsi Kepulauan Riau, terutama Pulau Batam, bolehlah kalian membawa Luti Gendang khas Anambas ini sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di rumah. Harga satu bijinya murah kok, hanya Rp. 3500 saja.

Asal Usul Luti Gendang - asli Kepulauan Anambas, bukan Batam

Foto kota kecamatan tarempa kabupaten kepulauan anambas
Kecamatan Tarempa, Pusat Kepulauan Anambas

Jadi, beberapa waktu lalu salah satu toko oleh-oleh di Batam mengklaim bahwa Luti Gendang ini adalah oleh-oleh makanan khas Batam. Sontak saja, Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Kepulauan Anambas memprotesnya, karena Luti Gendang itu merupakan makanan asli Kepulauan Anambas.

Batam sendiri sebenarnya tidak punya makanan khas apapun karena Batam adalah kota dengan kebudayaan es cendol, alias campur aduk. Masing-masing suku budaya yang ada di Batam membawa makanan khas dari daerahnya sendiri-sendiri, termasuk pendatang dari Anambas.

'Luti' diambil dari cara khas lidah orang Tionghoa setempat dalam menyebut kata 'roti'. Sedangkan, kata “gendang” digunakan karena bentuknya lonjong seperti alat musik tabuh gendang. Sehingga jadilah Luti Gendang.

Luti Gendang merupakan makanan yang biasa di santap masyarakat Anambas di pagi hari sebagai teman ngopi atau ngeteh. Tidak hanya di Tarempa (pusat Kepulauan Anambas), luti gendang ini juga sudah tersebar diseluruh desa di Anambas.

Luti Gendang sudah menjadi budaya masyarakat Anambas, jadi sangat di sayangkan jika makanan khas Anambas ini di akui oleh daerah lain.

bawah resort anambas yang sungguh cantik dilihat dari atas
Pulau Bawah, salah satu resort paling laris di Kepulauan Anambas.

Kabupaten Kepulauan Anambas sendiri berada di Laut Natuna Utara dan memiliki perbatasan dengan sejumlah negara. Sebagai kabupaten terluar, kabupaten yang terdiri dari 260 pulau ini mempunyai pesona tak kalah dengan Raja Ampat yang telah dikenal seantero dunia.

Untuk mencapai salah satu pulau terluar di Provinsi Kepulauan Riau ini kalian bisa menggunakan kapal ataupun pesawat dari Batam.

...

Saya sendiri belum berkesempatan untuk mengunjungi Kepulauan Anambas, padahal pulau ini pemandangannya sangat cantik. Ingin rasanya menikmati Luti Gendang di tempat asalnya sambil menikmati indahnya pantai yang ada di Anambas.

Semoga suatu saat saya bisa mengunjungi anambas, amiin.

Pembaca, Tolong di amin-kan juga dooong, hahaha

Bagaiamana Kabar Buku Kuning Yellow Pages Sekarang?



Masih ingatkah kalian dengan Yellow Pages? buku kuning besar yang dulu selalu ada di meja wartel (warung telepon). Yellow Pages adalah buku yang berisi kumpulan direktori telepon terlengkap pada masanya.

Kasus Sampah Kali Krukut, Pentingnya Pendidikan Sadar Lingkungan


Bagaimana perasaanmu saat melihat foto diatas? Mungkin kamu akan merasa miris. Disaat kita berusaha membuat lingkungan menjadi lebih baik, segelintir orang justru mau merusaknya.

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua


"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon beliau di boarding room bandara Adisoetjipto sambil menunggu pesawat langganan yang tak kunjung datang.

Pesan Dibalik Sajadah Yang Terbawa Angin


Tadi sewaktu solat jumat, saya mendapatkan sebuah pelajaran berharga dibalik kaburnya sajadah saya yang terbawa angin.

Jadi begini...

Masjid di dekat rumah saya itu kan kecil. Selain kecil, masjid ini juga tidak punya pelataran, langsung berbatasan dengan jalan. Hampir setiap kali sholat jumat pasti jamaah meluber sampai ke jalan aspal di depannya.

Terbatasnya alas karpet yang disediakan oleh pengurus masjid membuat jamaah yang datang terlambat mau tidak mau harus sholat hanya beralaskan terpal saja. Tapi ya alhamdulilah sih daripada sholat beralaskan aspal panas nan menggelora.

Karena sudah hafal, anggota jamaah 'mangkat keri, bali gasik' alias jamaah minal akhiri wal telatiyah pasti akan membawa sajadah sendiri dari rumah, sebagai antisipasi kalau-kalau tidak kebagian karpet. Termasuk saya.

Sesampainya di masjid, benar saja, semua karpet di jalan sudah terisi penuh. Untungnya saya bawa sajadah sendiri. Langsung saya gelar sajadah di atas terpal, berderet dengan jamaah telatiyah lainnya.

Sajadah yang saya bawa itu merupakan sajadah favorit yang cukup tipis, mungkin setipis kertas. Biasa saya bawa kemana-mana kalau traveling.

Iqomah pun berkumandang, jamaah merapatkan barisan. Disebelah kanan saya berdiri seorang mas mas yang tidak membawa sajadah.

Langsung terbesit di pikiran saya untuk membagi sajadah saya dengannya namun urung saya lakukan karena, pertama sajadah itu belum dicuci selama berabad abad. Kedua, baunya kurang menyenangkan. Ketiga, lebih tipis daripada terpalnya. Sehingga daripada masnya ilfeel lebih baik tidak saya bagikan.

Nah, baru saja rakaat pertama dimulai, ketika imam membaca al-Fatihah, datang angin yang cukup besar dari arah kiri. Anginnya membuat bagian atas sajadah saya kabur, melipatnya tepat ke arah alas sujud mas-mas disebelah saya.

'Waduh!' kejut saya dalam hati, tak lagi fokus mendengarkan lantunan al-Fatihah dari imam. Ingin rasanya untuk segera membetulkan posisi sajadah itu, tapi kok kayaknya nggak sopan sama Allah. Akhirnya saya biarkan saja.

Posisi sajadah yang seharusnya menjadi alas sujud saya akhirnya selama prosesi sholat jumat tadi berubah menjadi alas sujud untuk mas-mas disebelah saya.

Jangan-jangan masnya itu punya ilmu kanuragan? ataukan masnya itu adalah pengendali angin seperti di film avatar? Hemm...
Baca Juga:
Karena kita tahu, Allah biasanya memberi insight kepada hambaNya lewat sebuah kejadian.

Hikmahnya, mungkin tadi saya tidak mau berbagi sajadah dengan masnya sehingga Allah memberi pelajaran agar saya lebih sering berbagi dengan yang membutuhkan.

Memang benar sih dan itu tamparan keras untuk saya. Hikmah itu saya simpan dalam-dalam sebagai pelajaran saya dikemudian hari bahwa saya harus selalu berbagi, apapun kondisinya.

Tapi selain itu juga ada pikiran lain yang mengatakan, 'Eh, tapi kan kalau pun tadi saya berbagi sajadah, kencangnya angin dari arah kiri tetap akan mengaburkan sajadah tipis itu. Hasilnya tetap sama, yaitu saya tetap akan sholat jumat tanpa sajadah.'

Berbagi atau tidak, mungkin saat itu saya memang ditakdirkan untuk sholat tanpa sajadah.

Hal yang bisa merubah takdir saya itu hanyalah jika saya datang tidak terlambat. Tapi ini sudah merubah konteksnya, menghapus keterlibatan terpal, angin, dan masnya.

Seperti halnya takdir manusia, ada yang bisa dirubah, dan ada pula yang tak bisa dirubah.

Sajadah terbang itu seolah ingin memberi pesan bahwa selain saya harus lebih sering berbagi, semua yang terjadi di dunia ini juga sebenarnya sudah diatur untuk berjalan sesuai dengan skenarioNya.

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (Al-Hadiid 22).

...

Pembaca, ada yang punya hikmah lain dari cerita di atas? Komen yah.

Featured image: Flying carpet by Granger (fineartamerica.com)

Featured post

Menuju Pedalaman Sumatera Selatan - Bermula di Muara Dua

"Ke pedalaman Sumatera!? Memangnya mau ngapain? Nanti diterkam macan loh! " Tanya eyang dengan polosnya saat saya menelepon be...

Paling Banyak Dibaca